Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Thursday, July 24, 2008














Terik matahari dari atas Jakarta menyengat kulitku. Asap knalpot mobil, motor dan bis kota mengepul meliuk-liuk mengepungku. Bunyi klakson beriringan. Memakan suara langkah demi langkah sepatuku yang membentur trotoar. Sedikit mempercepat langkah kunaiki jembatan penyeberangan.

Dari ponsel bisa kulihat saat ini waktu menunjukkan pukul 13.00. Dari atas aku bisa memandang lanngit Jakarta yang hari ini cukup bersih. Sementara di bawahnya gedung-gedung pencakar langit menyembul berirama saling berlomba tunjukan siapa yang paling megah, paling kokoh, paling tinggi. Tak jauh beda mungkin dengan manusia-manusia yang mengisi gedung-gedung itu.

Cukup lumayan juga lewati jembatan penyeberangan ini. Untung saja tenagaku masih kuat tak bisa kubayangkan jika aku adalah orang tua renta sanggupkah melewati jembatan ini?

Di trotoar bisa kulihat lalu lalang para pekerja kantoran mengisi jam istirahat siang. Mereka dengan busana khas orang kantoran, rapi, dan sebuah harapan akan masa depan cerah terpampang. Gambaran manusia kantoran yang berlomba menuju anak tangga tertinggi dalam sebuah cerita yang diberi label karir.
Melihat para karyawan penghuni gedung pencakar langit Sudirman berpakaian rapi sesaat kulihat diriku dan melihat betapa jauh perbedaan yang ada. Hehehe..yah seperti inilah diriku. Mungkin saja seperti saat ini sudah termasuk rapi. Aku jadi berfikir kapan terakhir kali aku memakai baju dimasukan rapi? memakai sepatu resmi? Ah sudah lupa..mungkin waktu ujian pendadaran kali..hehehe

Sosok karyawan rapi penghuni gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Sosok-sosok yang mungkin katanya sebagai eksekutif muda. Orang-orang bermasa depan cerah dambaan para mertua...hehehe..Aku jadi ingat kata-kata orang saat tanya aku kerja jadi apa? Dulu kuliahnya dimana? eh sayang banget ya..Katanya..

Fikiran-fikiran usil memang seringkali mengusiku. Memancingku untuk bergeming dari satu jalan yang saat ini kutempuh. Menggodaku dengan iming-iming yang bagi orang lain dianggap sebagai ketololan jika aku tak meresponya.

Dari kejauhan bus 640 melambai-lambai..dan dengan sigap aku melompat naik. Di dalam sekilas fikiran-fikiran akan enaknya jadi karyawan penghuni gedung-gedung pencakar langit Jakarta terus menggoda. Namun tiba-tiba angan-angan tersebut lenyap tatkala muncul seorang pengamen pembaca entah apa..doa bukan puisi juga bukan...Kembali sadar hidup bukan hanya saat ini saja..
Aku percaya dengan apa yang aku jalani..

Hidup tak sekedar menunggu kesempatan baik dan keberuntungan namun dengan terus berbuat dalam koridor peta perjalanan yang telah ada dalam fikiranku..

Jakarta, 24 Juli 2008

Monday, July 21, 2008

Menatap langit melihat malam pasca purnama. Rebahkan diri di atas hamparan pasir pantai, diiringi deru ombak dan hembusan angin malam. Menikmati suasana malam Pelabuhan Ratu.

Sehari setelah purnama tak ada yang menarik dari langit. Langit tak begitu cerah hingga tak bisa terlihat gemerlap bintang pemanis malam. Jika ada itupun hanya satu bintang dan satu rembulan yang redup enggan bersinar. Keduanya muncul sekedar memberi penegasan tak ada malam tanpa bulan dan bintang.

Hanya beralaskan tikar saya, Opi, Adit, Lenny, Mia, Windri melepas lelah menikmati malam. Setengah terkantuk-kantuk dan menahan hawa dingin berceloteh yang tertutup gelegar ombak. Malam ini suasana memang cukup ramai di pinggir pantai banyak saya jumpai kumpulan anak muda yang ingin habiskan malam di pinggir pantai.

Perjalanan menuju Pelabuhan Ratu, Pantai yang terletak 60 km arah selatan dari kota Sukabumi, memang cukup melelahkan. Kurang lebih butuh waktu kiranya 5 jam dari Jakarta kalau kondisi lancar. Jarak 160 km ditempuh dengan sejam perjalanan Jakarta Bogor via kereta api listrik, lima menit ngangkot menuju terminal Baranangsiang dan empat jam menuju Pelabuhan ratu.

Sunday, July 06, 2008

Hari Minggu saya diwarnai dengan proses perjalanan menembus ruang dan waktu melalui novel Pitaloka...........

Setiap kali mendengar Pitaloka ingatan saya selalu tertuju pada kisah memilukan Perang Bubat. kisah yang diceritakan dengan berbagai versi. Ada versi yang memihak Majapahit dan versi lain memihak Pajajaran. Peristiwa yang di tahun-tahun setelah itu menimbulkan perang dingin antara dua Suku Jawa mewakili Majapahit dan Sunda mewakili Pajajaran.

Meski sudah agak lama terbit kira-kira setahun lalu saya belum pernah membaca Novel Pitaloka -cahaya-. Saya beruntung dapat pinjaman dari kawan. Makasih pijemannya, besok-besok bawain jangan satu yah yang banyak sekalian (he3). Awalnya terus terang saya kurang tertarik karena seperti yang telah saya ceritakan di awal paling-paling sejarah perang Bubat dan kontroversi yang mengemuka. Ternyata di Novel ini saya salah duga.

Novel -cahaya- merupakan bagian dari novel Trilogi Pitaloka. Membaca novel ini saya diajak berkenalan dengan sosok yang nanti sejarah mengenang namanya sebagai putri cantik jelita Dyah pitaloka. Novel seperti ini sebelumnya juga pernah ada sebut saja Gadjah Mada karangan Langit kresna Haryadi. Maka nanti sedikit banyak saya banding-bandingkannya dengan novel itu.

Secara umum ceritanya menarik. Namun saya sedikit bertanya-tanya mengenai sosok Candrabhaga. Di sini diceritakan Candrabagha merupakan guru dari Sannaha (nama samaran dari pitaloka). Sosok Sannaha katanya merupakan orang dari Pase yang membawa ajaran beribadah menghadap ke barat di beberapa waktu dengan gerakan dan bacaan tertentu yang beda dengan ajaran waktu itu. Meski namanya novel dan bukan buku sejarah sebagai orang awam saya bertanya-tanya apakah benar waktu itu Islam sudah masuk Pajajaran? Tapi okelah sosok sang Guru menurut saya menarik juga.

Untuk bisa mengikuti cerita dengan runtut pembaca harus jeli. Karena alur dalam Novel ini memang dibuat melompat-lompat kadang bicara masa lalu trus kembali ke masa saat ini sehingga memang harus runtut dalam membacanya.

Satu yang agak kurang menurut saya ketika pembaca diberi teka-teki siapa sebenarnya penyusup di padepokan Candrabhaga. Dengan mudah pembaca menebak siapa sebenarnya penyusup sehingga sedikit mengurangi rasa penasaran saya. Tentunya beda saat membaca Novel Gadjah Mada saat ada teka teki kata Sandi bagaskara Manjer Kawuryan. Dan teka teki siapa pembawa payung yang bisa memanggil hujan.

Secara keseluruhan menurut saya Novel ini menarik untuk diikuti. bagaimanapun ini adalah hasil proses kreatif yang bagus untuk merangsang karya-karya lain terutama yang bermain di ranah Sejarah.


Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.