Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Thursday, September 30, 2010

Malam lebaran, suara takbir terdengar bersahutan dari corong-corong mushola dan masjid. Kembang api terlihat mewarnai langit kotaku. Manusia dari berbagai pelosok memadati jalanan kota.

Aku, memilih berada di rumah saja. Bukan karena kemalasanku untuk turut merayakan malam lebaran namun aku memang tengah menunggu seseorang. Aku duduk di teras, menyuarakan takbir sendirian menikmati suasana tenang yang jarang kujumpai ketika berada di ibukota.

“Mas bagi zakatnya…!” seorang pengemis kecil berhenti di pagar depan rumahku. Lalu bergantian satu pergi satu datang lagi dan begitu seterusnya. Aku membagikan recehan koin 500 perak pada belasan bahkan mungkin bisa saja puluhan orang. Banyak diantara mereka pengemis langganan yang tiap hari Jumat datang menengadahkan tangan minta receh demi receh jatuh ke tangan mereka.

Tak sadar waktu berjalan dengan cepatnya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, suara takbir masih terdengar bersahut-sahutan namun jalanan kampung sudah sepi dan peminta sedekah tak terlihat lagi.


doc.Fathoni Arief


Di Masjid Agung Al Munawar Tulungagung, selepas sholat Jumat dan doa selesai, tak seperti hari-hari biasanya, jamaah berdiri. Mereka membentuk barisan panjang berjajar berlekuk-lekuk seperti ular. Sayapun berada di tengah-tengah mereka. Sambil membaca sholawat jamaah, yang tidak semuanya saling mengenal, saling berjabat tangan. Perlahan kami terus berjalan hingga masing-masing diantara kami bersalaman. Meskipun tidak saling mengenal, saya merasa dekat dan mengenal mereka.

Saya bersyukur, tahun ini masih diberi kenikmatan bisa berlebaran di kampung halaman. Meskipun suasana lebaran hari pertama kali ini menurut saya terasa kurang semarak. Mungkin saja karena lebaran bertepatan ada di hari Jumat. Ini yang menyebabkan baru jam 11 namun sudah tak terlihat lagi warga yang berkeliling untuk bersilaturahmi. Saya sendiri juga memilih menutup pintu rumah bersiap menjalankan sholat Jumat berjamaah di masjid.

Pak guru Abdullah berdiri di depan lemari besar warna coklat dengan kaca berbentuk elips di pintunya. Ia memasang kancing baju safari warna abu-abu, di beberapa bagian cenderung memutih, satu demi satu. Sambil tersenyum, Ia memandang wajahnya sambil menyisir rambutnya yang tak lagi menyisakan warna hitam.

“Pakne sarapan sudah siap!” suara istrinya terdengar dari ruang makan.
Pak Abdullah membetulkan letak kaca mata tebalnya, lalu melangkah menuju dapur. Di dapur sang istri menyiapkan gelas, piring dan sendok dan menaruhnya di meja makan.
“Masak apa pagi ini bune?” guru itu menggerak-gerakkan hidungnya, mencium bau sesuatu yang tak biasa.
“Biasa pak, tempe goreng, sambel trasi dan sayur lodeh rebung,”jawab istrinya.
Keduanya pun makan bersama. Selesai makan Pak Abdullah menghabiskan segelas teh hangat dan membawa tas kulit warna hitam ke halaman depan rumah. Tak lama kemudian istrinya keluar mengikuti membawa sepatu pantofel hitam mengkilat, dengan ujung sedikit runcing dan bagian bawahnya sudah berwarna lebih terang, dibanding bagian lain yang kecoklatan.

Wednesday, September 08, 2010


Lebaran tinggal beberapa hari saja. Masyarakat berbondong-bondong memadati pusat-pusat perbelanjaan. Mereka berburu berbagai barang kebutuhan, mulai dari sandang hingga pangan. Hampir semua pusat perbelanjaan penuh sesak oleh pungunjung dari mulai buka hingga malam ketika toko tutup. Lebih-lebih dengan adanya paket-paket menarik dan diskon besar-besaran yang selalu mereka tawarkan.

Di sebuah toko pakaian di pusat perbelanjaan, Juminten, seorang karyawati pabrik tekstil, menghentikan langkah kakinya, ketika melihat kertas putih bertuliskan “obral besar-besaran”. Baju-baju yang dibiarkan menggunung itu memang dihargai, kurang dari separuh nilai aslinya.

Mbak Jumi, begitu karyawan pabrik biasa memanggil, bergabung dengan pengunjung toko lain. Ia membolak-balik tumpukan baju, mulai dari baju luar sampai baju paling dalam campur aduk jadi satu. Ia menggaruk mulai dari paling atas hingga terbawah, mencari pakaian pilihannya. Satu demi satu pakaian ia coba hingga seorang karyawan toko bertanya.

Monday, September 06, 2010

doc.Fathoni Arief

“Sudah siap Pak?” tanya Mang Udin.
“Sudah Mang,” jawabku setelah mengambil posisi tengkurap di atas tikar plastik. Ia kemudian mulai menuang minyak dari botol, berwarna coklat, ke sebuah piring kecil. Diletakanya piring kecil tersebut di sampingku, lalu ia mengeluarkan sebuah benda berwarna coklat seperti kayu yang ujungnya tumpul bercabang dua.

Mang Udin mulai menyentuh telapak kakiku dan menekan-nekan alat pijatnya. Ia memijit titik-titik yang selalu membuatku menahan rasa sakit. Seperti biasanya, sambil memijit, ia selalu bercerita banyak hal, tentang kampung halaman, keluarga dan pengalaman di masa lalunya.
“Tak terasa, sebentar lagi lebaran ya Pak!”
“Iya Mang, orang-orang sudah mulai sibuk dengan persiapan mudik,”
Sesaat Mang Udin terdiam. Ia sibuk memijit kaki dengan tekanan-tekanan yang membuatku meringis. Melihat reaksiku seringkali ia bertanya “Sakit Pak?” meski jawabanku selalu “Tidak,” rasa sakit sebenarnya tengah kutahan.

Beberapa hari lalu, sebenarnya aku sudah mencari Mang Udin. Biasanya ia selalu lewat di jalan-jalan kampung menawarkan jasa pijatnya. Namun sejak awal puasa hingga pertengahan tak kujumpai lelaki ini. “Saya baru sakit Pak,” penjelasan Mang Udin atas ketidakhadirannya.
Seminggu Mang Udin tergeletak di rumah, di kampung halaman berjarak 8 jam perjalanan dari Jakarta. Total 15 hari ia istirahat memijit. Waktu yang sangat berarti baginya. Bayangkan saja jika selama ini sehari minim ia bisa mendapatkan dua orang yang memanfaatkan jasanya. Anggap saja sehari mendapat Rp.40.000,- 15 hari tak berkeliling artinya kehilangan Rp.600 ribu.
“Yah mau bagaimana lagi Pak,” katanya. Ia melanjutkan ceritanya. Kali ini tentang istrinya yang tengah hamil tua. Menurut perhitungan bidan desa lebaran bakal melahirkan.

Tak terasa sejam sudah Mang Udin memijit badanku. Pegal-pegal yang beberapa hari ini kuarasakan sedikit hilang. “Sebentar ya Mang,” kataku sambil mengambil lembaran rupiah dari dompet.
“Terima Kasih Mang,” lembaran uang itu sudah berganti ke tangannya. Senyum lebar muncul dari wajahnya melihat uang sejumlah dua kali lipat dari biasa yang kuberikan.

Setelah membereskan barang-barangnya, Mang Udin langsung pamit. Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, namun, menurutnya ia masih akan melanjutkan berkeliling kampung. Seharian dari pagi hingga malam, ia baru mendapatkan dua orang. Ia harus memijit sebanyak mungkin orang buat bekal pulang dan biaya bersalin istrinya saat melahirkan.

FATHONI ARIEF


What A Wonderful World (Luis Amstrong)


Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.