Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Sunday, July 29, 2007


Senandung Sunyi buat elang..
bahagia buat sepasang merpati
Sunyi menerpa di satu cerita..
dan haru biru di cerita lain

Satu cerita begitu sunyi..
aku tak temukan dirimu..
kata elang yang diradang sepi

kulihat kerumunan pelaku cerita kalau-kalau...

Ah nyatanya aku sendiri..
tak kutemukan apa yang kucari
Disana satu cerita lain kau tersenyum bahagia merajut satu kisah..
Semoga untuk selamanya kataku..
Ini ceritamu..dan bukan ceritaku...



Sampai jumpa...
tersenyumlah...
bahteramu segera siap..
segeralah berlayar..
Tersenyumlah kau sepasang merpati..
amor..au revoir


Jakarta 29 Juli 2007..
untuk sepasang merpati yang akan menyatu di 4 Agustus 2007

Saturday, July 28, 2007

Suatu ketika di angkringan Lik Man saat melihat kau tersenyum..
Sang Elang Kini Punya Impian baru....Baru saja dia cerita tentang impian barunya. Cerita yang langsung kutangkap dari mulutnya. Entah kenapa aku seperti tersihir mendengarkan satu demi satu ceritanya.
"Kau memang jago cerita kawan" kataku
"Ya, tak salah lagi aku harus jago cerita semuanya berkaitan dengan impianku yang tadi. Suatu saat aku harus mendapatkan nobel sastra", katanya
Aku iya-iyakan saja dengarkan semua ocehannya. Ya dia cerita begitu meyakinkan meski dalam hati kecil sebenarnya tertawa.

"Pram saja hanya beberapa kali dapat kandidat hanya sebatas calon masa dia yang masih hijau (seperti hijaunya baju seragam SMU yang dulu pernah ia pakai) begitu yakin akan dapat penghargaan itu", gerutuku dalam hati.
Kutanyakan sebuah pertanyaan padanya", Kenapa kau begitu yakin kawan".
Kalau ngga' salah jawabnya begini "Hanya dengan berbekal keyakinan aku bisa tegak hingga saat ini". Sebuah jawaban yang sungguh mampu menggetarkan hatiku.
Kemarin sempat juga dia berikan coretan terbarunya.
"Tolong bacakan tulisan ini keras-keras agar semua mendengarnya"
Sebuah cerita tentang nona kecil

Nona kecil yang masuk dalam kehidupanku. Tak tahu pertama kali dia datang. Yang jelas saat ini dia masih ada, memang dia bukanlah nona kecilku tapi entah kenapa hingga saat ini keberadaannya mampu meluluhkan hatiku.
Pernah aku cerita pada nona kecilku tentang arti dari sebuah fondasi. Fondasi sebagai landasan awal dari sebuah kekokohan. Aku ceritakan tentang diriku yang tengah membangun sebuah fondasi untuk bangunan yang tahan gempa dan digunakan selama mungkin.
"Dasar orang sipil?" Katanya
"Bukan fondasi seperti itu. Itu hanya kiasan dari landasan dari hubungan yang tengah kubangun. Aku sedang belajar tentang jenis tanah untuk memastikan fondasi apa yang cocok dan ukurannya. Kau mengerti kan yang kumaksud?"Tanyaku
"Ah aku makin bingung saja. Dasar kau orang aneh", Katanya

"Aneh??? Itulah aku jika Anehnya hilang berarti bukan aku lagi", Jawabku
Nona kecil kini terdiam. Menyimpan sejuta rahasia yang hingga kini belum bisa kutemukan.
Ah terus terang saat terdiam sebuah pesona terpancar darinya. Sosok tegar mungkin saja melebihi seorang Frida kahlo.
Melihatnya seperti itu akupun seperti tersihir. Semangatku kini melecut. Aku kembali tegak.
"Aneh nona kecil. Aku rasakan sesuatu yang aneh", kataku
"Aneh seperti apa?" Tanyanya
Akupun elang coba mengganti pokok pembicaraan sambil menyindir-nyindir nona kecil akan sebuah kisahnya. Nona kecilpun mencubit lenganku. Ku hanya tertawa-tawa lihat ekspresi semuanya.

"Hingga saat ini kau itu bukan apa-apaku begitu juga aku bukan apa-apamu tetapi sepertinya ada hal aneh. Rasanya aku merasakan sebuah ketenangan jika kau menyapaku, jika kau tersenyum padaku. Aku tak tahu apa kau juga rasakan yang seperti itu", Jawaban yang hanya kuucapkan dalam hati. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Nona kecilku hanya tersenyum. Bersama kami telah melewati sebuah perjalanan waktu dan hingga saat inipun seperti itu. Berjalan mencari sesuatu, sebuah arti kehidupan lewat jalan yang sama untuk saat ini.

Saat ini jalanya sama tapi aku tak tahu tujuan yang ingin dicapai nona kecilku. Jika suatu saat ternyata tujuan kita sama aku akan tersenyum dan memberikan yang terbaik untuknya tapi jika ternyata tujuannya tak seperti yang kukira aku akan tetap tersenyum dan berterima kasih karena telah menemaniku dalam penggalan perjalanan kehidupanku.
Ya seperti itu coretan dari sang elang yang diberikannya padaku...
Masa nulis kaya gini pingin dapat nobel sastra.
"Aku bertanya apakah ini karya terbaikmu?", tanyaku
"Bukan", jawabnya
"Lalu apa?", tanyaku lagi
Ini hanyalah ungkapan hatiku buat nona kecilku

"Ada-ada saja kau ini. Dulu katanya bintang kecil telah membuatmu terluka kini kau bermain api lagi dengan Nona kecil...Apa sebenarnya keinginanmu?",tanyaku lagi
"Tidak ada maksud dan keinginan khusus. "Tidak" Itu hanya latihan ketegaran hatiku saja jika ternyata suatu saat nona kecil ternyata mempunyai tujuan yang lain denganku. Nona kecil berbelok dan berpisah denganku aku akan tegar dan mampu menerimanya", jawabnya
"Jika kau takut kenapa tak kau ungkapkan saja perasaanmu pada nona kecilmu?" Tanyaku,
"Nona kecilku sudah terlalu baik hati untuk bersedia menyapa dan menemaniku hingga saat ini. Aku tak menuntut yang lebih dari itu. Meskipun kata hati ingin lebih dari itu",
Malam minggu aku harus temani sang elang sambil denger lagu radionya sheila on 7. Mataku makin ngantuk saja. Sayup-sayup sang elang terus mengoceh tentang nona kecilnya sambil sesekali cerita tentang impiannya meraih hadiah nobel sastra.
Mataku tak bisa kutahan lagi. Mengakhiri tulisan yang mungkin masih ada yang baca dan semoga bisa membuat orang tersenyum dan selalu terinspirasi.

4 November 2006 (23.56 WIB)

Ingin rasanya air mata menetes entah karena apa. Atau mungkin karena rindu y? Lalu rindu pada siapa? Nona kecilkah....Terima kasih telah membantu aku temukan arti kemandirian dan ketegaran...(Sang Elang).



Sedari tadi belum sempat aku menyeruput kopi panas yang sudah terhidang di depanku. Aku masih disibukkan perhatianku pada seseorang didepanku. Pandanganku masih tertuju padanya.
Begitu menarik bagiku memperhatikan caranya menikmati cairan panas berwarna kehitam-hitaman itu. Dia cuek saja, seakan tak peduli seseorang sudah lama memperhatikan segala tingkah lakunya.


Saat wajahnya tertuju padaku dia hanya tersenyum, tersipu malu dan kembali menikmati minuman panas khas warung angkringan ini. Dia masih saja cuek walau terkadang terlihat tersipu malu saat menyadari perhatianku padanya sejak tadi.
Wanita cantik berada di sampingku. Heran juga semuanya terjadi secara kebetulan hingga sampai pada suatu ketika aku kenal, dan dekat dengannya. Namanya angin malam, dialah sahabat kesepianku.
Suasana malam ini semakin hidup saja. Tiupan angin dan bunyi kereta api lewat belum lagi kerumunan para konsumen lain yang berjejer duduk memenuhi sepanjang trotoar di jalan ini. Sekelompok pemusik jalanan mendatangi tempat kami menikmati malam ini.
"Mau request lagu apa?", tanya salah seorang dari mereka.
Sesaat aku tersenyum melirik padanya. Seakan memberi kode yang menanyakan dia minta lagu apa.
"Terserah", jawabnya
"Terserah mas. Pokoknya yang enak didengar saja", jawabku mengulangi jawabnya
Alunan musik mulai dimainkan. Senandung lagu Yogyakarta mereka nyanyikan. Aku begitu masuk dalam lagu itu. Mengikuti alur secara tak sadar tanganku meraih segelas kopi dan pelan-pelan mulai menyeruput minuman berkafein yang sudah mulai dingin itu.
Malam yang indah. Kejadian kecil di tengah ramainya kota budaya. Dari kejauhan terdengar suara kereta api yang menuju stasiun Tugu. Suaranya seakan menyatu dengan suasana dan alunan yang ada di antara kami.
Angin malam; pasti kau ingin tahu siapakah dia? Akan kuceritakan pertemuan yang mempertemukanku dengannya. Dan segala sesuatu hingga sampai saat ini.
****
Namaku angin …………. Seperti namaku aku begitu ringan, berhembus kemanapun kusuka. Ada juga yang menambahiku dengan sebutan angin liar...
Dulu aku begitu membenci arti dari sebuah kesepian, kesunyian hingga datang suatu masa dimana kesepianku hilang, kesunyianku musnah. Saat yang begitu kunantikan. Sebuah imajinasi sering tergambar olehku itulah yang kudambakan. Saat kesepianku hilang aku akan lebih menikmati hidup.
Aku angin liar. Bisa pergi kemanapun aku suka. Tak ada yang mengekang dan tak ada yang mengurungku dalam ruang sempit diantara sekat-sekat kehidupan. Aku manusia bebas saat itu: saat sunyi sepi masih menyelimutiku.
Suatu saat ceritapun berubah. Suasanapun berganti. Pelan-pelan aku tak lagi menjadi angin liar. Aku hanyalah udara yang terperangkap dalam tabung gas. Saat sebuah cerita datang dan aku bersenyawa dengan unsur lain; Bintang kecil aku menyebutnya.
Saat yang dinanti ketika bintang kecil hadir dalam kesunyianku. Saat itulah angin liar tak lagi liar, tak lagi bebas. Angin liar menjadi begitu statis dalam kungkungan tabung perasaannya. Aku tak lagi merdeka.
Ada saat dimana senyawa kami jadi seperti aliran air yang dihadang oleh sebuah bendung yang terlalu rapuh. Senyawa yang tak terkendalikan hingga dalam waktu begitu singkat bendung itupun jebol. Jebol bukan karena luapan lumpur porong tapi karena senyawa itu memang harus berpisah. Senyawa itu tak tepat untuk dijadikan satu.
Akupun meluap. Aku yang telah berubah menjadi air tak lagi terkendalikan mengikuti kontur yang ada.
Dalam keputus asaan aku yang merasa hancur terkekang dalam sebuah lubang sempit.
****
Senja telah menyelimuti bumi tempatku berpijak. Hawa dingin menembus tulang. Semuanya begitu terasa apalagi saat angin malam bertiup. Hembusannya mampu menembus jaket tebal yang melindungi tubuhku.Motorkupun terus melaju membelah gelapnya jalanan diantara hutan wonosari.
Gelap di sepanjang jalan. Cahaya lampu kendaraan yang berlalu lalang yang sedikit membuat kegelapan itu terkurangi. Bayangan rentetan persoalan hidup mengiringi sepanjang perjalananku. Tentang pekerjaan, kisah masa lalu dan begitu banyak hal lain yang jika kuturuti akan mampu meledakkan isi otakku.

Bagian yang paling menarik saat melewati jalanan ini adalah saat diujung perbukitan menjelang jalan turun. Gemerlap lampu kota seperti titik-titik terang yang membelah kegelapan. Indah memang, pemandangan yang sering dinikmati pasangan muda-mudi yang terjebak rasa. Tak heran begitu banyak deretan motor yang terlihat disana.
Aku menengadah menatap langit. Kulihat tebaran angin di atas sana. Aku baru ingat ada sesuatu yang menghilang dalam kehidupanku. Aneh memang rasanya. Telah lama aku tak berhubungan dengan angin. Ia sepertinya lenyap begitu saja. Tak lagi bisa kutemui sepeda warna perak di perpustakaan kecil itu. Sehari, dua hari, tiga hari nampaknya ia benar-benar menghilang.
"Ayo berangkat, teman-teman sudah menunggu",
Aku mulai melangkah memasuki gerbong kereta tujuan ibukota itu. Aku harus meninggalkan kota ini dengan sebuah kisah yang pernah tergores di perpustakaan kecil itu.
Dalam hati aku hanya bisa berharap, berdo'a suatu saat bisa kembali bertemu kembali dengannya.


Perjalanan baru kumulai sepenggal. Sudikah kau selalu ada disisiku…
Ah tak usahlah kau berkata seperti itu . Kata-kata yang telah kukubur dalam sejarah hidupku. Satu yang pasti kuingin kita tetap bersama hingga menemukan arti dari kehidupan.
Di tengah diriku yang begitu terasing tak diperhitungkan untunglah masih saja ada sang angin yang sudi menemani hari-hari sepi dan malam-malam sunyiku. Bersama sang angin menikmati sepanjang jalan perjuangan. Bersama sang angin mencoba mencari arti kehidupan.
Apa Kabar Angin Malam!
Bawa Kabar Apa Kau Malam Ini? Kau Datang Dengan Tangan Hampa? Tak Bawa Rahasia Malamukah?



Kenapa Kau Diam Saja Angin Malam?
Kau Berhembus Dan Lewat Begitu Saja….
Ya Aku Tahu Dan Mampu Merasakannya…
Baiklah Angin Malam Aku Tak Akan Bertanya Lagi Kutahu Yang Kau Bawa Adalah Sebuah Rahasia Malam Yang Tak Bisa Kumiliki lagi..
Sekarang Pergilah Dan Bawa Rahasia Malammu itu
Sekarang Aku Tahu Bagaimanapun Juga Kau Hanya Angin Malam Yang Datang Berhembus Kemudian Pergi Lagi
Mungkin Saja Kau Esok Datang Lagi Dan Membawa Rahasia-Rahasia Lain Lagi
Setelah Sempat Berhenti DiTempatku Kini Kau Bawa Rahasia Malammu Ketempat lain…Yang Tentu Saja Tak Terjangkau Lagi Olehku..
Apakah Kau Akan Selamanya Berhenti Di sana? Atau Akan Kembali Lagi padaku Dengan Rahasiamu itu?



Mengapa jiwaku meski bergetar sedang musikpun manis kudengar...mungkin karena kulihat lagi lentik bulu matamu.....................kau goreskan gita cinta...



Gadjah Mada Kampus Tercinta, November 2006

Tan Malaka
Sejarawan Belanda, Harry A Poeze, Jumat (27/7) di Jakarta, menjelaskan, Tan Malaka ditembak mati tanggal 21 Februari1949. Selama ini kematian Pahlawan Nasional Tan Malaka itu menjadimisteri sejak lebih dari setengah abad."Dia ditembak atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatanbagian Divisi Brawijaya, yang terakhir berpangkat brigadir jenderaldan pernah menjadi Wali Kota Surabaya. Data tersebut diperoleh darikesaksian pelbagai pihak, seperti rekan gerilya Tan Malaka, anggotaBatalyon Sikatan, keterangan warga desa dan tokoh-tokoh angkatan1945," kata Poeze yang memulai riset Tan Malaka sejak tahun 1980dengan menemui banyak tokoh nasional.Harry Poeze yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belandauntuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) menambahkan, Tan Malakaditembak di Desa Selo Panggung di kaki Gunung Wilis di Jawa Timur.

Eksekusi yang terjadi selepas agresi militer Belanda ke-2 itu didasarisurat perintah Panglima Daerah Militer Brawijaya Soengkono dankomandan brigade-nya, Soerahmat. Petinggi militer di Jawa Timur menilai seruan Tan Malaka yang menilaipenahanan Bung Karno dan Bung Hatta di Bangka menciptakan kekosongankepemimpinan serta enggannya elite militer bergerilya dianggapmembahayakan stabilitas. Mereka pun memerintahkan penangkapan TanMalaka yang sempat ditahan di Desa Patje. Sebelum ditangkap, Tan Malaka memimpin gerilya melawan Belanda di DesaBelimbing. Dia juga mengimbau seluruh rakyat melakukan perjuangansemesta melawan Belanda, seperti yang dilakukan Panglima BesarJenderal Soedirman.

Tan Malaka, yang pada bulan September 1945 pernah disiapkan Bung Karnountuk memimpin Indonesia jika Proklamator mengalami bahaya sehinggatidak mampu bertugas, sempat lolos dari tahanan bersama 50 gerilyaanti-Belanda yang dipimpinnya. Namun, Tan Malaka yang berpisah danbergerak dalam rombongan kecil berjumlah enam orang ditangkap LetnanDua Soekotjo di Desa Selo Panggung yang berakhir dengan eksekusi.Menurut Poeze, Menteri Sosial Republik Indonesia sudah setuju untukmengerahkan tim forensik mencari sisa jenazah Tan Malaka. Tan Malakasempat dijuluki "Bapak Repoebliek Indonesia" selepas medio 1920-ankarena menerbitkan buku Naar Repoebliek Indonesia (Menuju RepoebliekIndonesia) dalam Bahasa Belada dan Melayu tahun 1924 di Kanton(sekarang Guangzhou), China.

Diketahui, ratusan jilid buku tersebutdiselundupkan ke Hindia Belanda dan diterima para tokoh pergerakan,termasuk pemuda Soekarno. Walhasil, Tan Malaka pun dikenal sebagaiBapak Repoebliek Indonesia jauh sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945.Fakta tersebut ditampilkan dalam tiga jilid buku berjudul Tan MalakaVerguisd en Vergeten (Tan Malaka Dihujat dan Dilupakan). Edisi bahasaIndonesia buku tersebut akan diterbitkan enam jilid selama dua tahunhingga 2009, dimulai Senin pekan depan. 

Sumber : Kompas 

Thursday, July 26, 2007

Apa Kabar Angin Malam!
Rasanya telah lama ku tak lagi menyapamu ..
Sebenarnya telah lama aku mencarimu
Melanglang buana membelah angkasa hanya mencari jejak langkahmu
Namun kepak sayapku yang tak seperkasa Shukoi tak sanggup lagi meraih dan mengendus jejakmu….
Apakah kau benar-benar telah bertiup ke lain tempat..?
Atau kau telah terkurung dalam rumah kacanya Pramoedya
Telah lama deretan puisi, sajak dan prosa yang selalu saja kita susun bersama dalam kisah malam kita tak lagi terbaca..
Meski tak sedahsyat karya pram atau seheboh sajak rendra cerita tentang kita masih kusimpan rapi di dalam lemari es…
Oleh karenanya semuanya membeku…Cerita kita yang membeku…
Aku masih simpan cerita kita
Bekas cubitan kecilmu sengaja kubiarkan membekas dan tak akan kuseka
Prosa kehidupan yang selalu saja membelah keheningan malam
Kedinginan malampun selalu reda tiap kali untaian sajakmu terlantun beriring melodi kebahagiaan dan keceriaan
Anggur RUMI yang selalu kau berikan selalu saja mampu melepas dahagaku dan membuatku mabuk dan membawaku dalam ekstase jiwa
selalu saja memuji kata-kataku yang kau anggap pantas diraih oleh paraih nobel sastra meskipun sebenarnya kau tahu itu hanyalah rentetan aksara tanpa makna yang kuambil satu persatu dari ocehan gelandangan kota dalam coretan spidol dan cat minyak
Dan tiap orang dengan mudah mendapatkannya di tiap sudut kota ini
Masih ku ingat awan-awan yang tiba-tiba saja pergi memberi kesempatan bintang terangi perjalanan malam kita..
Angin Malam…aku kembali lagi diingatkan..
Aku Tahu Bagaimanapun Juga Kau Hanya Angin Malam
Yang Datang Berhembus Kemudian Pergi Lagi
Jika suatu saat kau kembali lewati istanaku singgah saja barang sebentar
Sebuah microwave yang kudapatkan dari pasar loak baru saja terbeli dari hasil peluh kapak sayapku
Harapanku Microwave yang suatu saat akan mencairkan kembali kisah lama yang masih kubekukan sementara dalam almari es ..
Atau kau benar-benar enggan lagi berhembus didepanku?
Apakah Kau Akan Selamanya Berhenti Di sana?
Atau Akan Kembali Lagi padaku Dengan Rahasiamu itu?
Atau kau benar-benar telah menjadi angin liar?
Aku hanya bisa menebak angin malam…
Dan sekali lagi aku kembali teringat kau hanya angin malam yang tak mudah untuk ditebak-tebak…
Aku kini coba yakinkan diri…
Semuanya yang pernah terjadi hanya sebuah PARODI
Sarang elang 25 Maret 2007

Kapan lagi kutulis untukmu....Kata hati sang elang bertanya tentang satu pekerjaan yang belum pernah diselesaikannya. Mirip lagunya Jikustik...........ini tentang prosa yang tak terselesaikan. Meskipun berulang-ulang diminta dan ia hanya tersenyum masih dalam proses.
"Cerita yang kau pinta mungkin hanya seperti itu....sepenggal kisah yang pernah kuberi dulu. Akhir dari ceritanya tentu saja tergantung padamu....."
Kata-kata sang elang tentang cerita yang tak terselesaikannya
>>>>
Dengan kamera tua olympus miliknya wartawan amatir itu mulai mengambil obyek-obyek yang membuatnya menarik. Apa saja ia ambil tak tahu untuk apa gambar-gambar itu. Yang jelas bukan untuk dikirim ke surat kabar tempatnya bekerja.Sesuatu yang mungkin saja hanya sebuah keisengan untuk mengisi waktu luangnya.
Kini matanya tertuju pada satu arah. Dari kejauhan dilihatnya seorang wanita berambut panjang lurus dengan ikatan rapi. Seorang wanita berbaju rapi dengan kaca-mata. Dengan sepedanya pelan-pelan ia naiki. Wanita berkaca mata membelah jalanan kampus dan masih saja dalam tangkapan mata sang wartawan. Kamera sang wartawan mulai dibidikkan pada sasarannya. Sang wanita terus saja melaju seakan tak ada apa-apa. Terus saja ia mengayuh sepedanya meter demi meter. Ia tak menyadari saat sang wartawan amatir membidikan kamera kearahnya.
Satu, dua, tiga, empat, lima kali sang lelaki membidikkan kameranya. Sebuah senyuman terpancar dari wanita berambut panjang itu. Tapi entah senyuman itu untuk siapa yang jelas terpancar dari wajahnya.
>>>>>>>>
Untukmu yang berselimutkan salju...
semakin memutih dan tak kasat oleh mataku
Untukmu yang membisu...menyisakan satu tatapan berdinding kata kosong menutupi satu cerita yang diam-diam masih kau simpan...
untukmu yang begitu hebat hingga mampu mempu membuatku tetap pada satu ruang rindu hanya untukmu dan bukan untuk yang lain
Untukmu yang meninggalkan lukisan bergambar wajahmu...menghiasi tiap jalan kenangan dan terus saja memanggilku....terus saja mengiringiku dengan tawa...satu impian tentang kebahagiaan...
Untukmu aku masih tetap disini...tempat yang sama ketika dulu kau menyapaku dan kita bersama menjalani semuanya dalam satu dunia....
Untukmu tentu saja untukmu bukan untuk yang lain....
Untukmu yang mampu membuatku tersenyum...
Satu cerita untuk melengkapi prosa yang pernah kita tulis melanjutkan buku kehidupanku dan mungkin kau masih kunanti...karena kutahu kau juga tahu bahwa aku tak akan mungkin berikan cerita pesananmu karena lakon uatmanya adalah dirimu...
>>>>>>>>>


Andaikan semua cerita berakhir bahagia....Adi Adrian mengiringi penulisan sajak menurutku ini

Vidi Net bar Subuh 13 april 2007

Aku Ingin MEMBUNUHMU.....
Dalam kungkungan Emosi...
Dalam lingkaran Keputusasaan...
Dalam Untaian Kegelapan..
Dalam Bayang-bayang Kenangan...
Aku muak Melihatmu...Melihatmu...Melihatmu...Melihatnya
Aku Ingin Membunuhmu Seandainya Tak Ada Balasan Dosa..
Membunuhmu hingga nyawa dan rohmu tak bersisa..
Membunuh kenangan hingga kenanganmu tak meninggalkan abu saat kubakar..
Membunuhmu Jika Saja Tak Ada Air mata....
Jika Saja Tak Ada Rasa..
Ketika Aku Sadar Bahwa Masih Punya Air Mata..Masih Ada Rasa..
Saat Itupun aku Urungkan Niatku...
Dalam Belenggu Keputusasaan Air Mata Menggenangiku..
Air mata "berasakan anggur RUMI" membuatku takluk dan mengalah dari kejauhan tempatku..
Mengalah bukan karna ketakmampuanku...namun karena air mata yang jatuh pada mataku...
Tembang-tembang kematian yang kulantunkan padamu dan padanyapun lenyap...
Dalam garis lurus...dibawah tuntunan cahaya aku terduduk lesu...
Akupun terbujuk Janji2 bintang2 dan angin yang katakan jangan menyerah
Masih ada hari esok..
Ada cerita yang mungkin belum kau ketahui...Katanya..
Dan cerita itu nantinya menjadi milikmu...katanya...
Dengan masih terduduk sambil mengasah pedangku aku belum sepenuhnya percaya...
Namun gemerlap bintang2 yang menyambutku tak bisa kuelakkan untuk terus berjalan di jalan ketiga diluar keputusasaanku..
Kau masih bisa menggapai bintangmu...
Suara hatikupun mampu menghancurkan bongkahan emosi yang sempat merasukiku..


Taurusita...27 April 2007

Ombak bertubi-tubi menerjang bibir pantai
Datang dan pergi silih berganti
Buih putih tertinggal mewarnai pasir pantai tersebar
Air laut mulai pasang
Salah satu tanda datangnya malam…
Di Ufuk Barat Sang Surya mulai meredup
Angin mulai berhembus dan makin kencang
Saat itu ukiran nama dan sebuah kisah yang kugores di pagi hari pada hamparan pasir hitam perlahan mulai terkikis..
Terus terkikis hingga akhirnya menghilang
Saat itulah Akhir Agustus aku suarakan sebuah nafas baru
Saat itulah kusebarkan pada ombak, angin dan matahari tentang satu kisah
Tentang dunia semu yang pernah terbangun dan terjaga dalam hati bertahun-tahun…
Aku bertutur walaupun tuturku tak bersuara…
Sebuah tutur lewat goresan tangan di pantai mengisahkan semua…
Aku suarakan nafas baru…
Saat nyanyian rindu perlahan mulai menghilang dan terus menghilang…
Dalam lelahku akupun tersenyum melepas cerita tentangmu bersama ombak dan angin malam….
Masih teringat akan sebuah kenangan…
Dulu bila mentari tersenyum akupun melihat senyumanmu disana..
Tapi tidak esok hari….
senyummu yang telah kubungkus, lebur dan terbawa ombak..
Ketika Agustus melepas kau dengan kehidupan baru…
Dan akupun tetap dengan suara lantangku tetap tersenyum
Senyumanku gantikan senyummu yang telah terbawa ombak..
Dan nantinya esok suatu saat ketika mendengar berita tentang cerita lama yang dibawa ombak…
aku akan tersenyum sekedar mengenang dan tempatkan dalam satu bagian dalam ruangan kehidupanku
Bukan untuk mengenang atau coba mengingat
Semua sekedar bagian bumbu dari satu cerita kehidupanku….
MFA…

Soepaja djalannja SAMA RATA,
Jang berdjalan poen SAMA me RASA,
Enak dan senang bersama-sama,
Ja’toe: "Sama rasa, sama rata."

(Sinar Djawa 10 April 1918)

sumber :  indomarxist.net


Awal abad 20 tahun, gerbang dibukanya abad pencerahan. Jaman pergerakan, ditandai dengan hadirnya koran, munculnya puluhan jurnalis muda. Muncul pula sebuah pola baru dalam gerakan, organisasi. Dunia penerbitan –yang rata-rata dimiliki oleh orang Tionghoa-- pun mencapai titik terang, ikut pula berperan mendorong proses kemajuan intelektual kaum bumi putra. Kaum jurnalis menjelma sekaligus sebagai aktivis-aktivis dan pimpinan pergerakan.Pada masanya, Marco dikenal sebagai salah seorang jurnalis tangguh. Ciri khas yang paling kentara ialah: ia selalu menulis apa yang dilihat dan dirasa secara lugas. Tanpa ditutupi-tutupi. Tidak juga serba dipoles-poles, hingga akhirnya melenyap esensinya. Doenia Bergerak adalah surat kabar yang dibesarkan dan membesarkannya. Marco menjadikannya sebagai alat untuk menyampaikan gagasan akan sebuah perjuangan yang modern, dengan motto: “Brani karena benar takut karena salah”. Pentingnya menjaga pergerakan agar tidak melenceng dari cita-citanya, adalah salah satu sandaran dari medianya. Marco berani menentang penguasa kolonial dan orang-orang pergerakan yang dianggap berkolusi dengan rejim kolonial dengan mengkritisi kondisi sosial politik yang ada. Alhasil, tak kurang empat kali ia keluar masuk penjara.Semuanya lantaran tulisan-tulisanya yang memerahkan kuping penguasa kolonial.

Tuesday, July 24, 2007

TAPI

aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau
tanpa apa
aku datang padamu
wah!

1976
Sutardji Calzoum Bachri, AMUK KAPAK ,1981

Sunday, July 15, 2007

Sang Fajar telah menampar mukaku setelah sebelumnya telingaku dikejutkan raungan wekerku. Akupun terjaga dari mimpi indah semalam. Hari ini kusadari sebuah hari baru yang harus segera kumulai. “Apa kabar hari baru ! Apa kabar pagi!”, kataku di depan deretan cermin retakku.
“Apa kabar hari baru!”, Entah berapa kali kukatakan kalimat itu di ruanganku ini. Hari ini sama saja dengan hari kemarin, sepi, hambar dan penuh dengan rindu. Aku terjerat rindu, terjebak di kubangan masa lalu tapi aku tetap bahagia.
Aku hanya tersenyum..entah karena apa aku begitu bahagia hari ini.. tak peduli mimpi atau kenyataan karena memang semuanya sudah bercampur.. (Then night and day, real life and dreams, grew mixed together)…..
Selepas rutinitas pagi seperti biasa kuraih heater dan menunggu air didalamnya mendidih. Sambil menunggu tanganku meraih satu sachet kopi Mix menyobeknya dan menaruh isinya dalam cangkir warna putih kesayanganku. Tak lama alunan lagu-lagu radio lokal sudah terdengar dari MP3 player merek Cryphtonixku.
“Karena wanita ingin dimengerti…” alunan lagu dari Ada Band memulai pagi itu. Grup band yang katanya banyak digandrungi remaja-remaja cewek. Begitu sering mendengarnya yang berujung pada kalimat tanya “Seperti apa wanita ingin dimengerti?”,..lalu “apakah pria tak boleh ingin dimengerti?”.
Rasanya aku selalu coba mengerti apa yang mereka mau namun nyatanya..ah semua hanya lelucon.
Mataku masih memerah. Semalaman aku menatap layar monitor tapi hanya beberapa paragraf saja yang bisa tertulis. Malahan waktuku habis hanya untuk memejet tombol keypad hp dan memandangnya saja. Hanya memandangnya saja sambil mengingat-ingat sesuatu. Ah hanya seperti ini tulisan yang akan kukirim?
Air sudah mendidih. Aku tahu dari suaranya yang bergejolak dan bau plastik terbakar…maklum kabel heater itu sempat meleleh dan kusambung makanya kalau sudah panas akan muncul bau benda terbakar.
Perlahan kutuangkan air itu kedalam cangkir. Aku menikmati bau serbuk kopi yang terkena air panas dan suaranya yang khas…entah karena terlalu sering minum kopi atau penciumanku terlalu peka hingga mampu bedakan mana kopi yang enak dan dan tak enak. Cara pertama menurutku dari baunya. Kopi enak, kesan pertama sensasi rasanya sudah muncul saat pertama kali air dituangkan dan bercampur dengan kopi.
Sekali lagi aku membaca dan sambil coba menyelami paragraf-paragraf yang telah kutulis. Aku harus segera menyelesaikannya. Secangkir kopi yang masih mengepulkan uapnya sudah ada di tangan dan perlahan kuhirup…Nikmat. Saat perlahan cairan masuk dalam tenggorokan saat itulah imajinasiku pelrhan mulai mengembara ke tempat yang sulit kujangkau.
Seringkali orang-orang datang padaku. Mereka tak henti-hentinya ocehkan semua petuah, nasihat tentang memulai hidup baru,mencari cerita baru dan segera buang masa lalu melupakan selamanya. Ah petuah, omongan, nasihat yang hanya omong kosong sampe masuk telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan. Semua omongan mereka bahkan telah kubungkus dan kujdikan ganjal pintu kosku.
Terkadang saat putus asa merasukiku hingga kumerasa hidupku telah terhenti di masa lalu. Aku merasa saat ini sudah tak ada lagi jejakku. “Bukankah itu yang kalian inginkan?” teriakku pada semuanya. *(Then night and day, real life and dreams, grew mixed together). Sebenarnya kalian sudah kuberi banyak tak semuanya bisa mendapatkan itu.You could be my unintended…kata-kata konyol yang pernah terucap buat kalian.
Semuanya yang ingin menyingkirkanku dari kehidupan mereka. Faktanya masih ada nafas anggap sajalah aku hanya mummy berjalan yang seringkali merongrong dan tak ada lagi yang bisa diharapkan darinya.
Tanganku kembali terhenti….ide dan segala imajinasi sesaat terhenti.
Ah sial aku sulit untuk berkreasi..imajinasiku kini terantai. Ada sesuatu yang membuatnya tak bisa jatuh dari langit. Atau jika jatuhpun menyangkut sesuatu hingga tak sempat masuk ke dalam otakku. Jika mengingat tenggat waktu tinggal seminggu lagi. Memang seminggu waktu yang masih panjang namun melihat deretan jadwal yang sudah memadati hari-hariku semua membuatku was-was.
Pelan-pelan aku coba memeras kembali otakku..Aku kembali mengenang duka, mengingat perih dan melupakan kebahagiaan. Kembali kuselami dunia imajiku.
“Tiit..tiiit..tiiit”, sebuah SMS terdengar dari Hpku. Suaranya memanggil-manggilku segera membuka, membaca dan kalau perlu sesegera mungkin membalasnya. Ah non sense..bullshit…muak dengan bunyi SMS atau dering hpku. Kalau saja bisa memilih aku ingin hidup dimasa memijit keyboard dan kirim SMS belum menjadi candu. “Addicted”. Bukankah lebih enak dengan menulis surat saja. Ada satu rasa yang berdebar-debar menunggu balasan dari surat yang akan ada pada hitungan hari bahkan minggu yang masih memberi kesempatan kita untuk berandai-andai dengan segala sesuatu.
SMS…aku mendatangkanmu dengan SMS dan kau menghilang hanya dengan meninggalkan SMS..sudah menjadi hukum alam mungkin.
“Tiit..tiit” sekali lagi SMS terkirim ke Hpku. Malas. Ah ini bukan masa dimana bunyi itu begitu kunanti. Sekarang bukan saat dimana berjam-jam aku sanggup memencet tombol keypad HP hanya pada satu nomor tertentu. Semuanya di pagi hingga malam hari.
“kurang kerjaan saja”….
Saat itu kuhitung ribuan kali aku memilih option send. “Kurang kerjaan saja ”
Siapa juga yang mau menghitung berapa kali sudah kirim SMS selain aku pada waktu itu.
“Tiit..tiiit”, ah dengan satu kata terpaksa kulangkahkan kaki meraih HP sialan itu. HP yang ngga’ rusak-rusak juga meskipun sudah menyelam di lumpur, terbanting, dan terjatuh di kamar mandi “ah bandel”. Mungkin saja ia terus bertahan untuk selalu menyimpannya karena aku belum punya banyak uang guna beli yang baru dan menyemangatiku kerja lebih keras hingga suatu saat mampu beli yang baru. Mungkin saja ia enggan disingkirkan dan hanya sekedar mengingatkanku akan sejuta kenangan yang tak bisa terbeli karena sudah lengket dengan HP ini. Tapi terkadang aku muak juga jika mengingat sejuta kata gombal yang kuterima di Hpku ini dan satu yang lebih bodoh lagi kata-kata gombal itu bahkan telah kutulis dalam berlembar-lembar ceritaku yang entah sudah tersebar kemana aja.
Ah aku kembali terhenti…aku bingung mana cerita dan mana kenyataan rasanya semua telah bercampur…Mataku kembali menerawang.
“Hari ini saya bisa…enaknya ngobrol ketemu dimana?”..ooo ternyata pesan singkat dari salah satu narasumberku. Ya kegiatan rutin yang sudah kujalani sejak setengah tahun lebih. Sebuah hobi kataku, bukan pekerjaan dan mungkin saja banyak yang mencibirku apalagi jika melihat background pendidikan yang kumiliki. “Lho sarjana teknik kok jadi jurnalis ilmunya dikemanakan?”, entah sudah berapa kali ocehan seperti itu terdengar di kupingku dan aku hanya tersenyum “ya…ya..ya”, hanya itu yang bisa kujawab.
Sebenarnya aku juga heran dengan orang-orang disekitarku. Pernah aku tanya seseorang yang mati-matian cari kerja dan belum dapat-dapat. Masih terus cari kerja yang satu jalur sesuai dengan jurusan “Ya gimana lagi terlanjur cinta”. Jawaban yang membuatku terdiam. Dan sebenarnya itulah alasan ketika tiap orang bertanya padaku tentang yang kujalani. “Ya gimana lagi terlanjur cinta”.
Hehehe..aku lupa itulah kenyataan dan terkadang aku lupa batas antara imajinasi dan kenyataanku begitu tipis. Ketika membaca kembali karya-karyaku baik yang dimuat maupun hanya tertumpuk di pojok kamar seringkali tersenyum dan menertawakan diriku sendiri…aku teringat di kenyataan benar-benar ada janji hari ini.
“Tepat waktu”…satu hal yang terus terpatri. Jika bikin janji selalu aku datang lebih tepat tentunya kalau semua berjalan lancar.
Mataku tertuju pada satu titik. Ah sepertinya aku mengenalnya. Aku tak percaya dengan perasaan karena semua itu sering menjebakku. Namun kali ini benar. Aku bertemu dengan sosok satu ini. Cewek cantik yang jadi idola di lingkupnya, mungkin saja tercantik diantara rekan satu angkatannya. Atau mungkin mataku saja yang terpesona hingga kata-kata yang terucap untuk menggambarkannya selalu melebih-lebihkan. Tapi tidak bukan aku saja yang berkata seperti itu. Ada begitu banyak pria hidung belang dan para kucing garong yang mengincarnya. Pernah satu ketika kubaca satu coretan di bangku kuliah yang menulis-nuliskan namanya, bahkan kirim-kirim salam segala dalam hatiku “cuih” norak, pengecut kataku.
Mumpung masih lama janjian dengan narasumberku. Ah benar ngga’ yang kulihat. Perlahan aku mendekat di sisi samping sebelah pengumuman lowongan kerja mataku melirik dengan bekal nekad aku menyapanya. Satu hal yang kuingat tentang cewek satu ini yang selalu membuatku megap-megap. Satu senyuman di bibir tipisnya yang sangat jarang sekali muncul namun sekali muncul hanya satu kata “luar biasa”. Ah itu hanya bualanku yang dulu mungkin saja jadi secret admirernya atau malah terang-terangan mendeklarasikan jadi fans beratnya. Ah wajarlah aku hanya lelaki normal “satu yang selalu kujadikan Pembenaran”.
Aku melambung ke dunia imaji yang lebih jauh lagi. Disaat jantungku makin berdebar mataku makin terpesona perlahan kudengar John Lennon terdengar. “Stand by Me”..ah aku hanya tersenyum-senyum sendiri. Aku juga heran sejak kapan di kampus bisa membunyikan MP3 dengan keras apalagi di kantor.
Kembali kuangkat secangkir kopi Mix yang tinggal menyisakan sepertiga bagiannya…
Singkat kata singkat cerita aku sapa dia…
“Hai Nda?...namanya Nanda seperti kataku tadi ialah gadis tercantik itu….Dia menoleh akupun lega ternyata tidak salah orang. Namun ada hal yang menakutkanku senyumannya. Ah sialan ia benar-benar tersenyum padaku dan mengulurkan tangannya. Ah makin berdebar saja..aku makin megap megap….
Megap-megap…sensasi yang membuatku terjaga dari imajiku…
Tak pernah terbayangkan kumiliki wanita seperti dirimu..tak pernah terfikirkan kau kan pergi dariku pergi tinggalkanku….Sebuah kenangan masa laluku terpancar dari wajah Nanda. Bukan kenangan tentang Nanda namun kenangan orang lain yang ada di balik wajahnya. Sesuatu yang dulu sempat membuatku bertahan dalam satu kisah.
Komunikasi itupun terjalin…aku menoleh kiri dan kanan..memastikan kenyataan atau hanya mimpi…
Aku hanya tersenyum..entah karena apa aku begitu bahagia hari ini.. tak peduli mimpi atau kenyataan karena memang semuanya sudah bercampur.. *(Then night and day, real life and dreams, grew mixed together)….. Nanda pun melangkah pergi dengan satu kesan…ia melangkah menjauh dan dari tempatku aku berharap ia menoleh kembali ah itukan hanya adegan dalam film-film saja…Seratus meter duapuluh lima centi…Nanda menoleh dan tersenyum padaku…konon katanya seperti di film-film jika seperti berarti ada satu rasa yang sama…aku tersenyum dalam imajiku…
“Tiit…tiit” …Hpku berbunyi dengan kerasnya. Membuatku terjaga. Kembali terbangun. Sebuah SMS…”“Hari ini saya bisa…enaknya ngobrol ketemu dimana?”,
“Ok di gedung pusat kampus aja gimana”, jawabku.
Sebenarnya bukan tanpa alasan aku memilih tempat itu. Dan akupun tersenyum pada diriku dengan satu harapan konyol yang lebih tepat disebut parodi mungkin…but life is not easy.
Keterangan:
Karena wanita ingin dimengerti, salah satu judul lagu Ada Band.
Then night and day, real life and dreams, grew mixed together, satu petikan dari novel great expectation karya charles Dickens.
Tak pernah terbayangkan kumiliki wanita seperti dirimu..tak pernah terfikirkan kau kan pergi dariku pergi tinggalkanku..potongan lirik lagu bertahan five minute.
life is not eas, pernah diucapkan oleh Sigmund Freud.
You could be my unintended, potongan lirik lagu MUSE unintended.





Ada banyak pengalaman yang didapat dari satu cerita bernama Eagle Award 2007. Dimulai dari pencarian ide yang baru bisa ditemukan saat detik-detik pengiriman terakhir hingga wawancara 20 besar yang dilakukan di kegelapan dan dibawah naungan tandon air.
Semua dimulai dari sebuah telfon malam-malam..."Dengan M. Fathoni Y?"...wah deg sebenarnya sudah menduga karena kode area 021 ini pasti dari panitia eagle award. "besok ada wawancara lewat telepon"..surprise 20 besar....sudah pencapain yang luar biasa..

Setelah persiapan mental akhirnya wawancara dilakukan. Wawancara yang molor semula katanya jam 1 siang e tahunya jam setengah 7 malam baru ditelpon. Sebuah wawancara yang bikin pusing dengan pertanyaan bertubi-tubi mirip pendadaran kali...35 menit jreng.....kuping panas lewat telepon..

Seharian nunggu pengumuman..kalau ampe malam ga ditelpon brarti kami ga lolos..eh sore-sore no. yang kemarin buat wawancara kecatet di hp...tapi ga tak angkat untung mereka hubungi Honaz partner setia.."Kita ke Jakarta"...

Perjalanan jakarta juga diisi dengan hal lucu..Naik pesawat dan ini baru pertama kali..(hehehe malu-maluin)..eh udah dikasih tiket Gratis, Garuda, kelas eksekutif pula...padahal di pesawat ketemu Pak. Danang yang hanya naik kelas bisnis..hehehe..

Sejam perjalanan ..di bandara udah dijemput orang Indoc...EADC 2007...langsung dishoot kamera diwawancarai...wah grogi..
ternyata kami satu pesawat dengan peserta lain dari jogja...di bandara semifinalis dari malang juga telah tiba...tak lama dari surabaya dan kalimantan tiba...dan kami menuju markas indoc di jalan sutan sahrir..
wah disana kami saling cerita pengalaman e..lucu2 juga pengalaman..
Siang hari kami nginap di hotel Alia...sorenya Mas Lianto Suseno dan Mba Sinta Harmain sempat ngasih wejangan2 buat persiapan besok Pitching Forum...
Pitching Forumpun dimulai jam 15.30....dan Impian di atas awan mendapat giliran no.6..grogi dan spot jantung menunggu giliran presentasi...pesan-pesan dari Mas Lianto dan Mba shanty Harmain sehari sebelumnya masih kami ingat..harus alll out jangan grogi tampilkan yang terbaik...

Akhirnya giliran kamipun tiba...dengan di moderatori Rahma Sarita kamipun mulai presentasi...Semuanya plong dan Imam Prasodjo, retno shanti, joko anwar, Tino...tak lagi ditakutkan...
Kami berbuat yang terbaik...semuanya memang memiliki kelebihan dan akhirnya ada yang kalah dan ada yang menang...meskipun sebenarnya ada keyakinan kuat kami lolos...Impian diatas awan seperti kata Rahma Sarita hanya tinggal impian...

Kecewa pasti tapi kami sudah berbuat yang terbaik...buat yang punya mimpi di atas awan...penduduk menoreh...maafkan kami...
Ada banyak kesan, ada banyak pengalaman....kami kalah tapi bukan berarti kami menyerah dan tak berani lagi berharap dan bermimpi...
Semoga ini tak menghalangi langkah kami untuk terus berjuang dan berkarya....
Go Eagle....! Eagle flies alone...

Sebuah lagu daerah Jawa Timur yang pernah dilarang gara-gara sering dinyanyikan dalam pertemuan2 organisasi PKI...

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih
Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih
Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar didjejer-djejer
diunting pada didasar didjejer-djejer
diunting pada didasar emake djebeng
tuku gendjer wadahi etas gendjer-gendjer saiki arep diolah
Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
setengah mateng dientas digawe iwak setengah mateng dientas digawe iwak sega sa piring sambel penjel ndok ngamben gendjer-gendjer dipangan musuhe sega

Friday, July 13, 2007

Sadar atau tidak saat ini kita tengah hidup di negeri kepalsuan. Hidup di dunia imitasi, tiruan, bajakan. Seluruh aspek dari kehidupan secara disadari atau tidak masuk dalam satu dunia; dunia imitasi.

Seorang rekan pernah bercerita tentang seorang mahasiswa asing berkewarganegaraan Jepang. Suatu hari orang Jepang itu berkunjung ke sebuah rental VCD. Pada sang penjaga rental ia bertanya setelah sempat kebingungan mencari sebuah software. Apa yang dicari-carinya belum didapatkannya.

Entah bagaimana versi asli dari pertanyaannya tapi secara garis besar begini."Mas ada software Photoshop 5 tidak?", tanyanya"Wah sudah ngga' ada. Yang ada Photoshop 7", jawab penjaga rental."Wuih, maju ya disini sudah sampai versi 7. Ditempat saya saja masih versi 5", orang Jepang itu masih saja terkagum-kagum dengan penuh keheranan.
Peristiwa yang bisa anda sikapi dengan bangga atau malu. Terserah masing-masing anda dalam menyikapinya.

Saat peristiwa ini terjadi kira-kira dua tahun yang lalu. Tahu sendiri bagi kita yang hobi dengan komputer tahu kapan terkahir kali Photoshop beredar di Indonesia.
Sebuah peristiwa yang menggambarkan betapa hebatnya dunia bajak-membajak, palsu memalsu di Indonesia. Peredaran yang ditunjang dengan permintaan yang tinggi pula.Sudah menjadi rahasia umum banyak diantara mahasiswa asing jika datang kesini satu hal yang disempatkan adalah berburu software bajakan.

Untuk lebih meyakinkan betapa hebatnya negeri bajakan yang saat ini kita diami bisa ditelusuri dari kesehariaan kita. Mulai dari pakaian, CD, alat elektronik, alat tulis, sandal jepit dan yang lebih parah adalah tingkah laku dan model yang kita tiru.
Budaya bajak membajak, ternyata tak hanya di kalangan bawah saja. Justru di kalangan terpelajarlah kebiasaan ini bertumbuh subur. Mahasiswa sebagai salah satu pelaku utama bajak-membajak dengan suburnya usaha fotokopi di sekitar kampus.
Jika ditelusuri lebih dalam di kalangan ini kita bisa temukan para pelaku dengan masing-masing spesialisasinya. Mulai pembajak buku, plagiat Tugas Akhir, Plagiat laporan Kerja praktek ataupun plagiat laporan praktikum.

Di tengah gencar-gencarnya mereka berdemo dan menentang KKN baju dalam mereka telah tertulis nama plagiator, pembajak kecil-kecilan, pemalsu absensi. Hal kecil yang terus-menerus dilakukan. Ibarat benih golongan ini terus saja menyiraminya hingga secara tak sadari benih itu tumbuh menjadi pohon yang berbuah kepalsuan pula.
Hidup di negeri kepalsuan dalam sebuah istana imitasi dan bajakan...mungkin saja nanti ada sumpah kepalsuan para pemuda plagiat dan pembajak.

Kami putra dan putri kepalsuan bertanah air satu tanah air bajakan...Kami putra dan putri kepalsuan berbahasa satu bahasa kepalsuan..Kami putra dan putri kepalsuan berbangsa satu bangsa Plagiat..
Di akhir tulisan .....
Ada sebuah harapan tentu saja harapan yang asli bukan palsu kembali pada dunia keterusterangan, dunia asli dan bukan imitasi.....sesuatu yang asli selalu lebih berharga daripada yang imitasi.....

Harapan yang tinggal harapan jika anda juga menganggap saya sendiri juga termasuk bagian dari penghuni istana kepalsuan ini...
Kepedulian seorang biasa akan bangsanya.....dan semoga ini juga bukanlah kepedulian palsu

Pogung Dalangan, 13 Oktober 2006

Seorang rekan dalam buletin yang secara tak sengaja penulis baca pernah bertanya " Seperti apakah manusia merdeka itu?". Sebuah pertanyaan yang mulanya penulis tanggapi dengan biasa saja. Sesuatu yang kurang urgent untuk dijawab dan dikomentari tetapi akhirnya penulis merasa terusik juga untuk mencoba memberi sedikit jawaban.
Secara etimologi manusia merdeka terdiri dari dua kata, manusia dan merdeka. Jika membolak-balik kamus besar bahasa Indonesia kata Merdeka dijelaskan sebagai; bebas dari tekanan, berdiri sendiri, tidak terikat dengan sesuatu, tidak dibatasi. Manusia merdeka merdeka berarti manusia yang dirinya bebas dari tekanan tertentu, tidak terikat dan terbatasi aktivitasnya.
Penjelasannya seperti itu biasanya akan diikuti dengan pertanyaan baru. Kebebasan yang seperti apa? Pembatasan yang seperti apa? Dan mungkin pertanyaan yang lebih mengena sudahkah menjadi manusia merdeka.
Apakah kita sudah merdeka? Kita yang terkadang bisa didentikkan dengan bangsa ini. Jika pertanyaan ini ditanyakan pada anak sekolah dasar kebanyakan atau mungkin hampir semua akan menjawab serempak " Sudah". Kita merdeka sejak tanggal 17 Agustus 1945 dari penjajahan Belanda.
Pertanyaannya mungkin perlu lebih di khususkan lagi agar mendapat jawaban spesifik lagi."Apakah anda sudah merdeka?"Dengan parameter-parameter yang diberikan diatas masing-masing dari kita mungkin akan bisa menjawabnya.
"Apakah kita sudah terbebas dari tekanan-tekanan?" Ada banyak sekali jenis tekanan disini: Tekanan dari orang tua utnuk masuk Jurusan tertentu, tekanan akibat kesulitan ekonomi, tekanan dari orang terdekat untuk tidak ini dan itu dan masih banyak lagi.
"Apakah kita sudah bebas dari keterikatan?" Bagi seorang mahasiswa keterikatan ini banyak sekali. Mulai dari keterikatan secara finansial kepada orang tua, segala keterikatan pada orang tertentu ( baca:Pacar), dsb.
"Apakah kita sudah bisa berdiri sendiri?"
Mencerna dan memahami parameter-parameter yang ada penulis sendiri mengakui bahwa belum sepenuhnya merdeka. Hal itu juga yang menjadi alasan beberapa waktu lalu pada option profil situs pertemanan penulis menghapus kata-kata manusia merdeka, setelah menyadari kondisi yang sebenarnya.
Apakah kita sudah merdeka? Merdeka seperti apa? Jawaban yang sudah ada pada masing-masing kita. Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa tidak ada kemerdekaan yang mutlak. Semua tetap dibatasi oleh koridor yang ada (baca: Agama).
Pogung Dalangan, Oktober 2006

Fath sang Elang Tak Pernah lelah. Petualangannya kini sampai ke puncak menoreh... Pegunungan Menoreh sudah diselimuti kabut tebal meski saat itu waktu baru menunjukkan pukul 15.00 WIB.

Di salah satu sudut desa Cacaban Kidul di lokasi yang paling terpencil dan letaknya termasuk paling tinggi sekelompok anak-anak remaja dan dewasa yang jumlahnya kurang lebih 60an. Mereka memenuhi ruang tamu kepala dusun yang letaknya didaerah terpencil tersebut. Mereka adalah kumpulan warga Cacaban Kidul dan Desa Benowo yang lokasinya berdekatan. Diantara kumpulan warga terebut ada dua sosok yang satu berbaju batik dan satunya memakai baju koko.

Kumpulan warga yang memenuhi ruangan kepala Dusun tersebut bukanlah sedang mengkuti kegiatan pengajian atau demontrasi. Mereka adalah kumpulan warga belajar di kejar paket B PKBM Tunas Muda desa Cacaban Kidul.
Menurut Muhlasin yang notabene merupakan sang ketua penyelenggara kegiatan Kejar paket B ini telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Kejar Paket B ini juga sebagi tindak lanjut dari Kejar Paket A yang sudah berlangsung sebelumnya. Warga sangat antusias menyambut adanya kejar paket B ini. Kendala sulitnya medan yang menyebabkan mereka sebagian besar tidak melanjutkan ke jenjang SMP ataupun SMA telah teratasi dengan adanya kejar paket B ini. Memang di desa ini hanya ada TK dan sekolah dasar sedangkan SMP letaknya sekitar 8 km. Untuk menjangkau SMP bisa ditempuh dengan jalan kaki atau kendaraan namun menghadapi
medanyang curam dan sangat terjal.

Sebenarnya jika menggunakan kendaraan bermotor kendala itu bisa dipenuhi namun hal itu juga tak memungkinkan maklum desa ini nyatanya merupakan kantong daerah miskin. Dulu saat masih ada kategori desa IDT di kecamatan Bener dari 20 desa 16 diantaranya merupakan desa teringgal. Salah satu diantara desa tertinggal adalah desa Cacaban Kidul.
Munculnya Kejar Paket B Tunas muda yang dipelopori oleh Muhlasin memang ibarat oase ditengah kehausan mereka menuntut ilmu dan menggapai cita-cita mereka yang telah lama tergantung di awan. Makanya tak mengherankan jika jumlah peserta kejar paket B ini membludak hingga mencapai 67.

Adanya kejar paket B membuat impian-impian warga yang dulunya terbang entah kemana perlahan mulai mendekat lagi. Banyak diantara mereka yang sudah berencana melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.
“Mereka sangat antusias hingga saya begitu kewalahan dalam menjawab pertanyaan mereka yang bertubi-tubi”, kata Miftahudin S.Ag salah seorang tutor.

Kini ada permasalahan yang menjadi kendala bagi kegiatan pembelajaran kejar paket B ini. Mereka yang tengah bersemangat menyusun masa depan yang lebih baik ini sedang membutuhkan “perhatian” dari luar. Selama ini kegiatan kejar paket B hanya mengandalkan swadaya sepenuhnya dari warga belajar. Baik tutor maupun warga belajar harus sepenuhnya swadaya. Warga harus menyisihkan dana sendiri untuk keperluan pendidikan mereka. Para Tutor selama ini juga tak dibayar.

Selain menghadapi permasalahan dana operasional kejar paket B ini juga tak didukung fasilitas belajar yang memadai. Gedung untuk keperluan belajar selama ini harus numpang di tempat kepala dusun dan setiap saat menghadapi listrik padam yang sering terjadi. Dengan minimnya fasilitas dan berbekal kemnadirian walaupun harus dengan menyisihkan hasil kerja mereka yang notabene juga pas-pasan mereka coba meraih mimpi.

Menoreh 29 Mei 2007...road to eagle award

Membiarkanmu bernyanyi sendu..
Membiarkanmu tersenyum dalam gelas kaca berembun..
Membiarkanmu tertawa di balik bayangan dalam kaca..
Di sini aku terdiam bukan meratap
Terdiam hanya sekedar berfikir tentang apa dan semua yang telah terlalui...
Aku terdiam hingga akupun tergetar oleh tersapunya embun di pinggir gelas hingga kutemukan kembali wajahmu disana..
Kaupun kembali tersenyum meskipun ku tak tahu apa arti senyummu itu...

Gemini Net pojokan Jogja 4 Juli 2007 aku merindukan angin malam

Di wajahmu yang sayu..
Kau Tampak lelah dengan kekerasan hatimu..
Ayo sadarlah kau yang dihimpit resah
ditekankan sejuta gelisah..
Kau geram..kau marah
Luapkan emosimu pada semuanya..
Jawabku
Aku memilih resah
Aku memilih gundah
Aku memilih gelisah
Namun di tempat yang jauh
bisa kulihat semuanya tersenyum cerah
Aku Bahagia dalam keresahan, kegelisahan, kegundahan
Semuanya bagiku lebur dalam bahagia mereka
Biarlah aku yang menghadapi semuanya dalam Keteguhanku
4 Juli 2007..eagle flies alone

Atas nama aku aku menyapamu...?
Atas nama apa aku peduli padamu..?
Atas nama apa semua berujung pada ketidakrsionalan?
Atas nama apa?
Aku bertanya...?
Aku Bertanya..?
Meskipun akhirnya aku juga menyadari...
Atas nama apa aku tanyakan lagi?
Aku tak tahu atas nama apa..
Kalibata, 8 Juli 2007

Tulisan ini masih erat kaitannya dengan peringatan hari pendidikan nasional. Tulisan yang akan mengisahkan cerita tentang kesulitan ekonomi yang dahadapi seorang guru hingga sampai-sampai menggadaikan jarit hanya untuk tambahan biaya pengobatan anaknya. Tulisan yang secara kebetulan saya alami sendiri sebagai seorang anak dari guru yang bertahun-tahun harus berjuang mengatasi segela keterbatasan fasilitas yang dimiliki.

Jarit, kain yang biasanya dipakai dalam busana khas Jawa. Kain yang biasanya diisi dengan motif-motif batik dan sebagian besar berwarna coklat. Lembaran kain yang di dalam kisah kehidupanku dulu sebenarnya sangat-sangat bermakna, memiliki sejarah memilukan dari pahit getirnya kehidupan keluarga pegawai negeri kecil.

Kira-kira dua puluh tahun yang lalu, saat itu masih di bangku taman kanak-kanak. Sebuah gigitan kecil dari mahluk yang juga kecil bernama Aides Aigepti memaksaku masuk Rumah sakit. Takut bukan kepalang rasanya membayangkan harus menginap dan diopname untuk beberapa hari. Saat itu Rumah sakit sedang dipenuhi pasien demam berdarah hingga terpaksa harus dirawat di bangsal.

Ada banyak kenangan bagaimana rasanya dirawat di bangsal saat itu. Bagaimana terkadang waktu malam mendengar teriakan pasien-pasien yang sedang kritis dan melihat perawat-perawat tergesa-gesa membawa tabung oksigen dan setelah sebuah teriakan perawat-perawat itu mendorong seseorang yang telah ditutupi selimut. Sangat menakutkan saat itu.

Dengan berbagai kisah ternyata bukan hal itu yang hingga kini menyentuh hatiku. Satu hal yang hingga kini membuatku trenyuh adalah tentang jarit. Kain yang disebutkan di awal cerita.

Tahu nggak kenapa jarit begitu terkenang? Semua karena benda itu yang turut membiayai pengobatanku selama menjalani rawat inap di rumah sakit umum. Usut punya usut di tengah kesulitan mencari biaya ada banyak barang ( itupun nilainya tak seberapa maklum ibu hanya guru dan bapak pekerjaannya serabutan) yang masuk pegadaian salah satunya adalah jarit itu. Ah tak bisa membayangkan aku betapa miskinnya kami saat itu walaupun ternyata ada yang lebih miskin lagi.

Ingatan terhadap selembar jarit yang membuatku makin menghargai jasa kedua ortu yang ternyata mampu membiayai kami bahkan selalu bisa masuk sekolah favorit mulai dari SD hingga Perguruan tinggi. Tak terasa memang ternyata putranya yang dulu pernah masuk RS dan harus menggadaikan jarit buat pengobatan telah mentas dari kuliahnya. Sebuah PR memang belum selesai untuk membantu segala kebaikan ortu.

Cerita diatas pastinya hanya salah satu dari sejuta kisah yang pernah dialami oleh pra pendidik yang tersebar di seantero negeri ini. Saya yakin masih ada kisah yang lebih memilukan lagi yang pernah dialami para guru apalagi mereka yang statusnya hanya honorer.

Jarit..jarit…semoga hanya ortuku saja guru yang kesulitan biaya sampai menggadaikan dirimu. Semoga nasib guru-guru lain di masa mendatang akan lebih baik.

Selamat Hari Pendidikan…terima kasih baktimu guruku..Menghargai guru sama dengan menghargai pahlawan….Dengan mengharagai jasa pahlawan menjadi salah satu bekal menjadi bangsa yang besar…semoga..

3 Mei 2007



Kemilau yang kucari dari seribu langkah penelusuranku…
Kemilau yang telah lama kucari dari rentetan nama-nama dalam buku kehidupanku…
Atau kemilau yang terselip begitu saja dalam berlembar-lembar kisah yang baru tersadari di saat yang mungkin sudah terlambat..
Kemilau yang masuk dalam ceritaku di masa lalu, kini dan entah sampai kapan…
Kemilau telah menyusup…menuliskan sejarah baru dalam buku kehidupanku….Atau menuliskan sejarah yang berulang-ulang…siapa tahu?
Apakah sebenarnya kemilau yang kau pancarkan itu?
Atau hanya seberkas cahaya yang terpancar dari sorotan lampu2 mobil yang berjalan dan bergantian?
Pemancar kemilau masih mengisyaratkan tanda tanda besar yang tak bisa kutebak-tebak…

Kemarin pemancar kemilau mendatangiku…
Namun aku sendiri juga tak sepenuhnya tahu apakah itu mendatangi atau hanya sekedar lewat dan menyapaku…
Aku sendiri juga tak sepenuhnya sadar saat itu aku terjaga dalam sebuah kesadaran atau hanya bermimpi….
Sebuah pertanyaan yang hingga kini tak bisa kutemukan jawabanya..
Bahkan saat ini apakah aku sadar atau tenggelam dalam dunia mimpi dan imajinasiku juga masih tanda Tanya..

Jika kemarin, dan yang terjadi tak bisa kupastikan itu ilusi atau kenyataan..
Ada satu hal yang bisa kupastikan bahwa inilah kenyataan…
Satu kotak yang terselip begitu dalam mengisi otakku telah menyebutkan siapa pemancar kemilaunya,..
tapi dari diriku sendiripun
aku tak mampu mengeja nama pemancarnya…
Kemilaunya terlihat meski aku tak tahu siapa pemiliknya…

3 Mei 2007


Jika Satu Kejelekan Terjatuh Diatas Tumpukan Kebaikan
Apakah Artinya Semua Jelek?
Emas yang telah lama tertumpuk tak kelihatan kilauannya
namun ketika setetes noda terjatuh diatas emas
kejelekannya mengalahkan kemilau yang sedikit tertutupi olehnya।
Kenapa?


(Sebuah pertanyaan yang jawabannya cukup disimpan dihati masing-masing yang membacanya.)

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.