Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Thursday, May 29, 2008



Beginilah suasananya jika para lansia bergoyang. Bukannya tak tahu diri namun sekedar menghibur dari penatnya hidup dan tertawakan dunia yang makin sulit di kala senja mereka.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

(SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTERINYA, WS Rendra)

Wednesday, May 28, 2008

Kagum melihat mahluk terindahMu yang perlahan mengeja aksara untuk diserap dan dipantulkan oleh jiwa-jiwa yang masih sangat belia...
Dalam balutan kain-kain yang menutup tulang yang terbungkus daging terpampang indah dan elok paras karunia ilahi...
Dalam langkah-langkah senyuman tiap-tiap pemilik tulang rusuk terkesiap dan mengharap ia berhenti dan tertambat untuk memberi satu arti, satu irama yang mengalun dalam sebuah sistem yang diikat oleh kalam-kalam sang Pencipta..
Satu persatu mereka datang namun tiba-tiba saja terpental karena kau terlalu luar biasa untuk hanya sekedar menjadi penjaga sangkar-sangkar yang terbuat dari beton dan batu bata
Namun mereka tetap saja berharap dan terus mencoba meski akhirnya tersia..
dari kejauhan di satu sudut yang tak terlihat olehmu aku tersenyum sambil berharap..
Tak sengaja satu percikan kecil senyummu tertambat dan kucoba membalas senyummu..
namun sekali lagi tak tahu senyumku apakah juga tertambat di sana....
dan terus saja kucoba hingga akhirnya aku sadar sepuluh kaki jarak mataku dengan matamu adalah sebanding dengan selaksa jarak antara dua hati..
dan sekali lagi aku sadar mengharapmu tak beda dengan mengharap senja di malam hari

Pancoran, 28 Mei 2008

Monday, May 26, 2008



Matahari baru saja tampakkan dirinya. Ia muncul memberi satu kehangatan dan sebuah semangat baru. Semangat Jakarta di Pagi hari meskipun diantara satu keresahan akibat kondisi ekonomi yang makin sulit dan naiknya harga BBM yang makin mencekik mereka. Suasana pagi hari tetaplah menarik dan menginspirasi buat semuanya.



Minggu pagi biasa dimanfaatkan untuk berolahraga, jalan-jalan, bersepeda atau apa saja. Momen yang tepat lakukan semua itu. Apalagi biasanya ada beberapa ruas jalan di Jakarta yang ditetapkan sebagai daerah bebas kendaraan bermotor.



Selain untuk mengisi hari momen seperti ini menjadi berkah bagi bagian masyarakat yang lain. Mereka yang jualan makanan, minuman, pernik-pernik dan masih banyak lagi.



Foto ini diambil waktu peringatan hari lansia namun tentunya ini bukan untuk lansia..hehehe

Catatan, Minggu 25 Mei 2008

Saturday, May 24, 2008



Kereta Rel Listrik semi ekspress Pakuan terus melaju, membawaku menuju Bogor. Tak seperti kereta kelas ekonomi KRL pakuan memberi kenyamanan yang lebih. Aku bisa duduk, dan sejenak memejamkan mata tanpa harus berdesakan dan disertai dinginya AC kereta.


Bogor, sudah lama aku tak singgah ke kota ini. Terakhir kali aku ke bogor kiranya 6 tahun lalu di pertengahan 2002. Mungkin sudah banyak yang berubah di kota hujan dalam rentang waktu hingga saat ini. Tujuanku ke Bogor sebenarnya dalam rangka kerja. Ada satu acara yang perlu aku ikuti.

Kira-kira sejam kereta sudah sampai di stasiun. menghemat waktu dan mengejar jadwal acara aku cari taksi menuju ke hotel jaya raya. bermenit-menit menunggu taksi sulit dicari. Akhirnya sebuah taksi aku dapat namun eh namun taksi tersebut tak berani mengantarku ke puncak. Daerah tersebut sudah di luar wilayahnya. Akhirnya aku putuskan turun di terminal. Satu kata yang mungkin hampir sama "ngetem". Hampir setengah jam lebih bis yang kunaiki tak kunjung berangkat. Badan sudah kepanasan dan keringat mulai mengucur basahi baju.

Setelah menunggu akhirnya bis itu berangkat. Yah dalam perjalanan sempat dua kali orang dari Metro Tivi nelpon. yah untung saja aku bawa head set. Yah minta kejelasan satu video yang kukirim untuk sebuah program yang tayang tiap jumat malam. Di perjalanan itu untung ada seniman-seniman jalanan yang dengan apik memainkan gitar dan bernyanyi ingatkan aku akan seorang peserta Indonesian Idol.

Perjalanan...satu hal yang memang harus kulakukan dan bispun melaju. Jam 16.00 setelah sempat nyasar akhirnya saya bisa juga sampai di Hotel Jaya Raya. Hawa sejukpun menyambutku namun di lain sisi hatiku miris dan membayangkan mungkin saja dulunya wilayah hotel ini adalah hutan yang ditebangi. Wilayah yang kini berubah jadi resort tempat pertemuan orang-orang dari Jakarta. Yah pantaslah Rendra tergerak dengan "Hutan Bogornya".

"Sekali lagi aku mendapat banyak hal-hal menarik dari perjalanan demi perjalanan yang kutempuh"


Bogor, 21 Mei 2008




Monday, May 19, 2008


Berkunjung ke Kebun Binatang seringkali yang terbayang kerumunan orang berpasang-pasangan, orang tua dengan anak-anak kecilnya, bekal makanan, minuman, dan tentu saja koleksi hewan. Namun ternyata opsi-opsi tersebut tak ada kaitan sama sekali dengan kunjungan yang saya maksud.

Minggu kemarin saya berkunjung ke ragunan. Salah satu kebun binatang ternama yang masih jadi tempat favorit pelesir. Baru pertama kali saya berkunjung ke Ragunan. Beberapa kebun binatang lain yang pernah saya kunjungi adalah Taman Safari Prigen, Taman Safari Bogor dan Bonbin Surabaya.

Kali ini saya ke kebun Binatang bukan untuk pelesir namun ikut acaranya Serunya Scriptwriting Playgroup. Ke kebun binatang untuk bermain bareng sambil belajar tentang penulisan skenario. Saya katakan bermain bareng karena memang konsep playgroup benar-benar ditekankan. Mungkin banyak yang bingung dan bertanya-tanya seperti apa belajar skenario di kebun binatang.

Tema yang diambil dalam serunya ragunan kali ini drama 3 babak. Teknisnya peserta mendapat 3 kata kunci untuk membangun masing-masing sebuah adegan cerita. untuk mendapatkan satu kata kunci tiap-tiap grup harus mengikuti permainan-permainan yang direncanakan panitia. Ada banyak hal unik mulai dari balas pantun sampai nyari balon dengan mata tertutup.

Memang salut buat tim kreatif meski awalnya saya terpaksa jadi peserta tambahan ternyata menikmati juga...



Acara berakhir dan saya langsung pintu keluar melewati hewan-hewan bodoh yang terkekang dalam kandang besar bernama kebun binatang..Sambil berjalan saya teringat sebuah puisi dari Sapardi

DI KEBUN BINATANG

Seorang wanita muda berdiri terpikat memandang
ular yang melilit sebatang pohon sambil menjulur-
julurkan lidahnya, katanya kepada suaminya:
“Alangkah indahnya kulit ular itu untuk tas dan
sepatu!”
Lelaki muda itu seperti teringat sesuatu, cepat-cepat
menarik lengan istrinya meninggalkan tempat ter-
kutuk itu.

Dengan langkah cepat mengejar waktu sayapun terus melangkah keluar..

Ragunan, 18 Mei 2008

Friday, May 16, 2008


Sebuah refleksi di Jumat 16 Mei 2008. Apa kabar pagi! Satu semangat baru menyapa dunia. Masih saja di belantara Jakarta yang tak segan mendepak warganya yang lemah. Jakarta butuh ketegasam. Jakarta butuh kekuatan.

Butuh spirit lebih tak bisa dengan jiwa-jiwa cengeng dan miskin untuk terus melaju melebihi kecepatan ibukota senja ini. Memang lelah namun jika tak seperti ini siap-siap saja Ibu kota yang akan menggilasmu. Semangat saja tak cukup. Perlu banyak faktor X yang dipengaruhi oleh aktor utama yang pencipta alam.

Jakarta,...Meminjam sebuah puisi dari Emha Ainun Najib..

"Kerja dan fungsi memecah manusia
Sujud sembahyang mengutuhkannya
Ego dan nafsu menumpas kehidupan
Oleh cinta nyawa dikembalikan

Lengan tanganmu tanggal sebelah
Karena siang hari politik yang gerah
Deru mesin ekonomi membekukan tubuhmu
Cambuk impian membuat jiwamu jadi hantu"

(Memecah mengutuhkan Emha Ainun Najib)

Meskipun pagi tak menyapaku aku tetap menyapamu Pagi..Apa Kabar..Eagle Flies Alone..

Jakarta, 16 Mei 2008

Sumber image: Gettyimages
Keluarga baru itu bernama Serunya Skenario Playgroup

Tuesday, May 13, 2008



Lantunan lagu populer dari pengamen kecil itu mengiringi perjalananku tinggalkan Hujung Galuh, kota Surabaya. Rasa capek, penat, lelah campur aduk menyatu tinggalkan kantuk yang makin menjadi. Seraya dengarkan lagu disertai desiran angin saat bis melaju perlahan timbul semangat baru.


Hidup adalah perjalanan, Life is a journey, yah memang seperti itulah sang elang jalani hidupnya. Mencari hal-hal baru, lakukan perjalanan demi perjalanan tidak tahu sampai kapan. Mungkin saja sampai tenaga sudah membatasai, sampai kesempatan sudah tak ada lagi. Eagle flies alone, yah memang seperti itulah caraku jalani kehidupan hingga saat-saat ini karena memang mungkin seperti itulah sang pencipta menghadirkanku. untuk selalu belajar dari apa yang dilihatnya. Untuk selalu membaca, Iqra' seperti wahyu yang pertama kali diturunkan.



Perjalanan demi perjalanan dan banyaknya hal baru membuatku makin haus akan pengalaman baru. Pergilah kemana-mana, lihat, amati banyak belajar dan bagi kepada semua saja satu prinsip yang hingga kini masih saya pegang.

Hari Jelang senja saat bis kota masuki terminal Purabaya Surabaya. Setelah setahun lalu baru kali ini saya kembali masuk salah satu terminal terbesar di Indonesia ini. Seperti biasanya ramai, kerumunan orang, dan lalu lalang orang dengan ekspresi lelah hendak menuju kota tujuan mereka masing-masing. Bis Harapan Jaya patas AC yang kebetulan saya pilih. Masuk bis dan lanjutkan perjalanan selanjutnya.

Jalani perjalanan demi perjalanan ingatkan akan novel Putu Wijaya "Stasiun". Kali ini saya memasuki "stasiun" untuk menuju perjalanan berikutnya. Kota kelahiran, tempat sejuta kenangan Ngrawa telah terbayang di depan mata. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam dan perlahan bergerak keluar dari Purabaya.

Bersambung.....


Sungai brantas di dekat Museum kapal selam Surabaya begitu sunyi sore itu saat hari menjelang senja. Nampak seorang pencari ikan dengan perahu kecil menyusuri sungai menyebar jaring mencari rezeki.



Tidak ada yang mudah memang di dunia ini. Semua memang butuh kerja keras. bekerja sungguh-sungguh.





Seberkas Cahaya, Selepas Senja Di Ngrawa..
Cahaya Yang muncul Begitu Saja dari Bersitan Hati..

Cahaya yang ingatkan akan keindahan sorga..
Apakah ini hanya sekedar mengingatkan?
Apakah aku hanya sekedar melihat dan merasa saja?
Wahai pemilik Cahaya apakah sekali lagi ini hanya sekedar mengingatkan?
Apakah ini hanya sekedar membayangkan?
Sedangkan aku sudah lelah diingatkan, lelah diberi bayangan...
lelah dengan imaji..
haus akan realita..
Atau memang sengaja kau biarkan aku berlama-lama lama terbius bayangan hingga akhirnya binasa tertelan bayangan..
Aku menuntut keadilanmu tak lagi sebatas meminta...
meski akhirnya aku sadar hanya sebatas itulah makhlukmu bisa berbuat..
Cahaya yang datang ketika sukmaku begitu resah dirasuk firmanmu..
Aku tau dan percaya akan segala keputusanmu..Kun Fayakun..

Ngrawa, 10 Mei 2008

Sunday, May 11, 2008

Ada yang menarik saat berlangsungnya acara koordinasi wilayah organisasi social dan Karang Taruna di Hotel Sahid 7 Mei 2008 lalu. Di sela-sela acara tampil satu grup musik yang menamakan dirinya Kelompok Mata Hati. Secara kebetulan 2 anggota yang tampil semuanya memiliki kekurangan pada indera penglihatannya. Meskipun sebenarnya ada juga anggota grup ini yang normal naum kebetulan tidak bisa hadir.
Mereka adalah Kiki siswi kelas 10 SMAN 10 Surabaya dan Dhani Mahasiswa semester 8 jurusan seni musik Universitas Negeri Surabaya. Meski keduanya merupakan tunanetra namun mereka mampu memainkan lagu-lagu popular mulai dari Ayat-ayat cintanya Rossa hingga Mataharinya Agnes Monica dengan apik. Hal itu tidak mengherankan jika melihat prestasi yang pernah mereka raih. Dalam sebuah festival musik khusus tunanetra beberapa waktu yang lalu di Jawa Tengah KMH mampu meraih juara di beberapa kategori.
Di sela-sela mainkan lagu Dhani dan Kiki juga sempat berbagi pengalaman mereka. 

Satu hal yang kini terus mereka perjuangkan adalah menghapus diskriminasi pada para penyandang cacat mata yang hingga kini masih mereka alami. Dhani yang juga sebagai salah satu alumni SMAN 10 Surabaya tempat Kiki sekarang sekolah juga pernah mengalami perlakuan yang beda. Ia yang dalam proses pendaftaran siswa baru sengaja minta bantuan orang tuanya ketika pengumuman sempat dipertanyakan para panitia setelah mereka tahu ia tunanetra. “Mereka bertanya bagaimana cara mengajarnya?,” kenang Dhani. Namun Dhani tak menyerah begitu saja ia coba membuktikan kalau ia memang mampu dan akhirnya terbukti beberapa kali ia sempat berada di peringkat 3 besar di kelasnya. Bahkan Dhani masuk ke universitas Negeri Surabaya Juga melalui jalur PMDK.

Fathoni Arief

Saturday, May 03, 2008

Hari ini saya menyusuri Kota Lama Jakarta dengan kamera digital minimalis A460 coba mengabadikan momen dan gambar yang saya rasa indah, unik minimal dalam pandangan saya sendiri. Hmm moga dimaklumi jika kualitasnya belum sepadan dengan karya fotografer profesional karena saya memang baru dalam tahap belajar.

(MOZAIK)(Saya mengambil foto ini di museum Bank Mandiri)


(Dari Sebuah Ruang)(Saya mengambil foto ini di museum Bank Mandiri)



(Ke Museum)(Saya mengambil foto ini di depan Museum Balai seni rupa Jakarta)



(Gaya Kawula Muda)


Friday, May 02, 2008



2 Mei 1889, bayi mungil dalam teriaknya terlahir di lingkungan kraton Yogyakarta. Suwardi Suryaningrat, nama yang diberikan buat bayi itu. Waktu itu mungkin orang tak pernah mengira berpuluh-puluh tahun kemudian bangsa ini akan mengenang ia sebagai orang besar bahkan tanggal tersebut kini menjadi hari pendidikan nasional.

Bersama Taman Siswa yang didirikannya Suwardi yang akhirnya pada saat ulang tahun keempatpuluh mengganti nama dengan Ki Hajar Dewantara berjuang memperjuangkan pemerataan pendidikan di nusantara. Waktu itu tahun-tahun sebelum kemerdekaan waktu penjajahan Belanda sekolah-sekolah formal memang lebih berfihak pada golongan-golongan atas dan Belanda. Suwardi ingin menciptakan pendidikan yang bisa untuk semua. Perlahan tapi pasti mulai menyebarlah Taman Siswa dari mulanya hanya ada di Jogjakarta terus menyebar ke berbagai pelosok Nusantara.

Kini lebih hampir setengah abad dari kepergian Ki Hajar ternyata masih banyak persoalan tentang pendidikan yang ada di negeri ini. tak hanya tentang sistem saja namun juga prasarana ada sebagian "kecil" yang belum bisa dianggap baik.

Wajib belajar 9 tahun, pendidikan berkualitas, peningkatan mutu pendidikan hingga saat ini masih jadi pekerjaan rumah bagi semua. Jika ada yang membanggakan dengan kondisi yang sulit bulan April delegasi Indonesia mampu sumbangkan 3 emas pada olimpiade Fisika Asia di Mongolia. Namun dengan kondisi yang ada tidak usah mengeluh, di posisi masing-masing mari berjuang. Meminjam kata-kata Rendra Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh. Hidup adalah untuk mengolah hidup bekerja membalik tanah memasuki rahasia langit dan samodra, serta mencipta dan mengukir dunia. Kita menyandang tugas, kerna tugas adalah tugas. Bukannya demi sorga atau neraka.

Selamat Hari Pendidikan Nasional....

Thursday, May 01, 2008



Cantik Diantara Bendara Merah



Menjulang Bak Gedung Tinggi..



Ikutan Memperingati hari Buruh ah...



Bosen...



Sambil Jualan Nonton Orang Demo...


Kira-kira apa ya yang ada dalam fikiran dia? Mungkin saja " Andaikan saya bisa punya rumah sebesar itu!"..hehe..Foto ini saya ambil sewaktu peringatan hari buruh sedunia di bundaran HI, 1 Mai 2008.

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.