Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Sunday, September 30, 2007

Perlahan tapi pasti kakiku terus bergerak langkah demi langkah menyusuri jalanan kota tua Mojokerto. Sebuah pengalaman baru sekilas mirip dengan adegan dalam sebuah film. Tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika laju kereta yang tadi kuanaiki tiba-tiba kencang saat aku loncat dari kuda besi itu.

Menelusuri kota tua ini mengingatkanku pada novel Gadjah Mada yang telah aku lahap. Bayanganku seakan-akan diajak kembali di masa lampau saat era kejayaan kerajaan Majapahit. Sosok-sosok Gadjah Mada, Tanca, Diah Wiyat, Diah Menur, Pradhabasu dan masih lagi tokoh lain perpaduan antara fiksi dan sejarah yang membuatku terkagum-kagum dan cukup terkesima dengan masing-masing karakter yang dimilikinya. Rasa penasaran membayangkan betapa cantiknya seorang Diah Wiyat yang membuat Tanca terkesima hingga akhir hayatnya.
Sebuah pengalaman baru dengan kereta bisnis jurusan kota pahlawan itu. Sebuah lagu lama bagaimana informasi salah yang kupercaya hamper saja berakibat fatal buatku. Tapi sudahlah tak baik juga mengorek-ngorek sebuah borok dari orang lain lebih baik menghibur hati dengan mendengarkan alunan musik dari mp3 player yang ada di kantong bajuku.

Pak Tukang Jukir, aku tak tahu siapa nama dari orang yang kuajak ngobrol disebuah jalanan Mojoketo ini tapi yang jelas profesi jukir tak ada salahnya kupanggil dia sesuai profesinya. Pak Jukir selanjutnya aku panggil orang tersebut. Begitu nol informasi tentang kota ini apalagi kedatanganku dengan sangat tidak sengaja atau lebih tepatnya kesasar.

Ada banyak hal yang kuperoleh dari sosok satu ini. Sebuah informasi dan sambutan yang begitu hangat bagi orang asing sepertiku, hal yang sangat sulit untuk dijumpai . Ternyata secara kebetulan orang ini dulu juga sempat menjalanai profesi sebagai penarik becak di salah satu sudut kotaku; Tulungagung. Benar-benar sebuah ketulusan dari orang yang strata socialnya jelas-jelas dibawah.

Seorang Jukir dan seorang kondektur kereta dua sosok yang memiliki posisi dan strata yang sanagt jauh berbeda. Ternyata ini mungkin sangat subyektif juga dan hanya pendapatku saja, ketulusan diantara mereka berdua juga sangat berbeda.

Ketika sebuah pertanyaan terlontar untuk sang kondektur kurang lebih begini pertanyaannya :
“Maaf Pak nanti di Jombang kereta berhenti atau tidak?”
“Ya” sebuah jawaban yang begitu kupegang. Kondektur menjawab dengan roman yang agak acuh tak acuh namun namanya itu adalah jawaban dari orang yang berkompeten maka aku begitu memegangnya.
Aku juga melontarkan sebuah pertanyaan untuk sang Jukir:
“Pak untuk menuju terminal naik angkot apa?”

Dengan begitu gamblang Jukir menjelaskan padaku tentang angkot dan untuk hati-hati terutama jika Tanya pada tukang becak walaupun dirinya juga seorang tukang becak. Hal itu tak berhenti sampai disitu saja Jukir mempersilahkan aku duduk di sebuah kursi yang biasa digunakan untuk menunggu kendaraan yang diparkir disana. Sebuah obrolan hangat seakan sudah sling kenal mengiringi saat menati angkutan.

Pertanyaan untuk dua orang berbeda dengan hasil yang berbeda pula. Dari seorang kondektur kereta itu jawabannya membuatku tersasar hingga sempat meloncat dari gerbong kereta bisnis sedang dari jukir itu mengantarkanku ke terminal dan langsung mendapat bis tujuan Tulungagung.
Ah ternyata status dan pendidikan itu tak selamanya berbanding lurus dengan ketulusan hati, keramahtamahan dan kesetiakawanan.

Sebuah pengalaman yang begitu menjengkelkan. Sebenarnya ada cerita tak kalah menjengkelkan lagi namun jika kupaparka makin membuatku muak pada mereka yang sok berada di atas.
Daripada suntuk aku menikmati laju bis Pare Tulungagung, dari mp3 di kantongku mengalun lagu the beatles.

When I find myself in times of trouble, mother Mary comes to me,
speaking words of wisdom, let it be.
And in my hour of darkness she is standing right in front of me,
speaking words of wisdom, let it be.
Let it be, let it be, let it be, let it be.
Whisper words of wisdom, let it be.
And when the broken hearted people living in the world agree,
there will be an answer, let it be.
For though they may be parted there is still a chance that they will see,
there will be an answer. let it be.
Let it be, let it be, .....
And when the night is cloudy, there is still a light, that shines on me,
shine until tomorrow, let it be.
I wake up to the sound of music, mother Mary comes to me,
speaking words of wisdom, let it be.
Let it be, let it be, .....(Let It Be, The Beatles)

Mojokerto 30 Desember 2006

Daerah Istimewa Yogyakarta, tempat yang banyak menyimpan warisan leluhur; Nilai-nilai budaya peninggalan nenek moyang. Di sini juga sejarah pernah mencatat berdirinya kerajaan Mataram Islam. Kerajaan yang pernah mengalami masa keemasan di era kepemimpinan Raden Mas Rangsang atau lebih dikenal dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Saat Mataram dipimpin oleh Sultan Agung ada begitu banyak pencapaian-pencapaian yang diperoleh. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Di samping dalam bidang politik dan militer, Sultan Agung juga mencurahkan perhatiannya pada bidang ekonomi dan kebudayaan. Upayanya antara lain memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Kerawang, Jawa Barat, di mana terdapat sawah dan ladang yang luas serta subur. Sultan Agung juga berusaha menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan
Indonesiaasli dengan Hindu dan Islam; akulturasi. Salah satu contoh proses akulturasi budaya adalah Garebeg disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak itu dikenal Garebeg Puasa dan Garebeg Mulud. Pembuatan tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing merupakan karya Sultan Agung yang lainnya.

Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 dengan meninggalkan Mataram dalam keadaan yang kokoh, aman, dan makmur. Saat itulah kejayaan Mataram mencapai puncaknya.Raja Mataram ini dimakamkan di kompleks pemakaman di Imogiri. Kornpleks pemakaman yang berlokasi di Kel. Girirejo Kec, Imogiri, Kab Bantul. Komplek makam Imogiri merupakan komplek makam yang diperuntukkan bagi raja raja Mataram dan keluarganya.

Di Makam Imogiri ini, dimakamkan Raja-raja yang memerintah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau dulunya Mataram Islam sepeninggal Panembahan Senopati, terutama Putra Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Makam ini didirikan oleh Sultan Agung antara tahun 1632 - 1640M. Makam ini dibangun tinggi di atas bukit, dan untuk mencapainya kita harus mendaki tangga dari batu berundak sebanyak 345 buah hingga akhirnya nanti tiba di sebuah persimpangan jalan yang akan menuju ke makam Raja-raja.

Bagi kebanyakan orang kompleks pemakaman raja-raja Imogiri tak lebih hanya tempat bersejarah dan rekreasi yang terkadang dikunjungi terutama pada hari-hari libur. Tapi tak begitu dengan Pak Darto. Bagi seorang Pak Darto kompleks pemakaman Imogiri tak hanya sekedar pemakaman biasa atau situs sejarah saja. Kompleks ini banyak menyimpan nilai-nilai filosofi, ajaran-ajaran yang belum semua dapat dimaknai oleh generasi saat ini. Ajaran-ajaran dan nilai filosofi tersebut memang sulit dimengerti karena masih berupa simbol simbol yang terdapat pada bagian-bagian kompleks seperti anak tangga, pohon dan benda-benda lain itu juga yang membedakan dengan prabu Jayabaya yang meninggalkan ajaran-ajarannya dalam bentuk tulisan. Contoh dari makna yang beliau ungkapkan adalah tentang lambang negara garuda pancasila dan simbol yang menunjukan angka tahun yaitu seribu enam ratus empatpuluh lima.

Selain kompleks makam raja-raja didaerah ini juga menyimpan banyak peninggalan sejarah lain. Banyak rumah-rumah joglo yang berusia ratusan tahun masing-masing menyimpan cerita. Bapak tua ini masih merekam dengan jelas cerita-cerita yang ada dibalik bangunan-bangunan tua itu.

Pak Darto bukanlah orang yang luar biasa, paranormal, punya pengaruh kuat, keluarga kraton, abdi dalem ataupun pejabat. Lelaki berusia enampuluh tujuh tahun ini hanyalah seorang kepala dukuh di desa Girirejo Kecamatan Imogiri Bantul yang peduli terhadap pelestarian budaya leluhur.

Berbekal satu tekad dan ketekunan yang dilandasi sebuah kesadaran untuk mempertahankan warisan nenek moyang selama bertahun-tahun pria ini mendokumentasikan makna yang tersirat di komplek makam raja Imogiri. Diantaranya dengan menyusun kalender Jawa hingga tujuh ratus tahun yang dimulai tahun seribu enamratus empat puluh lima dan mempertahankan rumah-rumah berbentuk joglo yang banyak terdapat didaerahnya. Kalender itu sendiri adalah hasil sebuah renungan memahami semangat dari nenek moyang dalam hal ini adalah generasi yang pernah mengalami kejayaan yaitu Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung. Penyusunan ini disebabkan menurut beliau saat ini kalender Jawa yang ada sudah agak beda dengan asalnya ada pergeseran. Dari hasil kerja kerasnya beliau berhasil menyusun kalendernya tetapi sayang dari orang-orang yang telah ditemui belum ada yang mampu mengangkat hasil karyanya untuk dinilai apakah benar atau tidak. Dari perhitungannya kalender tersebut memang cocok. Dalam perhitungan tidak asal tapi tetap menggunakan cara yang berlaku.
Masih satu paket dengan kalender Jawa susunannya itu adalah nilai-nilai filosofi yang secara simbolik terdapat pada kompleks. Diantara simbol yang didokumentasikan terdapat juga gambar merak dan garuda pancasila menurutnya masih ada hubungannya. Hasil susah payah kerjanya selama beberapa tahun itu terjilid rapi dan penyusunannya juga cukup baik meskipun hanya dengan tulisan tangan.

Lewat usaha dengan batas kemampuannya lewat getok tular sosok ini bercerita dari mulut ke mulut pada mahasiswa-mahasiswa, tamu-tamu yang kebetulan datang kerumahnya.
Adaharapan yang masih ingin beliau perjuangkan agar generasi berikut mampu mempertahankan nilai-nilai luhur dari nenek moyang. Salah satu nilai yang disampaikan adalah semangat persatuan yang membuat Mataram Islam pernah berjaya dibawah kepemimpinan Sultan Agung. Sekali lagi semangat persatuan hal yang sering ditekankan.

Sebuah peristiwa besar terjadi di tengah perjalanan dan perjuangan Pak Darto yang belum sepenuhnya tercapai. Sabtu duapuluh tujuh Mei Dua ribu enam Jam enam kurang
limamenit Yogya dan sekitarnya digoncang gempa hebat dan memang memberikan dampak yang luar biasa termasuk bagi Pak Darto. Gempa bumi berkekuatan enam skala richter sesaat hampir menghancurkan segala harapan dan cita-cita Pak Darto. Akibat gempa bumi yang diperkirakan berpusat di kali opak itu turut menghancurkan banyak bangunan di wilayah Imogiri. Diantara yang rusak adalah rumah penduduk, rumah kuno beratap joglo yang sudah berusia ratusan tahun, dan kompleks pemakaman sendiri. Rumah Joglo milik Pak Darto sendiri juga turut mengalami kerusakan yang cukup parah.

Sesaat setelah peristiwa gempa bumi terjadi yang diselamatkan beliau salah satunya adalah jilid-jilidan hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Untung saja jilidan itu masihlah utuh tak mengalami kerusakan.

Adabanyak Butir-butir budaya Jawa.yang belum sempat tersampaikan. Butir-butir yang tersimpan dalam bentuk simbol-simbol yang terdapat di sekitar lokasi pemukiman.
Peristiwa sabtu pagi duapuluh tujuh Mei duaribu enam itu memang menyisakan trauma yang mendalam bagi warga yang mengalaminya. Banyak diantara mereka yang mengalami ketakutan dan was-was tiap kali terjadi gempa susulan. Bayang-bayang ketakutan itu masih menghantu.
Diantara mereka yang menjadi korban ternyata masih ada yang terus bangkit berdiri rumah boleh runtuh tetapi semangat harus tetap ada. Pak Darto adalah satu diantara segelintir mereka yang ingin cepat bangkit. Ternyata gempa tak membuat perhatiannya terhadap pelestarian budaya padam. Lewat relawan-relawan yang kebetulan singgah kembali sosok ini terus sebarkan hasil usahanya. Hal yang selalu ditunjukkannya adalah masih banyak kearifan nenek moyang yang disampaikan lewat simbol-simbol belum semuanya dapat dimaknai. Sebuah tekad tanpa pamrih dengan satu tujuan terjaganya warisan leluhur nenek moyang.

Menilik kembali hakikat dari sebuah bencana yang merupakan ujian dari Tuhan, jika ada mereka yang terus berdiri tegak tak berlarut-larut dalam suasana duka adalah hal yang luar biasa. Diantara mereka yang masih berdiri tegak dan memperjuangkan sesuatu yang mungkin terabaikan jangankan saat setelah gempa sebelum peristiwa ini terjadi tak banyak yang memikirkan hal tersebut.

Walau sempat diguncang gempa tektonik yang meluluhlantakan daerah Selatan Yogyakarta Pak Darto terus berjuang dalam kesendiriannya. Diantara puing reruntuhan ternyata masih ada yang masih tegak berdiri. Sosok yang mulai termakan usia ini masih terus berjuang mempertahankan dan menyebarkan nilai-nilai budaya tinggi warisan leluhur yang sempat membawa Mataram kearah kejayaan lewat jalan sunyinya

Thursday, September 27, 2007

Bunyi gemericik air terus saja terdengar di segala penjuru. Dari sebuah pancuran di dekat sebuah gubuh reot pinggir sawah itulah asal dari bunyi tersebut. Sesekali yang terdengar bunyi yang agak keras seperti air yang disemburkan. Seorang lelaki kurus dengan kulit agak hitam terbakar matahari terlihat duduk termenung di sebuah gundukan tanah di bawah sebuah pohon dekat pancuran tersebut.

Dalam lamunannya ia pandangi hamparan sawah luas dengan tanaman padi yang mulai menguning. Sebentar lagi mungkin tak sampai satu bulan sawah ini siap untuk dipanen. Sawah yang cukup luas dengan latar belakang rentetan pegunungan yang sudah beberapa tahun ini ditambang untuk dijadikan sebagai bahan bangunan. Di pinggir sawah juga bisa dilihat beberapa batang pohon mangga dan tanaman yang nampaknya juga sudah siap untuk dipanen. Semuanya menyatu sebagai satu pemandangan yang sangat menakjubkan, hamparan padi menguning dengan naungan awan biru di langit.

Lelaki itu selalu saja duduk termenung di situ; di samping gubuk tua yang mulai reot. Beberapa bulan lalu saat padi baru ditanam para petani yang ada di sana telah melihatnya. Ada yang pernah bertanya padanya.

"Sedang apa saudara terus-menerus termenung sendirian?", tanya seorang petani.

"Sedang menunggu", begitu jawabnya.

"Apa yang sedang saudara tunggu?" tanya petani kembali dengan perasaan penuh keheranan.

"Menunggu ini", lelaki itu menunjukkan jari-jarinya yang menggenggam.

Petani itu nampak masih keheranan dan tak habis fikir dengan apa yang dilakukan lelaki itu.

Dalam hatinya ia bergumam " Mengalir seperti aliran air. Mengambang seperti awan. Menyala seperti api. Sulit sekali mengendalikan diriku yang seperti ini terombang-ambing oleh perputaran roda kehidupan. Putus asa oleh sebuah penantian panjang", Lelaki itu menarik nafasnya panjang-panjang.


****

"Entah kenapa aku terus saja berharap. Semua harapan itu belumlah hilang hingga saat ini. Aku akan terus menunggu saat-saat itu. Setiap kali berusaha melupakan saat itu juga bayangan itu muncul kembali",

"Antara marah, tidak berdaya, putus asa dan umpatan-umpatan kotor semua terjalin dalam sebuah kisah",

"Aku masih ingat saat itu ketika aku datang padanya. Dengan sebuah harapan kuberanikan diri untuk menyapanya",

"Ah hanya ini yang kau bawa apa artinya sebuah harapan?", katanya

"Jangan remehkan arti sebuah harapan! Dengan secuil saja aku bisa bertahan dalam segala gejolak dunia hingga saat ini", bantahku

Dia hanya terdiam…

"Dengan berbekal yang secuil itu kukumpulkan sepotong demi sepotong. Bongkahan demi bongkahan hingga terkumpul sebesar ini (Tangan yang menggenggam ditunjukkannya)",

Dia terdiam dan akupun juga demikian…

"Aku tak seperti lelaki lain yang selama ini kau kenal. Berilah kesempatan sekali saja untuk memberikan segenggam harapan itu dan tanamlah dalam lubuk hatimu. Jaga benih itu dan sirami dengan kasih sayangmu padaku niscaya akan tumbuh dan semakin besar hingga menjadi pohon besar yang berbuah cinta dan kasih sayang",

"Tetap saja tak percaya. Semuanya hanya bualan mulut besarmu saja. Semua omongan dan kata-katamu yang seringkali kudengar dari banyak lelaki yang tergila-gila padaku", jawabnya

"Boleh saja kau tak percaya. Ijinkan sekali saja…!Haruskah aku menambahi dengan kata-kataku lain lagi. Bukankah selama ini aku seperti ini..Apakah aku nampak sebagai seorang pengumbar kata-kata? Bukankah selama ini sangat jarang kata-kata omong kosong itu terlontar dari mulutku",


"Sama saja, bukankah segenggam harapan itu sama saja dengan untaian janji kosong yang nantinya akan terbuka kedoknya? Harapan hanyalah topeng kata-kata yang kau lontarkan dan suatu saat dengan mudahnya kau sangkal",

"Tolonglah kekasihku kutahu yang selama ini kau rasakan, tapi sekali lagi kujelaskan aku bukanlah seperti mereka. Dalam keputusanku ijinkanlah jika kau tak mau menerimanya biarlah kutaruh segenggam benih ini dalam wilayah hatimu. Ijinkanlah aku menaruh dan menanamnya.Tunggulah kekasihku benih itu tumbuh menjadi pohon-pohon kesetiaan, sayang dan cinta kasih. Pohon itu nanti yang akan berkata padamu bahwa semua yang kukatakan dan kujanjikan bukan hanya bualan semata",


****

Saat ini sudah berjalan hampir tiga minggu dan lelaki itu masih saja duduk di tempatnya. Tempat yang sama tentunya. Padi yang dulu baru ditanam kini telah memasuki masa panen.


Lelaki itu masih saja menunggu. Terduduk dalam kesendiriannya. Sambil sesekali melihat kembali ke angkasa jika suatu saat bintangnya telah muncul kembali dari kabut yang telah lama menutupnya.

Di saat seperti itu sang lelaki masih berharap. Harapan dalam sebuah penantian.


Darimana datangnya penantian?

Dari rasa yang terlalu sulit untuk hilang dari hati.

Darimana datangnya rasa?

Dari kata yang selimuti mata dan kemudian merasuk kedalam relung hati…

Darimana datangnya derita?

Dari rasa yang dituruti hingga terlalu dalam menusuk kalbu.

Bagaimana akhir dari derita?

Ketika rasa sudah tak ada dalam hati. Saat rasa sudah berakhir dan terganti dengan rasa lain.

Bagimana akhir dari rasa?

Tak tahulah aku sendiri juga sedang belajar berusaha menghilangkan rasa itu…Jika kau tahu bagaimana cara akhiri rasa kabarkan lewat aliran air dan tiupan angin yang selalu menyambutku.


GF Institute Centre, 17 Mei 2006 (
Ditulis kembali dari sobekan yang telah lama terabaikan dengan lantunan musik london symphony orcestra dan berita untuk kawannya mas Ebit G Ade).

Tertegun di keheningan malam. Suasana begitu sunyi, senyap, yang terdengar hanyalah hembusan angin dan detik jarum jam dinding yang memecah keheningan malam. Sesekali terdengar suara kucing yang mengeong mencari pasangan kawinnya .

"tik…tik…tik..tik….tik…." Bunyi jarum berdetak sesuai dengan iramanya yang teratur selalu saja detik demi detik. Suara yang memecah keheningan malam. Hening benar-benar hening, tanpa ada aktivitas manusia.

Jarum panjang jam dinding sudah menunjuk angka enam dan yang lebih pendek berada di antara angka dua belas dan satu. Tengah malam menjelang pagi suasana yang lengang di hampir setiap sudut kota. Kalaupun ada yang masih ramai dengan aktivitasnya adalah mereka yang menghabiskan malam di warung-warung angkringan yang tersebar di pojok-pojok kota budaya ini. Kota ini; Yogyakarta; kota pelajar yang makin dipadati oleh para pendatang, memang lebih indah jika dilihat pada saat malam hari. Saat suasana sunyi senyap telah menyelimuti sisi kota.

Malam hari duduk sendiri termenung di teras rumah pondokan. Dengan ditemani siaran radio yang terisi obrolan-obrolan tengah malam. Mata yang sedari tadi ingin tertutup tapi nampaknya ada sesuatu ganjalan yang membuatnya tak bisa untuk tertutup. Aku masih terjaga dalam suasana sendiri. Menikmati suasana malam kota Yogyakarta.

Malam seperti inilah di suatu saat yang lampau diriku kehilangan dia. Aku juga masih belum seratus persen yakin dengan keberadaannya. Ia masih misteri belum tersingkap rahasia yang mengiringinya. Dia terkadang teriak, tertawa marah, merasa sakit dan sering juga meronta-ronta minta pertolongan. Satu pertanyaan yang hingga kini ada: apakah dia benar-benar nyata? Apakah ini hanya angan-anganku? Apakah aku yang mengalami sedikit masalah dengan jiwaku? Atau mungkin aku sudah mati? Kematian yang tak disadari.

****

Aku masih terbengong di depan kaca yang terpampang di pojok kamar mandi kotorku. Cermin yang tak lagi utuh dan retak disana-sini. Tak tahu sudah berapa bekas pukulan dan lemparan benda-benda yang tertuju padanya. Semuanya aku yang melakukannya. Sudut cermin bagian kanan retak dan sudah cuwil setelah aku di khianati oleh sahabat sendiri, bagian tengah kena jotosan tangan kiri setelah kuterima surat undangan pernikahan anak pak lurah yang sangat kugandrungi, dan ada lagi yang paling parah hingga bekas darah masih tersisa di sana. Bagian itu terkena pukulan tangan kiriku setelah kekasihku yang terakhir berkhianat tanpa sepengetahuanku digondol sahabat dekat yang begitu kupercaya.

Wastafel yang krannya sudah aus; aku belum sempat mengantinya dengan yang baru, itu sempat menyemburkan air ketika secara tak sengaja kusenggol. Aku hanya ingin mencuci muka. "Sedemikian hinakah aku? ", kubertanya pada diriku sendiri sambil menyapukan air keseluruh bagian muka. Memang rasanya lebih segar dan mampu memadamkan hati yang sempat terbakar. Tetes demi tetes membuat semuanya membaik. Kembali kutatap cermin dan kini aku dikejutkan oleh sesuatu.

"Siapa kamu?" sesosok bayangan keluar dari cermin retak tersebut.

Benarkah yang sedang kulihat?

Apakah aku sudah tak waras sekali lagi kuambil segenggam air dan kusapukan ke seluruh mukaku dan kembali menatap cermin retak itu.

"Siapa kamu?" sekali lagi ia bertanya padaku. Aneh tak masuk akal bukankah seharusnya aku yang bertanya dia sosok aneh: bayangan dalam cermin retak.

Sekali lagi ia bertanya dan langsung saja kujawab namaku, dimana aku lahir, siapa orang tuaku, mirip dengan yang tertulis pada kartu keluarga; yang sudah tertumpuk dalam lemari usang di pojok rumah. "Kenapa aku yang jadi aneh ?", apakah aku sudah gila kata hati yang terus bertanya-tanya.

"Kau bohong! Yang kau sebut tadi bukanlah kau! Itu adalah diriku. Kau bohong!", bayangan dalam cermin retak itu menunjuk-nunjuk diriku. Tangannya keluar dari cermin retak dan berusaha meraih batang leher untuk mencekikku.

"Aku benar tak mungkin bohong. Kau yang bohong", jawabku

Nyaris aku tak mampu melihat bayangan itu dia benar-benar telah mencekikku. Nyaris aku tak bisa bernafas hingga akhirnya akupun meloncat dan membebaskan diri dari cekikan bayangan aneh tersebut.

Aku mundur dan sedikit demi sedikit menjauh dari bayangan itu. Kini tak hanya satu tangan yang keluar tapi juga tangan lain, badan, kaki hingga dalam wujud yang utuh ia benar-benar keluar dari cermin retak itu.

"Lihat diriku!" bentaknya,

"Aaa…….", aku berusaha teriak tetapi hanya mulutku saja yang terbuka dan tak sepatah katapun yang muncul dari mulutku. Aku tak berani memandangnya tetapi rasanya ada sebuah magnet yang sangat kuat memaksa, dengan terpaksa mukaku tertarik mataku tertuju pada bayangan itu.

Bayangan itu manusia ia tak menyeramkan. Tapi kenapa ia marah padaku.

"Ya Tuhan" Aku sangat terkejut saat memperhatikannya melihat sosok itu benar-benar aku. Dia adalah diriku bayangan itu adalah aku.

Bayangan itu mendekatiku dan aku mundur selangkah demi selangkah hingga akhirnya berada diluar rumah di lapangan rumput yang masih basah oleh hujan tadi sore.Sosok itu kemudian berlari begitu cepatnya kemudian meloncat dan secepat kilat melesat dengan cepat hingga akhirnya hilang diantara banyaknya bintang-bintang yang bertebaran di langitan luas. Sebuah cahaya terang terpancar saat sosok itu menghilang di langit sana.

Mataku masih tertuju pada langit-langit luas dimana bayangan itu menghilang. Rasa takut yang berangsur-angsur menghilang semuanya karena mengamati keindahan yang terpancar di atas sana. Gemerlap bintang di saat suasana cerah hujan telah membuang awan gelap yang menyelimuti langit luas.

"Kenapa ia melesat keatas? Bukankah asalnya dari cermin yang retak itu? Apakah ini sebuah isyarat atau petunjuk yang harus segera kupecahkan?", tanda tanya besar dalam hatiku.

Di kursi panjang dari bambu yang terletak di teras rumah kurebahkan badanku.

"Mungkin saja aku terlalu capek dan semua adalah halusinasiku",

Bintang, rembulan, dan langit yang luas sebuah pemandangan yang jarang sekali kuamati. Takjub, satu kata bagi kekuasaan sang pencipta alam semesta.

Kini aku kembali pada cermin retak itu. Bayangan itu telah menghilang tak ada yang perlu kutakutkan lagi. Aku kembali memandangi bayangan pada cermin itu. Sungguh aneh cermin itu kosong tak ada lagi yang tergambar dalam kumpulan kaca retak itu.

"Apakah aku sudah benar-benar gila?", aku semakin kuatir dengan apa yang sedang terjadi.

Kuraih air dengan kedua telapak tangan dan kusiramkan tak hanya sekali tapi berkali kali, tak lupa mataku juga kuguyur dengan air yang cukup dingin itu. Semua sama saja aku tetap tak bisa melihat bayanganku. Aku hidup tanpa ada bayangan.

"Apakah aku sudah mati?", tanyaku pada diri sendiri. Satu pertanyaan yang semakin membuatku ketakutan.

Aku terlalu lelah, capeh, letih dengan segala kegiatan mungkin ini yang membuatku kacau balau. Tanganku meraih gelas dan teko air minum sebutir obat penenang pun segera masuk seiring dengan mengalirnya air ke tenggorokanku. Dengan merebahkan badan sekedar menutup mata dan istirahat mungkin saja akan membuat kondisiku sedikit membaik.

Mataku terpejam, tapi layar cerita yang ada dalam fikiranku tak mau ditutup. Semakin kemana-mana saja yang ada dalam fikiranku. Ia membawaku dari satu kejadian ke kejadian yang lain. Disini kulihat diriku sendiri persis seperti bayangan dalam cermin yang telah hilang di antara bintang-bintang di angkasa. Semakin lama sosok di dalam alam bawah sadarku semakin tak kukenali tapi ia menyatakan dirinya adalah aku.

"Kenapa wajahku menjadi mengerikan seperti itu? " Aku jadi ketakutan akan diriku sendiri dan setengah terkejut aku kembali terbangun dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhku.

"Aku mimpi buruk", kataku

Kulangkahkan kakiku menuju wastafel dan kembali pada cermin yang retak tadi. Kupandangi cermin retak itu lagi dan aku masih tak mendapatkan wajahku disana, bayanganku hilang.

"Aku sudah mati!", teriakku hanya orang mati yang tak punya bayangan.

****

Apakah benar yang kualami ini ?

Aku sudah mati ?

Akupun berdiri, memandang jauh ke angkasa melihat satu demi satu bintang di sana. Kucoba mencari apakah bayanganku ada di sana?

Aku akan tetap menunggu bayanganku kembali. Di tiap sudut rumahku sudah terpasang banyak cermin-cermin baru. Setiap saat jika bayanganku kembali aku akan mengetahuinya. Setidaknya jika tak kembali berlalunya waktu akan bisa membuatku menerima kenyataan bahwa aku telah mati rasa.

Yogyakarta, Maret 2006

Wednesday, September 26, 2007

Hari ini tepat sebulan sejak pengesahan surat keputusan itu. Sebuah kebijakan terbaru di sebuah Universitas tua. Sebuah keputusan yang cukup kontroversial tak heran berbagai reaksi muncul dalam menanggapi hal itu. Ada yang setuju, ada yang jelas-jelas menolak dan ada pula yang diam acuh tak acuh tak peduli lagi dengan yang terjadi. Berita hebohnya surat keputusan itupun sempat masuk menjadi berita utama di berbagai media cetak maupun elektronik baik lokal maupun nasional. Pemberitaan yang membuat universitas tua ini telah menjadi seperti seorang selebritis dalam infotainment.

Ada berbagai macam tipe orang dengan karakternya masing-masing yang ada di universitas ini. Ada tipe mereka yang secara jelas-jelas menjadi musuh dari para mahasiswa gara-gara mereka kebetulan menjadi pemegang kebijakan, ada mereka yang tak jelas posisinya dan ada yang mati-matian membela mahasiswa dan mengatas namakan keadilan. Bagaimanapun orang-orang yang ada di dalamnya menjadi pewarna citra dari Universitas ini.

****

Bundaran, atau lebih sering disebut Boulevard universitas tua, di tempat inilah suara-suara megaphone seringkali terdengar. Berteriak dengan lantang menentang segalanya yang dianggap sebagai kesalahan, kebodohan, kebobrokan dalam perspektif mereka yang harus segera diberangus dengan kekuatan demonstrasi. Dua puluh tahun yang lalu dengan memakai jas almamater dan ikat kepala aku pernah berteriak lantang menuntut perubahan, segala sesuatu yang dianggap sebagai penyelewengan hal yang harus dilawan.

Senja telah hilang, gemerlapannya cahaya kerlap-kerlip bintang mulai tampakkan diri. Malam hari, sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara adzan dikumandangkan. Bersahut sahutan dari segala penjuru. Diantara suara itu muncul suara seorang bocah yang dengan begitu lantang kumandangkan panggilan sholat itu. Suara yang mengingatkanku pada tigapuluhan tahun yang lalu, seringkali akulah yang berteriak lantang di surau tua yang terletak di belakang rumahku. Masih teringat juga bagaimana tetanggaku selalu tersenyum padaku orang-orang tua itu sering berkata

"Duh benar-benar anak soleh!" dan aku seringkali hanya tersenyum malu membalas ucapan mereka.

Di kanan kiri kampus ini suasana malam bukan berarti segala aktivitas telah mati, bahkan sebuah kehidupan baru telah dimulai. Mereka yang berjajar sepanjang jalan yang membelah kampus menawarkan berbagai menu makanan

Mengais rezeki dan seringkali banyak yang mengganggap sinis mereka,

"Dasar PKL kerjanya hanya bikin kampus kotor bikin lalu lintas semrawut!"

Meski mereka selalu saja tersenyum dalam harapan mereka

"Mengais sedikit rezeki untuk mencukupi segala kebutuhan mereka, untuk mencari biaya buat pendidikan anak-anak mereka yang mulai melambung".

Memang semuanya adalah sebuah dinamika yang selalu saja bergerak dan terkadang terasa begitu cepat. Seperti saat malam yang datang menggusur kekuasaan penguasa siang. Dinamika, fenomena alam sebuah simbol dari yang maha seringkali tak pernah sampai pada pemahaman kita.

Pelan tapi pasti sambil merayap-rayap ditengah ramainya lalu lintas kota ini kendaraan dinasku telah sampai di depan rumah.

Lelah, letih semua aktivitas yang membuatku berada pada kondisi seperti ini. Aktivitas yang terus saja mengalir seperti zat alir begitu saja bergerak dan sesekali berbelok mengikuti alur yang ada.

Badan yang begitu letih telah kurebahkan di ranjangku. Berusaha untuk memejamkan mata barang sebentar tapi alam bawah sadar terus saja menggiringku pada bayang-bayang ketakutan itu. Sendiri dalam kegelapan dan terus saja di kejar-kejar oleh ketakutan itu.

Dalam suasana gelap dan jiwa yang begitu resah aku terus saja melangkah mencari sedikit jati diri, mencari sedikit kesejukan hati. Sebuah bayang kelam tiba-tiba muncul di hadapanku. Bayangan yang berkisah tentang segala kejadian di masa lalu. Bayangan yang memamerkan salah satu sisi dalam diriku di masa lalu yang kini telah hilang entah kemana. Bayang-bayang yang begitu cepat memporak-porandakan ruang-ruang kesadaran dan membangkitkan sebuah cerita tentang seseorang yang bernama aku.

Bayang-bayang terus saja membawaku dalam sebuah perjalanan waktu, dan menghalau keinginan untuk memberontak dari kekuasaannya. Aku dengan mudah di bawanya. Tubuh ini terus coba meronta, melawan dan berteriak sekuat mungkin namun apalah daya semuanya telah sia-sia. Aku tak punya tenaga lagi dan seperti kapas melayang-layang terbawa oleh bayangan itu.

Dalam perjalanan segala imaji dan anganku menerobos kembali jejak ruang dan waktu. Perjalanan yang terbentur pada sebuah perasaan itu, serba gundah gelisah. Aku mengalami perasaan ketakutan dan baru kali ini mengalaminya. Aku terus menerobos batas imajinasi di sebuah ruang di satu sisi kulihat remang-remang cahaya lilin dan lantunan-lantunan aneh yang kudengar.

Cahaya dan suara yang membuatku tertarik untuk mendekatinya. Aku terus mendekat ingin tahu apa yang sedang terjadi dan ada di tempat itu. Ruang yang masih misteri bagiku. Sebuah ruang yang cukup tertata rapi dengan cahaya muram dan potret yang mengisi dindingnya menghapus kesan rapi berubah jadi menyeramkan.

"Ngga mungkin…!", aku sangat terkejut saat mendekat dan melihat potret itu ternyata adalah aku sendiri. Begitu banyak foto-foto yang sangat lengkap dari aku masih bayi hingga sesaat sebelum aku kembali menuju tempat tinggalku.

Kuamati satu persatu album panjang itu. Seorang anak dusun, polos, dari keluarga miskin lolos tes masuk sebuah universitas negeri tertua, ", itu aku benar itu fotoku saat masih pertama kali jadi mahasiswa".

Diantara potret yang terpampang dalam dinding pandanganku mulai terfokus pada sebuah rekaman kejadian yang masih terekam dalam fikiranku. Aku terus saja melihat dan memandangi potret tersebut. Sayup-sayup aku mendengar suara seseorang yang sedang berorasi; suara dari seseorang anak muda yang begitu berpegang teguh pada sosok maya yang dinamakan dengan idealisme.

"Itu aku, yang sering berdiri dengan gagah membawa megaphone teriakkan suara perubahan di salah satu sudut kampusku",

"Hai siapa kamu?", entah apa yang sedang terjadi sosok di foto itu berubah menjadi nyata, dia menunjuk-nunjuk mukaku dia sedang marah, kecewa akan sesuatu padaku.

Aku hanya diam, kaget dan entah kenapa sosok-sosok yang lain dalam foto yang terpampang itu mulai menunjuk aku satu demi satu mereka keluar dari bingkai dan mengepungku.

"Hai siapa kamu?", serempak mereka berteriak

Aku terdiam, menggigil, takut dan benar-benar tak bisa berbuat apa . Melihatku yang hanya terdiam mereka mulai beringas makin mendekati mengepalkan tangan-tangan mereka. Akupun kini makin tak bisa berbuat apa-apa. Satu kesempatan yang ada membuatku bisa terlepas akupun berlari sekncang mungkin dan sekuat tenagaku. Aku berlaridan terus berlari sementara mereka terus mengejarku.

Dalam batas sebuah jalan peelarian akupun terhenti tak ayal lagi mereka menghajarku, mencincangku dan akhirnya aku tak sadarkan diri. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

"Kriiiing……kriiiing", suara raungan jam weker membuatku terbebas dari segala ketakutan. Lega ternyata yang kualami hanyalah mimpi. Semua tak nyata aku sudah kembali ke alam nyataku.

Seperti biasa pagi hari adalah awal dimana aku harus kembali mengawali rutinitas yang sangat melelahkan. Mobil dinas yang biasa membawaku telah siap dengan sopir yang ada di dalamnya. Segar memang tapi bayangan mimpi buruk semalam terus saja mengganggu fikiranku.

Mobil ini terus membawaku menuju kampus. Di sepanjang jalan aku hanya terdiam bayangan-bayangan masih saja melambai lambai. Mereka ada di anak kecil yang berangkat kesekolah, seorang mahasiswa yang ngebut mengejar jam kuliah, seorang dosen muda dan akhirnya bayangan itu terhenti pada sosokku saat ini. Mobil inipun akhirnya berhenti di gedung tua kampus ini.

Akupun segera turun dan menyusuri lorong-lorong gelap kampus ini.Lorong panjang dengan bentuk bangunan yang masih asli seperti lima puluh tahun lalu baru saja dibangun. Selangkah demi selangkah hingga akhirnya akupun sudah berada di ruangan kerjaku. Di depan aku telah di sambut senyum entah dari dalam atau bukan yang jelas ia berikan padaku. Aku telah disambut seorang sekretarisku.

Tampak di ruang tunggu beberapa orang mahasiswa telah menunggu penguasa nomor satu di kampus ini. Mereka yang begitu hijau dan terselubungi dalam sebuah selimut yang bernama idealisme. Melihat mereka seperti melihat diriku sendiri puluhan tahun yang silam dan di tempat yang sama.

Aku teringat kejadian puluhan tahun lalu saat menjalin asmara dengan seorang aktivis. Aku benar-benar jatuh dalam rengkuhan rasa saat itu. Kenangan yang begitu mendalam masih teringat dan tersimpan rapi dalam ruang memoriku. Masih kuingat betul kata-katanya waktu itu "aku adalah seorang yang ingin membawa angin perubahan..". Sebuah kisah singkat tapi masih terngiang hingga kini. Setelah sekian lama hingga kini belum pernah bertemu dengannya tapi dari kabar dia menikah dengan seorang yang dianggapnya satu ide, satu jalan, satu faham dengannya seorang pengacara hebat. Dia sendiri kini telah menjadi seorang jaksa; sebuah cita-cita yang dulu pernah dikatakannya padaku di sebuah kereta dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman.

Pekerjaan yang datang bertubi-tubi. Hilang satu yang lain berdatangan.

"Anda telah ditunggu oleh Pak rektor ada pertemuan penting hari ini…", kata sekretaris pribadiku.

"Oh ya sebentar lagi saya kesana".

Beberapa pejabat teras kampus telah berkumpul. Ada isu penting yang segera dibahas. Diantara mereka aku berada di persimpangan jalan. Di satu sisi aku dianggap sebagai orang rektorat dan di sisi lain aku harus membela mahasiswa yang sedang menyuarakan aspirasinya.

Mewakili rektor akupun turun menemui demonstran yang sudah mulai memanas di depan gedung tua ini. Mencoba menenangkan mereka walau suara-suara yang kudengar jelas menyiratkan sebuah kekecewaan karena tak bisa bertemu langsung dengan orang nomor satu di kampus ini.

Di tengah ketidak puasan aku hanya bisa menarik nafas. Di mata mereka tak lebih aku hanya dianggap sebagai antek-antek rektorat saja. Kenyataan memang menunjukan idealisme mahasiswaku telah lama kutinggalkan di saku jas almamater setelah selesai diwisuda puluhan tahun lalu.

****

Hari turunnya dosen dan mahasiswa di kampus tua inipun akan dikenang sebagai salah satu gambaran kelam sejarah yang pernah terjadi. Hari dimana ada yang tersadarkan bahwa kerakyatan yang didengung-dengungkan selama ini telah hilang dan harus dimunculkan kembali.


(Aku sedang berusaha pertahankan idealismeku untuk tak terbawa arus kejamnya zaman)

Yogyakarta 15 Juni 2006

Beberapa hari terakhir di kota ini begitu hingar-bingar demam akan sosok Superhero. Sosok manusia super yang mampu keluarkan jaring laba-laba dan kekuatan luar biasa. Entah kenapa sosok itupun juga turut pengaruhi fikiran dan angan-anganku. Seandainya aku jadi manusia super seperti tokoh Peter Marker(bukan Peter Parker) dalam cerita tersebut. Angan-angan mirip waktu aku masih anak ingusan.

Angan-angan menjadi sosok Superhero. Sesuatu yang membuatku terinspirasi namun juga menggelitikku. Seperti saat ini diperempatan pandanganku tertuju pada sosok superhero yang terpajang di sudut perempatan. Sang Superhero dengan kostum kebanggaan berpose menunjukkan kemampuan supernya. Sang Superhero begitu banyak sosok yang dipuja banyak orang hingga mampu menyedot animo masyarakat memenuhi semua bisokop yang ada di kota ini bahkan sempat terdengar bajakannyapun telah beredar dan bisa didapatkan di rental-rental.

Tergila-gila dengan sang superhero, begitulah apa yang sekarang terjadi pada khlayak di kota ini. Demam akan sang superhero sampai-sampai semuanya mereka ikuti dari pakaian, gaya pokoknya semua hingga bisa dibilang mirip dengan tokoh idolanya.

Di kota ini memang banyak lahir manusia-manusia penuh obsesi yang selalu terobsesi dengan munculnya sang superhero di masing-masing jamannya. Ternyata tiap generasi punya masing-masing superhero hingga akhirnya muncul ketentuan tak tertulis hanya superhero yang bisa memimpin. Hanya manusia perfect tanpa kesalahan yang boleh jadi pemimpin selain itu harus dijungkalkan bagaimanapun caranya.

Ada beberapa catatan tentang sosok superhero yang warga kota ini idolakan. Saat masih kecil dan belum mengerti arti seorang superhero, kakek pernah cerita tentang jagoan idolanya. Kakek mengidolakan Gatotkaca, sosok berotot kawat tulang besi. Kakek pernah cerita sosok inilah yang mengobsesi para insinyur di kota ini untuk membuat pesawat terbang yang dinamai dengan Tetuko, yang tak lain nama kecil dari Gatotkaca.

Gatotkaca, sang superhero yang mampu terbang di atas awan pada langit tinggi melesat cepat dengan kekuatan supernya. Pesawat yang dibuat para Insinyur juga demikian namun karena mengambil nama Tetuko terbangnya juga masih seperti Gatotkaca pada waktu masih kecil belum mampu terbang di atas awan. Tetuko masih belajar terbang dan hanya mampu terbang di bawah awan dengan baling-balingnya.

Tahun berganti tahun ternyata Tetuko tak kunjung bertambah kemampuannya. Sosok superhero ini hanya segitu saja hingga perlahan Tetuko mulai dilupakan. Kabar Terakhir rumah Tetuko sudah dibeli orang dan pembantu yang merawatnya sudah dipecat semua.

Ternyata aku bukan satu-satunya yang berdiri terpaku dan terpana dengan poster besar superhero di perempatan ini. Seorang anak kecil terus saja merengek-rengek, menarik-narik lengan ibunya sambil menunjuk poster tersebut. Usut punya usut si anak kecil melihat anak-anak lain seusianya yang diajak orang tuanya menonton film tentang sosok superhero tersebut.

Sang ibu ternyata hanya menjewer telinga si anak kecil. Ia menunjuk kea rah mobil dan motor di perempatan. Sebuah alat musik diberikannya pada anak kecil itu sambil ngomel-ngomel. Sambil meneteskan air mata dan terisak sang anak melangkah mendatangi mobil-mobil itu satu demi satu sambil menyanyikan lagu dengar suara yang tartutup suara klakson dan bisingnya lalu-lintas.

Ya semuanya memang akibat kecanduan superhero akut. Penyakit atau apalah yang melanda tak hanya padaku tapi pada semua warga kota ini. Superhero yang berhak jadi pemimpin, sosok yang selalu benar dan harus benar dan secepat mungkin mengndalikan segala sesuatu lebih cepat dari penyajian mie instant.

Tak heran jika sosok superhero dianggap atak ada ada orang-orang yang memimpin mereka sebagai jawabannya adalah demonstrasi dan aksi-aksi. Di aksi-aksi itulah muncul sosok superhero lain yang menjadi orang paling benar dengan pendapatnya.

Pernah dalam satu kesempatan orang-orang terpelajar di kota ini membuat satu seminar tentang percepatan laju ekonomi. Anehnya yang jadi pembicara bukan ahli ekonomi namun The Flash manusia supercepat sebagai key note speaker. Ekonomi harus diperbaiki dengan aksi lebih cepat dari mie instant.

Aneh-aneh saja perilaku negeri antah berantah ini. Tak sadar akupun tertawa. Kata hatiku berkata "Ah seandainya jadi superhero" dan bayangkan sperti yang dialami Peter Marker sang tokoh di poster itu.

Bayangan-bayangan meliputi dan…"tit..tit..tiiiiit"

Dari balakang klakson berbunyi dan menyadarkanku aku hidup didunia nyata. Meyadari tak ada manusia superhero di dunia nyata. Superman saja bisa lumpuh.

Motorkupun kembali melaju di salah satu sudut terlihat mahasiswa yang sedang aksi. Akupun teringat bayangan superhero dari negeri anath berantah. "Apakah mereka juga terkena virus superhero?..."

Tak taulah…semuanya punya jawaban atas yang dilakukan. Kalau aku sendiri lebih baik jadi manusia biasa tapi bisa berbuat banyak.

Fath…8 May 2007

Bus dalam kota telah membawaku menuju stasiun kota itu. Sebuah tempat yang selalu saja membuatku tersenyum mengingat kembali peristiwa lebih dari enam bulan yang lalu. Kisah yang masih saja tersimpan rapi dalam album kenanganku.

"Pak kiri!", teriakku pada sopir bus

Bis itupun berhenti di perempatan jalan dekat stasiun di kota tua ini. Aku melangkah menyusuri jalan menuju tempat perhentian kereta tersebut. Sayup-sayup di sebuah rumah dekat tukang becak mangkal kudengar lagu Bang Iwan Fals ijinkan aku mencintaimu. Lagu yang selalu membuatku kembali tersenyum. Lagi-lagi masih berkaitan dengan peristiwa enam bulan yang lalu.

Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu di stasiun Lempuyangan. Salah satu dari dua stasiun di Yogyakarta. Stasiun yang lain adalah Tugu, tetapi disana hanya untuk perhentian kereta kelas bisnis dan eksekutif.

Kereta Api ekspress Pasundan yang kutunggu-tunggu belum juga datang. Seingatku saat terakhir kali naik kereta seharusnya jam setengah tiga kereta api jurusan Bandung-Surabaya ini sudah datang. Sekarang sudah jam tiga, tapi kereta api itu belum juga datang.

“Kereta api Pasundan mengalami perubahan jadwal mas. Per Februari kemarin tiba di stasiun Lempuyangan Jam tiga lebih lima” begitu jawaban petugas stasiun saat kutanyakan kejelasan jadwal kedatangan kereta tersebut. Aku jadi ingat sindiran dalam lagu Iwan Fals “Biasanya kereta terlambat, dua jam mungkin biasa.” Moga aja terlambatnya ngga nyampe dua jam, sekarang sudah jam tiga lebih seperempat, berarti udah lebih sepuluh menit.

Heran juga jika bayangin pelayanan yang diberikan oleh fasilitas-fasilitas negara. Mengapa kualitasnya masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain? Atau memang begini nasib warga kelas bawah. Warga yang tiap kali naik kereta hanya mampu jadi penumpang kelas ekonomi. Haruskah kaum-kaum seperti ini selalu nrima? Harus nrima saat terjadi keterlambatan, nrima minimnya fasilitas, nrima ketika ditengah perjalanan harus ngalah sama temannya yang lain kelas: Bisnis dan Eksekutif.

Aku teringat dengan kuliah yang pernah disampaikan dosenku, tentang transportasi di luar negeri. Katanya sih di negara lain pelayanan begitu baik dan penggunanya juga cukup tertib dan disiplin dalam menggunakan segala fasilitas yang ada. Akhirnya kejengkelanku tetap saja berakhir walaupun ada banyak kelemahan yang dimiliki fasilitas transportasi ini, dari segi ongkos tentunya paling murah diantara sarana transportasi darat yang ada. Pasrah menerima yang bisa dilakukan oleh masyakat kelas bawah seperti aku ini. Kereta belum juga datang, perut ini sudah merasa lapar saja.

***

Dari kursi tunggu stasiun kupandangi kemegahan maha karya sang pencipta itu disampingku kira-kira lima meteran sekelompok pengamen menyanyikan lagu ijinkan aku mencaintaimunya Bang Iwan Fals. Begitu mempesona, menakjubkan sekali lagi menakjubkan belum ada kata-kata lain yang terfikir olehku untuk menggambarkannya. Andai bisa aku ingindekat, ingin mencium tangannya, memeluknya, mendekapnya ah tidak seperti itu fikiran kotor yang sering diobral dalam cerita stensilan.

Sesuatu yang membuatku tak kuasa untuk memberi gambaran lain tentangnya. Kuamati dan kulihat sekelebat awan kelabu yang terlintas. Sesuatu yang membuatku ingin tahu dan semakin memunculkan sebuah tanda tanya besar dalam diriku.

Dia menoleh kearahku. Pelan tapi pasti detak jantungku semakin kencang, nafasku mulai tersendat. "Ah sialan ketahuan", umpatku dalam hati. Sepertinya dia mengerti sedari tadi aku mencuri-curi kesempatan memandanginya.

Sebenarnya baru hari ini aku bertemu dengannya. Secara kebetulan di bis kota yang sama menuju stasiun dan kebetulan lagi tujuan kita sama.

Namanya bunga, persis seperti bayangan tiap-tiap manusia terhadap bunga dia juga seindah itu. Setidaknya itu penilainku.

Sejak pertama kali kenalan ia hanya sedikit sekali mengeluarkan kata-kata dan hanya sesekali menjawab ya, tidak, belum dan terkadang dengan senyuman kecilnya. Sebuah misteri yang makin membuatku bertanya-tanya tentang dirinya.

Sedari tadi aku yang menguasai pembicaraan. Kuceritakan perjalananku dan aku menyebut diriku seorang penulis" Cuih" sangat memalukan sebenarnya. Aku bangga dengan diriku sendiri sebagai orang dengan profesi yang sering dianggap tak punya masa depan cerah.

"Aku suka sekali menulis cerpen. Saat melakukannya aku seakan terbang dalam alam yang kusuka sesuai dengan imajinasiku", kataku. Ceramah tak bermutu yang sering dianggap angin lalu oleh sebagian rekanku kini mulai menarik perhatianya.

"Jadi benar kau seorang penulis? Sorry siapa namamu tadi?", ia mulai memperhitungkan keberadaanku,

"Panggil saja namaku aksara", jawabku,

"Aksara? Sungguh nama yang aneh mungkin seaneh dengan sikap dan tingkah lakumu. Sebenarnya sedari tadi aku juga memperhatikan semua ceritamu. Mungkin lebih baik aku menyebutmu dengan mas aneh saja", sedikit senyuman mulai terpancar dari wajah itu.

Senyuman yang membuatku makin bergejolak dalam konflik rasa. Sedemikian cepatkah rasa ikut bermain?.

"Terserahlah asal membuatmu nyaman terserah kau mau panggil aku apa aja", jawabku

Cerita demi cerita canda demi canda semua terlontarkan di atas kursi tunggu stasiun ini.

"Kau baru pertama kali naik kereta ya?" kataku

"Kok kau bisa tahu? Paranormal ya", tanyanya balik keheranan.

"Pasti aku tahu dari semua ceritamu tadi sudah bisa memberiku info yang cukup",

"Memang ini yang pertama tapi bukan seumur hidupku. Ini yang pertama kualami dalam kehidupan baruku", jawabnya

Jawaban yang makin membuatku bertanya-tanya tentang dirinya.

Kereta jurusan Jawa bagian Timur mulai melaju. Saatku mulai melanjutkan semua ceritaku. Entah kenapa sesuatu tanda tanya terpampang dalam sisi hatiku. Ada semacam perasaan aneh yang mulai muncul.

"Sebenarnya saat pertama kali ngobrol di bus tadi aku ingin menuju terminal. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin naik kereta juga padahal aku belum pernah dari kota ini menuju kota kita dengan kereta",

Aku mulai menjadi pendengar yang baik. Satu demi satu ceriat muncul. Ada semacam kepuasan setelah dia ungkapkan semuanya. Aku yakin ia seorang yang terluka.

"Kau penulis kan?" katanya

"Ya aku penulis seperti juga dirimu", dia ternyata juga seorang penulis sepertiku.

Dia mulai lagi sebuah cerita. Jika aku bisa menulis semua yang dipaparkannya mungkin saja sudah jadi berhalaman cerpen. Keberadaanku sebagai seorang penulis makin membuatku ingin tahu segalanya. Ada sebuah misteri dalam dirinya. Sesuatu yang ingin kuungkapkan.

Dan tiba-tiba saja ia terdiam tertegun dalam lamunannya.

"Kenapa kau tiba-tiba diam?" tanyaku

"Tak ada apa-apa. Aku hanya marah saja", jawabnya singkat

"Marah pada siapa?" aku terus mengejarnya dengan berbagai pertanyaan

"tak tahulah pada siapa aku marah. Mungkin saja pada nasib atau tak tahulah kenapa aku marah",

Sejenak dia memandangi deretan rumah-rumah yang nampak dari kaca jendela kereta. Aku tak mau mengganggu dan membiarkanya terlelap dalam dunia lamunannya.

Namanya bintang, ia juga mahasiswa sepertiku. Dari apa yang diceritakan pastilah ia seorang aktivis. Ada satu hal yang sama diantara kita; seorang penulis. Sekali lagi dari matanya aku bisa membaca ia sedang memendam luka batin yang harui demi hari makin bertambah saja.

Kereta terus melaju membelah gelapnya malam. Dia mulai terlelap tak sengaja kepalanya tersandar di pundakku. Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh. Tiba-tiba saja aku bisa membaca dia wanita yang tengah menanggung luka. Dalam perjalanan ini aku tiba-tiba saja ingin mengobati lukanya. Dia tetap cantik, mempesona dalam ketidak berdayaannya.

Fikiranku kini campur aduk akan bayang-bayang masa laluku. Menelusuri lagi bagaimana rasanya jadi orang yang tengah terluka. Kurasa mungkin hal itu yang tenagh ia rasakan dan aku bisa memahami.

Kereta mulai sepi walau kadang ada satu dua pedagang yang menawarkan dagangannya. Kebanyakan penumpang telah terlelap dalam perjalanan ini. Aku masih terjaga rasanya tak ingin cepat sampai ke tempat tujuan.
Dari kereta ini aku mengenal bintang.


****

Bintang itu telah pergi.Telah lama ia menghilang. Mungkin saja ia telah menemukan jalan hidupnya mengikutii roda kehidupan.

Jangan pergi.akhir2 ini aku sudah begitu akrab dengan hidup baru yang dibawa oleh seorang aksara.apa kau tak mau menjadi seperti kemarin yang selalu di sampingku?

Kata-kata yang masih kuingat saat aku ingin mengakhiri semua. Setelah aku bertahan semuanya akhirnya hancur juga. Bintangku telah menghilang.

Begitulah sebuah kisah berawal dan berakhir tanpa bisa ditebak kapan dan bagaimana hasilnya. Ada berbagai macam kisah yang dialami oleh manusia ada suka, duka semua bergonta ganti tanpa bisa ditebak dan jalan cerita ada di tangan Sang pemilik rahasia.

Ada sesuatu yang menurutku sebenarnya kurang adil tapi kenyataan memaksaku untuk menerima semuanya dengan tanpa syarat apapun. Adil-tak adil yang jelas semuanya adalah kenyataan yang harus kuterima. Menerima walaupun ada sisi hati yang enggan untuk mengatakan ya.

Sebuah pesan ia tulis di lembar kenangan itu. Sebuah kenangan terukir di gerbong kereta itu.

Kereta yang kutuju telah datang dan segera bersiap menuju tempat tujuan. Tak jauh dari bangku yang kupilih kulihat sepasang anak manusia yang kepala sang wanita tersandar di pundak dan sang lelaki tatapannya membelah jalan kesunyian. Dalam hati aku tersenyum


Keretapun terus berjalan dan aku dengan lelap tertidur menikmati kesendirian perjalananku.

Kehidupan punya cerita, semua punya kisah…

Kisah punya makna dan makna punya sebuah pelajaran…

Entah itu sakit, entah itu bahagia semua harus diterima. Semuanya adalah pembelajaran mencapai sebuah proses menuju manusia yang benar-benar manusia…

Hanya manusia yang bisa memanusiakan manusia yang layak untuk dianggap sebagai manusia.

Terima kasih buat bintang kecil terindahku dari mas anehmu yang tetap akan menjadi mas yang aneh…

Pogung, Juli 2006

( Bintang itupun menghilang dan tergantikan oleh angin malam….)

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.