Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Friday, November 20, 2009



Bagian pertama.....

Matahari belum setinggi tombak, ketika rombongan kami menuju lereng Gunung Wilis. Kami berlima mengendara 3 sepeda motor menikmati saat-saat yang mendebarkan dan penuh kesan hari itu.


Candi Penampihan, meskipun lahir di kota Tulungagung sebelumnya saya hanya pernah mendengar namanya saja. Pengetahuan saya akan peninggalan arkeologi itu hanya sebatas informasi yang bisa didapatkan melalui situs-situ internet. Itupun informasi yang diberikan masih terbatas. Semua itu membangkitkan rasa keingintahuan mengenai seluk beluk candi. Keingintahuan itulah yang membuat saya berinisiatif mengajak beberapa orang teman menuju kesana.


Jam 8 pagi kami berangkat berlima dari titik pertemuan di Utara perempatan Cuwiri. Saya, Dimas, Sari, Feri dan Frida. Dengan mengendarai sepeda motor perlahan kami mulai menyusuri jalan yang makin menanjak menuju Gunung Wilis. Rute yang kami tempuh dari perempatan menuju ke arah Utara hingga pertigaan di daerah Karangrejo. Dari pertigaan tersebut kami langsung mengambil belok kiri menuju Kecamatan Sendang.

Waktu itu cuaca tak begitu cerah ada sedikit mendung yang menghalangi pancaran sinar Sang Surya. Namun tak mengurangi kenikmatan berkendara di jalanan yang relatif sepi dan sepanjang perjalanan di kanan dan kiri masih dijumpai areal persawahan.

Secara umum kondisi jalan menuju candi Penampihan cukup bagus. Maklum saja dulu di dekat lokasi candi pernah dikenal sebagai penghasil teh dan ada pabrik teh peninggalan Belanda. Kondisi jalan yang bagus ini terputus hingga sampai jalan masuk menuju lokasi Candi.

Mengendarai sepeda motor kami harus ekstra hati-hati. Jalan yang kami lewati sebagian besar jalanan batu. Belum lagi ditambah beberapa ruas yang kondisinya agak menanjak. Perjalanan memakai sepeda motor ini hanya sampai daerah di dekat lokasi pabrik teh. Di sini kami menitipkan motor di rumah salah seorang warga dan berjalan kaki menyusuri jalan yang makin menanjak.

Sepanjang perjalanan kami disambut dengan udara dingin dan lahan yang masih kosong di kanan dan kiri. Sempat terlontar pertanyaan dimanakah kebun-kebun teh yang dulu sempat terhampar di sekitar sini.

Kami terus berjalan sambil sesekali mengambil gambar daerah yang masih asri. Dari jauh saya bisa melihat Gunung Wilis yang masih diselumuti kabut.

Lahan Bekas Kebun Teh Kini Menjadi Milik Warga


Di tengah perjalanan kami melihat sepasang suami istri berusia 50 tahunan. Sang istri tengah asyik memetik sayur-sayuran dan suaminya tengah membawa keranjang bambu sambil memilah-milah sesuatu. Kami mendekati bapak ibu itu. Ternyata kali ini adalah panen perdana kacang kapri mereka. Dari mereka kami mendapat cerita tentang kebun teh, pabrik dan candi yang kami tuju.

Sejak jaman kolonial Belanda wilayah sekitar.lereng Gunung Wilis terkenal sebagai penghasil teh. Ada sisa-sisa puing bangunan peninggalan Belanda yang dulu menjadi saksi. Namun semenjak awal tahun 2000an karena harga teh yang tak stabil dan terus merugi perusahaan yang pengelolaannya dibawah Puskopad tersebut gulung tikar.

Lahan-lahan yang dulu menjadi kebun teh kini dialih fungsikan untuk menanam tenaman lain. Ada sayur-mayur. Lahan-lahan tersebut kini sudah menjadi milik warga dengan status hak milik. Saat ini masih disisakan lahan sekitar 1 hektar di sekitar situs candi Penampihan.


Penampihan, 25 September 2009

Bersambung..

Tuesday, November 17, 2009



Gunung Penanggungan (ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut) merupakan sebuah gunung yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Letak gunung berapi tidur ini ini berada di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berjarak kurang lebih 25 km dari Surabaya. Gunung Penanggungan berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang. Gunung ini dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Di masa itu ia dikenal sebagai Gunung Pawitra. Vegetasi yang menutupnya merupakan kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Sumber : Id.Wikipedia.org

Monday, November 16, 2009



Sholikah dan Sukaji merupakan pasangan suami istri penyandang cacat kreatif yang tinggal di kelurahan Wonokusumo, kecamatan Mojosari, kabupaten Mojokerto. Pasangan ini merupakan penyandang cacat binaan dinas sosial kabupaten Mojokerto.

Di rumah sederhana tempat tinggal sehari-hari pasangan Sukaji dan Sholikah merintis usaha konveksi mereka. Setelah mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan dari dinas sosial dan berbekal sebuah mesin jahit hasil bantuan mereka memulai usaha. “ Kami awalnya mendapat binaan dari Departemen Sosial. Kemudian merintis sedikit demi sedikit dengan segala keterbatasan yang dimiliki baik dari fisik maupun modal,” kata Sholikah.

Berawal dari pesanan orang-orang terdekat dan sekitarnya kini produk mereka sudah menyebar kemana-mana. Mereka sudah menerima pesanan dari berbagai daerah dengan jumlah yang cukup banyak. Tak hanya Mojokerto saja namun hingga ada Jombang, Pasuruan, Surabaya bahkan pernah Madura. Saat ini saja mereka tengah mendapat pesanan hampir 300 stel pesanan dari rumah sakit umum Mojokerto. Karena makin banyak permintaan inilah akhirnya mereka menarik 2 orang tukang jahit untuk menjadi karyawan mereka.
Solikhah menceritakan pelayanan dan hasil produk yang bagus menjadi satu kunci sukses mereka. Dengan berbekal hal itu menurutnya konsumen yang merasa puas dengan hasil kerja mereka akhirnya bercerita kepada orang lain dan memberi rekomendasi.
Meski kini usaha jahit yang diberi nama sesuai dengan nama pemilik rumah “Solikhah” namun mereka tak merasa puas sampai disini saja. Mereka sudah punya angan-angan untuk mengembangkannya lagi. "Nanti kalau ada rejeki saya akan membangun sebuah ruangan khusus untuk menjahit yang lebih luas didepan rumah. Karena saat ini masih memanfaatkan ruang tamu,” kata Sholikah.

BERAWAL DARI PELATIHAN

Pelatihan yang diselenggarakan oleh dinas Sosial kabupaten Mojokerto membawa banyak kenangan bagi pasangan ini. Karena di sinilah mereka menemukan cikal bakal usaha mereka dan berjumpa hingga berlanjut ke jenjang pernikahan.
Mereka mengikuti pelatihan ini pada tahun 1998. Setelah berjalannya waktu pada tahun 2004 mereka memutuskan untuk menikah dan kini sudah dianugerahi anak berusia 4 tahun.

FATHONI ARIEF

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.