Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Sunday, August 31, 2008

Melihat tayangan Kick Andy di Metro tivi sore tadi serasa diri saya menemukan pembenaran atas apa yang selama ini saya jalani. Episode Lentera Jiwa menghadirkan sejumlah bintang tamu yang berputar haluan sebelum menjalani profesi yang mereka geluti kali ini. Ada Nugie yang memilih tak kuliah untuk berkarir dalam dunia musik, ada Bara Pattirajawane anak diplomat yang menjadi seorang koki dan masih banyak bintang tamu yang lain.

Melihat pengalaman mereka saya seperti melihat cermin. Diri saya ada di mereka itu. Saya yang dulunya kuliah di teknik sipil memilih bidang lain yaitu bergulat dengan urusan tulis menulis. Satu profesi yang cukup jauh dari apa yang telah saya pelajari di bangku kuliah. Terus terang ada banyak orang yang mengatakan, "ah sayang..kuliah capek-capek kerjanya kok di bidang lain,".."loh sayang dong teknik sipilnya,"..dsb..dan ortu saya meski tak mengatakan langsung tak sepenuhnya mengiyakan pilihan saya ini.

Tapi itulah sebuah pilihan. Ketika jiwa meronta dan memilih satu jalan yang dirasa cocok jika tak dituruti bisa berakibat fatal. Saya yang sedari dulu suka baca, nulis memilih mengikuti kata hati. Stop mengekang jiwa liar saya untuk berkreasi. Memilih tinggalkan dunia teknik sipil dalam arti kerja di bidang itu tentunya kalau pengetahuan praktis masih sangat berguna dan masih saya pakai. Untuk kerja di sipil tidak. Saya memilih belajar jadi penulis saja....

Yah saat ini saya masih jauh dari namanya sukses tapi saya merasa enjoy dengan apa yang saya pilih. Inilah dunia saya. Seberat apapun saya menikmatinya...karena di sinilah saya temukan lentera jiwa saya..

Kalibata, 31 Agustus 2008

Lentera Jiwa
By: Nugie

Lama sudah kumencari apa yang hendak kulakukan
Sgala titik kujelajahi tiada satupun kumengerti
Tersesatkah aku disamudra hidupku?

Kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
Bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
Inikah jalanku? Inikah takdirku?

reff:
Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku

Penat, lelah, pegal-pegal akhirnya terbayar oleh tidur semalam di rumah pak Hubaya. Pagi-pagi kami bangun dan merasakan sejuknya pagi hari di Sawarna. Dari lantai dua tempat kami menginap bisa kami lihat burung seriti beterbangan di atas persawahan. Ini Sawarna bukan Jakarta, tak ada asap knalpot tak ada kemacetan dan suara klakson.

Sosok pak Hubaya memang low profile. Pagi-pagi mantan kepala desa Sawarna ini bahkan yang mendatangi kami dan ikut nimbrung ngobrol sana-sini. Ada banyak topik yang kami bicarakan diantaranya tentang pendatang di desa Sawarna. banyak diantara mereka yang berasal dari suku Jawa. Pak Hubaya juga banyak cerita tentang pengalamannya ketika berkunjung ke Jogja di daerah bantul bertemu dengan orang-orang asli pelabuhan ratu yang rindu akan kampung halamannya.

Pagi-pagi sekali sarapan ternyata sudah disiapkan oleh bu Hubaya. Kami akan langsung sarapan dan menuju ke pantai mencari obyek-obyek menarik. Selain itu rencananya akan memotret bule yang sedang selancar. Di pondok pak hubaya kami berkenalan dengan 3 orang bule mereka adalah Chris dan marty orang Bulgaria yang hobi selancar serta satu orang Prancis yang lama berada di indonesia seorang Videografer.

Pagi-pagi kami disuguhi masakan bu Hubaya. Ayam dengan kelapa istilahnya kalau di tempat saya srondeng. Waktu kami sedang enak-enaknya makan lewat si Marty dan berkata dengan Inggris yang tak begitu jelas..ooo Chicken With coconut baguus baguss..hehehehe.

Sebenarnya kamar yang akan kami tempati awalnya mau digunakan rombongan dari jakarta diantaranya adalah Zara Zetira seorang penulis. Mereka akhirnya dipindahkan ke rumah depan milik saudara bu Hubaya.

Hari ini kami akan menikmati indahnya Sawarna..memperingati 17 Agustus dengan sejuta pesona Sawarna...Dengan perut kenyang, badan yang sudah segar kembali akhirnya kami berjalan menuju pantai yang berjarak 1 kiloan dari rumah pak hubaya.

17 Agustus 2008

Bersambung

Titik-titik air basahi Ibukota jelang datangnya bulan puasa. Mungkin agar tiap warga yang ada di dalamnya turut mendinginkan hati masuk dalam sejuknya suasana Ramadhan...

Segar, menghirup udara pagi jakarta hari ini...detik-detik menjelang Ramadhan. Ada banyak kenangan dari bulan ini. Kebersamaan suasana puasa di kos-kosan mahasiswa. Ya beberapa tahun lalu di Jogja. Masih ingat ketika sahur betapa dengan menu seadanya bikinan anak-anak kos teramat nikmat. Satu lagi waktu itu saya selalu kebagian jadi seksi masak nasi. Hehehe..sebagai sesepuh harus bangun lebih awal dan bangunin anak-anak kos yang lain. Senior kasih contoh yang baik buat yunior.

Rumah kos-kosan Pak Narto di Pogung Dalangan, di pojok Jogja memang menggoreskan kenangan. Kenangan lucu, sedih, dan bahagia. Kenangan lucu sekaligus sedih adalah saat saya yang nunggak uang kos harus sembunyi-sembunyi..hehehehe..harus main umpet-umpetan dengan bu kos dan pakai pengintaian segala sebelum kabur..hehehe..namun lucunya lagi ternyata saya bukan satu-satunya anak kos yang seperti itu. Ternyata penghuni kamar depan saya si Yoga, juga seperti itu..hehehehe..mata mengintai dari balik jendela kamar melihat bu kosa ada atau tidak..kalau tidak kabur dan balik malam atau sore setelah bu kos pulang ke rumahnya...hehehehehe..

Masih teringat bagaimana susahnya hidup dengan kiriman yang amat..teramat..sangat..pas-pasan..apalagi dengan hobi membeli buku yang tak bisa distop..sempat kiriman masih lama duit tinggal beberapa lembar ribuan..akhirnya harus menahan lapar...wuihhh..asal keisi meski hanya makan gorengan..wah betapa harus bersyukur saya kali ini...

Ya..ya..ya..mengingat kesulitan untuk senantiasa terus bersyukur...Nikmatnya menghirup pagi dengan segelas kopi..besok jangan ya..soalnya dah puasa..hehehe..dengan iringan lagu yang cukup renyah...sedari dulunya Tompi..



Hatiku berharap
Mungkin engkau kan berubah
Bisa mencintai aku
Seperti hatiku padamu

Hujan badai kan kutempuh
Bintang dilangit kan kuraih
Bila harus ku kan merayu
Untuk cintamu bagiku

Cintamu tlah menjadi candu
Cintamu tlah membuatku membisu
Cintamu ohh seindah lagu
Membuatku tak bisa berpaling darimu

Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia disepanjang nafasku
Kau adalah belahan jiwa
Aku cinta kamu sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu

Sayangku hanya kamu

Cintaku telah terlabuh
Berhenti selamanya dihatimu
Takkan kukayuh menjauh
Biar kurapatkan cintaku padamu

Cintamu tlah menjadi candu
Cintamu tlah membuatku membisu
Cintamu ohh seindah lagu
Hanya dirimu satu ohh cintaku


Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia disepanjang nafasku
Kau adalah belahan jiwa
Aku cinta kamu sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu

Kau adalah belahan jiwa
Kau adalah belahan jiwa
Kau adalah belahan jiwa
Kau adalah belahan jiwa

Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu

Kau adalah belahan jiwa
Kutahu itu sayang sedari dulu
Kau cinta yang hembuskan aku
Surga dunia disepanjang nafasku
Kau adalah belahan jiwa
Aku cinta kamu sedari dulu
Dan aku takkan berpaling darimu
Hanya kamu

Saturday, August 30, 2008

Perjalanan Menuju Sawarna memang penuh dengan tantangan. tak hanya harus berjuang, berdesakan bahkan harus naik atap angkot. Satu hal lagi yang menarik adalah pengalaman naik ojek maghrib-maghrib dari karang Taraje menuju Sawarna.

Thursday, August 28, 2008

Fath, jujurlah kepada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan Ramadhan bulan ampunan. Apakah hanya menirukan nabi atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu.

Fath, Ramadhan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu. Darimu hanya untuknya dan tak akan ada yang tahu apa yang akan dianugerahkan kepadamu. Semua yang khusus untukNya khusus untukmu.


Fath, Ramadan adalah bulan-Nya yang Ia serahkan kepadamu dan bulanmu serahkanlah semata-mata untuk-Nya. Bersucilah untuk-Nya. Bersalatlah untuk-Nya. Berpuasalah untuk-Nya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri untuk-Nya. Sucikan kelaminmu berpuasalah. Sucikan tanganmu berpuasalah. Sucikan mulutmu berpuasalah. Sucikan hidungmu berpuasalah. Sucikan wajahmu berpuasalah. Sucikan matamu berpuasalah. Sucikan telingamu berpuasalah. Sucikan rambutmu berpuasalah. Sucikan kepalamu berpuasalah. Sucikan kakimu berpuasalah. Sucikan tubuhmu berpuasalah.

Sucikan hatimu. Sucikan fikiranmu. berpuasalah..sucikan....

Fathoni, bukan perut yang lapar..bukan tenggorokan yang kering yang mengingatkan kedhaifan..perut yang kosong dan tenggorokan yang kerinng hanya perebut kesempatan yang tak sabar karena terpaksa..barangkali lebih sabar sedkit dari mata telinga kelamin..lebih tahan sedikit berpuasa..tapi hanya Kau yang tahu..kita dikekang untuk apa dan untuk siapa..

Puasakan tanganmu untuk menerima kurnia..puasakan mulutmu untuk merasai firman..puasakan hidungmu untuk menghirup wangi..puasakan wajahmu untuk menghadap keelokan..Puasakan matamu untuk menatap cahaya..puasakan telingamu untuk menangkap merdu..puasakan rambutmu untuk menyerap belai..Puasakan kepalamu untuk menekan sujud..puasakan kakimu untuk menapak sirat..puasakan tubuhmu untuk meresapi rahmat..puasakan hatimu untuk menikmati hakikat..

Fathoni inilah bulan baik saat baik untuk kerja bakti membersihkan..inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu..Yang secara teranng terangan dan sembunyi-sembunyi kau puja selama ini..Atau akan kau lewatkan ramadhan kali ini seperti ramadhan-ramadhan yang lalu..

(disadur dari puisi Nasihat Ramadhan buat A. Mustofa Bisri).

Semoga Ramadhan kali ini mampu merubah Fath menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Menjadi manusia yang membuat hidupnya lebih hidup. Mampu berkorban lebih banyak bagi semua tak pandang pilih dan tak pilih kasih. mampu Adil dalam bersikap. Satu yang tersulit kalahkan nafsu dan ego untuk bisa lebih ikhlas terhadap semua ketetapan Allah.

Selamat Datang bulan Ramadhan..perjalanan semoga tak membuatku lupa akanmu...

Kalibata, 28 Agustus 2008

Kembali terbanglah sang elang..Dari Jawa Hingga Papua...Semangat...!!!

Superman (It's Not Easy)

I can't stand to fly
I'm not that naive
I'm just out to find
The better part of me

I'm more than a bird:I'm more than a plane
More than some pretty face beside a train
It's not easy to be me

Wish that I could cry
Fall upon my knees
Find a way to lie
About a home I'll never see

It may sound absurd:but don't be naive
Even Heroes have the right to bleed
I may be disturbed:but won't you conceed
Even Heroes have the right to dream
It's not easy to be me

Up, up and away:away from me
It's all right:You can all sleep sound tonight
I'm not crazy:or anything:

I can't stand to fly
I'm not that naive
Men weren't meant to ride
With clouds between their knees

I'm only a man in a silly red sheet
Digging for kryptonite on this one way street
Only a man in a funny red sheet
Looking for special things inside of me

It's not easy to be me.

Dalam lelah aku teringat sajak seorang rekan...

di gerbang malam berona saga
tak terhitung aksara berjaga pada langit
merejang kelana bebintang cahaya
meronta dalam cawan-cawan penuh berisi arak
namamu mengambang; muak, memabukkan!"

Terbanglah kembali sang elang...

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah...(WS. Rendra)

"Kau masih ingat tidak, satu tekad yang dulu kau bawa ketika memutuskan datang ke kota ini?" , sesosok bayangan menamparku, menyadarkanku, tangan kuatnya mencengkeram, "Candak tali goci".

"Ah, entahlah aku sudah lupa. Aku hanya ingin lanjutkan hidup, berburu kertas demi kertas berstempel Bank Indonesia," kataku.

"Kau, memang sudah lupa. Atau kau memang sudah sengaja melupakan," pelan-pelan sesosok bayangan itupun melepaskan cengkeramannya padaku. Kini tubuhnya mulai terkulai. Tak segarang tadi terduduk, lemas bersandar di dinding.

"Aku benar-benar tak tahu akan semua yang kau maksud. Benar. Yang kutahu aku lelah. Lelah dan lelah. Kau tahu kenapa?"

"Yak, tentu saja aku tahu," bayangan itu hanya mendesah tak memprotes jawabanku.

"Lalu apa artinya dengan perjalanan yang selama ini kau lakukan? yang kau dengungkan? Sudah hilangkah berlembaran cerita yang katamu selalu bisa menginspirasi, jadi sebuah pelajaran. Atau semua omong kosong. Bayangan itu kembali berdiri kali ini tangannya menggebrak pintu kayu disampingku dan belum sempat hilang kekagetanku tangan satunya menamparku. Pukulan cukup keras yang membuatku terhuyung-huyung, ada di batas antara sadar dan tidak sadar.

Pelan-pelan kurasakan tubuhku melayang-layang dan entah kenapa ada diorama yang ditunjukkan padaku. Aku lihat diriku yang berada di dalam angkot mendengar dua orang rekanku yang serius bicarakan sesuatu. " Saya terkadang berfikir Allah sudah begitu memudahkan saya. Coba bayangkan mulai dari SD, SMP, SMA, kuliah hingga kerja nyaris selalu dimudahkan," kata-kata yang bisa saya dengar dari temen saya. Kulihat diriku yang hanya manggut-manggut saja..seakan mengerti dan mengamini semua kata-katanya..

Lalu kembali aku berputar-putar dan berjejalan manusia-manusia yang pernah kujumpai baris dan tersenyum. Aku hanya diantara kumpulan orang-orang itu. Kulihat orang-orang Menoreh yang tertawa-tawa, para pekerja di Tiara Handycraft yang dengan segala keterbatasan tak pernah mengurangi kekagumanku atas mereka, Ulum, manusia luar biasa yang kujumpa di Qoryah Thayyibah, Pak Acit, penjaga warung di kawah Ciwedey..ah dan makin banyak lagi..makin banyak lagi...

Aku mulai ketakutan dan berteriak...lega ketika tahu ternyata semuanya hanya mimpi..Angin menerpaku.mengembalikan kesadaranku..Dalam kesunyian sepertiga malam akupun basahi muka, tangan, telinga, sebagian kepala, kaki dengan air..selaksa demi selaksa..ah Suka dan Duka adalah biasa karena tia orang mengalaminya...

Pancoran, 28 Agustus 2008

Wednesday, August 27, 2008

Bila Kutitipkan

Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung
Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai
Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang
Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Paslilah gunung meluapkan api. Tapi
Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku
Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku
Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut fahamku.
Ku simpan sendiri

Oleh : Gus Mus

Tuesday, August 26, 2008

Pada suatu masa seorang Pramoedya Ananta toer pernah berkata, "Tuhan jika kau anggap aku sudah tak berguna ambilah nyawaku,". Dalam keputusasaan seseorang yang terbelenggu. Namun garisan takdir hidup dan mati memang benar-benar ada di tangan yang paling punya kuasa.

Dengan berbagai belenggu, penyiksaan, penahanan, ternyata tak menghentikan detak jantung dan nafasnya. Pramoedya terpisah dari jiwanya di usia senja. Benar, saat ia sudah mulai tak bisa berproduksi, saat tangan taks sekuat dulu saat pendengaran sudah jauh berkurang.

Apa gunanya hidup jika tak bermanfaat bagi orang di sekitarnya? Bahkan seringkali menjadi benalu. memanfaatkan apapun demi kepentingan semata. Saling menyakiti bahkan terkadang atas nama Tuhan menyakiti seseorang. Bukankah hidup itu sendiri adalah sebagai pembawa kebaikan bagi yang lain?

Begitu pula dengan saya. Semoga meski tak banyak yang bisa saya lakukan setidaknya tak membawa keburukan bagi yang lainnya. Hidup dan mati sudah tergaris tak perlu untuk ditakutkan seperti ketakutan seorang anak kecil. Jika segala waktu saya tak bisa bermanfaat bagi yang lainya tak apalah jika Tuhan mengakhiri kisah saya. Setidaknya tak bertambah lagi tanggungan dosa saya. Jika usia panjang masih dilimpahkan kepada saya ya, saya akan berbuat yang terbaik bagi semua. Dengan sedikit kemampuan dan banyak kelemahan saya. manusia yang bukanlah siapa-siapa dan tak menjadi apa-apa...

Kalibata, 26 Agustus 2008

Enaknya kasih nama siapa ya...tapi kayaknya belum ada yang pas selain orang aneh saja sesuai dengan dirinya menyebut dirinya sendiri. Alkisah si orang aneh protes namanya tak tercantum di blog list. Lho namaku kok ga ada? wakakaka. Wong blog saja belum punya kok harus ditampilin. Akhirnya si gadis aneh begitu dia menyebut dirinya belajar bikin blog dan dengan sedikit memaksa (mekso banget malahan). Akhirnya jadi deh blog dari si gadis aneh.

Jadi blog..wekekeke namanya orang aneh..masih saja protes..yah emang yang waras harus ngalah..

Sebuah sajaku juga sempat diculik dan dipas-pasin sama kisahnya..dasar orang aneh

FAJAR

Matahari Tersenyum..

Kau Datang Lontarkan Satu Senyuman

Satu Tanda Tanya Datang Padaku

Tentang Apa Arti Senyuman Itu

Yang Kutahu Kau Sang Fajar

Berikan Senyuman Hangatkanku dari Dinginnya Cerita Kemarin

Aku Yang Beku Terluluhkan Oleh Sang Fajar

Tapi Waktu Terus Saja Berputar

Dan Tak Selamanya Hari Adalah Fajar

Dasar orang aneh..awalnya protes..trus nanya lagi loh mana postingan blog yang kemarin? ck..ck..ck.






My life is brilliant.
My love is pure.
I saw an angel.
Of that I'm sure.
She smiled at me on the subway.
She was with another man.
But I won't lose no sleep on that,
'Cause I've got a plan.

You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
I saw your face in a crowded place,
And I don't know what to do,
'Cause I'll never be with you.

Yeah, she caught my eye,
As we walked on by.
She could see from my face that I was,
Flying high,
And I don't think that I'll see her again,
But we shared a moment that will last till the end.

You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
I saw your face in a crowded place,
And I don't know what to do,
'Cause I'll never be with you.

You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
There must be an angel with a smile on her face,
When she thought up that I should be with you.
But it's time to face the truth,
I will never be with you. (James Blunt, Your beautiful)

Agak telat memang. Membaca lirik-lirik lagu ini rasanya saya ingin tertawa....dan mengamini terutama pada akhir2 lagu..
But it's time to face the truth,I will never be with you..

Sunday, August 24, 2008

Staring through a window
Standing outside, they're just too happy to care tonight
I want to be like them
But I'll mess it up again

I tripped on my way in
And got kicked outside, everybody saw...

And I know that it's a wonderful world
But I can't feel it right now
(James Morrison Wonderful World)

Gemerlap malam ibu kota mengepungku. Lampu kota yang menyilaukan, kerlap-kerlip lampu hias menyambut kemerdekaan, belum lagi tebaran sinaran dari gedung-gedung pencakar langit seperti bayanganku akan "seribu kunang-kunangnya" Umar Khayam.

Malam itu selepas acara di MU Cafe, di depan pusat perbelanjaan yang cukup melegenda ( baca : Sarinah) kulihat salah satu wajah ibu kota. Satu keindahan suasana malam sekaligus bayangan semu yang seringkali jadi pemikat pendatang ( termasuk aku). Sengaja saya tak bawa motor. Males dengan kemacetan sore hari apalagi kondisi badan masih belum fit setelah beberapa hari sebelumnya travelling dengan medan yang lumayan.

Jam sembilan lebih. jam segini angkutan menuju tempat saya tinggal sudah jarang bahkan angkot 34 yang masuk jalan pengadegan biasanya sudah tak beroperasi. Yah biasanya kalo sudah seperti ini taksi menjadi alternatif pilihan. Sebuah taksi ekspress berhenti tak jauh di depanku, ketika saya datangi ternyata sudah ada penumpang lain yang memesan terpaksa saya urungkan niat saya.

Di dekat saya seorang tukang ojek memanggil saya. tawarkan jasa ojeknya. yah iseng-iseng saya nanya berapa ongkosnya. Ternyata harga yang dia tawarkan memang lebih murah. Akhirnya saya tergerak untuk naik ojek sajalah apalagi melihat sekali-kali berbagi dengan yang kurang beruntung.

Sepanjang perjalanan ada banyak cerita yang saya dapat. Tentang keluarganya, tentang nasib apes sampai-sampai sudah hampir seminggu ia belum kasih setoran ojek. dari cerita-ceritanya saya hanya bisa menarik nafas, beginilah nasib mereka-mereka yang kurang beruntung di Jakarta. Sangat beruntunglah saya dengan segala kelebihan rejeki meski tak melimpah ruah namun sudah lebih dari cukup.

Melaju menembus Jakarta malam hari ditemani kerlap-kerlip lampu kota...Terima kasih ya Allah atas segala kenikmatan dan ujian terlampau ringan yang seringkali hamba keluhkan...

Jakarta 20 Agustus 2008




Saturday, August 23, 2008

Ternyata meski hanya di emperan masjid tanpa karpet, tanpa tikar kami bisa tidur cukup pulas juga hingga suara adzan Subuh membangunkan kami. Kamipun beres-beres, bersih-bersih diri meskipun sekedar cuci muka dan wudhu, sebelum akhirnya ikut sholat berjamaah di masjid itu.

Selesai ikut jamaah Subuh saya sempat ngobrol dengan bapak-bapak yang katanya ayah dari pengurus masjid ini. Bapak tua itu cerita banyak tentang masjid, kegiatan-kegiatan pengajian yang dia ikuti dan sejarah masjid yang katanya dibangun oleh pemilik minimarket yang terletak berdampingan dengan masjid. Yang membangu masjid ini justru seorang wanita tua keturunan China non muslim yang hidup sendiri dan kaya raya.

Setelah merasa cukup dengan beberes perlengkapan kami pamit dan segera mencari angkot. rencananya tujuan kami ke Cisolok karena disana banyak sekali penjual makanan. Waktu baru menunjukkan pukul setengah enam kurang jadi masih terlihat gelap.

Tak perlu lama-lama menunggu angkot. Sebuah angkot tujuan Cisolok berhenti dan kami bergabung dengan beberapa penumpang satu diantaranya ibu-ibu tua yang membawa barang belanjaan cukup banyak. Pagi ini suasana masih sepi. Udara masih begitu segar. Angkot melaju diantara jalanan yang masih gelap.

Tak lama untuk mencapai Cisolok. Kami berhenti di dekat gardu pantau ataua apalah namanya. Sudah lama ingin naik gardu pantau menikmati panorama dari bangunan pemantau itu. Kami naik tower itu. Sambil bersantai menikmati laut si Iqbal dan Opi mulai beraksi dengan kamera mereka. Sebenarnya di Cisolok ini hanya persinggahan saja. Kami menunggu angkot tujuan Bayah yang lewat agak siangan. Bersantai dengan selembar koran yang dibawa dan menikmati makanan bekal si Opi dari istri tercintanya..hehehe..Lumayan buat ganjal perut.

Sang Surya mulai tampakan diri. Hari mulai terang. Warung-warung di sekitar pantai sudah mulai buka. Nampaknya rencana kami bergeser. Tidak langsung ke Bayah namun sarapan dulu, bersih-bersih, menjalani panggilan alam dulu, baru siang hari menuju Karang Taraje.

Tak jauh dari tower pantau ada sebuah warung. Kami mampir dan menikmati semangkok mie rebus dan teh panas. Meski sudah sering makan di daerah Jawa barat saya masih sering lupa jika pesan teh pasti yang dikasih teh pahit..hehehe..

Rencana benar-benar berubah. Setelah makan pagi kami jalan-jalan di sekitar pantai dekat Karanghawu melihat orang-orang belajar surving, anak-anak yang bermain di pantai. Satu lagi yang menarik kami melihat lomba baris berbaris. Peserta lomba baris-berbaris ini ada siswa SD dan ada juga SMP. Melihat mereka saya jadi teringat masa-masa belasan tahun lalu sewaktu saya masih SD atau SMP.

Tak terasa waktu terus bergeser..dan hampir tengah hari..kamipun bergegas mencari angkot tujuan Karang Taraje. Rencananya sore kami akan mencari Sunset disana hingga Maghrib dan kalau ada angkutan malam harinya menuju Sawarna..namun kalau tak ada kami akan mencari penginapan di sekitar sana..

16 Agustus 2008

Bersambung

Friday, August 22, 2008

Tak seperti perjalanan pada siang hari, waktu tempuh di malam hari bisa lebih singkat. Dengan kondisi jalanan yang relatif sepi bis bisa melaju dengan cukup kencang. Meski sebenarnya ngeri juga, soalnya ada beberapa ruas jalan setelah Cibadak dimana kanan-kirinya adalah jurang. namun saya harus menikmatinya ...Ini Petualangan Bung!

Tengah malam bus MGI telah tiba di Terminal Pelabuhan Ratu. Ternyata benar kata Opi tentang serbuan tukang ojek. Belum sampai turun dari bus belasan bahkan mungkin lebih dari 20 sudah mengepung kami. Satu demi satu mereka tawarkan jasa Ojek pada tiap-tiap penumpang yang turun dengan segala cara. Kami terus saja berjalan, mencari masjid yang ada di sekitar sini.

Dalam beberapa meter dari bis tukang ojek terus menyerbu kami. Mereka seperti tak pernah menyerah, tak henti-hentinya. 2 tukang ojek tawarkan di belakang menunggu, gagal belakangnya menyusul dan seterusnya. Mereka bertubi-tubi datang seperti nyamuk-nyamuk yang mengepung mangsanya. Mungkin saja yang menghampiri kami hampir 12 belas lebih.

Saking jengkelnya dengan tukang ojek yang ga nyerah-nyerah itu si Opi sampai ngomong " Saya sudah sering kesini, sudah bosen," hehehe..rasanya pingin ketawa tapi ngeri juga menghadapi tukang-tukang ojek itu. Namun itulah realitas, satu kondisi yang mau tak mau harus mereka lakukan demi menyambung hidup.

Akhirnya setelah puluhan meter mungkin saja seratusan meter melangkah tukang-tukang ojek itu menyerah juga. kami berhenti di sebuah masjid rencananya di sinilah kami akan menginap malam ini. emperanya cukup bersih dan udaranya juga tak terlalu dingin. terlihat beberapa orang tidur di emperan masjid itu.

Setelah bersih-bersih dan sholat saya coba istirahat rebahkan diri menunggu subuh tiba. Sementara si iqbal sudah duluan tidur. Dengan berselimut sarung saya melawan serangan nyamuk2 masjid yang lumayan banyak.Mata hampir terkatup terkalahkan oleh rasa kantuk samar-samar masih terlihat si Opi masih sibuk dengan laptop mencari colokan tuntaskan kerjaan tambahan dari kantornya.

15 Agustus 2008

Bersambung


Blogged with the Flock Browser

Thursday, August 21, 2008

Tak beberapa lama kemudian kereta Bogor Eksprespun tiba. Opi sudah bersiap dengan koran yang ia beli. Kami memilih duduk di lantai saja dengan alas koran. Keretapun melaju, kami habiskan waktu dengan berbagai macam topik diskusi diantaranya tentang kerjaan.....

Habiskan waktu dengan diskusi, dengan mengobrol, tak terasa sejam perjalanan Jakarta-Bogor. Sekira jam delapan malam kereta api sudah tiba di stasiun Bogor. Tak menunggu lama kami langsung mencari angkutan tujuan terminal Baranangsiang. Jarak antara stasiun dengan terminal tak begitu jauh makanya tak sampai setengah jam kami sudah berada di depan terminal.

Di tempat biasanya bis tujuan Pelabuhan Ratu mangkal masih ada 2 bus MGI kelas ekonomi. Opi sempat bertanya pada kondektur dan ternyata itu adalah 2 bus terakhir ke Pelabuhan ratu malam ini. Dari info kondektur kami masih cukup waktu untuk makan malam dan istrihat sejenak.

Kami pilih tempat makan malam tak jauh dari tempat bus mangkal untuk jaga-jaga agar tak ketinggalan bis. Di sebuah warung Ayam bakar, melepas lelah ditengah hawa dingin. Ternyata rasanya lumayan juga meski campur dengan asap kendaraan tapi tak apalah. Yah perut sudah terisi dan sudah bersiap perjalanan berjam-jam menuju Pelabuhan Ratu. Rencananya malam ini kami akan tidur disana, mungkin di emperan masjid sekitar terminal.

Setelah cukup istirahat, dan mengisi perut kami menuju bis MGI terakhir. Satu bis sudah berangkat beberapa saat lalu. Di dekat tempat bis saya lihat penjual kacang rebus, asapnya mengepul-ngepul menggoda saya untuk membeli barang 5 ribu rupiah. Wah ternyata rasanya enak juga soalnya masih hangat.

Kami memilih duduk di kursi paling belakang dengan barang bawaan yang lumayan cukup banyak tempat buat menaruhnya. Saya sendiri memilih duduk di kursi belakang pojok bis kelas ekonomi tujuan Pelabuhan ratu itu. malam ini bis yang tersisa memang tinggal kelas ekonomi, biasanya kalau pas menempuh perjalanan siang kami memilih naik bis yang AC. Tarifnys tak beda jauh hanya 25 ribu rupiah.

Setelah menunggu beberapa saat beberapa penumpang mengisi kursi-kursi bis itu. tak menunggu sampai penuh jam 9an bis itupun berangkat. Sepanjang perjalanan saya lebih banyak tertidur mungkin karna rasa lelah setelah aktivitas pagi hingga sore tadi. Bis terus bergerak dan saya terlelap meski terkadang terbangun dengan terbatuk-batuk akibat asap rokok dari penumpang yang duduk di kursi persis depanku. Asap rokok dari mulutnya yang tak berhenti mirip asap dari corong pabrik. Jika lancar sekitar jam 12an kami sudah sampai di terminal pelabuhan Ratu.

Tak sabar rasanya melihat keindahan bumi sawarna dan menunggu kejutan apa yang akan kami alami di jalan..

Bogor 15 Agustus 2008

Bersambung..


Wednesday, August 20, 2008

Untung saja saya menginap di Qoryah Thayyibah, ada banyak hal yang saya dapatkan. Ada banyak sosok-sosok sederhana yang saya kenal mulai dari Mas Toha pendamping, Ulum salah seorang siswa, Mbah Lam penjual nasi yang ada di dekat sekolah, Pak Ridwan orang tua Fina, Pak Wahab, Pak Jono, Puji siswi kelas 1 SMA, Fajar dan masih banyak lagi.

Hari kedua di Q-Tha saya juga berkenalan dengan 2 orang Mahasiswa Pasca Sarjana Sosiologi dari UGM, Hendra da
n temannya. Mereka sedang mencari bahan untuk proyek tesisnya. Bersama kedua orang itu saya mendengar banyak hal dari Pak Din. Tak hanya mengenai pendidikan namun juga masalah sosial dan keadilan. Satu hal yang menarik adalah konsep lumbung dan learning society.

Salah satu pemikiran dari Pak Din diantaranya :

Kami mencita-cita hidup bersama ada keadilan. Tidak saling mengeksploitasi. Kalau mengatakan saya ingin jadi majikan itu kan ada benih2 kejahatan. Seperti itu khas kapitalistik. Tetep harus ada korban. Biar sukses di usaha bakso misalnya tetap ada karyawan yang dieksploitasi. Kalau ada keadilan orang akan tidak serakah.

Kalau anak kita sudah dijamin kita tak perlu berfikir bagaimana 7 turunan. Kalau masa tua kita sudah dijamin ada keadilan kita tak perlu numpuk-numpuk harta untuk bekal masa tua. Keserakahan itu sebenarnya bisa diminimalisir dengan keadilan.

D
iskusi, ngobrol, melihat, mendengarkan seputar itu saja yang saya lakukan di hari kedua. Sempat juga ngobrol dengan Fajar dan Puji Astuti siswa-siswi dari Sekolah alternatif. Ada banyak hal yang saya kagumi terutama semangat dan keberanian itu yang ingin lebih saya tingkatkan dari diri saya.

Awalnya hari itu saya ingin mampir ke Jogja dulu sebelum nantinya ke Jakarta namun menurut saran dari pak Ridwan akhirnya saya memutuskan langsung ke Jakarta Via Bis. Saya diantar mas Toha ke terminal Jaka Tingkir memesan tiket.

Mendapat sambutan hangat, pengalaman hidup, metode pembelajaran yang unik,..jadi kumpulan hal baru yang saya dapat di Qoryah thayyibah..

Malam itu jam 20.00 dengan bus malam saya harus berpisah dengan Salatiga kembali menuju Jakarta..


Sang Surya belum sepenuhnya tampakkan diri, saat sekelompok anak, sebagian besar memakai seragam biru putih, dari desa Kalibening menuju sebuah bangunan berlantai 3 yang masih dalam tahap pembangunan.

Mereka menuju lantai dasar bangunan tersebut menuju sebuah ruangan mirip aula berukuran kurang lebih lima kali sepuluh meter yang di pinggirnya tertata beberapa unit komputer. Di ruangan itu ada juga satu set drum, buku yang dipajang dan peralatan lainnya.

Nampaknya mereka bukanlah yang pertama kali datang. Di ruangan tersebut sudah ada beberapa orang anak ada yang memakai seragam ada yang tidak. Lukman, 14 tahun salah satu dari anak yang berada di ruangan itu. Dengan memakai sarung dan peci khas pesantren ia asyik menjelajah dunia maya. Tampak ia sedang mengutak-atik friendster, sebuah situs pertemanan di dunia maya. Sementara anak-anak yang lain juga asyik dengan komputernya masing-masing. Karena jumlah unit komputernya masih terbatas yang tidak kebagian berdiri dan ada yang duduk di samping rekan mereka menikmati bersama-sama.

Mereka adalah siswa siswi Q-Tha. Rasa penasaran akan gambaran kegiatan di sekolah komunitas ini akhirnya terjawab. Tak rugi rasanya saya bela-belain menginap meski hanya beralaskan tikar. Kegiatan di Q-Tha sudah dimulai pagi hari jam 6.30. Jam segitu biasanya ada yang namanya English Morning.

Saya sempat melihat suasana yang mereka namakan sebagai sharing. Mbak Nurul salah seorang pendamping memandu siswa-siswi kelas satu bertanya tentang apa saja yang sudah dipelajari selama seminggu, kesepakatan terlambat, seragam dan banyak hal lain.

Bersambung


Tuesday, August 19, 2008

"Q-tha itu lebih pada komunitas belajar sehingga bukan sekolah. Kami lebih suka memaknai pendidikan itu sebagai belajar. ”Belajar”nya itu sebenarnya sehingga anak-anak itu benar-benar menjadi subyek belajar bukan obyek pengajaran. Salah satunya memang melalui lembaga persekolahan," Ahmad Bahrudin.

Ternyata banyak hal menarik yang kudapat dari wawancara awal dengan Pak Din. Ada banyak hal yang selama ini belum pernah saya jumpai. di Q-tha saya banyak temukan hal baru diantaranya tentang sekumpulan anak-anak luar biasa yang bertumbuh kembang jadi manusia-manusia terpelajar meski tak menempuh jenjang pendidikan resmi.

Hampir sejaman saya mendengar banyak hal dari Pak Din bersamaan dengan 3 orang tamu dari Jakarta.Ada rombongan dari Jakarta yang katanya sedang studi banding. Katanya mereka ingin mendirikan home schooling.

Pak Din menunjukkan saya hasil karya anak-anak Q-Tha. Ada banyak judul buku, Video, dan film yang telah dihasilkan oleh mereka. Saya sempat dikenalkan dengan salah seorang siswa yaitu Emi. Sosok Emi ternyata unik juga. Dia sempat mengajukan protes dengan berkirim surat ke presiden gara-gara hasil ujiannya tak sesuai dengan yang dia harapkan. Nilai Matematika dia mendapat 8 menurut dia harusnya dapat 10. Ia bahkan meminta soalnya dikembalikan untuk membuktikan ia bisa.

Sebenarnya rencananya saya mau langsung balik, namun Pak Din menyuruh saya tinggal saja semalam disana..Setelah menimbang-nimbang dan ingin tahu lebih banyak akhirnya saya memutuskan untuk menginap.




Friday, August 15, 2008

Bis terus melaju..tak terasa satu setengah jam perjalanan terlewati dan mulai memasuki kota Salatiga..

Tujuan utama di Salatiga adalah berkunjung ke Sekolah Alternatif Qoryah Thayyibah. Ini kali pertama saya datang ke tempat tersebut. Sebelumnya saya hanya membaca dan mendengar cerita tentang sekolah alternatif itu.

Bekal utama sebagai petunjuk mencari lokasi sekolah Qoryah Thayyibah adalah hasil pencarianku di internet kemarin. "Kalibening" dekat terminal, nama tempat itu yang teringat. Makanya sepanjang perjalanan saya melihat tanda petunjuk di kiri dan kanan. Tak lama melintasi jalanan kota mata saya melihat petunjuk arah "Kalibening", langsung saja saya minta turun di sebuah pertigaan. "Pertigaan tersebut lebih dikenal masyarakat sana sebagai pertigaan ABC".

Dari pertigaan tersebut saya memutuskan istirahat sebentar di sebuah warung Bakso. Lumayan dari pagi belum sarapan. Sebenarnya tak hanya istirahat saja tujuan saya mampir di warung tapi sekalian nukar duit..hehehe..Waktu itu jam menunjukkan pukul setengah sebelas..

Perut sudah terisi, sedikit rasa lelah sudah terkurangi saya kembali melanjutkan perjalanan mencari lokasi Q-Tha. Saya sempat bertanya pada beberapa orang dan saya berjalan menuju ke jalan kecil namun kondisinya sudah bagus, sudah beraspal. Ternyata lumayan juga jalanan menuju Kalibening kondisinya naik turun dengan beban berat di tas cukup membuat saya ngos-ngosan.

Kira-kira satu kilo jalan kaki saya kembali bertanya pada seorang warga. Ternyata arah saya sudah benar Q-Tha berlokasi tak jauh dari sini.

Setalah mencari-cari bayangan saya ada plang besar yang mendakan lokasi sekolah alternatif, ternyata tak ada tanda-tanda itu. Di depan sebuah rumah tepatnya di teras saya lihat beberapa anak usia SMP sebagian besar memakai seragam. Melihat mereka dugaan saya adalah siswa Q-Tha. Ternyata benar lokasi yang lebih mirip rumah itu adalah salah satu bangunan di Q-Tha. Seorang yang bernama Ulum mengantar saya ke rumah pak Din (ahmad Bahrudin) pendiri Q-Tha.

Kami berjalan ke tempat yang tak jauh dari lokasi pertama saya datang. Di sebuah gedung 3 lantai yang masih dalam tahap penyelesaian saya disuruh menunggu. Di situ saya bertemu Imam Muntoha, seorang pendamping yang sedang menjelaskan sesuatu pada 2 orang pengunjung.

Tak berapa lama menunggu akhirnya saya bertemu pak Din. Kesan pertama melihat pendiri Q-Tha ini menurut saya unik dan eksentrik. Pak Din dengan penampilan berkaos, rambut gondrong, menyambut saya. Seperti orang yang sudah kenal dan tak ada jarak. Yah dari situlah saya mendapat banyak cerita tentang Qoryah Thayyibah.

bersambung

Thursday, August 14, 2008


Setelah sempat bangun agak kesiangan..mungkin akibat kondisi tubuh yang makin letih hampir seminggu di Semarang. Saya berkemas dan bersiap menuju Kota Salatiga.

Baru pertama kali ini saya pergi ke Salatiga. Dari informasi yang saya dapat jalur ke Salatiga hampir sama yaitu cari saja bus yang menuju ke jalan depan BPPLSP, cari saja tujuan Solo pasti lewat Salatiga.

Berangkat dari Simpang lima saya sempat "nyasar" gara-gara salah naik angkot. Tapi untung juga sekali lagi saya menikmati sebuah perjalanan. Ada cerita menggelitik yang saya dapat dari si sopir. Si sopir angkot itu rencananya malam mau "mendhem" bareng. teman di sampingnya nanya di mana? di sebuah tempat saya lupa namanya katanya dalam rangka tasyakuran manten..wuih istilah tasyakuran dipadukan dengan "mendhem".

Sebelum nyasar terlalu jauh saya berhenti di sebuah pasar dan berjalan mungkin sekiloan menuju tugu muda. Tak lama menunggu ada bus jurusan banyumanik lewat dan segera saja saya naik bus itu. Bus full Ac dan lumayan bisa istirahat sejenak. Bus itupun melaju sementara waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih dikit..rencana semula saya sebenarnya mau berangkat jam 8 ..hehehee..molor sejam.

Bus terus melaju...sepanjang perjalanan saya melihat kiri-kanan untuk mengira-ngira dimana saya harus turun dan berganti ke bus besar menuju Salatiga. Setelah beberapa saat melaju meski agak telat ngomong berhenti sehingga harus jalan lumayan jauh saya berganti ke bus yang lebih besar jurusan Solo. Untunglah saya tak lama menunggu..di sebuah perempatan tak tau nama daerahnya bus AC berhenti dan segera sajalah saya naik ternyata bus itu masih menyisakan banyak kursi kosong.

Lampu sinyal berganti hijau..dan bus mulai melaju meninggalkan kota Semarang Menuju Salatiga..

Bersambung....


Hidup Itu Selalu Berputar Terkadang Di Atas dan Terkadang Di Bawah...

Setelah merasakan bagaimana tidur di Mushola kemudian berlanjut ke hotel alakadarnya di hari ketiga semuanya makin membaik..hehehe..Kami berpindah lokasi tugas. Setelah 2 hari di Semarang Selatan hari ketiga kami meliput sekaligus mengikuti acara di Hotel Horison dekat Simpang Lima Semarang.

Ternyata kami tak sekedar meliput tapi juga terdaftar sebagai peserta wah makanya kami harus rajin ikut setiap sesi meskipun sebenarnya menurut saya sangat-sangat membosankan. Tapi lumayanlah soalnya bisa tidur di kasur yang lebih empuk..hehehe..satu lagi kami beruntung letak kamar kami bisa melihat simpang lima dari atas.

Selama 3 hari kami berada di Hotel Horison. Meliput semua kegiatan yang ada di sana hingga hari ketiga setelah acara penutupan. Penutupan diselenggarakan di Balai Kodam Diponegoro di daerah Watugong. Acaranya sangat meriah ada orkestra, hiburan musik dan sajian guyonan dari grup lawak Cagur. Acara selesai tapi ternyata tugas saya belum selesai..ada satu tugas tambahan besok harinya harus segera meluncur ke Salatiga meliput Sekolah Alternatif Qaryah Tayyibah.

Penutupan itu sekaligus menutup cerita perjalanan dari Semarang..

Pagi-pagi sekali sebelum adzan saya terbangun oleh suara pintu yang dibuka. Eh ternyata waktu berjalan dengan cepat, rasa letih yang luar biasa membuat saya bisa terlelap dimana saja.

Sayapun terbangun, ambil air wudhu dan jalankan Sholat Subuh. Karena masih terkantuk-kantuk menunggu orang keluar dari Mushola untuk lanjutkan tidur sejenak. Lumayan dapat tambahan sejam istirahat lagi.

Jam enam kurang corong dari sekretariat sudah berbunyi. Bagi para peserta Jambore diharap segera kumpul katanya jam 7 semua akan menuju BPLSP Ungaran tempat dilaksanakan berbagai perlombaan. Meski masih mengantuk saya paksakan diri bangun menuju kamar mandi yang berada di depan sekretariat. Segar juga rasanya, udara disini memang lebih enak jika dibanding dengan Jakarta. Setelah mandi, sarapan kami membaur dengan peserta masuk di salah satu bus menuju ke BPLSP Ungaran.

Suasana di BPLSP cukup ramai dan meriah. Ada banyak umbul-umbul warna-warni dan spanduk ucapan selamat datang bagi peserta Jambore. Ada semangat dari peserta untuk berlomba menjadi yang terbaik.

Ada berbagai perlombaan yang diadakan mulai dari karya tulis, mendongeng, tata boga rias penganten dan masih banyak lagi. yang membuat saya tertarik adalah lomba pencak silat dan rias penganten. Saya bisa melihat luar biasanya keanekaragaman budaya negeri ini dari berbagai gerakan pencak silat dan seni tata rias penganten. Untuk tata rias penganten terus terang juga membuat saya betah apalagi melihat model-modelnya..hehehe

Masih akibat kurang tidur semalam rasanya mata saya panas dan badan letih. Dengan satu kesepakatan akhirnya saya dan rekan memutuskan mencari penginapan untuk bersitirahat. untungnya ada sebuah penginapan di dekat BPLSP. Penginapan yang namanya tak secantik hotelnya..hehehe..tapi lumayanlah kami bisa bersitirahat..apalagi masih banyak agenda yang harus kami liput dan ikuti..

Bersambung..

Sepanjang perjalanan menuju Srondol ada banyak hal menarik yang kujumpai. Menarik karena mungkin baru kali ini saya berkeliling Semarang, sendiri.

Ternyata pilihan yang tadi saya buat untuk menggunakan angkutan umum tak salah. Sebenarnya di Stasiun saya sempat mendapat tawaran sewa kendaraan atau taksi. Dari informasi mereka katanya medan ke Srondol cukup berat, jalan menanjak dan macet. "Mendengar cerita seperti itu dalam hati saya tertawa semacet apa sih? Lebih parahkah jika dibanding kemacetan di Jalan Gatot Subroto atau Jalan Pasar Minggu Di Jam pulang Kerja?".

"Menikmati sebuah perjalanan", Ada banyak hal dan cerita yang kudapat dari obrolan supir, kenek, dan kejadian-kejadian kecil yang kulihat di jalan. Ada cerita tentang tukang copet yang mangkal di jalur tertentu, hingga cara-cara konyol mendapat penumpang di jalan. Menikmati perjalanan serasa berada di daerah sendiri.

Tak sampai sejam bis sudah sampai di Srondol. Tujuan saya ke LPMP Jawa Tengah, tak jauh dari UNDIP. Ternyata tulisan di kanan jalan hanya plang tanda nama saja. Lokasi LPMP masih sekiloan masuk kedalam. Lumayan juga berjalan kaki sekilo apalagi dengan membawa barang bawaan yang cukup berat dan kondisi tubuh yang mulai letih. Di tengah perjalanan sempat saya berpapasan dengan rombongan tentara yang olahraga sore. Mereka berkelompok berlari entah rute mana yang mereka tempuh.

Sampai di halaman LPMP sudah terlihat bus-bus yang berjajar. Tampaknya para peserta Jambore 1000 PTK-PNF sudah pada berdatangan. Sesuai tugas dari Jakarta saya konfirmasi ke panitia bersama seorang rekan yang datang tak lama setelah saya.

Bayangan awal tempat penginapan sudah dipersiapkan. Dan kami tinggal ambil kunci untuk kemudian istirahat sebelum mengikuti acara pembukaan yang akan dilaksanakan jam 7 malam di kantor gubernuran. Ternyata eh ternyata..ada missed komunikasi. Kami harus menghubungi dulu ini itu..eh.sampai acara pembukaan selesai penginapan yang enak buat istirahat tak kunjung datang..Setelah menunggu dan menunggu sampai jam satu malam kami mendapat penginapan super besar ukuran 10 x 10 ..alias Mushola..eh lumayan masih ada tempat kosong beristirahat..untung saja karpet Mushola cukup dingin dan membuat saya sejenak terlelap sebelum pintu dibuka oleh jamaah sholat Subuh...

bersambung

Thursday, August 07, 2008

Cukup mengasyikan perjalanan menuju Semarang via kereta api. Dari jarak dekat pantai Utara Jawa sajikan pemandangan sepertisebuah layar yang terpajang di kiri tempat dudukku.

Enam jam perjalanan di atas gerbong Argo Muria mengantarku jejakan kaki ke bumi Semarang. Stasiun Tawang, tempat di kota pinggir pantai yang pertama kali terinjak oleh sepatuku. Selamat datang di Semarang..!

Rencananya saya akan berada di kota ini hingga Minggu atau Senin. Ada sebuah acara yang harus saya ikuti berkenaan dengan kerjaan yang saya geluti. Seperti biasanya di tempat saya singgah saya selalu tergoda untuk menikmati sajian makanan khas pinggir jalan. Kali ini saya mencoba soto. Soto yang terletak di depan stasiun.

Rasanya lahap sekali nikmati hidangan soto depan stasiun itu, Apalagi sedari pagi perutku hanya terisi makanan servis dari kereta Argo Muria yang hanya "nylempit" di pojok lambungku. Lumayan juga, apalagi ditambah dengan beberapa tempe goreng dan segelas es teh. "Nikmat" lengkaplah..setelah tanya berapa harga ternyata cuma 8 ribu..aku baru ingat ini Jawa Tengah mas bukan Jakarta..hehehe..

Perut kenyang, energi terpulihkan dan tiba saatnya lanjutkan perjalanan menuju Banyumanik. Kata ibu yang kutemui di kerete menuju Banyumanik bisa naik bis yang lewat stasiun. Benar saja, tak lama sebuah bis warna putih menuju Banyumanik lewat dan segera saja aku melompat mengambil tempat di depan.

Semarang, 6 Agustus 2008

Tuesday, August 05, 2008



“We are the champions - my friends
And well keep on fighting - till the end -
We are the champions...we are the champions
No time for losers
cause we are the champions - of the world –“

LENGKINGAN suara Anik, siswi SLB Jawa Timur memenuhi ruangan Istora Senayan Jakarta, awal Agustus lalu. Lantunan lagu ”We are the Champion” milik grup musik legendaris Queen yang dia bawakan, seakan menggetarkan hati para peserts Olimpiade Olahraga Siswa Nasional dan undangan yang hadir pada acara pembukaan.

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.