Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Sunday, January 25, 2009

"Pesan apa mas?" seorang pelayan, laki-laki kurus kulit putih mendatangiku. ia menyodorkan lembaran berisi menu makanan. "
Ok sebentar," kataku. Mataku menyisir daftar menu yang tertera di kertas itu. Dari atas hingga kebawah, dari lembaran satu ke lembaran lainnya. Di lembaran kedua mataku tertuju pada satu menu, "Bakmie goreng".

****
"Bener ya pokoknya setengah jam lagi harus sudah sampai di Solaria. Awas kalau telat tak hancurkan,!" Sebuah pesan muncul dari yahoo messanger di CPUku. Sambil tersenyum aku mengambil tas hitam kebanggaan yang selalu saja menyertaiku. Aku langsung saja keluar menunggu angkot yang lewat depan tempat tinggalku.

Dari tempat tinggalku menuju Solaria tak begitu jauh. Sebenarnya jalan kakipun juga bisa sebab jaraknya tak sampai 2 kilometer. Seringkali aku berjalan jika malas menunggu angkot lewat. Meski sebenarnya aku cukup keluarkan uang 1000 rupiah saja.

Saat ini waktu menunjukkan pukul setengah 7 malam. Sesuai janji aku harus tiba disana jam 7 tepat kalau aku tak mau dihancurkan. Tak berapa lama menunggu angkot yang kutunggu-tunggupun lewat. Penumpangnya tak seberapa penuh. Hanya ada 5 orang termasuk sopir. 2 orang didepan dan lainya dibelakang termasuk aku.

Tak sampai sepuluh menit angkot sudah mencapai tujuan terakhir. Dari perhentian tersebut aku masih harus jalan kaki kira-kira 100 meter lagi. Di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta bagian Selatan tempat yang kutuju berlokasi. Kebetulan aku tinggal tak jauh dengan tempat tersebut.

Akupun terus melangkahkan kaki. Tempat ini memang tak seramai pusat perbelanjaan yang lain. Dari pengunjung yang datang kebanyakan dari kelas menengah kebawah. Malahan pada jam-jam tertentu sebagian besar yang terlihat ABG-ABG sekolahan.

Aku langkahkan kaki menuju tempat dimana kami akan bertemu. Terus terang ini kali pertama kami bertemu. Meski sudah sama-sama tahu, satu sekolah dan sekota namun jumpa secara langsung baru kali ini. Biasanya hanya saling ejek dan saling olok lewat yahoo messanger.

Aku terus saja mondar-mandir melihat-lihat barangkali dia sudah datang. Tak berapa lama diapun datang. Dia bersama seorang rekannya. Ah tak usahlah kusebutkan namanya. Sebut saja dia gadis pemilik mata sayu.

Kamipun berkenalan. Yah entah kenapa meski baru pertama ketemu diantara kami sudah ngomong ceplas-ceplos. Yah dan seringkali aku hanya tertawa-tawa. " Mas kenapa sih kok tertawa-tawa terus," tanyanya.

Seorang pelayanpun mendatangi kami. Disodorkannya buku menu. Saya cari aman saja, pesan nasi goreng seafood menu favorit. Sementara dia pesan Bakmie goreng. Dan temannya hanya pesan minuman saja. ah ngalor ngidul pembicaraan kami. Kalo disimpulkan mungkin saja enggak jelas.

Begitulah diawali dengan pembicaarn ga jelas dan diakhiri dengan pembicaraan ga jelas pula. Yah sayapun balik ke tempat tinggal. Kali ini saya tak naik angkot. Saya jalan kaki maklum untuk rute sebaliknya jalan kaki lebih cepat dibanding naik angkot. Biasalah kebiasaan ngetem para sopir angkot.

Kira-kira 15 menit saya sudah sampai di tempat tinggal. Seperti biasanya saya kembali duduk di depan CPU. Sekedar browsing dan mencari sesuatu siapa tahu bisa menjadi inspirasi baru. Maklumlah penulis harus senantiasa membaca semua yang ada di sekitarnya. tak boleh ada cerita kering ide.

Saat tengah asyik-asyiknya sebuah pesan dari yahoo messenger nongol. " Heh," yah gadis bermata sayu menyapaku. " Apa," jawabku. Kembali saling olok mengolok dimulai hingga " Eh, sudah kau tuliskan pertemuan kita yang tadi. Penting lo," sambil-sambil tertawa-tawa aku ngeles aja yah sekedar diingat-ingat saja orang tidak ada yang spesial kok diingat-ingat. orang hanya ngobrol ngalor ngidul tidak jelas.

Yah mulai lagi saling ejek-mengejek dimulai..habiskan waktu malam ini..

*****

"Pesan apa mas?" pelayan yang tadi sodorkan menu mengagetkanku.
"Oiya, nasi goreng seafood aja mas," jawabku.

Yah di sini, tempat yang sama kududuki pertemuan itu berawal. Awalnya pertemuan tak jelas namun entah mengapa berbagai cerita kami lalui. Pemilik mata sayu benar-benar mewarnai hari-hariku. Yah di suatu masa yang berbeda aku menyadari apa yang dulu pernah ia katakan akan pentingnya pertemuan itu nyambung juga meski dulu mungkin saja itu sebatas canda saja.

Yah meski sederhana bukan berarti ini semua mudah. Ada begitu banyak lika-liku yang tatkala kusadari aku benar-benar merindunya. Meski sangat sulit dan bukannya tanpa halangan dan rintangan. Namun aku selalu berusaha mengerti dan memposisikan diri sebaik-baiknya.

Tak berapa lama kemudian makanan pesanankupun sudah tiba. Perut lapar dan tubuh yang letih membuatku begitu lahap menyantap makanan. Di sela-sela makanku kuraih ponselku kuketik beberapa baris kata-kata.

"Pendar Cahaya Mentari Pagi Terpantul di Butiran Embun Diantara Dedaunan
Embun itupun bergerak begitu pelan sambil menyapa tiap-tiap mahluk sebelum jatuh ke bumi dan berusaha membalas senyumanmu hari ini"

ya sajak buat pemilik mata sayu. Sajak yang sering kususun untuk memaksa sedikit senyum nongol di raut mukanya...Selalu saja kebahagiaan hadir melihatnya bahagia. Dan duka ikut selimuti tatkala wajahnya muram durja..

Pelan-pelan kunikmati makananku dan anganku melayang-layang terbayang pemilik bibir tipis dan wajah sayu yang hingga kini masih mengisi hariku....Meski aku tak tahu seperti apa kisah kedepanku seperti apa tapi yang jelas aku sangat berterima kasih atas kemarin dan hari ini....


Pancoran, 25 Januari 2009


Saturday, January 24, 2009





Sang waktu terus berputar, tak terasa sudah lewat tengah malam. Hening, suasana kali ini. Kalaupun ada suara itupun berasal dari ketukan keyboards dan lantunan mp3 dari cpuku. Kali ini yang kunikmati musik-musik lawas dari grup musik Eagle. Satu yang favorit "Hotel California".

"On a dark desert highway, cool wind in my hair Warm smell of colitas, rising up through the air Up ahead in the distance, I saw a shimmering light My head grew heavy and my sight grew dim I had to stop for the night"


Menikmati kesunyian malam, merenung akan berbagai hal yang terjadi selama beberapa hari ini. Memahami berbagai cerita baik yang dirasa, dilihat, didengar untuk jadi pelajaran. Ada banyak hal yang ingin saya bagi.


Kemarin mulai dari Selasa sampai Kamis saya ada kerjaan di kota Gudeg Jogjakarta. Di sela-sela kesibukan selalu saya sempatkan untuk menikmati kota ini. Angkringan, satu hal yang terdapat di Jogja yang tak mau saya lewatkan. Saya selalu mampir, memuaskan diri menikmati berbagai makanan mulai dari sego kucing, teh angkringan, gorengan, sate telur puyuh, ceker, dan banyak lagi. Diantara angkringan yang ada, satu angkringan di depan Rumah Sakit Panti Rapih termasuk yang sering saya singgahi. Biasanya setelah berjalan disekitaran kampus UGM saya mampir.

Kemarin saya juga sempat sekali lagi mencoba menikmati trans Jogja. Memang rasanya lebih nyaman jika dibanding dengan naik bus kota. Naik bis trans Jogja dingin, pakai AC dan pengendaranya lebih ati-ati beda dengan bis kota yang asapnya seperti dapur, pengendara nya seringkali juga ugal-ugalan. Dengan kondisi seperti itu tak heran jika bus kota makin ditinggalkan. Saya juga sempat naik bus ini wah dari Malioboro hingga UGM penumpangnya hanya 2 gelintir.

Bertemu Cucu Sastrawan Terkenal

Ada satu hal menarik yang membuat saya kaget. Saya bertemu dengan cucu sastrawan terkenal salah satu yang menjadi idola saya. Lucunya saya sudah kenal lama teman saya yang satu ini namun baru sekarang tahu. padahal di buku karangan kakek temen saya ini jelas-jelas tercantum nama teman saya di bagian persembahan...hahaha..yah untuk menghormati temen saya biar ga jadi beban saya tak sebut merek.

Bersama cucu sastrawan terkenal dan seorang teman, saya sempat menikmati matahari terbenam di pantai Parangtritis. Sudah lama sekali rasanya saya tak berkunjung ke pantai ini. terakhir kali mungkin pada tahun 2003 kalau tidak 2004. Yang jelas waktu itu ada acara kumpul-kumpul dengan anak-anak persma Clapeyron.

Jam setengah 5 sore kami berangkat. Dengan sepeda motor kami menuju Pantai yang membuat seorang Didi Kempot terinspirasi menciptakan lagu campursari. Yah mas Didi yang teriris-iris saat berkunjung di Parangtritis.

"Rasane kepengin nangis yen kelingan parangtritis Rasane koyo diiris Naliko udah gerimis rebo wengi malem kemis Ra nyono ra ngiro janjimu jebul mung lamis"


Menjelang jam enam sore kami sudah sampai di parangtritis. Setelah parkir motor kami langsung saja menuju lokasi. Yah saya dan cucu sastrawan asyik dengan kamera masing-masing mengabadikan momen senja. Sementara temen satu lagi bingung mencari seseorang yang dalam smsnya katanya juga ada di Parangtritis. Yah saya puas sekali dengan hasil jepretan sore itu namun malang bagi temen cucu sastrawan ga sengaja hasil jepretanya kedelete. Untung saja ada foto lain yang terselamatkan.

Menikmati senja di Parangtritis bukan akhir dari wisata dan sekedar refreshing di hari itu. Atas referesensi temen si cucu sastrawan kami sempat pula menikmati sate dan tongseng di daerah Condongcatur. Konon menurut cerita temen saya jaman dulu si kakek yang sastrawan itu sering makan di tempat tersebut.

Di sebuah warung sate di utara terminal Condongcatur sambil menikmati sate dan tongseng seakan akan saya diajak ke masa lalu. Saya satu warung dengan si sastrawan dan menyelami lautan ide-ide untuk dituangkan menjadi sebuah karya sastra. Yah sate di Condong catur itu menutup cerita manis hari itu.
Pancoran, 25 Januari 2009

Tuesday, January 20, 2009



Gambir, sekali lagi aku menginjakan kakiku ditempat itu. Tempat dimana manusia datang dan pergi ke tujuannya masing-masing. Seperti aku kali ini, perjalanan menuju Jogjakarta. Kembali aku datang ke kota itu setelah terakhir kali pertengahan bulan Oktober yang lalu
.

Setengah jam lebih awal dari jadwal keberangkatan kereta, aku sudah tiba, diantar oleh seorang rekan kantor. Untung saja cuaca cukup baik meski sedikit ada titik-titik air tapi tak sampai membuatku basah kuyup dan jalanan juga tak macet.

Aku mendapat jatah duduk di gerbong nomor 1. Seperti biasanya aku tak pernah beruntung tiap kali naik kendaraan umum (hehehe). Menunggu kereta aku duduk di bangku paling ujung di sebelah Selatan. Sejenak akupun duduk coba menikmati malam ini. Yah meski sebenarnya ada sedikit hal yang tiba-tiba saja mengganjal fikiranku..entah itu apa.

Melihat orang sekitarku ada beragam ekspresi yang mereka tunjukan. Ada yang jemu menunggu sambil menikmati sebatang rokok, ada yang pencet-pencet hape, ada yang bersenda gurau dan aku sendiri ah diam saja. Aku diam saja mencoba menikmati saja.



Tak berapa lama kereta Taksaka tujuan Jogjakarta tiba. Orang-orang mulai bernjak menuju gerbong masing-masing. Tampak pula dua turis nampaknya dari Cina kebingungan. Hehehe..dia nunjuk2 angka satu aku coba memberi petunjuk hehe..dengan isyarat ajah..dan untung saja turis cina mak2 sama suaminya itu ngerti. Eh tak taunya mereka duduknya tepat didepanku.

Mengantuk, namun lapar begitu mengganjal perutku. Menunggu jatah snack dan selimut sebelum menikmati perjalanan. Yah perjalanan yang mengisi kehidupanku. Perjalanan yang dari satu tempat ke tempat lain mencari cerita baik itu sederhana atau luar biasa untuk dibagikan pada manusia.

Kereta Taksaka ACnya cukup diingiin. Untung saja kemarin baru beli jacket baru..hehehe lumayan tebal..dan cukup nyaman membantu diriku melawan hawa dingin di gerbong ini. Selepas perut terisi, aku coba pejamkan mata, meski ganjalan dalam fikiranku terbawa melayang-layang dalam alam mimpiku.

Setelah berjam-jam berada di atas gerbong kereta akhirnya sampai juga di stasiun Tugu. Perlahan keretapun berhenti dan aku melangah keluar menuju Mushola di stasiun, sekedar bersih-bersih diri dan laksanakan sholat Subuh.

Seperti biasa, tiap kali keluar dari stasiun selalu saja ada banyak tukang ojek, sopir taksi dan tukang becak yang bertubi-tubi menawariku. Namun kali ini aku ingin jalan kaki saja. Mumpung jalanan masih sepi dan udara masih bersih. Kulangkahkan kaki menuju kampus Universitas Gadjah Mada. Rencananya aku akan menginap di Wisma Kagama.

Kakikupun terus melangkah..yah Jogja yang jogja sekali..di sebuah ruas jalan depan SMA 3 Yogja seorang nenek-nenek mendekatiku. Ia minta tolong untuk dibantu menyeberang..Alhamdulillah, pagi hari aku sudah mendapat jalan untuk beramal semoga selanjutnya juga jadi berkah. Nenek-nenek itu bertanya-tanya aku mau kemana, kok sendiri, darimana. Dia tak menggunakan bahasa Jawa. Dia menggunakan bahasa Indonesia. Mungkn ia cukup berpendidikan namun tetap saja aku membalasnya dengan bahasa Jawa sebisaku.

Akupun lanjutkan langkahku..tiba-tiba terfikirkan olehku untuk naik biskota saat ada jalur 2 lewat. Langsung saja aku melompat naik bis kota yang lewat kampus UGM itu...

Sudut Pogung,
20 Januari 2009

Bersambung..

Saturday, January 17, 2009

Menulis Itu Penting
"Jangan anggap remeh penulis atau pengarang. Meskipun saat menulis mereka belum punya duit, seperti pak Pram pada saat itu (waktu masih di pulau Buru). Ternyata pemikiran atau ide-idenya bisa hidup, bahkan lebih lama dari usia fisiknya. Namanya dapat abadi," kata Wiryanto Dewobroto penulis buku-buku bertema Teknik saat menjadi pembicara Training Motivasi Penulis.

Acara ini diselenggarakan oleh Forum Anggota Muda Persatuan Insinyur Indonesia (FAM PII), Sabtu, 17 Januari 2009 di Kantor Pusat PII, Jalan Halimun Jakarta. Selain Wiryanto hadir juga pembicara lain yaitu M. Andi Zaki dari Teknopreneur serta Merry Magdalena dari Netsains.com.

Ada banyak hal yang disampaikan oleh pembicara berkaitan dengan serba-serbi menulis. Mulai dari alasan kenapa seseorang ingin menulis hingga bagaimana proses kreatifitas dari menulis itu sendiri.

Ada banyak alasan kenapa seseorang menulis. Menurut Wiryanto seseorang bisa saja menulis karena semata-mata sebagai ajang untuk aktualisasi diri atau bisa saja karena ingin mendapat nilai tambah dari hasil karya tulis yang ia buat. " Misalnya mendapat fee jika menulis sesuatu yang komersil," katanya.

Selain itu masih banyak alasan lain termasuk diantaranya sebagai sarana mengisi waktu luang dan meningkatkan percaya diri. Wiryanto sendiri mengakui sebelum banyak menghasilkan karya tulis dirinya merupakan sosok yang pemalu. Dari menulis itulah rasa pedenya mulai tumbuh.

Wiryanto yang saat ini dalam keseharian menjadi dosen di sebuah Universitas swasta di daerah Karawaci baru memulai aktivitas menulis pada tahun 2002. Waktu itu ia mendapat beasiswa kunjungan penelitian di Stutgart, jerman. Secara kebetulan ia diberi tugas profesor pembimbingnya untuk menulis hasil laporan dari sebuah penelitian. Ternyata tak diduga hasil tulisanya tersebut tampil di jurnal Internasional padahal sebelumnya tulisan yang pernah ia buat hanya skripsi S1 dan Tesis S2 saja.

Pengalaman ketika di Jerman itulah yang mampu menggugah hati dan kesadaran Wiryanto. Fakta itu menghasilkan pencerahan atau kesadaran diri yang mengubah dirinya. "Ternyata menulis dan dipublikasikan itu bisa dilakukan meskipun tidak punya pengalaman," katanya.

Saat ini sudah 5 buku dan 20 makalah telah dihasilkan oleh Wiryanto. Belum lagi termasuk 350 artikel yang ia posting di blog pribadinya. " Bayangkan, hanya karena perubahan paradigma saja semuanya berubah," katanya.

Pada peserta pelatihan Wiryanto mengungkapkan betapa pentingnya menulis. Ia berkeyakinan menulis selain membaca adalah hal penting dalam kehidupan spiritual manusia. Ia juga mengatakan untuk bisa menulis sesorang tak harus memiliki bakat seperti penyanyi. " Asal seseorang memiliki ketertarikan dan kemauan kerja keras suatu saat dia bisa menjadi penulis," katanya.

Menulis Hal Yang Dikuasai

Agar tulisan bisa dipertanggung jawabkan Wiryanto menganjurkan bagi peserta pelatihan untuk menulis hal yang dikuasai. Hal yang dikuasai tak berarti harus sama dengan ijasah seseorang namun sesuatu yang melekat pada seseorang baik dari belajar formal ataupun belajar sendiri. " Coba bayangkan, seorang Insinyur Sipil tapi ingin menulis tentang bagaimana membuat mesin pesawat terbang, padahal ia jelas-jelas tak pernah terlibat dalam hal tersebut," jelas Wiryanto.

Wiryanto menambahkan jika seseorang menulis hal yang tak dikuasainya itu akan menimbulkan pertanyaan bagi orang lain. Bahkan bisa saja timbul keraguan akan kemampuan dari si penulis. " Jika itu yang terjadi setelah buku jadi bisa saja tak ada yang membelinya," katanya.

Strategi Menulis yang Baik

Untuk bisa menghasilkan tulisan yang baik, khususnya tulisan publikasi ilmiah, Wiryanto menguraikan beberapa hal yang harus diperhatikan. Hal pertama adalah merumuskan dulu alasan-alasan apa yang membuat sesuatu pantas untuk ditulis serta siapa yang jadi sasaran. " Keduanya sangat penting tanpa mengetahuinya bisa-bisa tulisan sekedar seperti buku harian," katanya.

Selanjutnya ia menguraikan langkah-langkah yang bisa dilakukan. Langkah tersebut diantaranya memilih obyek yang tepat, menulis yang sesuai nalar dan logika serta perlunya membuat kerangka tulis.

Selain itu Wiryanto juga menekankan perlunya tampilan dari suatu tulisan. Seringkali suatu tulisan tidak diperhatikan apalagi dibaca akibat format tampilannya jelek. " Tampilan adalah nomor satu dan isi nomor dua," katanya.

Di akhir pelatihan Wiryanto juga berpesan pada peserta. Ia berharap lebih banyak Insinyur yang tergerak untuk menulis sehingga pengalamannya bisa dibagikan pada orang banyak. " Siapa tahu itu bisa menginspirasi anak-anak muda menjadi Insinyur yang lebih hebat," katanya.

Fathoni Arief

Baca Juga :

Menulis Itu Panggilan Jiwa




Sunday, January 11, 2009


Karya: Yudhistira A.M.

RUDI JALAK GUGAT


I
Anak-anak zaman yang slebor
Merayap di mana-mana
Tangan muda-mudi yang belum dewasa
Menggenggam kayu dan besi

Mereka bergerak memecahkan hari di kota-kota
Paling depan, Rudi Jalak berselendang
Giwang di kuping kanan
Celana blue jeans kemeja komprang

Anak-anak zaman yang slebor
Gentayangan bagai ruh penasaran
Beramai-ramai menghadang masa depan
Di setiap perempatan jalan

“Merangkaklah keangkuhan, jika ogah terempas
Menepilah kesangsian, jika ingin punya arti?”

Mereka membalikkan seluruh nasib yang simpang siur
Satu generasi mengepalkan nurani
Menggugat nyali yang lama dipupuri

Rudi Jalak tak lagi bertanya
Alam sudah tak sabar mengepakkan nurani
Menggugat nyali yang lama dipupuri

Rudi Jalak memimpin seluruh barisan
Membabat angan-angan, mengganyang kebebasan
Cuaca awut-awutan, bencana jadi obyekan
Siapa orang yang tak senewen?

Para guru tak berdaya
Orang tua hanya ternganga
Dan polisi semata saksi
Sedang korban: urusan belakang

(Jakarta kelabakan!)

II
Anak-anak zaman yang slebor
Merangsang berbagai pembicaraan
Tapi mereka tak pernah didengar
Setiap komentar hanya sok pintar

Rudi Jalak dan kawan-kawan
Lalu ditunggangi berbagai tuduhan
Tangan mereka yang belum dewasa
Akhirnya menewaskan seorang pengantar barang

Tidak. Mereka tak juga didengar
Para pimpinan sibuk sendiri di ruang rapat
Lalulintas macet
Toko-toko ditutup serentak

Anak-anak zaman yang slebor
Petentengan di jalan-jalan
Menyedot Whisky plastik seratusperakan
Menghirup tiah hitam dari kanlpot yang sliweran

Rudi Jalak setengah edan

Dibacakan di acara Sastra Ruang Kota, 10 Januari 2008

Foto : MF.Arief

Friday, January 09, 2009



Memulai hari dengan segelas kopi susu panas, sekepal semangat dan setitik harapan. Harapan itulah yang selalu saya jaga. Dengan harapan saya hingga saat ini masih terus bisa bertahan. Bertahan dan mencoba melompat lebih tinggi. Gagal bangkit lagi, gagal bangkit lagi, terus demikian selama masih ada tenaga, dan nyawa.

Kemarin siang saya sempat berkunjung ke sebuah toko buku besar di bilangan Matraman. Rencana awal saya ingin mencari majalah-majalah seputar fotografi. Saat ini saya memang sedang hobi-hobinya motret-memotret. Mencari ilmu-ilmu baru seputar itu. Beberapa waktu lalu saya pernah membeli majalah seputar tema itu, isinya menarik begitu juga dengan harganya.

Awalnya saya pada tujuan semula. Mengitari toko buku yang luas, mencari-cari majalah. Saya sempat membuka-buka beberapa majalah dan sedikit membacanya. Namun entah kenapa sementara saya menunda mengambil majalah dan mencari buku-buku lain yang kemungkinan ingin saya beli.

Setelah cukup lama melihat-lihat buku akhirnya perhatian saya tertuju pada sebuah buku berjudul " the miracle of giving". Sebuah buku karya Yusuf Mansur yang dikenal lewat keutamaan sedekahnya. Sebenarnya sudah lama saya tahu buku itu namun baru kali ini ada keinginan untuk membawa pulang ( baca : membeli..hehe biar ga dikira ngutil). Yah setelah saya membayar ke kasir resmilah buku itu jadi milik saya.

Sedekah, sedekah dan sedekah itulah sekilas yang saya dapat dari buku ini. Sekilas saya membacanya dan sedang menyelesaikan. Sangat menarik memang, seperti bagaimana sedekah ternyata tak membuat jatuh miskin. Justru harta yang disedekahkan sesuai dengan janji Allah akan menjadi sepuluh kali lipat meskipun bentuknya tak harus materi bisa juga hal lain yang seringkali tak disadari.

Memang semua kembali pada percaya, harus yakin akan janji Allah. Hehe meski terus terang sulit juga lo memberi itu. Seringkali orang hanya berpatok pada angka 2,5 persen padahal itu belum cukup. Kata pak Yusuf Mansur dalam bukunya itu cukup jika dosa-dosa, maksiat yang kita lakukan sedikit mendekati nol dan amalan kita mendekati sempurna. Hehehe..Padahal wah tahu sendiri..contohnya tak usah jauh-jauh saya sendiri masih jauh dari itu.

Rasanya tak rugi membeli buku ini. (Pendapat pribadi..bukan promosi lo). Dengan uang yang bisa dengan mudah saya habiskan untuk hal lain ditukar dengan sebuah buku yang berisi ilmu pengetahuan agama dan bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Oiya satu lagi menurut buku ini kalau pingin cita-cita cepat terkabul selain sedekah diperbesar jangan lupa sholat malam (hihihi..ini yang sulit), Dhuha, puasa sunah, dan Sholat wajibnya kualitasnya ditingkatkan. Hehehe..yah sekarang tinggal praktek-praktek dan praktek..itu yang sulit yah...

Hmm..Yah semoga saya bisa mengamalkan meski dengan keterbatasan saya. Salam sapa bagi semua. Doaku bagi semua orang yang kusayang dan semua mahluk di dunia baik itu jin atau manusia..hehehe..

Salam Senyuuuummmmm

Pancoran, 9 Januari 2009


Saturday, January 03, 2009


Free As A Bird,
It's the next best thing to be free as a bird.
Home, home and dry
Like a homing bird I fly, as a bird on wings
Whatever happened to the life that we once knew
Can we really live without each other
Where did we lose the touch
That seemed to mean so much
It always made me feel so
Free as a bird,
It's the next best thing to be, free as a bird.
Home home and dry
Like a homing bird I fly--a bird on wing
Whatever happened to the life that we once knew
Always made me feel soooo
Free

Free as a bird
It's the next best thing to be
Free as a bird
Free as a bird
Free as a bird

(The Beatles)



Pagi ini entah kenapa saya teringat dengan seorang sahabat saya. Dia merupakan teman dekat waktu kelas III SMU. Dari temen saya inilah saya dulu sering mendapat tambahan ilmu-ilmu matematika, fisika dan kimia. Terus terang mata pelajaran eksak tersebut kurang saya kuasai waktu itu.

Ya kini kami masing-masing di jalan yang berbeda. Sahabat saya selepas SMA masuk ITB jurusan Teknik ELektro dan lulus tepat waktu. Kini dia kerja di sebuah perusahaan yang berkantor di Pojok Pancoran. Sedangkan saya selepas SMA masuk UGM jurusan Teknik Sipil lulus agak molor dan memilih bekerja di bidang jurnalistik.

Sudah lama kami tak berjumpa. terakhir kalau tidak salah setahun yang lalu. Saat kami main Futsal di Kuningan. Waktu itu saya sempat numpang nginap di kos-kosannya yang terletak di daerah perdatam. Setelah itu teman saya mempersunting gadis pujaannya yang masih satu almamater dari SMU yang sama. Kebetulan istri teman saya itu adalah teman sekelas adik saya.

Begitulah akhirnya teman saya menikah dan menjalani bahtera kehidupan bersama istrinya. Setelah sempat mengontrak didaerah Kuningan kini mereka sejak enam bulan yang lalu membeli sebuah rumah di perumahan Mutiara Depok. Rasanya kehidupan mereka makin sempurna apalagi setelah lahirnya putra pertama mereka.

Lama tak berjumpa ada banyak cerita yang kami bagi tadi. tentang semuanya. Tentang pekerjaan, kisah rekan-rekan yang lain pokonya tentang semuanya. Ah lagi-lagi muncul pertanyaan yang sama. Kapan menyusul? ntar habis itu, mbok beli rumah di daerah sini saja nanti kan dekat...Ah selalu saja sebuah jawaban yang sama..jawaban yang terwakili oleh tertawa kecil saja..hahaha..

Melihat mereka saya turut bahagia, apalagi jika mengingat kisah masa lalu teman saya yang bisa dibilang memilukan. Ah mungkin saja benar "Kebahagiaan selalu ada masanya".

Doaku untuk kebahagiaan dan keselamatan semua rekan-rekanku....Meski dalam hati aku masih bertanya-tanya kapan masa itu mendatangiku?...

Sudut Pancoran 3 Desember 2008

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.