Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Wednesday, October 31, 2007

Oleh: A. Mustofa Bisri

bukankah aku sudah mengatakan kepadamu
kemarilah
rengkuh aku dengan sepenuh jiwamu
datanglah aku kan berlari menyambutmu
tapi kau terus sibuk dengan dirimu

kalaupun datang kau hanya menciumi pintu rumahku
tanpa meski sekedar melongokku
kau hanya membayangkan dan menggambarkan diriku
lalu kau rayu aku dari kejauhan
kau merayu dan memujakubukan untuk mendapatkan cintaku
tapi sekedar memuaskan egomu

kau memarahi mereka yang berusaha mendekatiku
seolah-olah aku sudah menjadi kekasihmuapakah karena kau cemburu buta
atau takut mereka lebih tulus mencintaiku?
pulanglah ke dirimu
aku tak kemana-mana..

______________

Kau dulu mengusirku...
ketika aku meronta menahan kepergianmu...
selaksa kecewa menerpaku
kini kau datang menggugat atas ketidak pedulianku akanmu...
Kau menyiksaku dengan kekecewaanmu atasku...
Seandainya aku bisa merubah waktu..
Maaf...hanya itu yang bisa terlontar dari mulutku


Tuesday, October 30, 2007

Oleh : Emha Ainun Naijb

Kepadamu kekasih kupersembahkan segala api keperihan di dadaku ini
demi cintaku kepada semua manusia
Kupersembahkan kepadamu sirnanya seluruh kepentingan diri dalam hidup demi mempertahankan kemesraan rahasia, yang teramat menyakitkan ini, denganmu

Terima kasih engkau telah pilihkan bagiku rumah persemayaman dalam jiwa remuk redam hamba-hambamu
Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang, dan ketika mereka tancapkan pisau ke dadaku, mengucur darah dari mereka sendiri, sehingga bersegera aku mengusapnya, kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku
Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang, kupeluk, kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan lagi pisau ke punggungku, sehingga mengucur lagi darah batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya, kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku, kudekap, kusayang-sayang.

1994

(Dari Kumpulan sajak Abracadabra Kita Ngumpet, Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, 1994, halaman 7) Republika, 24 Januari 1999

Entah kenapa kau tanyakan kenapa? Harusnya aku yang bertanya kenapa di satu penggalan yang pernah kau tancapkan menjadi luka...

Oleh : Emha Ainun Najib

di Yogya aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur

seluruh kota pun bagai dalam kubur pohon-pohon semua mengantuk di sini kamu harus belajar berlatih tetap hidup sambil mengantuk
kemanakah harus kuhadapkan muka agar seimbang antara tidur dan jaga ?


Jakarta menghardik nasibku melecut menghantam pundakku tiada ruang bagi diamku matahari memelototiku bising suaranya mencampakkanku jatuh bergelut debu
kemanakah harus juhadapkan muka agar seimbang antara tidur dan jaga ?


Surabaya seperti ditengahnya tak tidur seperti kerbau tua tak juga membelalakkan mata tetapi di sana ada kasihku yang hilang kembangnya jika aku mendekatinya
kemanakah haru kuhadapkan muka agar seimbang antara tidur dan jaga ?


Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO

Saturday, October 27, 2007

Bantingan, berasal dari kata banting yang di beri akhiran an, dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti hal yang berkaitan dengan guncangan keras. Bantingan juga sangat identik dengan istilah gerakan yang ada pada beberapa cabang bela diri diantaranya gulat dan Judo. Namun yang akan penulis ceritakan kali ini tak ada hubungannya dengan beladiri seperti diatas bahkan ini berkaitan erat dengan makanan pengisi perut. Bantingan yang akan saya ceritakan adalah makanan khas kota marmer Tulungagung.

Nasi bantingan, begitu orang-orang di kota penghasil marmer itu seringkali menyebut nasi bungkusan yang banyak dijual di sudut kota itu. Makanan tersebut memang sangat popular di kota yang terkenal dengan manusia purba homo Wajakensis temuan Von Reiscoten dan E. Dubois itu. Warung-warung penjual nasi ini pada malam hari akan banyak ditemui di sudut-sudut kota.

Penyebutan kata bantingan konon kabarnya berawal dari proses packing dari nasi. Setelah dibungkus nasi yang bungkusannya tak terlalu banyak itu sedikit dilempar seperti sedang dibanting. Dari situlah istilah nasi bantinganpun menjadi popular hingga saat ini.
Jika dilihat dari isinya sebenarnya nasi bantingan tak ada yang berbeda dengan nasi bungkus lain. Dalam sebungkus nasi yang dijual dengan harga berkisar antara 1000 hingga 1500 rupiah ini biasanya dilengkapi dengan telur goring, mie, terkadang sayur. Isinya sangat bervariasi antar satu penjual dengan penjual yang lain bisa berbeda. Bungkusan nasi bantingan mungkin mirip dengan nasi kucing yang terkenal di Yogya namun porsinya lebih banyak dan isinya lebih bervariasi.

Dengan harga yang tak terlalu mahal dan porsi yang sedang-sedang jadilah makanan ini sebagai teman pendamping untuk melepaskan suasana malam di kota kecil yang masih tenang dan nyaman ini. itulah nasi banting yang mungkin saja ketika masuk isinya akan terbanting dalam perut dan mampu membanting cacing-cacing perut yang membuat perut keroncongan.
Penasaran dengan nasi bantingan? Silahkan saja datang ke kota kecil di Pulau jawa bagian Timur ini., Keramahan penduduk akan menyambut dan tentunya sajian nasi bantingan yang menggoda selera.

Suatu hari waktu ku lewati jalanan Tulungagung di tahun 2007

Wednesday, October 24, 2007


Sebentar lagi hari Pahlawan akan kembali diperingati. Ada banyak hal yang hingga saat ini masih menjadi pertanyaan tentang apa pentingnya memperingati hari pahlawan dan siapa yang berhak disebut sebagai pahlawan. Berikut wawancara saya dengan ketua Umum Legiun Veteran Indonesia Letnan Jenderal (purn) Rais Abin.

On a day when Kimi Raikkonen needed a miracle, he got it.....
On a day when Kimi Raikkonen need luck, he got it......
On a day when Kimi Raikkonen needed to be perfect, he was perfect.....
(minjam kata2 dari http://monismoniz.blogs.friendster.com/my_blog/2007/10/impossible_is_n.html)

Ada satu pelajaran baru yang untuk kesekian kalinya mampu memompa semangatku...Masih ingat jalannya seri demi seri ajang balap F1...hingga pertengahan siapa yang paling dijagokan jadi juara dunia?....tentu sebagian besar orang akan bilang Fernando alonso atau Lewis Hamilton..

Balapan terus berlangsung hingga akhirnya sang juara sejatilah yang muncul....dari ketinggalan sekian poin ia terus berjuang...balap dan terus balap...hingga akhirnya titel juara F1 2007pun disandangnya..satu penantian lama...tentunya kita masih ingat ketidakberuntungan seorang Kimi Raikonen di tahun 2003 dan 2005...

Kesuksesan, pencapaian butuh pengorbanan dan usaha keras...sesuatu yang membangunkanku...menohokku...terus berusaha dan tak pernah lelah karena aku tak tahu siapa tahu besok saat yang pernah dialami seorang Kimi Raikonen terjadi padaku...

Aku buktikan segala kesungguhanku....satu saat kita sambut bersama di Ngrawa hari..hari ceria..satu buah kesabaran dan ujian...aku tak tahu kepastiannya tapi setidaknya aku akan terus berusaha....sedangkan kau tunggu saja disana dan aku akan menjemputmu kembali ke Ngrawa...

Tuesday, October 23, 2007


Ada banyak hal dan cita yang pernah terukir...diantaranya sudah tak mungkin lagi dan masih ada cita demi cita yang muncul untuk diwujudkan.....


Termasuk Cita Akan Wujudkan Rasa....Semuanya Memang Butuh Usaha..Satu Pengorbanan, Satu Ketulusan...Satu Kepasrahan...Rasa Tak Bisa Dihitung Dengan Azas Bernoulli, Newton...Rasa Butuh Pemaknaan...Rasa Butuh Pemahaman Sedalam Jiwa....

Semuanya.....

Monday, October 22, 2007

IPA 3...Di satu masa persahabatan itu muncul. Setahun singkat pertemuan tinggalkan sejuta kisah dan kenangan yang terkadang membuat satu senyum kecil muncul dari bibirku. Tak terasa selepas masa lulusan itu kini hampir 7 tahun lebih dan kemarin kami kembali dipertemukan meskipun tak semuanya bisa hadir.

Tentunya masing-masing punya kisah yang beda.......Menikmati dunia kecil mereka masing2...
....................................................................................................................


Bebek..Riza Nugraha...Jebolan Teknik Industri ITS..salah satu anggota tim gembira IPA3....Lagi berjuang mencari kerja...Selamat berjuang bro!!










Hendra...Biasa dipanggil Penceng mantan atlit basket kebanggan SMU Boy...Jawara SMUBOY Cup yang kini melakoni kerasnya dunia sebagai Sales sebuah produk Rokok..Hendra kini bisa wujudkan mimpinya bersama gadis pujaan...Pengantin Muda yang baru beberapa bulan menikah...










Ada-ada saja kisah yang terjadi di kelas IPA 3...Satu hal yang membuat para pengajar selalu geleng-geleng kepala...IPA 3 kelas anak2 gila kata sebagian mereka...Ah sayangnya cerita manis ini kurang lengkap Wali kelas tercinta kami semenjak beberapa tahun lalu terkena Stroke..Kebahagiaan kami ini terasa kurang lengkap..doa kami semoga beliau diberi kesehatan...


Meskipun 3 IPA 3 terdiri dari bocah2 gila tapi jangan anggap enteng prestasi dari kami...dari 46 siswa lebih dari 70 persen yang bisa tembus perguruan tinggi negeri...kami terbilang lengkap ada yang berprofesi sebagai polisi, perwira angkatan laut, akuntan, dokter, kontraktor, guru, insinyur sampai wartawan..(hehehe biar lengkap disebutin sendiri).




Ini Anton..biasa dipanggil "Klak2"..tipe siswa lumayan bandel yang jarang sekali ikut upacara bendera..kini sudah beristri..tu anaknya sudah 17 bulan...sekarang jadi pengusaha helm..










Letnan satu AL "Pitik"...biasa operasi di selat maksar sampe papua..kalau suatu saat ketemu panggil saja...










Dokter hewan Dedi...Lulusan UGM yang bisa dipanggil Emon..pernah coba masuk TNI tapi sayangnya buta warna...hehehe..










Tera Mayang...Anak buah Pak Joko Kirmanto yang lulusan ITS Teknik Lingkungan













Agung..tapi biasa dipanggil Kebo...jagoan bola andalan IPA 3...kini berprofesi sebagai Akuntan..







AAN"bawur"...Sang Kontraktor..kalau mau bangun rumah hubungi saja...










Dina..Marhaeni lulusan UNDIP yang ahli hukum...
Dina termasuk idola IPA3...hehehe..dan sempat membuat beberapa anak IPA 3 terpesona...









Anis..kerja di PU Depok...









Pak Guru"Tongkol"..nama panggilan Tongkol sejarahnya gara-gara pernah keracunan ikan Tongkol..sekarang mengabdikan diri jadi umar Bakri..jadi guru bahasa inggris di gunung...













Anggit..Pernah ke Jepang pertukaran mahasiswa..sampe terobsesi dengan gaya Jepang..coba lihat rambutnya...










Makan..makan...buka puasa kali ini makanan kita bawa sendiri2 ada yang bawa buah..sate..nasi..es...gurami..pokonya banyak sampai ga habis...

Ada begitu banyak cerita...dan malam itu acara dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah Pak Priyo wali kelas tercinta..ah semoga Bapak diberi ketabahan dan kesehatan..







Semoga persahabatan ini bisa terus berlangsung...tentunya aku akan kembali rindukan saat2 seperti ini..
(buka puasa bersama di rumah AAN..Beji Estate)....

Sepenggal kisah persahabatan IPA 3..angkatan 2000

Saturday, October 20, 2007

Sepaket berisi langit, awan, bintang, bulan dan angin malam menemani langkah-langkah gamangku susuri jalanan kecil kotaku. ...
Semuanya berkolaborasi rayakan suasana setelah senja dengan sebuah lagu lagu senja pula. Satu lagu senja di Ngrawa.

Ngrawa masih tetap seperti yang dulu...
Saat kota ini begitu dekat dengan keseharianku, begitu lekat dengan pertumbuhanku jadi sosok remaja belasan...

Ngrawa dengan sepaket cerita berisi langit awan, bintang, bulan dan angin malam. Sebenarnya masih ada sebuah pohon jambu namun kini hanya tinggalkan cerita saja. Sepaket kisah yang terlalu sulit dipahami, dimaknai, ataupun dirasakan. Kerumitan kisah yang mengisi ruang kosong selain yang sudah diisi sepaket langit, awan, bintang, bulan dan angin malam.

Ngrawa kembali sunyi...

Senja memang telah bergeser berganti malam namun bukan gelap yang terasa tapi tetap senja. Tidak gelap dan tidak juga terang.

Semuanya masih samar-samar dan remang-remang. Senja yang lantunkan lagu sunyi di tengah hiruk pikuk kota kecil yang tengah bergeliat dengan pertokoan, cafe, tempat hiburan yang mulai sisihkan ruang kosong kota.

Lagu sunyi yang melantun begitu saja...dan melenakanku...tak terasa aku harus segera tinggalkan Ngrawa...

Masih ada satu ganjalan yang belum bisa kucari jawabnya.
Satu ganjalan tentang senja itu sendiri dengan sepaket langit, awan, bintang, bulan dan angin malam menemani hari-hariku.

Pelan-pelan angin malam bergeser....
dan tertutup awan...di tengah suasana samar2...
Semuanya masih samar-samar dan terbungkus oleh remang suasana senja

Hari makin malam dan rasanya masih sama senja...
Aku tersadar besok harus tinggalkan Ngrawa...
sementara angin malam kembali terbungkus awan...

Ngrawa...20 Oktober 2007..sepaket senja ingin kuberikan buat angin malam

Tuesday, October 02, 2007

Dua orang cewek yang sedari tadi duduk di depanku kulihat terus saja tersenyum-senyum. Entah kepada siapa mereka tersenyum. Aku terus saja mengamati mereka sejak pertama kali duduk di kursi dalam gerbong kereta api ini. Memang sesekali mereka melihat kearahku tapi apakah senyuman itu ditujukan untukku, hal itu masih menjadi misteri untukku. Mungkin saja ada yang lucu pada diriku atau sesuatu yang aneh yang tidak kusadari.
Terus saja aku memeriksa diri ini tapi sejauh yang kulakukan tak ada yang aneh semuanya wajar menurutku.
Saat ini aku sedang melakukan sebuah perjalanan dengan kereta api. Alat transportasi ini memang merupakan sarana alternatif yang kini bergeser menjadi pilihan utama masyarakat tiap kali berpergian jauh. Kereta kini memang tengah menjadi idola baru disaat melonjaknya harga BBM yang turut menaikkan tarif angkutan yang lain. Jika dihitung-hitung harga tiket kereta api kelas ekonomi bisa mencapai setengah harga dari alat transportasi lain tak ayal lagi penumpang angkutan ini menjadi semakin berjubelan.

Posisi dudukku berada pada bangku nomor dua bagian kiri dari belakang. Ini adalah gerbong yang terakhir jadi jumlah penumpangnya masih belum banyak. Kedua cewek yang kulihat tadi duduk di deretan sebelah kanan kursi urutan empat yang berhadapan dengan kursiku.
Sebenarnya mereka bertiga. Satu diantara mereka berniat mengambil kursi tepat didepanku. Kursi yang kotor oleh tumpahan kopi membuatnya membatalkan niatnya, jadinya yang nempati seorang tua yang berpakaian lusuh. Orang yang kupanggil dengan sebutan gembel.
“Brengsek dasar gembel!” begitu umpatku dalam hati.

Kereta api terus saja berjalan, stasiun demi stasiun telah dilewati dan aku harus bertahan dengan gembel yang ada didepanku. Ya gembel bertopi itu masih saja asik duduk dikursi penumpang itu. Terus saja aku mengawasinya, matanya celingak-celinguk aku jadi semakin waspada dengan barang-barang yang kubawa.
“Jangan-jangan ia sedang mencari mangsa”. Begitu gerutuku dalam hati.
Sementara aku disibukkan dengan gembel itu kulihat dari kejauhan cewek yang duduk di depan terus saja berbisik-bisik dan sesekali tersenyum. Tiap kali melihat mereka tersenyum aku amati penampilanku.

“Jangan-jangan aku sudah benar-benar mirip dengan gembel didepanku?” Kata hatiku terus bertanya.
“Mungkin benar aku memang benar-benar mirip gembel”.
“He..kok ikut-ikutan duduk kayak penumpang saja. Sana pindah dibelakang!” Seorang pemeriksa karcis kereta datang dan mengusir lelaki gembel itu. Hatiku bersorak “sukur kamu gembel!”Tak tahu kenapa kepergian gembel itu sesaat melegakan hatiku. Hal yang terjadi di hatiku setelah tahu keberadaan yang sebenarnya dari gembel itu.
Pagi yang terlalu indah ditambah dengan udara yang segar terlalu sayang untuk dihabiskan dalam perjalanan. Pagi ini waktuku harus kuhabiskan dalam perjalanan di dalam kereta menuju Surabaya.

Datang pagi-pagi ke stasiun cepat-cepat antri tiket. Kursi di dalam kereta ekonomi terkadang harus didapatkan dengan perjuangan.Desak-desakan siapa yang cepat dia yang dapat.
Kedatanganku lebih awal tak sia-sia kudapatkan satu kursi disalah satu gerbong dalam rangkaian kereta Penataran tujuan Surabaya. Akupun duduk dikursi yang telah kudapatkan. Hari ini tak seperti kemarin relatif sepi sehingga sebenarnya walaupun aku tak datng sepagi ini masih ada kursi yang bisa kudapatkan.

Di sampingku telah terisi oleh seorang bapak-bapak begitu juga di depanku. Mereka melihat kedatanganku menyambut dengan senyuman. Akupun membalas sapaan senyuman itu. Segera barang-barang bawaan kutaruh diatas tempat barang-barang berada.
Tak lama kenudian kereta berjalan. Stasiun demi stasiun dilewati. Perjalanan yang langsung saja diiringui oleh para penjual asongan, pengamen, tukang sapu dan pengemis. Mereka datang dengan silih berganti seakan-akan tak menyerah dengan tolakan demi tolakan yang diberikan oleh penumpang.
"Mas…mas…mas!" seorang pengemis menyenggol-nyenggolku. Aku sempat terkejut seorang tua ekspresi yang membuat diriku tersentuh, timbul rasa kasihan. Kurogah saku celan dan kuambil recahan uang logam.
Nampaknya hanya kau yang memberi orang yang disampingku duduk dan acuh tak acuh melihatnya. "Inikah dunia saat ini tiadakah keingninan utnuk berbagi terhadap sesama?" Pertanyaan yang timbul dalam hati ini menahan rasa jengkel pada orang yang duduk disampingku.

"Dik mau pergi kemana?"Orang yang duduk disampingku menyapaku namun aku pura-pura tidak mendengarnya.
"Dik… mau pergi kemana?" sekali lagi ia memanggil tapi kali ini aku menoleh.
"Oh maaf pak saya mau pergi ke Yogyakarta". Aku menjawab pertanyaannya dan diam kembali buat apa berbicara dengan orang egois tak punya kepedulian sosial begitu fikirku.
"Kuliah atau kerja?"Bapak lainnya yang disampingku ikutan bertanya.
"Sama saja keduanya tak punya kepedulian pura-pura tidur lagi". Aku terus menggerutu melihat keduanya.
"Saya kuliah pak. Kalau panjenengan2 mau pergi kemana?" kali ini ganti aku yang bertanya pada mereka.

"Surabaya dik. Tiap seminggu sekali saya kesana". Jawab bapak yang usianya lebih tua.
Kali ini diantara kami timbul perbincangan topiknya ngalor ngidul mulai dari masalah kenaikan gaji PNS, rekrutmen CPNS, demonstrasi hingga pemerintah yang saat ini tengah mengatur negeri ini. Diantara hal yang dia ceritakan ada satu yang membuatku sangat tertarik, ketika ia bicara soal pengemis yang tadi kuberi uang recehan.
"Masih ingat pengemis yang tadi datang kesini?" Tanya bapak yang lebih tua.
"Ya ingat pak memangnya kenapa?"
""Itu tetangga saya mas".

Bapak itu cerita tentang tetangganya yang pengemis. Konon ceritanya pengemis tadi kontrak disebuah rumah yang cukup bagus dengan fasilitas yang cukup lengkap mulai dari tv hingga pompa air. Hal yang membuatku tersentak katanya pengemis itu rata-rata berpenghasilan antara lima puluh-ribu hingga tujuh puluh ribu.

Kereta hampir mendekati stasiun Kertosono akupun bersiap-siap turun dari kereta. Perhatianku kini tertuju pada barang-barangku suasana yang rawan dengan tindak kejahatan.
Aku melangkah keluar didepanku disebuah warung makan aku melihat seseorang. Dia dengan lahap menyantap makanannya. Melihatnya makan seleraku jadi naik kurogoh sakuku hanya tinggal lembaran ribuan dan dua puluh ribu. Aku terus mendekati warung itu ternyata aku kenal dengan orang itu. Tak salah lagi ia gembel kaya itu. Akhirnya aku putuskan berhenti pada penjual nasi pecel dua ribuan menu yang mampu dijangkau pegawai kantor rendahan lulusan strata satu sepertiku. Aku nikmati makananku sambil melihat gembel itu sedang melahap ayam gorengnya.

Gerbong Kereta, Januari 2006

Sebelumnya maaf bukan maksud menjelek-jelekkan instansi atau aparat yang satu ini. Mungkin ini lebih pada segelintir individu yang kebetulan memakai seragam. Sebuah kejadian lucu atau apalah yang jelas mampu menjadi sambutan yang begitu berkesan yang penulis alami. Kejadian ini sendiri terjadi di dekat Stasiun Gambir tepatnya di bunderan dimana jelas-jelas tertulis tanda dilarang belok kanan kecuali pukul sekian hingga sekian. Sebelum cerita tentang kejadian tersebut biar lebih seru jika dimulai dari kejadian sebelumnya.

Beberapa hari sebelum kejadian sial tersebut bersama rekan dan teman satu kos ngobrol topik utamanya tentang berkendara di jalan raya Jakarta. Mereka banyak cerita tentang daerah-daerah mana yang harus waspada dan saat dimana harus lebih hati-hati karena adanya operasi yang lebih ketat. Konon kabarnya di beberapa lokasi pada hari tertentu tepatnya hari Sabtu dan Minggu aparat kita ini akan lebih gencar dalam mengadakan operasi dan tak segan-segan memberikan tilang. Pembicaraan yang enjoy-enjoy aja dan diselingi tawa. Sebenarnya yang memicu pembicaraan ini sendiri adalah tayangan iklan produsen rokok ternama yang temanya kesadaran berlalu lintas.


Saat malam itu ada yang unik masing-masing dari kami cerita tentang pengalaman ketika sengaja/ tak sengaja melanggar rambu lalu-lintas dan apa yang dilakukan oleh masing-masing dari kami. Memang masing-masing memiliki cerita unik tapi sesuatu baru yang kutangkap tentang berkendara di Jakarta adalah jika melanggar harus bersama-sama dan lebih hati-hati jika plat nomor kendaraan berasal dari luar jakarta.

Sekarang baru kembali pada pokok ceritanya. Setelah tadi sempat dipake ending kejadian sebelumnya. Kurang lebih kejadiannya begini. Sore itu dua orang pengendara motor dengan plat AG meluncur membelah jalanan ibu kota dengan tujuan Stasiun Gambir. Maklum pinginnya naik kereta yang karcisnya ada disana, sekali-kali boleh dong memanjakan diri. Sang pengendara yang memegang kendali kebetulan sudah beberapa bulan tinggal di Jakarta tentunya sedikit banyak hapal dengan dengan jalanan dan kondisinya. Eh...nyatanya dua orang itu masih bingung dan harus muter-muter rute yang hanya dikira-kira.

Wah akhirnya stasiun Gambir hampir didepan mata. Tapi dua orang itu bingung dengan tanda dilarang belok kanan. Mereka putuskan lurus saja. Lampu merah berganti hijau semua kendaraan lurus kecuali sebuah kendaraan yang berbelok kekanan secara spontanitas pengendara motor itupun ngikut aja kekanan. Wah tak tahunya yang belok kanan hanya satu mobil dan satu motor. Kaget bukan main ternyata di smping yang diikuti dari tadi adalah mobil dengan plat kedutaan besar. Di kejauhan aparat sudah siap-siap tinggal tunggu saja. Saat itu kata-kata yang terbayang hanya satu "mampus".

Biasalah seperti biasanya basa-basi yang dipakai selalu sama, STNK, SIM mana. Sebenarnya sang pengendara sudah berusaha minta keringanan dengan alasan orang luar dan tidak tahu kondisi jalan.
"Pak Ngga' usah ditilang ya!"
"Ya mas kesana dulu nanti diberi pengarahan dulu",
Diberi pengarahan ngga disuruh bayar wah pertama-tama hati pengendara sudah girang bukan main. "Baik banget ya", kata-kata dalam hati
Namun apa yang terjadi???

Ternyata petugas itu masih menilang pengendara tsb. Melanggar pasal dan dikenakan denda dengan jumlah delapan puluh lima ribu rupiah. Itu jika ikut sidang kalau tidak ikut dan titip bisa lewat petugas dan dicatat namanya.
Anehnya jumlahnya berkurang jadi delapan puluh ribu rupiah???????
Diberi pengarahan saja delapan puluh ribu apalagi ditilang berapa ya kena'nya????
Dengan angka-angka tersebut penulis jadi berfikir berarti harga tilang dari daerah satu ngga sama ya...disesuaikan dengan UMR ya ??? Di yogya beberapa waktu lalu pernah ketilang itu saja melanggar dua pasal hanya bayar tigapuluh ribu.

UMR yogya kurang lebih separo kurang dari UMR Jakarta wah berarti tilang disesuaikan dengan UMR yaa...
Wah ga taulah ....


14 November 2006

Mbah Mardjuki termenung menatap hamparan padi di persawahan di samping gubuknya. Tak lama lagi padi-padi tersebut akan segera siap dipanen. Wajahnya tersenyum tipis seakan ada semacam rasa kebahagiaan yang terpancar dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tak jauh dari lokasi persawahan tersebut tengah berlangsung proses pembangunan bendung Krangjati II. Bangunan irigasi tersebut merupakan pengembangan dari bangunan sebelumnya yang telah sangat uzur dan bahkan usianya hampir sama dengan mbah Mardjuki.
Satu hal yang membuat mbah Mardjuki bangga adalah keberadaan sosok Arief, satu-satunya cucu lelaki yang dimilikinya. Mega proyek di daerah tersebut semua di bawah kendali seorang putra daerah bernama Ir. Arief.

Arief anak laki-laki dari Sami’un yang kebetulan juga putra sematawayangnya. Sami’un sendiri kini tak diketahui dimana kabarnya. Menurut kabar diaputus asa ketika istri tercintanya meninggal waktu melahirkan Arief. Dengan membawa segala keputusasaan akhirnya ia menghilang entah kemana.
Sejak sebulan laluproyek ini berlangsung dibawah kendali Insinyur Arief. Semenjak lulus S2 dari Belanda ia langsung ditempatkan di sini, desa Karangdjati.
“Simbah ada apa kok sedari tadi termenung di teras?”, tanya Arief yang datang dengan tiba-tiba dari samping rumah.
“Ngga ada apa-apa le. Mbah hanya teringat dengan kejadian waktu simbahmu ini kecil. Mbah teringat dengan pembangunan bendung yang ada sebelumnya, banjir dan gejolak waktu itu”, jawab mbah Mardjuki

“Memangnya seperti apa mbah kejadian waktu itu?” Tanya Arief dengan sesekali menghisap rokok kretek yang ia hisap pelan-pelan.
“ Adabanyak kisah le. Satu hal yang yang membuat mbahmu ini senang adalah saat ini cucuku sendiri yang membangun pengganti bangunan bersejarah tersebut.”, jawab mbah Mardjuki
Sesaat mbah Mardjuki terdiam, kali ini matanya mulai berkaca-kaca sekan ada sesuatu kenangan entah sedih atau haru yang ia ingat kembali. Setelah sempat terdiam mbah Mardjuki kembali melanjutkan ceritanya.

“ Ada sosok yang mbah kagumi saat itu. Sayang mbah tak tahu namanya. Ia orang cerdas dan hebat yang menajdi actor dibalik pembangunan bendung yang lama. Kabarnya ia juga yang mendesain bangunan-bangunan besar lain di seluruh Hindia Belanda.
Arief mencoba meraba-raba siapa sosok yang diceritakan oleh Mbah Mardjuki. Mbah Mardjuki terus saja bercerita.

*****
Kereta kuda melintas dengan terburu-buru di jalanan sepi pinggiran ibukota Kadipaten Ngrawa, Kalangbret. Nampaknya bukan orang sembarangan yang memiliki kereta kuda tersebut, hal ini bisa dilihat dari rombongan yang menyertainya; sekawanan penunggang kuda dengan wajah sangarnya.
“Sapa itu Kang?”, seorang petani kurus bertanya pada petani lain yang usianya lebih tua.
“Ngga’ ngerti tapi kalau dilihat dari penampilan serta barang-barang yang mereka kenakan nampaknya bukan orang sembarangan”,jawabnya sambil menghisap tembakau yang telah dilinting dengan daun jagung.
“Apa mungkin mereka mau menuju Kalangbret?”, tanyanya lagi dengan seribu tanda tanya yang masih tersisa.
“Mungkin juga mereka orang-orang pemerintah kolonial yang mau menghadap bupati Ngrawa. Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan rencana pembangunan selokan raksasa yang terletak di daerah selatan”, jawab petani lain yang sedari tadi mendengar perbincangan diantara mereka berdua.

“Ya kabarnya daerah bagian selatan selalu terendam air tiap kali hujan, apalagi daerah Campurdarat. Hampir semuanya berupa rawa-rawa yang menjadi tempat genangan air”, balas seorang petani yang paling muda.
Mereka bertiga Hardjo, Kromo dan Darpo petani yang mendiami daerah perbukitan di wilayah Sendang. Daerah ini tak begitu jauh daerah Hargowilis, lereng gunung tempat plesiran orang-orang kolonial dan lokasi perkebunan teh terbesar di kota ini.

Kabupaten Ngrawa, wilayahnya memang bagai cekungan karena dikelilingi oleh gunung. Tak ayal lagi daerah disekitar anak sungai besar dan di jantung kabupaten selalu menjadi korban dari genangan air.
Jika musim hujan daerah sebalah timur banjir sebaliknya waktu musim kemarau bagian barat mengalami kesulitan air yang cukup meresahkan. Persoalan yang menjadi perbincangan khusus diantara para petinggi di Kabupaten.

Adawarta yang cukup menggembirakan disampaikan fihak kabupaten. Menurut salah satu sumber tak lama lagi permasalahan air tersebut akan segera bisa ditangani. Fihak kabupaten telah meminta bantuan pemerintah colonial dan mendapat tanggapan. Kabarnya pakar itu adalah seoirang insinyur dari Belanda.

Beragam komentar timbul dikalangan masyarakat. Diantara mereka ada yang bahagia, begitu antusias mengharap dan banyak pula yang menanggapi dengan sinis.
“Aku tidak percaya dengan omongan orang-orang colonial dan antek-anteknya itu. Aku masih dendam dengan apa yang mereka lakukan terhadap para petani tebu. Aku juga masih ingat cerita dari leluhurku tentang kakekku yang dipaksa menjadi pekerja membuat jalan Anyer sampai Panarukan”, kata seorang buruh pabrik tebu.

“aku setuju kang. Sampai sekarang aku juga masih merasa kehilangan saat Sri wanita yang begitu kugandrungi dipaksa menuju daerah yang katanya sangat jauh dan hingga kini tak kunjung kabarnya”, balas rekannya.
“Wes-wes kembali kerja jangan ngomong ngalor ngidul ga ana jluntrunge! Apa kalian pingin nasibnya kaya si Sarip yang mampus gara-gara mbangkang dan coba nglawan dengan manas-masi buruh lain”, Mandor Galak begitu orang-orang di pabrik memanggilnya. Memang dalam berbuat mandor satu ini tanpa babibu jika ada pekerja yang macem-macem langsung dihajar tak ayal begitu ditakuti. Dari posturnya tak jauh beda dengan orang-orang blanda tinggi besar Cuma kulinya hitam tak seperti orang Belanda.

Sebuah desas-desus yang sudah terdengar di kalangan rakyat biasa proyek pembangunan saluran raksasa tersebut akan melibatkan banyak orang. Sebuah proyek raksasa yang kabarnya sangat bombastis. Mereka yang punya lahan dengan sukareka atau mesti dengan paksaan harus mencari tempat tinggal baru.

Saat proyek itu benar-benar disebarluaskan secercah harapan muncul namun itu hanya sebentar ketika mereka teringat dengan megaproyek yang dibangun saat pemerintahan Deandels. Jalan memanjang dari Anyer hingga Panarukan yang memakan korban begitu banyaknya. Sebuah tanda tanya kini ada dalam fikiran mereka.

“Siapa saja yang kini akan menjadi tumbal dari proyek pemerintah kolonial tersebut?”
Suasana lain di daerah sekitar di daerah Karangjati. Sewaktu orang-orang dari Kalangbret memberi informasi pembangunan saluran penolak banjir sejuta harapan terpancar di wajah mereka.

Harapan mereka seakan mendekati kenyataan saat sekelompok orang-orang dari dewan pengairan colonial dating ke desa mereka. Diantara mereka ada seorang Belanda asli tinggi tegap dengan kertas gulungan yang selalu ada ditangannya.
Kedatangan mereka selalu menarik perhatian dari warga terutama anak-anak kecil. Diantara kerumunan anak kecil itu ada sosok pemberani yang dengan keingin tahuannya mencoba mendekati orang Belanda yang nampaknya seorang ahli bangunan keairan tersebut.
******

“Lalu bagaimana keberadaan orang yang simbah ceritakan tersebut?” Tanya Arief
“Tentu saja ia sudah meninggal tapi waktu sebelum mereka meninggalkan desa ini setelah proyek rampung sempat ia berikan gulungan-gulungan dan angka-angka yang tak bisa mbah mengerti maklum menggunakan bahasa Belanda dan mbahmu ini hanya jebolan SR itu aja ngga sampe lulus.
Sesaat kemudian mbah Mardjuki masuk ke biliknya dan tak lama ia bawa gulungan dan lembaran kertas yang warnanya sudah menguning dan sebagian telah dimakan ngengat.
“Coba kau baca ini apa maksudnya!”, gulungan kertas itupun diserahkan pada Arief.
Dengan seksama Arief membacanya dengan terperanjat terucap sebuah nama dari mulutnya.
“Ir Vlughter..”, ia masih belum percaya ketika membaca bagian demi bagian ia menjadi semakin yakin.

Kini ia merasa gemetar, tokoh yang namanya begitu dikenal di bidang teknik sipil itu ternyata yang begitu diidolakan simbahnya.
Bayangan mbah Mardjuki masih terbayang pada kenangan masa lalunya.
******
(bersambung)

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.