Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Thursday, March 31, 2016

Langit Salatiga makin menghitam. Rintik-rintik hujan mulai membasahi Kota di lereng Merbabu ini. Tak mau terguyur air hujan saya dan istri mencari tempat berteduh. Karena kebetulan pas jam makan siang, kami singgah di tempat makan dekat Pusat Perbelanjaan Ramayana.

Sambil menanti menu tersaji pandangan saya tertuju keluar, hujan makin deras saja. Saya kembali teringat materi Khutbah Jum'at hari ini, tentang hikmah. Isi ceramah ini saya akui mengena dengan diri saya khususnya. Ada begitu banyak peristiwa, kejadian yang seharusnya menjadi pelajaran khususnya bagi diri sendiri dan keluarga saya.

 Ada satu peristiwa menarik yang bisa jadi alasan bagi saya untuk selalu bersyukur. Beberapa waktu lalu sekira selepas Isya, rintik-rintik hujan masih jatuh di sekitaran Karanggede, tempat kami tinggal, namun karena di rumah tak ada sesuatu yang bisa disantap kami memutuskan keluar ke kaki lima tak jauh dari tempat kami. Ketika saya baru saja menyalakan motor di seberang jalan lewat seorang lelaki usianya saya perkirakan 30an. Lelaki itu membawa pikulan berisi krupuk. Sekilas saya amati barang dagangan lelaki tersebut masih utuh. Lelaki itu terus berjalan menyusuri jalanan Kecamatan di Boyolali bagian Utara tersebut lalu menghilang.

Melihat lelaki tersebut saya sempat ngobrol dengan istri saya. "Lihat lelaki itu. Kita hujan-hujan begini masih memiliki rejeki yang cukup, bisa membeli sebungkus makanan hangat lalu bisa tidur dengan nyenyak. Coba bandingkan dengan lelaki itu, masih harus membanting tulang mencari receh demi receh,"

Istri saya mengiyakan, kami bernostalgia kembali ke masa lalu, mengingat masa-masa awal pernikahan saat masih berjuang.

"Maaf pak pesanannya sudah lengkap!" rupanya makanan pesanan kami sudah siap, steak yang tersaji di atas hot plate sudah tersaji. Sambil menikmati sajian yang masih panas ini kembali fikiran saya masih tertuju pada satu kata "syukur". Benar, tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Kami hujan-hujan begini masih bisa berteduh, bersantai sambil menikmati sajian nikmat sementara di luar sana masih banyak pedagang, tukang becak, pengamen, sales, tukang dan masih banyak lagi yang jangankan menikmati steak berteduh saja mereka tak sempat demi memburu receh demi receh. Rumus kebahagiaan ternyata hanya senantiasa bersyukur, bersyukur dan bersyukur.
"Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban"
         “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Karanggede, Februari 2015

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Wednesday, March 30, 2016


Goa Selarong Bantul
Sengatan panas sang Surya siang itu, tak mengecilkan minat saya berkunjung ke goa Selarong. Dengan mengendarai sepeda motor, saya bersama istri, menuju Selatan kota Yogyakarta tepatnya di desa Guwosari kecamatan Pajangan, kabupaten Bantul.

Meskipun sudah lebih dari tujuh tahun tinggal di kota Gudeg, saya belum pernah berkunjung ke tempat persembunyian Pangeran Diponegoro. Padahal sebenarnya lokasinya tidak terlampau jauh hanya sekitar 14 km dari pusat kota Yogya. Bila menggunakan kendaraan pribadi dengan kecepatan santai hanya menghabiskan waktu tak lebih dari sejam.

Sebagai referensi, sebelum mengunjungi Selarong saya sempat membaca berbagai artikel yang ditulis baik di blog maupun berita internet. Dari artikel itulah saya mendapatkan petunjuk arah sebagai pegangan menuju ke lokasi. Tapi ternyata tetap saja, meskipun sudah membaca artikel dan tahu gambaran petunjuk arah, kami tetap nyasar juga.

Goa Selarong bisa dijangkau baik dengan kendaraan pribadi baik kecil maupun besar. Jalan menuju kesana relatif sudah bagus. Sebenarnya acuanya gampang dari kota Yogyakarta lewat saja jalan raya Bantul hingga sampai perempatan Masjid Agung Bantul. Dari sini langsung saja belok kekanan menuju ke arah Barat ( Sebagai catatan ikuti saja jalan yang besar hingga menemukan perempatan dengan petunjuk arah ke Selarong). Kesalahan kami kemarin tidak mengikuti jalan besar namun masuk jalan kampung meskipun setelah beberapa kali bertanya kepada penduduk bisa sampai juga ketujuan. Jika sudah bertemu perempatan dengan petunjuk arah ke Selarong ikuti saja, hanya beberapa menit kita akan menemukan gerbang selamat datang di kawasan wisata Goa Selarong.

Untuk bisa masuk ke kawasan wisata goa Selarong pengunjung harus membayar retribusi yaitu , parkir dan masuk kawasan. Meskipun harus membayar tak perlu kuatir, karena biaya masuknya tak sampai menguras dompet Rp.2000,- untuk masuk dan Rp.2000,- untuk parkir sepeda motor. Pertama kali memasuki kawasan kesan rindang dan sejuk. Pohon besar menaungi parkiran sehingga meskipun diparkir berlama-lama jok motor tak bakal panas menyengat pantat.
12984382471353151538
Dari tempat parkir, bila ingin menuju ke lokasi goa, pengunjung bisa menempuh dengan berjalan kaki sekitar 100an meter ke arah Barat. Nanti ada ratusan anak tangga naik menuju goa. Seakan mengerti para pengunjung bakal kehausan setelah tiba di atas di bawah dan disepanjang perjalanan menuju anak tangga banyak dijumpai pedagang minuman dan buah buahan. Buah lokal seperti jambu biji dan kedondong banyak dijumpai di sana.
1298436241483758576

Sebelum melihat langsung lokasi goa saya tak tahu jika sebenarnya di sana ada dua buah goa, goa kakung dan putri. Goa-goa tersebut juga tak seperti bayangan saya seperti goa yang terdapat di pacitan yang luas dan bisa msuk hingga kedalam. Goa-goa tersebut ternyata hanya seluas lebar tak lebih dari 10 meter persegi dan tingginya kurang dari 2 meter. Konon keberadaan goa tersebut hanya sebagai pintu masuk saja sedangkan di balik dinding goa dalam bebatuan terdapat ruang yang tak bisa dilihat sembarang orang. Itulah sebabnya dulu kompeni susah menemukan keberadaan sang pangeran meskipun sudah berkeliaran di sekitar lokasi hingga harus menggunakan tipu daya menjebak sang pangeran. Sayangnya keberadaan goa tersebut tak lepas dari ulah tangan jahil. Meskipun di mulut kedua goa sudah dipagar ada saja orang yang mencorat-coret di sekitar goa.
1298436146127699235

Berkunjung ke goa Selarong bagi mereka yang minat akan wisata sejarah bisa menjadi semacam napak tilas perjuangan Diponegoro di masa silam. Sedangkan bagi yang ingin bersantai dan menikmati alam jangan kuatir di sana juga terdapat air terjun, sendang Manikmoyo, pepohonan yang rindang yang membuat kita bisa betah berlama-lama duduk di sana. Selain itu ada pula kerajinan khas masyarakat sana dari kayu yang bisa dilihat langsung proses pembuatanya oleh pengunjung.
12984362141916611840

Berikut ini lokasi Goa Selarong



Fathoni Arief

"Berbagi takkan pernah membuatmu merugi"

Tuesday, March 29, 2016

"Dari dalam kubur, suara saya akan jauh lebih keras daripada di atas bumi." Teriak Tan Malaka saat polisi Inggris menangkapnya di Hongkong pada tahun 1932.

Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka terlahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897. Ia merupakan seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Ia juga dikenal sebagai sosok pejuang yang militan, radikal, revolusioner dan banyak melahirkan pemikiran yang berbobot serta memiliki pengaruh dan peran besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. 

Perjuangan Tan Malaka tak hanya sebatas pada usaha pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat Vereeniging van Spoor-en Tramweg Vereeniging (VSTV) dan aksi-aksi pemogokan, tapi juga mencerdaskan rakyat Indonesia. VSTV merupakan sebuah organisasi buruh kereta api yang dianggap sebagai tonggak gerakan buruh di Indonesia.

Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia. Secara tak henti-hentinya hidupnya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Sejak kecil Tan Malaka dikenal sebagai sosok yang cerdas. Berkat kecerdasannya, sang guru Horensma membawa Tan Malaka muda merantau ke Belanda. Waktu itu usianya baru enam belas tahun. Selama di Belanda, Tan Malaka muda bersekolah di Harlem. Sewaktu sekolah ia gemar menulis dan bermain biola. Waktunya juga dihabiskan dengan banyak terlibat terlibat dalam Organisasi Komunis Internasional atau Komintern. 

Dari Negeri Kincir Angin, Tan Malaka juga sempat melanglang buana ke beberapa negara untuk menyebarluaskan pengaruh politiknya. Saat kembali ke Tanah Air, ternyata tindakannya membuat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda gerah sehingga ia beberapa kali ditangkap. Tan Malaka pun termasuk yang menolak perjuangan melalui jalur diplomasi. 

Setelah Indonesia merdeka Tan Malaka tetap saja muncul sebagai sosok yang kritis. Ia begitu kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan komunis, ia juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Berkat sikap kritisnya tersebut dan akibat hiruk pikuk politik pada tahun 1948 membuat Tan Malaka harus berakhir hidupnya secara tragis. 

Menurut Sejarawan Belanda, Harry A Poeze, yang meneliti selama beberapa tahun dilansir dari harian KOMPAS edisi Jumat (27/7) di Jakarta, menjelaskan, Tan Malaka ditembak mati tanggal 21 Februari 1949. Di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selo Panggung, Kediri, Jawa Timur, jejak kematian Tan Malaka terkuak.

Selama ini kematian Pahlawan Nasional Tan Malaka sempat menjadi misteri selama hampir setengah abad. Poeze memulai riset Tan Malaka sejak tahun 1980 dengan menemui banyak tokoh nasional. Harry Poeze yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) menambahkan, Tan Malaka ditembak di Desa Selo Panggung di kaki Gunung Wilis di Jawa Timur. Menurut Poeze eksekusi yang terjadi selepas agresi militer Belanda ke-2 itu didasari surat perintah Panglima Daerah Militer Brawijaya Soengkono dan komandan brigade-nya, Soerahmat. Petinggi militer di Jawa Timur menilai seruan Tan Malaka yang menilai penahanan Bung Karno dan Bung Hatta di Bangka menciptakan kekosongan kepemimpinan serta enggannya elite militer bergerilya dianggap membahayakan stabilitas. Mereka pun memerintahkan penangkapan Tan Malaka yang sempat ditahan di Desa Patje. Sebelum ditangkap, ia memimpin gerilya melawan Belanda di Desa Belimbing. Dia juga mengimbau seluruh rakyat melakukan perjuangan semesta melawan Belanda, seperti yang dilakukan Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Sebenarnya Tan Malaka pada bulan September 1945 pernah disiapkan Bung Karno untuk memimpin Indonesia jika Proklamator mengalami bahaya sehingga tidak mampu bertugas, sempat lolos dari tahanan bersama 50 gerilya anti-Belanda yang dipimpinnya. Namun, Tan Malaka yang berpisah dan bergerak dalam rombongan kecil berjumlah enam orang ditangkap Letnan Dua Soekotjo di Desa Selo Panggung yang berakhir dengan eksekusi. 

Tan Malaka sempat dijuluki "Bapak Repoebliek Indonesia" selepas medio 1920-an karena menerbitkan buku Naar Repoebliek Indonesia (Menuju Repoebliek Indonesia) dalam Bahasa Belada dan Melayu tahun 1924 di Kanton (sekarang Guangzhou), China. Dari ratusan jilid buku yang diselundupkan ke Hindia Belanda dan diterima para tokoh pergerakan, termasuk pemuda Soekarno bisa diketahui kisah tersebut. Walhasil, ia sudah dikenal sebagai Bapak Republik Indonesia jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. Fakta tentang hal itu ditampilkan dalam tiga jilid buku berjudul Tan Malaka Verguisd en Vergeten (Tan Malaka Dihujat dan Dilupakan). Melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963 Tan Malaka dinyatakan sebagai "Pahlawan revolusi nasional" 

(DARI BERBAGAI SUMBER)


Mendung mulai menyelimuti langit Jogja ketika sepeda motor bebek itu meninggalkan Berbah menuju Plaosan.Waktu itu jelang pukul 3 sore dan terik matahari masih terasa meskipun hitam memudarkan warna biru keputih-putihan langit. Namun jam segini waktu yang tepat jika ingin mendapatkan senja yang sempurna di Istana Boko.

Ada beberapa lokasi yang ingin kami kunjungi selain Plaosan sebagai tempat pertama. Sebagai penutup kami ingin menikmati perpisahan dari terang menuju gelap di bukit Boko. Kebetulan meskipun bertahun tahun tinggal di Jogja belum sekalipun menginjak lokasi tersebut.

Perjalanan dari Berbah menuju Plaosan bisa ditempuh dalam waktu kurang dari setengah jam dengan kecepatan normal. Plaosan jika dari arah Jogja bisa dicapai dengan melewati jalan raya Jogja Solo menuju Prambanan. Sesampainya di kawasan Candi Prambanan berbelok ke arah kiri menuju Utara kurang lebih 1,5 km. Sesampainya di perempatan ambil saja arah ke kanan sekira 1 km. Candi Plaosan terletak di sebelah kiri untuk candi Plaosan Lor dan sedikit ke Selatan untuk Plaosan Kidul. Untuk bisa mengelilingi kawasan candi pengunjung terlebih dulu harus lapor penjaga. Ada retribusi yang dikenakan.

Candi Plaosan Lor, kesan pertama berkunjung di kompleks ini saya begitu terkesima. Membayangkan bagaimana ahli bangunan masa lampau membuat satu kompleks bangunan yang begitu megah. Bagaimana teknik menata batu-batu hingga tersusun menjadi bentuk-bentuk yang indah. Kompleks candi Plaosan yang ada saat ini kabarnya bisa lebih luas lagi. Jika dilakukan penggalian di sekitar masih ditemukan peninggalan-peninggalan. Permasalahannya terkait dengan kepenmilikan lahan oleh warga. Saya berkeliling dari satu sudut ke sudut lain. Mengamati bentuk dan mencoba membayangkan masa lalu. Bagaimana kondisi jika candi-candi tersebut kesemuanya masih utuh. Bersama seorang rekan (Honas Firdaus) saya mencoba merekonstruksi masa lalu. Dengan imajinasi saya. Namun masih belum mampu menjangkaunya. Ada banyak hal yang bagi saya masih misteri.

Candi Plaosan diperkirakan masih satu era dengan candi Prambanan yaitu dibangun saat kejayaan Mataram lama. Namun perbedaanya candi ini merupakan candi Budha. Dari informasi teman beberapa bagian dari candi ini seperti bentuk pegangan di tangga naik mirip dengan yang ada di Dieng dan beberapa Candi.

Waktu tak terasa bergerak dengan cepat. Sejam berlalu tanpa terasa. Saya mendongak ke atas melihat perlahan awan hitam mulai menghilang. Harap-harap cemas dalam hati menginginkan cuaca cerah sehingga senja bisa kami dapatkan.

Setelah puas mengambil gambar dan mengambil foto-foto candi kami istirahat sejenak di sebuah mushola kecil di dalam kompleks candi. Kami menjalankan ibadah sholat Ashar sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya.

Istirahat sejenak dan memulihkan tenaga kami segera menuju Bukit Boko. Sebenarnya ada beberapa alternatif yang ditawarkan rekan saya. Ada 2 candi lain yang ada di sekitar sana. Namun yang memiliki akses cukup bagus adalah bukit Boko. Masih ada candi Ijo yang terletak di Selatan Bukit Boko. Candi ini merupakan Candi tertinggi di Jogja. Berada pada ketinggian kurang lebih 400 meter. Dari Candi ini bisa melihat areal persawahan dan bandara Adisucipto di sebelah Barat.



Bukit Boko bisa ditempuh dari jalan di Selatan kompleks candi Prambanan. Sekira 3 km ke arah Selatan. Ada rambu petunjuk yang mengantarkan menuju kesana. Kompleks istana boko sudah dikelola dengan sedemikian rupa. Ada tempat parkir kendaraan, restoran dan jalan akses menuju kompleks Istana.

Matahari makin condong ke Barat ketika kami tiba di kompleks Istana. Ada beberapa pengunjung lainnya. Mereka turis lokal maupun rombongan dari mancanegara.

Ternyata kompleks istana Boko cukup luas. Di Plaosan saya sudah begitu terkesima. Di sini saya terperangah, takjub , dan terus membayangkan bagaimana orang jaman dahulu membuat istana semegah ini. Konon istana sendiri berbahan bangunan kayu. Bangunan tersebut terdiri dari tiang-tiang yang menopang dan bertumpu diatas fondasi umpak dari batu. Umpak tersebut saat ini masih bisa dijumpai. Bagian lain yang masih bisa ditemukan adalah pemandian dan bangunan lain yang berada di areal seluas kurang lebih 25 hektar.

Keingintahuan saya pada lokasi ini membawa saya pada artikel di situs wikipedia : Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu). (http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Ratu_Boko).

Saya kembali mengamati bagian-bagian di kompleks istana ini. Ternyata masih ada kesamaan dengan yang ada di Plaosan.

Hari mulai jelang senja. Entah kenapa bulu kudu saya berdiri. Mungkin karena begitu terkesima atau di sekeliling saya berhamburan mahluk-mahluk dari dunia lain yang menjadi saksi kemegahan kompleks istana ini.

Dengan kesabaran menunggu senjapun datang. Cukup luar biasa dengan semburat jingganya meskipun masih belum sempurna namun itu adalah salah satu senja terindah yang pernah saya jumpai dalam kehidupan saya. Perpisahan hari itu membekas di benak saya. Bayangan kemegahan Mataram kuno masih membuat saya penasaran untuk mencari jawabannya.


Jogja, 31 Januari 2010



What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Saturday, March 26, 2016

Manfaat Media Sosial
Bagi sebagian orang media sosial tak lebih hanya  sebagai media hiburan, ngobrol dengan kenalan atau sekedar media memajang foto selfie. Namun, sebenarnya ada berbagai hal lebih bermanfaat yang bisa dilakukan menggunakan media sosia. Sebagai contoh menggunakan facebook kita bisa menambah uang jajan dengan jualan online, membaca info bermanfaat hingga membantu memecahkan berbagai kasus kejahatan. Satu kejadian yang masih sangat hangat adalah kasus pembunuhan di sebuah kos daerah Tebet, Jakarta Selatan.

Rabu (15/4/2015) dini hari, polisi berhasil menangkap RS, pembunuh Deudeuh Alfisahrin (26), di sebuah rumah kontrakan kawasan Jonggol, Bogor Jawa Barat. Keberhasilan penangkapan RS ini patut diberi acungan jempol. Hanya dalam hitungan hari tersangka bisa ditemukan dan ditangkap.
Ada yang menarik dari kasus pembunuhan Tebet ini. Polisi memanfaatkan media sosial untuk mengungkap siapa pembunuh “Mpie” ini. Janda cantik beranak satu yang berprofesi sebagai “PSK” ini memiliki akun twitter untuk menjajakan “jasanya”. Jejak pembicaraan di akun twitter korban jadi alat polisi mengendus pelaku pembunuhan Dedeuh Tata. Tersangka RS memiliki sebuah akun dan sempat berinteraksi dengan korban memesan “jasa” yang korban tawarkan.

Jika kasus Deudeuh Tata terungkap lewat bantuan Twitter, ada satu kasus lain yang lebih menarik dan cukup rumit. Tapi ini kejadiannya di California Amerika Serikat bulan Februari tahun 2014 silam. Siang itu, Petugas Ken Kammuller menghentikan kendaraan yang mencurigakan di blok El Camino Real 2600, Kota Redwood. Kammuller memeriksa kendaraan dan menemukan beberapa kantong perhiasan di bagasi kendaraan. Pemilik kendaraan membantah kepemilikan perhiasan tersebut dan tidak tahu dari mana asalnya. Kammuller menduga barang tersebut adalah benda curian karena itu ia mengamankannya untuk melakukan investigasi lanjutan.

Diantara perhiasan yang ditemukan dalam bagasi tersebut terdapat sebuah gelang unik ukiran nama dan tanggal kelahiran. Penyidik pun menduga kemungkinan itu adalah nama dan tanggal lahir anak pemilik. Kasus inipun diserahkan pada detektif Dave Stahler untuk memulai penyelidikan guna menentukan siapa pemilik perhiasan.

Awalnya Detektif Stahler menggunakan metode seperti biasa, karena tak kunjung membuahkan hasil ia mencoba media sosial Departemen Kepolisian Kota Redwood untuk mencari bantuan dari masyarakat mencari pemilik barang tersebut. Detektif Stahler mengirimkan permintaan informasi masyarakat di situs Nixle, Facebook, Twitter, serta Pinterest.

Pada bulan Februari 2014, Departemen Kepolisian Redwood meluncurkan akun Pinterest. Salah satu tujuannya mempertemukan barang curian dengan pemiliknya. Di akun ini dipajang berbagai barang mulai dari sepeda hingga perhiasan yang ditemukan oleh polisi selama tugasnya. Foto-foto tersebut di-upload ehingga masyarakat dapat dengan mudah mengakses untuk memeriksa barang mereka yang hilang.

Selang 8 jam setelah launching akun Pinterest dan permintaan informasi publik, Detektif Stahler menerima bantuan dari tiga orang. Mereka memberi informasi yang sanngat membantu mengidentifikasi pemilik gelang. Selanjutnya Detektif Stahler melakukan kontak dengan pemilik. Ternyata gelang itu sudah lama hilang dicuri pada tahun 1983 di kota San Jose.

 Fathoni Arief


Sumber image : Cambridge News

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi


Umbul Sidomukti Kabupaten Semarang

Jantung saya rasanya berdetak kian cepat, saat mulai memasuki wahana permainan Flying Fox Umbul Sidomukti. Dan semakin tak karuan saja, setelah satu demi satu pengunjung meluncur di atas lembah yang kedalamannya 10 kali tinggi rumah 2 lantai saya di Jogja.

Tak lama giliran saya hampir tiba. Petugas memasang pengaman di badan saya. Dengan cekatan ia mengikat tali khusus. Kata si petugas tali ini mampu menahan beban hingga 200 kg, namun dalam hati saya masih saja bertanya tanya sudah amankah ini? Perasaan takut pun mulai membayangi bagaimana jika saat meluncur di tengah-tengah tiba-tiba tali putus, gimana jika tali tidak kuat dan sebagainya.
Jelang Flying Fox

Nasi sudah menjadi bubur, sudah terlambat jika harus mundur dan akan sangat memalukan jika itu terjadi. Dengan ketetapan hati, kedua tangan saya dengan kencang meraih pegangan yang disediakan tapi tetap saja rasanya tangan ini lemas.. dan saya pun meluncur dari ketinggian 70 m mengikuti tali khusus dari baja yang terbentang 110 m menghubungkan dua buah bukit. Ketika pertama kali meluncur rasanya melayang mirip ketika mimpi jatuh dari ketinggian. Saya berusaha melawan takut dan ternyata ketakutan itupun sirna saat saya sudah berada di tengah dan hanya belasan detik saja saya sudah sampai di bukit seberang.


Ini adalah pengalaman pertama saya mencoba wahana Flying Fox, dan apesnya yang saya coba ini konon adalah yang tertinggi di Indonesia. Menurut informasi yang terpampang flying fox yang pertama saya coba memiliki ketingian 100 m dan bentang 110 sedangkan yang kedua bentang 140 m.



Bagaimana apakah Anda ingin menguji adrenalin? Untuk bisa merasakan sensasi ini cukup murah hanya 35 ribu saja. Silahkan saja berkunjung ke Umbul Sidomukti yang terletak di Ungaran Kabupaten Semarang. Di Umbul Sidomukti Anda tak hanya bisa mencoba sensasi Flying Fox. Kawasan wisata ini dilengkapi dengan fasiltas : Outbond Training, Adrenalin Games, Taman Renang Alam, Camping Ground, Pondok Wisata, Pondok Lesehan, serta Meeting Room.

Anda juga bisa menikmati kesegaran air umbul di kolam yang merupakan pemandian tertinggi di Indonesia. Di sana ada empat buah kolam bertingkat serta bisa dipilih sesuai kedalaman yang diinginkan dengan air yang sangat dingin, jernih dan menyegarkan.Tiket masuknya pun cukup terjangkau hanya 10 ribu rupiah saja per orang.

Menuju tempat wisata ini jika Anda dari arah Salatiga sebelum belokan ke arah Bandungan Anda bisa berbelok arah ke Barat. Pastikan kendaraan Anda sehat dan semua rem berfungsi mengingat medan yang cukup menanjak.


Thursday, March 24, 2016

Stasiun kereta api Ambarawa
Jika Anda tengah berkunjung ke kota Semarang, Magelang, atau Salatiga tak ada salahnya mampir ke Ambarawa. Tiap kali nama tempat ini disebut ingatan kita biasanya tertuju pada satu peristiwa "Palagan Ambarawa", kisah heroik pertempuran tentara Indonesia melawan sekutu seperti yang tercantum dalam buku-buku Sejarah. Namun, ada satu hal lagi yang begitu lekat dengan kecamatan di Selatan Semarang ini, museum Kereta Api sebagai saksi perkembangan dunia perkereta-apian di Indonesia.

"Museum Kereta Api Ambarawa adalah salah satu tempat yang sudah lama ingin saya kunjungi. Setelah sempat tertunda berkali-kali, akhirnya saya berkesempatan juga menjejakkan langkah di tempat ini".

Untuk menuju lokasi Museum kereta Api Ambarawa tak susah. Ada papan petunjuk arah yang bisa memandu Anda menuju lokasi dengan mudah. Saya sendiri juga baru pertama kali berkunjung ke tempat ini, hanya berbekal informasi papan penunjuk arah saya bisa tiba di lokasi dengan gampang.

Sekira jam 1 siang saya tiba di museum kereta api Ambarawa, bekas stasiun yang kini beralih fungsi menjadi sebuah museum. Ketika saya datang museum ini sebenarnya masih dalam proses rehab. Di jalan akses utama menuju stasiun terpampang tulisan
"Untuk sementara museum kereta ditutup untuk wisatawan", meskipun demikian untuk sekedar melihat-lihat tidak dilarang.

Lokomotif B5210
Loko dengan Nomor seri B5210 koleksi Museum Kereta Ambarawa

Museum Kereta Api Ambarawa menyimpan berbagai macam koleksi sejarah perkeretaapian Indonesia, diantaranya 21 lokomotif uap berbagai seri yang ada di halaman museum. Koleksi lokomotif tersebut sekilas nampak cukup terawat walapun ada saja tangan-tangan jahil yang mencorat-coret beberapa koleksi langka dengan cat. Salah satu koleksi museum ini adalah kereta api uap bernomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen, lokomotif ini  sampai sekarang masih bisa dioperasikan. Kereta api uap bergerigi ini adalah salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia.

B20

Koleksi lain yang menarik perhatian saya karena bentuknya unik adalah lkomotif dengan nomor seri B2014, buatan pabrik Beyer Peacock, mulai operasional tahun 1905. Lokomotif ini memiliki panjang 5790 mm dan berat 17,5 ton. Dengan daya 200 HP (horse power), lomotif ini mampu melaju hingga kecepatan 35 km/jam. Lokomotif ini menggunakan bahan bakar kayu jati. Lokomotif uap B20 memiliki susunan roda 0-4-0. Dari 19 buah lokomotif yang pernah dibuat yang tersisa adalah koleksi ini.



Eks Halte CicayurSelain lokomotif koleksi lain yang ada di museum ini adalah eks bangunan halte Cicayur.Halte Cicayur dibangun 1 Oktober 1899 oleh Perusahaan Kereta Api Negara Staatspoorwegen (SS), adalah bagian dari jalur Batavia (Jakarta) – Duri – Tanah Abang – Rangkasbetoeng (Rangkasbitung). Bangunan ini terbuat dari kayu, fungsinya sebagai halte persinggahan saja dan hanya mempunyai satu ruang tunggu serta satu ruang loket. Kereta api yang berhenti di halte ini adalah kereta api lokal dari Tanah Abang - Rangkasbitung untuk menaikkan penumpang.

Di museum kereta Api Ambarawa Anda tak hanya bisa sekedar meinkmati koleksi langka saja. Anda bisa juga mencoba kereta wisata Ambarawa-Bedono pp, Ambarawa-Tuntang pp dan lori wisata Ambarawa-Tuntang pp. Kereta wisata Ambarawa-Bedono pp beroperasi dari Museum ini menuju Stasiun Bedono yang jaraknya 35 KM dan ditempuh 1 jam untuk sampai stasiun itu. Untuk harga karcis kereta wisata adalah Rp50.000 per orang, sedangkan lori Rp15.000 per orang.

Berkunjung ke satu tempat yang menarik tak lengkap rasanya kalau Anda tidak mengabadikan momen-momen indah dan sesuatu yang menarik. Kamera apapun bisa digunakan yang penting ada. Kalau Anda butuh info kamera mungkin bisa kunjungi link ini.

 Menuju Museum Kereta

Dari Salatiga :

1. Ke arah utara

130 m
2. Belok kiri menuju Jalan Veteran

160 m
3. Belok kanan menuju Jalan Veteran

180 m
4. Belok sedikit ke kiri menuju Jalan Veteran

650 m
5. Terus ke Jalan Magelang Utara - Sidorejo

55 m
6. Terus ke Jalan Osamaliki

1,7 km
7. Terus ke Jalan Kyai Haji Wahid Khasim

350 m
8. Belok kiri menuju Jalan Boyolali - Semarang

2,3 km
9. Terus ke Jalan Fatmawati

6,4 km
10. Belok kiri menuju Jalan Jenderal Sudirman

5,0 km
11. Belok kiri menuju Jalan Jenderal Sudirman

1,3 km
12. Belok sedikit ke kiri menuju Jalan Pemuda

500 m
13. Ambil 3 kanan menuju Jalan Stasiun
Tujuan ada di sebelah kiri.

210 m

Museum Kereta Api Ambarawa
Jalan Stasiun
Ambarawa





Dari Semarang :
Semarang

1. Ke arah utara di Jalan Darat Tempel menuju Jalan Kakap

82 m
2. Belok kanan menuju Jalan Kakap

600 m
3. Belok kiri menuju Jalan Yos Sudarso

350 m
4. Belok kiri menuju Jalan RE Martadinata

750 m
5. Belok kiri menuju Jalan RE Martadinata

200 m
6. Lakukan putar U

20 m
7. Terus ke Jalan RE Martadinata

260 m
8. Terus ke Jalan Yos Sudarso
Jalan tol sebagian

4,5 km
9. Terus ke Jalan Tol Tanjungmas - Srondol
Jalan tol

8,8 km
10. Terus ke Jalan Tol Srondol - Jatingaleh
Jalan tol sebagian

3,1 km
11. Terus ke Jalan Tol Banyumanik - Ungaran

550 m
12. Terus ke Jalan Tol Srondol - Jatingaleh

1,2 km
13. Belok sedikit ke kiri menuju Jalan Perintis Kemerdekaan

5,4 km
14. Terus ke Jalan Jenderal Gatot Subroto

2,6 km
15. Terus ke Jalan Boyolali - Semarang

4,0 km
16. Terus ke Jalan Jenderal Sudirman

1,0 km
17. Terus ke Jalan Boyolali - Semarang

9,3 km
18. Terus ke Jalan Slamet Riyadi

100 m
19. Belok tajam ke kanan menuju Jalan Raya Palagan

2,1 km
20. Terus ke Jalan Jenderal Sudirman

2,2 km
21. Belok sedikit ke kiri menuju Jalan Pemuda

500 m
22. Ambil 3 kanan menuju Jalan Stasiun
Tujuan ada di sebelah kiri.


Lihat Peta Lebih Besar

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Bingung cari tempat menginap? Cari di bawah ini :
Booking.com

Monday, March 14, 2016

Akhirnya rasa penasaran saya akan film 3 doa 3 cinta usai sudah. Beberapa waktu yang lalu saya menonton film yang berlatar belakang kehidupan di pesantren. Film yang membangkitkan kembali nostalgia saya akan sepuluh tahun yang lalu saat saya sangat dekat dengan dunia pesantren.

Film yang dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Dian Sastro ini ditulis oleh seorang yang katanya berasal dari pesantren. Satu hal yang menarik bagi saya ternyata lokasi pesantren tempat shooting film tersebut katanya adalah rumah temen saya. Katanya sebuah pesantren di daerah Muntilan, Magelang.

Awalnya saya mengira film ini dengan judul yang "cinta-cintaan" dan cover bergambar Nicholas Saputra dan Dian Sastro kisahnya paling tak jauh dengan film-film sebelumnya. Cinta antara dua anak muda dan seterusnya. Ternyata dugaan saya salah.

Di film ini dikisahkan persahabatan tiga orang remaja, Huda, Rian dan Syahid. Mereka adalah tiga orang remaja yang tinggal di pesantren di kota kecil yang terletak di daerah Jawa Tengah.

Masing-masing dari mereka punya rencana hidup mereka setelah lulus dari pesantren dan SMA sebulan lagi. Di sebuah lokasi rahasia, sebuah dinding tua di belakang pesantren, di mana mereka menulis harapan-harapan mereka di dinding.


Huda (Nicholas Saputra), sejak kecil dititipkan ibunya di Pesantren dimana ia tinggal. Karena lama tak berjumpa dan rasa rindu membuatnya ingin mencari ibunya. Kabarnya sang ibu yberada di suatu tempat di Jakarta. Dalam usaha pencarian itulah Huda bertemu dengan Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo) seorang penyanyi dangdut pemula yang manggung di dekat lokasi pesantren dan terobsesi menjadi bintang terkenal di Jakarta. Akhirnya Huda terjebak asmara dengan Dona meski tujuan awalnya ingin mencari ibunya.


Rian (Yoga Pratama) seorang santri dari suatu kota besar. Ia pernah punya keinginan saat ia masih kecil dibelikan sebuah handycam. Setelah sekian lama akhirnya keinginannya terwujud.Dia mendapatkan kado sebuah handycam dari ibunya pada saat ulang tahunnya. Ia terobsesi melanjutkan usaha ayahnya mendirikan usaha video shooting.

Suatu saat datanglah rombongan pasar malam terutama layar tancap yang kebetulan sedang singgah di desa. Hal itu membuat Rian semakin obsesif terhadap kamera. Rian ingin melanjutkan usaha Ayahnya


Syahid (Yoga Bagus), berasal dari keluarga miskin. Ayahnya sakit keras. Syahid merencanakan sesuatu yang besar dalam hidupnya yang akan memberikan dampak bagi kedua temannya. Ada satu kalimat yang menggetarkan hati saya. Saat masing-masing mereka bercerita tentang cita-cita Syahid berkata " Saya sesuai dengan nama saya ingin mati sayhid"..kalau tidak salah begitu kata-katanya.

Dalam perjalananya ternyata situasi merubah hidup mereka. Mereka bertiga bersama sang kiai ditangkap dengan tuduhan terlibat terorisme setelah handycam yang berisi rekaman latihan dan kata-kata syahid ada di tangan polisi.

Yah..sebenarnya secara umum ceritanya segar ada hal-hal lucu, sedih yang ditampilkan, namun nampaknya saya merasa ada sesuatu yang ga tuntas. Mungkin saja durasi filmnya kurang panjang.Meski demikian saya tetap resepek dengan film berlatar pesantren ini.

Angan saya kembali terbawa di satu masa di pertengahan tahun 2000. Saya masih ingat pesan dari Kiai saya waktu itu.

" Ada apa Gus?"tanya beliau.

" Saya pamit Kiai. Saya akan ke Jogja menempuh studi di bangku kuliah," jawab saya.

" Yah dimanapun berada jangan lupa untuk belajar ilmu Agama," kata beliau.

Yah, kini sudah hampir sembilan tahun saya tinggalkan pesantren. Ada rasa rindu, rasanya ingin kembali ke masa-masa itu.

Pancoran, 29 Januari 2009













Hujan masih menyisakan rintik-rintik lembut ketika langkah kaki saya melewati jalanan di dekat Kebun raya Bogor. Saya berjalan dengan ekstra hati-hati karena sandal yang saya pakai ternyata cukup licin ketika menyentuh tegel trotoar. Maka ketika kondisi memungkinkan saya lebih memilih berjalan melewati pinggiran jalan diatas permukaan aspal.

Di sekitaran Kebun Raya kendaraan masih Nampak ramai. Minggu ini kota ini memang tengah memiliki acara besar. Ada pawai dalam rangka peringatan Cap Go Meh. Pawai yang membuat masa berbondong-bondong mendatangi sebuah Vihara yang terletak di jalan Surya Kencana. Masyarakat cukup antusias menikmati pawai ini. Meskipun sempat diguyur hujan yang cukup deras ternyata jumlah penonton tak banyak berkurang.


Sebenarnya acara pawai dimulai pukul 4 sore. Namun sempat tertunda ketika hujan deras turun. Penonton dan peserta sempat berlarian mencari tempat berteduh. Termasuk diantara mereka saya mencari tempat berlindung dari hujan. Namun ternyata hujan makin deras saja. Saya sempat basah kuyup. Untung saja ada seorang ibu yang nampaknya salah satu umat di Vihara tersebut. Ibu itu menawarkan payungnya karena dia sudah terlindungi dengan mantel hujan yang menutupi tubuhnya. Sesaat payung tersebut cukup bermanfaat. Namun hujan yang makin deras membuat saya memilih berlari berteduh di halaman Vihara. Di sana banyak juga peserta lain yang berteduh. Hujan makin deras saja dan perlahan air mulai menggenangi halaman Vihara.

Karena waktu terus berjalan meski hujan masih enggan berhenti panitia memutuskan acara tetap dimulai apapun yang terjadi. Pawaipun kembali dimulai diawali dengan pertunjukan silat ketika waktu mendekati pukul 5. Beragam bentuk atraksi dipertunjukkan mulai dari Barongsay dari berbagai perwakilan, Naga, dan masih banyak lagi.

Dengan badan yang mulai letih dan baju yang masih basah aku terus melangkah. Menikmati masa-masa jelang senja di kota yang sempat ditinggalkan penghuninya ketika kerajaan Padjajaran dihancurkan ini. Hingga perhatianku tertuju pada sesuatu yang sudah lama tak kulihat. Nampak pelangi menghiasi langit Bogor. Fenomena alam ini sudah lama tak kulihat. Mungkin lama sekali. Dulu sewaktu maih duduk di bangku SD saya sering melihat fenomena ini tiap kali main hujan. Sering sekali. Entah kenapa sekian lama tak bisa kulihat pelangi.

Akupun terus melangkah menuju stasiun Bogor. Sempat berhenti sebentar di pedagang kaki lima. Mengisi perut dengan mie Ayam sekedar mengisi perut yang belum sempat makan siang. Ternyata cukup murah juga selembaran uang warna merah itu masih ada kembalian selembar warna coklat.

Dari pedagang mie ayam aku kembali melangkah. Hanya beberapa puluh langkah kaki di samping kana kulihat seorang ibu pengemis dengan balita kecilnya. Mereka masih duduk di pinggir trotoar meskipun kondisinya basah dan hujan masih jatuh meskipun hanya rintik-rintik. Melihat mangkok plastik didepan mereka hanya berisi recehan secara spontan selembar uang kembalian mie ayam berpindah ke mangkok mie tersebut. Semoga saja mereka lekas berteduh dan mencari tempat istirahat yang lebih layak.

Di stasiun Bogor antrian penumpang terlihat memanjang di depan pintu loket. Namun loket untuk kelas ekonomi AC belum dibuka. Waktu itu hari sudah menjelang Maghrib. Sambil menunggu saya mampir ke gerai yang dikenal dengan donutnya. Saya memesan kopi panas dan donut coklat. Di dekat tempat saya duduk terlihat seorang ibu muda dengan anak kecilnya. Si anak berbaju hangat menunggu ibu cantiknya menyuapinya dengan donut dan minuman hangat. Kembali saya teringat ibu pengemis dan anak kecil di pinggir jalan tadi. Beruntungnya anak kecil di depan saya. Meskipun ketika saya lewat di depan pengemis tadi tak terlihat duka di wajah bocah kecil anak pengemis. Masih tersirat keceriaan di wajahnya.

Tak mau terlambat kereta saya bergegas menghabiskan kopi dan donut setelah melihat pintu tiket mulai dibuka. Kereta AC ekonomi yang paling dekat diberangkatkan adalah jurusan Tanah Abang. Karena waktu masih cukup lama saya masih cukup leluasa untuk menjalankan kewajiban Sholat Maghrib.

Dengan tubuh yang mulai letih dan pegal saya memilih tempat duduk di sebuah gerbong. Di samping saya seorang ibu dengan anak laki-laki kecilnya. Nampak perbincangan diantara mereka namun kurang jelas apa yang dibicarakan. Kecuali ketika si ibu dan dan anaknya melafalkan bacaan sholat. Ketika si anak berhasil membaca dengan lancar si ibu memuji putra kecilnya.

Kereta terus melaju hingga akhirnya saya turun di stasiun Pasar Minggu baru. Ada beragam orang, beragam sosok yang saya amati hari ini. Mereka memiliki kisah yang berbeda. Mereka berwarna-warni. Paduan kisah merekalah yang membuat indah kehidupan. Seperti pelangi yang nampak di langit Bogor sore ini.

Bogor 28 Februari 2010

Fathoni Arief

What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Keajaiban sedekah
Keajaiban, banyak orang yang berharap akan hal itu. Entah keajaiban untuk lepas dari berbagai permasalahan ekonomi, pekerjaan, rumah tangga, pendidikan, kesehatan dan masih banyak lagi.

Dalam sebuah seminar yang bertemakan “ The Miracle” Ustadz Yusuf Mansyur banyak mengisahkan tentang perjalanan sedekah dan tahajjud seorang anak manusia yang berhasil menjadi kaya raya dan penuh berkah. Ada juga kisah seorang pengangguran yang kemudian merintis karir dari jenjang jenjang terbawah lalu atas kuasa Allah mendapat kekayaan yang luar biasa. Semua kisah itu berujung pada satu kunci sebuah keajaiban. “ Kita semua butuh keajaiban Allah. Dan hidup ini sendiri sejatinya sudah merupakan keajaiban dari Allah,” kata Yusuf Mansyur.

Seminar tersebut dirilis mulai Januari 2008. Ternyata ada sambutan positif dari peserta. Karena keterbatasan bagi mereka yang tak bisa mengikuti seminar tersebut Yusuf Mansyur pun menulis buku dengan judul hampir sama dengan tema seminarnya, “The Miracle Of Giving”. Maka tak salah jika menilai buku ini seperti pegangan dalam inspiring seminar tersebut.

Selain itu Ada beberapa hal yang membuat Yusuf Mansyur menulis buku ini. Ia ingin meyakinkan banyak orang agar percaya bahwa ada kekuatan lain di kehidupan kita, yakni kekuatan Allah. “Yang dengannya keajaiban yang kita butuhkan tersedia,” katanya.

Buku “The Miracle Of Giving” ini mengupas segudang filosofi dan segudang teori di balik rahasia sedekah. Ada banyak pembahasan-pembahasan yang sangat ilmiah, metodologis tentang sedekah dengan bahasa khas Yusuf Mansyur.

Melalui cara bersedekah buku ini mencoba memberi jalan mendapatkan banyak hal mulai dari menjadi kaya, memiliki pekerjaan dengan gaji dan karir yang mengagumkan, melesatkan hasil usaha, hingga urusan seperti anak keturunan, jodoh sampai kematian yang khusnul Khotimah.

Menurut Yusuf Mansyur dengan menulis buku ini, ia berkeinginan bisa membuka matanya dan semua orang bahwa kekayaan yang dirindukan, kejayaan yang diinginkan, kesejahteraan yang diidamkan adanya dalam genggaman Allah. “ Dekati Allah, maka semua yang kita butuhkan, kita perlukan, ada pada kekuasaan dan kebesaranNya,” katanya.

Ada banyak kehebatan sedekah yang coba diungkapkan oleh Yusuf Mansyur dalam bukunya. Menurutnya ada banyak hal selain bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa dan menutup kesalahan sedekah juga bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah.

MATEMATIKA DASAR SEDEKAH

Dalam buku “The Miracle Of Giving ini” Yusuf Mansyur mengulas cara berhitung yang unik. Ia menyebutnya sebagai Matematika sedekah. Matematika sedekah justru saat memberi dari apa yang kita miliki Allah justru akan mengembalikan banyak lagi. “ Matematika sedekah diatas adalah perhitungan sederhana yang diambil dari QS. Al Anam ayat 160 ketika Allah memberikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang mau berbuat baik,” katanya.

Prinsip hitungan sedekah menurut Yusuf Mansyur adalah sebagai berikut. Ketika kita punya 10 lalu disedekahkan 1 diantara yang 10 itu maka hasilnya bukanlah 9 namun 19.” Sebab yang satu satu kita keluarkan dikembalikan Allah sepuluh kali lipat,” katanya.

Yusuf Mansyur menambahkan hasil akhir dari perhitungan tersebut tentu bisa lebih banyak lagi. Hal itu menurutnya tergantung kehendak Allah. “ Sebab Allah menjanjikan balasan berkali-kali lipat lebih dari sepuluh kali lipat,” katanya.

Dari hitung-hitungan sedekah diatas menurut Yusuf Mansyur balasannya tak mesti berupa materi. Balasan yang didapat bisa juga hal yang senilai dengan uang atau sesuatu yang disedekahkan misalnya: Hilangnya penyakit, tolak bala, anak yang sehat, status sosial yang lebih baik, karir yang lebih baik dan masih banyak lagi.

KISAH BUNTUT SINGKONG

Dalam buku ini juga disuguhkan berbagai kisah yang menjadi pembelajaran tentang ilmu, keyakinan, amal shaleh, istiqomah dan keberkahan. Menurut Yusuf Mansyur ternyata dalam kisah-kisah tersebut ada sebuah metode yang kalau diikuti dia akan berulang kejadianya.” Bahkan akan lebih hebat lagi hasilnya bila bobot amaliahnyaditambah kualitas dan kuantitasnya,” katanya.

Ada satu kisah menarik yang diceritakan dalam buku. Satu peristiwa tak terduga yang akhirnya memberi satu keajaiban bagi seorang tukang gorengan. Kejadian ini berawal tahun 1980. Seorang tukang gorengan berdagang singkong goring. Suatu ketika di saat Ashar ada seorang anak kecil yang dating ke tempat ia berdagang. Di dekat gerobaknya anak kecil itu hanya berdiri dan tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggigit telunjuk kanannya sambil menatap lekat-lekat si penjual gorengan.

Dari pandangan si anak nampak ia sebenarnya ingin makan gorengan namun tak memiliki uang. Penjual singkong melihat si anak kecil tersebut. Tapi ia tak bereaksi, tak berkata-kata apapun apalagi memberi.

Kejadian ini berulang di keesokan harinya. Lagi-lagi dengan gaya yang sama. Kaki kiri diangkat, berdiri satu kaki dam telunjuk kanan digigitnya. Si tukang singkongpun masih sama tak bereaksi apalagi memberi.

Di hari ketiga si anak kembali datang dan reaksi penjual masih tetap sama. Akhirnya di hari keempat ada perubahan. Tukang singkong terketuk hatinya. “ Kayaknya nanti tuh si anak bakal datang lagi dah,” begitu fikirnya. Lalu ia menyiapkan buntut singkong. Bagian singkong yang biasanya ia buang itupun ai goring. Tak lama si anak kecil itu benar-benar datang.

Si tukang gorengan memanggil anak kecil itu dan memberinya buntut singkong. Si anak nampak riang. Dengan senyum lebar dan mata yang berbinar-binar ia menerima buntut singkong itu kemudian lari dengan riang. Peristiwa ini berulang hingga tiga hari berikutnya. Dan selama itu juga si tukang gorengan memberinya buntut singkong. Setelah itu si anak tidak lagi terlihat.

Dua puluh empat tahun setelah kejadian tersebut ada kejadian yang tak disangka dan diduga oleh tukang gorengan. Kira-kira pada saat Ashar ada seorang anak muda berumur sekitar 30 tahunan mendatangi gerobak si bapak tersebut. Rupanya ia masih jadi tukang gorengan di tempat yang sama.

“Pak, ada buntut singkong?” Tanya si anak muda.

“Engga ada,” jawab si tukang singkong.

“Gorengin dah pak!”,

“Kenapa sih nyari yang engga ada? Nyari buntut singkong lagi.

Anak muda itupun menjelaskan kepada tukang gorengan siapakah dirinya. Ia menceritakan kejadian duapuluh empat tahun yang lalu. Ia menceritakan meskipun hanya mendapat buntut singkong namun itupun sudah membuatnya bahagia. Si tukang singkong terheran-heran dan iapun menjelaskannya.

Pemuda tadi mengisahkan saat pertama kali dating itu adalah beberapa hari setelah meninggalnya Ayahnya. Sehingga keluarganya mungkin masih sibuk dengan urusan si Ayah hingga ia agak dilupakan. Waktu itu beberapa orang kawannya tak mau main dengannya hanya karena tak punya uang jajan.

Karena tak punya uang jajan iapun mendatangi beberapa buah warung dan diusir. Suatu saat iapun dating ke tempat penjual gorengan ia tak diusir namun juga tak diberi dagangannya hingga hari ketiga saat ia diberi buntut singkong goreng.

Anak muda itupun bercerita, bahwa buntut singkong itu membuatnya diterima kembali bermain dengan teman-temannya. Buntut singkong itu kan terbalik buntutnya ia bikin ke atas lalu dengan tangan kanan dan kirinya ia tutupi seakan-akan ia punya jajan satu singkong utuh. Itu sudah membuatnya bahagia karena mau menunjukkan ke kawan-kawanya bahwa dia punya jajan demi dia kembali ditemani lagi. Di hari selanjutnya saat dia tak dating lagi dikarenakan ibunya pindah. Sebagai balasan atas kebaikan hati si tukang gorengan anak muda itu mengajak bapak tua itu menjalankan ibadah umroh bersamanya.

Buku ini secara umum memberikan satu semangat untuk lebih giat bersedekah. Bahkan terkadang hal-hal kecil yang seringkali dianggap remeh ternyata mendapat balasan yang luar biasa seperti pada kisah tukang gorengan diatas. “ Selalu ada saja jalan tambahan rezeki yang membuat seorang manusia yang rajin beribadah, mau menambah jalan ibadah dan yang berkenan mengistiqomahkannya,” kata Yusuf Mansyur.

Fathoni Arief





Sunday, March 13, 2016

Suasana Dalam Masjid

Bapak tersebut bergabung dengan kami. Pembicaraan awalnya hanya dimulai dengan sekedar basa-basi tentang keberadaan kami. Namun makin lama topiknya ternyata makin menarik. Dibalik sosok lelaki berpeci, dengan kacamata tebal, baju gamis lusuh dan sarung tersimpan beragam kisah yang membuat kami manggut-manggut mengikuti ceritanya.

Lelaki itu kira-kira usianya jelang enampuluh tahun. Intonasi suaranya tegas. Dari cerita dan hal-hal yang disampaikan menunjukkan bahwa dia bukan orang sembarangan. Dia mengerti tentang batu-bara mulai dari proses perijinan, kelengkapan menambang, kualitas, cara menambang dan jenis-jenisnya. Pembicaraan tentang batu bara ini dipicu dari banyaknya tumpukan batubara yang kami lihat di sepanjang jalan menuju bayah. Di daerah Bayah menurut bapak ini memang penghasil batu-bara. Namun batu baranya belum terlalu tua selain itu kandungan sulfurnya juga tinggi sehingga kualitasnya masih jauh jika dibandingkan dengan batu-bara misalkan dari Kalimantan.

Kalimantan, di pulau terbesar di Indonesia ini lelaki itu pernah mengadu nasib. Ia mencoba peruntungan berbisnis batu-bara. Namun apalah daya. Karena persaingan tak sehat bisnisnya hancur. Benar-benar hancur menurutnya hingga ia tak punya apa-apa lagi dan memutuskan hidup dari masjid ke masjid.

“Saya hancur karena perempuan. Maka kalian-kalian yang masih muda ini jangan pernah main perempuan,” kata sang Bapak kepada kami.

Sempat saya bertanya tentang keluarganya. Lelaki itu terdiam sesaat hingga kemudian berkisah tentang masa lalunya. Dulu ia bukanlah orang yang miskin bahkan termasuk berkecukupan. Punya beberapa rumah dan mobil. Ia sempat tinggal di Jakarta bekerja di sebuah instansi. Karena suatu hal yang dipicu kebiasaan buruknya main perempuan semuanya perlahan hancur, termasuk keluarganya. Bahkan puncaknya ia memutuskan keluar dari kerjanya dan pergi ke Kalimantan mencoba bisnis batu-bara. Namun semuanya tak selalu seperti yang diharapkan.

Di Kalimantan ia gagal hingga ia menemukan cahaya memutuskan mengikuti jalan Allah. Ia hidup dari masjid ke masjid lepas kontak dari keluarga, termasuk kedua anaknya sejak beberapa tahun lalu. Ia menikmati sisa kehidupannya di jalan yang dulu sangat jauh darinya, jalan Agama.

“Rencananya kalian nanti menginap dimana?”

Awalnya kami berencana tinggal di penginapan. Alasannya kemarin kami sudah menginap di sebuah masjid di daerah Pelabuhan Ratu. Kami istirahat kurang nyenyak sehingga cukup berpengaruh pada stamina kami.

“Nanti menginap disini saja. Kalian bisa istirahat santai,bersih-bersih dan beribadah!”

Tawaran bapak tersebut rupanya cukup menggoda kami. Meskipun terletak di kecamatan yang jauh dari kota Masjid itu sangat bersih, kamar mandinya tidak terlalu bagus namun tidak berbau, tidak licin dan airnya bagus. Apalagi bapak tersebut sempat bercerita banyak yang sering singgah untuk menginap di masjid ini.

Lelaki itu kembali bercerita tentang aktivitas kesehariannya. Setiap hari ia tinggal di masjid ini. Sudah hampir dua tahun ia tinggal. Ia sebenarnya bukan merbot di sini. Ia cuma sekedar numpang tinggal dan minta ijin ikut membersihkan masjid sambil menghabiskan harinya dengan beribadah.

Kami memutuskan mempertimbangkan tawaran dari lelaki tersebut. Jika memungkinkan selepas berkeliling mencari hal-hal menarik di sekitar Bayah untuk diabadikan lewat kamera digital kami akan balik ke masjid ini. Selain masih banyak hal yang ingin kami ketahui. Masih banyak pelajaran tentang hidup yang belum saya dapatkan.



*****

Akhirnya kami memang benar-benar bermalam di masjid itu. Selepas lelah berburu foto kira-kira jam setengah Sembilan malam kami tiba di masjid itu. Ternyata lelaki tua itu sudah menunggu. Menyambut dan mempersilahkan kami bermalam di masjid.

Lelaki itu duduk di belakang Masjid sambil mendengarkan radio transistor. Inilah hiburan satu-satunya ketika dia merasa rindu akan keluarga. Siaran radio membuatnya tidak merasa sendiri. Salah satu radio yang rutin ia dengarkan adalah radio netherland dan Suara Amerika yang biasanya disiarkan pada pagi hari. Dari sini menurutnya ia bisa mendapatkan perkembangan dunia yang paling mutakhir.

Meskipun bukan hotel yang mewah rasanya menginap semalam cukup nyaman. Kami semua tertidur pulas sebelum terbangun oleh adzan Subuh.

Pagi hari itu pula kami berpamitan dengan lelaki itu. Sesaat sebelum pamit saya bertanya siapakah namanya. Hmm dia menyebut nama aslinya, namun ia lebih suka dipanggil Mang Uban. Sayapun juga tidak akan menyebut nama asli dan jatidiri Mang Uban demi ketenangan hidupnya.

Pernah ada penduduk yang bertanya sampai kapan ia akan tetap tinggal di masjid? Ia menjawabnya sampai tugasnya selesai jawabnya. “Anggap saja ini semua sebagai kegiatan yang saya lakukan sebagai penebus dosa di masa lalu. Penjara sebelum saya dinyatakan bersih dan berhak masuk sorga” katanya.

Ia juga tidak berniat kembali ke anak-anaknya. Menurutnya sudah terlalu banyak kesalahan yang ia perbuat. “ Saya sudah terlalu banyak wanprestasi terhadap anak-anak saya”. Selama ini anak-anak dan keluarganya tidak ada yang tahu jika ia berada di Bayah.

“Jika berjodoh semoga suatu saat bisa bertemu lagi. Pesan saya bagi kalian-kalian yang masih muda jangan pernah main perempuan”

Senyum Mang Uban melepas kepergian kami. Dari senyumnya saya membayangkan sejuta kerinduan akan anak-anaknya yang menurutnya usianya tak jauh beda dengan kami. Keinginannya hanyalah mendekatkan diri dan menebus segala kesalahan di masa lalu.

Bayah, 26 Desember 2009


Fathoni Arief

Friday, March 11, 2016

Model 3D Guci Sketchup
Sketchup memiliki banyak tool yang bisa Anda gunakan untuk membuat berbagai model, diantaranya follow me. Dalam tutorial kali ini, Anda akan belajar bagaimana menggunakan tool follow me untuk membuat guci. Setelah menyelesaikan tutorial ini, harapannya Anda bisa membuat benda-benda lain juga.

Secara garis besar, untuk membuat model guci, Anda harus membuat garis besar profil dari guci. Selanjutnya Extrude profil di sekeliling jalur lingkaran untuk membuat guci. Tentunya rumit jika menggunakan cara manual, karena itulah sketchup menyediakan tool Follow me.



Selain follow me, dengan mengikuti langkah demi langkah dalam tutorial ini akan memberikan Anda pemahaman yang lebih baik tentang Line Tool (L), Arc Tool (A), dan Offset tool (F).

Langkah 1 - Gambarlah Persegi


Jalankan program Sketchup Anda. Pilih Wood Working Templates milimeters. Selanjutnya ketik (L) untuk mengaktifkan line tool dan gambar sebuah persegi seperti contoh di bawah ini.


Langkah 2 – Gambarlah Garis Profil Guci


Menggunakan Line Tool (L) dan Arc Tool (A) gambarlah profil guci seperti contoh di bawah ini.


Langkah 3 – Gunakan Offset


Gunakan Offset untuk membuat ketebalan pada profil guci.

Langkah 4 – Hapus Garis menggunakan Eraser Tool


Rapikan garis profil dan hapus yang tidak digunakan menggunakan eraser Tool.


Langkah 5 – Buatlah Lingkaran


Gambarlah lingkaran dengan ukuran diameter sepanjang garis profil guci bagian bawah. Perlu Anda catat yang kita butuhkan hanya garis kelilingnya saja jadi silahkan hapus bidang lingkaran tersebut.

Langkah 6 – Gunakan Follow Me Tool





Menggunakan tool follow me seleksi profil guci lalu seret mengikuti bentuk lingkaran di bawah.


Unduh : Versi PDF

Dapatkan Tips Seputar Sketchup dari A sampai Z di Belajar Sketchup.



Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.