Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Thursday, April 21, 2016




Sepak bola, permainan yang sudah saya kenal sejak berusia 5 tahun. Saya masih ingat waktu itu memang tengah ramai-ramainya orang membicarakan olahraga ini. Tahun 1986 perhatian masyarakat dunia tengah tertuju pada Meksiko tempat dilangsungkannya piala dunia.

Waktu itu saya belum mengerti betul apa itu sepak bola. Saya hanya tahu dari poster-poster yang saya lihat di sebuah toko yang sering saya lewati tiap kali sholat Jumat ke masjid Agung di tengah kota. Poster seorang pemain berambut agak kriwil yang suatu saat saya ketahui sebagai Maradona. Entah kenapa saya ikut-ikutan ngefans dengan pemain yang di tahun itu pula bakal dikenal dengan gol tangan Tuhannya.

Bahkan saking ngefansnya saya sempat juga diakali oleh orang tua. Waktu itu saya tidak suka makan sayuran khususnya bayam. Entah dapat ide darimana orang tua saya bilang ” Makanya banyak makan bayam biar bisa jadi seperti Maradona!”. Yah tapi saya tetaplah saya. Hingga saat ini saya tak begitu suka makan bayam mungkin itupula yang membuat saya tak bisa menjadi Maradona.

Selain Argentina waktu itu saya mulai ngefans dengan tim bajul ijo Persebaya. Apalagi bapak saya sering mendengarkan siaran langsung dari radio transistor. Koran-koran yang saya baca (numpang di tempat tetangga) di tahun 80an akhir mengulas serunya kompetisi sepak bola perserikatan.

Saya lupa kapan persisnya namun sejak tahun itu saya makin suka bermain bola. Waktu itu banyak tanah kosong di sekitar rumah saya. Sehingga kami bisa leluasa bermain si kulit bundar dari plastik. Terkadang setiap sore saya sering ikut rekan-rekan bermain bola di alun-alun kota. ( Sekarang alun-alun itu sudah disulap menjadi taman kota). Selama bertahun-tahun di masa-masa kecil kami masih bisa menikmati bermain di lapangan-lapangan kosong berumput yang perlahan 15 tahun terakhir lenyap tergusur oleh pemukiman warga.

Sekarang 24 tahun setelah saya pertama kali mengenal sepak bola. Saya tinggal di sebuah pemukiman padat di Kalibata. Pemukiman pinggir rel yang jika ditelusuri masuk kedalam di kiri kanan yang dijumpai hanyalah pemukiman warga yang berdempetan. Tanah lapang menjadi sesuatu yang mewah bagi anak-anak untuk bermain bola. Sehingga ketika menemukan lahan kosong yang seukuran lapangan bulutangkis saja sudah menjadi kebahagiaan bagi mereka.
Seperti di samping tempat saya kos. Ada sebuah lapangan bulutangkis milik warga. Lapangan yang sejak saya tinggal setahun lalu tak pernah digunakan bermain bukutangkis. Lapangan yang justru setiap sabtu malam atau tiap libur digunakan anak-anak kampung bermain bola. Mereka seperti orang kehausan yang diberi air. Mereka bermain bola dari sehabis Maghrib sampai jam 10 malam terkadang lebih.

Awalnya saya jengkel melihat mereka bermain tak kenal waktu dan ternyata pemilik kos juga merasakan hal yang sama. Suara bola yang ditendang membentur dinding atau mengenai asbes atap rumah cukup mengusik suasana istirahat. Bahkan saking jengkelnya pemilik kos, sudah jatuh korban beberapa bola yang masuk ke samping rumah melewati pagar. Bola plastik harus berakhir di dalam bak sampah di dapur dengan kondisi terbelah.

Seiring berjalannya waktu saya jadi berfikir. Ah sebenarnya bola-bola yang membentur atau mereka yang tak kenal waktu bukan semata-mata salah mereka. Untunglah dulu ketika masih kecil di kampung masih banyak lahan kosong tempat bermain bola. Lalu mereka? Anak-anak kecil itu jika harus dilarang bagaimana nantinya? Apakah bukanya lebih buruk jika mereka bermain di pinggir rel, tawuran, atau bertindak hal bodoh lain.

Tanah lapang hanya tinggal cerita
Yang nampak mata hanya para pembual saja
Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja
Dan sementara kita disini
Di jalan ini
Bola kaki dari plastik
Ditendang mampir ke langit
Pecahlah sudah kaca jendela hati
Sebab terkena bola tentu bukan salah mereka
(mereka ada di jalan, Iwan Fals)
Jakarta 23 Maret 2010

sosbud.kompasiana.com


What A Wonderful World (Luis Amstrong)


Ternyata bermalam di Masjid cukup enak juga. Selain relatif aman di masjid ini ada karpet yang cukup tebal sehingga kami bisa tertidur dengan cukup pulas. Rasa letih dan penat selepas seharian berjalan membuat kami cepat terlelap apalagi setelah mandi dan bersih-bersih diri.

Sebelum Adzan Subuh kami semua sudah bangun. Kami bersama-sama menjalankan sholat Subuh berjamaah. Pagi itu tak begitu banyak Jamaah yang datang. Semuanya tak sampai dua shaf atau duapuluhan. Lepas Sholat kami tak langsung meninggalkan Masjid. Kami memanfaatkan waktu untuk mengecharge battareai dan sekedar bersantai di teras Masjid. Lagipula hari juga masih terlalu gelap dan belum ada angkutan yang beroperasi. Rencananya kami tak langsung balik ke Jakarta. Masih ada dua tempat lagi yang bakal kami singgahi. Meskipun sebenarnya tempat tersebut masih satu arah.

Jelang pukul 7 pagi kami bersiap meninggalkan Bayah. Setelah berpamitan dengan penunggu Masjid kami melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya. Sebenarnya ada rencana lain yang sempat terbayang. Opi sempat mengusulkan mampir dulu ke pulau Manuk. Namun dengan berbagai pertimbangan kami mengurungkan niat tersebut. Kami menuju Karanghawu dengan menggunakan angkutan setelah sempat menikmati sarapan pagi di dekat Pasar Bayah.

Angkutan yang membawa kami inipun melaju menembus gerimis. Tak begitu banyak penumpang yang naik angkutan ini. Kondisi ini membuat angkutan ngetem selama beberapa puluh menit. Karena jumlah penumpang tak juga bertambah ketika ada angkutan lain di belakangnya kami dioper ke angkutan tersebut dan angkutan itu balik lagi menuju Bayah.
Waktu sudah bergeser dari pukul 10 ketika angkutan sampai di Karanghawu. Nampak mobil pribadi dan bis sudah berjajar di parkiran. Suasananya cukup ramai mungkin karena bertepatan dengan liburan panjang. Di Karanghawu terdapat tempat mantan Presiden Soekarno menyepi. Ada juga tempat yang dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul. Tak lama kami di Karanghawu. Sekedar mengambil gambar. Kami menjumpai potongan kepala kambing yang ada di pantai. Mungkin saja beberapa hari sebelumnya sempat ada semacam upacara sesaji.

Setelah sekedar mengambil gambar kami melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya kembali ke Jakarta. Namun kami mampir dulu di rumah makan yang terletak seratusan meter dari Terminal Pelabuhanratu. Rumah makan yang namanya cukup unik (geksor). Rumah makan yang sehari-harinya ramai dikunjungi pelanggan. Tak hanya orang sekitar saja ini bisa dilihat dari banyaknya mobil yang parkir di pinggir jalan. Di Geksor saya baru pertama kali ini berkunjung. Sebagian besar menunya berupa ikan laut. Makanan-makanan tersebut ternyata dijual dengan harga yang ramah di kantong. Tak heran jika banyak pelanggannya.

Setalah kondisi perut yang sudah terisi dan sejenak istirahat sambil menjalankan sholat Dzuhur kami bergegas menuju terminal. Tak seperti saat berangkat kini kami memilih bis AC. Harganya juga tak jauh berbeda. Tak lama menunggu. Bispun perlahan meninggalkan Pelabuhan ratu menuju Bogor mengakhiri perjalanan liburan di tanah Banten Selatan.

Karena tubuh yang kelelahan dan obat anti mabuk yang sudah bereaksi sayapun mulai terlelap.

Jakarta, Desember 2009

What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Friday, April 08, 2016


Matahari mulai terbit dari ufuk Timur. Dari jauh bentuknya yang bulat  berwarna kuning terang  muncul diantara rimbunnya pepohonan. Perlahan tapi pasti cahanya memancar mengiringi aktivitas  semua mahluk di bumi.

Setiap pagi, ada saja karyawan yang bersiap berangkat ke kantor, murid-murid sekolah dengan tergesa-gesa mengambil peralatan mandi dan membasahi tubuh mereka di tengah pagi yang cukup dingin. Atau para pedagang yang asyik dengan barang daganganya.

Di salah satu bagian dari kehidupan ini yang mungkin terkadang tak masuk dalam perhitungan atau bayangan sebagian besar kita juga telah memulai pentasnya; Dunia kecil dalam gerbong kereta api kelas ekonomi.

Sebuah stasiun kereta di kota pesisir selatan Jawa telah dipenuhi oleh calon penumpang. Sebagian diantara mereka antri di loket dan yang lain bertebaran di tempat tunggu penumpang.

Seorang lelaki muda dengan tas ransel di punggungnya yang sesekali mengisap rokok kretek ,yang dari tadi dipegangnya, nampak mulai gelisah menunggu. Pedagang asongan mulai dari tukang koran, penjual rokok, penjual nasi dan masih banyak lagi sudah siaga menunggu datangnya kereta. Mereka berkerumun di pinggir rel dan ada juga anak kecil yang bermain-main didekat rel walaupun sesekali petugas meniup peluit dan mengusir mereka. Sesekali terdengar umpatan, umpatan dan teriakan di antara para penumpang.

Kereta yang ditunggu-tunggu itu pun mulai merapat di stasiun dengan suara rem yang sangat berisik bunyi logam yang bergesekan.

"Kereta terlambat dua puluh menit", ujar seorang calon penumpang yang nampaknya mahasiswa itu setengah mengumpat sebelum akhirnya ia membuang puntung rokoknya dan bergegas naik ke atas. Lelaki muda dengan tas ransel itupun sudah berada di atas menelusuri lorong gerbong mencari tempat nyaman.

"Maaf mbak kursi ini kosong ?" tanyanya

"Ya silahkan mas!", Di sebuah kursi ia duduk didekatnya cewek yang wajahnya cukup rupawan duduk sendiri. Saat lelaki itu datang iapun bergeser agak jauh darinya.

Para penumpang lainnya juga mulai menyerbu pintu demi pintu dan mencari gerbong dimana masih menyisakan kursi kosong. Semuanya dengan satu tujuan mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Semuanya berjejal dan saling berebut. Di antara mereka terdapat juga para pedagang asongan dan mahkluk dengan tangan cekatan yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan aksi mereka.

Kereta yang telah dipenuhi oleh penumpang itu dengan tertatih-tatih harus merangkak menuju stasiun tujuannya. Terkadang kuda besi ini harus mengalah pada saudara mudanya yang lebih gesit dan cekatan; Kereta api kelas bisnis dan eksekutif. Dia terus merangkak hingga sampai tujuannya walaupun harus menahan diri dari gonjang-ganjing yang diakibatkan aktivitas mahluk-mahluk yang ada dalam perutnya.

Kereta berjalan dan mulailah sebuah pentas di dunia dalam sebuah gerbong itu. Para pengamen mulai berjalan dari satu gerbong ke gerbong lain. Mereka mainkan lagu dengan gitar dan alat musik seadanya. Suara mereka yang melengking menerobos bising ruang akibat bunyi getaran mesin dan kereta yang sedang berjalan. Dua lagu yang mereka mainkan sesaat sebelum pertunjukan berakhir seorang diantara mereka mengeluarkan plastik bekas bungkus permen yang ia edarkan dari penumpang satu ke penumpang lain sebagai wadah recehan logam. Selesai di satu gerbong mereka pindah ke gerbong lain hingga nanti di stasiun terdekat mereka akan turun menunggu kereta berikutnya.

Di belakang gerombolan pengamen anak-anak muda itu datang dua orang yang lelaki memakai baju batik dan nampaknya buta.Ia dipapah oleh seorang wanita yang usianya kira-kira hampir sama mungkin istrinya.

"Assalamu'alaikum …ijinkan saya saya ngamen tanpa musik", sebuah kalimat pembuka dari pengamen buta itu. Ia pun bernyanyi lagu-lagu campursari sekali lagi ia tak menggunakan musik.

Seorang lagi yang nampaknya istrinya menuntunnya berjalan sambil mengedarkan kantong tempat penumpang bisa memberi recehan logam.

Habis para pengamen datang rombongan pedagang asongan. Mereka ada yang tawarkan koran, makanan, nasi bungkus hingga alat tulis. Dengan penuh semangat dan pantang menyerah satu demi satu penumpang mereka tawari. Diantara pedagang asongan muncul juga profesi yang juga sering ditemui di kereta api kelas ekonomi; tukang sapu. Dengan berbekal sapu yang sudah dipatahkan pegangannya mereka bersihkan sisa-sisa sampah yang ada di gerbong demi sereceh dua receh logam dari penumpang.

Lelaki muda yang sedari tadi duduk di kursi pojok bangkit saat melihat petugas pemeriksa tiket. Ia berjalan menjauhi petugas yang telah mendekat. Seorang berpakaian petugas mulai berkeliling. Orang dengan usia kira-kira empat puluhan yang berperut buncit itu mendatangi satu demi satu penumpang. Tangan kanannya membunyikan sebuah alat yang membangunkan penumpang yang didekatinya. Nampaknya ia petugas pemeriksa tiket. Penumpang pun menyerahkan kertas kecil tebal berwarna merah itu. Tak lama kemudian ia memakai alat yang ia bawa untuk memberi tanda pada tiket semacam lubang.

Di salah satu kursi seorang penumpang masih saja tertidur. Saat petugas pemeriksa tiket datang ia segera merogoh saku celananya. Bukan kertas merah yang ia keluarkan namun beberapa lembar uang ribuan yang dilipat-lipat kecil.

"Mau kemana mas?" tanya pemeriksa tiket sambil mengambil beberapa lembar ribuan yang diserahkan dan segera masuk saku celananya.

"Biasa pak", jawab penumpang itu dan pemeriksa tiket pun segera berlalu mendatangi penumpang yang lain.

"Copet-copet!" terdengar teriakan dari salah satu gerbong

Para penumpangpun segera berdiri dan melihat kearah datangnya suara itu. Termasuk diantara penumpang sepasang kekasih yang tengah asyik bercanda. Merekapun sempat terkaget dan mengikuti para penumpang lain melihat kearah suara gaduh itu.


Tak lama kemudian lewat beberapa orang polisi kereta api yang berjalan tergesa-gesa.

Dari mata penumpang masih tersimpan tanda tanya besar pasti masih tentang bagaimana nasib pencopet itu.

Dua orang pedagang asongan kembali tawarkan barang dagangannya pada seorang penumpang.

"Bu tahu kuning! Masih baru lho asli ini",

"Piro mas segitu?" tanya seorang ibu yang nampaknya pegawai sebuah instansi pemerintah

"Biasa bu lima ribu mumpung lagi diskon"

"Wah mahal tenan"

"Ya dah ibu bisa nawar! Tapi ini sudah murah lho bu"

Setelah terjadi kesepakatan ibu pegawai itupun menyerahkan beberapa lembar uang ribuan pada penjual tahu tersebut.

"Matur suwun bu",

Perhatian sebagian besar penumpang masih pada asal suara dari gerobong sebelah bahkan ada sebagian kecil penumpang yang bangkit kemudian berjalan kearah gerbong asal suara itu.

Di salah satu gerbong kericuhan terjadi. Petugas pemeriksa tiket tak bergeming dengan suasana tersebut ia terus saja memeriksa satu demi satu penumpang. Di sebuah toilet yang terletak diantara gerbong ia berhenti digedor-gedornya pintu toilet tersebut. Memang toilet kadang jadi tempat persembunyian penumpang tak bertiket saat pemeriksaan oleh petugas.

"Ada orang di dalam?" tanya petugas sambil terus menggedor-gedor pintu.

Tak lama kemudian muncul seorang lelaki kurus dengan kaos lusuh bergambar partai peserta pemilu.

"Kamu lagi pasti nggak beli tiket lagi", petugas pemeriksa nampaknya telah hafal dengan orang itu.

Lelaki kurus itu hanya tersenyum saat petugas itu memaki-makinya. Beberapa kata kasar sempat terlontar dan akhirnya berakhir saat dirinya mengeluarkan beberapa lembar uang seribuan pada petugas itu. Petugas itupun berjalan melanjutkan tugasnya memeriksa tiket penumpang kereta api itu.

Kereta mulai perlambat kecepatannya. Di sebuah stasiun kereta api kecil kereta itupun berhenti. Nampak dua orang polisi menyeret seorang yang berperawakan layaknya mahasiswa tas ranselnya masih terpakai.

"Ganteng-ganteng ternyata maling…"

"Ya pakaian saja, tampilan aja yang rapi kaya mahasiswa tapi nyatanya maling", bertubi-tubi umpatan penumpang diarahkan pada lelaki muda itu.

Beberapa puluh menit kemudian petugas stasiun mengumumkan dari kantor jaga tanda kereta sudah siap berangkat menuju tujuan berikut. Tak lama kemudian kuda besi itupun perlahan-lahan bergerak. Penumpang baru telah menduduki tempatnya masing-masing dan pentas dalam dunia kecil gerbong itu kembali dimulai dengan begitu banyak karakter manusia yang mengisinya.

Fathoni Arief


Pondok Perenungan 10 Juni 2006


SABTU, jelang jam 9 malam, di depan layar komputer saya habiskan libur mingguan. Tiap pekan saya mendapat liburan rutin di hari Sabtu. Kali ini saya menikmati libur dengan menghabiskan waktu melepas lelah, bersantai sambil mendengarkan lantunan tembang lawas.

Rasanya sudah sangat lama saya tidak mengisi berbagai cerita di blog ini. Selama beberapa bulan blog ini terbengkalai tanpa posting-posting yang dulu sering mengisi hari demi hari.

Kali ini saya ingin bercerita tentang Ayrton Senna. Sosok legenda di ajang balap formula 1 ini memang benar-benar berkesan di hati saya. Pembalap yang hidupnya berakhir tragis di sebuah seri balap, Imola, Italia 1 Mei 1994.

Ayrton Senna merupakan mantan pembalap Formula 1 asal Brasil. Pernah menjadi juara dunia Formula 1 pada tahun 1988, 1990, dan 1991. Pembalap ini dikenal dengan kehebatan mengemudi mobil Formula 1 di sirkuit basah hingga dijuluki The Rain Man. Penampilannya di GP Monaco 1984 dengan mobil yang kurang mumpuni mampu berada di posisi kedua.

Banyak yang merasa kehilangan sosok satu ini. Bukan hanya atas kemampuan hebatnya dalam menggeber jet darat F1 yang membuatnya dijuluki "Magic Senna" namun sisi lain kehidupannya yang layak ditiru.

Kemarin saya terkagum-kagum saat melihat satu video di youtube. Di satu balap seri Spanyol tahun 1992 saat kualifikasi Senna menunjukkan sikap yang membuatnya pantas ditiru pembalap lain.

Saat kualifikasi Senna yang melaju di belakang pembalap Eric Comas tiba-tiba menghentikan mobilnya saat melihat pembalap didepannya mengalami kecelakaan. Senna meminggirkan mobilnya dan langsung melompat membantu Eric Comas sebelum tim medis datang. Sementara pembalap-pembalap lain terus saja melaju lanjutkan babak kualifikasi.

Melihat tayangan tersebut saya jadi mengerti mengapa kepergiannya meninggalkan sejuta kepedihan para penggemarnya. Bahkan hingga saat ini banyak yang menangisi jika mengenanng peristiwa itu termasuk saya. Di sebuah video saya juga melihat sampai-sampai Michael Schumacer tak kuasa menahan tangis saat jumpa pers usai memecahkan rekor Senna.

And so you touch this limit, something happens and you suddenly can go a little bit further. With your mind power, your determination, your instinct, and the experience as well, you can fly very high.(Ayrton Senna).

Jakarta, 13 Juni 2009

Wednesday, April 06, 2016

Momongan
Jangan pernah berputus asa, berusahalah terus ! Pernahkan sobat menerima "kata-kata bijak" tersebut entah dari kawan atau kerabat? Intinya menyemangati kita akan sesuatu yang tengah kita perjuangkan. Satu kalimat yang mudah diucapkan memang, namun tak semudah itu prakteknya. Seperti yang saat ini kami alami, berjuang untuk mendapatkan sang "buah hati" yang sudah lama kami idam-idamkan. Inilah kisah perjuangan kami, jalan berliku, menanjak harus kami tempuh untuk mendapatkan momongan, hingga tulisan ini saya buat.

Siang itu di Klinik Sekar Moewardi Solo, Prof Tedjo, dokter yang mulai memasuki masa senja, melihat data hasil test laboratorium saya dan istri. Profesor itu hanya membolak-balik lalu bertanya ? " Sudah menjalani program apa saja?"

" Terakhir, kami sudah pernah mengikuti program Inseminasi di Salatiga," jawab istri saya.

Profesor Tedjo kembali melihat hasil test. "Ini satu-satunya jalan yang belum pernah dilakukan berarti harus OD (Ovarium Drilling). Bagaimana?"

"Kami ngikut saja Prof," jawab saya

Prof Tedjo, menjelaskan secara singkat, lalu menyinggung operasi ini butuh biaya dan kami harus antri, karena ternyata ada banyak pasien lain yang sudah menanti menjalani tindakan medis ini.

Istri saya harus menjalani laparoskopi ( Teknik bedah dengan luka sayatan kecil), di Rumah Sakit dr Moewardi, Solo.

Sebagai informasi, menjalani bedah laparoskopi adalah ikhtiar kami yang kesekian kalinya. Demi mendapatkan momongan kami sudah mencoba berbagai cara mulai dari pijat di beberapa "ahli" pijat, konsultasi ke dua dokter berbeda, minum ramuan herbal. Begitu pula dengan langkah medis kami juga sudah pernah konsultasi dan menjalani program momongan di dua dokter berbeda bahkan di dokter terakhir kami sempat mengikuti program inseminasi buatan namun rupanya keinginan kami masih tertunda.

Sebelum operasi saya rajin browsing dan membaca testimoni mereka yang pernah menjalani laparoskopi. Sebenarnya ini cara saya menata hati, mencoba membangkitkan energi positif sehingga tetap bisa menyemangati istri.

Rupanya, waktu operasi diajukan. Semula istri dijadwalkan operasi pada bulan Maret, namun karena suatu hal harus maju di bulan Februari. Sebagai persyaratan jelang operasi istri harus menjalani rangkain tes laboratorium.

Setelah melengkapi semua persyaratan, saat-saat yang ditunggu pun tiba, hari dimana istri harus menjalani ovarium drilling. Ternyata cukup banyak prosedur jelang operasi yang harus dijalani mulai dari puasa hingga dimasuki obat pencahar lewat "jalan belakang".

Ternyata operasi berlangsung lebih lama dari perkiraan saya. Masuk ruang operasi jam 9 baru keluar jam 11.30.Saat menunggu ada perasaan was-was, hingga semua kekuatiran hilang setelah melihat istri dibawa keluar. Antara lega dan kasihan melihat istri yang masih tidak berdaya, belum sepenuhnya bebas dari pengaruh bius.

Rupanya bedah Laparoskopy sedikit menjawab alasan medis kenapa kami susah mendapatkan momongan. Istri ternyata mengalami endometrosis stadium II di rahim bagian kanan dan kiri. Saat operasi menurut Prof Tedjo endometrosis ini sudah dibakar dengan sinar laser.

Apakah pasca operasi ini masalah sudah tuntas? Ternyata perjuangan kami belum selesai. Saat berkonsultasi dengan Prof Tedjo "kiranya selanjutnya langkahnya seperti apa?"
"Ya minimal Inseminasi dan maksimal bayi tabung", Jawab Prof Tedjo.

Perjuangan kami belum selesai, semoga semangat kami tetap terjaga hingga bisa mendapatkan yang sudah lama diidam-idamkan.

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Tuesday, April 05, 2016

Proses Pembuatan Batik Tulisa
Memanfaatkan waktu senggang saya berkunjung Girilaya, sebuah dusun di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul. Jika dihitung jarak kurang lebih 25 km dari pusat kota Yogyakarta.

Dengan menggunakan sepeda motor saya bersama seorang rekan menuju Girilaya. Tujuan kami adalah sentra kerajinan batik dan wayang. Meskipun beberapa tahun tinggal di Jogja namun saya belum pernah secara khusus melihat lebih dekat para pengrajin batik dan wayang.

Tak susah menemukan Girilaya. Sebagai acuan bagi yang belum pernah berkunjung bisa langsung menuju terminal Giwangan. Dari terminal terbesar di DIY ini kita ambil saja jalan menuju Imogiri lurus menuju ke arah Selatan. Kurang lebih 20 km ada papan petunjuk menuju makam Girilaya. Tempat dimakamkannya Sunan Cirebon. Setelah menjumpai petunjuk arah kita ikuti saja petunjuk-petunjuk berikutnya. Sepanjang jalan desa ke arah Barat banyak tanda yang mampu mengantar kita sampai tujuan. Jika kondisi lancar dengan kecepatan santai jarak antara Jogjakarta hingga Girilaya bisa ditempuh dalam jangka waktu kurang dari setengah jam. 

Melawati jalan Imogiri saat ini bayangan saya kembali teringat dengan kejadian di pertengahan tahun 2006 ketika bumi Jateng dan DIY berguncang. Dulu di sepanjang jalan Imogiri ke arah Selatan nampak jelas rumah-rumah yang mengalami kerusakan mulai dari rusak berat hingga ringan. Pemandangan yang saat ini nyaris tak menunjukkan daerah yang pernah mengalami bencana gempa bumi.

Wukirsari, saat ini memang sudah menjadi desa wisata. Ada berbagai macam obyek yang menjadi andalan mulai dari wisata reliji, wisata pengobatan, wisata alam dan kerajinan. Wisata reliji yang menjadi obyeknya adalah makam Sunan Cirebon selain ada juga beberapa tokoh lain. Mirip dengan makam raja-raja mataram di daerah Imogiri menuju makam Girilaya juga harus melewati anak tangga meskipun tak sebanyak di pajimatan Imogiri.

Tak jauh dari makam Girilaya terdapat pancuran air. Entah kenapa orang-orang sana menyebutnya sebagai air terjun meskipun keberadaan air tersebut jika tak sedang hujan tak bisa dilihat.

Andalan lain yang bisa di jumpai adalah keberadaan ahli gurah dan bekam. Banyak papan nama dan pengumuman yang dipasang di sekitar wilayahy desa mengenai ahli gurah ini, ahli gurah itu. Konon banyak sekali pengunjung datang untuk mengeluarkan lendir yang katanya adalah toksin-toksin demi kesehatan dan mendapatkan suara yang lebih merdu.

Sedangkan untuk kerajinan yang menjadi andalan adalah batik. Kami sempat berkunjung ke salah satu pengrajin batik. Untuk menghasilkan selembar kain batik yang bermotif menarik dibutuhkan waktu yang bervariasi. Menurut seorang pemilik bahkan hingga satu setengah bulan. Tentu saja batik yang proses pengerjaannya membutuhkan waktu yang lama memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi pula. Biasanya batik-batik tersebut dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga.

Tak jarang dari berbagai daerah lain berkunjung ke Girilaya untuk sekedar belajar batik. Bahkan tak lama setelah kami datang ada rombongan dari Malang yang tengah memesan jadwal untuk studi banding belajar membatik. Biasanya jika julah pesertanya banyak diselenggarakan di lokasi khusus yang bertempat tak jauh dari dari tempat saya berkunjung.

Selain batik ada juga kerajinan wayang kulit. Mengenai kerajinan wayang kulit kami mendapatkan banyak informasi menarik dari seorang penjual angkringan.


Fathoni Arief

Yogya 2/2/10

What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Jakarta, bagi yang pernah tinggal di sana pasti punya banyak pengalaman dan kisah soal kemacetan di sana. Kebetulan saya pernah tinggal di sana antara tahun 2007 hingga pertengahan 2010. Inilah catatan harian soal kemacetan di Jakarta.

Hidup di ibukota mau tidak mau, suka tidak suka harus berhadapan dengan "Kemacetan". Karena macet sudah menjadi hal yang selalu terjadi maka orang-orang mencari cara untuk sedapat mungkin menghindarinya. Jika jam kantor dimulai pada pukul 8 dua jam sebelumnya mereka sudah berangkat dengan asumsi jika lebih awal bisa menghindari kemacetan.

Namun seperti apakah kenyataannya? Apakah ide tersebut berhasil? Pada mulanya memang berhasil tapi ternyata banyak orang memiliki pemikiran yang sama.Maka kembalilah seperti semula berangkat lebih awal juga bukan menjadi jaminan sama sekali bisa terbebas dari macet. Bisa saja terbebas macet kalau sebelum Subuh berangkat. Namun apakah anda mau melakukannya?

Bicara tentang "kemacetan" di ibukota bukanlah hal baru yang tak pernah coba dipecahkan, diteliti, disurvey. Berapa banyak para sarjana, master, doktor bahkan profesor ahli transportasi membuat formula penyelesaian masalah yang paling tepat. Lalu sudahkah ketemu solusinya? Selalu saja mentah pada implementasinya.

Selama ini pemakai kendaraan pribadi seringkali menjadi kambing hitam. Mulai dari pemilik mobil-mobil mewah hingga mobil yang sudah tak berbentuk mobil. Atau sepeda motor yang populasinya dari tahun ke tahun terus meningkat dengan sangat tajam. Apalagi dengan makin mudahnya persyaratan untuk mengajukan kredit kendaraan bermotor.

Okelah katakan tidak semua mungkin sepersepuluh saja mereka berganti memakai kendaraan umum. Dengan kondisi seperti saat ini saya yakin susah. Lihat saja penumpang KRL ekonomi yang masih membludak, trans Jakarta yang dari hari ke hari banyak yang mengeluhkan layanannya. Masyarakat pasti lebih memilih naik motor dengan resiko beriringan dengan maut ketika menembus kemacetan dicelah-celah kendaraan yang lebih besar. Namun mereka setidaknya bisa memastikan mereka tidak terlambat ke kantor.

Gambaran diatas bukan berarti mengajak semuanya untuk skeptis, tidak punya harapan terhadap sistem transportasi yang lebih baik. Justru sama-sama mengajak berfikir apa sebenarnya masalahnya? Apakah ini rencana yang salah atau hal lain.Selain perlahan dari diri sendiri sedikit mengurangi kemacetan dan polusi yang main parah. Jika alasan telat masuk kerja menjadi alasan untuk tidak memakai angkutan umum setidaknya di hari libur bisa sekali-kali memanfaatkan angkutan publik dan memarkir kendaraan pribadi di rumah.

Sekedar berandai-andai saja. Jika sarana transportasi umum sudah lebih memadai baik dari segi pelayanan, ketepatan waktu, keterjangkauan akses saya lebih memilih naik kendaraan umum. Tanpa harus mengeluarkan tenaga untuk menarik gas motor dan memiliki jam tambahan untuk sekedar istirahat sejenak sepanjang perjalanan. Kalau perlu bisa tidur tapi aman.

Rawajati, 2009

Salam Perubahan
What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.