Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Tuesday, June 22, 2010

Jaket kulit warna hitam begitu lekat dengan profesi ini. Profesi yang saat ini sangat mudah kita jumpai tak hanya di kota-kota besar di pelosok-pelosok keberadaannya menjamur. Profesi yang seringkali kita butuhkan tapi tak jarang pula menyebalkan dan menjengkelkan dengan segala perilaku dan tindakannya.

Tak seperti yang tercatat di tiket kereta Argo Dwipangga tiba di stasiun Jatinegara empatpuluh lima menit lebih lama. Perlahan kereta menghentikan lajunya dan segera belasan orang berbaju kuning menyerbu pintu-pintu kereta. Mereka menawarkan jasa mengangkat barang bawaan dari penumpang. Saya berjalan melintasi portir, melewati calon-calon penumpang yang tidur, duduk dan istirahat di lantai stasiun menuju pintu keluar di sisi Barat. Baru saja mendekati pintu keluar deratan sopir taksi dan tukang ojek langsung menawarkan jasanya. Saya melihat sekitar dan menerima tawaran seorang tukang ojek.
Segera si tukang ojek mengajak saya mengikutinya dan menyerahkan helm standar SNI. Diantara deretan bajaj tukang ojek menyelinap mengambil motornya yang terparkir. Tak lama ojek inipun melaju menyusuri jalanan Jakarta menuju Kalibata.
“Biasanya sehari dapat berapa Bang?” tanya saya di tengah perjalanan,
“Yah tak tentu tergantung hari. Kalau hari Senin begini cukup lumayan bisa sampe Rp.100.000,- sampe jam duabelas siang. Tapi hari Sabtu Minggu sepi seringkali tidak mendapat penumpang,” jawabnya,
Tukang ojek, selama ini saya sangat mengandalkan jasanya tiap kali kembali dari luar kota dan menempuh perjalanan dengan kereta api. Naik ojek tidak begitu ribet dan lebih cepat sampai. Dari Jatinegara menuju Kalibata jika ditempuh di waktu Subuh begini hanya butuh waktu sekira lima belas menit.
Saat ini profesi tukang ojek banyak dijumpai di seantero negeri. Di Jakarta saja mereka ada dimana-mana mulai dari stasiun, pasar, terminal, depan perkantoran, gang dekat kampung bahkan di bandara mereka juga ada. Susahnya mencari kerja dan makin mudahnya mendapatkan kendaraan bermotor sebagai salah satu pemicu makin banyaknya orang dengan profesi ini. Jika saja mereka memiliki kesempatan yang lebih baik mungkin saja mereka akan memilih profesi lain.
Tentang tukang ojek setiap kali memanfaatkan jasa mereka saya seringkali mengajak ngobrol dan bertanya tentang apa saja. Biasanya mereka mulai mengeluarkan entah itu keluh kesah atau cerita yang lain. Saya yang dulunya jengkel dengan mereka karena terkesan ngotot saat tawarkan jasanya jadi merubah pandangan saya terhadap mereka. Betapa tidak jengkel suatu ketika saya dan dua orang rekan tiba di terminal pelabuhan ratu. Waktu itu sudah mendekati pulul satu malam. Baru saja kami turun dari bis belasan tukang ojek menyerbu kami. Sudah kami tolak baik-baik mereka tak patah semangat dua ditolah dua datang ditolak lagi datang yang lain. Namun saya mulai memahami perilaku mereka setelah mendapat cerita dari seorang tukang ojek tentang suka duka yang di alaminya.
Pada suatu ketika saya ada acara di sebuah Cafe yang terletak di daerah Thamrin. Tak seperti biasanya meskipun acara berlangsung malam hari saya sengaja tidak membawa motor. Selain karena malas berkendara di tengah kemacetan kondisi badan saya masih belum fit setelah beberapa hari sebelumnya menempuh perjalanan dengan medan yang cukup membuat badan pegal-pegal.
doc.Fathoni Arief
doc.Fathoni Arief
Sebenarnya jam 9 acara sudah selesai. Jika memilih naik bis masih banyak bis yang melewati jalan pasar Minggu tapi masalahnya jam segini sudah tak ada angkot masuk ke jalan kecil menuju tempat tinggal saya. Seperti biasanya taksi menjadi alternatif pilihan. Saya melangkah mendekati sebuah taksi warna putih yang tengah berhenti namun agak di depan. Namun ketika saya melangkah ternyata sudah ada penumpang lain yang memesan terpaksa saya urungkan niat.
Mungkin mengerti saya tengah membutuhkan tumpangan seorang tukang ojek memanggil. Ia menawarkan jasa ojeknya. Iseng-iseng saya bertanya berapa ongkosnya. Ternyata harga yang dia tawarkan memang lebih murah dari taksi. Tanpa banyak menawar saya tergerak untuk naik ojek sajalah apalagi melihat sekali-kali berbagi dengan yang kurang beruntung. Sepanjang perjalanan berceritalah si tukang ojek, tentang keluarganya, tentang nasib sial yang dialaminya. “Sudah hampir seminggu saya sepi penumpang sampai-sampai tak mampu bayar setoran,” keluhnya.

Interaksi antara penjual dan pembeli di pasar tradisional /doc.Fathoni Arief
Interaksi antara penjual dan pembeli di pasar tradisional /doc.Fathoni Arief

Peristiwa Sabtu pagi kemarin masih terngiang-ngiang di ingatan saya. Saya dan beberapa orang rekan naik angkot dari Pasar Senen menuju Pasar Baru. Pagi itu di beberapa ruas jalan memang masih sepi. Ketika angkot merapat di jalan samping gedung Departemen Keuangan lapangan Banteng perhatian kami tertuju pada sebuah angkot lain di belakang yang dipaksa berhenti oleh seorang pengendara bermotor. Pengendara bermotor nampak emosi, sambil berteriak dan menunjuk-nunjuk sesuatu. Berusaha menghentikan si sopir dilemparlah sebuah helm warna merah di sisi kanan mungkin saja berdekatan dengan roda depan. Namun hal tersebut bukannya membuat sopir berhenti untuk membicarakan semuanya dengan baik-baik angkot tersebut langsung melaju dan suara “krak” sebuah helm warna merah hancur berkeping-keping.

Raut wajah pengendara motor makin memerah. Dengan terburu-buru dia nyalakan motor yang terhenti di tengah jalan dan mengejar angkot tadi. Ketika pengendara motor sudah melaju seorang tukang ojek yang sedari tadi ada di pinggir jalan melangkah mendekati kepingan-kepingan helm. Namun bukannya membersihkan kepingan helm ia hanya mengambil bagian kaca penutup muka yang masih utuh dan membiarkan kepingan-kepingan tersebut tetap berserakan di tengah jalan. Tak lama angkot sayapun melaju. “Wah kena tuh. Sempat dicatat plat nomornya enggak ya?” kata pak sopir yang nampaknya juga penasaran dengan nasib sopir angkot dan pengendara bermotor. Ketika angkot melanjutkan perjalanan di kiri kanan saya tak menemukan angkot dan pengendara motor tadi.

doc.Fathoni Arief
doc.Fathoni Arief

“ Syahara kasihku kau menyinari ruang hidupku

Sedihnya bersamamu mengenang di hatiku

Syahara

Syahara sayangku mengukir indahnya bersamamu

Jalinan rasa rindu memburu di hatiku

Syahara….,”

Sayup-sayup saya mendengar alunan lagu dangdut syahara di dalam gerbong KRL ekonomi tujuan Bogor. Dua orang bocah perempuan kecil dengan membawa kotak tape dengan suara paraunya menyanyikan lagu yang cukup familiar bagi saya. Lagu yang sering saya dengar tiap kali naik bis antar provinsi. Sepanjang perjalanan dari kota kelahiran menuju Jakarta awak bus memutar keping disk yang berisi video konser-konser dangdut. Artis-artis lokal biasanya yang tampil dengan busana yang terkadang seronok. Berbeda dengan lantunan yang sering diputar dalam bus, di dalam gerbong KRL yang melaju suara anak kecil tersebut beradu dengan bunyi mesin kereta dan hiruk pikuk di dalamnya.
Masih di gerbong yang sama perhatian penumpang tertuju pada seorang pedagang. Bapak-bapak, umurnya saya perkirakan 40an. Lelaki ini memperagakan sesuatu, katanya alat sulap sederhana untuk anak-anak seperti yang sering diperagakan, Cinta, putri Uya Kuya. Ia mengeluarkan benda kecil berwarna hitam. Di dalamnya ada bola kecil yang bisa dibuka. Bola kecil tersebut bisa diisi dengan barang-barang seperti permen untuk trik sulap.

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.