Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Thursday, October 29, 2015

Pagi itu waktu baru menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Seorang lelaki berbadan tegap berseragam tentara dengan atribut lengkap berdiri di sebuah halaman luas berlantai semen. Solikin nama lelaki itu. Ia merupakan anggota aktif Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat berpangkat Kapten.

Kapten Solikin bersiap di lapangan yang terletak di tengah areal Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Cahaya Bathin Jl. Dewi Sartika 200, Cawang, Jakarta Utara. Beberapa saat kemudian penghuni panti dengan berseragam biru muda dan bawahan biru tua berdatangan satu demi satu. Mereka berkumpul di depan Kapten Solikin.

60 orang penghuni tersebut segera membentuk barisan berbanjar. Kapten Solikin memberi aba-aba. Satu diantara 60 orang tersebut mengambil posisi yang berbeda. Rupanya ia bertindak selaku pemimpin barisan, namanya Zuhroh. Selepas dipandu Kapten Solikin gadis berkerudung berkulit agak hitam ini meneluarkan suara lantang menyiapkan barisannya.

Setelah barisan siap, Kapten Solikin secara acak memanggil nama-nama mereka. Memberi pengarahan dan penugasan secara acak. Tiap nama yang dipanggil diberi tugas menyebutkan hafalan mereka, tentang Pancasila, dan hal-hal lain. Tak kalah dengan mereka yang normal hafalan mereka ternyata cukup bagus. Apel pagi, itulah nama kegiatan yang tiap hari selain hari Senin diselenggarakan di PSBN Cahaya Bathin.

Seperti inilah rutinitas tiap pagi dari 60 penghuni panti sebelumbersiap untuk mengikuti kegiatan sehari penuh. Mengawali hari dengan penekanan disiplin bersama Kapten Solikin, salah seorang pengasuh di PSBN Cahaya Bathin.

Solikin juga merupakan penyandang tunanetra. Selepas menjalani pemulihan akibat kecelakaan saat tugas yang merenggut penglihatannya ia meminta ditugaskan di panti ini. Ia membantu memberi pelatihan di panti ini khususnya mengenai kedisiplinan serta motivasi. “Sebenarnya saya dulu berasal dari batalyon Zipur 8, Wirabuana di Makasar. Waktu itu tengah bersiap operasi keamanan di timor Timor. Kebetulan waktu itu ia bertindak sebagai Komandan Kompi Penjinak Bahan Peledak. (Pasukan Jihandak),” ujarnya.


PANTI SOSIAL BINA NETRA CAHAYA BATHIN

Tak susah mencari keberadaan PSBN Cahaya Bathin. Panti ini terletak di Jalan Dewi Sartika No.200 Jakarta Timur, tak jauh dari rumah sakit Budi Asih dan berdekatan dengan pusat lembaga pelatihan kesos milik Departemen Sosial.

Panti ini lokasinya cukup strategis meskipun di pusat kota namun jika sudah masuk ke lingkungan kesan tenang terbawa. Akses dengan kendaraan umum juga relative mudah bagi yang tidak menggunaskan kendaraan pribadi.

PSBN Cahaya Bathin dari usianya tak bias dianggap baru. Panti ini ternyata sudah berdiri sejak tahun 1958. Namun awalnya bernama Panti Karya Asuhan Budi yang kegiatannya menampung hasil razia yang dilakukan oleh Pemda Provinsi DKI Jakarta. Saat itu masih dalam kendali Departemen Sosial.

Panti beralih kepemilikan di tahun 1984. Waktu itu Pemerintah Daerah DKI mengambil alih panti dan mengganti namanya menjadi Panti Penyantunan dan Rehabilitasi Khusus Tuna Netra. Penggunaan nama Cahaya Bathin sendiri baru pada tahun 1986 sesuai dengan SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 736. Selanjutnya muncul SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 163 tahun 2002 digabung Panti di Cengkareng dan Cawang (ex Depsos). “Namun dalam waktu dekat Cengkareng akan dijadikan satu dengan Cawang. Panti di Cengakareng bakal digunakan untuk kepentingan yang lain,” ujar Djaka Kunandjaya, SH, MM Kepala PSBN Cahaya Bathin.

Djaka menambahkan saat ini ada 60 penghuni di panti yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika, Cawang sedangkan di Cengkareng ada 40 orang. Mereka berusia antara 13 hingga 30 tahun.
Namun dalam waktu dekat penghuni panti yang ada di Cengkareng bakal direlokasi ke Cawang. “ Rencananya bakal diperuntukan bagi kepentingan lain,” kata Djaka.

Djaka mengatakan Panti yang di Cengkareng memang tidak didesain untuk menampung tunanetra. Awalnyadigunakan untuk menampung para lansia. Karena untuk lansia tata letak bangunan juga menyesuaikan berupa rumah-rumah kecil yang posisinya terpencar. Kondisi seperti inilah yang menyulitkan ketika digunakan untuk menampung tuna-netra.
Dengan posisi permukiman yang berpencar seperti itu membuat setiap kali ada tamu untuk mengumpulkan ke aula saja membutuhkan waktu cukup lama. Mereka harus dituntun satu demi satu. “ Disini lebih enak. Lokasi kelas ada di atas dan di bawah adalah asrama mereka. Lokasinya terpusat. Sehingga mudah dalam memobilisasi,” ujar Djaka.


TAK HANYA MENAMPUNG WARGA DKI

Karena dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya panti ini diperuntukkan bagi mereka yang berasal dari DKI. “ Karena ini milik Pemprov sehingga yang berhak menjadi penghuni panti adalah orang-orang yang memiliki KTP DKI,” ujar Djaka.
Namun ternyata pelaksanaanya di lapangan berbeda. Karena faktor kemanusiaan mereka juga tak menutup pintu bagi warga lain meskipun tidak memiliki KTP DKI. “ Mereka yang berasal dari luar juga diterima masuk dengan pertimbangan kemanusiaan,” ujar Djaka.
Selain berasal dari masyarakat yang langsung dating untuk mendaftar penghuni panti ada yang berasal dari hasil dari razia yang dilakukan dinas social provinsi DKI Jakarta. Mereka yang diidentifikasi tunanetra dijaring di tampung ini. Tentunya tunanetra yang dijaring yang sehat karena nantinya mereka di tempat ini bakal dibina agar bisa hidup secara mandiri. Meskipun di lapangan ternyata kebanyakan hasil razia ada yang tua dan sakit-sakitan.

Satu diantara penghuni panti adalah Septohadi Nugroho. Remaja asli Jakarta Timur kelahiran 23 tahun lalu ini sempat berkisah awal mulanya tinggal di panti ini.

Septo, begitu dia biasa dipanggil, merasa bersyukur menjadi salah satu bagian dari penghuni panti ini. Dibandingkan dengan saat pertama kali masuk setahun lalu ada banyak hal yang telah ia dapatkan. “Awal saya berada disini tidak bisa apa-apa. Untuk berkomunikasi dengan teman-teman juga tidak bisa,” ujarnya.

Kini sosok Septo telah banyak berubah. Ia semakin termotivasi untuk lebih banyak belajar tentang berbagai hal yang belum ia mengerti dan kuasai. Satu cita-citanya ingin menjadi contoh bagi teman-teman lain yang senasib dengannya. Menurutnya semua sebenarnya bisa jika latihan. Ia mencontohkan dirinya dulu yang juga belajar dari nol.

Sekarang ada banyak hal yang sudah Septo kuasai. Tak hanya kemampuan dan keterampilan dasar saja yang ia kuasai namun hal-hal lain seperti bermain musik. Septo piawai menabuh drum dan bermain gitar. Atas kepiaiwainya dalam bermain musik ia pernah dipercaya oleh Depdiknas untuk tergabung dalam sebuah tim untuk rekaman pembuatan modul pembelajaran kesehatan dan Reproduksi.

Meski sudah menguasai banyak keterampilan ternyata keinginan Septo untuk terus belajar tak berhenti sampai disini saja. Ia bahkan menyimpan mimpi besar untuk melanjutkan studi hingga bangku. “ Apa yang saya dapatkan dari sini hanya berupa batu loncatan, semoga bisa jalan terus,” ujarnya.

Ternyata ada juga raihan prestasi yang pernah diukir oleh para penghuni PSBN Cahaya Bathin. Yang terbaru tahun ini mereka mampu menjadi Juara II tingkat nasional lomba hafalan Undang Undang yang diselenggarakan oleh Mahkamah Konstitusi. Raihan ini lebih baik dari tahun sebelumnya hanya meraih juara III.

Ada juga torehan yang diraih oleh satu siswa lain yaitu Muhamad Hilmi. Berbekal puisi karyanya, Ia menjadi wakil Provinsi DKI dalam ajang lomba puisi tingkat Nasional untuk tuna netra meskipun belum mampu menjadi yang terbaik.


MEMILIKI BERBAGAI KEGIATAN RUTIN


Seperti lazimnya panti-panti tunanetra yang lain, PSBN Cahaya Bathin juga membekali penghuninya dengan beragam keterampilan. Hal yang diberikan mulai dari motivasi, kedisiplinan serta semangat bangkit dan kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. “Pertama-tama yang harus ditangani mental dan sikap dulu. Soal ketrampilan itu nomor kesekian,” kata Kapten Solikin.

Terkait dengan sikap dan mental Djaka menceritakan kisah seorang penghuni panti, namanya Zuhroh. Zuhroh masuk ke panti ini dalam keadaan terbuang. Ia tak memiliki keluarga. Hidupnya berpindah dari satu panti ke panti yang lain. Pertama kali datang ia dalam kondisi stress berat, sehingga sangat mudah marah.

Berkat ketekunan dari para pengasuh akhirnya sosok Zuhroh kini sudah jauh lebih baik. Bahkan kini ia dipercaya sebagai pemimpin barisan tiap kali upacara bendera atau kegiatan apel pagi.
Beberapa pembekalan yang mereka dapat diantaranya Orientasi dan mobilitas (OM). Dalam kegiatan ini penghuni panti diberi materi dan pelatihan seputar pengenalan lingkungan di sekitarnya dan bagaimana cara bisa bepergian. Pelatihan ini dimulai dengan hal-hal yang sederhana seperti cara naik tangga, turun tangga, menyeberang dan sebagainya.

Kegiatan ini tak hanya dilakukan di dalam wilayah panti terkadang dilakukan diluar juga. Misalnya ke pasar, terminal, stasiun dan sebagainya. Pelatihan ini diberikan seminggu sekali.
Pengetahuan lain penting yang diberikan adalah mengenai kesehatan dan reproduksi. Ada seorang dokter yang sengaja diundang untuk memberikan pengetahuan seputar ini. Menggunakan boneka yang digunakan untuk mengenalkan organ-organ reproduksi dan tanda-tanda genital bagi penghuni panti.

Agar bisa menambah ilmu pengetahuan warga panti juga mendapat kemampuan membaca huruf Braille. Tak hanya huruf Braile Latin namun juga Al Quran Braille bagi yang beragama Islam. Di bidang kesenian mereka mendapatkan keterampilan bermain musik. Di panti ini memiliki studi musik sendiri dengan peralatan yang lengkap.

Sebagai bekal untuk bisa mandiri secara ekonomi berbagai keterampilan juga diajarkan. Keterampilan seperti membuat berbagai alat sehari-hari seperti keset, dan kemampuan pijit. Mereka mendapat berbagai teknik pijit mulai dari refleksi, shiatsu dan massage.
Djaka menambahkan meskipun sudah memberi banyak bekal yang saat ini masih mengganjal adalah membantu mereka penyaluran ketempat kerja. “ Namun hingga saat ini kami masih belum bisa. Seharusnya kami harus dibantu oleh dinas-dinas lain,” ujarnya.

Sebenarnya menurut Djaka PSBN Cahaya Bathin sudah berupaya. Upaya nyata dengan membuka praktek pijat dengan harga yang relatif terjangkau. Sekali pijat masyarakat hanya membayar Rp. 30 ribu saja. Biasanya yang datang dari masyarakat sekitar.

Hasil dari praktek tersebut sepenuhnya menjadi hak penghuni panti. Meskipun ada sebagian yang disisihkan untuk tabungan mereka. Perinciannya dari 30 ribu tersebut, 20 ribu untuk mereka dan 10 ribu disimpan. “Sewaktu waktu akan dikembalikan lagi pada mereka misalnya ketika mereka hendak mudik. Ketika hendak lebaran,” kata Djaka.

Selain kegiatan rutin sehari-hari di momen tertentu menurut Djaka ada juga kegiatan seperti pentas seni, perlombaan dan kegiatan lain. “ Misalnya lomba adzan, sari tilawah, ceramah agama. Kegiatan seperti ini biasanya diselenggarakan pada bulan ramadhan,” katanya.
Meskipun mendapat banyak fasilitas dan berbagai pelatihan berharga ternyata semua itu didapatkan penghuni panti dengan Cuma-Cuma tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Menurut Djaka semua hal terkait dengan pembiayaan dan operasional sudah dianggarkan oleh pemerintah DKI. Sumber dana lain menurut Djaka juga ada namun hanya insidentil saja. Ada donatur di saat-saat tertentu misalnya ketika bulan puasa, hari raya dan sebagainya.

Mengenai keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat menurut Djaka yang sering mengadakan kegiatan di panti ini adalah sebuah LSM yang intens menangani penderita Low Vision. Ada beberapa orang dalam pengawasan mereka. Djaka mengatakan kemungkinan kalau mereka nanti bisa dioperasi bakal dioperasi. Mereka biasanya datang sebulan sekali atau dua bulan sekali untuk mengadakan pengawasan. “ Low vision itu mereka matanya nampak seperti orang normal namun tidak melihat,” kata Djaka.

Djaka menjelaskan rencananya penghuni panti normalnya tinggal disini selama 2 tahun dan nantinya harus bisa mandiri. Untuk bisa disebut mampu mandiri standar yang harus mereka miliki menurut Djaka adalah mereka sudah bisa baca huruf braile, braile Al Quran, punya beragam keterampilan. Jika telah lulus mereka tak dibiarkan begitu saja. Mereka juga diberi bantuan berupa alat-alat untuk kerja seperti alat massage, shiatsu serta refleksi dan tetap dipantau oleh panti.

Selama ini menurut Djaka banyak lulusan dari sini yang sudah mendapatkan kehidupan yang layak. “ Tapi dalam kemandirian itu juga kami tinjau, evaluasi, apakah benar mereka sudah benar-benar mandiri? Kalau mereka sudah punya tempat itu sudah kita anggap mandiri,” ujar Djaka.

Menjadi Kepala Panti sudah menjadi hal biasa bagi Djaka. Meskipun di tempat ini ia baru menjadi Kepala panti sejak bulan februari tahun 2009. Sebelumnya ia pernah menjadi kepala di beberapa panti lain. Tahun 2007 ia menjadi kepala di panti jompo Cilambar selama 2 tahun setelah itu ditugaskan ke Plumpang mengurusi anak jalanan. Mengenai panti tempat ia bertugas sekarang ada satu misi yang ia perjuangkan. “Saya berharap PSBN ini suatu saat bisa menjadi panti percontohan di DKI Jakarta,” ujarnya.


FATHONI ARIEF

Tuesday, October 27, 2015

Pernahkah kita membayangkan bagaimana jerih payah para petani menanam berbagai macam hasil bumi sebelum akhirnya tersaji di meja makan kita? Tahukah kita bagaimana usaha mereka untuk menghasilkan tanaman dengan kualitas terbaik, meskipun hasil akhir belum tentu sama seperti apa yang mereka harapkan.

Kebetulan mertua saya adalah seorang petani. Dari hasil jerih payahnya bercocok tanam sewaktu masih segar bugar beliau berhasil menyekolahkan putra-putrinya hingga ke bangku kuliah, termasuk istri saya yang berprofesi sebagai dokter gigi. Sungguh luar biasa bukan. Namun saya tak ingin bercerita tentang itu namun mengenai suka duka menjadi petani.

Tak selamanya hasil jerih payah petani selama bercocok tanam menggembirakan. Ada kalanya kegagalan demi kegagalan menyertai langkah mereka. Meskipun sebenarnya mereka sudah berusaha keras dengan berbagai upaya. Kegagalan tersebut bisa karena tidak bisa panen, hasil panen kurang memuaskan atau berhasil panen namun harga jual anjlok sehingga harus menanggung kerugian.

Monday, October 26, 2015

Keuntungan Bisnis Online
Betapa menggiurkannya peluang usaha di dunia maya dapat dilihat dari nilai perdagangan yang terjadi. Menurut data dari IDC tahun 2009, tercatat nilai perdagangan lewat internet di Indonesia mencapai sekitar $ 3,4 miliar, ini hampir setara dengan Rp 35 triliun. Tetapi sayang, potensi luar biasa besar ini belum bisa ditangkap oleh pemain lokal. Transaksi online tersebut masih dikuasai oleh pemain asing. Inilah peluang yang dapat Anda manfaatkan.

Selain gambaran angka-angka diatas ada beberapa alasan yang membuat bisnis online layak menjadi pilihan Anda. Terlebih lagi bagi mereka yang memiliki berbagai keterbatasan mulai dari modal, waktu, dan sebagainya. Beberapa keuntungan menjalankan bisnis online diantaranya :

1. Bisa dijalankan dengan modal seminim mungkin. Menggunakan sistem penjualan online, anda tak perlu pusing dengan biaya tempat, pegawai, listrik, dll. Bahkan bisa dibilang Anda hanya perlu modal koneksi internet dan handphone saja sudah bisa menjalankan dengan adanya jualan sistem dropshipping. Dengan menjadi dropshipper artinya Anda menjual barang milik toko lain namun tidak perlu membelinya secara putus. Anda cukup memasang foto atau gambar produk di toko online Anda. Anda akan memperoleh keuntungan jika berhasil menjual produk tersebut.

2. Pasar masih Begitu Luas. Dengan menjalankan usaha berbasis online pasar Anda bukan hanya terbatas seperti saat membuka sebuah toko. Anda bisa berjualan dengan mereka yang ada di luar kota, luar provinsi bahkan luar negeri.

3. Banyaknya Situs dengan layanan blog gratis. Saat ini banyak situs yang dapat Anda gunakan untuk menjalankan bisnis online mulai dari Facebook, Twitter, Kaskus, Berniaga, Tokobagus dan masih banyak lagi.

4. Bisnis Dapat Beroperasi Setiap Saat. Baik pagi, siang, sore, malam ataupun hari libur asal membawa handphone serta koneksi internet Anda tetap dapat menjalankan bisnis Anda.

5. Dapat dijalankan di rumah. Ibu Rumah tetap dapat mencari tambahan penghasilan tanpa meninggalkan kewajibannya mengurus rumah.

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Saturday, October 24, 2015

Sampul Buku I Cant Hear
Terlepas dari apa pun, saya sangat bersyukur memilikinya. Gwen adalah anugerah terbesar dalam hidup saya. Proses membesarkan Gwen dan melatihnya mendengar dan berbicara telah memberikan saya begitu banyak pelajaran berharga, lebih daripada yang pernah saya bayangkan. (San C. Wirakusuma).

Perjuangan seorang ibu dan orang-orang terdekat demi putri tercintanya dikisahkan dalam buku berjudul “ I Can (Not) Hear. Buku yang ditulis oleh Feby Indirani dan San. C. Wirakusuma ini diambil dari kisah nyata yang dialami oleh San C. Wirakusuma. Kisah yang bermula dari sebuah negara yang kini menjadi bagian China, Hongkong.

Thursday, October 22, 2015

Buku Kumpulan sejarah kecil indonesia

Kisah-kisah kecil yang pernah terjadi di beberapa daerah Indonesia ternyata menarik untuk diketahui. Ada banyak kisah kecil yang penuh dengan human interest dan justru terkadang lepas dari sejarah besar bangsa Indonesia meski terkadang memiliki kaitan erat dengan sejarah besar bangsa.

“Sudah beberapa waktu lamanya saya berfikir tentang bagaimana caranya membuat sejarah menarik bagi generasi muda. Sejarah yang tidak hanya terdiri dari hanya rangkaian tahun atau jaartallen untuk dihafalkan, tetapi yang dirasakan hidup dan bermakna untuk kehidupan zaman sekarang,” ujar Rosihan Anwar.

Penulis kemudian menyusun sebuah buku dengan mengkombinasikan antara kiat-kiat jurnalistik dengan persyaratan ilmiah. Ternyata ia cukup banyak menulis karangan yang berkaitan dengan sejarah, baik dalam bentuk tulisan feature untuk surat kabar dan majalah maupun dalam bentuk narasi skenario film dokumenter tau reportase untuk televisi.

Saturday, October 17, 2015



Lalu-lalang kendaraan masih melewati Brakan, sebuah persimpangan di daerah Kertosono. Simpang tiga yang nyaris tak pernah tidur. Satu kali duapuluh empat berbagai jenis kendaraan melewati simpang ini dengan berbagai tujuan. Kendaraan yang menuju ke arah Barat biasanya adalah bis-bis besar dengan tujuan Solo, Jogja dan kota-kota yang dilewatinya. Kearah Selatan adalah kendaraan dengan tujuan Kediri, Tulungagung dan Trenggalek. Sedangkan kearah Timur tujuan Surabaya dan kota-kota yang dilewatinya.

Begitu juga dengan siang ini. Meskipun jam sudah bergeser mendekati angka 2 sang surya masih tak bosan melepas panas yang terasa hingga ke kulit. Panas yang melengkapi suasana jalan antar Provinsi yang diisi lalu-lalang berbagai kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, bis hingga truk-truk besar bermuatan penuh.

Di salah satu sudut jalan, di pinggir jembatan sebelah Utara jalan, saya duduk di sebuah warung kecil. Saya melepas lelah dengan memesan kopi hitam. Di meja warung tersebut ternyata tersedia jajanan favorit saya, tape goreng. Perut yang keroncongan dan rasa pegal yang mulai menyerang sendi-sendi selepas naik bus dari kota Tulungagung membuat jajanan tersebut tersantap secepat kilat.

Meskipun tampilannya kurang meyakinkan ternyata tape goreng tersebut lumayan juga. Tape tersebut masih terasa panas berarti masih baru. Ketika tape tersebut digigit rasa gurih tape yang tengah muncul disusul dengan rasa manis gula aren yang diisi didalamnya.

Tape goreng dan kopi hitam paduan yang membuat jalanan ramai, berdebu, penuh asap terhapus dari ingatan saya. Namun ada satu yang mengusik rasa keingintahuan saya. Kurang lebih sepuluh meter dari tempat saya duduk di pinggir sebuah Musholla ada seorang bapak-bapak yang berjualan penthol (bakso namun tak dijual bersama mie dan campuran-campuran lainnya).

Penthol, jajanan yang mengingatkan pada masa kecil saya. Dulu sewaktu masih duduki di bangku sekolah dasar penjual penganan ini selalu muncul di depan gerbang pintu sekolah. Penthol berbentuk bulat-bulat waktu itu dijual perbijinya Rp. 25,-. Penthol yang ditusuk dengan lidi yang diruncingkan dan dicelupkan kedalam toples berisi semacam saus yang merah menyala selalu menggoda selera. Meskipun orang tua seringkali marah-marah dan cerita akan bahan-bahan penthol dan saus yang sebenarnya sangat jauh dari standar higienis dan aman dikonsumsi.

Keingintahuan saya makin menjadi mengamati ternyata beberapa saat saya duduk sudah ada dua pembeli. Sekedar bernostalgia sayapun berniat mencicipi jajanan masa lalu itu. Terlebih dulu saya membayar jajanan dan minuman yang saya nikmati di warung ini. Lima ribu rupiah untuk segelas kopi hitam, dua potong tape goreng dan air mineral ukuran sedang. Saya sempat menyebut lagi apa yang saya makan dan minum sekedar memastikan harganya tidak keliru. Ternyata benar semua itu hanya saya tebus dengan lima ribu rupiah.

Kini saya melangkahkan kaki ke penjual penthol. Ingin menikmati seperti apa rasanya makanan yang jaman dahulu kala sempat menjadi makanan favorit. Dulu meskipun hanya seharga Rp.25,- saya sangat jarang menikmatinya juga. Walaupun angka tersebut sudah sangat murah namun waktu itu saya memang jarang diberi uang saku oleh orang tua. Saya hanya diberi uang saku di saat-saat tertentu dalam seminggu, khususnya saat olahraga. Itupun seringkali hanya sekeping koin senilai Rp.50,- saja padahal waktu itu teman-teman saya setiap harinya berbekal uang saku Rp.100,- tiap harinya meskipun tidak semuanya juga.

“Penthol pak! Berapaan harganya?”

“Ada yang Rp. 1000,- ada yang Rp. 2000,-“

Dalam pemahaman saya maksud harga tersebut sebungkus isi beberapa biji dihargai seribu atau yang lebih banyak duaribu. Pasalnya sepengetahuan saya penthol biasanya berukuran kecil-kecil jadi tak mungkin sebiji seharga seribu atau duaribu.

“Ya sudah Rp.4000,- pak”

Saya pesan seharga itu karena mengira jumlahnya kalau hanya seribu atau dua ribu akan terlalu sedikit. Lalu penjual penthol tersebut membuka tempat jualannya. “Waah…”

Ternyata saya salah sangka. Penthol yang dijual berukuran besar-besar seukuran sekira tiga perempat bola tenis untuk yang berharga duaribu sedangkan yang seharga seribu besarnya dua kali bola pingpong.

Dengan cekatan penjual tersebut mengambil sebuah penthol berukuran besar, dan dua ukuran lebih kecil. Ternyata ia masih memberi beberapa lagi yang berukuran kecil-kecil.

“Kalau yang kecil-kecil harganya berapa?”

“Kalau yang kecil-kecil tidak saya jual. Biasanya ini hanya saya berikan sebagai bonus”

Keingintahuan saya akan rasa Penthol langsung pudar saat sebuah penthol kecil masuk ke pencernaan lewat mulut. Penthol yang dibungkus plastik itupun saya ikat rapat-rapat dan masukkan kedalam tas ransel. Kini yang menggoda saya adalah keingintahuan akan cerita sang penjual penthol sendiri. Apakah jualan seperti ini bisa dapatkan banyak duit.

Sekilas sang penjual penthol dalam pandangan orang yang melihatnya pertama kali bakal beranggapan dia orang yang hidupnya pas-pasan. Penampilannya juga mendukung dengan kulit hitam terbakar matahari, sepeda mini butut untuk membawa dagangan dan busana yang biasa namun rapi meskipun kaos yang dipakai juga nampak bukan lagi putih, krem juga tidak.

(Bersambung)

Kertosono, 1 Januari 2009

Monday, October 12, 2015


Di bukit Menoreh memangnya ada waduk? Jangan dulu pergi dan bilang tidak percaya. Setidaknya baca dulu cerita di bawah ini.

Waktu hampir mendekati tengah malam. Suasana kos yang beberapa saat lalu masih terdengar suara televisi, langkah kaki, perbincangan orang kini menjadi senyap. Begitu juga dengan di luar rumah. Di samping kamarku yang berbatasan dengan halaman milik tetangga juga tak terdengar hirup pikuk anak-anak kampung yang bermain bola, suara musik dangdut yang distel dengan volume yang suaranya bisa didengar satu kampung.



Hari pertama penanggalan Hijriah, 1 Muharram, menikmati suasana kota kelahiran. Menggunakan sepeda menyisiri jalanan di pusat kota yang tak begitu ramai, masih bebas polusi dan jauh dari kemacetan yang biasanya kujumpai di Jakarta.

Di alun-alun kota yang sudah disulap menjadi taman kota saya hentikan sepeda. Sekedar duduk-duduk menikmati suasana sambil melihat sekitar saya siapa tahu ada momen yang menarik untuk saya abadikan menggunakan DSLR saya.

Nampaknya beberapa bulan saja tidak berkunjung di kota kelahiran ini sudah ada hal yang baru. Saya baru tahu di alun-alun sekarang ada andong yang beroperasi. Masyarakat bisa menyewa andong-andong tersebut. Kata salah seorang kusir yang saya tanya sekali mengitari alun-alun masyarakat mengeluarkan 5 hingga 10 ribu tergantung jumlah penumpang. Selain rute tersebut jika ada yang menginginkan rute lain sang kusir juga mengiyakan. " Ada juga yang naik dari alun-alun hingga stasiun Tulungagung," katanya.

Ah terkait dengan stasiun ada kabar baru yang menarik saya juga. Mulai tanggal 5 Desember 2009 beroperasi kereta api baru kelas bisnis. Nama kereta api tersebut Senja Kediri tujuan Tulungagung-Jakarta (Pasar Senen). Tiketnya juga lumayan di hari ramai Rp 130 ribu pantas untuk dicoba bagi para pelancong yang ingin harga tak begitu mahal namun tak sepadat kelas ekonomi.

Tentang kota, tentang kerinduan akan kota ini. Rasanya bertekad kembali saja ke kota ini. Membangun kota kelahiran apalagi sekarang fasilitas juga sudah cukup lengkap di sini termasuk internet seperti saat ini sudah bisa menerima CDMA EVDO..hehehe

Tulungagung 19 Desember 2009

Sunday, October 11, 2015

Berkendara di jalanan ibukota sudah jauh dari kata nyaman. Terutama di hari-hari kerja jangan harap bisa bebas dari kata macet apalagi jika harus dibandingkan dengan berkendara di kota-kota lain yang jauh dari kata itu.

Melintasi jalanan yang macet itu saja sudah membosankan apalagi jika ditambah dengan ngawurnya para pengendara bermotor yang asal-asalan. Seringkali mereka asal nyalip dari kanan bahkan kiri tanpa memberi sinyal. Kendaraan yang lebih besar harus ekstra hati-hati kalau tidak siap-siap diperkarakan akibat menabrak pengendara bermotor.

Entah sudah berapa kali muncul wacana yang sesuai untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Mulai adanya ide jalur bus khusus yang kini dikenal dengan busway, penerapan zone three in one hingga proyek monorail yang sampai saat ini tak ada kepastian kapan bisa terselesaikan.

Bicara tentang wacana solusi transportasi hari ini saya melihat satu tayangan di salah satu stasiun televisi. Di tayangan itu ditampilkan satu langkah dari pemerintah China untuk membatasi jumlah kendaraan yang ada di jalanan utamanya dalam menyambut Olimpiade. Cara yang ditempuh adalah memberlakukan metode ganjil genap plat kendaraan. Jadi nanti bakal dijadwal kapan kendaraan berplat genap boleh melintas dan kapan kendaraan berplat ganjil melintas. Bayangan saya jika itu benar-benar diterapkan mungkin lebih dari separuh kendaraan bisa dihilangkan dari jalananan dan asap berkurang begitu juga dengan kemacetan.

Ide plat ganjil genap atau sejenis kalau tak salah pernah jadi wacana untuk diterapkan di jakarta. Rasanya sebenarnya secara teori gampang mengatasi kemacetan. Dalam pemikiran sederhana saya metode ganjil genap mampu kurangi minimal sepertiga jumlah kendaraan di jalanan ibu kota. namun permasalahan sanggupkah, atau beranikah pemerintah menerapkan hal itu dan dengan tegas memberlakukannya. Untuk yang terakhir ini saya pesimis.....


Saturday, October 10, 2015

Ngeblog sudah jadi bagian dari perjalanan hidup saja. Benar, hampir satu dasawarsa saya Ngeblog, khusus di blog ini sudah lebih dari 8 tahun. Berdasar posting pertama tercatat tanggal 13/7/07. Dalam rentang waktu tersebut sampai posting ini, ada 651 posting yang mewarnai. Membaca posting tersebut seperti menziarahi kenangan dan berjumpa lagi dengan kegelisahan, amarah, sedih, tentu saja suka.

Kembali ke masa 8 tahun lalu, menulis adalah cara saya mengekspresikan kebahagiaan atau bahkan membasuh luka. Namanya saja pernah mengalami masa muda, ada masa dimana hari-hari terobsesi dengan cinta. Oiya, sebenarnya ini bukanlah blog pertama saya. Blog yang pertama kali saya buat dulu fasilitas dari situs jejaring sosial Friendster, sekarang sudah tinggal nama.

Awal Ngeblog kebanyakan posting saya berupa cerpen, puisi, dan hal-hal yang berbau sastra serta catatan harian. Sebagai contoh posting pertama saya di blog ini, sebuah sajak atau apalah namanya yang saya beri judul renungan.

Jika Satu Kejelekan Terjatuh Diatas Tumpukan Kebaikan
Apakah Artinya Semua Jelek?
Emas yang telah lama tertumpuk tak kelihatan kilauannya
namun ketika setetes noda terjatuh diatas emas
kejelekannya mengalahkan kemilau yang sedikit tertutupi olehnya.
Kenapa?

(Sebuah pertanyaan yang jawabannya cukup disimpan dihati masing-masing yang membacanya)

Saya masih ingat suasana hati saat mempublish tulisan ini. Ada sebuah kekecewaan mendalam terhadap seseorang. Tahun-tahun awal bisa dibilang saya ngeblog benar-benar dari hati. Semuanya adalah apa yang saya rasakan, alami. Waktu itu murni menulis sebagai obat, pelampiasan tak ada niat lain.

Tahun berganti tahun postingan saya makin variatif. Apa yang saya tulis sedikit lebih serius. Meskipun terkadang saya rindu dengan suasana hati seperti saat-saat awal blog ini hadir. Ada semangat yang menggebu-gebu untuk selalu mengisi blog meskipun tahu hanya segelintir orang yang membacanya. Meski demikian semuanya sepertinya mengalir begitu saja, semua ide begitu lepas dan dengan mudahnya hadir hasilnya cerpen-cerpen saya.

Sekarang delapan tahun sudah blog ini hadir, ada banyak hal yang tentu saja harus berubah. Salah satunya adalah tujuan nulis blog. Apa yang saya tulis tak hanya jadi konsumsi saya pribadi, tapi harus bisa memberi kontribusi karena Ngeblog juga salah satu cara berbagi.

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Friday, October 09, 2015

Entah apa yang saat ini ada dalam fikiran seorang Sugeng. Dua puluh tahun sudah Sugeng habiskan hari-harinya di balik terali besi. Kini hidupnya tinggal menunggu saat-saat akhir. Ketika regu tembak lepaskan sebuah peluru yang menjadi titik perhentian kisah kehidupannya. Di berbagai media banyak diceritakan kisah-kisah menarik di detik-detik akhir jelang eksekusi Sugeng dan Ibunya, Sumiarsih.

Ada banyak hal menarik yang saya ikuti tentunya dalam sudut pandang lain, melihat Sugeng sebagai manusia biasa yang punya berbagai kisah dan romantika.

Saya begitu trenyuh ketika membaca seorang mantan kekasih Sugeng menjenguknya dan Sugeng memberi dia oleh-oleh bunga yang sengaja dia tanam selama dia jalani masa-masa di tahanan..Angan-angan saya seperti melihat sebuah adegan dalam sebuah film drama tragis.

Begitu pula saat membaca berita kedatangan Ayah kandung Sugeng. Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan seorang Ayah ketika tahu hidup anaknya tinggal menunggu sebutir peluru terlepas dan menutup cerita kehidupan anaknya.

Semua cerita, hidup dan mati sudah ada garisnya. Sekarang atau nanti semua pasti terjadi...beginilah akhir dari sebuah cerita yang tinggal menunggu detik-detik akhirnya..Semoga saja ini justru menjadi jalan bagi seorang Sugeng untuk bertobat sebelum ajal menjemputnya..

NISAN

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta.
(Chairil Anwar)

Jakarta 18/07/2008

Tuesday, October 06, 2015

Foto Chairil Anwar
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta.
Nisan ( Chairil Anwar)


"Aku ingin hidup seribu tahun lagi," satu spirit dari seorang Chairil muda dalam masa mudanya yang penuh semangat. Spirit Chairil muda ternyata tak dibarengi dengan kondisi fisiknya. Perlahan TBC terus menggerogoti tubuhnya. Namun apalah daya tepat di hari yang sama 66 tahun lalu ia benar-benar enggan berbagi dengan cerminnya. Ia lelah dan istirahat dalam diamnya di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Saat kekuasaan sang Ilahi membuat ia sadar waktunya benar-benar telah tiba, "Aku tak mau tak seorang kan merayu, Tidak juga kau,".

Chairil telah kehilangan jiwanya namun ia layak tersenyum. Lewat karya dan semangatnya ia masih hidup hingga saat ini. Seperti yang pernah diharapkannya dalam satu sajaknya " kenang kenanglah Aku". Semangat seorang Chairil memang mampu menginspirasi dari generasi ke generasi dalam lahirkan berbagai karya sastra.

DERAI DERAI CEMARA

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949 (Chairil Anwar)

Sumber image : wikipedia

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.