Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Wednesday, March 29, 2017

Tips Produktif Menulis

Menulis, satu kata yang bagi sebagian orang menjadi hal yang menakutkan, namun sebagian lagi menganggap ini adalah sesuatu yang mengasyikan. Memang, bagi mereka yang sudah biasa menulis menjadi sesuatu yang bahkan menjadi kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Persoalanya, mungkin ada di bagaimana agar selalu bisa mendapatkan ide agar bisa produktif menulis? Hal inilah momok utama ketika seseorang mulai menulis.

Untuk bisa menghasilkan tulisan tentu saja hal yang tidak bisa tidak, harus dilakukan adalah membaca. Membaca apa saja, khususnya berita. Saat ini dengan adanya internet berita terbaru dengan mudah bisa kita dapatkan. Semua hal sebaiknya anda baca meskipun anda tidak tertarik akan hal tersebut. Bisa juga anda secara khusus membaca artikel atau materi yang benar-benar anda minati. Sesuatu, jika benar-benar diminati bakal lebih mudah untuk memahaminya.

Setelah banyak membaca,selanjutnya yang kita lakukan tentu saja adalah menulis. Terserah apa yang menjadi minat anda, apakah menulis fiksi ataupun non fiksi dan tema apa yang bakal anda tulis. Lakukan saja yang penting berusaha produktif menulis hingga benar-benar selesai.

Setelah tulisan selesai baca lagi tulisan anda. Coba perhatikan gaya bahasa, penggunaan istilah, penulisan dan bandingkan dengan tulisan bergenre serupa dari penulis-penulis yang sudah terkenal. Lalu terapkan untuk memperbaiki tulisan anda. Lakukan hal ini berulang-ulang. Karena menulis butuh latihan. Semakin sering seseorang belajar menulis dengan penar lambat laun kemampuanya bakal meningkat. Selain faktor teknis ada pula hal non teknis yang perlu diperhatikan. Satu lagi tips agar bisa lebih produktif menulis, sesaat matikan jejaring sosial, televisi atau godaan lain yang membuat perhatian anda menjadi kurang fokus.


Selamat mencoba semoga tips singkat diatas bisa membuat Anda makin produktif menulis...


sumber image : gettyimage

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Tuesday, March 28, 2017

Tips Menulis

"Menulis itu susah", mungkin kita memiliki pendapat seperti itu ketika ditanya menulis itu gampang atau susah. Apalagi ketika maksud hati ingin merangkai kata namun ketika sudah berhadapan dengan netbook, laptop, atau komputer sepertinya kata-kata susah untuk dikeluarkan. Kumpulan kata tersebut seringkali hanya nyanthol di angan-angan namun susah untuk diutarakan dalam bahasa tulis.

Apakah anda termasuk orang yang beranggapan menulis itu susah? Jangan kuatir anda tidaklah sendiri. Ada begitu banyak orang yang memiliki pendapat seperti itu bahkan terkadang penulis pun bisa beranggapan seperti itu. Lalu bagaimana supaya menulis itu menjadi gampang? Tentu ada solusinya, karena itu bisa dipelajari dan dilatih.

Hal pertama yang wajib anda lakukan adalah perbanyak membaca. Anda tak harus membaca buku yang tebal-tebal atau sedemikian mengerikan, namun bisa juga membaca koran, berita di internet, majalah atau apapun yang anda suka dan minati. Apakah itu ada manfaatnya? Jawabnya tentu ada. Membaca ibarat mengumpulkan bahan baku yang bakal disimpan di sebuah gudang bernama "ingatan". Untuk menghasilkan sesuatu jika bahan bakunya sudah ada tentunya lebih mudah.

Hal kedua setelah banyak membaca tentunya menulis. Karena skill yang ingin kita kuasai adalah menulis maka hal yang bisa kita lakukan adalah terus menerus menulis.Tulis apa saja yang kita minati dan jangan terbebani dengan jenis tulisan, prosa, non fiksi, gaya bahasa. Pokoknya anda tulis saja apa yang ada di benak dan ingin diungkapkan.

Setelah menulis tentunya membaca kembali hasil tulisan kita. Coba cermati apakah ada yang salah dan bandingkan dengan tulisan orang lain yang sudah berpengalaman. Jika tulisan anda ternyata berupa cerpen coba baca tulisan-tulisan sejenis.

Terakhir adalah sempurnakan tulisan anda. Tentunya kesempurnaan ini relatif. Hal yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki ejaan, tidak salah ketik, dan hal-hal lain yang terkait tata bahasa. Langkah terakhir ini jangan dianggap remeh karena seiring dengan ketekunan anda untuk berlatih dan belajar jangan heran jika suatu saat anda berubah fikiran dan berkata ternyata menulis itu gampang.


Selamat Mencoba! Semoga bermanfaat

Sumber gambar : gettyimages



Fathoni Arief

Silahkan Baca juga :

Agar Selalu Produktif Menulis


Berbagi takkan pernah membuatmu merugi


Kering ide, kehabisan ide, satu hal yang seringkali dialami oleh mereka yang sangat bergantung dengan hal abstrak tersebut. Saya sendiri seirng mengalami hal tersebut. Memang tak bisa dipungkiri cukup sulit juga mengatasi jika hal tersebut terjadi.

Satu sisi ide sangat berperan dalam proses kreatif namun tuntutan pekerjaan seringkali tak bisa berkompromi dengan hal tersebut. Jika hal tersebut terjadi diperlukan satu solusi untuk memaksa ide hadir. Ide tak boleh hanya datang saat mood saja namun tiap saat diperlukan harus muncul. Teori memang selalu saja begitu mudah diucapkan namun seringkali praktek di lapangan ada berbagai kendala namun tak ada salahnya teori juga dipelajari sekedar buat pembimbing apa yang harus dilakukan saat si ide tak jua datang.

Kering ide, saya terus terang sering mengalami juga. jika sudah kering ide mau tak mau produktivitas jadi turun. Jika biasanya selalu hasilkan tulisan-tulisan untuk diposting di blog saat kering ide blog bisa terbengkalai bahkan bisa berhari-hari. jika dituruti pemulihan untuk bisa memunculkan ide biasanya makin lama juga. untuk itu perlu dilakukan beberapa hal yang membuat fikiran kembali fresh sehingga dengan lancar ide akan nongol sendiri. Tatkala mengalami jenuh, merasa tak punya ide lagi ada hal-hal yang biasanya saya lakukan.


Membaca
Membaca yang saya maksud bisa apapun. Bisa membaca artikel-artikel yang menarik dengan browsing di internet, membaca buku-buku baru, membaca koleksi buku lama atau bahkan membaca tulisan-tulisan yang pernah kita buat. Dengan cara seperti ini biasanya saya menemukan hal baru, satu rangsangan untuk menulis kembali.


Menonton Film
Menonton film jadi salah satu cara ampuh bagi saya untuk memaksa ide keluar. Jenis film itu tergantung masing-masing orang namun kalau saya sendiri suka film-film yang sedikit mikir, based on true story. dari situ awal ide-ide untuk menulis bisa muncul. Terutama jika ingin menulis sebuah cerita.


Mendengarkan lagu
Lagu bisa jadi cara tepat menangkap ide. Mendengarkan lagu apalagi yang terkait dengan masa lalu atau ada satu cerita dibalik itu seringkali membantu saya dalam berimajinasi.


Jalan-jalan Ke Suatu tempat
Hal ini secara rutin saya lakukan. Sekali dalam sebulan tiap hari Sabtu atau Minggu saya berjalan-jalan ke suatu tempat bisa tempat wisata, tempat bersejarah atau tempat lain. Biasanya dari situ saya banyak mendapat bahan untuk dijadikan satu tulisan.

Hal-hal diatas yang saya ceritakan adalah satu teori yang saya tawarkan. Saya sebut teori karena itu baru sebatas wacana bagi anda meski bagi saya hal itu tak sekedar teori namun benar-benar saya praktekan. Sukses atau tidaknya sekali lagi tergantung dari masing-masing orang. Yah segera saja lakukan tips-tips dari saya tersebut semoga saja berhasil. Satu hal lagi biasanya untuk membantu memuluskan ide secangkir kopi panas seringkali menemani proses kreatif saya.

Sumber Image : www.gettyimages.com

Fathoni Arief

Sunday, March 26, 2017

Suasana di sebuah pelabuhan jaman dulu












"Senja, memang satu fenomena alam menakjubkan yang sudah menginspirasi banyak orang. Salah satunya adalah Chairil Anwar. Dalam perenungannya ia hasilkan satu karya " Senja di Pelabuhan Kecil" yang dia persembahkan buat Sri Ayati."

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Pelabuhan kecil yang ditulis menurut Sri Ayati adalah Sunda Kelapa. Senja di Sunda Kelapa bersitkan satu hal bagi seorang Chairil Anwar. Satu tempat dimana ia curahkan isi hati akan kekagumannya atas seorang Sri Ayati, wanita idamannya. "Saya tahu Chairil mencintai saya namun tak pernah mengatakan bahwa ia suka pada saya," kata Sri Ayati di sebuah wawancara yang sempat saya saksikan di Youtube.

Memang tak hanya Sri Ayati saja orang yang pernah dibuatkan puisi oleh Chairil. Masih ada nama-nama yang lain. Namun kali ini beda. Seorang Chairil mungkin tak bisa katakan sesuatu secara blak-blakan aku suka, aku benci, atau yang lainnya. Keinginan ungkapkan segala sesuatu disalurkannya melalui segala puisi hasil karyanya.

Dalam pandangan Sri Ayati Chairil memang pribadi yang unik. Ia adalah sosok yang haus untuk ungkapkan sesuatu dalam hatinya. Dimana-mana ia tak jauh dari buku-buku, mata merah karena kurang tidur, rambut yang acak-acakan dan penampilan yang terkesan asal.

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Pernah suatu ketika saat bertemu Sri Ayati Chairil mengatakan ia baru saja pergi ke rumah seorang yang cantik bernama Sri. "Pada suatu hari ia datang. Saya duduk di kursi rotan dan ia duduk di sebelah saya. Ia cerita katanya baru datang dari temannya yang bernama Sri,"
Namun Sri Ayati mengira yang dimaksud Chairil adalah Sri yang lain maka ia pun tak merasakan apa-apa.

Sebuah kisah tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Saat Sri Ayati sadar ia sudah tak lagi tinggal di Jakarta dan sudah bersuamikan orang lain. Chairil Anwarpun sendiri.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Chairil termenung dalam sendiri di pelabuhan kecilnya. Ia terus berjalan menyisir semenanjung dengan harap yang tak lagi bisa diharapkan. Ia terus melangkah hingga akhirnya lelah dan ucapkan selamat jalan lewat hembusan nafas terakhir membawa cintanya hingga akhir hidupnya.

Jakarta, 15 Mei 2008

image Source ; getty images

Saturday, March 25, 2017

Stasiun Rangkasbitung

Waktu baru menunjukkan pukul setengah delapan pagi ketika taksi yang membawa saya tiba di pintu masuk stasiun Palmerah. Jakarta pagi ini relatif lengang, taksi pun  melaju dengan kencang dan tiba lebih cepat dari perkiraan. Usai menyerahkan lembaran rupiah pada sang Sopir Taksi,  saya langsung menuju loket pelayanan tiket. “Kereta ke Rangkasbitung, Lebak, Banten ada pak?” tanya saya,

“Ada. Nanti jam delapan,”.

Tiket kereta api jurusan Palmerah-Rangkasbitung seharga empat ribu rupiahpun di tangan. Kereta api kelas Ekonomi paling pagi tujuan Rangkasbitung.


Baru pertama kali saya masuk stasiun, begitu juga menempuh perjalanan ke Rangkasbitung. Daerah yang saya ketahui karena sebuah foto hitam putih Soekarno yang berkunjung ke ibukota Lebak dengan menggunakan kereta api uap dan kisah seorang asisten Residen Lebak bernama Edward Douwes Dekker.

Menunggu kereta, saya duduk di salah satu sudut, di tempat duduk berwarna berbahan sejenis plastik yang dipasang berjajar di kedua sisi. Saya duduk di samping seorang bapak dengan anaknya yang sekira berusia 9 tahun. Di depan saya nampak lalu-lalang pedagang asongan, calon penumpang dan anak-anak kereta yang asyik bercanda. Stasiun belum disesaki penumpang. Ataukah hari ini memang tak banyak penumpang?

Matahari makin meninggi. Tempat saya dudukpun tak luput dari sengatan panasnya. Namun saya masih tak beranjak dari tempat duduk hingga munculnya debu-debu yang beterbangan ketika seorang petugas kebersihan datang berada di belakang saya. Saya beranjak bergeser lebih ke Selatan. Untuk sementara saya bisa terbebas dari debu-debu kotoran.

Sudah hampir pukul 8. Sementara belum ada tanda-tanda kereta yang saya tunggu tiba. Di dekat saya seorang pemuda berusi 20an awal duduk. Di dekatnya ada beberapa kardus bekas tempat air mineral.

“Mau ke Rangkasbitung mas?” tanya saya.

“Iya. Kalau masnya?” dia balik bertanya

“Rangkasbitung juga,”

“Rangkas mana?” dia kembali bertanya

“Rangkasbitung kota. Rencananya mau jalan-jalan saja,”.

Dari cerita pemuda itu jika tidak terlambat kereta bakal tiba di Rangkas pukul 11 siang. Namun sekarang sudah hampir pukul 8. Kereta bakal terlambat. Obrolan saya terhenti ketika terdengar suara sirine mengaum-aum melewati jalan sebelah Timur Stasiun. Saya bangkit mendekati pinggir peron. Nampak mobil pemadam kebakaran terburu-buru melintas seperti mengejar waktu. Setidaknya ada 6 mobil yang lewat. Orang-orang melihat ke arah Selatan. Di langit nampak asap mengepul dan bau benda terbakar tercium hingga stasiun.

“Lihat sampai item begitu,” seorang penumpang menunjuk keatas di tempat terjadinya kebakaran.

“Sebentar lagi kereta Rangkasjaya tujuan Rangkasbitung lewat,” suara dari corong Informasi stasiun. Lampu di sebelah selatan menunjukkan warna hijau. Kereta sudah mendekat. Penumpang yang sedari tadi gelisah menunggu terlihat bersiap. Ternyata kereta hanya melaju. Rangkasjaya tidak berhenti di stasiun ini.

Sayapun mulai gelisah. Berhitung dengan waktu yang ada. Sayapun merubah rencana. Meskipun sudah memiliki tiket Palmerah Rangkasbitung saya memutuskan naik dari Serpong. Di serpong ada seorang rekan yang menunggu. Dengan terburu-buru akhirnya saya membeli tiket KRL Ciujung jurusan Serpong. Setengah berlari saya akhirnya naik KRL ini. Di pojok tak jauh dari pintu saya duduk. Sambil terengah-engah saya membuka minuman jus jeruk dalam botol dan perlahan mebasahi tenggorokan saya. Tak menunggu lama keretapun mulai melaju. Stasiun,nisan yang berjajar rapi di pemakaman Tanah Kusir, pemukiman yang berhimpitan adalah pemandangan terlihat sepanjang jalan. Termasuk awan hitam pekat yang mengepul di atas pasar Kebayoran.

Stasiun Kebayoran, Pondok Kranji, Sudimara, Rawa Buntu adalah beberapa nama stasiun yang dilewati Kereta ini. Mengenai jalur ini mungkin banyak yang pernah membaca cerita tragis di tahun 80an yang terkenal dengan tragedi Bintaro. Tepatnya tanggal 19 Oktober 1987 terjadi tabrakan hebat antara kereta api dari Rangkasbitung dengan kereta dari Tanah Abang. Kecelakaan mau yang merenggut korban jiwa 156 orang dan ratusan lainnya luka-luka.

KRL Ciujungpun memasuki stasiun Serpong. Saya melangkah keluar mencari seorang rekan yang sudah berada di stasiun sambil menanti kereta ke Rangkasbitung. Penumpang lain yang satu gerbong dengan saya juga satu demi satu keluar dari gerbong sementara di luar calon penumpang sudah bersiap mengisi gerbong KRL Ciujung menuju stasiun tujuan mereka masing-masing.

Seorang rekan sudah menunggu di stasiun Serpong. Kebetulan ia tinggal tak jauh dari stasiun tersebut. Sebenarnya kami berasal dari satu kota namun baru berkenalan dan berjumpa beberapa pekan lalu. Kami saling menyapa di lantai atas Stasiun Serpong. Sekilas saya cerita tentang lokasi yang kami tuju dan kemungkinan yang tak terduga yang bakal kami temui dan jalani. Sesuatu yang selalu saya tekankan adalah “ yang terpenting adalah perjalanannya itu sendiri jika nanti di sana mendapat foto menarik atau apalah itu hanya bonus”. Seperti kata-kata yang selalu dikatakan seorang rekan saya lain tiap kali kami melakukan suatu perjalanan.

Kami segera turun ke bawah ketika ada pengumuman kereta tujuan Rangkasbitung segera tiba. Ternyata ada banyak penumpang lain yang menunggu. Dari arah Timur mulai mendekat kereta api kelas ekonomi. Nampak penumpang berjubel. Semua gerbong sudah dipadati penumpang.

“Mau pergi kemana pak?” seorang petugas bertanya pada bapak tua yang tetap berusaha naik meski sudah begitu sesak.

“Rangkasbitung,” jawabnya.

“Sebentar lagi ada kereta lagi tujuan terakhir Rangkasbitung,” kata petugas.

Mendengar kata-kata petugas saya turut lega. Kamipun menunggu kereta berikutnya yang datang beberapa saat setelah kereta api Merak Jaya tujuan akhir Merak melaju.

Kereta yang kami tunggu-tunggu tiba. Kereta api kelas ekonomi dengan susunan tempat duduk mirip KRL kelas Ekonomi Jabotabek. Kereta berhenti dan kami berusaha menyelinap ketengah diantara penumpang yang sudah cukup berdesakan. “Keretaku tak berhenti lama,” seperti potongan lirik lagu ketika masih kanak-kanak, menjauh dari stasiun Serpong menuju Rangkasbitung.

Masih ada banyak stasiun yang dilewati dan jadi tempat perhentian kereta ini. Penumpangpun selalu berkurang namun masih saja sesak karena yang naik juga tetap ada. Penumpang berdesakan berbagi ruang dengan para pedagang asongan yang berlalu-lalang, pengamen dan pengemis. Semua jadi satu di kereta berbagai profesi, suku, dan tentu saja bau keringat yang campur aduk dengan bau lainnya. Semua campur aduk antara berdesak-desakan, lengkingan tangis bayi, suara vokal pengamen yang mencoba mengimbangi suara berisik saat kereta berjalan. Sebuah dunia kecil dalam gerbong. Kereta tua inipun terus melaju berusaha menepati jadwalnya. Stasiun demi stasiun dilewati.

Sepanjang perjalanan saya sempat mengamati suasana baik di dalam maupun di luar gerbong kereta. Ternyata kondisi di luar sepanjang jalan menuju Rangkasbitung tak jauh beda dengan di dalam kereta api ekonomi ini. Betapa daerah yang hanya beberapa jam dari ibukota sebagai pusat perekonomian ternyata kondisinya masih memprihatinkan.

“Masih lama?” rekan saya bertanya,

“Sebentar lagi juga sampai,” jawaban yang sebenarnya hanya asal saja berdasar kata-kata seorang pemuda yang tadi berdiri di dekat saya ketika menelpon. Pukul 11 an sampai begitu yang tadi saya dengar dan sekarang sudah mendekati pukul 11.

Setelah berjam-jam berdiri akhirnya saya mendapatkan tempat duduk. Lumayan juga meredakan pegal-pegal sambil menikmati tahu sumedang yang saya beli dari seorang penjual asongan. Perut yang melilit karena belum sarapan sedikit mereda. Ternyata memang benar sekira pukul 11.10 : “Rangkasbitung persiapan,” kata seorang pedagang asongan sambil tetap menjajakan dagangannya.

Perlahan kereta mendekati stasiun yang dibangun pada tahun 1900. Pemerintah kolonial membangun stasiun ini karena sejak jaman kolonial Rangkasbitung sudah dikenal sebagai daerah industri khususnya yang berbasis perkebunan. Kereta sempurna berhenti, diluar calon penumpang sudah berebut masuk. Kamipun sempat berdesakan mencari celah untuk turun. Kami keluar melintas jalan rel menuju kota. Sambil berjalan melihat kereta yang berhenti saya membayangkan bagaimana suasana stasiun ini tahun 1957 ketika Soekarno berkunjung. Stasiun bersejarah yang kondisinya memprihatinkan.

Bagi Anda yang ingin tahu dimana letak Rangkasbitung bisa melihat peta di bawah ini :


Catatan Perjalanan Jakarta-Rangkasbitung PP

Jakarta, 2 April 2010

Fathoni Arief

(Karena rumah yang selalu membuatku tegak adalah perjalanan dengan segala kisah dan serba-serbinya)


What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Semangat Pagi
Selamat pagi, lama juga saya tidak menulis di blog ini. Sambil menyeruput kopi hitam pahit saya ingin berbagi hal yang bisa saja Anda anggap penting atau tidak, soal alasan sesorang membuat blog.

Ada banyak alasan dan motivasi seseorang membuat Blog, mulai dari iseng-iseng saja, hobi nulis hingga ingin mendapatkan duit dari sini. Kalau saya sendiri alasan awal karena memang suka nulis dan ada begitu banyak hal yang ingin disampaikan meskipun di perjalanan tergoda juga menjadikan blog sebagai jalan mencari rezeki. Alasan yang terakhir ini mungkin ada yang menganggap "nyinyir", tapi jika itu sesuatu yang tak merugikan orang lain, dengan jalan halal kenapa tidak.

Rupanya, jika hanya bermotivasikan pingin dapat duit semangat ngeblog bisa flutuatif. Di awal-awal begitu semangat tapi di tengah perjalanan seperti kehabisan bahan bakar ngadat dan seringkali berhenti di perjalanan. Ada banyak blog saya yang gulung tikar karena alasan tersebut. Karenan memang jika hanya ingin mendapatkan duit ngeBlog memang bukanlah sesuatu yang instant, ada proses dan butuh waktu. Proses inilah yang jika niat awalnya tak sekedar mencari duit justru bisa membuka kesempatan lain mendapatkan banyak hal bermanfaat tak hanya sekedar duit saja.

Mungkin masih ada yang bertanya tanya apakah benar yang saya ceritakan di atas? 
Sekali lagi saya yakinkan percaya dengan cerita saya. Soal bagaimana ngeblog bisa mendapatkan duit anda pasti sudah pernah membaca beragam tulisan yang banyak beredar di jagad maya. Tapi bagaimana blog membuat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain inilah yang ingin saya bagikan.

Sekira setahun lalu saya membuat blog yang mengulas bagaimana belajar pemodelan 3D menggunakan Sketchup. Blog tersebut saya buat karena selama ini blog khusus yang membahas hal tersebut masih jarang, apalagi yang berbahasa Indonesia, apalagi yang gratis. Akhirnya dengan sedikit kemampuan Sketchup saya mulai menulis artikel dan tutorial sederhana tentang Sketchup. Bagaimana hasilnya? Ternyata sambutannya luar biasa. Ada banyak orang yang merasa terbantu dengan blog tersebut, merek bisa belajar Sketchup dengan gratis. Diantara mereka ada juga yang menghubungi saya, ingin kursus privat dan sebagainya, namun karena keterbatasan waktu sementara saya belum bisa memenuhi permintaan mereka. Satu hal yang pasti blog tersebut memberi kemanfaatan bagi banyak orang.

Satu lagi, pengalaman paling baru, blog pribadi saya ini. Blog ini saya buat sudah lumayan lama, sekira tahun 2007. Waktu itu saya masih getol-getolnya nulis, sampai-sampai apapun saya tulis dan posting. Salah satu postingan saya tentang sejarah di kota kelahiran saya, Tulungagung, rupanya dikunjungi oleh seorang yang sudah sepuh, kebetulan lahir di kota ini. Entah kenapa beliau tertarik sampai menelpon saya dan ingin berbagi pengalaman hidupnya sewaktu kecil. Pengalaman hidup saat peristiwa agresi militer tahun 49 itu dikirim lewat pos dan di lain waktu pasti akan saya bagi di blog ini.

Catatan Kisah Pengalaman Masa Kecil Pak Komsin


Satu kesimpulan saya ngeBlog bisa membuat Anda menjadi sesuatu. Pastikan sesuatu tersebut adalah yang bisa memberi kemanfaatan tak hanya bagi orang lain tapi juga Anda sendiri.

Karanggede, 18 Maret 2017
Fathoni Arief

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Tamansari Jogjakarta

Akhirnya saya memiliki kesempatan juga berkunjung lagi ke kompleks Taman Sari, Yogyakarta. Menelusuri sisa-sisa kemegahan peninggalan kraton Yogyakarta yang sebagian besar telah rusak. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya sekira dua tahun lalu yang begitu singkat kini saya lebih leluasa melihat bagian demi bagian kompleks bersejarah yang terus direnovasi.

Kerumunan orang di depan gerbang sebelah Timur kompleks Taman Sari menghentikan langkah saya. Ternyata sekelompok mahasiswa tengah mendengarkan penjelasan seorang pemandu wisata. Sekilas yang bisa saya tangkap ia bercerita tentang bahan bangunan yang digunakan untuk membangun dinding-dinding di belakangnya. Ia juga menuturkan kenapa warnanya kecoklatan. Menurut sang pemandu tembok Taman Sari terbuat dari campuran bahan bangunan yang disebut bligon berupa materi traditional coating yang terdiri dari campuran pasir, kapur, dan semen merah. Semen merah dibuat dari bata merah yang ditumbuk halus, sedangkan kapur yang digunakan adalah gamping. Asal mula warna kecoklatan tak lain akibat penggunaan bligon.

Hari ini memang bertepatan dengan libur. Tak mengherankan jika ada banyak pengunjung yang berdatangan. Mereka kebanyakan datang berkelompok. Namun ada juga yang hanya berdua. Pasangan muda-mudi berbekal kamera saku mencari tempat paling menarik untuk sekedar jeprat jepret. Diantara pengunjung tak hanya berasal dari wisatawan lokal saja nampak pula wisatawan manca negara.

Ketika melangkahkan kaki menuju pintu masuk beberapa orang petugas sudah menanti memeriksa tiket dari para pengunjung. Tiket masuk kompleks Taman Sari relatif ramah bagi kantong. Untuk pengunjung dari luar dikenakan biaya retribusi Rp.5000,- sedangkan bagi wisatawan lokal Rp.3000,-.

Dari pintu masuk di sisi Timur setelah melangkahkan kaki beberapa puluh langkah ada sebuah pintu lagi. Dari pintu tersebut terdapat anak tangga menurun. Nampak bangunan seperti kolam. Setelah mendekat ternyata memang terdapat 2 buah kolam nampak di kolam-kolam tersebut jamur-jamur buatan dan di pinggir kolam terdapat beberapa buah pot besar. Saya hanya bisa menduga-duga apa fungsi dari kolam tersebut meski pernah membaca artikel mengenai taman sari. Taman Sari dibangun di era pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758-1769. Tahun pembuatannya tertulis di atas gerbang dalam bentuk ukir-ukiran simbol. Bangunan dengan perpaduan gaya Portugal, Jawa, Islam, dan Cina.

Ketika asyik mengamati ornamen-ornamen bangunan sambil sesekali mengambil gambar seorang pemandu datang dengan tiga orang pengunjung. Pertanyaan saya terjawab sudah. Kolam ini dulunya berfungsi sebagai tempat pemandian bagi Sultan, istri , serta putri-putrinya. Namun meski demikian mereka tak mandi secara bersamaan antara putra dan putri. Untuk menjaga privasi kompleks ini dikelilingi oleh tembok yang cukup tinggi. Ternyata masih ada satu kolam lagi. Kolam tersebut terletak di balik menara di sebelah kiri saya. Di kolam yang lebih tertutup tersebut sultan mandi ditemani seorang selir yang telah ia pilih.

Setelah puas berkeliling kolam dan mengamati bagian-bagianya saya melanjutkan ke lokasi lain. Saya terus berjalan menuju Barat. Nampak sebuah pintu yang bentuknya mirip dengan yang ada di sisi Timur tempat saya masuk tadi. Seorang bapak-bapak menghentikan langkah saya.“Masih ada 3 lokasi lain lagi,” kata lelaki yang nampaknya seorang pemandu.

Lelaki tersebut menyebut beberapa nama tempat namun yang saya tangkap hanya masjid bawah tanah. Lokasi-lokasi yang katanya bagus buat diambil gambarnya. Saya hanya iya-iya saja. Lalu kembali melangkah.

Saya hanya menduga-duga kemana jalan menuju lokasi lain. Ketika ada dua orang bule menuju ke suatu lokasi sayapun mengikuti mereka melewati pemukiman penduduk. Entah kenapa bule tersebut berhenti dan kemudian berbalik arah. Namun saya terus apalagi setelah melihat sebuah gerbang besar. Di atasnya tertulis gerbang carik. Dari artikel-artikel yang pernah saya baca gerbang carik dulunya merupakan tempat bagi abdi penjaga.

Dari Gerbang carik saya terus melangkah mengikuti jalan lorong tersebut hingga tibalah di bangunan bertulis Gedung Madaran. Gedung ini merupakan dapur tempat menyiapkan makanan bagi Sultan. Ketika tengah asyik mengamati bangunan tersebut lagi-lagi lewat seorang guide dengan beberapa orang pengunjung. Mereka menuju ke lokasi dan saya mengikuti saja. Mereka tiba di Gedung Ledoksari. Konon di tempat inilah Sultan bersemadi dan berjumpa ratu pantai selatan.

Guide tersebut kembali melangkah diikuti dua orang pengunjung. Mereka melewati gang-gang diantara pemukiman penduduk. Sang pemandu bercerita tentang buah-buahan yang ditanam sewaktu kompleks ini masih berfungsi. Menurut kisahnya dulu ada beragam buah-buahan bahkan lengkap.

Pemandu tersebut melanjutkan kisahnya namun saya berjalan ke arah lain kembali ke depan. Saya menuju ke bangunan menjulang yang terlihat tiap kali berada di depan pasar Ngasem lama. Untuk menuju kesana sebelumnya kita harus melewati lorong yang cukup panjang. Diantara lorong-lorong tersebut ada bagian-bagian yang terbuka sehingga cahaya bisa masuk. Sayup-sayup terdengar suara alunan musik. Ternyata di sudut lorong sekelompok pemusik tengah beraksi memainkan aneka jenis lagu.

Tak jauh dari lorong tersebut terdapat masjid bawah tanah dan sisa reruntuhan gedung Pulo Cemeti, tempat perjamuan makan Sultan. Di puing-puing gedung pulo cemeti inilah kerapkali dipakai mereka yang hobi fotografi mengambil gambar dengan membawa model. Dari sini saya bisa mengamati beberapa bangunan lain tengah direnovasi.

Lumayan juga berjalan berkeliling kompleks taman sari. Kompleks ini awalnya memang menempati areal yang luas. Bayangkan ada 57 bangunan di tanah seluas 10 hektar. Bangunan yang sebagian besar rusak sejak gempa besar yang melanda pada 10 Juni 1867. Beragam bangunan seperti kebun, gapura, danau buatan, kolam pemandian, kanal air, juga masjid dan lorong bawah tanah akhirnya tak lagi berfungsi dan kawasan sekitar tersebut ditempati oleh para abdi dalem hingga sekarang.

Catatan Perjalanan, 6 Juni 2010


Fathoni Arief
What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.