Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Monday, February 18, 2019

Sudah berbulan-bulan bahkan beberapa tahun saya tidak menulis di blog ini. Entah karena kesibukan atau apa hingga saya merasa tidak sempat sekedar berbagi. Sampai-sampai saya lupa kalau menulis sudah menjadi bagian dari diri saya, menjadi motivator bagi saya sendiri. Menulis membuat saya bisa melepaskan beban ataupun sesuatu ganjalan yang menyiksa tentang apapun.

Seperti saat ini, saat saya dihadapkan dengan “kewajiban” seorang anak untuk membalas budi kedua orang tua. Benar, saya dihadapkan pada satu situasi saya harus melupakan, bahkan mengorbankan banyak hal karena kewajiban yang tak bisa saya abaikan.

Semua berawal dari sekira lima bulan lalu. Waktu itu sebenarnya saya tengah mendapat “jalan” baru mendapat beberapa proyek yang cukup menjanjikan. Namun semua tiba-tiba menjadi berantakan saat saya menerima kabar yang membuat saya lemas. Bapak kena serangan stroke padahal sehari-hari beliaulah yang merawat ibu yang juga mengalami hal sama dan kondisinya tahun demi tahun makin menurun.

Awalnya saya kira kondisi ini tak terlampau mengkawatirkan dan selepas berobat kesehatan Bapak bisa pulih seperti sediakala. Apalagi saya juga melihat langsung seperti apa kondisi beliau. Namun rupanya yang terjadi lebih buruk dari bayangan saya. Rupanya hanya dalam hitungan pekan Bapak sudah mengalami penurunan drastis daya ingat “pikun” dan bicaranya makin lama makin sering nglantur. Awalnya saya tak percaya secepat itu bapak mengalami kepikunan sampai saya dengan mata dan telinga sendiri melihat dan mendengar bapak berkata seperti ini " Le aku wingi tas berobat nek suroboyo," padahal jelas-jelas bapak diantar ke rumah sakit dokter Iskak Tulungagung.

Rasanya masih tak percaya. Padahal beberapa hari sebelumnya saya sempat ngobrol melalui telepon minta doa rencana kami membeli rumah di Karanggede diberi kelancaran. Ditambah kenangan-kenangan lain tentang bapak perasaan saya seperti remuk redam tak kuasa menahan duka. mulai dari hari itu perjalanan pulang ke kota yang membesarkan saya menjadi berbeda. Tak lagi dipenuhi kebahagiaan namun justru  membuat sedih karena mengingat kenangan-kenangan masa lalu.  Saya masih ingat saya selalu semangat pulang ke rumah naik kereta malioboro ekspress malam sampai sana jelang subuh dan bapak ibuk selalu menanti dengan kamar yang sudah dirapikan disiapkan buat kami.

Sayapun makin lemas. Hal yang cukup membuat pusing adalah memikirkan bagaimana kedepannya keseharian mereka. Siapa yang akan merawat padahal saya sehari-hari tinggal di Boyolali pelosok lagi dan adik saya juga di luar pulau sedangkan istri kerja dan harus mengurus dua balita.

Akhirnya kami mencoba mencari “rewang”. Seseorang bersedia merawat dan tinggal menginap di rumah. Sambil menanti saya sendiri yang merawat mereka di rumah dan meninggalkan istri saya lebih dari sepekan. Jalan hari demi hari ternyata tenaga yang kami cari belumlah ada dan memang tak semudah itu mencari rewang yang sanggup merawat lansia. Saya makin tertekan apalagi fikiran saya juga tertuju pada istri yang tinggal di pelosok.

Sepekan pun berlalu dan rewang yang kami cari belumlah ada untungnya adik saya di luar pulau mendapat cuti dan saya bisa kembali untuk beberapa hari di Boyolali menjenguk istri sambil sejenak mengistirahatkan badan dan fikiran.

(bersambung)

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Tuesday, August 21, 2018

Mengarang, bagi sebagian orang mudah, namun bagi sebagian yang lain dianggap susah. Seringkali nampaknya sudah ingin menulis sesuatu namun ketika berhadapan dengan komputer, tak tahu apa yang harus ditulis. Atau sudah bisa menulis namun tiba-tiba di tengah perjalanan seperti kehilangan ide, tak tahu mau dibawa kemana karangan tersebut. Padahal sejak duduk di bangku sekolah dasar pengetahuan mengenai ini sudah diberikan. Setiap ulangan cawu untuk pelajaran bahasa Jawa dan Indonesia ada saja tugas mengarang dengan tema yang sudah diberikan.

Proses kreatif mengarang, menurut saya berbeda jika dibandingkan dengan menulis non fiksi. Dan disini daya hayal, imajinasi begitu berperan. Penulis memiliki kekuasaan mau dibawa kemana sebuah cerita. Apakah nantinya berujung bahagia atau sedih atau menyisakan tanda tanya. Atau dengan kata lain semakin terlatih imajinasi seseorang harusnya dengan begitu mudahnya ia bisa menghasilkan cerita-cerita yang menyentuh.

Lalu bagaimana melatih daya hayal dan imajinasi. Berdasarkan pengalaman saya, untuk menumbuhkan imajinasi pengalaman, latihan dan masukan berupa bacaan atau tayangan diperlukan. Semakin banyak seseorang membaca, peka terhadap kondisi sekitarnya, berusaha merasakan sesuatu akan makin mempermudah munculnya imajinasi. Jika sudah terbiasa ide seringkali muncul dengan sendirinya. Ide-ide tersebut seperti datang sendiri seperti tayangan slide yang bercerita.

Belajar dari penulis dan pengarang yang sudah senior bagi mereka yang tertarik menekuni dunia tulis menulis ada baiknya sering membaca, merasakan kondisi diluar, di terminal, kereta api ekonomi, di berbagai tempat dengan kondisi berbeda. Mencoba membayangkan rasanya menjadi tukang becak, guru, sopir, pilot hingga Presiden. Jika sudah terasah maka dengan mudah kita memunculkan berbagai cerita dengan karakter yang beraneka ragam dalam cerita kita.

Fathoni Arief

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Thursday, August 16, 2018

Sebuah mobil van, warna silver, melaju kencang dari arah Utara, sebuah ruas jalan pinggiran ibukota. Di depan halte, seratus meter di samping kiri, dekat hotel tiba-tiba saja van berhenti. “citttssss,” suara rem mobil, membuat beberapa pengendara motor yang berada di sampingnya terkaget-kaget dan spontan saja dari mulut mereka terucap.”Anjritt, oi hati-hati dong.”

Dari mobil keluar seorang wanita, berkulit kuning langsat, berparas cantik, berambut sebahu dengan rok mini dan tanktop warna merah muda. Sambil terisak, ia keluar,dengan tas kecil warna coklat di tangannya, lalu menyusuri jalan di dekat hotel itu. Ia terus berjalan sementara mobil yang membawanya terus menjauh hingga akhirnya hilang dari pandangan.

“Ojek-ojek,” 

“Ojek-ojek non,” 

Bergantian, beberapa tukang ojek menawarkan jasanya pada wanita itu, namun ia terus melangkah, tanpa menoleh, dan hanya berjalan dengan langkah gontai. Sesekali badanya goyang kekiri dan kanan, bau alkohol tercium dari nafasnya.

Lepas tengah malam, suasana sekitar hotel tersebut mulai sunyi. Di sekitar tempat itu terlihat beberapa pengemudi taksi dan tukang ojek, mereka duduk-duduk, merokok dan menikmati segelas kopi, sambil menanti calon penumpang yang mungkin saja bakal memakai jasa mereka. Ada pula wanita gelandangan dengan dua anak kecil di sampingnya tengah terlelap di halte kosong, beralas bekas kardus air mineral. Mereka mendengkur, meringkuk, sesekali mendesis, nampak senyuman dari wanita gelandangan itu, entah apa yang tengah diimpikanya.

Wanita itu terus saja berjalan, dengan langkah gontai, hingga akhirnya di depan sebuah toko yang sudah tutup. Kini langkahnya seperti tertahan, berhenti sambil terus terisak-isak. Butiran air matapun menetes dari sepasang mata yang indah itu.

Wanita itu terus saja menangis. Ia menepi kejalan ketika dari arah kejauhan melaju taksi berwarna putih. Pelan-pelan taksi itu berhenti, selepas melihat seorang wanita berdiri sendiri melambaikan tangan. Taksi itu tak langsung membuka kaca, nampaknya sang sopir ragu apakah harus menerima penumpang itu atau tidak. Beberapa saat kemudian perlahan kaca mobil terbuka, seorang lelaki muda berkumis tipis, berada di depan kemudi. Wanita itupun langsung naik kedalam mobil.

 “Mau pergi kemana mbak?” dengan sopan sang pengemudi menanyakan alamat tujuan.

“Jalan saja dulu pak,” jawabnya.

Taksi itu melaju perlahan. Dari kaca depan sang sopir taksi melirik penumpangnya. Wanita itu masih terisak, dengan kertas tisu ia menghapus air mata yang terus mengalir dan matanya pun makin sembab.

Meski dipenuhi dengan tanda tanya, sopir taksi terus mengemudikan mobilnya. Namun taksi itu hanya melaju pelan. Berkali-kali ia melirik melihat penumpangnya. Setelah melaju beberapa saat ia kembali bertanya pada penumpangnya. 

“Mau pergi kemana mbak?” tanya sang sopir, kali ini ia memberanikan diri kembali bertanya,

“Kemana saja pak, keliling saja, nanti pasti saya bayar,” jawab wanita itu. Wajahnya masih kusut, matanya memerah, namun kini ia sudah tak lagi terisak.

“Aku lagi bingung pak, tak tahu apa yang harus kulakuan,”

Lelaki itu hanya diam. Ia hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi dengan wanita itu hingga seperti ini. Ia mencoba menghubung-hubungkan dengan berbagai kisah yang pernah ia alami. Ia merunut cerita demi cerita dari para penumpangnya sebelumnya.

“Baiklah. Kalau mbak punya masalah cerita saja! Siapa tahu saya bisa membantu. Atau minimal bisa meredakan kesedihan mbak,” ujar Sopir Taksi.

Taksi terus berjalan, meski kecepatanya kurang dari 70 km/jam. 


Wanita itu sambil mengusap kedua matanya yang masih sembab dan setelah sesaat terdiam iapun mulai lagi bercerita. Sopir taksi melirik wanita tersebut dan mengemudikan mobilnya mengelilingi jalanan ibukota.

***

Namaku Sari, baru satu setengah tahun aku tinggal di Jakarta. Sebelumnya aku bekerja sebagai babby sitter di Hongkong selama dua tahun. Lebih dari 5 tahun aku tak pernah pulang ke kampung halamanku, di Jepara. Entah kenapa aku enggan bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah kukenal meskipun itu Ibu dan Bapakku. “Aku anak durhaka,”.

Hidup jauh dari rumah tanpa ada kesempatan kembali sebenarnya bukanlah keinginanku, tapi semua sudah terlambat. Mungkin waktu itu aku memang terlalu hijau untuk merantau sendiri. Aku baru lulus Madrasah Aliyah di kotaku ketika mbak Yeni tetanggaku yang sudah 3 tahun kerja di Hongkong mengajaku kerja di sana. Siapa yang tak tergoda dengan ajakannya,aku melihat sendiri tetanggaku yang dulu selalu berpakaian dekil menjadi begitu modis dengan perhiasan gaya masa kini.

Sebenarnya aku sudah dengan baik-baik mengutarakan keinginanku ke Hongkong kepada Bapak dan Simbok. Namun apa kata mereka? Mereka bahkan langsung marah besar bahkan sambil berteriak bapak berkata “Jadi kau ingin ikut pelacur itu?” Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu waktu itu. Bahkan bapak sudah berencana menjodohkanku dengan mas Daliman, putra pak Kadus, namun aku tetap menolak.

Tapi tekadku sudah begitu bulat apalagi mbak Yeni bilang, aku tak usah mengeluarkan biaya sepeserpun. Semua biaya ditanggung oleh calon majikanku di sana. Di sana semua fasilitas sudah disiapkan dan semua persyaratan bakal dibantu diurus mbak Yeni.

Akhirnya hari itu aku benar-benar kabur naik mobil sewaan mbak Yeni ke Jakarta. Tak lama kita berada di ibukota, hanya sehari semalam, sebelum naik pesawat terbang berjam-jam ke tempat yang begitu asing bagiku. Di sana ternyata sudah ada yang menjemput kami, lelaki gendut berkulit agak gelap mirip dengan yang sering kulihat di film-film India. Lelaki itulah di kemudian hari kuketahui sebagai pacar mbak Yeni.

Mbak Yeni benar-benar menepati kata-katanya. Aku mendapat seorang majikan yang luar biasa baik, seorang janda beranak tiga. Suaminya baru meninggal setengah tahun sebelumnya karena serangan jantung. Nyonya Feng, begitu aku sering memanggil majikanku cukup beruntung ia menerima warisan berupa apartemen, mobil, tabungan dan asuransi dari suaminya yang berprofesi sebagai broker properti.

Setahun kerja bersama Nyonya Feng semua masih baik-baik saja. Ia begitu baik bahkan tak jarang memberikan bonus padaku, meski ia tak pernah bilang darimana uang tersebut berasal. Tahun kedua semua mulai berubah, apalagi setelah majikanku ditangkap di Singapura karena kedapatan membawa beratus-ratus gram heroin.

Setelah Nyonya Feng dipenjara aku bingung harus bagaimana. Beberapa Minggu aku sempat tinggal berpindah-pindah. Saat itulah aku berkenalan dengan seorang pria Filipina. Lelaki itu begitu baik awal mulanya dan entah kenapa diam-diam aku menyukainya. Tapi ternyata lelaki itu bajingan, nyaris saja dia memperkosaku. Untung saja ada seorang teman yang membantuku, namanya Lita.

Peristiwa itu sungguh membuatku trauma. Aku makin tidak betah hidup di sana dan berniat balik ke Indonesia meski pada mulanya sempat bingung harus balik kemana. Pulang kerumah rasanya tidak mungkin. Aku tak sanggung menanggung malu di hadapan keluargaku. Akhirnya kuputuskan tinggal di Jakarta. Aku masih punya tabungan jumlahnya, lumayan buat modal usaha kecil-kecilan. Dari semua jenis usaha akhirnya kupilih mendirikan salon di daerah sekitar Pancoran. Ternyata lumayan juga hasil dari usahaku sampai aku punya 3 orang karyawan salon.

Seiring dengan majunya salonku perlahan aku bisa memulai kehidupan baru. Namun semuanya tak berlangsung lama. Ternyata ada saja orang yang tak suka dengan kesuksesanku. Muncul berbagai gosip miring terkait dengan keberadaan usahaku. Mereka bilang salonku jadi tempat prostitusi terselubung. Tapi aku selalu menyangkal, semua itu tidaklah benar. Satu hal yang memuatku sedih, ternyata penyebar isu itu adalah Lita. Semua isu tersebut berawal dari hubunganku dengan mas Pram, pemilik ruko yang kusewa. Seiring berjalanya waktu isu itupun tak terdengar lagi. 


Sebulan lalu Mas Pram mengutarakan niatnya untuk melamarku. Akupun tak kuasa menolak tawaran tersebut. Rencananya bulan depan bakal mengantarku pulang kampung sambil melamar ke orang tuaku. Rencana yang awalnya aku tolak dengan alasan aku malu dengan kedua orangtuaku. Namun rupanya kegigihan Mas Pram meluluhkan hatiku. Semua rencanapun kami susun dengan matang.

Lama tak terdengar kabarnya tiba-tiba sore tadi Lita datang padaku. Ia memberi selamat rencana pernikahanku dengan mas Pram. Semula, kukira Lita sudah melupakan persoalan itu. Tapi rupanya dugaanku salah. Ia mengajakku ke sebuah club malam. Awalnya aku menolak, namun ia terus merayuku.

Akupun pergi bersama Lita, aku dikenalkan dengan teman-teman Lita, semuanya lelaki berwajah sangar. Kitapun duduk di salah satu sudut dan pesan minuman. Sebenarnya aku hanya pesan cola saja namun entah kenapa tiba-tiba saja aku tak sadarkan diri. Ketika siuman aku sudah telanjang, tanpa pakaian, di dalam sebuah mobil. Badanku terasa remuk redam dan perih di sekitar kemaluanku. Aku, mencoba berteriak namun mereka menutup mulutku dengan lakban. Aku bisa melihat mereka namun tak bisa mengenali mukanya karena semua memakai topeng. Setelah memaksaku memakai pakain kembali mereka lalu menurunkanku di tempat tadi.

Hampir dua jam wanita itu bercerita hingga adzan Subuhpun mulai terdengar berkumandang dari berbagai penjuru. Sang sopir hanya bisa terdiam, tak bisa berkomentar apapun dan hanya menarik nafas panjang.

“Berhenti di sini saja Pak,” wanita itu menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada sopir taksi. Beberapa saat taksi itu masih berhenti di tempat. Sang sopir melihat wanita itu melangkah gontai, menyusuri jalan masuk ke perkampungan penduduk. Setelah wanita itu menghilang, pengemudi taksi menutup kaca mobil, sambil menguap ia menghidupkan mesin mobilnya. Taksi itupun menghilang di telan gelap.


****
Malam mulai tergantikan oleh pagi. Di sebuah masjid yang sudah dijejali para jamaah sebuah taksi berhenti, memarkir mobilnya diantara deretan sepeda motor dan mobil yang tertata rapi. Ia melangkah ke tempat wudhu membasuh badan, mensucikan dirinya. Lalu langkah kakinya tertuju ke dalam masjid, ia berdiri menghadap kiblat mengangkat tangan memulai Sholat Subuh. Namun kali ini ada sesuatu yang terus mengganggu sholatnya, bayangan penumpang taksi yang baru saja diantarnya. “Apa yang bakal terjadi dengan wanita itu” kata-kata itu yang terus mengganggu kekhusyukanya. Namun tanda tanya itupun menghilang dan kini fikiranya tertuju pada sosok wanita, kekasihnya dulu, yang dipaksa kawin oleh orang tuanya.

Yogyakarta, 2 Maret 2011

Fathoni Arief

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Wednesday, August 02, 2017

Sketchup program untuk 3 D Modelling
Ada begitu banyak perangkat lunak untuk membuat model 3D, namun yang paling saya suka adalah Sketchup. Kenapa saya suka sketchup? Begini ceritanya....


Ada pepatah lawas mengatakan tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak suka, karena itu sebelum kita mulai menggunakan Sketchup ada baiknya saya ajak Anda mengenal seperti apa program yang akan Anda pelajari ini tahap demi tahap. Saya  mengajak Anda menelusuri perangkat ini dari hal yang paling dasar hingga nanti sampai pada pembahasan tingkat lanjut.

SketchUp merupakan perangkat lunak untuk membuat model 3d produk dari Trimble. Program ini  ini mampu menggambar objek 3d dari semua jenis. Anda dapat menemukan ribuan contoh model 3D  SketchUp di 3D Warehouse.

Agar Anda tidak penasaran,Saya anggap semua pembaca masih awam, mari kita memulai belajar Sketchup dari nol. Silahkan buka Sketchup Anda! Coba perhatikan, sekilas, jika dibanding perangkat lunak pemodelan 3D Interface bawaan Sketchup sedikit aneh. Program ini hanya memiliki sedikit button dan perintah singkat yang berbeda. 

Kesan pertama ini mungkin saja membuat Anda memandang sebelah mata ata dalam hati Anda mengatakan bagaimana mungkin membuat sebuah model 3D yang menarik dengan program yang “sederhana” ini. Tapi tidak mengapa, jika Anda merasakan hal tersebut selanjutnya melalui buku ini akan membuka wawasan Anda bagaimana membuat berbagai model 3D dari program yang “sederhana ini”.

Sketchup memang dibuat sebagai program yang mudah dipelajari. Dengan berbagai “kesederhanaan”, namun mampu membuat berbagai obyek 3D dengan cepat dan mudah. Karena faktor mudah dan cepat itulah tampilan antar muka sketchup berbeda jika dibandingan dengan program CAD semacam Autocad atau untuk visualisasi 3D seperti 3D Studio, Maya, Cinema 4D dan sebagainya.

Berikut ini beberapa contoh gambar yang saya buat menggunakan Sketchup.



Hasil Rendering Model Sketchup

Dapatkan bahasan selanjutnya Tutorial Sketchup di blog ini..


Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Thursday, July 27, 2017


Perjalanan hidup

Jika suatu saat kau lelah, berhentilah sejenak. Tak ada salahnya sekedar menarik nafas, duduk melihat jauh kedepan membayangkan banyak hal yang kan terlewatkan begitu saja jika berhenti.

Jam di netbook sudah menunjukkan pukul 22.33. Jalan kecil di depan rumah yang biasanya tak pernah berhenti terisi oleh suara mesin dan klakson kini mulai lengang. Penghuni rumah yang lain juga sudah terlelap dalam istirahatnya masing-masing. Yang terdengar hanyalah suara dengkur yang tak begitu keras dan siaran televisi yang suaranya kalah oleh lantunan musik dari netbookku.

Sambil menahan kantuk, jariku masih mengetuk keyboard menulis satu tanggungan yang lama tertunda. Seperti biasanya, berteman dengan segelas kopi. Tentunya kopi hitam bukan kopi instant sachetan yang menurutku rasanya sangat aneh dan terkadang membuat perut mulas. Berbeda dengan kopi hitam, panas, yang menyebarkan aroma harum tiap kali gula dan kopi diaduk.

Tentang kopi, Minggu kemarin ada satu cerita yang menurutku menarik...



Sore itu hujan membasahi Jakarta. Titik-titk air yang seakan tak habis-habis jatuh dari langit itu membuat saya dan dua orang rekan memutuskan berteduh selepas berjalan menelusuri Jakarta. Selepas melaksanakan sholat Maghrib di sebuah masjid tak jauh dari Sarinah kami duduk santai menunggu hujan reda.

Seorang teman perhatiannya tertuju pada seorang penjual kopi yang seringkali keliling menggunakan sepeda. Ada dua orang penjual kopi di emperan masjid. Tak lama kemudian salah satu dari penjual kopi itu mengambil sepeda yang sudah terisi dengan sachet2 kopi yang digantungkan. Meskipun hujan masih cukup kalau hanya untuk membasahi pakaian dan membuat masuk angin.

"Kau lihat penjual kopi itu?" kata seorang teman,

"Iya," jawabku,

"Penjual itu kalau bisa memilih tak akan nekad menembus hujan menjajakan dagangannya, tapi ia tak punya pilihan,"

"Penjual tadi harus tetap jalan meskipun hujan, karena jika tidak berarti dia membuang kesempatan mendapat rejeki jika ternyata di jalan ada orang yang membeli dagangnya,"

Benar, dalam hati saya menyetejui kata-kata temen saya itu. Jika bisa memilih si penjual mungkin seperti kami menunggu hujan reda. Namun ia tak bisa memilih kalaupun tetap di masjid ia pasti tahu sudah ada rekannya yang menjajakan barang yang sama.

Penjual kopi itu, hanya sebentar istirahat. Menjalankan Sholat Maghrib. Ia terus melanjutkan perjalanannya karena ia tahu di depan ada hal indah (kemungkinan dagangan laku) yang tak terwujud jika ia berhenti bermalas-malasan di teras masjid saja.

Jika suatu saat kau lelah, berhentilah sejenak. Tak ada salahnya sekedar menarik nafas, duduk melihat jauh kedepan membayangkan banyak hal yang kan terlewatkan begitu saja jika berhenti.

Jakarta, 30 November 2009

Wednesday, July 26, 2017

Kopi, siapa yang tak kenal minuman ini. Ternyata dalam secangkir kopi tak hanya mengandung rasa yang nikmat namun juga berbagai data dan fakta yang menarik.

Tahun 1599, Harvey, seorang lulusan Universitas Cambridge merantau ke Italia. Di negeri Pizza ia melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Padua, salah Universitas paling top di dunia saat itu. Di sini Harvey mulai menggemari "minuman" yang belum pernah ia temui di negaranya. Minuman ini ia kenal setelah mempelajari tanaman yang dibawa ahli botani selepas melakukan perjalanan di Jazirah Arab dan mahasiswa asli Arab.

Usai menyelesaikan studi Harvey pulang ke Inggris. Di kampung halamannya ia makin menggemari kopi. Sampai-sampai ia mengimpor langsung biji kopi untuk dikonsumsi sendiri. Saking “cintanya” kepada kopi konon saat jelang meninggal ia menjepit biji kopi antara ibu jari dan telunjuk sambil berkata “ biji kopi ini sebagai sumber kebahagiaan dan kecerdasan,”.

Saking “cintanya” kepada kopi konon saat jelang meninggal ia menjepit biji kopi antara ibu jari dan telunjuk sambil berkata “ biji kopi ini sebagai sumber kebahagiaan dan kecerdasan,”.

Berabad-abad kemudian, kopi makin populer tak hanya di negeri asalnya dan Eropa namun menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Saat ini kopi menjadi salah satu minuman yang paling digemari. Kepopuleran kopi di Indonesia bisa dilihat dari mudahnya kita menemukan minuman ini mulai dari di warung, swalayan hingga kafe di kota-kota besar. Kopi digemari semua kalangan pria wanita muda hingga tua.
Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia dalam websitenya merilis data kebutuhan kopi nasional tiap tahun. Pada tahun 2010 kebutuhan kopi nasional mencapai 190.000 ton pertahun, angka tersebut terus meningkat hingga di kisaran 250.000 ton saat ini atau sekira 1 kilogram per kapita per tahun. Jika satu sachet kopi olahan di pasaran rata-rata terdiri dari 20 gram artinya perkapita kurang lebih mengkonsumsi 50 sachet kopi.

Persaingan Yang Kian Ketat


Tren meningkatnya kebutuhan kopi nasional juga diikuti dengan semakin ketatnya persaingan antar produsen kopi. Peta persaingan pun berubah jika dibandingankan lima atau sepuluh tahun lalu. Untuk merangkul konsumen "perang" sengit terjadi di sini. Tak hanya melalui iklan di berbagai media berbagai paket murah diluncurkan mulai dari beli 2 gratis satu, 3 gratis satu dan sebagainya. Strategi ini tak hanya dilakukan satu merk saja tapi juga beberapa.

Pangsa pasar kopi bubuk instant di Indonesia masih dikuasai Kapal Api Group yang diproduksi oleh PT. Santos Abadi Jaya. Perusahaan kopi bubuk yang berawal dari sebuah industri rumah tangga sederhana di Surabaya, tahun 1927, itu kini menguasai mayoritas market share kopi bubuk domestik. Kapal Api hadir dalam berbagai pilihan mulai dari Kapal Api Special (kopi bubuk murni), Kapal Api Special Mix (kopi plus gula), Kapal Api Kopi Susu (kopi, gula dan susu) sampai ke produk yang terakhir diluncurkan, Kapal Api Mocha (kopi, gula, susu dengan campuran cokelat).

Tahun 2007 MARS pernah merilis hasil riset yang menggambarkan hegemoni Kapal Api grup (Kapal Api, ABC, dan Good Day). Perusahaan ini masih menjadi jawara di pasar kopi serbuk. Tahun 2007, Kapal Api di posisi teratas dengan porsi 44,3% meningkat dibanding dari tahun 2006 yang memperoleh 44,0%. Disusul kemudian oleh ABC, dengan 17,9%, naik sedikit dari tahun 2006 yang mendapat porsi 17,5%.

Fenomena White Coffee

Setiap tahun front consulting group mengeluarkan hasil survey Top Brand Award, penghargaan yang diberikan kepada merek-merek yang meraih predikat TOP. Ada dua criteria sebuah merk bisa masuk dalam kategori TOP brand. kriteria tersebut adalah merek memperoleh Top Brand Index minimum sebesar 10%, dan menurut hasil survei berada dalam posisi 3 besar dalam kategori produknya.

Tahun 2015 ini untuk kopi ada 4 kategori, kopi bubuk berampas, kopi instant, kopi ginseng dan White Coffee. Di kategori kopi instant urutan teratas masih diraih kapal Api dengan Top Brand Index 43,7 % disusul ABC 20,3% dan Luwak masuk di posisi ketiga dengan 16,9 %.

Hanya berada di posisi ketiga kategori kopi bubuk berampas, di kategori white coffee, luwak mampu berada di puncak dengan 72,1 % disusul ABC white coffee dengan 10,3 %.


Kesuksesan Luwak white coffe menembus hegemoni pemain lama tak bisa dipisahkan dari inovasi mereka varian baru kopi di tahun 2013, white Coffee. Kopi instan ini berbentuk bubuk dengan campuran non-dairy creamer dan gula. Setelah diseduh, warnanya cenderung lebih pucat atau krem dibanding kopi biasa. istilah white coffee mengacu pada kopi hitam yang diberi susu, krim, atau produk turunan dari sirup jagung, kedelai, dan kacang yang dituang dalam suhu ruang. Kopi ini juga dikenal dengan sebutan coffee light, light coffee, coffee with milk, atau regular coffee.


Sebelum kemunculan white Coffee, Luwak hanya meraih TBI untuk kategori kopi bubuk berampas 2,8 % di tahun 2012 dan naik menjadi 3,8 % di tahun 2013. Lompatan terjadi tahun 2014 saat meraih TBI 14,7 % di kategori kopi bubuk berampas dan langsung menjadi jawara kategori baru white coffee dengan 74,4%.
Luwak White Coffee cukup sukses dengan gebrakan produk varian baru kopi ini sampai-sampai produsen lain ikut-ikutan membuat produk serupa hingga muncul pemain lain dengan produk serupa sebut saja , Kopiko White Coffee, ABC White Coffee, Kapal Api Grande, Nescafe White Coffee.

Melihat rekam jejak Luwak White Coffee ada satu hal yang jadi kunci sukses mereka, yaitu inovasi produk. Inovasi satu hal yang tak bisa dilewatkan apalagi jika harus berhadapan dengan sang jawara seperti Kapal Api .

Sementara itu di kategori kopi bubuk instant posisi puncak masih dipegang Indocafe dengan 30,4 % disusul Nescafe 18,4 %. Rasanya tak mengherankan kategori ini diraih Indocafe, apalagi mengingat popularitas salah satu produk mereka Indocafe Coffemix.

Monday, July 03, 2017


Salah satu yang menarik dari Sketchup adalah adanya versi gratis yang bisa Anda unduh langsung. meskipun gratis tapi jangan kuatir Anda tetap bisa membuat aneka model 3D. Jika di komputer Anda belum tersedia program ini silahkan mengunjungi alamat web www.sketchup.com dan unduh di menu yang sudah disediakan. 

Setelah instalasi rampung, selanjutnya Anda akan belajar bagaimana cara menjalankan Sketchup untuk pertama kali.

- Setelah Anda selesai melakukan instalasi silahkan cek shortcut icon di dekstop, lalu klik dua kali.
- Klik learn jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang sketcup; klik Add License untuk memasukan license number; atau klik choose template untuk memilih tempat yang akan digunakan sebagai acuan setiap kali Anda membuka dokumen baru.
- Saya asumsikan semua menggunakan versi gratis jadi selanjutnya Anda klik Choose Template.
- Setelah memilih Choose Template Anda akan menemui banyak pilihan template. Seperti apakah template yang tersedia? Kita akan membahasnya satu demi satu:

Sketchup 2015


a. Simple Template – Feet and Inci : menampilkan settingan dasar style dan warna dengan menggunakan satuan feet dan Inci;

b. Simple Template – Meters : menampilkan settingan dasar style dan warna dengan menggunakan satuan meter;

c. Architectural Design – Feet and Inci : Dikonfigurasi untuk arsitektur, satuan yang digunakan Feet dan Inci;

d. Architectural Design – Milimeters; Dikonfigurasi untuk arsitektur, satuan yang digunakan milimeter.

e. Google Earth Modeling – Feet and Inches; Disesuaikan untuk digunakan dengan Google Earth, satuan yang digunakan Feet dan Inci;

f. Google Earth Modeling – Meters; Disesuaikan untuk digunakan dengan Google Earth, satuan yang digunakanmeter;

g. Engineering – Feet; Dikonfigurasi untuk engineering, satuan yang digunakan Feet;

h. Engineering – Meters; Dikonfigurasi untuk engineering, satuan yang digunakan Meter;

- Silahkan pilih salah satu template tersebut. Selanjutnya klik Start using Sketchup. Program akan berjalan dengan menggunakan template yang Anda pilih tadi.



·       - Sekarang Anda bisa mulai membuat model 3D Anda menggunakan Sketchup. Jika Anda sudah selesai untuk menyimpan Anda pilih menu file dan cari Save ( Ctrl+S) untuk keluar silahkan pilih menu file lalui quit (Ctrl+Q).


Catatan : Pada sistem operasi Windows, Sketchup hanya mengijinkan Anda membuka satu halaman dalam satu sesi yang sama. Bila Anda ingin membuka dua halaman caranya jalankan lagi Sketchup dari awal seperti langkah 2 tanpa menutup program yang sudah berjalan.

Sekian Tutorial Sketchup saya kali ini. Dapatkan tutorial yang lain di Blog Belajar SketchUp dan #Tutorial Sketchup Dari A Sampai Z.

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.