Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Tuesday, September 15, 2015


Sebenarnya ada perasaan sedikit tidak enak jika harus makan di warung lain. Karena warung mami juga menyediakan makanan ringan seperti mie rebus dan goreng. Namun kami tetap memutuskan pergi keluar saja mencari warung lain. Sebelum kami pergi suami Mami mewanti-wanti kami jangan beli di warung di sebelah bawah seberang jalan.

Suasana jalan malam itu cukup gelap. Untung saja kami masing-masing memiliki senter kecil yang kami beli di perjalanan. Lumayanlah meski tidak terlalu terang. Maklum saja harganya juga Cuma 5000 rupiah. Senter kecil buatan Cina dengan lampu led warna putih dan sudah dilengkapi dengan korek gas.

Sekira 200 meter dari tempat Mami kami berhenti. Sebuah warung semi permanen berdinding bambu. Di depan warung nampak 3 orang lelaki tengah ngobrol entah apa yang mereka bicarakan.

Kami memesan mie rebus sambil menunggu pesanan salah satu bapak-bapak yang duduk di sisi sebelah Timur depan warung menyapa kami. Bermula dari sinilah kami mendapat cerita-cerita yang menarik. Lelaki itu saya perkirakan berusia sekitar 4o tahunan. Ia tinggal di daerah Pelabuhan Ratu. Sebelumnya selama bertahun-tahun ia pernah merantau mulai dari Jakarta hingga ke negeri Jiran Malaysia. Selama di Jakarta ia bekerja di sebuah hotel di daerah Gadjah Mada. Tak heran ia bisa membandingkan jumlah tamu hotel antara hotel di Pelabuhan Ratu dan daerah Gadjah Mada.

Di Pelabuhanratu memang terdapat sebuah hotel yang cukup legendaris. Hotel yang dibangun di era pemerintahan Presiden Soekarno, Hotel Samudera. Hotel ini konon didanai dengan harta pampasan perang Jepang. Namun kini pamor hotel tersebut mulai redup. Jumlah pengunjung menurut lelaki tersebut bisa dikatakan kurang sehingga harus disubsidi silang dengan hotel lain yang masih satu manajemen. Hotel Samudera, Pelabuhanratu dan sekitarnya pernah menjadi buah bibir. Dari lelaku itu saya dapat cerita Sultan Brunai pernah menawar untuk membeli dengan harga yang menggiurkan namun ditolak dengan pertimbangan tertentu.

Lelaki yang gaya bicaranya kalem tersebut ternyata punya kisah menarik ketika bekerja di Malaysia. Waktu itu ia bekerja di perwakilan pemerintah Indonesia di sana. Meskipun dibalik instansi yang besar saat itu gajinya relatif pas-pasan. Awalnya ia menerima apa adanya lalu perlahan ia mulai belajar dari sekitarnya. Ia belajar dari bagaimana rekan-rekannya mendapatkan penghasilan tambahan.

Akhirnya ia mendapatkan ide. Ia menjadi pemasok rokok-rokok dari Indonesia. Kegiatan yang menurut pengakuannya ilegal. Ia harus mengeluarkan upeti untuk memuluskan usahanya tersebut. Rokok yang ia masukkan tak hanya satu atau dua kardus. Berkardus-kardus. Kegiatan yang beresiko tinggi namun mampu menambah pemasukan yang sangat lumayan. Tak lama ia bertahan di sana. Lelaki itu akhirnya memutuskan kembali ke tanah air. Ia membuka usaha kecil-kecilan di Pelabuhanratu hingga saat ini.

Mereka juga bertanya tentang kegiatan kami. Apa saja yang kami lakukan, dimana kami menginap. Secara tak sengaja kami mendapat tawaran dari mereka untuk mengantar kami kembali ke Masjid di Bayah. Tentu saja kami tetap membayar namun mereka tak mematok berapa yang harus kami keluarkan.

Selepas mengambil barang-barang yang kami titipkan di tempat mami Kunti segera kami menuju ke Bayah. Rintik-rintik hujan yang makin membesar tak menghalangi motor-motor yang membawa kami melaju ke arah Barat. Untung saja kami masing-masing membawa tas yang kedap air sehingga barang-barang kami aman.

Jarak antara Karangtaraje menuju Bayah sebenarnya tidak terlalu jauh. Tak sampai sepuluh menit akhirnya kami tiba di Masjid tempat kami bakal menginap. Mendengar suara motor lelaki yang kami kenal selepas sholat Jumat sudah menyambut dan mempersilahkan kami bersih-bersih dan beristirahat.

What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Wednesday, September 09, 2015




Omahku tinggal kenangan” tulisan warna merah di atas papan bercat hijau terpajang di antarapuing-puing rumah. Tak ada atap, dinding, maupun perabot, yang ada hanya sisa-sisa kusen, nyaris terlalap api, dan berbagai benda yang pernah meleleh. Seperti inilah kondisi bekas kediaman Mbah Maridjan, juru kunci gunung Merapi yang meninggal sewaktu erupsi tahun 2010 lalu. Pasca erupsi,

Kinahrejo memang jadi tujuan wisata favorit di Daerah Istimewa Yogyakarta. Wisatawan dari berbagai daerah sengaja datang melihat sisa-sisa dahsyatnya letusan merapi beberapa tahun silam.Desa Kinahrejo, meskipun terletak hanya beberapa kilometer dari puncak Merapi relatif mudah dijangkau. Tiket masuk juga ramah di kantong, sebagai gambaran saja jika Anda menggunakan sepeda motor untuk dua orang biaya masuk ditambah dengan parkir tak lebih dari sepuluh ribu rupiah.

Akses menuju lokasi cukup memadai sehingga bisa dilewati kendaraan mulai dari sepeda motor hingga bus pariwisata. Sebagai catatan semua kendaraan baik sepeda motor maupun bis hanya diperbolehkan sampai area parkir.

Dari tempat parkir kendaraan jika Anda ingin melanjutkan perjalanan hingga lokasi rumah MbahMarijan Anda harus berjalan kaki, naik ojek atau menyewa motor trail. Ongkos ojek sampai atas dua pulu ribu rupiah, sedangkan sewa motor trail mulai dari lima puluh ribu hingga dua ratus lima puluh ribu rupiah. Tapi jika Anda ingin jalan kaki, sebenarnya tak terlalu jauh, hanya saja karena jalan cukup miring mungkin bagi yang tak terbiasa bakal menguras tenaga.

Di lokasi bekas kediaman Mbah Marijan selain terdapat puing-puing rumah Anda juga bisa melihat kerangka sapi peliharaan sang juru kunci, satu set gamelan. Selain itu ada juga rongsokan sepeda motor dan mobil relawan yang rusak terkena awan panas. Sekedar mengingat dalam peristiwa tersebut selain mbah Marijan seorang relawan PMI dan wartawan ikut menjadi korban.Bagi Anda yang masih belum puas menjelajah Merapi jangan kuatir, anda bisa mengikuti volcano tur. Anda sekeluarga dapat menyewa jeep dan hanya dengan biaya kurang dari lima ratus ribu, Anda sekeluarga akan diajak menjelalah daerah sekitar merapi saksi peristiwa 2010 lalu.

Selepas capek berkeliling melihat bekas keganasan awan panas Anda juga bisa menikmati aneka kuliner mulai dari nasi pecel, jadah tempe hingga wedang tempe. Semuanya akan semakin nikmat sambil melihat lereng yang kembali menghijau apalagi udara sejuk bisa niscaya segala penat bakal hilang.


Peta Desa Wisata Kinahrejo 

Info Penginapan
Booking.com Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Tuesday, September 08, 2015

Melihat Matahari Terbit di Bromo
Bromo itu katanya memiliki pemandangan yang indah. Menikmati saat-saat matahari terbit di Bromo itu katanya sangat menarik. Di sana untuk menuju ke puncak katanya harus melewati padang pasir yang cukup luas. Namun katanya segala capek, lelah bakal terbayar ketika sudah sampai puncak. Dan selama bertahun-tahun masih ada rentetan “katanya” yang menjejali fikiran saya ketika nama Gunung Bromo disebut. Hingga kesempatan itu tiba.. 

Jelang siang hari di awal tahun 2010 saya memulai liburan saya menuju Bromo. Saya tidak sendirian. Ada 3 orang rekan lain yang hendak menghabiskan liburan awal tahun di sana. Namun karena lokasi tempat tinggal yang berbeda kami menetukan titik poin dimana bakal bertemu. Meskipun sebenarnya satu arah. Saya memulai perjalanan dari kota Tulungagung sedangkan ketiga orang rekan memulai perjalanan dari Yogyakarta. Titik pertemuan yang kami sepakati adalah pertigaan Brakan di daerah Kertosono. Di sinilah pertemuan jalur dari Selatan dan Barat. 

Ini adalah perjalanan pertama saya ke Bromo. Mengingat keterbatasan informasi dan khususnya waktu maka kami memutuskan memakai jasa agen wisata perjalanan. Meskipun sebenarnya ada untung ruginya menggunakan jasa ini. 3 orang rekan saya mulai berangkat dari Yogyakarta pukul 8 pagi. Jika tak ada halangan yang berarti pukul 2 siang sudah tiba di Kertosono. Dari perhitungan itu saya memutuskan berangkat pada tengah hari sehingga sebelum pukul 2 siang sudah tiba di titik pertemuan.

Sebuah bus antar kota dalam provinsi jurusan Surabaya mengantar perjalanan saya. Dalam kondisi normal perjalanan dari Tulungagung menuju Kertosono memakan waktu kurang dari 2 jam. Bis melaju melewati jalan dalam kota dan berbelok ke arah Utara menuju kota Kediri. Ketika sudah masuk jalanan inilah bus biasanya melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Melewati Rumah Sakit Lama yang sekarang menjadi kantor Dinas Kesehatan Tulungagung, Rumah Tahanan, Stadion Rejoagung, dan terus melaju melewati jembatan *Ngujang. (* Ngujang merupakan lokasi yang cukup familiar bagi warga Tulungagung dan sekitarnya. Ada banyak hal yang terkait dengan tempat ini mulai dari kuburan cina, lokalisasi kelas teri hingga keberadaan kawanan monyet yang konon katanya jadi-jadian. Di tempat inilah terkadang ada masyarakat yang melakukan ritual-ritual berharap kemakmuran atau kejayaan dengan cara instan). 

Bus terus melaju melewati rute kecamatan Ngantru, Kecamatan Kras, Kecamatan Ngadiluwih hingga memasuki terminal kota Kediri. Di jalan raya menuju terminal ini di sebelah kanan sebelum jembatan tepatnya di perempatan alun-alun Kota tahu ini bisa kita jumpai masjid Agung Kediri. Mengenai masjid ada fakta yang menarik di kota ini. Kebanyakan masjid-masjid di sini memiliki menara yang menjulang tinggi. Bus tak lama singgah di terminal dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. 

Perjalanan dari terminal Kediri menuju Kertosono tak butuh waktu banyak. Sekira setengah jam ternyata saya sudah tiba di Kertosono. Total waktu perjalanan saya tak lebih dari satu setengah jam. Berarti saya datang jauh lebih cepat dari prediksi. Hingga sayapun memanfaatkan waktu untuk istirahat dan menjalankan Sholat. 

Di sebuah warung di pinggir jalan saya menikmati secangkir kopi panas dan tape goreng. Hari terasa cukup panas meskipun awan hitam mulai menyelimuti. Tentu saja saya berharap meski sore hari cuaca buruk esok pagi cuaca cerah. Sehingga saya bisa mendapatkan foto-foto yang menarik. 

Menunggu itu memang membosankan. Ternyata travel yang membawa ketiga orang rekan saya belum datang juga. Sayapun melepas kebosanan berteduh di pinggir mushola sambil berbincang dengan seorang penjual bakso. Ternyata ada banyak hal yang saya dapatkan. (Baca : ). 

Tak terasa waktu terus berjalan dan kendaraan yang membawa ketiga rekan saya tiba. Ternyata selain 3 orang rekan saya ada 3 orang lagi. Mereka ada seorang ibu muda dengan kedua putrinya. Kamipun melanjutkan perjalanan meski kendaraan sempat berhenti. Kami harus naik mobil lainnya. 

Sore perlahan mulai berganti malam. Kendaraan terus melaju diantara jalanan yang diguyur hujan. Kami melintasi Jombang, Mojokerto, Pasuruan hingga nantinya menuju Probolinggo. Ketika kendaraan membelah kota Jombang di kanan kiri sepanjang jalan nampak bendera merah putih dipasang setengah tiang. Dua hari lalu jelang tahun baru seorang putra bangsa terbaik yang pernah dilahirkan di Jombang berpulang. 

Kendaraan terus melaju melawati jalanan menuju Probolinggi hingga di sebuah agen wisata kendaraan inipun berhenti. Kami turun untuk dicek tiket kami dan menerima brifing singkat mengenai sunrise tour esok hari. Kami diberi arahan tentang suhu lokasi, lama perjalanan dan dimana kami akan menginap. 

Setelah semua pembekalan selesai kami melanjutkan perjalanan. Kali ini mobil yang digunakan berbeda. Medan yang kami lalui nampaknya juga berbeda. Jalanan kini mulai menanjak. Sekira butuh perjalanan sejam menuju villa dimana kami bakal menginap. Di sepanjang perjalanan saya banyak berbincang dengan sopir yang membawa kami. Ternyata mereka juga menawarkan tour ke kawah Ijen sekira 6 jam perjalanan lagi.

Akhirnya kami tiba di villa tempat kami menginap. Menurut brifing yang kami terima tadi besok pagi-pagi kira-kira jam setengah 3 kami bakal dibangunkan. Dengan kendaraan jeep menuju tempat dimana bisa melihat sunrise. Di depan tempat menginap sudah berjajar para penjual pernik-pernik. Mereka menjual tutup kepala dan sarung tangan. Ada juga yang menawarkan jaketnya untuk disewakan. Meskipun waktu belum begitu larut saya dan rombongan memutuskan untuk istirahat lebih awal. Kami ingin besok pagi bisa fresh untuk menikmati liburan ini. 

Pagi-pagi buta petugas yang bakal mengantar kami sudah mengetuk pintu demi pintu. Kamipun segera menyiapkan barang-barang dan perlangkapan. Kamera dan segala perlengkapanpun tak ketinggalan sudah saya masukan. Kami bertujuh naik dalam satu mobil jeep. Pagi-pagi buta kami menuju gunung penanjakan. Hari itu cukup banyak pengunjung di tempat wisata ini. Itu bisa dilihat dari mobil yang beriringan seperti ular. Kamipun tidak bisa sampai ke atas. DI tempat parkir terdekat mobil harus berhenti dan perjalanan dilanjutkan dengan naik ojek meskipun ternyata tidak begitu jauh. 

Setelah naik ojek kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju puncak gunung penanjakan. Hawa dingin yang cukup menyengat sudah menyambut kami. Ternyata diatas sudah terdapat banyak orang yang berbondong-bondong menunggu saat matahari terbit. Sayapun mencari lokasi yang paling strategis dimana bisa mendapatkan gambar yang bagus. 

Setelah menerobos diantara kerumunan saya mendapatkan posisi yang cukup enak. Saya menuruni lereng dan berdiri di tempat yang terbuka di dekat sebuah tenda yang didirikan oleh rombongan pecinta alam. Yah memang benar kata orang dari sini saya bisa melihat Bromo yang indah diselimuti asap. Dari sini saya bisa melihat matahari yang perlahan tampakkan diri. Warna kuning mengumpul dari bulatan kecil makin lama makin membesar. Saya begitu menikmati lokasi pertama dari tour Bromo ini.



Bromo, 1 Januari 2010


What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Anda berencana berlibur ke Bromo dan bingung menginap di mana? Silahkan cari di bawah ini :

Booking.com

Monday, September 07, 2015



Ada banyak tempat yang telah berubah di kotaku. Salah satunya adalah taman di pusat kota yang kini dikenal dengan taman Kusuma Wicitra. Tempat yang dalam rekaman memori masa kecilku berupa alun-alun yang di tengah-tengahnya hanya berupa lapangan rumput yang kosong. Konon menurut cerita yang pernah kubaca dulu tepat di tengah-tengahnya ada sebuah pohon beringin. Konon di situlah pernah ada sebuah sumber yang besar atau dalam bahasa jawa kawi "Tulung" dan besar sendiri "Agung". Konon dari adanya sumber air yang besar nama kota ini berasal.


Alun-alun kota ini dulunya sewaktu masih berupa lapangan rumput kosong dengan tiang bendera di tengah-tengahnya jadi ajang bermain sepak bola tiap sore hari dan malam kesan sepi terasa kecuali jika ada kegiatan tertentu seperti pasar malam. Kegiatan rutin yang juga selalu memakai lapangan ini adalah upacara bendera, serta sholat Ied. Tentang kegiatan besar yang pernah diselenggarakan yang masih kuingat adalah Seleksi MTQ nasional dan pengajian akbar oleh dai sejuta umat Zainudin MZ.



Seiring dengan bertambahnya waktu fungsi alun-alun kota mengalami pergeseran. Sempat mengalami berkali-kali perombakan dan pernah juga sebagai tempat berjualan pedagang kaki lima sebelum direlokasi beberapa waktu yang lalu.


Kini alun-alun benar-benar disulap sebagai jantung kota. Pemerintah daerah terus mempercantik dengan memberi tambahan fasilitas jalan yang tersusun dari batu-batuan yang memang sengaja disediakan untuk terapi. Ada juga pancuran serta air mancur yang makin memperkuat kesan tempat istirahat dan melepas lelah. Satu hal yang menarik adalah adanya burung merpati yang sengaja dibiarkan hidup bebas di taman ini. Jadi tak hanya di luar negeri bisa menjumpai merpati yang terbanng bebas dan bertebaran di samping anda yang tengah bersantai di tempat ini juga ada.




Taman kusuma wicitra, tentunya ada banyak hal yang menarik tak bisa diceritakan dengan beberapa paragraf saja. Namun setidaknya sedikit coretan dan foto bisa melepas rindu akan taman yang mungkin saja ada kenangan anda atau saya sendiri di sana.

Catatan Perjalanan Dari Kampung Halaman..

22 Maret 2008

Tuesday, September 01, 2015

Pada Suatu Malam

Sedari tadi belum sempat aku menyeruput kopi panas, yang sudah terhidang di depanku. Perhatianku masih tertuju pada mahasiswi berkacamata. Pandangan mata ini rasanya tak mau bergeser dan terus mengarah padanya.

Susah untuk menjelaskannya secara rinci, yang pasti aku begitu menikmati memperhatikan saat-saat ia menikmati cairan panas berwarna kehitaman itu. Untungnya, dia acuh tak acuh, seakan tak peduli seseorang sudah lama memperhatikan segala tingkah lakunya.

Saat wajahnya tertuju padaku dia hanya tersenyum, tersipu malu dan kembali menikmati minuman panas khas warung angkringan ini. Dia masih saja cuek walau terkadang terlihat tersipu malu saat menyadari perhatianku padanya sejak tadi.

Wanita cantik berada di sampingku. Heran juga semuanya terjadi secara kebetulan hingga sampai pada suatu ketika aku kenal, dan dekat dengannya. Namanya angin malam, dialah sahabat kesepianku.

Suasana malam ini semakin hidup saja. Tiupan angin dan bunyi kereta api lewat belum lagi kerumunan para konsumen lain yang berjejer duduk memenuhi sepanjang trotoar di jalan ini. Sekelompok pemusik jalanan mendatangi tempat kami menikmati malam ini.


"Mau request lagu apa?", tanya salah seorang dari mereka.

Sesaat aku tersenyum meliriknya. Seakan memberi kode yang menanyakan lagu apa yang dia inginkan.

"Terserah", jawabnya

"Terserah mas. Pokoknya yang enak didengar saja", jawabku mengulangi jawabnya


Pengamen mulai beraksi. Alunan musik dimainkan. Kali ini mereka bersenandung lagu "Yogyakarta". Suara yang mendayu-dayu diantara alunan alunan musik membuatku ikut terbawa suasana, persis seperti syair yang mereka nyanyikan. Tak sadar tanganku meraih segelas kopi dan pelan-pelan mulai menyeruput minuman berkafein yang sudah mulai dingin itu.

Malam yang indah. Kejadian kecil di tengah ramainya kota budaya. Dari kejauhan terdengar suara kereta api yang menuju stasiun Tugu. Suaranya seakan menyatu dengan suasana dan alunan yang ada di antara kami.


Angin malam; pasti kau ingin tahu siapakah dia? Akan kuceritakan pertemuan yang mempertemukanku dengannya. Dan segala sesuatu hingga sampai saat ini.

****

Namaku angin …………. Seperti namaku aku begitu ringan, berhembus kemanapun kusuka. Ada juga yang menambahiku dengan sebutan angin liar...


Dulu aku begitu membenci arti dari sebuah kesepian, kesunyian hingga datang suatu masa dimana kesepianku hilang, kesunyianku musnah. Saat yang begitu kunantikan. Sebuah imajinasi sering tergambar olehku itulah yang kudambakan. Saat kesepianku hilang aku akan lebih menikmati hidup.

Aku angin liar. Bisa pergi kemanapun aku suka. Tak ada yang mengekang dan tak ada yang mengurungku dalam ruang sempit diantara sekat-sekat kehidupan. Aku manusia bebas saat itu: saat sunyi sepi masih menyelimutiku.

Suatu saat ceritapun berubah. Suasanapun berganti. Pelan-pelan aku tak lagi menjadi angin liar. Aku hanyalah udara yang terperangkap dalam tabung gas. Saat sebuah cerita datang dan aku bersenyawa dengan unsur lain; Bintang kecil aku menyebutnya.

Saat yang dinanti ketika bintang kecil hadir dalam kesunyianku. Saat itulah angin liar tak lagi liar, tak lagi bebas. Angin liar menjadi begitu statis dalam kungkungan tabung perasaannya. Aku tak lagi merdeka.


Ada saat dimana senyawa kami jadi seperti aliran air yang dihadang oleh sebuah bendung yang terlalu rapuh. Senyawa yang tak terkendalikan hingga dalam waktu begitu singkat bendung itupun jebol. Jebol bukan karena luapan lumpur porong tapi karena senyawa itu memang harus berpisah. Senyawa itu tak tepat untuk dijadikan satu.

Akupun meluap. Aku yang telah berubah menjadi air tak lagi terkendalikan mengikuti kontur yang ada.


Dalam keputus asaan aku yang merasa hancur terkekang dalam sebuah lubang sempit.

****

Senja telah menyelimuti bumi tempatku berpijak. Hawa dingin menembus tulang. Semuanya begitu terasa apalagi saat angin malam bertiup. Hembusannya mampu menembus jaket tebal yang melindungi tubuhku.Motorkupun terus melaju membelah gelapnya jalanan diantara hutan wonosari.
Gelap di sepanjang jalan. Cahaya lampu kendaraan yang berlalu lalang yang sedikit membuat kegelapan itu terkurangi. Bayangan rentetan persoalan hidup mengiringi sepanjang perjalananku. Tentang pekerjaan, kisah masa lalu dan begitu banyak hal lain yang jika kuturuti akan mampu meledakkan isi otakku.


Bagian yang paling menarik saat melewati jalanan ini adalah saat diujung perbukitan menjelang jalan turun. Gemerlap lampu kota seperti titik-titik terang yang membelah kegelapan. Indah memang, pemandangan yang sering dinikmati pasangan muda-mudi yang terjebak rasa. Tak heran begitu banyak deretan motor yang terlihat disana.


Aku menengadah menatap langit. Kulihat tebaran angin di atas sana. Aku baru ingat ada sesuatu yang menghilang dalam kehidupanku. Aneh memang rasanya. Telah lama aku tak berhubungan dengan angin. Ia sepertinya lenyap begitu saja. Tak lagi bisa kutemui sepeda warna perak di perpustakaan kecil itu. Sehari, dua hari, tiga hari nampaknya ia benar-benar menghilang.


"Ayo berangkat, teman-teman sudah menunggu",

Aku mulai melangkah memasuki gerbong kereta tujuan ibukota itu. Aku harus meninggalkan kota ini dengan sebuah kisah yang pernah tergores di perpustakaan kecil itu.

Dalam hati aku hanya bisa berharap, berdo'a suatu saat bisa kembali bertemu kembali dengannya.

Perjalanan baru kumulai sepenggal. Sudikah kau selalu ada disisiku…

Ah tak usahlah kau berkata seperti itu . Kata-kata yang telah kukubur dalam sejarah hidupku. Satu yang pasti kuingin kita tetap bersama hingga menemukan arti dari kehidupan.

Di tengah diriku yang begitu terasing tak diperhitungkan untunglah masih saja ada sang angin yang sudi menemani hari-hari sepi dan malam-malam sunyiku. Bersama sang angin menikmati sepanjang jalan perjuangan. Bersama sang angin mencoba mencari arti kehidupan.

Apa Kabar Angin Malam!

Bawa Kabar Apa Kau Malam Ini? Kau Datang Dengan Tangan Hampa? Tak Bawa Rahasia Malamukah?

Kenapa Kau Diam Saja Angin Malam?

Kau Berhembus Dan Lewat Begitu Saja….

Ya Aku Tahu Dan Mampu Merasakannya…

Baiklah Angin Malam Aku Tak Akan Bertanya Lagi Kutahu Yang Kau Bawa Adalah Sebuah Rahasia Malam Yang Tak Bisa Kumiliki lagi..

Sekarang Pergilah Dan Bawa Rahasia Malammu itu

Sekarang Aku Tahu Bagaimanapun Juga Kau Hanya Angin Malam Yang Datang Berhembus Kemudian Pergi Lagi

Mungkin Saja Kau Esok Datang Lagi Dan Membawa Rahasia-Rahasia Lain Lagi

Setelah Sempat Berhenti DiTempatku Kini Kau Bawa Rahasia Malammu Ketempat lain…Yang Tentu Saja Tak Terjangkau Lagi Olehku..

Apakah Kau Akan Selamanya Berhenti Di sana? Atau Akan Kembali Lagi padaku Dengan Rahasiamu itu?

Mengapa jiwaku meski bergetar sedang musikpun manis kudengar...mungkin karena kulihat lagi lentik bulu matamu.....................kau goreskan gita cinta...

Gadjah Mada Kampus Tercinta, Oktober 2006



“Saya herannya ketika berangkat dari Bandara Soekarno Hatta hari sudah gelap. Namun ketika pesawat sudah terbang menuju Arab kok terang lagi. Ini kapan malamnya?” Cerita seorang bapak berusia 40 tahunan memulai perjalanan saya menuju Yogyakarta. Perlahan kereta meninggalkan stasiun Kediri menuju kota pelajar.

Hari sudah mulai gelap meskipun waktu jelang Maghrib masih sejam lagi. Memang cuaca tengah kurang bersahabat bagi orang yang sering bepergian dari satu tempat ke tempat lain seperti saya. Awan menggumpal-gumpal dan semakin tebal bahkan titik-titik hujan mulai berjatuhan ketika kereta api kelas Ekonomi Kahuripan menuju stasiun Kertosono.

Kereta Api kelas Ekonomi, sarana transportasi yang dulu sering menemani perjalanan saya menuju kampung halaman, Tulungagung, dan balik ke kota tempat mengasah daya nalar saya sebagai orang lebih mengerti, Yogyakarta. Kereta api kelas ekonomi menjadi pilihan utama saat itu bukan hanya tiadanya kelas bisnis yang melewati tempat saya tinggal namun sarana inilah yang paling ramah bagi kantong saya. Seorang mahasiswa dengan uang saku yang bisa dibilang pas-pasan. Pas buat hidup sehari-hari dan kebutuhan yang penting saja.

Kini bertahun-tahun setelah tak lagi tinggal di Yogyakarta kesempatan seperti ini menjadi momen untuk mengenang kembali masa silam. Hingga saat ini saya sudah pernah naik berbagai macam kereta api dari satu kota ke kota lain. Jika dulu hanya kelas ekonomi dan nyaris selama kuliah tak pernah tahu bagaimana rasanya kereta kelas eksekutif. Sekarang saya sudah merasakan semua mulai dari kelas ekonomi, bisnis hingga Eksekutif. Namun meskipun demikian diantara kelas yang ada naik Ekonomi selalu meninggalkan kesan dan pengalaman yang berbeda.

Berbeda dengan kelas-kelas yang lainnya. Di kelas ekonomi bisa saya temukan beragam manusia dengan berbagai karakter, kisah, kelas yang tak saya temukan ketika naik kereta kelas eksekutif. Untuk Kelas bisnis? Sesekali saja bila beruntung saya mendapatkannya.

Seperti saat ini saya duduk di bangku paling ujung berdekatan dengan kamar kecil. Bahkan kursi yang kini saya duduki membelakangi kamar kecil yang seadanya itu. Nampak kaca yang retak. Menurut cerita penumpang yang duduk di depan saya ini sisa-sisa kejadian pelemparan suporter Bonek tatkala melawat ke Bandung.

Kereta yang saya naiki adalah Kahuripan. Kereta yang berangkat dari stasiun Kediri dan berakhir di Bandung. Beruntung bagi penumpang yang naik dari Kediri. Meskipun kereta ini kelas ekonomi tetap ada nomor kursi. Jadi kursi yang ditempati sesuai dengan tiket yang dibeli. Itupun juga bisa memilih. Dari Kediri menuju Yogyakarta jika membeli tiket berdiri harganya Rp. 19000 sedangkan untuk mendapatkan kursi harus menambah Rp. 2000 lagi. Jika dihitung-hitung dari tempat saya,Tulungagung, saya hanya mengeluarkan uang tiket tak lebih dari Rp. 26000.

Dari stasiun awal duduk di depan saya dua orang lelaki. Lelaki yang tepat di depan saya menuju kota Tasikmalaya sedangkan di sampingnya turun di Madiun. Di samping saya adalah seorang teman saya yang kebetulan sempat main ke kota saya.

Tahukah apa yang membuka cerita-cerita kami hingga berlanjut ke cerita lain yang nampak tak ada ujungnya? Semua berawal dari cerita tentang ikan Koi. Ikan hias berasal dari negeri Sakura yang digemari karena keunikan corak pada punggungnya.

Sebagai pembuka perbincangan adalah lelaki di depan saya. Lelaki yang berusia 35an ini adalah seorang pedagang ikan hias. Beberapa hari yang lalu ia sengaja datang jauh-jauh dari Tasikmalaya menuju Blitar dan Tulungagung. Tujuannya tak lain mencari bibit ikan koi. Ikan-ikan tersebut menurutnya terdiri dari berbagai ukuran. Nantinya ikan-ikan tersebut dijual kembali.

Ia berkeliling untuk mendapatkan bibit terbaik. Bibit-bibit ikan tersebut ia angkut menggunakan truk. Sengaja ia menyewa truk dari Tulungagung untuk mengirim ikan-ikan tersebut ke Tasikmalaya. Ia sendiri pulang terpisah dengan menggunakan kereta api. Baru pertama kali ini ia naik Kahuripan menuju Tasikmalaya.

Kuliah gratis tentang perikanan ini berakhir ketika lelaki di sampingnya berkisah tentang anak dan keluarganya. Saya dan rekan hanya manggut manggut menjadi pendengar setia. Bermula tentang kisah biaya untuk menyekolahkan anaknya cerita kembali bergeser ke kisah yang lebih menarik lagi. Ia mulai bercerita pengalaman menjadi TKI di Arab Saudi. Kali ini ia benar-benar sebagai pembicara utama alias key note speaker.

Kereta terus berjalan. Satu demi satu stasiun disinggahi. Penumpangpun mulai memenuhi seluruh rangkaian kereta Api Kahuripan ini. Pemandangan lain yang setiap saat nampak adalah pedagang asongan yang menawarkan barang dagangannya. Mereka berjualan mulai dari minuman, alat-alat sehari-hari, makanan dan masih banyak lagi. Selain mereka nampak awak kereta yang menawarkan minuman dan makanan. Profesi lain yang juga terlihat adalah tukang sapu. Mengenai tukang sapu ada sesuatu yang baru. Sekarang mereka mengenakan seragam. Nampaknya sudah dikoordinir dan resmi. Mereka tak lagi minta-minta uang receh pada penumpang.

Waktu terus saja berjalan. Seperti senter yang batterainya masih baru mampu menyala terang. Begitu juga dengan lelaki mantan TKI tersebut. Kisah demi kisah seakan tak ada habisnya. Selesai satu kisah ada lagi kisah lain. Nyaris kami bertiga hanya sebagai pendengar setia. Ia berkisah tentang majikannya, tentang ekseskusi mati Saddam Husein yang disiarkan langsung di sebuah stasiun televisi, tentang hukum potong tangan, tentang kaos dari Arab yang membuat ia terheran-heran karena tak ada jahitan di sisi samping. Satu lagi yang sempat membuat saya ingin tertawa dan menahannya adalah ketika ia bercerita pengalamannya naik pesawat.

“Saya herannya ketika berangkat dari Bandara Soekarno Hatta hari sudah gelap. Namun ketika pesawat sudah terbang menuju Arab kok terang lagi. Ini kapan malamnya?”

Ternyata bukan kami bertiga saja pendengar setianya. Penumpang di bangku seberang dan ibu-ibu di sisi pojok secara tak sadar juga mendengar semua kisah lelaki itu.

Benar, waktu berjam-jam menuju Jogja serasa cepat. 5 jam perjalanan dari Kediri menuju Yogyakarta serasa 2 jam saja. Keretapun berhenti di Stasiun Lempuyangan. Setelah hampir 3 tahun meninggalkan Jogja baru kali ini saya menjejakkan kaki di sini. Ada sesuatu yang baru. Stasiun ini telah direnovasi menjadi lebih bagus tampilannya dibanding sebelumnya.

Perjalanan dengan kereta api kelas ekonomi memang selalu meninggalkan kesan. Termasuk pengalaman saya hari ini.



Fathoni Arief

What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.