Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Sunday, February 24, 2008

Bagian Kedua

Hahahaha..mereka berdua tertawa lepas tak lagi hiraukan orang-orang yang berlalu-lalang di depan mereka..Dan waktuun terus bergerak..Dari sore kini telah berubah menjadi senja sementara kereta yang mereka tunggu belum datang juga..

“Hai orang aneh sebenarnya yang kukatakan sedari tadi benar. Aku tak sedang mencari seseorang. Aku sedang menunggu seseorang,” kata Wanita bernama Senja

“Ah pusing aku mencerna kata-katamu. Bukankah menunggu tak beda jauh dengan mencari,”

“Ya terserah kau menangkapnya. Aku memang sedang menunggu. Menunggu seseorang yang katanya bungkuskan sebuah rembulan,”

“Apa lagi itu? Ah makin pusing saja aku mencernanya. Kau tak jauh beda denganku”

Keduanya kini hanya terdiam sementara waktu terus bergerak dari awalnya senja kini perlahan berganti malam.....

"Hmm..ternyata masih kujumpai senja," kata lelaki itu lirih.

"Apa katamu orang aneh..adanya malam pasti ada senja," kata Senja.

"Hmm berarti aku harus terus mencari. Dimana kulihat malam tanpa kutemui senja,"

Senja hanya terdiam merasa keheranan. Baru kali ini dia menemukan orang seaneh ini. Kali ini dia tak menanggapi ocehan lelaki itu.

Pandangan mata senja kini mulai tertuju ke satu arah. Sorot tajam mata dibalik kacamata itu membelah keramaian dan temukan sosok yang tengah berjalan. Dengan terburu-buru sosok lelaki tegap, berambut acak-acakan itu menaiki kereta.

Senja berlari namun kereta memang lebih cepat dari manusia...tanganya masih melambai dan kini dia kembali ketempatnya tadi didekat lelaki itu dengan tubuh lunglai. Senja terisak...

"Siapakah dia? Itukah orang sedari tadi kau tunggu?" tanya lelaki.

"Bukan,"

"Lalu kenapa kau jadi seperti itu?, tanya lelaki.

"Bukan...", Senja masih saja terisak. Lelaki merasa serba salah. Dia hanya diam membiarkan wanita yang baru dikenali beberapa jam yang lalu itu terus terusak. Sorot lampu stasiun serasa makin terang. Butir-butir air mata senja terlihat berkilauan.

"Sebenarnya namaku bukan Senja,"..Senja menahan isak dan kini mulai mereda.

"Panggil aku malam saja," kata Malam.

"Oiya kau bisa memanggilku Bintang," balas lelaki itu.

Apa yang terjadi antara Senja atau yang kini minta disebut sebagai malam terus menjadi misteri bagi bintang.

"Hai Bintang lalu kau sekarang mau kemana?" tanya Malam.

"Aku masih dengan tujuanku semula. Mencari tempat dimana tak lagi kulihat senja. Dan aku bisa menikmati malam," jawab bintang.

"Apakah tempat seperti itu ada?" tanya malam.

"Aku juga tak tahu. Makanya aku sedang mencari dan terus mencari. Entah sampai kapan mungkin sampai aku tak kuat lagi berjalan atau..entahlah,"

"Hai bintang aku akan mengikutimu... Bolehkah?", tanya Malam.

Bintang tak menjawab..hanya mengangguk...Mereka untuk beberapa saat kembali terdiam..

Sebuah kereta barang berhenti...

"Cepatlah ayo segera!" ajak Bintang.

"Segera apa?" tanya Malam.

"Cepat naik di antara gerbong,"

malam dengan dibantu Bintangpun menaiki gerbong yang membawa bahan bakar itu. Mereka duduk diantara gerbong.

Akhirnya keduanya terus berjalan dari satu stasiun ke stasiun yang lain. Berusaha mencari tempat dimana bisa menemukan malam tanpa senja. Hingga bertahun mereka melakukan perjalanan kejadian dikala senja di stasiun itu tak pernah diketahui oleh Bintang.

Bintang ditemani Malam..akhirnya bersama-sama menhilang dari Senja.

Jakarta Februari 2008

MF. Arief


Bagian Keempat

Akhirnya kereta yang telah lama ditunggu datang juga. KRL tujuan akhir stasiun Jakarta kota itu dipadati oleh penumpang. Kebanyakan mereka berjubel di dekat pintu keluar. Dengan sedikit perjuangan aku berhasil masuk ke dalam gerbong kereta api kelas ekonomi itu. Yah wajar, dengan karcis yang hanya seribu rupiah tak patut aku menuntut lebih banyak. meskipun geram juga melihat kinerja dari pengelola-pengelola kereta di tanah air. Tak hanya kelas ekonomi, di kelas eksekutif terkadang pelayanan yang kurang baik juga ditemui. Jangankan memenuhi standar pelayanan untuk datang dan tiba tepat waktu saja sering kali tak bisa dipenuhi. Heran juga ternyata cerita di lagi Iwan Fals yang diciptakan belasan tahun lalu hingga kini kondisinya masih sama saja. "Biasanya kereta terlambat......."

Selalu saja ada banyak hal yang unik ketika memasuki gerbong kereta. Gerbong kereta memiliki banyak cerita, di sanalah dunia kecil itu ada.

Aku sengaja masuk agak jauh dari pintu keluar. Lokasi itu memang titik rawan kalau tak waspada dalam hitungan detik barang-barang bisa melayang, katanya. Meskipun ditempatku berdiri kewaspadaan masih harus tetap terjaga pula. Tak lama kemudian kereta berjalan. Dunia kecil dalam gerbong kereta itupun memulai ceritanya.

Seorang penjual koran yang umurnya kira-kira masih 15 tahunan berseliweran jajakan dagangannya. Masih setumpuk, nampaknya dagangannya belum banyak berkurang. Entah lelah atau apa bocah penjual koran itu menaruh tumpukan korannya kemudian duduk sesaat kemudian datang penjual koran lain yang mungkin usianya sebaya dengannya. Iapun turut duduk dan keduanya tertawa-tawa. Entah tertawa karena ada yang lucu atau menertawakan kejamnya hidup.

Aksi dunia kecil dalam gerbong masih berlanjut. Dua orang pengamen dengan membawa tape karaoke memulai aksinya. Pengamen itu seorang bapak-bapak dan wanita muda kira-kira usianya 25an. Bapak-bapak itu dibantu oleh wanita muda untuk berjalan. ia buta, dengan membawa tape kecil dan diiringi musik dangdut ia memulai aksinya. Sambil bernyanyi mereka berjalan dan wanita muda itu menyodorkan plastik bekas bungkus permen besar untuk menampung sumbangan dari para penumpang. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Aku hanya menarik nafas panjang. membuang segala kejengkelan ini.

Dibelakangku tangan kecil menyenggol kakiku. Gadis kecil berusia mungkin belum genap 8 tahun. berpakaian dekil namun badannya tidak kurus. Ia mendatangi satu demi satu penumpang dan meminta belas kasihan. Inilah kejamnya ibukota.

Pukul empat kurang seperempat kereta sudah sampai di stasiun Juanda.Aku terus mempercepat langkahku menuju sebuah kantor lembaga di bawah pemerintah yang terletak tak kira-kira 500 meter ke arat barat.

Akhirnya tugas hari ini sudah kutuntaskan...

(Bersambung)

MF. Arief

Saturday, February 23, 2008


Seorang lelaki berbadan kurus, tinggi 165, berusia 29 tahun, tergeletak dengan badan yang tergores penuh luka diantara nisan kuburan Cina di bukit Bolo. Waktu itu sore menjelang senja dengan nafas yang masih terengah engah dia memegang sesuatu di tangannya sebuah gelas antik dari keramik.

Joko Budheg nama lelaki itu, terkenal sebagai pencuri paling disegani di desa bonorowo. Seminggu lalu ia bertemu dengan Kembang Sore wanita pujaanya. Pelacur tercantik di Bolo. Rajutan asmara membuat dua insan saling jatuh cinta. Sebagai bukti tanda cinta Joko Budheg ia ingin memberikan kado spesial bagi wanita pujaannya tersebut, gelas antik dari keramik bergambar bunga teratai yang selama ini sering disebut-sebut Kembang Sore sebagai benda terindah yang ia impikan sejak kecil. Sebagai hadiah pernyataan cinta mereka dengan saksi alam semesta. Mereka akan bertemu di bukit Bolo dibawah pohon Cemara besar ketika menjelang senja seminggu setelah bertemu.

Joko budheg memulai aksinya masuk rumah pengusaha Cina terkaya di desa Banjarejo. Selama ini tak ada yang bisa menggagalkan setiap tindakan Joko Budheg maklumlah dia memiliki sebuah Jimat hasil dari laku yang dilakukannya setahun lalu di gunung Kawi.

Kali ini Joko Budheg kurang beruntung setelah mengambil sebuah gelas keramik antik dia melompat pagar. Apesnya jimat berupa kain putih yang selama ini dia gunakan sebagai ikat kepala jatuh karena tersangkut pagar. Apesnya di dekatnya ada salah seorang penjaga di rumah orang Cina itu. Teriakan maling dari penjaga yang sudah tua renta itu ternyata masih mampu membangunkan penduduk disana. Mereka mengejar Joko namun ternyata ia masih beruntung meskipun sebuah lemparan batu sempat mengenai kepalanya.

Setelah masuk hutan akhirnya ia berhasil melarikan diri. Dia menuju tempat dimana ia akan bertemu dengan kekasihnya. namun sesampainya di Bolo Joko budheg sudah kehabisan tenaga, badannya tersobek-sobek tanaman liar dan duri pepohonan hutan.

Waktu itu sore hari menjelang senja..Joko Terkapar di salah satu gundukan tanah besar...di dekatnya ada sebuah pohon besar...gerimis hujan turun..Pelangipun menampakkan wujudnya..sambil merayap-rayap ia ada di gundukan tanah itu...Joko terduduk dengan susah payah..dan menaruh gelas keramik tersebut diatas kuburan Kembang Sore..

*Sehari sebelum kejadian itu kembang sore dibunuh oleh lelaki hidung belang pelanggannya"

Joko kemudian terkapar setelah tak kuat lagi menahan sakit yang dialaminya...saat matahir tenggelam dan senja datang..nyawanya terbang ke langit..di atas buklit Bolo itu diantara kemilau Senja nampak Joko budheg bergandengan tangan dengan kembang Sore mengikuti hilangnya cahaya matahari....

Bagian Ketiga

Langkahku tertuju ke loket penjualan tiket KRL. menuju Jakarta kota hanya cukup mengeluarkan duit seribu rupiah saja. Yah pantas saja dulu dosenku seringkali bilang inilah sarana angkut massal yang efektif jika benar-benar dioptimalkan.

Kereta belum juga tiba. Sudah hampir sepuluh menit menunggu. Membuang kejenuhan kuambil sekotak permen rasa jeruk yang tadi sempat kubeli dari minimarket di depan kantorku. Akupun duduk di kursi tempat tunggu penumpang.

Kulihat suasana sekitarku, stasiun tak begitu ramai di sisi dengan tujuan Jakarta kota tak lebih dari dua puluh orang. Sesekali mereka menoleh ke arah Selatan melihat kalau-kalau kereta tiba namun Kereta yang kami tunggu tak datang-datang juga. Seorang penjual koran mondar-mandir didepan calon penumpang namun tak ada yang membeli barang dagangannya. ia kemudian berbincang dengan seorang pedagang majalah yang duduk disebelahku. Pria bertinggi badan kira-kira 160an, berkulit sawo matang, berbusana lusuh dan berusia kira-kira 35 tahunan tersebut menunjukkan kresek yang sedari tadi dibawanya dan ternyata isinya bekas tempat air mineral.

"Sambil jualan majalah kamu kumpulin tuh bekas gelas Aqua, lumayan buat tambahan uang jajan sekolah anak-anakmu!", kata penjual koran tersebut.
Wanita berusia 30 tahunan bertinggi tak sampai 160, kurus, rambut sebahu dan kulit terbakar matahari itu hanya mengangguk-angguk mengiyakan.

Di sisi lain agak jauh dari tempatku duduk seorang lelaki berkulit sawo matang, tinggi 160an, berseragam PEMDA dengan rambut gondrong sudah terlihat bosan menunggu. Sebuah Stofmap warna biru digelatakkan begitu saja di dekat tempat duduknya. Dari kantong bajunya ia keluarkan sebungkus rokok kretek. Campuran tembakau dan cengkeh yang telah terbungkus kertas itupun sudah berada dimulutnya. tangan kanannya menyulut dengan korek api. Perlahan ia menghisap dalam-dalam rokok itu dan pelan-pelan membuang asapnya.

Waktu terus saja berjalan dan kini hampir setengah jam. dalam hati aku sudah mulai menggerutu "sial" harusnya memilih naik bisa saja jika tahu begini. Kereta api ekonomi tujuan Jakarta kota tak kunjung tiba sementara sedari tadi kereta tujuan Bogor sudah lebih dari sekali nongol. Yah kalau seperti ini kapan negara ini menjadi maju...Mulailah muncul fikiran "akulah yang paling benar harusnya begini, idealnya begini".

Calon penumpang tujuan jakarta kota mulai bertambah namun sudah hampir empatpuluh lima menit kereta yang ditunggu-tunggu tak juga datang. Aku melirik ke kiri, pegawai pemda gondrong itu sudah mulai resah bolak balik ia berdiri menoleh ke arah selatan sambil terus menghisap rokok. Jika tidak salah ini mungkin rokok keempat yang telah ia hisap.

Bau menyengat sampai ke hidungku. tak sadar sedari tadi aku duduk di depan sebuah tempat sampah. Semakin menjengkelkan saja. Dalam hatiku terus saja menggerutu menyalahkan keputusanku untuk memilih sarana transportasi ini. Sayup-sayup dari kios pedagang kaset terlantun lagu-lagu Scorpion. Akupun terbawa ke syair dan alunan musik grup band asal Jerman itu. Hingga kejenuhan menunggu kereta perlahan hilang.

Hampir satu seperempat jam menunggu kereta yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga..

(bersambung)

MF. Arief


Bagian dua

Hidup memang selalu berhadapan dengan pilihan. Memilih, satu pekerjaan mudah yang sulit. Lewat satu pengalaman kini aku mulai berhati-hati untuk menentukan pilihan utamanya dalam hal-hal yang penting.

Seperti saat ini saja untuk menuju Jalan Juanda dari tempatku berada aku harus memilih. Ada banyak alternatif pilihan kendaraan menuju kesana. Ke jalan Juanda bisa ditempuh dengan berbagai alternatif jenis kendaraan. Mulai dari KRL, bis kota, taksi, busway, ojek, atau pinjam motor. Namun yang paling mungkin saat ini bagiku hanya tinggal dua saja yaitu KRL dan bis kota. Sekali lagi pengalaman, hal itu yang selalu saja mendasari tiap kali mengambil keputusan mulai dari hal-hal sepele hingga persoalan yang rumit.

Semua alternatif yang kupilih memiliki kekurangan dan kelebihan. KRL, sarana transportasi massal yang kata pak dosen paling efektif ini memang murah meriah, benar-benar sesuai dengan kantong orang-orang golongan kecil macam saya. Kalau pas beruntung tiba di stasiun tepat pas kereta jelang berangkat perjalanan ke jalan Juanda hanya butuh waktu tak sampai setengah jam. Namun seperti yang lain ada juga kelemahannya terkadang kalau pas ga beruntung resiko menunggu berpuluh menit bahkan sejam bisa saja terjadi.

Naik bis kota sebenarnya kalau kondisi jalan sedang tidak macet juga ga terlalu lama waktu tempuhnya. Namun harus oper berkali-kali yang membuatku agak malas jika harus memakai sarana kendaraan ini. Mulai dari naik angkot 34, oper bis kota 640, oper lagi bis nomor P 20. Berdasarkan pengalaman sebelumnya butuh waktu tempuh kira-kira satu setengah jam belum lagi harus jalan dengan jarak cukup jauh.

Berdasarkan pengalaman serta berbagai pertimbangan akhirnya pilihan jatuh ke KRL....

Via angkot 34 perjalananku menuju juanda dimulai. tak lama memang menuju stasiun kereta tak sampai 5 menit mikrolet 34 mendekati stasiun..

Cuaca masih seperti tadi..mendung, gelap, hawa dingin rasanya sebentar lagi turun hujan..semoga saja tidak hujan..

Lamat-lamat dari kejauhan terdengar suara pengumuman kereta api kelas ekonomi sudah berangkat dari stasiun Lenteng Agung. namun langkahku masih harus menuju satu tempat dengan harapan semoga tak terlambat kereta.

Kemarin seorang rekan minta kopian film tentang profil guru yang pernah kubuat hampir setahun yang lalu. Untung saja mengirim barang tak harus jauh-jauh dan hanya beberapa puluh meter dari stasiun kereta api Duren Kalibata.

(bersambung)

MF.ARIEF

Bagian Satu

Mendung masih menyelimuti langit Jakarta. Gelap, angin kencang membawa hawa dingin yang kurang bisa diterima kekebalan tubuhku. Pantas saja jika batuk dan meriang tak bosan-bosannya berada dalam tubuhku. Cuaca seperti ini enaknya dihabiskan diatas kasur empuk dengan selimut tebal, tanpa beban kerjaan dan ditemani segelas kopi hangat serta pisang goreng. Nikmatnya dunia salah satunya di saat seperti itu.


Saat ini tak mungkin aku melakukan hal konyol seperti itu. Seperti biasanya beberapa artikel antre untuk segera disetor ke editor. Tetap berada di depan layar komputer menikmati sisi kehidupan lain, jalani aktivitas yang dengan yakin dan bangga kutempuh. Meretas jalan menjadi seorang pengarang, penulis. Semua memang butuh proses dan yang kulakukan dan jalani entah kebetulan atau mungkin saja terinspirasi mirip yang dikatakan Pram dalam bukunya Menggelinding. Yang kulakukan sebatas terus menulis, belajar dan jalani semua dengan sungguh-sungguh biarkan semuanya menggelinding.

Kehidupan butuh perjuangan, dan harus ditempuh dengan sepenuh jiwa. Apalagi saat ini aku ada di Jakarta dimana sulit menemukan waktu bagiku untuk sebentar terlelap. Aku harus terjaga atau termakan oleh kencangnya laju ibukota.

Kulihat jam dinding sudah menunjuk pukul 13.30. Jam seperti ini selalu menjadi saat-saat yang berat karena harus berjuang melawan rasa lelah dan kantuk. Belum lagi udara dingin seperti ini bayangan kasur, selimut, bantal dan guling empuk serasa didepan mata.

Namun aku harus bertahan, masih banyak kerjaan yang harus dilakukan. Dengan terbatuk-batuk kembali kuketik kata demi kata lewat keyboard CPUku. Hentakan pencetat tombol-tombolnya serasa jadi musik tersendiri. Suara yang menemani aktivitas setengah hariku setiap senin hingga jumat.

Yah seperti inilah duniaku dan caraku menghabiskan hari demi hariku di ibukota senja ini. Jaka Kalang, nama pena yang melekat hingga saat ini. Jaka kalang, seorang penulis begitulah namaku dikenal lebih terkenal dari nama asliku yang telah lama kulupakan. bukannya aku tak menghargai nama pemberian orang tuaku tapi tidak dikenal membuatku mempunyai dua sisi yang bermanfaat di tiap saat yang berbeda. Itu yang membuatku memiliki banyak kehidupan. Aku bisa ada dimana-mana tanpa takut orang mengenaliku.

Aku harus kembali menulis...

*********
" Aku kecewa dengan dirimu. Kenapa kau lakukan hal itu..bukankah sudah kuberikan satu isyarat kembali padaku,"...Kata-kata itu terus saja muncul di kepalaku. Mungkin Tuhan memang tidak adil, kenapa hal seprti itu bisa terjadi padaku. Aku hanya seseorang yang meminta sedikit perhatian namun kenapa hal itu tak pernah berlama-lama singgah di diriku.

Perhatian seorang Ibu...dengan lembut dan belaian kasihnya...
Perhatian seorang Ayah..dengan segala kebijaksanaan dan perlindungannya...
Perhatian seorang Nenek..dengan cinta dan kasihnya..dengan petuahnya..dengan semuanya..
Perhatian saudara..
Perhatian sahabat..
Perhatian seorang kekasih..

Tak terasa hentakan demi hentakan menghujam perasaanku..kekecewaan demi kekecewaan terus saja menerpa..seperti senapan mesin yang tak pernah habis pelurunya..Dan tiba-tiba saja air mata mengalir, tak hanya menetes dari kedua mataku.Aku sendirian terisak dalam kamarku..

Rasa itu makin meluap dan tanpa kusadari laptop teman setiaku curahkan segala fikir dan persaanku terambil oleh tangan liarku dan """Braakkkk..."""

Laptop itu hancur terhantam ke dinding kamarku..menghujam ke dinding yang tertutup poster Che Gue Vara..Poster itu masih tetap ditempatnya tak sobek karena hantaman laptopku. Che masih tetap tersenyum.

Aku melihat laptopku yang hancur tapi tatapanku kosong..tak secuil rasa menyesal telah melempar laptop itu...mataku kemudian berkunang-kunang dan akupun tak sadarkan diri dan sayup-sayup terdengar teriakan-teriakan teman-teman sekosku...

"Kenanga..Kenanga...."

*********
Bergelut dengan aktivitas seringkali membuat waktu berjalan begitu cepatnya. Saat ini jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 siang. Cuaca diluar masih mendung, padahal ada satu tugas ke daerah Jalan Juanda. Ada satu Narasumber yang sebenarny beberapa hari lalu sudah kutulis namun seperti biasanya harus ada kroscek hal yang sebenarnya malas kulakukan. Namun ini sudah menjadi kewajiban, mau tak mau harus kulakukan. Semoga saja nanti tidak kehujanan di jalan.

Hidup memang selalu berhadapan dengan pilihan. Memilih, satu pekerjaan mudah yang sulit. Lewat satu pengalaman kini aku mulai berhati-hati untuk menentukan pilihan utamanya dalam hal-hal yang penting.

(Bersambung)

MF. Arief




















Masjid Al Munawar, saat ini (doc: pribadi)


Ngrawa...Sebutan lama buat kotaku;Tulungagung....


Ingat Tulungagung terbayang lagi sego pecel, sego lodo, sego bantingan, sop bu Sumirah, tahu lontong, kopi Cethe, taman Kusuma Wicitra, Masjid Al Munawar, sepanjang jalan Ahmad Yani, Sungai Lembu Peteng, Candi dadi, Pantai Popoh, Pantai Brumbun, dan masih ada sederetan hal lain yang berjajar ingin disebutkan setiap kali nama kotaku disebutkan..

Rasanya baru kemarin aku mulai terbang mencari hal-hal baru keluar dari sangkar yang nyaman di kotaku..rasanya baru kemarin. Memang waktu berjalan terkadang begitu cepat, hingga 8 tahun serasa seminggu atau bahkan sehari.



Masih teringat saat-saat diriku masih berseragam merah putih, berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah..sosok anak kecil yang disiplin waktu...jam 7 sekolah dimulai jam 6 sudah berangkat dan seringkali jadi orang pertama yang masuk kelas..hmm anak kecil yang cita-citanya begitu sederhana waktu itu...bukan ingin jadi tentara, dokter, insinyur atau cita-cita yang sangat populer waktu itu namun bercita-cita ingin jadi seniman...hehehe..hmm..makanya si Arip kecil begitu semangat ikut les gambar di sebuah sanggar yang bernama sanggar pelangi...

Entah kenapa waktu itu si Arip kecil begitu kagum dengan para pengasuh di Sanggar tersebut sampai bercita-cita jadi seniman..hmm jadi teringat lagi rekan-rekan waktu itu..Affandi (bukan Affandi yang di Jogja, kebetulan namanya sama) salah seorang yang paling jago gambar dan berbagai raihan juara telah dia dapatkan...waktu itu ingin sekali seperti Affandi..hehehe..tapi nasib dan garis kehidupan berkata lain meskipun pernah juga ikut lomba gambar beberapa kali hanya satu piala yang saya raih..itu saja cuma juara ketiga..hmm lumayanlah waktu itu...betapa bangganya saya meraih piala itu...meski itulah satu2nya piala yang saya raih hingga saat ini..

Ada yang sudah banyak berubah di kotaku...salah satunya Alun-alun kota yang kini bernama Taman Kusuma Wicitra...Taman Kota dimana terdapat berbagai tanaman, tempat duduk bersantai dan burung-burung merpati yang dibiarkan hidup bebas..dulu bukan seperti itu...Alun-alun dulu waktu masa-masa SD benar-benar berupa alun2, hanya lapangan rumput (meski rumputnya ga rata dan banyak batunya..hehehe) tempat dimana setiap sore digunakan main sepak bola...Ramai sekali..dan seringkali digunakan untuk pasar malam..dan yang rutin tiap dua hari raya besar islam digunakan untuk Sholat Ied...

hmm..Ngrawa satu kota yang begitu tenang, asri, yah seperti slogannya selama ini kota BERSINAR..kota INGANDAYA (industri pangan budaya)..

Oiya ada satu lagi ...sekarang Tulungagung tak lagi punya Bioskop. Dulu,.....Ada beberapa bioskop di kota ini; Merpati, ria, Tulungagung teater (TT), Istana dan Handoko..masih ingat kalau mau nonton yang murah meriah ya ke Handoko saja..hehehe..ekstra show..plus digigit kutu..Handoko kalau anda pernah di Jogja mungkin sekelas Indra atau Permata..hehehe













Pegunungan Kapur Di daerah Selatan


Sebenarnya masih ada banyak hal menarik yang bisa diceritakan..hmm namun biar ga bosen akan kuceritakan lain waktu sajah..Sampai Jumpa di Alamat Yang Sama..
Tuhan Mengguyuri hati dengan darah dan air mata sebelum mengukir segala rahasiaNya disana..
Rumi

Thursday, February 21, 2008

Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput;
Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk.
Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran;
Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang.
Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia.
Maka mengapa takut hilang melalui kematian?
Kelak aku akan mati
Membawa sayap dan bulu seperti malaikat:
Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat --
Apa yang tidak dapat kau bayangkan.
Aku akan menjadi itu.
Jalaludin Rumi

Wednesday, February 20, 2008

Lantunan lagu-lagu anak-anak terdengar dari ruang berukuran kurang lebih lima kali lima meter di toko buku Aksara Kemang. Kursi-kursi telah tertata rapi berikut sebuah layar yang bisanya digunakan untuk presentasi. Nampak pula belasan anak-anak muda berpakaian warna-warni dengan kesibukanya masing-masing. Keceriaan nampak jelas di sana.


“Ada acara Skenario Playgroup,” kata salah seorang dari anak-anak muda berpakaian warna-warni. Jawaban yang sejenak membawa imajinasi saya pada kegiatan kumpulan anak-anak kecil dengan berbagai permainan dan hiburan. Bayangan yang langsung menancap dalam fikiran saya apalagi saat lantunan lagu-lagu anak diputar. Rasa penasaran saya terus berlanjut. Ingin tahu seperti apa jadinya jika anak-anak belajar menulis skenario.

Setelah menunggu beberapa saat ternyata apa yang saya bayangkan belum terbukti. Kumpulan anak-anak dibawah lima tahun yang terbersit dalam fikiran saya tak juga nongol. Beberapa saat kemudian bukannya anak-anak yang nongol malah anak-anak muda berusia belasan hingga dua puluhan tahun mengisi kursi-kursi yang sedari tadi telah disediakan. Saya makin penasaran saja dan turut bergabung meskipun terpaksa berdiri karena kursi yang disediakan telah terisi.

Acarapun dimulai yang menarik saat pembawa acara memanggil para peserta dengan sebutan adik dan sebaliknya peserta memanggil setiap panitia di sana dengan kakak. Uniknya banyak diantara peserta sebenarnya berusia lebih tua dari panitia.

Sayapun mengikuti jalannya acara Skenario Playgroup. Ternyata meskipun yang hadir adalah anak-anak muda berusia belasan hingga duapuluhan tahun suasana ceria khas anak-anak memang tergambar. Ada sesi cerita dan dilanjutkan dengan membikin seperti apa akhir dari sebuah cerita, ada pemutaran film, diskusi ringan, dan ternyata ada kisah dari seorang yang sudah benar-benar profesional yang bergelut di film.Rasa penasaran saya terjawab sudah.

Menurut panitia ternyata kegiatan ini adalah salah satu agenda dari klub milis writeandplay@yahoogroups.com. Konsep acara memang disetting seringan mungkin, ceria tetapi tetap dalam kerangka belajar bersama menulis skenario. Kegiatan di toko buku Aksara Kemang memang sudah menjadi agenda rutin kegiatan bulanan. Selain bertemu muka secara langsung sebenarnya mereka tiap sebulan dua kali juga berkumpul via online lewat sebuah acara conference melalui media Yahoo Messanger. Setiap bulan ada tema utama dalam tiap agenda baik online maupun offline.

Untuk acara serupa seperti ini bulan Maret tanggal 9 Maret akan kembali diadakan di tempat yang sama. Berbagai informasi mengenai kegiatan klub ini sesuai penuturan salah satu panitia bisa diakses melalui web serunya.multiply.com.

Rasanya saya tertarik mengikuti acara yang unik ini..hmm bulan depan akan datang lagi di Aksara kemang.

Sunday, February 17, 2008

Most of the shadows of this life are caused by our standing in our own sunshine.

Ralph Waldo Emerson

Thursday, February 14, 2008

DKJ kembali menyelenggarakan sayembara menulis novel. “Hubbu” adalah contoh sukses DKJ. Berikut infonya:

Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini, DKJ berharap akan lahir novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi.

Ketentuan Umum:

  1. Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
  2. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
  3. Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
  4. Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
  5. Naskah dan judul ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
  6. Tema bebas.

Ketentuan Khusus:

  1. Panjang naskah minimal 100 halaman A4, 1,5 spasi, Times New Roman 12.
  2. Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah.
  3. Lima salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:

Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2008
Dewan Kesenian Jakarta
Jl.
Cikini Raya 73
Jakarta 10330

Telp. 021-3193 7639 / 316 2780

  1. Batas akhir pengiriman naskah: 31 Agustus 2008 (cap pos atau diantar langsung).

Lain-lain:

  1. Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2008 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada akhir Desember 2008.
  2. Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
  3. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
  4. Pajak ditanggung pemenang.
  5. Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta Periode 2006—2009.

Wednesday, February 13, 2008

Kamu suka film, khususnya penulisan skenario?

Kamu bekerja sebagai pembuat film, akademisi film, pengamat film
(animasi, fiksi, dokumenter) atau penulis (cerpenis, kolumnis,
kritikus, jurnalis, penulis skenario, penulis buku)?

Yahoo Massenger! kamu masih online hari Jumat jam 6 sore?

Kalau kamu jawab "ya" untuk satu, dua, atau semua pertanyaan basa-basi
di atas, pastikan kamu nggak melewatkan acara Virtual Conference "Serunya Scriptwriting Playgroup"

Ikuti Virtual Conference Serunya Scripwriting Playgroup Jumat 15 Februari 2008-02-13

Tema Kali Ini “ Film Fantasi”..

Ikuti Acaranya dengan terlebih dulu gabung di milis.. writeandplay@yahoogroups.com

Info: Fath : 08882771534


Setengah abad lebih Indonesia merdeka. Di berbagai bidang pembangunan dilaksanakan. Ada banyak kemajuan yang dicapai mulai dari akses akan saranan komunikasi, transportasi, pendidikan serta pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. Sebagai bukti nyata yang selama ini menjadi tolak ukur hasil pembangunan adalah berkembangnya sejumlah kota menjadi kota metropolitan yang ditandai dengan perlombaan pembangunan gedung-gedung pencakar langit.

Pembangunan terus berjalan dan masyarakat makin mengenal berbagai kemajuan serta kemudahan sebagai salah satu ekses dari hasil. Sayangnya ternyata masih ada bagian dari masyarakat yang karena keterbatasan, keterisolasian ataupun kesulitas secara geografis membuat mereka belum sepenuhnya bisa menikmati segala hasil dari pembangunan. Masih ada sekelompok masyarakat yang selama ini dikenal sebagai komunitas adat terpencil.

Komunitas adat terpencil sendiri adalah bagian masyarakat Indonesia merupakan kelompok masyarakat yang secara goografis bertempat tinggal di lokasi terpencil, terisolir dan sulit di jangkau. Kondisi tersebut menyebabkan terbatas atau tidak adanya akses pelayanan sosial yang diperoleh dari pemerintah sehingga mereka hidup dalam kondisi yang tertinggal. Kompleksitas permasalahan yang dihadapi menyangkut berbagai aspek kehidupan dan penghidupannya.

Mengingat KAT juga merupakan bagian dari warga negara pemerintah melalui Departemen sosial merasa perlu diambil langkah-langkah untuk meningkatkan taraf kesejahteraan mereka. Langkah-langkah yang dimaksud sekaligus untuk mengantisipasi agar globalisasi menbawa dampak positif dan tidak merusak tatanan yang ada atau kearifan lokal yang berlaku di lingkungan KAT.

Menurut Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Departemen Sosial Drs Hartono Laras, Msi persoalan mengenai Komunitas Adat Terpencil tak sekedar permasalahan ketidakmampuan, kemiskinan namun ada permasalahan yang lebih penting lagi yaitu menyangkut nasionalisme. Masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah terluar negara kesatuan Republik Indonesia membutuhkan perhatian lebih agar tak terlepas lagi dari NKRI. Departemen Sosial saat ini tengah memfokuskan perhatian pemberdayaan buat daerah-daerah yang terletak di perbatasan. Ada beberapa daerah yang termasuk dalam kategori tersebut. Miangas adalah salah satunya.

Untuk tahun ini Depsos akan masuk di Miangas sebagai daerah perbatasan langsung dengan filipina. Miangas, merupakan salah satu diantara beberapa pulau di wilayah kesatuan republik Indonesia yang berlokasi di wilayah perbatasan. Lokasi yang sempat menjadi rebutan antara NKRI dan Filipina.

Pulau Miangas termasuk ke dalam desa Miangas, kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Miangas adalah salah satu pulau yang tergabung dalam gugusan Kepulauan Nanusa yang berbatasan langsung dengan Filipina. Pulau ini merupakan salah satu pulau terluar Indonesia sehingga rawan masalah perbatasan, terorisme serta penyelundupan. Pulau ini memiliki luas sekitar 3,15 km².

Jarak Pulau Miangas dengan Kecamatan Nanusa adalah sekitar 145 mil, sedangkan jarak ke Filipina hanya 48 mil. Pulau Miangas memiliki jumlah penduduk sebanyak 678 jiwa (2003) dengan mayoritas adalah Suku Talaud. Perkawinan dengan warga Filipina tidak bisa dihindarkan lagi dikarenakan kedekatan jarak dengan Filipina. Bahkan beberapa laporan mengatakan mata uang yang digunakan di pulau ini adalah peso.

“Nanti program-program depsos yang terkait di Miangas itu baik yang komunitas adat terpencil maupun fakir miskin akan masuk kesana. Bersama-sama dengan penyuluhan sosial, pusat penelitian kesejahteraan sosial, lalu pusat ketahanan masyarakat,” kata Hartono Laras.


Menurut Hartono Laras Departemen Sosial mengaharapkan partisipasi dukungan dari berbagai lembaga yang ada. Jangan sampai daerah perbatasan khususnya lokasi-lokasi KAT ini ditengah kesibukan melakukan pembangunan di kawasan yang reguler terlupakan. Hal tersebut rawan akan timbulnya benih-benih disintegrasi.

“Itu akan nampak dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak tahu siapa presiden, lagu kebangsaan, lebih mengenal negara tetangga. Mereka lebih mengenal ringgit, peso daripada rupiah. Ini jangan samapi terjadi seperti itu apalagi di daerah komunitas adat terpencil,” kata Hartono Laras. Oleh karena itu Departemen sosial nantinya akan melakukan program terpadu lintas. Depsos akan lebih memfokuskan agar program tidak fragmentaris.



Fathoni Arief







Monday, February 11, 2008

"We love: that's why life is full of so many wonderful gifts".

RUMI

Saturday, February 09, 2008

Kamu suka film, khususnya penulisan skenario?

Kamu bekerja sebagai pembuat film, akademisi film, pengamat film
(animasi, fiksi, dokumenter) atau penulis (cerpenis, kolumnis,
kritikus, jurnalis, penulis skenario, penulis buku)?

Kamu memiliki agenda harian: Senin-Jumat, sibuk dengan aktifitas rutin
dan serius; Jumat (malam)-Minggu (siang), bersosialisasi dengan
orang-orang terdekat (keluarga, teman, pacar); Minggu sore, memanjakan
diri dengan melakukan kegiatan yang kamu sukai?

Kamu anggota "Klub Penulisan Skenario" baik via online maupun tatap
muka di Teras GBB TIM Jakarta?

Kamu pernah atau sering mampir ke (ak.'sa.ra) Kemang Jakarta?

Kamu nggak punya tuntutan untuk berada di rumah atau bahkan "bete"
jika berada di rumah pada hari Minggu?

Yahoo Massenger! kamu masih online hari Jumat jam 4 sore?

Kalau kamu jawab "ya" untuk satu, dua, atau semua pertanyaan basa-basi
di atas, pastikan kamu nggak melewatkan acara "Serunya Scriptwriting
Playgroup"

Serunya Scriptwriting Playgroup adalah sebuah klub bermain skenario.
Artinya, semua kegiatan dari klub ini (seperti pemutaran film, script
doctor, synopisis compeptition, dan charity games) akan selalu
berhubungan dengan penulisan skenario. Meski demikian, semua acara itu
akan dikemas secara fun dan childish seperti saat kamu berada dibangku
playgroup.

Jadi, kalau kamu membayangkan kegiatan kami berupa kursus, workshop,
atau seminar tentang penulisan skenario, maaf, KAMU SALAH!
Serunya Scriptwriting Playgroup bulan Februari mengangkat tema "Fantasi"
Fantasy films are films with fantastic themes, usually involving magic, supernatural events, make-believe creatures, or exotic fantasy worlds. The genre is considered to be distinct from science fiction film and horror film, although the genres do overlap. (http://en.wikipedia .org/wiki/ Fantasy_film)
Program bulan Februari antara lain:
10 Februari 2008 Acara Off Air di aksara Kemang dengan agenda
1. Charity Games: membuat alternative Ending cerita Fantasi
2. Presentasi Freemovie
3. Bantu Kawan: Seorang kawan berkonsultasi tentang topik "fantasi" melalui email. Karena kita bukan ahlinya, maka kita mengundang dia untuk datang ke acara untuk menanyakan pertanyaan tersebut langsung kepada peserta lainnya.
4. World Premier film pendek bergenre fantasi "Pangeran Odi" karya Zacky Aulia
Informasi lebih lanjut, hubungi Nana 0818775911. Kunjungi juga blog kami serunya.multiply.com

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.