Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Thursday, January 31, 2008


Rembulan di atas stasiun tua di sudut kota kutanya kapan saat lampu-lampunya padam dan berganti mungkin cuma siluet.....*)

Lelaki dekil berkulit gelap dan rambut ikal dengan ransel compang-camping terduduk dalam diam...diatas selembar karton bekas dan sebungkus nasi...Duduk bersila dan dengan lahap menyantap nasi bungkus itu..Lalu lalang orang yang lewat di depannya tak sedikitpun mengusiknya bahkan dalam posisi makan itu kepalanya masih sempat mengangguk angguk ketika terdengar lantunan musisi jalanan...

Tak ada yang tahu persis siapa sebenarnya lelaki itu meskipun banyak diantara orang di stasiun yang hafal kapan dia datang dan kapan dia pergi..Yang jelas tak ada yang merasa terusik dengan kehadirannya..

Sosok yang akhirnya dipanggil "Budheg"..meskipun sebenarnya ia tidaklah tuli namun keengganannya tiap kali ditanya orang-orang disana membuat nama itu melekat dan menjadi penggilan sehari-harinya.
****

Rembulan di atas stasiun tua di sudut kota kutanya kapan saat lampu-lampunya padam dan berganti mungkin cuma siluet.....*)

Seorang wanita cantik nampak mondar-mandir melihat kesana kemari. Wajahnya risau menanti sesuatu atau mungkin seseorang..entah berapa kali ia mondar-mandir dari sisi satu ke sisi lain.

Dengan nafas yang masih terengah-engah ia terhenti dan akhirnya terduduk di dekat lelaki dekil dengan ransel compang-camping itu.

Melihat wanita cantik duduk di sebelahnya lelaki itu tersenyum dan menyapanya..
"Sedang menunggu seseorang mbak?"
"Ah tidak, aku tidak menunggu seseorang tapi aku berharap untuk melihat seseorang," jawab wanita itu.

Sesaat mereka terdiam. Seakan tak mau menggangu Lelaki dekil itu menoleh ke sisi lain kemudian bersiul siul dan bernyanyi sendiri...

Rembulan di atas stasiun tua di sudut kota kutanya kapan saat lampu-lampunya padam dan berganti mungkin cuma siluet.....peluit kereta datang mungkin mengangkut kenangan*)

"Maaf kenalkan namaku Senja, aku mahasiswi" wanita itu mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan lelaki dekil..Lelaki itu terbangun dari keasyikannya menyanyikan lagu. Ia menjabat tangan dan hanya membalas dengan satu senyuman.

"Namamu siapa," tanya wanita yang mengaku bernama senja.
"Senja..hahahaha," lelaki itu hanya tertawa.

Merasa tak dihiraukan Senja hanya menarik nafas dan menggelengkan kepala..melihat lelaki didepannya yang hanya tertawa terpingkal-pingkal.

"Ada yang lucu dengan namaku?"
Ah tidak. Aku hanya heran saja..

"Oya tadi kau tanya siapa Namaku..Ah tak penting untuk menyebut siapa namaku..Lebih baik orang tak tahu siapa namaku..Tapi kalau masih memaksa panggil saja aku "Budheg" seperti orang sekitar stasiun ini memanggilku..,"

"Nama yang aneh. Heran saja ada orang senang diberi nama seperti itu,"
"Mau pergi kemanakah?", tanya Senja

" Tak tahu hendak kemana. Stasiun tempat semua berawal dan tempat semua berakhir...Stasiun kereta, gerbong ekonomi, jalanan...Satu paket cerita yang terbungkus rapi dalam kotak yang terkunci dan disembunyikan di tempat yang tak seorangpun tahu selain aku dan mata yang selalu mengawasiku...," Jawab Budheg.

"Hehehe..Senja..apakah namamu benar2 seperti senja? Keindahan yang begitu misterius.." Budheg menggumam sambil tersenyum memandang Senja.

"Aneh kau tak tahu mau kemana..apakah kau tak punya rumah? Apakah kau tak punya kerja?",
"Ya pasti kau tanya itu aku sudah menebaknya. Hahaha..tak tahulah apa aku punya rumah. Yah penampilanku memang lebih nampak sebagai seorang pengangguran,”
Rembulan di atas stasiun tua di sudut kota kutanya kapan saat lampu-lampunya padam dan berganti mungkin cuma siluet.....peluit kereta datang mungkin mengangkut kenangan*)

Lelaki itu kembali bernyanyi dan wanita itu hanya menggeleng-geleng keheranan...
“Apakah kau sedang menunggu seseorang?”, tanya lelaki
“Apakah perlu kuulangi sekali lagi,” jawab Senja
“Kau punya hak tuk tak jawab itu,” dan lelaki itu kembali bernyanyi
Bulan teranglah lebih terang malam ini..agar aku semakin terang menerawang kenanganku diantara manusia.. *)
“Hei berhenti bernyanyi sendiri..!” sela Senja.
“Aku seorang pengarang...ini caraku mencari ide. Ini caraku berekspresi,” kata Lelaki
“Oo seorang pengarang. Kumpulan orang-orang kesepian yang hanya berteman coretan-coretan berisi kata-kata kosong,”
“Itu hakmu..dan aku menikmati semuanya,”
“Dasar memang seperti itulah pengarang. Semua sama pengangguran berkedok,”
“Hahaha..memang seperti inilah nasib kami tapi kami menikmatinya. Memang tak semua oranng mengerti bahasa seorang sastrawan. Tak semua orang suka dengan kiasan. Mungkin kau tipe orang yang suka dengan blak-blakan,”
“Ah benar katamu..aku suka dengan kata-kata pasti..kata-kata sederhana. Semua kalau bisa disampaikan dengan sederhana. Penghianatan perlu dimataku tak perlu dengan tipu daya tapi dengan keterus terangan saja,”
“Hahaha..benar tebakku..kau wanita terluka. Ah tapi aku tak mau turut campur dengan wanita terluka. Dalam keadaan yang terluka masih tetap biasa mencacahku jadi potongan-potongan kecil. Mencincang-cincangku”
“Ah tidak mungkin wanita bisa seperti itu. Seringkali mahluk lemah seperti aku selalu saja menjadi korban,”
“Seperti itu ya...”
Dalam hati sang lelaki hanya tertawa......kini ia kembali bernyanyi namun hanya dalam hati saja...
Bulan teranglah lebih terang malam ini..agar aku semakin terang menerawang kenanganku diantara manusia.. *)Dulu kata-katanya juga seperti itu. Hingga akhirnya kau berkata atas nama tidak tahu dan tak merasa..ah...
Rembulan di atas stasiun tua di sudut kota kutanya kapan saat lampu-lampunya padam dan berganti mungkin cuma siluet.....peluit kereta datang mungkin mengangkut kenangan*)

“Kau hanya terdiam..apakah kau tidak percaya dengan kata-kataku? Lelaki memang sulit untuk mengerti”
“Memang benar aku memang sulit untuk mengerti dan seringkali salah menafsirkan arti sebuah isyarat”, kata lelaki dalam hati.
“Seperti itukah..aku baru tahu,” kata lelaki
“Ah lelaki memang seperti itu. Lelaki selalu menuntut lebih dari apa yang bisa diberi seorang wanita.,”
“Kau bawa jam? Jam berapa sekarang?” Tanya Lelaki
“Sebentar lagi senja,” Jawab senja
“ooo benarkah...aku menunggu kereta jam setengah tujuh,” Kata lelaki itu
“hendak kemanakah kau,” tanya Senja
“Sudah kubilang aku belum tahu, Aku hanya mencari tempat dimana tak kulihat senja. Aku hanya ingin menikmati malam,” jawab lelaki
“Tapi bukan senja aku kan...! hahaha..dasar orang aneh,” kata Senja.
“Hahahaha....,” Lelaki hanya tertawa lepas dan kembali menyanyi
Bulan teranglah lebih terang malam ini..agar aku semakin terang menerawang kenanganku diantara manusia.. *)

“Kau memang seratus persen aneh. Kutahu sejuta tanda tanya tersimpan dalam ransel bututmu itu. Kau hanya hahaha hehehe dan menyanyi sendiri dari tadi,”
“Yah beginilah..lebih baik tertawa..menertawai diri sendiri daripada jadi bahan tertawaan atau bahkan bahan mainan orang,”
“Kadang meski nampak gila, kau ada benarnya juga,”
Hahahaha..mereka berdua tertawa lepas tak lagi hiraukan orang-orang yang berlalu-lalang di depan mereka..Dan waktuun terus bergerak..Dari sore kini telah berubah menjadi senja sementara kereta yang mereka tunggu belum datang juga..
“Hai orang aneh sebenarnya yang kukatakan sedari tadi benar. Aku tak sedang mencari seseorang. Aku sedang menunggu seseorang,” kata Wanita bernama Senja
“Ah pusing aku mencerna kata-katamu. Bukankah menunggu tak beda jauh dengan mencari,”
“Ya terserah kau menangkapnya. Aku memang sedang menunggu. Menunggu seseorang yang katanya bungkuskan sebuah rembulan,”
“Apa lagi itu? Ah makin pusing saja aku mencernanya. Kau tak jauh beda denganku”


Tuesday, January 29, 2008

So long as we love, we serve. So long as we are loved by others we are indispensable; and no man is useless while he has a friend.

Robert Louis Stevenson

Monday, January 28, 2008

Innalillahi Wa'Inna Ilaihi Raji'un..

Akhirnya Waktumu Telah Habis Jenderal...

Istirahatlah Dengan Tenang Disana..
Di tengah semua kontroversi dan kesalahan yang ditujukan pada anda saya tetap bangga dengan anda...kasus hukum biarlah mereka yang proses...



Istirahatlah dengan tenang disana...masih teringat zaman dulu ketika ekonomi masih berada pada era jelang tinggal landas...waktu masih kuinjak bangku SMP dengan bangga kubaca buku biografi tentangmu...Ya hidup di tengah negara yang serba murah..(Murah saja tak cukup..ekonomi saja tak cukup..urusan perut saja taki cukup..kata Mereka)..namun lebih banyak orang lagi yang rindukan saat-saat itu...Terima kasih atas kejayaan di SEA GAMES, ASEAN....dan masih banyak jasamu yang selama ini tak terlihat oleh mataku karena dosa-dosa yang katanya kaulakukan...maaf jenderal aku kembali teringat jasamu...

SELAMAT JALAN PAK HARTO..Saya memaafkan anda..saya turut berdoa semoga amalmu diterima disisinya...

berikut foto-foto Suharto Di masa lalu dari Majalah Times





SELAMAT JALAN PAK HARTO......

Saturday, January 26, 2008

Diskusi Bareng Pembuat Film Dan Aktivis


Hillary Chiew Menjawab Pertanyaan Peserta



Ridzkyi Rinanto Sigit


Happy Salma In Action





Siti Maemunah Dan Happy Salma



Hillary Chiew



Kaki Ke Kaki



Lisa Boy(female radio) Sang Moderator

Friday, January 25, 2008

Sekilas Tentang PSSI

PSSI (Persatuan Sepakbola seluruh Indonesia ) yang dibentuk 19 April 1930 di Yogyakarta. Sebagai organisasi olahraga yang dilahirkan di Zaman penjajahan Belanda, Kelahiran PSSI betapapun terkait dengan kegiatan politik menentang penjajahan. Jika meneliti dan menganalisa saat- saat sebelum, selama dan sesudah kelahirannya, sampai 5 tahun pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, jelas sekali bahwa PSSI lahir, karena dibidani politisi bangsa yang baik secara langsung maupun tidak, menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih – benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia.

Awal Mula Berdirinya PSSI

PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo. Beliau menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928. Ketika kembali ke tanah air Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda “Sizten en Lausada” yang berpusat di Yogyakarta. Disana ia merupakan satu – satunya orang Indonesia yang duduk dalam jajaran petinggi perusahaan konstruksi yang besar itu. Akan tetapi, didorong oleh jiwa nasionalis yang tinggi Soeratin mundur dari perusahaan tersebut.

Setelah berhenti dari “Sizten en Lausada” ia lebih banyak aktif di bidang pergerakan, dan sebagai seorang pemuda yang gemar bermain sepakbola, Soeratin menyadari sepenuhnya untuk mengimplementasikan apa yang sudah diputuskan dalam pertemuan para pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda) Soeratin melihat sepakbola sebagai wahana terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda, sebagai tindakan menentang Belanda.

Untuk melaksanakan cita – citanya itu, Soeratin mengadakan pertemuan demi pertemuan dengan tokoh – tokoh sepakbola di Solo, Yogyakarta dan Bandung . Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi menghindari sergapan Polisi Belanda (PID). Kemudian ketika diadakannya pertemuan di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta dengan Soeri – ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta) bersama dengan pengurus lainnya, dimatangkanlah gagasan perlunya dibentuk sebuah organisasi persepakbolaan kebangsaan, yang selanjutnya di lakukan juga pematangan gagasan tersebut di kota Bandung, Yogya dan Solo yang dilakukan dengan tokoh pergerakan nasional seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A Hamid, Soekarno (bukan Bung Karno), dan lain – lain. Sementara dengan kota lainnya dilakukan kontak pribadi atau kurir seperti dengan Soediro di Magelang (Ketua Asosiasi Muda).

Kemudian pada tanggal 19 April 1930, berkumpullah wakil – wakil dari VIJ (Sjamsoedin – mahasiswa RHS); wakil Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB) Gatot; Persatuan Sepakbola Mataram (PSM) Yogyakarta, Daslam Hadiwasito, A.Hamid, M. Amir Notopratomo; Vortenlandsche Voetbal Bond (VVB) Solo Soekarno; Madioensche Voetbal Bond (MVB), Kartodarmoedjo; Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM) E.A Mangindaan (saat itu masih menjadi siswa HKS/Sekolah Guru, juga Kapten Kes.IVBM) Soerabajashe Indonesische Voetbal Bond (SIVB) diwakili Pamoedji. Dari pertemuan tersebut maka, lahirlah PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia) nama PSSI ini diubah dalam kongres PSSI di Solo 1950 menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia yang juga menetapkan Ir. Soeratin sebagai Ketua Umum PSSI.

Begitu PSSI terbentuk, Soeratin dkk segera menyusun program yang pada dasarnya “menentang” berbagai kebijakan yang diambil pemerintah Belanda melalui NIVB. PSSI melahirkan “stridij program” yakni program perjuangan seperti yang dilakukan oleh partai dan organisasi massa yang telah ada. Kepada setiap bonden/perserikatan diwajibkan melakukan kompetisi internal untuk strata I dan II, selanjutnya di tingkatkan ke kejuaraan antar perserikatan yang disebut “Steden Tournooi” dimulai pada tahun 1931 di Surakarta .

Kegiatan sepakbola kebangsaan yang digerakkan PSSI , kemudian menggugah Susuhunan Paku Buwono X, setelah kenyataan semakin banyaknya rakyat pesepakbola di jalan – jalan atau tempat – tempat dan di alun – alun, di mana Kompetisi I perserikatan diadakan. Paku Buwono X kemudian mendirikan stadion Sriwedari lengkap dengan lampu, sebagai apresiasi terhadap kebangkitan “Sepakbola Kebangsaan” yang digerakkan PSSI. Stadion itu diresmikan Oktober 1933. Dengan adanya stadion Sriwedari ini kegiatan persepakbolaan semakin gencar.

Lebih jauh Soeratin mendorong pula pembentukan badan olahraga nasional, agar kekuatan olahraga pribumi semakin kokoh melawan dominasi Belanda. Tahun 1938 berdirilah ISI (Ikatan Sport Indonesia), yang kemudian menyelenggarakan Pekan Olahraga (15-22 Oktober 1938) di Solo.

Karena kekuatan dan kesatuan PSSI yang kian lama kian bertambah akhirnya NIVB pada tahun 1936 berubah menjadi NIVU (Nederlandsh Indische Voetbal Unie) dan mulailah dirintis kerjasama dengan PSSI. Sebagai tahap awal NIVU mendatangkan tim dari Austria “Winner Sport Club “ pada tahun 1936.

Pada tahun 1938 atas nama Dutch East Indies, NIVU mengirimkan timnya ke Piala Dunia 1938, namun para pemainnya bukanlah berasal dari PSSI melainkan dari NIVU walaupun terdapat 9 orang pemain pribumi / Tionghoa. Hal tersebut sebagai aksi protes Soeratin, karena beliau menginginkan adanya pertandingan antara tim NIVU dan PSSI terlebih dahulu sesuai dengan perjanjian kerjasama antara mereka, yakni perjanjian kerjasama yang disebut “Gentelemen's Agreement” yang ditandatangani oleh Soeratin (PSSI) dan Masterbroek (NIVU) pada 5 Januari 1937 di Jogyakarta. Selain itu, Soeratin juga tidak menghendaki bendera yang dipakai adalah bendera NIVU (Belanda). Dalam kongres PSSI 1938 di Solo, Soeratin membatalkan secara sepihak Perjanjian dengan NIVU tersebut.

Soeratin mengakhiri tugasnya di PSSI sejak tahun 1942, setelah sempat menjadi ketua kehormatan antara tahun 1940 – 1941, dan terpilih kembali di tahun 1942.

M asuknya balatentara Jepang ke Indonesia menyebabkan PSSI pasif dalam berkompetisi, karena Jepang memasukkan PSSI sebagai bagian dari Tai Iku Kai, yakni badan keolahragaan bikinan Jepang, kemudian masuk pula menjadi bagian dari Gelora (1944) dan baru lepas otonom kembali dalam kongres PORI III di Yogyakarta (1949).

Perkembangan PSSI

Pasca Soeratin ajang sepakbola nasional ini terus berkembang walaupun perkembangan dunia persepakbolaan Indonesia ini mengalami pasang surut dalam kualitas pemain, kompetisi dan organisasinya. Akan tetapi olahraga yang dapat diterima di semua lapisan masyarakat ini tetap bertahan apapun kondisinya. PSSI sebagai induk dari sepakbola nasional ini memang telah berupaya membina timnas dengan baik, menghabiskan dana milyaran rupiah, walaupun hasil yang diperoleh masih kurang menggembirakan.

Hal ini disebabkan pada cara pandang yang keliru. Untuk mengangkat prestasi Timnas, tidak cukup hanya membina Timnas itu sendiri, melainkan juga dua sektor penting lainnya yaitu kompetisi dan organisasi, sementara tanpa disadari kompetisi nasional kita telah tertinggal.

Padahal di era sebelum tahun 70-an, banyak pemain Indonesia yang bisa bersaing di tingkat internasional sebut saja era Ramang dan Tan Liong Houw, kemudian era Sucipto Suntoro dan belakangan era Ronny Pattinasarani.

Dalam perkembangannya PSSI sekarang ini telah memperluas jenis kompetisi dan pertandingan yang dinaunginya. Kompetisi yang diselenggarakan oleh PSSI di dalam negeri ini terdiri dari :

• Divisi utama yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.

• Divisi satu yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.

• Divisi dua yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus non amatir.

• Divisi tiga yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain yang berstatus amatir.

• Kelompok umur yang diikuti oleh klub sepakbola dengan pemain:

• Dibawah usia 15 tahun (U-15)

• Dibawah usia 17 tahun (U-170

• Dibawah Usia 19 tahun (U-19)

• Dibawah usia 23 tahun (U-23)

• Sepakbola Wanita

• Futsal.

PSSI pun mewadahi pertandingan – pertandingan yang terdiri dari pertandingan di dalam negeri yang diselenggarakan oleh pihak perkumpulan atau klub sepakbola, pengurus cabang, pengurus daerah yang dituangkan dalam kalender kegiatan tahunan PSSI sesuai dengan program yang disusun oleh PSSI. Pertandingan di dalam negeri yang diselenggarakan oleh pihak ketiga yang mendapat izin dari PSSI. Pertandingan dalam rangka Pekan Olahraga Daerah (PORDA) dan pekan Olah Raga Nasional (PON). Pertandingan – pertandingan lainnya yang mengikutsertakan peserta dari luar negeri atau atas undangan dari luar negeri dengan ijin PSSI.

Kepengurusan PSSI pun telah sampai ke pengurusan di tingkat daerah – daerah di seluruh Indonesia . Hal ini membuat Sepakbola semakin menjadi olahraga dari rakyat dan untuk rakyat.

Dalam perkembangannya PSSI telah menjadi anggota FIFA sejak tanggal 1 November 1952 pada saat congress FIFA di Helsinki. Setelah diterima menjadi anggota FIFA, selanjutnya PSSI diterima pula menjadi anggota AFC (Asian Football Confederation) tahun 1952, bahkan menjadi pelopor pula pembentukan AFF (Asean Football Federation) di zaman kepengurusan Kardono, sehingga Kardono sempat menjadi wakil presiden AFF untuk selanjutnya Ketua Kehormatan.

Lebih dari itu PSSI tahun 1953 memantapkan posisinya sebagai organisasi yang berbadan hukum dengan mendaftarkan ke Departement Kehakiman dan mendapat pengesahan melalui SKep Menkeh R.I No. J.A.5/11/6, tanggal 2 Februari 1953, tambahan berita Negara R.I tanggal 3 Maret 1953, no 18. Berarti PSSI adalah satu – satunya induk organisasi olahraga yang terdaftar dalam berita Negara sejak 8 tahun setelah Indonesia merdeka.

Sumber : Sejarah PSSI

Thursday, January 24, 2008

South to South Film Festival (StoS) merupakan Festival Film Lingkungan, yang mengangkat tema "Vote for Live", Memilih untuk Hidup. StoS ingin menyampaikan suara perjuangan masyarakat dari negara-negara Selatan yang jarang sampai ke ranah publik. Kehadiran StoS diharapkan dapat menjadi inspirasi bagaimana perjuangan masyarakat di kawasan-kawasan yang menghadapi dampak eksploitasi sumber daya alam, yang mengancam keselamatan dan produktivitas hidupnya, dan tentunya bagaimana perjuangan mereka untuk mengatasi itu semua.

Film-film yang Ditayangkan dalam StoS Film Festival South to South Film Festival 2008

Titles Filmmakers/country Durasi
Sipakapa is Not For Sale Director : Álvaro Revenga
Production : Caracol Producciones, Guatemala, November 2005
56 menit
Penusah Tana (The Forgotten Struggle) Director : Hilary Chiew and Chi Too
Production : Malaysia
36 menit
Mahua Memoirs Director: Vinod Raja
Producer: Ashok Haridas.
Cinematography: Vinod Raja/Viswanath
Editing: Atul Gupta
Sound: Harikumar Pillai, Jayanth Pradhan
Script: Madhu Bhooshan/ Vinod Raja
Production : Grass Roots Media Pvt Ltd, India
82 menit
Laut yang Tenggelam Sutradara Yuslam Fikri Ansari (Yufik)
Produser Moh Syafari Firdaus
Co-produser Hapsari Puspitaningsih
Produser Pelaksana Moh Syafari Firdaus, Hapsari Puspitaningnih
Riset Siti Fikriyah, Dhini Yulietta Sari
Kameramen Suherman, Yufik
Editor Moh Syafari Firdaus, Yufik
Produksi 2006, Komunitas Perfilman Intertekstual (KoPI) bekerja sama dengan Kantor Bantuan Hukum (KBH) Purwokerto dan Masyarakat Ujung Alang, Kampung Laut, Sagara Anakan.
94 menit
The Pampas Unknown Desert Screenplay and direction: Carolina Berger
Producer: Álvaro de Carvalho Neto
Director of Photography: Pablo Escajedo
Editor and Postproduction: Emerson Paraná – CamongoLoco Comunicação
Original soundtrack: Pirisca Grecco
Sound design and mixing: Cristiano Scherer – KO Produções (KO Productions)
Direct sound technician: Sanjai Cardoso
Musicians: Paulinho Goulart – accordion, Pirisca Grecco – acoustic guitar
Research: Carolina Berger
25 menit
Jonathan Brown and the Lost Penguin Director: Sarah Stephen
Producer: Nick Roffey
Production : Bust Stop Productions, Victoria Australia, 2007
13 menit
The Fridge Script: Lucie Stamfestová, Pavel Sobek
Director: Lucie Stamfestová
Director of Photography: Thomas Krivý
Animation: Lucie Stamfestová, Daniela Vasicová, Jan Ott
Music: Jakub Vlachynský, Jan Krofta, Pavel Sobek, Tamás Kubica
Production: Martin Hulovec, Jakub Tlapák, Punk Film, Czech Republic 2007
Sui Utik Dir: Ramadian Bachtiar
Prod: Ramadian Bachtiar
Camera:Nanang Sujana, Een Irawan Putra
Editor: Nanang Sujana
Story Building: Ramadian Bachtiar, Nanang Sujana, Mulia Nurhasan
Music Director (Arranger): Uyung Mahagenta
Music Player: Sinyo, Hendry
English Subtitle: Felencia Hutabarat
Dayak Iban Translator: Simon Salim, Conkordius Kanyan.
Additional Footage: Perkumpulan Telapak & EIA, Yayasan Al-Kahfi, Yayasan Triton
17 menit
Too Hot Not to Handle Executive produced : Laurie David
Produced : Susan Lester and Joseph Lovett
Edited : Tom Haneke
Written : Susan Joy Hassol
Segment directors : Maryann De Leo and Ellen Goosenberg Kent
Segment producers : Vibha Bakshi and Rosemary Sykes
Original music : Joel Goodman
For Lovett Productions: executive producer, Joseph Lovett
For HBO: supervising producer, Jacqueline Glover; executive producer, Sheila Nevins
54 menit
Teluk Jakarta Under Pressure Produksi : Gekko Studio/Telapak
15 menit
The Last Boy Riding Dir/script/music: Jobin Ballestreros
Camera: Chris Manjares
Cast: Archie R. Adamos, Mario Magallona, Joshua Tecson
Production : Wild Coyote Pictures, Phillipines 2007
Niger, A Life Line Produksi : Wetland Indonesia
18 menit
Wildlife’s Worry Produksi : Wetland Indonesia 21 menit
Forest Fortune Produksi : Wetland Indonesia 18 menit
Chained to Charcoal Produksi : Wetland Indonesia 20 menit
Fish or Fees Produksi : Wetland Indonesia 18 menit


Info Selengkapnya www.jatam.org

Love is the sunshine of the soul.

Anonim

Friday, January 18, 2008

Invitasi bagi para insinyur dan calon
insinyur Indonesia, generasi
muda peduli, serta seluruh masyarakat
Indonesia untuk aktif berperan
serta mensukseskan Global Warming Event
yang digagas oleh rekan-rekan
FAM PII DIY.
Informasi dan berita aktual dapat
disimak dan diikuti di

http://fampiijogjaglobalwarming.wordpress. com

Thursday, January 17, 2008

How would you feel if you had mastered and attained all your goals a year from now? How would you feel about yourself? How would you feel about your life? Answering these questions will help you develop compelling reasons to achieve your goals. Having a powerful enough why will provide you with the necessary how. Take this opportunity to brainstorm your top four one-year goals. Under each one, write a paragraph about why you are absolutely committed to achieving these goals within the year.”
Anthony Robbins

Tuesday, January 15, 2008

Logic will get you from A to B. Imagination will take you everywhere.
- Albert Einstein-
Give a man a fish and you feed him for a day. Teach him how to fish and you feed him for a lifetime.
- Lao Tzu-

Monday, January 14, 2008

"Homo Wajakensis, manusia purba yang pertama kali ditemukan di Indonesia. Namun sayang aset bangsa itu saat ini tak berbekas. Bahkan bisa dibilang lenyap meskipun dulu sempat menggegerkan dunia."

Usaha menguak misterinya bukannya tak ada namun ada banyak hal yang tak tahu harus dimulai dari mana..berikut berita dari indomedia.com .

*****

Tabir Gelap Lokasi Penemuan Fosil "Homo Wajakensis"

BEKAS lokasi penemuan fosil tengkorak "Homo Wajakensis" di Kabupaten Tulungagung, Jatim, hingga kini masih gelap. Banyak penduduk di desa sekitar Wajak, Kecamatan Boyolangu, tidak tahu tentang sejarah penemuan fosil purbakala itu.
Demikian pula orang-orang yang mendiami kawasan Tulungagung selatan. Padahal seabad lalu, daerah mereka menjadi pusat perhatian dunia dalam pengembangan ilmu paleontologi [ilmu tentang fosil]. Daerah berbatu gamping tersier itu pernah menjadi area perburuan ahli kepurbakalaan untuk mencari "missing link" [mata rantai yang hilang] asal-usul manusia.
Tidak hanya masyarakat awam yang tidak mengenali lokasi bekas penemuan fosil Homo Wajakensis. Para guru sejarah dan pejabat yang membidangi cagar budaya pun tidak bisa menunjukkan tempat salah satu fosil manusia purba itu ditemukan.
Uniknya, dalam manuskrip data Benda Cagar Budaya [BCB] yang disusun kantor Depdikbud Tulungagung ditulis, situs penemuan manusia purba terletak di Dukuh Nglempung, Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, sekitar delapan kilometer selatan Desa Wajak.
"Tempat penemuan fosil Homo Wajakensis memang perlu dibuat monumen," demikian bunyi rekomendasi manuskrip data BCB kantor Depdikbud Tulungagung yang dibuat tahun 1995.
Kenyataan tersebut berbeda dengan nasib area ditemukannya Pithecantropus Erectus [manusia kera berdiri tegak] oleh ahli paleontologi Belanda, Eugene Dubois, di lembah sungai Bengawan Solo dekat Trinil, Oktober 1891.
Di lokasi bekas ditemukannya "Manusia Trinil" yang pernah menjadi perhatian dunia lebih seabad lalu itu hingga kini masih bisa disaksikan buktinya. Seabad silam, Dubois telah menancapkan prasasti di sebelah kanan Bengawan Solo bertuliskan "P.e.—175 M.ONO—1891/93" yang menandakan arah geografis dan jarak prasasti dari titik ditemukannya Phitecanthropus.
Selain itu, dia juga meninggalkan foto-foto suasana Bengawan Solo, peta asli dan situs-situs ekskavasi fosil penemuannya tahun 1891-1893.
Dan pada November 1991, seabad peringatan penemuan Phitecantropus, telah diresmikan Museum Trinil atas bantuan lembaga Dubois oleh Gubernur Jatim saat itu, Soelarso.
Banyaknya bukti otentik mengenai tempat-tempat penggalian fosil di lembah Sungai Bengawan Solo yang ditinggalkan Dubois tampaknya merupakan kunci untuk merunut kembali lokasi penemuan "manusia purba dari Jawa" sebagai aset wisata budaya.

Perlu data baru
Hasrat untuk menyisir kembali tempat penemuan fosil tengkorak Homo Wajakensis bukannya tidak ada. Pemda Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Pariwisata yang dibentuk April 1998 sudah mulai berpikir menjadikan tempat tersebut aset wisata budaya.
Akan tetapi keterbatasan tenaga ahli sejarah, dana, dan tidak adanya bukti dan buku pendukung menyebabkan rencana tersebut tinggal angan-angan belaka.
Mengapa Dubois tidak meninggalkan bukti-bukti otentik berupa peta, foto, ataupun prasasti tempat ditemukannya Homo Wajakensis seperti yang dia lakukan untuk hal yang sama saat penemuan Pithecanthropus?
Apakah daerah Wajak yang memberinya temuan fosil Homo Wajakensis tidak begitu penting bagi kontribusi risetnya, sehingga Dubois lupa mencatat dalam buku hariannya?
"Kami memang kesulitan untuk mendapatkan bukti-buktinya, sehingga tempat itu belum masuk dalam peta wisata Tulungagung," ujar Kepala TU Dinas Pariwisata Tulungagung Wahyuadji Gunawan.
Dia mengaku, rencana menguak kembali tempat ditemukan Homo Wajakensis baru muncul pada Oktober 1998 setelah Dinas pariwisata setempat menerima berita rencana kedatangan turis Belanda yang disampaikan seorang pemandu wisata dari sebuah agen perjalanan wisata.
Orang Belanda tersebut, lanjut dia, mengaku keturunan Dubois dan ingin napak tilas ke tempat-tempat tersebut.

Jejak Dubois
Fakta bahwa di sekitar Desa Wajak memang pernah ditemukan Homo Wajakensis sebenarnya bisa dilacak dari buku-buku mengenai perjalanan riset arkelogi dan antropologi Dubois.
Daerah Wajak sendiri kini merupakan sebuah desa di Kecamatan Boyolangu. Padahal pada prasasti peninggalan Belanda di lereng bukit Nglempung, Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, yang berangka tahun 1850 tertulis bahwa kawasan tersebut masih disebut Wajak.
Dalam buku Pithecanthropus karya Richard E Leakey dan Jan kkerveer, ditulis, di sekitar Desa Wajak ditemukan fosil tengkorak manusia oleh seorang insinyur tambang batu gamping berkebangsaan Belanda, BD van Rietschoten, 24 Oktober 1888.
Fosil tengkorak yang dianggap ganjil itu kemudian diserahkan kepada CP Sluiter, kurator dari Koninklijke Natuurkundige Vereeniging [Perkumpulan Ahli Ilmu Alam] di Batavia saat itu.
Hampir bersaman dengan waktu itu, Dubois mendarat di Jawa untuk melanjutkan riset arkeologinya yang tidak memuaskan di Sumatra. Sluiter menyerahkan fosil tengkorak Wajak kepada Dubois.
Bagi Dubois, fosil temuan Rietschoten membuka harapan baru untuk menemukan "missing link" asal-usul manusia. Ini sesuai teori ahli geologi Verbeek yang sepakat bahwa pegunungan batu gamping tersier di Jawa sangat menjanjikan bagi riset Dubois.
Dubois akhirnya tinggal di Tulungagung, yang saat itu masih merupakan kota kecil bagian Kediri, selama lima tahun. Dia menyusur kembali tempat Rietschoten menemukan fosil tengkorak manusia, yakni di cekungan bebatuan sekitar Wajak.
Di sekitar tempat itu ia selain mendapatkan sisa fosil reptil dan mamalia, juga menemukan fosil tengkorak manusia meski tidak seutuh temuan Rietschoten. Fosil temuannya sendiri dia sebut Homo Wajakensis sebagai salah satu ras manusia "recent".
Sesudah penemuan perdana fosil tengkorak manusia tersebut, Dubois makin berambisi melanjutkan ekspedisinya. Dia berpindah ke berbagai tempat di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Akhirnya dia memusatkan situs risetnya di lembah Bengawan Solo dekat Trinil yang memberikan begitu banyak temuan fosil. Di tempat baru itulah Dubois menemukan fosil Pithecanthropus Erectus yang menggemparkan dunia dan mengantarkan dirinya sebagai ahli paleoantropologi terkemuka.
Yang menarik, buku tersebut menjelaskan selama di Tulungagung Dubois sering ke perkebunan milik orang Skotlandia bernama Boyd di kaki gunung Wilis, yang sekarang merupakan perkebunan kopi Penampian Kecamatan Sendang.
Satu-satunya bukti bisu yang ada dalam buku tersebut adalah foto fosil-fosil yang dibiarkan berserakan di sebuah balai-balai rumah adat Jawa yang ditempati Dubois selama di Tulungagung.
Sekarang, ke mana harus bertanya untuk melacak situs penemuan Homo Wajakensis atau tempat-tempat yang pernah digunakan Dubois selama riset arkeologi dan paleoantropolgi di Tulungagung?
Lima puluh delapan tahun silam Dubois meninggalkan Indonesia. Kuburannya yang terletak di perkebunan De Bedelaer miliknya di kota Venlo hanya bisa diam membisu. Hanya batu nisannya yang bertahtakan fosil tempurung kepala dan dua tulang paha yang disilangkan dari Phithecanthropus yang berbicara bahwa dia adalah penemu fosil manusia purba dari Jawa tersebut.
Bapak paleoantropologi dan satu dari delapan kolektor terbesar di jagat itu kini cuma bisa berbicara kepada dunia lewat warisan monumentalnya berupa lebih 40 ribu macam benda yang tersimpan di Museum Nasional Sejarah Alam di Leiden Belanda.
Kini tinggal, apakah ada niat dan usaha untuk mewarisi dan menjaga peninggalannya, termasuk situs-situs ekskavasi fosilnya di Indonesia, seperti di Trinil dan Wajak. muhammad rifai/anspek.
****
Mencari jejak Manusia Wajak...


Selamat Hari Senin

Setelah liburan panjang usai tiba saatnya untuk kembali berkarya. Tentunya dengan semangat baru dan spirit yang lebih kuat untuk berbuat yang terbaik serta terus berprestasi. Semangat baru dan capaian positif-positif baru.

Semoga Senin bukanlah jadi hari yang membosankan tapi justru menantang untuk menorehkan prestasi demi prestasi. Satu kata Semangat!
Libur tlah usai mari kembali berkarya!

Salam

The happiest person is he who thinks the most interesting thoughts.”

William Lyon Phelps

Sutradara : Song Il-gon
Produser : Kim Chul-hwan
Penulis : Han Gi-hyeon, Song Il-gon
Penata Musik : Yun Min-hwa
Sinematografi : Park Yeong-jun
Editing : Choi Jae-geun, Eom Ji-hwa
Distributor : Korea Green Foundation
Tanggal Release : January 14, 2005
Durasi : 73 minutes
Bahasa : Bahasa Korea

Film ini mengisahkan, Seorang Penulis naskah film yang tengah disibukan dengan proyek pembuatan naskah skenario untuk film keduanya, yang kembali teringat akan janji yang pernah dibuat sepuluh tahun sebelumnya dengan kekasihnya.

Sepuluh tahun yang lalu ia bersama dengan kekasihnya di sebuah pulau terpensil Selatan Pulau Jeju berjanji akan bertemu lagi. Mereka setuju diwaktu dan tempat yang sama sepuluh tahu kemudian kembali bertemu.

Selepas mengukir janji mereka akhirnya berpisah. Sang sutradara mengikuti wajib militer sedangkan sang kekasih menuju Jerman untuk melanjutkan kuliah disana. Namun cerita berubah setelah sang kekasih ternyata menikah dengan seorang konduktor dari Jerman.

Sepuluh tahun hampir tiba. Sang penulis akhirnya memutuskan untuk tetap menuju pulau tersebut meskipun tujuannya bukan semata-mata ingin bertemu dengan mantan kekasihnya itu sambil mengerjakan naskah skenarionya.

Selagi berada di pulau terpencil itu ia menjalin hubungan dengan seorang wanita muda yang menjalankan usaha penginapan dengan pamannya. Paman yang tak pernah berbicara lagi semenjak ditinggal pergi oleh istrinya.


Pada hari yang telah ditentukan untuk bertemu ternyata kekasih masa lalu tak datang. Yang datang justru kiriman sebuah piano disertai sebuah surat. Surat yang akhirnya dia ketahui bahwa mantan kekasih terkena kanker dan dalam kondisi yang tak sebaik dulu.


Kisah selanjutnya yang terjalin justru antara sang penulis dengan gadis pengelola penginapan. Dari gadis itu juga ia mendapat ide cerita tentang seorang gadis penari dengan bulu yang dipasang di rambutnya. Setahun setelah kejadian di pulau itu akhirnya mereka kembali bertemu dan akhirnya terjalinlah kisah diantara mereka.



Sebenarnya keunikan film ini bukanlah kisah sang penulis dengan wanita penjaga penginapan namun ide bulu (dalam bahasa korea kalau tidak salah Git) yang diangkat. Film yang cukup menarik ditonton dan bisa menginspirasikan ide-ide yang lebih unik lagi.

Sunday, January 13, 2008

Punya dua program unggulan: karya tulis ilmiah online dan adokasi ujian nasional. Perlu sosialisasi program lainnya, seperti diklat kompetensi guru, kepala sekolah dan pengawas, diklat manajemen persekolahan dan pengawasan pendidikan, hingga program kecakapan hidup. Meraih ISO 9001:2000.

BANYAK guru mentok di pangkat golongan IVa. Tak kurang 390.000 guru berpangkat IVa. Sementara penyandang golongan IVb hanya 300 guru. Persoalannya sama: tak bisa menyelesaikan karya tulis. Padahal, menyusun karya tulis adalah salah satu syarat kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi ke golongan IVb. Subdit Pendidikan Menengah, Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional cepat tanggap. Subdit Pendidikan Menengah meluncurkan Karya Tulis Ilmiah (KTI) Online, sebagai media pembimbingan karya tulis ilmiah jarak jauh.

Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Taman kanak-kanak dan Pendidikan Luar Biasa (P4TK TK dan PLB) ditunjuk sebagai sekretariat KTI Online. Para widyaiswara turut berkontribusi sebagai pembimbing bersama dengan para dosen dari LPTK.

Melalui program KTI Online ini diharapkan sekaligus mendorong peningkatan kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Tentu saja, keberadaannya diharapkan bisa mendukung guru, di semua jenjang pendidikan, dalam memenuhi syarat kenaikan pangkat. Harapan lain program ini bisa memotivasi para guru untuk terus berinovasi dalam pembelajaran berbasis online research.

Selain menjadi pionir pelaksanaan KTI online, kegiatan yang saat ini sedang getol dilaksanakan P4TK TK dan PLB adalah advokasi ujian nasional. “Program ini sudah dilaksanakan di beberapa kabupaten sejak tahun lalu. Ternyata hasilnya sangat baik,” kata Dra Hj Teriska R, MEd, Kepala P4TK TK dan PLB Bandung.

Program advokasi ujian nasional diselenggarakan kali pertama di Cirebon. Kemudian merambah kota-kota lain di Indonesia. Kegiatannya berupa pelatihan kepada guru mengenai berbagai materi ujian nasional. Guru-guru di jenjang SMP dan SMA dan pendidikan setara, dilatih mengerjakan materi ujian nasional yang bobotnya sama dengan soal ujian nasional yang diikuti siswa.

Hasilnya, di sejumlah sekolah yang guru-gurunya mengikuti pelatihan ujian nasional menunjukkan kenaikan nilai ujian nasional para siswa. Bahkan menurut Teriska ada yang kelulusannya hingga seratus persen, seperti di Nusa Tenggara Timur. “KTI Online dan advokasi ujian nasional, memang menjadi primadona program di sini,” kata Teriska.

Selain itu, program unggulan yang juga diseleggarakan di sana adalah diklat peningkatan kompetensi, diklat jarak jauh terkareditasi, e-training, diklat manajemen berbasis sekolah, diklat Pakem, model belajar pendidikan berkebutuhan khusus, dan model belajar pendidikan taman kanak-kanak.

P4TK Tertua

P4TK dan PLB merupakan P4TK tertua di antara dua belas P4TK yang ada. Letaknya di jantung kota Bandung, yaitu di jalan Dr Cipto. Awal mulanya bernama Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru (BKTPG) yang didirikan pada tanggal 2 Juli 1950. Setelah sempat berganti beberapa kali akhirnya pada tahun 2007 ditetapkan sebagai Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Taman Kanak-Kanak dan Pendidikan Luar Biasa (P4TK TK dan PLB) melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 8 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

P4TK TK dan PLB memiliki berbagai fasilitas penunjang, di antaranya ruang kelas, auditorium, laboratorium bahasa, laboratorium terpadu, laboratorium komputer, ruang multimedia, perpustakaan, pusat kebugaran, mesjid, hingga kantin. Mereka didukung 181 pegawai dengan kualifikasi baik dari berbagai latar belakang pendidikan dengan pengalaman lapangan yang cukup.

Memang, di sana masih ada sejumlah pegawai administrasi berijazah SMA. Namun selebihnya punya latar belakang pendidikan ijazah D3, S1, dan S2. Latar belakang bidang keilmuan sangat mendukung dan beragam, diantaranya bidang Pendidikan (Kurikulum, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika), Kependidikan, Keterampilan, Informatika, Teknologi Manajemen, Keagamaan, serta Manajemen dan Pendidikan Luar Biasa.

P4TK TK dan PLB sebagai unit pelaksana teknis (UPT) di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional di bidang pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan, memiliki tugas melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan khusus di bidang taman kanak-kanak dan pendidikan luar biasa serta turut berperan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan (continous improvement).

Guna mendukung upaya tersebut, P4TK TK dan PLB mempunyai strategi memprioritaskan peningkatan mutu SDM internal, merekayasa program-program diklat dan nondiklat bagi pendidik dan tenaga kependidikan, serta menjalin kerjasama dengan mitra nasional dan internasional. “Kami memberikan beasiswa S2 dan S3 kepada widyaiswara, baik di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri,” kata Teriska.
Selain rintisan pendidikan gelar di jenjang Si1 hingga S-3, Teriska juga mengembangkan rintisan pendidikan nongelar. Yakni berupa diklat teknis fungsional dan diklat struktural.

Program pengembangan sistem dan model pembelajaran tak luput dari perhatian Teriska. Yakni pembelajaran melalui internet, diklat Pakem, diklat audit mutu ISO:2000.

Pengembangan lain yang dilakukan Teriska adalah hubungan kemitraan. Misalnya kerjasama dengan lembaga asing seperti Unicef, Japan Foundations, Regional Centre For Education In Science And Mathematics. Kerjasama juga dibina dengan perguruan tinggi, di antaranya Universitas Kebangsaan Malaysia, Thamatirat University, Charles Darwin University, dan British Council.
Kemitraan juga dibangun dengan instansi pemerintah lain seperti dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota, LPMP, P4TK dan Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP), dan departemen agama. “Sudah ada 30 nota kesepahaman yang ditandatangani dengan dinas pendidikan,” kata Teriska menambahkan.
Ada juga kerjasama dengan organisasi profesi seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), kelompok kerja guru (KKG), musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), kelompok kerja kepala sekolah (KKS), kelompok kerja kepala sekolah (KKPS) dan Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI).
Satu lagi prestasi yang pantas dibanggakan, P4TK TK dan PLB telah berhasil memperoleh sertifikat ISO 9001:2000, pada Juli 2007. Sertifikat ini pertanda P4TK berhasil melaksanakan sistem manajemen mutu sebagai komitmen seluruh sumber daya manusia lembaga ini, untuk selalu memberikan layanan prima terhadap pelanggan.

Tantangan Lembaga Baru

Meski berhasil mengembangkan program unggulan, sejumlah kendala tak luput menghampiri P4TK TK dan LB. “Di lapangan ternyata ada yang belum mengenali kami sebagai penyedia pelatihan,” kata Teriska.
Padahal, P4TK TK dan PLB tak cuma menyelenggarakan bimbingan karya tulis dan ujian nasional. Di sana juga ada diklat kompetensi guru, kepala sekolah dan pengawas, diklat kompetensi terakreditasi, diklat manajemen persekolahan dan pengawasan pendidikan, program kecakapan hidup, program pendidikan berbasis imtak (iman dan takwa).
Teriska pun berupaya mengenalkan lembaganya ke sekolah-sekolah. “Selama ini berbagai sosialiasi dilakukan sebagai langkah untuk lebih mengangkat nama lembaga ini,” imbuh Teriska. Misalnya, bermitra AKSI, mensosialiasikan ke para kepala sekolah mengenai berbagai program yang bisa diikuti kepala sekolah di P4TK TK dan PLB.
“Kami masih terus belajar. Saya punya prinsip harus berani tampil beda dengan tetap prioritas pada kualitas pelayanan dan selalu meningkatkan mutu,” ujar Teriska.
 
Fathoni Arief (Bandung)

Friday, January 11, 2008

"Love does not begin and end the way we seem to think it does. Love is a battle, love is a war; love is a growing up."
- Baldwin -

Thursday, January 10, 2008

Semoga Ini Menjadi Momen Untuk Berhijrah
Dari Serba Tidak Mampu Menjadi Mampu,
Serba Kegelapan Menjadi Pencerahan,
Serba Keterpurukan Menjadi Kebangkitan...

Selamat Tahun Baru Hijriah 1429H

Saturday, January 05, 2008

SMK N 1 Jepara
Ade Sopiali, S.Pi, M.Pd, Kepala SMK Negeri 1 Jepara Hadir sebagai kepala sekolah saat kondisi sekolah nyaris gulung tikar. Penerimaan siswa baru cuma menjaring 9 calon siswa. Kini menjelma menjadi rintisan sekolah bertaraf internasional. Jawaranya lomba kompetensi siswa tiga tahun terakhir.


“Waktu pertama kali datang ke sekolah ini kondisinya sangat memprihatinkan,” kata Ade Sopiali, yang mulai menjabat Kepala SMK Negeri 1 Jepara sejak 2000. Jangankan bicara prasarana sarana sekolah yang sangat minim. Lokasi sekolah saja masih sulit dijangkau.

Jalan menuju sekolah adalah jalan buntu yang tidak dilalui angkutan umum. Jalannya punya hanya tanah biasa yang selalu becek saat musim penghujan tiba. Sehingga banyak siswa tak masuk sekolah kala hujan tiba di pagi hari.

Selain itu, sekolah yang terletak di Jalan Gudang Sawo Km 1,5 Jepara ini tidak tersambung jaringan telepon dan air bersih. Saat Ade Sopiali dipercaya menjadi kepala sekolah, ia menilai SMK 1 Jepara mirip bangunan yang lama tak berpenghuni. “Waktu itu rumput-rumput di halaman sekolah tinggi-tinggi,” katanya.

Anggaran tahunan sekolah ternyata cuma Rp 27 juta. Biaya listrik setahun saja totalnya Rp 16 juta. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mengembangkan sekolah yang berdiri di atas lahan seluas 16,5 hektare itu.

Ketika ia ditugaskan di SMK 1 Jepara, kala itu bertepatan dengan tahun pelajaran baru. Hingga hari terakhir penerimaan siswa baru, hanya ada 9 siswa yang mendaftar. Dari segelintir calon siswa tersebut, 6 orang di antaranya berniat mengundurkan diri. Padahal sekolah mampu menampoung 4 kelas, dengan jumlah siswa masing-masing kelas 36 orang. “Proses pendaftaran siswa baru diperpanjang hingga Oktober,” kata Ade.

Yang membuat kening makin berkerut, kala itu Ade juga harus berhadapan dengan etos kerja guru dan karyawan yang sangat rendah. Motivasi kerja guru dan karyawan, menurut Ade, sungguh memprihatinkan. Banyak guru tak hadir dengan berbagai alasan. Yang paling membikin Ade mengelus dada, sebelas guru dan 21 guru mengajukan mutasi pindah.

BERBENAH MENUJU PERBAIKAN

Ade Sopiali yang magister pendidikan Universitas Muhamadiyah Surakarta ini tak patah semangat. Bekal pengalaman selama mengajar di Sekolah Menengah Teknik Pertanian Sitiung Sumatera Barat (1987-1999) dan SMK Negeri 2 Slawi Tegal (1999-2000) turut membesarkan hatinya. Di usia 47 saat ia menjadi kepala sekolah, Ade bukan guru kemaren sore.

Ade Sopiali mengajak guru, karyawan dan masyarakat bahu-membahu untuk membesarkan sekolah. Ia juga menjalin kerjasama dengan pemerintah provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Jepara. Bahkan Departemen Departemen Perikanan dan Kelautan juga ia datangi untuk meminta bantuan.

Kualitas sumberdaya guru dan karyawan ia benahi. Harapannya, dengan mempunyai guru berkualitas bisa menjaring siswa terbaik di kota ukir itu. “Tantangan SDM memang paling berat. Sampai sekarang belum diatasi secara maksimal,” kata Ade Sopiali.

Pelan namun pasti, SMKN 1 Jepara menjadi sekolah yang disegani dan tak dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Kini sekolah punya program sister school, center school. Status sekolah meningkat menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN) hingga menjadi rintisan Sekolah Bertaraf Internasional pada 2006. “Kami merupakan salah satu sekolah yang pertama kali menjadi SBI di Jepara,” kata Ade Sopiali. Bidang kurikulum juga mengalami menjadi perhatian pembenahan Ade. Sekolah yang dulu ibaratnya tak memiliki kurikulum itu bisa mengembangkan KTSP.

Yang juga berubah drastis adalah kedisiplinan guru, karyawan dan siswa. Misalnya ditandai dengan jam masuk sekolah yang selalu tepat pukul 7.00. Guru dan karyawan pulang rata-rata di atas pukul 14.00. Mereka masih disibukkan dengan pekerjaan masing-masing usai mengajar. Bahkan ada yang pulang hingga malam hari, khususnya karyawan unit produksi. Siswa juga mempunyai catatan disiplin berupa Catatan Buku Tata Tertib Sekolah. Semua siswa mempunyai poin penilaian. Jika melakukan pelanggaran akan mengurangi poin kedisiplinan.

Suasana praktikum siswa juga sudah berjalan dengan baik. Jika dulu hampir-hampir tidak ada praktik, kini siswa dari luar sekolah pun menimba ilmu ke SMK 1 Jepara. Misalnya SMK Loli Nusa Tenggara Timur, SMK Pacitan, dan SMK dari Yogyakarta, dan Bekasi yang sengaja datang untuk belajar. Bahkan ada rombingan darmasiswa dari Bangladesh yang mengunjungi sekolah ini.

Pengalaman Ade Sopiali mengangkat sekolah pinggiran inilah yang mengantarkannya meraih juara satu Lomba Best Practice Kepala Sekolah kelompok SMA/SMK 2007 yang diselenggarakan Direktorat Tenaga Kependidikan, Depdiknas. Ade membawakan makalah berjudul Mensiasati Sekolah yang Hampir Tutup Menjadi Sekolah Bertaraf Internasional.

Berbagai diklat di dalam negeri hingga luar negeri selama ia menjabat kepala sekolah, juga turut menambah kinerja Ade mencorong. Ia pernah mengikuti pelatihan peternakan di IPB Bogor, task force di China (2004) dan Jepang (2005 )dan di Swiss tahun 2006.


BANYAK YANG DIBANGGAKAN

Berkunjunglah ke SMKN 1 Jepara, sekolah kejuruan bidang pertanian dan kelautan yang nyaris gulung tikar kini tak lagi susah. Jalan menuju ke sekolah sudah beraspal mulus dan dilalui angkutan umum. Prasarana dan sarana sekolah mulai tampak mencorong. Dari ruang praktek laboratorium bahasa, komputer, unit usaha produksi, internet, jaringan TV edukasi, perpustakaan dan kantin. Semua itu ditopang anggaran sekolah tahun 2007 sebesar Rp 712 juta.

Prestasi siswa juga mengalami peningkatan. Misalnya keikutsertaan siswa di berbagai ajang lomba kreativitas di tingkat provinsi dan nasional sebagian membawa pulang kemenangan. Di antaranya juara umum Pekan Olahraga Daerah SMK Pertania se-Jawa Tengah, dan juara lomba kompetensi siswa tingkat provinsi dan nasional tiga tahun terakhir. Lulusannya juga mulai diminati kalangan dunia usaha dan dunia industri. Bahkan ada puluhan lulusan yang kini bekerja di Jepang.

Satu lagi yang pantas dibanggakan, SMK N 1 Jepara berhasil meraih ISO 9001-2000. Namun Ade masih merasa pencapaian itu belum optimal. Ia terus menggenjot semangat siswa, guru dan karyawan untuk terus memajukan sekolah. “Saat ini baru embrio nantinya kami ingin benar-benar-benar menjadi sekolah internasional yang benar-benar,” kata Ade Sopiali.


Ade Sopiali masih bercita-cita menjadkan SMKN 1 Jepara menjadi kiblatnya sekolah pertanian dan kelautan di Indonesia.


Fathoni Arief

Konsep sekolah berasrama sukses melahirkan sekolah unggulan. Siswanya, Septinus George Saa menjadi peraih emas kompetesi internasional. Mengirim guru hingga Australia.

Lebih dari satu dekade lalu, tepatnya 18 Agustus 1995, Gubernur Irian Jaya Freddy Numberi mencanangkan pendidikan berpola asrama di SMA Negeri 3 Jayapura. Sekolah ini dijadikan sekolah unggulan khusus bidang IPA di provinsi paling timur Indonesia itu. Pembangunan sekolah ini dimaksudkan untuk meningkatkan sumber daya manusia putri-putri Papua yang berkualitas sehingga mampu bersaing dengan siswa lain di berbagai daerah di Indonesia.

Sekolah ini terletak di bumi perkemahan Cenderawasih, Waena, Abepura, Papua. Lokasinya sekitar 300 meter di atas permukaan air laut. Cukup sejuk. Kesejukan semakin nyaman saat menyimak perkembangan pesat sekolah yang kini lebih dikenal dengan sebutan SMA Buper alias bumi perkemahan. Pastilah masyarakat pendidikan tidak lupa dengan prestasi yang ditorehkan Septinus George Saa sebagai peraih medali emas pada ajang The First Step To Nobel Prize In Physics.
Septinus George Saa bukanlah satu-satunya putra terbaik Papua. “Masih banyak putra Papua sebaik George Saa. Namun karena kendala pembinaan sejak SMP kurang, sehingga yang masuk SMA,” kata Drs. Yunus Boari, Kepala SMA Negeri 3 Jayapura.

Sekolah unggulan ini sejak awal memang diniatkan untuk merekrut bibit unggul lulusan SMP sekualitas George Saa. Seleksi calon siswa dilaksanakan di tingkat kabupaten dan kota. Setiap kota/kabupaten mengirim empat siswa terbaik, yang terdiri dari 3 putra daerah, dan seorang nonPapua. Masing-masing pemerintah kabupaten/kota membiayai sepenuhnya pendidikan selama sekolah di sana. Bahkan biaya harian di asrama yang sebesar Rp 22.500 per orang juga ditanggung pemerintah kabupaten/kota.

Di tahap seleksi, calon siswa berhadapan dengan tes empat mata pelajaran; Matematika, IPA, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Setelah itu ada tes wawancara. Sedangkan syarat administratif, calon siswa maksimal berumur 17 tahun, nilai surat tanda kelulusan khusus IPA, bahasa Inggris, dan bahasa Indomesia tidak kurang dari tujuh untuk putra daerah, sedangkan untuk nonputra daerah nilainya minimal delapan. Sedangkan nilai matematika, tidak boleh kurang dari 6,5 (putra daerah) dan 7 (nonputra daerah).

Pola pendidikan dasar di Papua juga tengah diubah. Pemerintah Provinsi Papua menggulirkan pendidikan dasar berpola kampung. Artinya, pendidikan dasar dimulai dengan menghidupkan kelas kecil di kampung-kampung, yakni kelas 1-kelas 3. Setelah berkembang, digabung dengan kelas 4-kelas 6, seterusnya hingga kelas 9. Ketika kelas sudah banyak, siswa juga mulai masuk asrama.
Pola asrama seperti yang dijalankan SMAN 3 Jayapura memang berhasil. “Selama dua tahun ini nilai rata-rata siswa sudah di atas 8 dan semuanya lulus. Tahun lalu nilai rata-ratanya 8,86 tahun,” kata Yunus.
Alumni sekolah ini mulai abnyak terserap ke perguruan tinggi terkemuka seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Unversitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Bahkan ada juga alumni yang mendapat beasiswa belajar ke Jepang, di antaranya empat orang kuliah di Yamagata University, perguruan tinggi terbesar di negeri matahari terbit.
SMAN 3 Jayapura juga bersiap menuju sekolah bertaraf internasional. Menurut Yunus, pada April lalu sekolah ini sudah dinilai tim Depdiknas dan masuk dalam rintisan SBI.

SMA 3 memang masih sedikit terkendala menuju SBI. Di antaranya mengenai sarana dan prasarana berbasis teknologi multimedia. “Kendala yang paling menonjol belum punya website dan internet. Jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah unggulan di Jawa sarana prasarana yang kami miliki belum terlalu lengkap,” kata Yunus.

Sementara untuk menunjang kesiapan guru-guru, sekolah mengirim enam orang guru SMAN 3 Jayapura mengikuti program magang di Bali. Setelah itu mereka akan dikirim ke Australia sampai bulan Juni 2008 untuk persiapan masuk SBI.

Fathoni Arief

Thursday, January 03, 2008

Ada Sejuta Ekspresi melepas jutaan cerita di akhir tahun 2007..Menyongsong Harapan Baru Di Awal Tahun..













Yogyakarta..Sejuta Kenanganmu Masih tetap tersimpan Rapi dalam Album Ingatanku

Wednesday, January 02, 2008

Sedikit Oleh-oleh perjalanan dari Makam Raja-raja Imogiri







PESTA JELANG AWAL TAHUN DI JOGJA

Malam itu Semarak Jelang Awal 2008 terasa di Depan Kantor Pos Besar Jogjakarta. Jogja Menyambut tahun baru. Ribuan orang mungkin berkumpul di sana.

Yang sempat terakam oleh jepretan Canon A460 ada berbagai ekspresi menyambut tahun baru. Gembira, bahagia entah apapun yang akan membayangi. Bayangan akan himpitan krisis tak terlihat disana. Ceria menyambut 2008.


Mengais Rezeki Di Tengah Pesta Tahun Baru












Persahabatan Kita Tak Akan Berakhir Kawan..Selamat Tahun Baru..



Lelah Atau Sedang mengantuk Ya?


















momen tak akan terlepas dari bidikanku..Lihat ..!

Ada banyak hal yang sudah terjadi setahun lalu..Introspeksi, terus berbenah menuju 2008 yang lebih baik..Terus belajar tuk berbuat lebih baik agar tak termasuk orang-orang yang mrugi...Selamat Tahun baru 2008

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.