Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Friday, October 31, 2008

Selamat Pagi Semua...Selamat hari Jumat...

Dunia ini indah karena ada beragam warna merah, kuning, hijau, biru, ungu dan seterusnya. Lebih indah lagi jika warna-warna itu berkolaborasi hingga yang tercipta adalah komposisi yang indah. Begitu juga masyarakat, indah karena ada beragam orang dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang baik, buruk, dewasa, kekanakan, murah hati, sombong, pemarah, pemaaf, begitulah seterusnya. Semua jadi pelengkap yang mampu memberi warna dan rasa.

Sebenarnya yang tadi saya penjelas dari apa yang akan saya ceritakan selanjutnya. Tentang masyarakat kecil yang bernama milis. Di negeri antah berantah ada sekumpulan manusia yang tergabung dalam sebuah milis. Tiap hari di milis mereka berbagi cerita, berbagi pengalaman, berbagi unek-unek. Namanya milis, namanya sekumpulan orang tentunya yang ada di dalamnya juga berbagai orang dengan karakteristik yang berbeda pula.

Akhir-akhir ini milis di negri antah berantah itu sedang ramai, panas-panasnya, tengah heboh. Ada seorang superhero yang mencoba tampakkan diri di milis itu. Katanya sih dia pembela kebenaran yang paling hebat, yang paling jago, paling sucilah dan yang lain mungkin hanya dianggap cecunguk saja. Maka tampilah sang superhero dengan berbagai posting-postingan yang sering panaskan telinga. Apesnya lagi mereka yang merasa panas eh jangankan panas sedikit tak setuju saja sudah dianggap lawan yang harus dibasmi...Wowowo..pakai ancam-ancaman sorhg dan neraka ssegala..saat ini sang tokoh utama dalam lakon milis negeri antah berantah itu mungkin hanya sebatas superhero entah apakah besok ia jadi seorang nabi..

Dunia ini Panggunng Sandiwara..ceritanya mudah berubah..

Monday, October 27, 2008


Selamat Pagi di Hari Senin...Semoga semangat baru selalu menyertai kita..

Minggu kemarin saya datang di acara halal bihalal alumni Tulungagung di gedung PU Jakarta. Di acara ini hadir alumni dari mereka yang pernah sekolah di Tulungagung lulus dari tahun 60an hingga di atas 90an. Menurut salah seorang panitia awalnya di acara tersebut tamu yang datang diperkirakan hanya 200an saja namun ternyata melebihi target. Sampai-sampai banyak yang tidak kebagian makanan.

Ada banyak hal menarik yang saya tangkap dari acara itu. Terutama saat melihat ekspresi dari mereka yang bertemu kembali setelah bertahun-tahun tak berjumpa. Mungkin mereka dulunya orang yang sangat dekat. Saya terbawa suasana pertemuan-pertemuan tersebut. Entah kenapa saya juga ikut terharu.

Memang persahabatan, pertemanan memang tak lekang ditelan masa..Saya jadi teringat kembali sahabat-sahabat saya mulai dari SD, SMP, SMA, Kuliah yang satu demi satu telah berpencar entah kemana. Semoga suatu saat ada kesempatan, momen yang menyatukan kami kembali....



Kini kita saling berpandangan saudara.

Ragu-ragu apa pula,

kita memang pernah berjumpa.

Sambil berdiri di ambang pintu kereta api,

tergencet oleh penumpang berjubel,

Dari Yogya ke Jakarta,

aku melihat kamu tidur di kolong bangku,

dengan alas kertas koran,

sambil memeluk satu anakmu,

sementara istrimu meneteki bayinya,

terbaring di sebelahmu.

Pernah pula kita satu truk,

duduk di atas kobis-kobis berbau sampah,

sambil meremasi tetek tengkulak sayur,

dan lalu sama-sama kaget,

ketika truk tiba-tiba terhenti

kerna distop oleh polisi,

yang menarik pungutan tidak resmi.

Ya, saudara, kita sudah sering berjumpa,

kerna sama-sama anak jalan raya.


(WS Rendra. Sajak Kenalan lama)



Saturday, October 25, 2008

Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya...

(Joko Pinurbo).

Akupun Terus Terbang Tinggi, Arungi Angkasa, Membelah Langit, Lukis dan Warnai Sakrawala dengan Misteri Senja...Baru Sepenggal perjalanan, masih terlalu banyak hal yang belum kudapatkan...(Sang Elang)

Satu cerita dari perjalanan ke kota Jogjakarta. Kali ini saya kembali ke kampus tercinta Gadjah Mada Jogjakarta namun bukan sebagai mahasiswa layaknya dahulu kala. Saya datang sebagai sosok "penyampai kisah" lewat goresan kata-kata. Saya mendapat tugas dari kantor untuk mewawancarai rektor UGM, Prof. Dr. Ir. Sudjarwadi, MEng. Namun sayang pak rektor yang dulu pernah jadi dosen saya itu ada satu agenda ke Jepang sehingga diwakilkan ke wakil rektor, Prof. Ainun Naim.

Balairung, melihat gedung tua itu masih seperti dulu. Masih tetap kokoh, menyimpan sejuta kisah dan cerita bagi ratusan ribu alumninya yang tersebar di berbagai pelosok tanah air. Melihat gedung ini saya teringat saat pertama kali diterima di UGM. Dalam sebuah acara malam penutupan inisiasi kampus, kami dikumpulkan di depan gedung bersejarah itu. Kami terpesona dengan aksi teatrikal dan kata-kata menggelitik dari Sudjiwo tedjo. Tak terasa sudah cukup lama juga hal itu berlangsung dan tahu-tahu kini saya harus keluar dari kampus biru itu.

Saya sengaja tak menggunakan kendaraan ketika berkunjung ke UGM kali ini. Bukannya apa namun hanya ingin sekedar merasakan tiap langkah yang saya lakukan. Langkah demi langkah yang ingatkan akan berbagai hal baik suka maupun duka. Semuanya ada di Gadjah Mada..Biarlah semua kisah ditelan oleh perjalananku..biarlah sedih terhapus oleh pengalaman baru dan begitu seterusnya tak ada kisah sedih bagi seorang yang arungi perjalanan sebab semuanya selalu berubah..

Di kantor Wakil Rektor saya mewawancarai Prof. Ainun. Ada banyak hal yang saya dapatkan dari wawancara ini. Selalu saja saya dapatkan hal baru, pengetahuan baru. Ternyata saya yang hanya jebolan S1 tak minder harus wawancara pak Prof yang ilmunya jauh lebih banyak dari saya. Begitulah..cerita berkisah.

Yah masih banyak hal lain dari pengalaman Jogja yang ingin saya kisahkan...namun mungkin bukan sekarang..

Sore Mendung tutupi langit..Senjapun tak kuasa tunjukan seribu keindahan misterinya..

Jakarta, 25 Oktober 2008

Monday, October 20, 2008

Usai tak menyapa.....

Semoga Pagi hari membawa semangat baru. Semangat untuk bangkit tidak lagi menoleh kebelakang namun menatap kedepan dengan spirit yang pantang menyerah.

Memulai dengan keteguhan hati. Yak benar keteguhan hati, itu yang saat ini sedang saya lakukan. tetap tegar dengan apapun yang dihadapi. Bertanggung jawab atas pekerjaan dan semua yang telah diamanahkan. Bukan untuk pamrih atau apa. kembali mengutip kata Rendra "Bukan demi sorga atau neraka namun demi harga diri sebagai manusia".

Ayo semangat..Ayo tandang.." satu hal yg tidak akan berubah,bahwa perubahan itu perlu. Barangsiapa hari ini lebih buruk dari yg lalu mk dia akan dilaknat Allah. Barangsiapa hari ini sama saja dengan kemarin, maka dia adalah org yg rugi..." kata Yusuf..

Dengan latar belakang gubug-gubug karton, aku terkenang akan wajahmu. Di atas debu kemiskinan, aku berdiri menghadapmu. Usaplah wajahku, Widuri.

(Sajak Joki Tobing untuk Widuri)

Melihat Senyumanmu membelah segenap penjuru Pandangku..Obrak abrik resahku..Ini cerita kita yang terjebak waktu dan biarkan menjadi apa saja..(Tuk SA)

Jakarta di Pagi hari, 20 Oktober 2008




Saturday, October 18, 2008

Selamat Pagi, Semua..Selamat Pagi Di Hari Sabtu, spirit kembali bangkit, kembali bersinar. Memulai hari sambil mendengarkan Winamp. Satu lantunan suara dari Lobow, Terus bersinar menemai membuka hari..

Bila janji terus kau genggam pastikan cahaya jiwamu takkan redup Bila hati terus terjaga pastikan keajaiban menanti di hadapanmu (lobow)


Kemarin malam saya hadir di acara Halal Bihalal Keluarga Alumni UGM, Muda (KAGAMA MUDA). Entah kategori muda itu yang seperti apa namun memang jika berada diantara mereka saya jadi muda lagi..hehehe..Saya mendapat informasi kumpul-kumpul alumni tersebut sebenarnya baru pada pagi harinya. Entah kenapa saya terdorong untuk harus hadir...harus hadir..

Dalam acara Halal bihalal yang berlangsung di Bellagio Boutique Mall saya datang bersama Izzul. Rekan plek, sesama angkatan 2000, yang tinggal tak jauh dari tempat saya. Menurut jadwal acara tersebut berlangsung jam 18.00 hingga selesai. Jam setengah enam kurang kami berangkat...dengan bersusah payah menembus macetnya jalan akhirnya kami sampai juga di bellagio boutique Mall, kuningan.

Ada yang unik dalam acara halal bihalal tersebut. Alumni yang datang dibedakanoleh 3 warna setelah ditanya dulu swasta atau negeri. Saya mendapat warna kuning, karena kebetulan saya orang swasta, dan rekan-rekan yang PNS mendapat stiker warna merah. Ada juga warna hijau yang kalau tidak salah pengurus. Di acara tersebut hadir dedengkot KAGAMA. Ada Pak Hamid Dipopramono, Pak Heru Dewanto, dan banyak nama-nama lain.

Ternyata ada juga senior saya dari teknik sipil yang hadir. Ada mas Aries dan Gema angkatan 98 kalau tidak salah. Mas-mas ini cerita banyak hal. Mulai dari kerjaan, hingga keluarga, 2 mas-mas ini termasuk keluarga-keluarga muda. Mas Aries baru saja menikah beberapa bulan lalu, mas gema sudah punya anak namun baru setengah tahun. Ternyata dalam urusan ini masih kalah dengan Izzul yang anaknya sudah 1,5 tahun..hehehehe.

Acara halal bihalal tersebut formatnya santai. Ada juga sambutan dari alumni dan unjuk suara. hehehe yang menarik ketika Pak Hamid nyanyi lagunya Yovie An The Nuno, Janji Hati, ternyata Wapimred Jurnas ini gaul juga...hehehe.

Yah baru kali ini saya datang di acara kumpul-kumpul alumni UGM. rasanya saya memang harus aktif dalam acara kumpul2 seperti ini..ada banyak pengalaman dan cerita yanng harus saya serap sebagai bekal terbang kitari dunia..

Jakarta, dalam kesunyian,..................

pastikan cahaya
jiwamu takkan redup
dan terus bersinar.



Tuesday, October 14, 2008

Selamat Pagi...Bangun pagi, Menghirup udara yang masih segar, setelah istirahat dari aktifitas seharian. Ditemani segelas kopi susu panas dan lantunan musik lawas apik feelingnya "Morrys Albert". Memang, saat-saat seperti ini sangat menentukan, semangat baru harapannya mampu terbawa hingga seharian penuh beraktivitas.

Seperti biasa, saya yang selalu resah tuk berkisah. Tak bisa untuk tak bercerita. Tentang apa saja, tentang aku, kamu, kita, dia, mereka, tentang semua saja.

Meski tak menjalani profesi sesuai dengan bidang saya bukan berarti saya tak menyukai dengan ilmu-ilmu Teknik Sipil dimana saya pernah kuliah. Terkadang saya akui rindu juga ingin bekecimpung dengan Mekanika Tanah, Struktur Bangunan, Drainase, tak lupa Hidrologi.

Saya akan cerita tentang nama mata kuliah yang terakhir saya sebut, Hidrologi. Saya jadi ingat, Hidrologi, ilmu sederhana yang kompleks, yang membuat saya harus ambil mata kuliah ini empat kali. Bayangkan empat kali dan baru kali keempat saya diluluskan. Entahlah, baru dikali keempat saya dengan segenap tenaga itupun cuma diberi nilai C. Inilah yang membuat saya bertekad meski dulu Hidrologi hanya mendapat nilai C suatu saat saya akan jadi pakar, ahli yang lebih hebat dari orang yang memberi saya nilai.

Hehehe..mungkin terkesan agak emosional..tapi emang begitulah. Tapi bagaimanapun saya berterima kasih pada pak Profesor yang menurunkan ilmunya pada saya. Pak Profesor yang mungkin terlalu menyayangi mahasiswanya sampai2 harus empat kali ambil mata kuliah ini..hehehe...Maafkan saya pak. Saya tak akan lupa penyedotan air secara besar-besaran mampu sebabkan intrusi air laut di Jakarta, besarnya surface run off timbulkan banjir, dan kondisi sungai kita benar-benar kritis. Saya masih ingat semuanya prof..hehehe. Yah minimal di media blog saya akan sampaikan pada semua orang tentang itu.

Selamat Pagi Prof...Semoga anda sehat selalu..

Sunday, October 12, 2008

Delapan tahun, waktu yang memisahkan kami. Bergelut dengan kegiatan masing-masing. Berada di jalan yang berbeda...Delapan tahun akhirnya kami berjumpa kembali. Meski sebenarnya diantara kami ada juga yang masih berkomunikasi.

Plasa Semanggi kemarin malam menjadi saksi berjalannya waktu berarti sebuah perubahan. Ya tentu saja kami sudah berbeda dengan delapan tahun lalu saat baru lulus SMA. Kami berkumpul dengan profesi yang beda, nasib yang beda, kondisi yang beda, kenampakan yang beda..yah kami berjumpa dalam obrolan santai sambil menikmati senja hingga malam di Jakarta.

Diantara kami ternyata banyak yang sudah berkeluarga. Bahkan ada yang sudah punya putra dan kebetulan diajak dalam pertemuan itu. Sampai-sampai ada yang gemas dengan putra salah seorang rekan saya, membajak anaknya..hehehe

Saling tukar pengalaman juga jadi tema malam itu. Kamu sekarang kerja dimana? loh..hehehe ternyata banyak juga yang masih kaget dan tak percaya atas profesi yang saya geluti. Emangnya kenapa..?..hehehehe..seperti biasa jawaban saya tiap kali ditanya kerja dimana? saya hanya pengembara saja..hehehe

Yah begitulah pertemuan...jalinan silaturahmi..pererat lagi persahabatan....kami dulu satu Sekolah..Meski kini masing-masing punya kehidupan beda.

Saturday, October 11, 2008

Resah Jika Tak Berkisah.....Akhirnya saya ada hasrat untuk membagi kisah dan pengalaman saya di bumi Papua Barat.

Manokwari, papua Barat, satu anugerah bagi saya mendapat kesempatan berkunjung kesana. Ini kali pertama saya kesana. Maka jauh-jauh hari saya sudah bersiap dengan kendala dan tantangan yang kemungkinan bisa saya hadapi selama di sana. Saya banyak mendapat informasi dari internet terutama mengenai transportasi, penginapan dan satu yang membuat waspada adalah siap-siap minum pil kina sebelum berangkat, maklumlah Papua barat masih merupakan wilayah endemik Malaria, katanya.

Selain masalah transportasi, penginapan serta malaria satu hal lagi informasi saya peroleh di Papua kita hanya bisa menggunakan layanan komunikasi GSM dari dua operator saja: Telkomsel dan Indosat. Terkadang di daerah tertentu hanya satu saja yaitu Telkomsel, maka sayapun bersiap membeli kartu perdana cadangan menggantikan nomor XL saya. Di Manokwari XL benar-benar tak bisa dipergunakan.

Dari Jakarta Menuju Manokwari saya memutuskan naik Batavia Air. Dari seorang kenalan yang pernah ke Manokwari juga menyarankan saya naik Batavia saja alasannya transitnya hanya sekali dan tidak lama. Dari Jakarta berangkat pukul 22.15 WIB dan sampai di bandara Rendani pukul 06.15 WIT. Antara Jakarta dan Manokwari ada selisih waktu 2 jam.

Dari Jakarta saya sudah memesan tiket Jakarta Manokwari dan sebaliknya. Tiket Jakarta Manokwari saya dapatkan seharga Rp. 1.900.000an sedangkan dari Manokwari ke Jakarta Rp. 3.400.000,an. Wah lumayan juga 5 juta hanya untuk beli tiket pulang pergi.

Bersambung...


Thursday, October 09, 2008

Akhirnya kesampaian juga nonton Film laskar Pelangi....

Semalam Saya nonton bareng laskar Pelangi di Plaza Senayan. Awalnya saya kuatir tak mendapatkan tiket namun ternyata hal itu tak terjadi. Justru hampir separuh kursi ternyata kosong. Kami bertiga akhirnya bisa menonton Film yang diangkat dari Novel karya Andrea Hirata tersebut....

Cerita tentang guru di daerah sulit, terpencil, dengan kondisi sekolah mengenaskan bukan hal yang menarik bagi saya waktu menonton film itu. Selama ini sering saya menjumpai sekolah dengan kondisi seperti itu dengan guru-guru yang kisahnya tak kalah luar biasa. Yang membuat saya tertarik adalah beberapa tokoh dan kata-kata inspiratif dan menggelitik yang ada dalam film itu.

Tokoh yang menarik bagi saya ada 2 : Ikal dan Mahar..Tokoh Ikal menggelitik bagi saya diantaranya ketika ia menuliskan puisi dan diberikan ke Aling. " Apakah kau tidak suka dengan puisi?" tanya Ikal dan jawab Aling " Aku suka. Aku sudah menyalinnya dalam buku harianku. Kau simpan saja yang asli,"....tiba-tiba ada suara yang ikut kata-kata si aling dari samping saya sambil ketawa-ketawa. Satu lagi saat tiba-tiba Mahar nyeletuk pada si Ikal "Puisi yang ditulis orang lagi jatuh cinta biasanya dahsyat boy.."..Ada lagi yang ketawa-ketawa di samping saya.

Janganlah engkau percaya dengan asmara
Janganlah engkau percaya dengan asmara
Sekarang bukan bermenung dalam termenung
Sekarang bukan bermenung dalam termenung
Mari bersama oh sayang memetik bulan
Mari bersama oh sayang memetik bulan
Mari menyusun seroja bunga seroja

Hiasan sanggul remaja putri remaja
Rupa yang elok dimanja jangan dimanja
Pujalah ia oh saja sekedar saja

(dari lirik lagu Seroja)

Tokoh selanjutnya adalah Mahar. Sosok yang unik dan nyentrik menurut saya. Seniman yang seringkali di anggap aneh dengan segala tindakannya. Hahaha..seperti menyindir diri saya sendiri. Saya jadi ingat cita-cita saya waktu kecil sempat ingin jadi seniman saja. Satu lagi adegan mahar sedang menjemur baterai. Mengingatkan saya akan masa dimana sandiwara radio begitu populer. Sering batterai habis agar bisa ngikuti ceritanya karena belum beli, batterai soak pun tak masalah asal dijemur dulu.

Mengenai kata-kata yang paling menyentuh bagi saya adalah " sebanyak-banyaknyalah memberi..bukan sebanyak-banyaknya menerima"..yah mirip lebih pemurah dari angin yang mendesir kali ya..Laskar Pelangi, memang film yang bagi saya cukup bagus layak dan sehat untuk ditonton...

"Biar kusimpan yang asli ya,"..hehehehe

cinta kepada hidup

memberikan senyuman abadi

walau hidup kadang tak adil

tapi cinta lengkapi kita

(Nidji)





Wednesday, October 08, 2008

Sengaja saya ingin berkisah tentang teman saya ini. Judul ini bisa diartikan dalam arti sangat luas karena selama ini saya banyak berkecimpung dengan hal-hal yang dekat dengan pendidikan. Namun untuk kali ini sengaja saya persempit saja. Saya cerita tentang teman kecil saya mungkin lebih dari itu dari SD hingga SMA yang kini berprofesi sebagai seorang guru.

Namanya, M Errik Maulana. Saya sudah mengenalnya 20 tahun lalu ketika menginjak bangku Sekolah dasar. Sosok yang jika melihat jauh kebelakang sebenarnya tak ada tanda-tanda kalau suatu saat memilih berprofesi sebagai guru. Tapi begitulah kehidupan, panggung sandiwara yang ceritanya mudah berubah.

Sosok teman saya ini sebenarnya lebih dekat dengan dunia olahraga. Waktu SD dulu dia pelari tercepat di kelas, saya tak mampu tandingi kecepatannya dalam berlari pada waktu itu. Saya hanya berada di urutan ketiga. urutan kedua teman saya, namanya Nurhadi Cahyono, yang dulu sempat aktif di atletik juga. Begitu juga dalam lompat jauh. Saya kalah, apalagi dengan cedera waktu seleksi untuk mewakili SD. Lompatan terjauh saya itu jadi yang terakhir pada waktu itu. Saya hanya lolos seleksi namun karna cedera engkel tak mampu ikut lomba. Hanya sebagai kontingen yang tak berlomba. Satu lagi cabang yang dekat dengan teman saya adalah sepak bola. Dari SD hingga SMA bahkan sampai sekarang.

Melihat teman saya saat ini sudah jauh berbeda. Saya salut dengan keputusan untuk menjadi guru. Apalagi tempat lokasi dia mengajar saat ini adalah SMK yang baru menginjak dua tahun ini berdiri. Lokasi sekolah tempat dia mengajar juga lumayan jauh didaerah pegunungan dekat dengan waduk Wonorejo tulungagung.

Kemarin lebaran saya sempat main ke rumahnya. untuk silaturahmi dan seperti dulu-dulu cerita tentang pengalaman masing-masing. Namun kali ini saya yang dapat banyak informasi, pengalaman menarik dari teman saya itu.

Meski masih GTT saya salut dengan semangat teman saya untuk berjuang di bidang pendidikan. Bagaimana dia memperhatikan murid-muridnya, promosi agar banyak calon siswa yang masuk ke sekolah tersebut dan membuat inovasi di tengah guru-guru senior yang mungkin sedikit beda cara pemikirannya.

Pak Guru Errik, begitu teman saya sering dipanggil oleh murid-muridnya. Hmm,..salut teman dengan perjuanganmu. Semoga apa yang kau perjuangkan meski saat ini belum bisa terasa sudah jadi investasi besar di Akhirat sana. Satu lagi untunglah pak guru ini ternyata memiliki istri yang juga berprofesi sama. Semoga bisa saling mendukung...Majukan pendidikan di tanah kelahiran kita Tulungagung..

Lain kesempatan saya akan cerita bagaimana kondisi pendidikan di tempat teman saya bertugas.





Tuesday, October 07, 2008

Selalu resah untuk bercerita, itulah saya...

Saya akan berbagi cerita tentang kota kelahiran saya, Tulungagung. Satu anugerah bagi saya lebaran kali ini masih bisa pulang ke kampung halaman, bertemu, berjumpa, bersua dengan orang-orang tercinta.

Berbeda dengan ibukota senja, Jakarta, tempat saya bekerja membanting tulang mengais harapan dan cita-cita, Tulungagung jauh dari hingar-bingar, tak ada macet, jauh dari asap, dan hiruk pikuk pusat negara. Kota kecil, yang mulai menggeliat, ramai namun masih nyaman, tenang tak seperti di jakarta.

Saya sempat berkeliling kota kecil ini. Dengan sepeda motor saya berkeliling, tujuan tak jelas yang penting berkeliling kota kecil ini hingga pelosok pelosok. masih saya lihat hamparan persawahan, jalanan yang sepi, gunung, sungai, pasar tradisional, ah saya selalu jadi ingat " Kali ini saya bukan di Jakarta,". Saya di Tulungagung.

Berjumpa kerabat dan rekan juga jadi saat yang membahagiakan bagi saya. Rekan-rekan sekolah dulu yang sebagian sudah berkeluarga. Ada yang menjadi guru, dosen, pegawai pemerintah, hidup sederhana di kota kecil. Dari seorang temen yang memilih kembali ke Tulungagung " Materi bukan segalanya", kata-kata yang membangunkan kesadaran saya. Betapa indahnya jika segera mungkin saya bisa kembali ke Tulungagung. namun masih ada tugas berat yang membuat saya harus bersabar, satu ketika aku kan kembali pulang.

Diantara tempat yang saya kunjungi adalah sebuah jembatan gantung di sungai Lembu Peteng. Ah sedari dulu saya hanya mendengar tentang keberadaan jembatan yang sebenarnya sudah cukup tua itu. Mumpung lewat saya coba mampir telusuri sungai sambil bayangkan kisah seorang Pangeran dari Majapahit yang terbunuh hingga namanya diabadikan menjadi nama sungai ini.

Selain itu saya juga sempat singgah ke lereng Gunung Wilis. Gunung yang membawa imajinasi saya akan cerita-cerita silat dalam sandiwara radio. tempat para pendekar yang sembunyi atau tengah menyepi. pandangan saya menembus pepohonan pinus yang hanya sedikit bergoyang meski tertiup angin gunung.




Kampung halaman...Tulungagung. Ah tak tahulah kapan saya akan kembali kesana..



Memandangi Waktu Melihat Satu Cerita,
Kuceritakan Diriku yang Telah Berada Di Ambang Senja,
Ini Aku, yang mengenalmu di Antara Perbedaan Masa,
Perbedaan Dunia, Sebenarnya Dunia kita Sama Meski sebenarnya juga Berbeda,
Sama Karena Kita Masih Sama-Sama Bersua,
Beda karna Aku Di Ambang Senja Sedang Dirimu,
Masih Bersuka Selepas Memandang Fajar
Dalam resahmu Dan Resahku Akan Masa kita Berjumpa,
Malam yang Menyatukan kita..

Katamu,
Aku mengenalmu Dalam Sebuah Penggalan Masa
Dalam Dunia yang berbatas Jarak Antara Fajar Hingga Senja,


Yah Selaksa, Dan Selaksa, rasa Rindu Bisa Menyatukan Waktu
Rasa Rindu Untuk Tak Lagi Merajut Aksara, Dan Hanya Lantunkan Kisah-kisah Abstrak Yang Sering Kau tanyakan Tentang Harapan, Impian, Dan Cita-cita
Merindu Merajut Kenyataan Sebuah cerita tentang Kita,

Katamu,
Aku Terpasung Waktu, Atas Satu Janji
Bisakah Kau Menungguku hingga Empat kali 365 hari..

Jawabku,
Aku sudah makin dekat dengan Malam, Waktuku Sudah Diambang Senja,
Aku tak Bicara tentang Seandainya, Aku Tak bicara tentang Sebaiknya
Aku Tak Bicara tentang Akan seperti Apa..
Entah Seperti Apa Jalannya Sebuah Cerita,

Apakah Hanya Akan Menjadi Sebuah Cerita Bisu dengan Saksi Aku Dan Kau Yang Terjebak Masa, Atau Seperti Apa...

Sudahlah..Jawabku..
Selagi terus bertanya..dan bertanya..Roda waktu pasti terus berputar..Sementara Ku Tak Tahu pasti nantinya aku dan kau akan ada di mana..
Terima Saja Kenyataan kita...

Aku yang Di ambang Senja Dan Di Masa Fajar...
kita Ukir Saja Cerita yang Bahagia Saja..
melukis bayangan di langit tentang harapan kita....
yang mungkin saja hanya akan menyatu di cakrawala..
Sementara di bawah sini mungkin saja berbeda jalan ceritanya

Jakarta, 7 Oktober 2008



Desiran Angin Berhembus, Menggerakkan Pepohonan,

Meniup Daun-Daun, Beberapa Daun-Daun Pun Jatuh Beterbangan,...

Dari Kejauhan Burung-burung terbang, berputar-putar, Menari-nari di tengah Jelang Senja,..

Mentaripun terus bergerak hingga akhirnya, Senja pun datang,

Dari Corong Mushola Kecilpun Terlantun Seruan Adzan, Sekaligus Akhiri Ramadhan Tahun Ini...

Angin Terus saja berhembus, Pepohonan Bergerak, Begitu juga dengan burung-burung, Sambil Entah Suka....Entah Duka..

Suka Karna Hari Kemenangan Telah Tiba..Duka Karna Ramadhan Telah Usai..

Allahu Akbar Allahu Akbar..Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H,

Mohon Maaf Lahir Batin

Diantara Hembusan Angin, Dibalik Misterinya Senja, Membawa Harap Akan Dipertemukan Kembali Dengan Ramadhan Tahun Depan.

Sunday, October 05, 2008

Hening..melingkupi Malam..
Semuanya tertutup kecuali sesak dan harapan.
Cerita itu baru saja dimulai..
atau mungkin sudah selesai..
atau mungkin memang tak pernah ada.

Semuanya hanya dibalik bayangan ilusi senja..
Adakah Senja di Jakarta?
Pernah kutanyakan itu dalam keluh kesahku..
Hingga saat ini nampaknya senja tak pernah kulihat di Jakarta

Ngrawa, 5 Oktober 2008

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.