Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Saturday, January 23, 2010



Hari makin mendekati senja. Sayangnya cuaca kurang bersahabat. Mendung semakin lama makin tebal. Hari menjadi semakin gelap. Kamipun tetap melanjutkan perjalanan ke lokasi yang lain. Abang penjaga warung menawari kami jasa ojeknya. Dengan harga bersahabat. Kami berempat dibonceng ke Karangtaraje dua kali.


Selama perjalanan si tukang ojek menawari kami agar bermalam saja di tempatnya. Menurut ceritanya kalau malam hari tempatnya ramai. Ada banyak pemuda yang ada disana. Kami menolak tawaran tersebut.Terkait dengan Karangtaraje selama ini sudah dicap sebagai lokasi mangkal para PSK. Sehingga tak mengherankan ketika kami mengutarakan maksud kesana bisa timbul fikiran yang macam-macam. Termasuk dengan si abang pemilik warung. Abang pemilik warung bahkan secara terang-terangan mengarahkan kami untuk turun di lokasi banyak PSK mangkal.

Friday, January 22, 2010



Dari lokasi penambangan emas kami melanjutkan perjalanan. Seperti rencana semula tujuan kami adalah ke jembatan yang terletak tak jauh dari muara sungai. Kami sudah membayangkan luar biasanya pemandangan yang akan kami dapatkan ketika menjelang senja.

Jalan yang kami tempuh tak lagi menyusuri pinggiran pantai. Ada begitu banyak kotoran manusia dan hewan yang cukup membuat kami jijik. Akhirnya kami mengambil jalan pintas melewati perkampungan nelayan. Suasana yang khas, banyak ikan hasil tangkapan dan ibu-ibu yang menjaga ikan-ikan yang nampaknya dijual. 

Tuesday, January 19, 2010


 
Selepas sholat Jumat kami tak langsung meninggalkan Masjid ini. Kami mencari tempat yang agak enak untuk sekedar istirahat sejenak tiduran meski hanya setengah jam hingga sejam. Rencananya kami bakal menuju jembatan yang terletak tak jauh dari pusat kecamatan Bayah. Dari jembatan tersebut kami bisa melihat perahu nelayan yang berjajar di pinggir sungai dan bersiap melaut.

Keputusan kami untuk istirahat sejenak di emperan masjid mempertemukan kami dengan seorang tukang bersih-bersih masjid. Bapak yang usianya di angka 50 tahunan tersebut sebenarnya juga bukan orang asli daerah sini. Kisah masa lalunya yang pahit membawanya tiba di masjid ini untuk menghapus segala kesalahan di masa lalu.

Kereta Rel Listrik (KRL) kini masih merupakan sarana transportasi yang favorit bagi masyarakat yang tinggal di daerah JABODETABEK. Pilihan ini terkait dengan tingkat ekonomis dan relatif lebih cepat jika dibandingkan dengan menggunakan sarana transportasi lain.

Sebagai gambaran betapa murahnya KRL untuk bepergian ke Bogor dari kota tiket termahal yang kita keluarkan adalam Rp. 11.000,-. Harga segitu jika kita naik kereta ekspress. Bandingkan saja jika harus memakai bis, atau angkutan. Bandingkan juga selisih waktu yang dihabiskan selama perjalanan.

Monday, January 18, 2010



Ada satu pepatah yang sering kita dengar terkait dengan Jakarta, “Sekejam-kejamnya ibu tiri masih lebih kejam ibu kota”. 

Sebagian orang mengamini pepatah tersebut dan faktanya dalam keseharian mereka mengalami kerasnya hidup serta berbagai hal yang akhirnya membuat mereka perlahan keluar dari kota ini. Namun tak sedikit juga yang tidak terpengaruh dengan pepatah dan berbagai kisah pilu di sini mereka berbekal mimpi berduyun-duyun memadati kota yang semakin sesak ini.

Lalu seperti apa Jakarta menurut pandangan saya? Dalam hati saya yang paling dalam tidak bisa mengingkari kota ini tidak senyaman Tulungagung tempat saya lahir, ataupun Yogyakarta kota dimana saya menuntut ilmu. Namun saya juga tidak bisa memungkiri disaat saya jauh dari kota ini ada satu kerinduan untuk kembali. Satu perasaan yang mungkin tak pernah saya rasakan sebelum 3 tahun yang lalu ketika memutuskan hijrah ke kota ini.

Sunday, January 17, 2010




Waktu sudah bergeser mendekati pukul 11 siang ketika angkot yang membawa kami mendekati Bayah. Total waktu tempuh dari Pelabuhan Ratu sekitar 3 jam. Sebenarnya jika kami tidak berhenti di sepanjang perjalanan waktu tempuh bisa lebih singkat lagi.

Perjalanan dengan menggunakan angkot inipun diakhiri di sini. Angkot berhenti agak jauh dari pusat kota. Menurut Kang Kus hal ini dilakukan untuk menghindari konflik dengan angkot lain yang sesuai trayek maklumlah seharusnya angkot yang kami naiki itu hanya sampai Citepus saja.


Pergantian tahun memang selayaknya disikapi dengan lebih bijak. Tak hanya sekedar suka-suka saja lalu tak tahu hendak kemana. Begitu pula dengan saya. Tahun baru ini saya mencoba menggenggam semangat baru dalam segala hal. Untuk lebih baik dari hari kemarin.

Salah satu yang coba saya angkat sebagai bagian dari perubahan adalah tampilan dari blog ini. Untuk menyegarkan kembali dan memberi motivasi dalam berkarya. Memacu semangat untuk menulis yang lebih bermutu dan bermanfaat saya mencoba merubah template dengan suasana baru. Suasana yang lebih cerah, bersih, bebas iklan (hehe) dan semoga setiap postingan dari blog ini bisa memberi kemanfaatan minimal bagi penulis sendiri.

Selamat Berkarya...

Tuesday, January 12, 2010



Angkot berwarna merah itupun melaju menyusuri jalanan di pinggiran pantai sekitar Pelabuhan Ratu. Di sepanjang jalan ada beberapa penumpang yang ingin naik. Kami mempersilahkan si sopir tetap membawa penumpang. Meskipun hanya beberapa tentunya lumayan buat tambahan baginya.

Nama sopir itu Kang Kus. Kami sempat mencatat nomor ponsel. Meskpiun ponsel itu bukan miliknya, ia tidak memiliki ponsel. Ia memanggil seorang rekannya dan kamipun mendapatkan nomornya. Nomor tersebut tentunya sangatlah berguna bagi kami. Nanti setiap saat kami berencana berkunjung ke daerah ini lagi bisa kembali menyewa angkot. 

Sunday, January 10, 2010


Tak terasa jam mulai mendekati angka 4, artinya sebentar lagi adzan Subuh. Saya lihat teman-teman nampaknya bisa tidur dengan nyenyak meskipun tanpa kasur yang empuk dan bantal yang nyaman. Sedangkan saya terus membolak-balikkan badan berusaha memejamkan mata namun susah sekali untuk sejenak terlelap. Saya memang dalam kondisi yang kurang fit hari ini.

Tak memaksakan untuk tidur saya bangun, membereskan barang-barang bawaan dan bersiap menjalankan Sholat Subuh. Satu persatu rekan saya juga mulai bangun dan bergantian mengambil air Wudhu guna menunaikan Sholat Subuh. Kami menjalankan Sholat Subuh berjamaah di masjid ini.



Anda yang sering bepergian menggunakan kereta Api Bangunkarta sejak 5 Desember lalu pasti merasakan ada yang beda. Coba saja amati dengan seksama! Kini kereta api ini tak lagi memiliki kelas bisnis. Sebelumnya kereta api ini terdiri dari sebagian besar kelas bisnis dan hanya memiliki 2 gerbong eksekutif per tanggal tersebut seluruh gerbong yang ada merupakan kelas eksekutif.

Menurut informasi yang saya dapat dari petugas stasiun di Tulungagung gerbong-gerbong kelas bisnis tidak begitu saja ditelantarkan. Gerbong tersebut kini dimanfaatkan oleh kereta baru kelas bisnis tujuan Tulungagung-Pasar Senen, Senja Jakarta. Sedangkan gerbong kelas eksekutif yang kini dipakai adalah eks gerbong kereta api Gajayana yang sudah diperbaiki lagi.

Friday, January 08, 2010




Bis yang kami tumpangi terus melaju. Beginilah nikmatnya melakukan perjalanan pada malam hari. Tak banyak halangan yang ada, tidak seperti saat siang hari. Bus bakal sering berhenti apalagi jika kondisi lalu-lintas sedang padat-padatnya.

Sepanjang perjalanan menuju Pelabuhan Ratu bis sekali berhenti. Di daerah bis ini berhenti cukup lama. Kurang lebih setengah jam bis berhenti. Kesempatan ini kami gunakan untuk mengendorkan otot-otot yang kaku dan menyempatkan diri memotret sekitar. Masing-masing dari kami membawa peralatan fotografi termasuk saya. Selain kamera digital SLR saya juga membawa video handycam yang merekam perjalanan kami sejak berangkat hingga nanti kembali. Memanfaatkan waktu saya juga menyempatkan mencari kamar kecil setelah cukup lama menahan kencing.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika kami sampai di terminal Baranangsiang. Setelah sebelumnya mampir dulu di Masjid yang berjarak sekitar dua ratus meter dari terminal. Nampaknya kali ini personel perjalanan, mungkin terlalu berlebihan jika saya sebut ekspedisi sehingga sebut saja perjalanan, hampir pasti bertambah menjadi empat orang. Beberapa saat yang lalu Agus sudah mengkonfirmasi temannya yang bakal bergabung sudah berada di Bogor sedang dalam perjalanan menuju terminal Baranangsiang.

Di terminal bis dengan tujuan Pelabuhan Ratu ternyata hanya tinggal 3 saja. Bis yang berada di barisan terdepan bahkan sudah berancang-ancang hendak berangkat. Kami nanti bakal naik bis terakhir.

Bis terakhir dengan tujuan Pelabuhan Ratu berangkat pukul sembilan malam. Tapi bagi calon penumpang harus berhati-hati juga. Sebelumnya harus memastikan apakah bis terakhir tersebut diberangkatkan atau tidak. Bis tersebut biasanya hanya akan berangkat jika jumlah penumpang yang naik mereka anggap memadai.

Thursday, January 07, 2010



Ternyata kereta yang kami naiki bukanlah kereta AC ekonomi namun kereta AC Ekspress. Untunglah penumpang penuh sesak jadi kemungkinan ada pemeriksaan karcis kecil. Kami bukanlah satu-satunya yang salah. Ternyata ada banyak penumpang yang asal naik. Untung saja kereta ini berhenti juga di beberapa stasiun sebelum Bogor tempat tujuan mereka.

Sekira 15 menit kereta mulai mendekati stasiun Bogor. Stasiun yang dibangun pada jaman kolonial tersebut ternyata masih dipenuhi calon penumpang yang akan naik dan para penumpang yang turun.

Sebenarnya ini sudah bergeser dari rencana awal perjalanan kami. Rencana awal kami (Fathoni Arief, Agus Sutikno dan Firdaus Sudarma) merencanakan perjalanan ke Bayah sore hari. Semula kami bakal berangkat siang dan transit dulu di Bogor sebelum melanjutkan ke Sukabumi dengan Kereta api Bumi Geulis. Kereta ini merupakan kereta komuter bisnis yang diresmikan akhir tahun lalu. Rute yang dilayani adalah Stasiun Bogor-Stasiun Sukabumi. Waktu tempuh reratanya 2 jam. Sebenarnya jalur ini hampir dua tahun berhenti difungsikan. Jalur ini difungsikan lagi setelah dilakukan perbaikan hingga dikategorikan layak. Kereta ini berangkat dari Sukabumi jam 05.00 dan tiba pukul 07.00 dan dari bogor berangkat jam 17.00 dan tiba 19.00.

Namun ternyata rencana harus berubah. Karena satu hal Agus ada kerjaan yang harus diselesaikan dulu sehingga tidak memungkinkan pulang siang hari. Tidak seperti Opi (Firdaus Sudarma) yang hari ini (24 Desember) kantornya sudah libur. Akhirnya kami membuat rencana lain. Kami berangkat dari lokasi masing-masing bertemu di Stasiun Bogor sekitar jam 7 malam. Agus dan saya kebetulan naik kereta yang sama sehingga hanya menunggu Opi saja. Opi berangkat dari rumahnya di daerah Bojonggede.

Menunggu Opi sambil mengisi perut yang kosong kami berdua masuk ke sebuah waralaba yang selama ini terkenal dengan donutnya. Sambil makan kami membahas rencana perjalanan, lokasi dan segala hal. Sekira 10 menit kemudian Opi sudah sampai naik kereta api AC Ekonomi, maka lengkaplah tim kami.

Bukan kali ini saja kami menjelajahi Bayah. Beberapa kali kami sudah pernah kesana. Diantara kami yang paling sering adalah Opi. Uniknya tiap kali kesana personelnya berubah-ubah kecuali Opi yang selalu ada. Setahun lalu saat libur panjang di bulan Agustus kami juga melakukan perjalanan ke Bayah. Saat itu juga bertiga namun orang ketiga bukanlah Agus namun Mohamad Iqbal seorang rekan yang jauh-jauh datang dari Cirebon.

Setahun lalu tujuan akhir kami adalah desa wisata Sawarna. Kami menginap di rumah mantan kepala desa almarhum pak Hubaya. Waktu itu perjalanan kami tidaklah sia-sia. Ada banyak cerita yang kami dapatkan. Satu yang paling menarik adalah pengalaman saya nyaris ditelan ombak. Pengalaman yang luar biasa tersebut sempat diabadikan kamera Opi. Jadilah gambar kebetulan namun luar biasa yang mampu membawanya jadi juara kedua lomba foto jejak petualang dan nongol di kumpulan foto majalah National Geographic edisi Indonesia.

Tentu saja kali ini ceritanya pastinya bakal berbeda. Selain personelnya berbeda kali ini kami berencana menjelajahi sekitar pusat kecamatan Bayah. Jika menempuh perjalanan melalui Pelabuhan Ratu sebelum Karangtaraje ada pertigaan. Jika kekiri menuju ke desa Sawarna sedangkan jika kenanan menuju Bayah.

Personel sudah lengkap dan kami bergegas berangkat. Namun sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggam Agus. Pesan singkat tersebut ternyata dari seorang rekan kerja Agus yang ingin ikut serta dalam perjalanan ini. Setelah berdiskusi sebentar kami memutuskan untuk menunggu sambil menanti kepastian keikutsertaan.

Setengah jam lebih kami menunggu. Karena belum ada pesan singkat balasan kami memutuskan berangkat lebih dulu untuk melaksanakan ibadah sholat di Masjid dekat terminal sambil menunggu.

Perjalanan dari Stasiun kereta Api menuju terminal Baranangsiang sebenarnya tidak terlalu jauh. Jika menggunakan angkutan umum paling hanya memakan waktu kurang dari 15 menit jika jalanan sedang lancar. Ongkos yang harus dikeluarkan per orang Rp. 2000,-. Cukup murah bukan? Daripada harus berjalan kaki.

Fathoni Arief



Bayah terkenal dengan salah satu tempat penambangan batubara. Untuk mengangkut batubara ini pada zaman penjajahan Jepang dibangun jalan kereta api dari Saketi ke Bayah yang berjarak sekitar 90 km. Pembangunan jalan kereta ini konon mengorbankan jiwa sekitar 93.000 orang romusha. Di Bayah juga pernah tinggal salah seorang tokoh pemikir republik yaitu Tan Malaka yang menyamar dengan nama Iljas Husein dan berperan besar dalam membantu para romusha. (id.wikipedia.org)

Waktu sudah mendekati senja ketika KRL kelas AC ekonomi tujuan Depok tiba di stasiun Pasar Minggu Baru. Kereta tersebut ternyata sudah disesaki oleh penumpang belum lagi ditambah dengan calon penumpang baru yang berlari dan berusaha masuk diantara penumpang yang sudah mulai berdesakan. Sayapun turut berlari melompat masuk di gerbong nomor tiga untung saja masih bisa masuk meskipun hanya bisa berdiri di dekat pintu dengan posisi berdiri yang kurang enak.

Tuesday, January 05, 2010



Bapak penjual penthol duduk di gundukan bekas bangunan. Perlahan dia menghisap rokoknya. Saya mendekati penjual penthol seperti biasa basa-basi sekedar mencairkan suasana dan memulai sebuah pembicaraan ringan.

Bapak tersebut bercerita banyak hal. Tentang jualannya dan bagaimana di menjajakannya. Setiap hari ia mangkal di sekitar jembatan di Brakan. Jika sedang laris sehari ia bisa menjual 300 butir penthol. Ia tak merinci apakah itu besar (harga 2000an) atau yang kecil (harga seribuan). Pagi-pagi dia mulai menjajakan hingga sekitar jam 7 malam. Kebanyakan pembeli adalah mereka yang menempuh perjalanan melewati jalan tersebut.

Selain mangkal di Brakan terkadang si Bapak berjualan di even-even tertentu. Misalnya ada acara wayang kulit, konser dangdut atau acara lain. Perbincangan kami terus mengalir meski terkadang terputus oleh adanya pembeli. Rupanya kali ini cukup laris. Setengah jam saya duduk sudah sepuluh pembeli yang datang.

Beberapa saat kemudian muncul penjual penthol yang lain. Dari box tempat menaruh dagangan terlihat nama yang sama.

“ Itu satu produk pak?”

“Iya. Itu punya saya juga,”

“Wow,”

Saya cukup kaget. Penampilan sekilas dari bapak tersebut hanya dengan sepeda butut ternyata usut punya usut ia sudah memiliki 12 box penthol atau ada 12 orang yang menjajakan penthol buatannya.Sekali lagi penampilan terkadang menipu.

Si Bapakpun cerita lebih banyak tentang dirinya. Sebenarnya biasanya ia berjualan dengan menggunakan sepeda motor. Namun karena hari ini bertepatan dengan libur tahun baru sepeda motor yang dia miliki dipakai oleh anak dan istrinya. Akhirnya ia mengalah dengan memakai sepeda mini.

Ada satu pelajaran yang membuat saya berdecak kagum. Si penjual penthol berkisah dulu sempat ada beberapa penjual lain yang menjual penthol dengan harga lebih murah. Mereka menjual penthol ukuran lebih kecil dengan harga Rp.500,- namun ternyata tidak bertahan lama. Saya baru menyadari ternyata pemilihan harga Rp.1000,- dan Rp.2000,- tidaklah asal.

“Ternyata semalam ada wayang kulit. Tapi sayang lokasinya jauh,”

Terdengar suara keras dari kiri saya. Suaranya yang nyaring membuat perhatian saya kini tertuju padanya. Suara itu bersumber dari seorang lelaki berambut putih, usianya sekira 70 tahun. Si bapak tua berbicara dengan seorang penarik becak motor, pria berkulit coklat terbakar berambut lurus berkumis agak tebal. “ Berceritalah lelaki itu tentang kisah wayang yang semalam ia ikuti”

Sambil ikut mendengarkan pandangan saya masih sempat memperhatikan pembeli penthol. Dan saya mencoba mengingat-ingat berapa jumlah pembeli 45 menit saya duduk disini. “Sudah 13 pembeli”

Si bapak tua bercerita kepada pengemudi bentor. Bermula dari wayang lama kelamaan pembicaraan bergeser tentang hal yang lebih religius. Intinya pembicaraan tersebut manusia itu harus dekat dan ingat dengan sang Pencipta, tentang pintu rejeki dan hal lain. Mendengar ucapan si bapak tua pengemudi bentor yang sedari tadi saya duduk belum mendapat penumpang hanya mengangguk-angguk membenarkan.

Sejenak pembicaraan mereka terhenti. Seorang lelaki turun dari bis. Ia membawa tas dan dua buah kardus yang nampaknya cukup berat. Langsung saja si pengemudi bentor menawarkan jasanya. Sempat terjadi tawar-menawar hingga entah berapa harga yang disepakati lelaki itu naik bentor tersebut. Sambil tersenyum pengemudi bentor mengucapkan terima kasih kepada si bapak tua. Perlahan iapun meninggalkan tempat saya berada.

Tak lama bentor tersebut pergi sebuah mobil travel berhenti. Mobil yang saya nanti untuk perjalanan berikutnya menuju Probolinggo. Dan saya berusaha mengupdate berapa jumlah pembeli penthol sejam sejak saya duduk. “ 18 orang pembeli dalam satu jam”.

Sayapun menaiki mobil travel menuju perjalanan dan kisah-kisah selanjutnya…

Kertosono, 1 Januari 2009

FATHONI ARIEF

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.