Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Tuesday, September 30, 2008

Selamat Idul Fitri, Bumi; maafkanlah kami selama ini tindak semena-mena kami memerkosamu. Langit; maafkanlah kami selama ini tidak henti-hentinya kami mengelabukanmu.
Mentari; maafkanlah kami tidak bosan-bosan kami mengaburkanmu.
Laut; maafkanlah kami selama ini tidak segan-segan kami mengeruhkanmu.
Burung-burung; maafkanlah kami selama ini tidak putus-putus memberangusmu.
Tetumbuhan; maafkanlah kami selama ini tidak puas-puas kami menebasmu.
Para pemimpin; maafkanlah kami selama ini tidak habis-habis kami membiarkanmu.
Rakyat; maafkanlah kami selama ini tidak sudah-sudah kami mempergunakanmu.

(GUS MUS)

Thursday, September 25, 2008

Mudik....Setelah sempat bingung gara-gara belum mendapat tiket akhirnya saya bisa mudik dengan sukses...Awalnya saya sempat kehabisan akal mengingat beberapa alternatif ternyata sudah tak memungkinkan hanya tinggal naik kreta antri tiket berdiri, atau naik bis putus-putus..

Siang-siang,...Pasca SMS pen"Cancel"an..rencana bareng...sayapun cari alternatif lain lagi..setelah browsing di internet akhirnya saya nemu paket Promo" Mandala"..lumayan. Yah saya langsung menuju lokasi Hotel Kartika Chandra beli tiket tujuan Jogja..Kenapa Jogja karena setelah sampai Jogja cari transportasi lebih mudah.

Sayapun mudik dengan lancar meski sebenarnya merasa bersalah juga..(ga tau kenapa bersalah..)....katanya ada yang merasa ditinggalkan..Praktis hari pertama setelah tiba tak banyak aktivitas yang saya lakukan. Yah melepas lelah sambil ber SMSan ria dengan yang katanya ditinggalkan...hohoho kasihan..praktis yang biasanya berolok ria entah kena hari itu ada gencatan senjata..

Tulungagung..ada banyak tempat yang selalu saya kunjungi tiap kali mudik..satu diantaranya adalah Masjid kota..Masjid Agung Al Munawar. Hari kedua mudik saya sholat Tarawih di sana. Rasanya kembali pulang meski saya seperti jadi orang asing. Melihat kiri kanan tak ada lagi yang saya kenal. Saya ibarat tamu saja di negeri sendiri. Satu rindu saya sudah terpenuhi..

Yah malam itu entah kenapa atau mungkin karena keegoisan saya, atau keras kepalanya saya sehingga saya membuat keadaan jadi buruk. Semuanya jadi aneh. Serasa jadi orang asing..yah saya akui kesalahan saya..Semua gara-gara satu topik.."Rindu". Jika rindu berujung seperti itu kenapa saya harus pertahankan rindu?? Saya belum bisa menjawabnya..

Semuanya sudah terjadi..Semoga bisa membaik lagi seperti biasa tak ada apa-apa. Bagi pengagum Selaksa rinduku..maafkanlah daku..aku akan senantiasa jadi Elang yang terbang dan selalu tersenyum...

Tulungagung, 25 September 2008


Sunday, September 21, 2008

"Apa Yang Bisa Saya Persembahkan Buat Negaraku?"

Pertanyaan itu mengusik kesadaranku, mengusik hati nuraniku. Setelah berlama-lama mencari dalam jalur dan jalan yang kutempuh bisa kutemukan. Aku tak bisa menjadi seperti rekan-rekanku ( sesama alumni teknik) yang bisa hasilkan sesuatu yang nampak seperti sebuah gedung, jembatan, jalan, bendungan yang manfaatnya bisa dirasakan oleh rakyat banyak.

Aku hanyalah orang yang ingin menempuh langkah yang sesuai dengan keinginanku, maka langkah kutempuh jadi sedikit beda. Beda dan sempat timbulkan pertanyaan besar. Apa yang bisa saya persembahkan buat bangsaku, negaraku? bisa apa seorang penulis yang tak pernah terdengar dan teriakannya hanya sekeras hembusan bisik angin.

Apa yang bisa aku lakukan? Bisa aku persembahkan? Yah tentu ada. Bukankah selama ini saya banyak bertemu dengan orang, banyak lakukan perjalanan, banyak dapatkan kisah. Yah aku akan jadi penyampai kisah-kisah inspiratif, yah mirip2 nabilah tapi tentunya bukan seorang Nabi sebagai penyampai risalah. Aku hanyalah penulis yang ingin sebarkan berbagai kisah entah bermakna atau tidak kepada semuanya.

Aku mungkin seperti Prapanca, yang memilih memakai nama Prapanca ( Nama Prapanca ada yang berpendapat merupakan nama Pena). Aku yang memilih menjadi sang elang, yang tak dikenal kecuali melalui untaian kisah dan cerita. Jika Prapanca dalam Kertagama karena sekarang sudah era modern aku dalam Blog saja.

Yah semua bisa lakukan yang terbaik buat negaranya meski dengan cara yang begitu sederhana..

"Where There Is A Will, There is A Way"..

Jakarta, 21 September 2008,

mengisi waktu Sahur dengan coretan-coretan Pena..Sang Anak Aksara Mencari Makna..

Saturday, September 20, 2008

Pogung, menyebut nama itu tak lepas dari Mahasiswa, kos-kosan, dan fakultas Teknik UGM. Pogung daerah Utara Fakultas Teknik UGM, tempat lahirnya putra-putra terbaik yang membawa nama besar Kampus Bulaksumur....

Pogung, nama itu begitu lekat dengan saya karena juga termasuk penghuni kawasan itu..yah kawasan dengan banyak kos-kosan, warung makan, masjid, laundry, photo copy, warung Burjo, angkringan, dan masih banyak hal lain.

Pogung memang daerah kos-kosan, sampai-sampai hampir semua rumah yang ada di sana merupakan tempat kos. Perbandingan antara penduduk asli dengan anak kos mungkin sangat jauh saya perkirakan lebih dari 1 : 5. Hal ini bisa dilihat di suasana seperti liburan lebaran Pogung sangat sepi, sunyi mungkin ada anak-anak kos yang rumahnya jauh dan tak memungkinkan untuk mudik.

ah sudah lama saya tak merasakan suasana di kampung itu..saat-saat seperti ini, bulan ramadhan bagaimana antri beli makan waktu sahur..hehehe..lihat bagaimana mahasiswi2 yang baru bangun sama-sama antri, cari buka puasa di masjid Pogung Raya biasa disingkat (MPR)..main bola bareng anak kos rame2 di depan graha Sabha Pramana UGM dan masih banyak lagi..

Ah saya rindu Pogung..

Jakarta, 20 September 2008

Bagi saya kampung Utara Teknik ini sangatlah berkesan. Yah sangat berkesan dengan segala romantikanya baik itu senang, sedih, bahagia ataupun duka. Ada banyak hal yang saya alami di sana. Saya tinggal di Pogung totalnya 4 tahun lebih..setahun di tingkat2 awal dan 3 tahun di tingkat2 akhir. Saya menempati Pogung kidul di tahun pertama, pogung rejo dan terakhir di Pogung Lor di sebuah rumah kecil yang sangat-sangatlah murah sewanya. Saya hanya membayar 600 ribu persemester itupun sudah termasuk bayar listrik.

Elang terbang jauh, menembus batas cakrawala, menerobos ruang-ruang yang belum pernah dijangkaunya....
Elang penguasa cakrawala...
Dalam perjalanannya elang membawa satu janji, suatu saat akan kembali lagi ke sarang..
Suatu saat akan membangun sarangnya sendiri...
Elang tak hanya sekedar bisa menepati janji...

Elang tinggalkan negeri yang berisi tentang senja..
Dalam terbang jauh tinggalkan asanya..tinggal rindunya..
Percayalah..kata sang elang
Tak ada alasan untuk tak mempercayaimu kecuali untuk mempercayaiku..
jawaban yang membuat sang elang berkerut....
Masihkah harus ia tepati janjinya...
Suatu saat dengan berbekal rindu aku akan kembali...
Ini hanya untukmu saja.."biar kusimpan dulu rindumu itu"..

Elang yang memilih rindu..,
menembus batas batas...,
membelah langit,

Sediakah dirimu temani diriku menikmati senja sebelum datang malam sebagai tanda kesempurnaan hari?..
Dalam senyum bisu sang elang kembali terbang..
Terbang dengan membawa selaksa rindu..
namun hanya satu janji...

Ibukota Senja, 20 September 2008

Sunday, September 14, 2008

Semburat yang muncul setengah-setengah….
Diantara kegelapan saat-saat senja di Ngrawa..
Cahaya putih yang enggan muncul meski dalam keengganannya masih mampu keluarkan medan magnet yang teramat kuat..
“Coba tunggu sejenak biarkan semburat itu mengumpul ..”
Cahaya yang muncul begitu lembut..berupa titik-titik halus yang membuat otak dan fikiranku hanya bisa ucapkan satu kata “ Mulia”

Thursday, September 11, 2008

Namanya Bu Sri Setyo Prihatin. Guru SD Tambakrejo, Kecamatan Bulus Pesantren, Kebumen. Pendidik yang mendapat Anugerah sebagai Guru SD Berprestasi tingkat nasional tahun 2008. Saya mendapat kesempatan mengenal sosok ibu guru SD ini dari lebih dekat.

Ditemani putra keduanya, saya banyak berbincang dengan Bu Tin, begitu ia dipanggil. Tentu saja mencari bahan sebanyak mungkin untuk nantinya saya tulis sebagai salah satu bagian dari buku profil guru berprestasi dan berdedikasi yang rencananya akan dibagikan pada peringatan hari guru nanti.

Siang itu sebenarnya cuaca cukup panas namun untung saya tak berada di Jakarta. Saya berada di daerah yang masih banyak lahan kosong dan memungkinkan angin untuk berhembus, hilangkan udara panas. Puasa hari kedua, liputan luar daerah ternyata cukup menguji fisik dan kesabaran.

Melihat saya yang sudah nampak letih, Bu Tin menawari saya untuk diantar puteranya kembali ke tempat saya menginap. Mempersilahkan saya istirahat barang beberapa saat. Nanti sore-sorean saya akan dijemput lagi kalau sudah hilang lelah dan ditawari untuk ikut buka puasa bareng saja. Melihat jam sudah pukul setengah 2 dan memang tak bisa saya sangkal saya masih letih apalagi dalam kondisi berpuasa. Sayapun diantar ke hotel Patra tempat saya menginap.

Sampai di hotel, saya langsung terkapar diatas tempat tidur. Ac saya nyalakan dan dengan terbawa letih saya tertidur. Sempat sebuah SMS saya terima..ternyata dari Tika dan cuma nanya .."heh poso ga? Mokel yo"..hehehehe..dasar orang aneh...dengan setengah sadar saya membalas SMS dan terpulaskan oleh rasa lelah sebelum saya sadar waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore..

Sayapun segera mandi, bersih-bersih dan sempat SMS ke bu tin Siap untuk kembali ke rumahnya..Namun Si Ibu ternyata sedang besuk tetangga yang sedang sakit..yah lumayan ada tambahan waktu istirahat sbelum saya nanti dijemput saat menjelang buka puasa...

Bersambung 2 September 2008

Sunday, September 07, 2008

Ternyata saya tiba di Kebumen lebih awal dari yang saya perkirakan sebelumnya. jam masih menunjukkan pukul 7 pagi, masih lumayan untuk sekedar tiduran sebentar dan mandi sebelum saya menuju kantor dinas pendidikan.

Setelah istirahat, mandi dan membawa perlengkapan yang saya butuhkan: handycam, kamera, recorder dan surat tugas sayapun menuju kantor kepala dinas. Seperti petunjuk dari bu narasumber saya naik becak. Wah sekedar informasi saja sudah bertahun-tahun saya tak pernah naik becak. Ongkos naik becak dari hotel Patra menuju kantor kepala dinas juga tak terlalu mahal hanya 5 ribu rupiah, karena jaraknya memang tak terlalu jauh.

Di kantor kepala dinas saya sempat menunggu beberapa puluh menit, sebelum akhirnya saya bisa melakukan wawancara. Kepala dinas, pak Mahar ternyata bapak kawan saya. jadi saya sudah ijin lewat anaknya dulu sebelum bertemu pak kepala.

Tak berlama-lama saya wawancara semuanya karena efektivitas waktu mengingat target utama saya adalah sosok Ibu Sri Setyo Prihatin guru SD berprestasi tingkat nasional. Saya sempat mengirim pesan singkat dan diarahkan untuk naik becak menuju tempat tinggal si ibu di perumahan taman Winangun Indah. Dari dinas menuju perumahan kira-kira dua kali jarak hotel menuju kantor dinas. hotel tempat saya menginap berada di tengah-tengah.

Ongkos naik becak dari kantor kepala dinas pendidikan hingga tempat tinggal si ibu 10 ribu rupiah. Wah sempat saya perhatikan si abang becak menarik becaknya dengan pelan seperti kekurangan tenaga semoga saja beliau memang sedang jalankan ibadah puasa. Sepenjang perjalanan menuju rumah saya sempat abadikan suasana kota kebumen dengan handycam kesayangan saya (emang punyanya ini..hehehehe).

Tak sampai setengah jam saya sudah tiba di rumah bu Sri Setyo Prihatin. Si ibu menyambut saya dengan ramah dan mempersilahkan . Setelah menunggu beberapa saat si Ibu keluar lagi ke ruang tamu ditemani anak laki-lakinya. Mulai dari itulah saya mulai mengenal sosok guru berprestasi tingkat nasional itu...

Kebumen, 2 September 2008

Bersambung

Makan sahur di atas kereta api Taksaka malam dengan menu nasi goreng dan segelas es susu coklat menjadi bekal menjalani ibadah puasa di Kebumen. Puasa di hari-hari awal biasanya kondisi tubuh measih menyesuaikan dan seringkali merasa lemas.

Tak terasa kereta Api sudah sampai di stasiun Kutoarjo. Kiranya jam setengah lima saya sampai di stasiun itu. Saya segera turun dari kereta dan berjalan susuri jalan meninggalkan stasiun. Sepanjang jalan banyak tukang ojek yang tawarkan jasa mereka. Saya sudah terbiasa menghadapi tukang ojek seperti itu apalagi tak sebanyak seperti waktu di Pelabuhan ratu bulan Agustus lalu.

Keluar dari stasiun tempat yang pertama kali saya cari adalah Masjid. Setelah sempat tanya pada bapak-bapak yang duduk di pinggir trotoar di dekat karung-karung miliknya Masjid yang saya cari ketemu juga. Saya segera sholat Subuh terlebih dulu dan rencananya habis sholat Subuh langsung mencari bis kecil menuju Kebumen, seperti petunjuk yang saya dapat dari narasumber saya.

Ternyata rencana sedikit berubah. Setelah Sholat Subuh merasa lelah dan masih ngantuk apalagi ditambah melihat seorang yang dengan nikmatnya tidur di emperan masjid sayapun ikut tergoda. Karena hari masih gelap dan masih ngantuk saya leyeh-leyeh dulu tidur di emperan masjid. Lumayan saya bisa tidur setengah jam-an...dan segera bangun tatkala melihat petugas bersih-bersih yang sedang menyapu masjid. Saya segera bersih-bersih, di kamar mandi masjid sebelum bersiap menuju Kebumen.

Jam enam, saya kembali lanjutkan perjalanan. Ada sebuah bis kecil yang berhenti tak jauh dari masjid dengan tujuan Kebumen. Bis itulah yang mengantar perjalanan saya menuju Kebumen. Sepanjang perjalanan dengan bis kecil itu saya manfaatkan untuk tidur meski setengah terjaga. ya lumayanlah. Kutoarjo Kebumen kira-kira menempuh perjalanan satu jam.

Meski sudah pernah singgah ke Kebumen saya belum tahu kondisi jalan-jalan di sana. Maka saya sempat tanya pada kenek dan atas bantuan sopir saya diberi arah-arah menuju jalan Pemuda. Tempat rencananya saya akan mencari hotel untuk menginap.

Di dekat sebuah pasar bis kecil berhenti. Dari situ saya lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. dengan Backpack yang cukup berat saya berjalan susuri pasar. lumayan juga apalagi pas menjalankan puasa jadi cukup menguras tenaga. tapi saya masih memilih jalan saja sambil menikmati suasana pagi di kota kebumen.

Saya melewati sebuah pasar. Pasar yang mengingatkan 2 tahun lalu ketika saya berbelanja kebutuhan sehari-hari bersama Pak Nico (teman penelitian) dan Irma (teman tugas Akhir) untuk diberikan pada pak kepala desa yang kami tumpangi.

Berjalan dan terus berjalan. Saya terus menyusuri jalanan mencari jalan pemuda. Dari informasi seorang bapak tua yang saya tanya akhirnya saya temukan juga. Beberapa ratus meter susuri jalan pemuda saya temukan juga tulisan Hotel. Saya berbelok dan memutuskan menginap di hotel itu, Hotel Patra.

2 September 2008

Bersambung

Saturday, September 06, 2008

Letak ruang kelas itu di urutan ketiga dari Barat, deretan paling Selatan di sebelah Utara Lapangan bola. Kelas itu tiap hari pada jam sekolah berisi bocah-bocah belasan tahun selalu ceria tidak di jam pelajaran maupun diluar. "Kelas bahagia," begitu pak Priyo wali kelas bilang. "Kelasnya orang-oranng edan," kata Bu Narti guru Biologi. inilah kelas dimana tak sampai setahun berbagai kisah kami toreh, baik suka maupun duka. Satu kekompakan bagi anak-anak IPA3 SMU Boy.

Gilanya anak IPA 3, jika guru yang pernah marah-marah di kelas lain( Pak hasan bahasa Inggris) dan menyebut siswa-siswa di kelas itu sebagai inlander ( wong ndeso) tak berkutik justru sering terbawa suasana penuh canda dan ceria. Jika biasanya menyuruh seseorang yang dianggap biang onar untuk duduk di bangku depan mengatasi biang onar jadi sebuah solusi ternyata hal itu tak berlaku di kelas kami 3 IPA3. Yah apa yang harus diperbuat jika biang onar tersebar di bangku depan hingga belakang. ( termasuk saya..hehehe). Memang benar jika ada yang bilang masa SMA sebagai masa yang paling indah. Saya merasakanya. Terutama ketika menjadi salah satu bagian keluarga besar 3 IPA 3.

tak terasa sudah hampir delapan tahun waktu terus berjalan. Para pennghuni kelas biang onar itupun sudah menempati posisinya masing-masing. Jika dulu sebagai bocah culun biang onar, tukang telat, atau tukang apa saja kini semua mungkin sudah berubah. Banyak diantara penghuni kelas 3 IPA 3 yang sudah menjalani hidup baru membangun sebuah keluarga. Mereka dengan beragam profesi, ada yang dosen, PNS, pegawai pemda, tentara, polisi, dokter, teknisi, ahli mesin, dokter hewan, akuntan, guru, dan sastrawan blog (hehehehe..ga boleh letinggalan)

Terakhir kali kami berkumpul setahun lalu dalam sebuah acara buka puasa bersama meski sayang tak lengkap..yah..yah..yah..semuanya memang terus berputar dan berjalan..begitu juga dengan cerita..masa lalu biarlah dikenang manis ataupun pahitnya sebagai bumbu indahnya kehidupan...

Merindu Senja....Sambil menghabiskan malam diiringi lagu Morris Albert..feeling





Jika ada yang bertanya hal apa yang paling saya nikmati saat ini maka jawaban saya adalah melakukan sebuah perjalanan. Berkunjung ke suatu tempat, menjumpai hal yang selalu baru, bertemu dengan orang-orang baru, kenalan baru, pengalaman hidup baru,..silahkan menjauh hal-hal lama, kenangan, kesedihan, duka..dalam perjalanan kutemukan satu kebahagiaan..

Awal bulan puasa saya mendapat tugas untuk meliput sosok seorang guru berprestasi nasional untuk tingkat SD. Seorang ibu guru yang menjadi pengajar di SD negeri Tambakrejo kecamatan Buluspesantren Kebumen. Bekunjung ke Kebumen mengingatkan kenangan saat mengerjakan proyek tugas air di salah satu wilayah di kota itu. Menunggu saat-saat turunnya hujan, mengukur kecepatan air, dan ketinggian muka air dari subuh hingga malam hari meski hanya berbekal senter untung saja lokasi tempat penelitian saya waktu itu hanya berada di samping rumah bapak kepala desa.

Saya berangkat ke kebumen Senin malam, artinya pada malam hari saat puasa hari pertama. Saya berangkat dari kantor diantar Ibnu office boy kantor menuju stasiun gambir. Saya naik taksaka malam. Sebelum memutuskan naik ini saya sudah survey dulu melalui searching di internet kira-kira turun di stasiun mana dan kereta apa yang berhenti. Dari sedikit pilihan akhirnya saya memilih Taksaka malam. Rencananya saya akan berhenti di stasiun Kutoarjo.

Jam 7 malam ibnu mengantar saya menuju gambir. Sepanjang perjalanan jalanan agak macet di beberapa ruas jalan. namun setelah sampai Manggarai jalanan sepi sehingga motor Kanzen Pesona yang kami tunggangi bisa leluasa membelah jalanan. tak sampai jam 8 malam saya sudah tiba di gambir.

Kereta taksaka tujuan Yogyakarta ini akan berhenti di perhentian terakhir stasiun Tugu yogyakarta. Di jadwal tertera jam 20.45 kereta akan berangkat dari gambir. Sambil menunggu saya memilih sebuah kursi yang kosong dan menaruh tas yang ternyata cukup berat juga. Saya sempat mengamati kondisi kanan, kiri dan sekitar saya. Mungkin karena hari biasa jadi penumpang tak sebanyak waktu libur atau hari-hari mudik lebaran. Berbagai tingkah dan rupa manusia lalu-lalang membelah tatapan saya yang menerawang hingga tugu Monumen Nasional. Kembali saya melakukan sebuah perjalanan.

Tak begitu lama menunggu setelah kereta Argo lawu jurusan Solo berangkat taksaka malam tiba di gambir. Saya segera mencari tempat duduk yang ternyata terdapat di gerbong nomor satu. Saya mendapat kursi nomor 6B. Satu deretan dengan saya di kursi nomor 6A nampaknya seorang mahasiswa angkatan baru. Saya bisa menebak dari gaya berpakaian dan apa yang dia obrolkan dalam pembicaraan di telepon.

Seperti biasa..tiap kali lakukan perjalanan dengan kereta api kelas eksekutif..duduk taruh barang..nunggu selimut dan snak..tidur..tanpa ada komunikasi dengan rekan di samping. Hal ini tak pernah terjadi ketika saya lakukan perjalanan via kereta api kelas ekonomi. Masih teringat betul betapa banyak cerita yang saya dapat dari berkali-kali perjalanan via kereta api pasundan dari kertosono menuju Jogjakarta, kereta api penataran dari Tulungagung menuju kertosono atau rapih doho dari kediri menuju tulungagung.

Mungkin satu yang agak beda kali ini saya menunggu giliran ditanya pesan makanan apa. tentunya bukan untuk saat ini tapi untuk persiapan makan sahur nanti. Menjalani ibadah puasa di jalan, sahur di kereta.

Setelah berdoa bersama jam 20.45 kereta perlahan meninggalkan stasiun gambir. Kereta melaju dan saya sudah membayangkan berbagai kisah yang akan saya dapatkan selama 2 hari kedapan di kebumen..

1 September 2008

Bersambung

Friday, September 05, 2008

Ya Khaliq haruskah aku menyuap-Mu untuk sekedar mendapat sedikit karunia-Mu...
Sedang untuk meminta aku tak mampu dan malu dengan semua noda dan hamparan dosaku...


00.30 Depan terminal Blok M, Jakarta

Sebuah mobil van dari arah utara melaju kencang. Di depan halte dekat sebuah hotel tiba-tiba saja van warna merah itu berhenti. Dengan sedikit mengerem secara tiba-tiba van itu berhenti. Dari mobil itu keluar seorang wanita berusia duapuluh tahunan. Wanita itu berambut sebahu dengan celana jeans dan kaos ketat warna merah muda. Sambil terisak ia keluar dengan tas kecilyang dibawa kemudian menyusuri jalan di dekat hotel itu. Ia terus berjalan sementara mobil yang membawanya terus menjauh dan tak lagi terlihat.

Lepas tengah malam suasana sekitar hotel tersebut mulai sunyi. Di sekitar yang nampak hanya beberapa pengemudi taksi yang melepas malam dan tukang ojek sambil menanti calon penumpang yang mungkin saja akan memakai kendaraan mereka, sementara nampak pula dua orang gelandangan yang terlelap di halte kosong dengan beralas bekas kardus air mineral. Mereka mendengkur, meringkuk menahan dingin dan sesekali terlihat senyuman, entah apa yang ada di fikiran mereka mungkin saja sebuah mimpi indah.

Wanita itu terus melangkah hingga akhirnya di depan sebuah toko yang sudah tutup ia berhenti sambil terus terisak-isak. Kedua mata yang indah itu keluar butiran air mata yang main lama makin deras saja. Dari arah kejauhan melaju taksi berwarna putih. Pelan-pelan taksi itu berhenti. Seorang pengemudi berusia kira-kira 40an keluar. Pengemudi taksi itu keluar dan tawarkan taksinya.


Terlibat percakapan diantara mereka..


01.00 Kalibata, Jakarta

Diantara serakan buku seorang pemuda 26 tahunan masih sibuk di depan layar monitor komputer tuanya. Di sampingnya segelas kopi yang masih kepulkan uap panas. Di sela-sela aktivitas jari-jarinya mengetuk-ketuk keyboard tangannya meraih segelas kopi dan pelan-pelan menyeruputnya. Ia masih asyik dengan pekerjaannya. Menyusun untaian kata demi kata. Dan I hentikan sejenak aktivitasnya ketika terdengar bunyi sebuah pesan dari telepon genggamnya.

Chi : Selamat malam!

Pet : Selamat malam!

Chi : Bagaimana kabarnya?

Pet : Baik, kamu juga kan?

Chi : Aku juga baik-baik saja. Engga ke Jogja lagi?

Pet : Kapan-kapan aku mungkin main kesana lagi tapi belum sekarang. Lagi sibuk kalaupun ada waktu luang seringkali aku pilih isi waktu buat petualangan saja. Yah kapan-kapan aku ke Jogja.

Chi : Ooo gitu ya.

begitulah, jari-jari itu terus mengetuk-ketuk keyboard dan bercakap-cakap dengan seorang bernama Chi..lewat media Yahoo Messanger.

01.00 Depan Terminal Blok M


"Sudahlah mbak jangan lagi menangis. Ayo saya antar pulang pakai taksi saya," kata pengendara taksi.

wanita itu masih diam saja dan kian tersedu Namun sopir taksi itu terus mencoba membujuknya hingga akhirnya wanita itupun menerima ajakan sopir taksi. "Baiklah," katanya. Kedua orang itupun melangkah menuju taksi berwarna putih yang berada tak jauh dari mereka.

"Nama saya Yanto mbak. Mbak kalau ada masalah dan ingin dibagi silahkan anggap saya ini orang tua atau temen mbak,". Wanita itu hanya mengangguk dan perlahan taksi itu melaju.

"Silahkan mbak. Kalau ada masalah jangan sungkan-sungkan!"

"Nama saya Ratna. Terima kasih pak. Jalan saja dulu!"

"Ini kemana mbak?",

"Jalan saja pak kemana saja,"

01.15 Semarang, Jawa Tengah

Seorang lelaki berkacamata sambil duduk di meja kerja diantara tumpukan berkas dan buku-buku. Buku-buku tebal bersampul hitam terbitan luar negeri. Nampak tulisan penerbit Mc Grawhill.

Sambil duduk santai ia menelepon seseorang dengan telepon genggam yang masih tertancap dengan charger.

“Halo dik, bagaimana ga ada apa-apa kan di jalan?”

“Ga ada apa-apa mas,”

“Ya sudah kalau begitu istirahat saja dulu. Perjalanan dari Semarang ke Jogja lumayan,”

“Masih belum ngantuk. Lagi utak-utik komputer sambil smsan dengan teman lama,”

“Oya jangan lupa pesenanku. Besok tolong carikan referensi tentang perguruan tinggi di Malaysia,”

“Gampang mas. Besok saya carikan. Mas sendiri jangan terlalu capek. Lagian besok katanya mau ngadap pak dekan”

“Yah pasti. Tapi masih ada yang harus saya kerjakan dulu. Hasil laporan tugas dari adik-adik mahasiswa tinggal dikit lagi koreksinya,”

Di tengah perbincangan telepon tersebut terdengar suara pintu diketok. “Mas Andi sudah tidur belum?”

“Siapa?”

Andi Wirawan. Dosen muda jurusan Sosiatri Fakultas Ilmu Sosial politik Universitas Diponegoro.

“Edi mas,”

Tak lama kemudian pintu dibuka…

Ada apa Ed?”

“Maaf mas ganggu bentar. Saya mau pinjam buku tentang sosiologi kebudayaan. Tadi sore kelupaan. Maaf lo mas ini terpaksa soalny besok saya harus ngumpul paper tentang itu,”

“Wah ambil saja Ed. Tuh diatas rak pojok. Ada juga beberapa referensi lain kalau mau bawa silahkan kebetulan saya juga belum tidur,”

Bersambung













Keterpesonaan terhadap keindahan pantai Ciantir, Sawarna. Yah sejuta pesona yang terhampar, masih alami, masih sunyi dari tangan-tangan usil..

Ternyata berlari-lari dan menyusuri pinggiran pantai cukup membuat badan saya pegal-pegal. Untunglah rencana sedikit bergeser mengingat angkutan sore hari cukup sulit kami mengundur rencana balik ke Jakarta besok pagi-pagi. Katanya ada mobil ELF yang selalu berhenti di depan rumah pak Hubaya tiap jam setengah enam dengan tujuan Sawarna-Pelabuhan Ratu. Sebagai pelengkap kami ingin menikmati Sunset di Sawarna. Sebagai pelengkap sebuah perjalanan melelahkan yang kami tempuh.

Sore hari jam setengah lima kami bergegas menuju pantai. Cuaca cukup cerah, tak ada awan. harapan kami Sunset bisa terlihat dengan lebih sempurna. Tak seperti yang ada di Tarang Taraje kemarin. Di detik-detik akhir Sunset tertutup oleh awan.

Langit yang mulai menguning, angin laut, dan jelang senja..kami duduk-duduk sambil melihat sekumpulan orang dari rombongan yang lain ( rombongan Zara Zetira katanya). Nampaknya mereka juga menanti datangnya senja.

Ya..ya..ya kami menikmati sore itu. Sambil foto-foto yang aneh-aneh mulai dari bak pendekar kungfu sampai si iqbal yang niru2 David Hasselhof kaya film Baywath..hehehe..yah..Senja di pantai Sawarna. Meski ternyata Sunset tak seperti yang kami harapkan perasaan masih puas.

Malam hari kami istirahat dengan balsem hehehe..karena badan yang pegal-pegal..besok pagi-pagi harus bangun bersiap balik Ke Jakarta..

17 Agustus 2008

Bersambung



Thursday, September 04, 2008

Membaca cerita-cerita Seno Gumira mengingatkan saya akan diri saya...

Hidupku penuh dengan kesedihan – karena itu aku selalu mengembara. Aku selalu berangkat, selalu pergi, selalu berada dalam perjalanan, menuju ke suatu tempat entah di mana, namun kesedihanku tidak pernah hilang. Kesedihan, ternyata, memang bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan, karena kesedihan berada di dalam diri kita. Aku selalu mengira kalau melakukan perjalanan jauh maka kesedihan itu akan bisa hilang karena tertinggal jauh di belakang, tapi itu tidak pernah terjadi. Ada segaris luka dalam hatiku yang telah mendorong aku pergi jauh dari kampung halamanku dan sampai sekarang belum pernah kembali.

**********

Kemudian, setelah bertahun-tahun melakukan perjalanan, akhirnya aku mempunyai juga tujuan, atau semacam tujuan, setidaknya suatu alasan yang membuat aku terus menerus melakukan perjalanan nyaris tanpa berhenti kecuali untuk mengumpulkan tenaga kembali. Aku selalu pergi, selalu berjalan, karena selalu ingin mengenal sesuatu yang lain, yang belum kukenal, dan betapa banyak keindahan yang terdapat di dunia yang luas terbentang.

**********

Aku telah berjalan dari negeri yang satu ke negeri yang lain. Dari kota ke kota, dari kampung ke kampung, keluar masuk hutan, mengarungi wilayah dan mendapat pengalaman. Aku selalu melakukan perjalanan sendirian, dan karena itu aku banyak merenung. Sambil melihat pemandangan yang tidak pernah kusaksikan, aku berpikir tentang kehidupan. Membayangkan bumi terbentang yang dulu tidak dihuni manusia, aku merenungkan makna kebudayaan. Melewati padang salju membeku, padang rumput menghijau, dan pantai-pantai membiru, aku memikirkan manusia dan alam. (Matahari Tidak Pernah Terbenam Di Negeri Senja, Seno Gumira)

"Kukirimkan sepotong senja ini untukmu ....., dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata," (Seno Gumira Aji)

Pada suatu ketika..begitulah jawaban dalam hati tiap saat ada yang bertanya.."Eh, kapan mengakhiri masa lajang?"....Yah pada suatu ketika..Mungkin tak seperti Hatta, yang menikah menunggu Indonesia merdeka. Saya hanya menunggu pada Suatu ketika Saja..

Wong takon wosing dur angkoro
Antarane riko aku iki
Sumebar ron ronaning koro
Janji sabar, sabar sak wetoro wektu
Kolo mangsane, ni mas
Titi kolo mongso

Pamujiku dibiso
Sinudo kurban jiwanggo
Pamungkase kang dur angkoro
Titi kolo mongso

Senja Karangtaraje
Senja, kembali aku bicara tentang senja. Tentang Keindahan sekaligus sejuta misteri.....Aku yang tenggelam, terpukau, apapun itu..

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.
(Seno Gumira Aji Dharma, Sepotong Senja Untuk Pacarku)

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.