Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Sunday, December 30, 2007

Kemarin saya iseng-iseng browsing di internet secara ga sadar nemu tulisan saya di web Pontianak Post.

SURAT (Cerpen)

Oleh: Mochammad Fathoni Arief

Pantulan cahaya matahari terangi kedua mata itu. Keduanya berkilauan memancarkan cahaya dan seakan mengisyaratkan pesan bahwa ia adalah seorang yang serius dan berkarakter. Memang sorot itu setajam tatapan mata seekor singa yang selalu awas, siaga terhadap mangsa dan bahaya yang mengancamnya.



Lelaki pemilik sorot mata tajam itu sedari tadi terduduk tak bertenaga di sudut kampus yang sudah sangat lelah itu. Kampus tua yang harus mengatur puluhan ribu mahasiswa dari segala penjuru negeri dengan segala persoalan yang dihadapinya. Di tangan kanan lelaki itu masih dipegangnya megaphone. Ia pun masih memakai slayer warna hitam.



Sesaat, terlihat ia menarik nafas panjang, kemudian segera menyeka keringat yang bercucuran di wajahnya. Dari tas ransel yang tergeletak di sampingnya, ia keluarkan sebotol air mineral bermerek yang tinggal tersisa sebagian saja. Lelaki itu adalah bagian dari sekelompok mahasiswa yang beraksi di gerbang universitas tertua dan terbesar di negeri ini.

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Apresiasi&id=116266

Friday, December 28, 2007

Benazir_bhutto_02 All About Benazir Bhuto 1953-2007
www.Time.com
University Days

After obtaining a degree at Harvard in the United States, Bhutto (right) completed a course in International Law and Diplomacy at Oxford in England 1977, around the time this photo was taken.


Benazir_bhutto_02bLegacy
Bhutto's father, Zulfikar Ali Bhutto (shaking hands with Indira Gandhi in this 1972 photo; Benazir is to his left), was also Prime Minister of Pakistan. In 1977, however, he was charged with conspiracy to murder a rival, then imprisoned and executed.


Benazir_bhutto_01 Powerful Figure
Bhutto was the first woman elected to lead a Muslim state. She was twice elected as Prime Minister of Pakistan.




Benazir_bhutto_03 Triumphant Return
In the wake of her father's execution, Bhutto took over the leadership of his party, the Pakistan Peoples Party. In 1988, she was permitted to return to Pakistan from England where she had been waiting in exile.


Who Is Benazir Bhuto?

Benazir Bhutto (IPA: [beːnɜziːr bʰʊʈʈoː]; June 21, 1953December 27, 2007) was a Pakistani politician who chaired the Pakistan Peoples Party (PPP) (Urdu: پاکستان پیپلز پارٹی), a centre-left political party in Pakistan affiliated to the Socialist International. Bhutto was the first woman elected to lead a Muslim state, having been twice elected Prime Minister of Pakistan. She was sworn in for the first time in 1988 at the age of 35, but was removed from office 20 months later under the order of then-president Ghulam Ishaq Khan on grounds of alleged corruption. In 1993 Bhutto was re-elected but was again removed in 1996 on similar charges, this time by President Farooq Leghari.

Bhutto went into self-imposed exile in Dubai in 1998, where she remained until she returned to Pakistan on 18 October 2007, after reaching an understanding with President Musharraf by which she was granted amnesty and all corruption charges were withdrawn.[1]

She was the eldest child of former prime minister Zulfikar Ali Bhutto, a Pakistani of Sindhi descent, and Begum Nusrat Bhutto, a Pakistani of Iranian-Kurdish descent. Her paternal grandfather was Sir Shah Nawaz Bhutto, who came to Larkana Sindh before partition from his native town of Bhatto Kalan, which was situated in the Indian state of Haryana.

She was assassinated on 27 December 2007, in a combined suicide bomb attack and shooting during a political rally of the Pakistan Peoples Party in the Liaquat National Bagh in Rawalpindi.[2] Ex-government spokesman Tariq Azim Khan said that, although it appeared that she had been shot, it was unclear whether her wounds had been caused by a shooting or shrapnel from the bomb. Eyewitnesses to the assassination stated to various news agencies that Ms. Bhutto had stood up through the sunroof of the white Toyota Land Cruiser that ferried her to the rally[2] to wave at supporters who were cheering her. It is then that a "thin man" on a motorcycle, carrying an AK-47 rifle, fired two shots, one into Bhutto's neck, and she fell back into the vehicle.[3] After this, the assailant proceeded to detonate an explosive which resulted in the deaths of himself and at least 22 others, while many others were injured. Bhutto was rushed to Rawalpindi General Hospital where she died at 6:16 p.m. (Pakistan local time) (1316 UTC). The gunshot to the neck was reported as the cause of death, according to the Pakistani Interior Ministry.[3]

Wikipedia

Reach Gloria Estefan

Some dreams live on in time forever
Those dreams, you want with all your heart
And Ill do whatever it takes
Follow through with the promise I made
Put it all on the line
What I hoped for at last would be mine

If I could reach, higher
Just for one moment touch the sky
From that one moment in my life
Im gonna be stronger
Know that Ive tried my very best
Id put my spirit to the test
If I could reach

Some days are meant to be remembered
Those days we rise above the stars
So Ill go the distance this time
Seeing more the higher I climb
That the more I believe
All the more that this dream will be mine

If I could reach, higher
Just for one moment touch the sky
From that one moment in my life
Im gonna be stronger
Know that Ive tried my very best
Id put my spirit to the test
If I could reach

If I could reach, higher
Just for one moment touch the sky
Im goona be stronger
From that one moment in my life
Im gonna be so much stronger yes I am
Know that Ive tried my very best
Id put my spirit to the test
If I could reach higher
If I could, if I could
If I could reach
Reach, Id reach, Id reach
Id reach Id reach so much higher
Be stronger

John Powell

"I will not surrender responsibility for my life and my actions."

Tuesday, December 25, 2007

Rinduku, Selaksa
Menunggu Senyum Mentari,
Menunggu Desir Angin,
Selepas Kemarin Angin Malam Berhembus Entah Kemana?
Meski Sebenarnya Aku Juga Tahu Dimana Berhembusnya..

Kalibata 24 Desember 2007

Di Tempat Jauh Sang Elang Menunggu Sapa Yang Tak Pernah Ada
Rindu Yang Berubah Jadi Sepi

Monday, December 24, 2007

"Love builds bridges where there are none."
--R. H. Delaney--

Saturday, December 22, 2007

Gunung Budheg Tulungagung

Di desa Boyolangu, kecamatan Boyolangu, kabupaten Tulungagung ada sebuah bukit yang oleh warga di sana disebut sebagai gunung Budheg atau ada sebagian lagi yang menyebut gunung Cikrak. Menurut cerita turun temurun ada satu legenda yang menjadi asal mula adanya gunung itu.

Berdasarkan kisah yang diambil dari babad Kabupaten Tulungagung di Bethak, Bedalem ada satu kadipaten yang memiliki puteri cantik jelita bernama Rara Ringgit. Pada suatu hari Rara Ringgit melarikan diri dari kadipaten karena dikejar-kejar oleh Adipati Kalang, seorang Adipati yang sebenarnya juga tengah bersemunyi di Bethak Bedalem karena kalah perang dengan musuhnya Adipati Katong dari Ponorogo.

Menghindari kejaran Adipati Kalang hingga membuat Rara Ringgit harus pontang panting bersembunyi. Pada suatu hari ia bersembunyi ke rumah seorang Janda untuk meminta perlindungan. Pada waktu itu janda pemilik rumah tak berada di rumah. Yang ada disana hanyalah anak semata wayangnya yang bernama Jaka Bodho. Rupanya paras ayu nan elok Rara Ringgit membuat Jaka Bodho terpesona hingga ia mengutarakan keinginannya untuk menjadikan rara Ringgit istrinya.

Rara Ringgit termasuk sosok yang bijaksana. Meskipun dalam hati menolak namun ia tak ingin menyakiti Jaka Bodho. Maka ia mencari-cari cara terhalus untuk menghindari Jaka Bodho. Rara Ringgit akhirnya memberi persyaratan pada Jaka Bodho bahwa dia bersedia jadi istri dan melayaninya asal Jaka Bodho mampu berpuasa bisu selama 40 hari. Ternyata persayaratan tersebut disetujui oleh Jaka Bodho.

Jaka Bodho akhirnya menjalani lelaku puasa bisu sebagai persyaratan yang diajukan oleh Rara Ringgit. Suatu hari saat sedang menjalani puasa bisu Mbok Randa ibunya kembali. Mbok Randha menyapa anak semata wayangnya dan berkali-kali namun tak sepatah katapun keluar dari mulut Jaka Bodho. Akhirnya Mbok Randha merasa sakit hati dengan tingkah laku anaknya tersebut dan tanpa diduga ia mengeluarkan perkataan ” Anak ditanya orang tua kok bisu, kaya batu saja,” Dari perkataan Mbok Randha itu tiba-tiba Jaka Bodho berubah menjadi batu. Mbok Randha menyesali ucapannya yang ternyata menjadi kenyataan itu namun nasi telah menjadi bubur semuanya tak bisa kembali. Untuk menghilangkan penyelasalannya maka batu itu dipindahkan keatas gunung yang sekarang disebut sebagai gunung budheg (tuli). Dan ada pula yang menyebut gunung cikrak karena bentuk batu tsb menyerupai cikrak (alat untuk membuang sampah).
Dari Berbagai Sumber

Thursday, December 20, 2007


1. Hukum shalat Hari Raya adalah sunnah
2. Disunnahkan mandi sebelum berangkat ke masjid
3. Memakai pakaian yang bagus
4. Disunnahkan sarapan sebelum shalat Idul Fitri dan tidak sarapan ketika Idul Adha
5. Bagi imam disunnahkan mengundur sedikit pelaksanaan shalat idul fitri untuk
menyelesaikan zakat fitrah dan disunnahkan menyegerakan pelaksanaan shalat Idul Adha untuk segera menyembelih qurban.
6. Hendaknya berjalan kaki sambil bertakbir terus-menerus mulai
berangkat dari rumah hingga tiba di masjid
7. Shalat Idul Fitri dan Idul Adha dikerjakan sebelum khutbah

8. Tidak ada adzan dan iqamah dalam shalat Hari Raya
9. Shalat Id dilakukan dua rakaat, pada rakaat pertama diawali dengan takbiratul ihram dan
7 kali takbir. Raka'at kedua membaca rakbir sebanyak lima kali (selain takbir saat berdiri)
10. Di antara dua takbir boleh membaca tasbih, tahmid dan shalawat, sebagaimana riwayat dari I
bnu Mas'ud RA
11. Pada setiap takbir mengangkat kedua tangan
12. Bacaan surat setelah fatihah pertama adalah surat Qaf dan rakaat kedua adalah surat al
-Qamar. Selain itu Rasulullah SAW terkadang membaca surat al-A'la pada rakaat pertama dan al-Ghasiyah pada rakaat kedua
13. Disunnahkan melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulangnya
14. Hendaknya semua mulim, laki-laki. perempuan, anak-anak, dewasa, maupun orang tua keluar
ke masjid untuk mendengarkan khutbah sebagai syiar Islam. bagi wanita yang haid maka disediakan tempat husus diluar masjid untuk mendengarkan khutbah
15. Apabila khatib lupa tidak bertakbir sebanyak 7 kali (setelah takbiratul ihram langsung
membaca Fatihah) atau tidak bertakbir pada rakaat kedua sebanyak 5 kali, maka shalat tetap sah dan tidak perlu sujud sahwi.

Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

"Maka Dirikanlah Shalat Karena Tuhanmu dan Berkurbanlah" (QS, 108:2). Selamat Hari Raya Idul Adha 1428 H

Wednesday, December 19, 2007

Awan bergoyang, pohonan bergoyang
antara pohonan bergoyang malaikat membayang
dari jauh bunyi merdu loceng loyang

Sepi, syahdu, rindu
candu rindu, ghairah kelabu
rebahlah, sayang, rebahlah wajahmu ke dadaku

Langit lembayung, pucuk-pucuk daun lembayung
antara daunan lembayung bergantung hati yang ruyung
dalam hawa bergulung mantera dan tenung

Mimpi remaja, bulan kenangan
duka cinta, duka berkilauan
rebahlah sayang, rebahkan mimpimu ke dadaku

Bumi berangkat tidur
duka berangkat hancur
aku tampung kau dalam pelukan tangan rindu

Sepi dan tidur, tidur dan sepi
sepi tanpa mati, tidur tanpa mati
rebahlah sayang, rebahkan dukamu ke dadaku.

~ W.S Rendra

Tuesday, December 18, 2007

SALAM PAGI BUAT SEMUA...

Memulai satu hari baru dengan sebuah semangat baru..Yakinlah Semuanya Berawal Dari Spirit Pagi..

Winston Churchill

"I never worry about action, but only about inaction."


"Aku tiada tahu apa-apa, di luar yang sederhana
Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dinihari
Serta keabadian mimpi-mimpi manusia

Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari "


(Ibu kota Senja, Toto Sudarto Bachtiar)

Waktu memang berjalan dengan begitu cepat. Tak terasa sudah hampir setengah tahun aku berada di Jakarta. Menjadi bagian dari jutaan orang yang mengadu nasibnya ke ibu kota. Jakarta, satu nama mengundang jutaan manusia setiap tahunnya.

Macet, bising suara klakson, asap kendaraan, gelandangan kota, serta udara panas menyengat seperti menjadi hal biasa yang pasti akan kutemui tiap kali keluar dan berkeliling Jakarta. Satu hal yang dulunya begitu kubenci, jangankan macet satu, dua kilometer, macet seratus dua ratus meter yang terkadang terjadi di sudut kota Jogja sudah membuatku penat, stress dan memilih turun untuk berjalan kaki. Memang harus kusadari bagaimanapun Jakarta bukanlah Jogja dimana jauh atau tidaknya tempat parameternya adalah jarak. Jakarta bukanlah Jogja dan juga sebaliknya.

Jakarta dengan sejuta mimpinya....tak pernah membuat jera para pendatangnya. Jakarta oh Jakarta...terkadang aku juga heran tiap kali melihat sisi lain dari kota ini. Heran bercampur dengan iba dan tentu saja iba saja tak cukup di kota ini untuk berbuat sesuatu. Ada begitu banyak hal yang terkadang harus mengalahkan iba, sesuatu yang dulunya kuanggap sebagai tindakan tak berperasaan. Tapi aku banyak belajar di Jakarta iba saja tak cukup.

Entah kenapa saat ini aku sudah merasa menjadi bagian dari ibu kota senja..meski terkadang yang kualami persis seperti puisi Toto Sudarto,
Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan .Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dinihari .Serta keabadian mimpi-mimpi manusia.Klakson dan lonceng bunyi bergiliran. Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari . Ya inilah Jakarta, tempat dimana saat ini aku merantau. Meraih mimpiku, untuk bisa berbuat lebih banyak lagi meski tak bisa kupungkiri ini juga sebagai pelarian untuk menghapus satu lembaran pahit yang tak ingin kukenang itu.

Gadis kota

Gadis kota tersenyum kecil..
Kuning langsat kulit terlihat bersih dari asap knalpot dan pabrik yang mengurung kota..
Berlapis lapis topeng coba tutupi satu aura di parasmu..
Topeng bernama glamor metropolitan di lapisan pertama
Dibelakangnya sorak sorai modernisasi ...

semua mengikuti melekat erat di topengmu

Auramu masih terpancar..sedikit berita terakam dalam anganku jangan-jangan
ah yang terlihat kau memang sebagian sosok kecil yang terlindas kota..
Dengan Mode, gaya hidup dan tak lupa sebatang rokok yang kau hisap dalam diammu..
Agama..Tuhan..Semuanya hanya ada saat kesusahan menerpa..
Ah itu hanya pandangan burukku..
Satu aura terus berusaha meyakinkanku..semua yang kulihat hanya topeng dari ketidakmampuanmu menahan gejolak mtropolitan..

Sapamu dalam perjumpaan singkat..
Kau masih secantik dulu kukira saat kau sebut namamu dengan malu-malu pada satu waktu di sudut kota..

Apakah kau tidak lelah dengan semua itu?
Aku bertanya padamu meskipun aku sendiri juga terlanjur menganggap metropolitan sebagai candu..
kau tersenyum..bibirmu masih terlihat indah meski asap rokok bertubi tubi melewatinya
Enggan ku bertanya apakah kau tidak bosan dengan semua itu..
atau mungkin pertanyaan itu tak akan pernah kuucap jika pertemuan menghadapkanmu padaku..
Satu aura itu menglahkan semua dan membuatku tertuju pada satu kesimpulan dibalik topengmu..dibalik asap rokok yang menyelimutimu..Kau Gadis Kota Tercantik Yang memaksa ku berkata "aku terpesona"...
Meski dibelakang semua ancaman kota mulai mengerubungi dan menyekapku...


MF. Arief



Selamat Jalan Pahlawan!

Sudah lebih dari lima bis kota melintas di depanku. Bis-bis tua yang sudah sangat kelelahan dan seringkali terbatuk-batuk. Jika saja bisa bicara mungkin mereka akan teriak-teriak minta segera dipensiunkan. Hasil keluaran dari kendaraan yang sudah uzur itu dari tahun-ke tahun makin memperburuk kualitas udara di kota budaya ini. Selain bis tua itu juga kulihat lalu-lalang sepeda motor, mobil dan terkadang beberapa mahasiswa yang jalan kaki

Sudah setengah jam lebih aku berdiri di sudut kampus ini. Di dekat sebuah gerbang universitas yang baru saja selesai pembangunannya kira-kira sebulan yang lalu. Gerbang yang begitu gagah, anggun, megah dengan karakter kuat yang ditunjukkannya. Bangunan baru yang menghiasi universitas negeri tertua di negeri ini.

Bangunan dengan struktur yang terbuat dari beton dan pipa-pipa baja ini memang disusun dengan sedemikian rupa. Dominasi garis dan bentuknya yang menyerupai candi memunculkan kesan unik tetapi futuristik. Setidaknya ketika orang melihat gapura ini akan memandang Universitas yang memilikinya adalah sebuah lembaga yang penuh dengan ciri khas tetapi punya wawasan kedepan. Tak tahu secara pasti biaya yang dihabiskan untuk membangun hingga seperti ini. Jika diamati sekilas untuk membangun gerbang ini setidaknya uang hampir dua miliar rupiah harus dikeluarkan. Sebuah harga wajar di satu sisi jika melihat hasilnya.


Beberapa meter dari tempatku berada duduk seorang tukang becak, ia nampak sedang memandang kedepan menembus batas lamunannya. Apakah yang sebenarnya sedang dia fikirkan? Apakah kenaikan bahan bakar minyak atau bakal naiknya tarif dasar listrik? Memikirkan sepinya penumpang karena hampir semuanya kini telah memiliki sepeda motor atau mobil? Atau mungkin berfikir tentang anak-anaknya nanti bisakah melanjutkan kuliah di universitas ini? Semua hanya dugaanku hanya dia dan Tuhan yang mengetahuinya.


Tak jauh dari tukang becak itu mangkal, duduk seorang pelukis jalanan yang tengah asyik membuat karya-karyanya. Ciri khas dari kota pelajar, kota budaya begitu banyak seniman jalanan yang tertebar di sana. Lelaki yang sudah tua renta itu nampak masih sangat kuat dan segar bugar. Ketertarikanku memaksa langkah kakiku mendekati lelaki tua itu. Dia terus saja melukis, saat melihatku datang dengan ramah dia persilahkan aku duduk dan kembali meneruskan pekerjaannya. Bapak tua ini kutaksir usianya kira-kira mendekati delapan puluh tahun hal yang luar biasa bagi orang seusia itu. Lukisan-lukisan hasil karyanya dipajangnya di pagar besi kampus tua ini..

"Maaf pak boleh saya numpang lihat!", tanyaku.

"Ya nak silahkan duduk, maaf bapak sambil melanjutkan kerjaan ya!", begitu jawab lelaki tua itu.

Kuamati satu demi satu lukisannya, diantara lukisan-lukisan itu kebanyakan temanya pertempuran. Ya dari sepuluh yang ia pajang tujuh diantaranya bertemakan pertempuran. Sebuah lukisan yang kini sedang ia selesaikanpun juga bertema serupa. Sebuah lukisan tentang seorang anak yang berusia belasan tahun yang tergeletak di dekat sebuah saluran, ada luka yang cukup parah di dada sebelah kirinya. Tak jauh dari lelaki muda itu lewat beberapa orang tentara di antara sebuah kendaraan perang Belanda.

"Lukisan tentang apa pak?" aku coba tanyakan cerita yang dikandung dalam lukisan yang tengah diselesaikannya.

"Dia seorang anggota tentara pelajar yang terluka parah dalam sebuah pertempuran", bapak tua itu termenung dan matanya mulai berkaca-kaca. Sesaat kemudian ia termenung sambil menghisap sebatang rokoknya.

"Bapak dulu juga anggota tentara pelajar?", tanyaku.

Ia hanya mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata. Kemudian mulai cerita lagi tentang sosok dalam lukisan itu. Menurut ceritanya lelaki yang ada dalam lukisan itu adalah salah satu rekannya sesama tentara pelajar.

"lalu bagaimana nasibnya pak?", tanyaku.

"Dia terlambat diberi pertolongan. Dia gugur sebagai salah satu putra bangsa yang mempersembahkan jiwa dan raganya buat ibu pertiwi", bapak tua itu seakan kembali akan kenangan-kenangan sekitar tahun empat puluhan.


Korps tentara pelajar merupakan salah satu barisan pejuang yang mencoba mempertahankan kemerdekaan. Dari namanya bisa ditebak anggotanya juga terdiri dari para remaja yang masih belia dan berusia belasan tahun. Markas besarnya sendiri dulu berada di kota ini; Yogyakarta. Tentara pelajar adalah satu diantara barisan-barisan pejuang yang ada saat itu selain tentara pelajar ada juga laskar Hisbullah, kakekku adalah satu anggotanya dan gugur dalam peristiwa sepuluh November sembilan belas empatpuluh lima. Kakekku bagian dari puluhan ribu pejuang yang darahnya membasahi kota Surabaya.


Aku kembali mengamati lukisan bapak itu yang lainnya. Satu demi satu ia ceritakan dan banyak diantaranya yang dia alami sendiri. Ada yang bercerita tentang agresi militer Belanda kedua, pertempuran di daerah kota Baru, peristiwa perebutan kota Yogyakarta lewat serangan kilat sebelas Maret hingga pertempuran lainnya yang tak kalah menyimpan kisah kepahlawanan.


Bapak tua itu kini telah melukiskan lukisan tentara pelajarnya. Kini ia menaruh kuasnya kemudian mengambil sebatang rokok kretek sambil melepas lelah ia menghisap sebatang rokok lintingan sendiri yang hanya tersisa setengah bagian. Dari tas usangnya ia keluarkan sebuah botol bekas air mineral yang terisi air teh.

"Mau teh nak?", ia menawariku, dengan halus aku menolak dan mempersilahkannya menikmati tehnya.

Topi yang sedari tadi ia pakai kini dilepasnya dan digunakan sebagai kipas untuk mengurangi rasa panas yang diakibatkan teriknya sinar matahari dan tingkat polusi udara yang sudah cukup parah di kota ini. Rambutnya sudah putih dan mulai jarang tapi tubuhnya masih tetap kelihatan segar bugar.

"Sudah lama berjualan lukisan pak?", tanyaku pada pelukis tua itu.

"Ya sudah lama nak ya hampir lima puluh tahun lebih kira-kira sejak penyerahan kedaulatan penuh oleh Belanda semenjak Republik Indonesia Serikat berubah menjadi negara kesdatuan republik Indonesia", jawabnya.

Bapak itu kini mulai bercerita tentang awal mula dia menggeluti dunia seni lukis ini, tentang keluarganya dan semua kisah hidupnya. Bapak itu kini punya tiga orang anak, sebelas cucu dan dua puluhlima cicit. Dari hasil membuat lukisan ketiga anaknya kini semuanya menjadi orang-orang yang cukup mapan dengan karirnya masing-masing.

"Anak-anak saya kini sudah sukses dengan kehidupannya masing-masing", ujar bapak itu dengan sebuah senyuman yang terpancar dari wajahnya.

Ketiga putra penjual lukisan itu memang telah menjadi orang semua. Anak yang pertama menjadi pengusaha rumah makan dan saat ini tinggal di kota Solo dengan anak-anaknya yang sudah besar dan berkeluarga semua. Anak yang kedua tinggal di kota ini menjadi dosen di sebuah Universitas tertua bahkan sempat juga meneruskan studi dari beasiswa pemerintah ke negeri Belanda. Ia seorang ahli dalam bidang teknologi keairan. Anak yang ketiga menjadi seorang guru SMU di kota Surabaya. Cucunya dari putera ke tiga ini ada yang menjadi seorang perwira muda lulusan akademi angkatan laut.

Ada satu hal yang membuatku keheranan setelah mendengar semua cerita dari bapak itu. Kenapa ia masih saja mau berjualan lukisan di usianya yang sudah sangat tua renta ini.

"Bapak sekarang tinggal dengan siapa?", tanyaku keheranan

"Saya tinggal sendiri sudah sejak lima tahun yang lalu istri saya meninggal. Terkadang pada akhir pekan cucu-cucu saya datang dan menginap di rumah", begitu jawabnya.

Llalu kenapa dalam usia setua ini masih saja berjualan dan melukis tidak istirahat dan santai-santai dirumah saja?

Apakah anak-anak anda menelantarkan bapak?", tanyaku sekali lagi mencari tahu jawaban dari tanda tanya yang besar itu.

Bapak itu diam sebentar kemudian mengambil botol air mineral yang isinya masih tersisa dua pertiga bagian itu. Setelah minum dia mengambil sebungkus tembakau dan selembar kertas linting yang terselip di tasnya. Dengan cekatan ia meracik sendiri rokok lintingannya kemudian ia nyalakan dan hisap perlahan-lahan. Lelaki tua itu tidak langsung menjawab pertanyaanku kini ia cerita tentang keadaan dirinya dan rekan-rekannya lama setelah kemerdekaan. Nasib mujur baginya, dengan berbekal kemampuan untuk menghasilkan karya-karya lukisan ia mampu mengais rezeki yang lumayan. Bahkan sempat pula ada yang membeli lukisan-lukisan dengan harga yang tak pernah ia bayangkan. Dari hasil itu ia sedikit demi sedikit mampu menabung dan akhirnya membeli sebuah rumah di sebuah daerah di Yogyakarta. Dengan hasil karya-karyanya ia membiayai sekolah anak-anaknya hingga bisa seperti saat ini. Saat masih muda bahkan ia sempat mengunjungi beberapa negara di eropa dalam sebuah misi kebudayaan. Dia banyak cerita tentang kota-kota budaya di eropa bahkan dia sempat juga mengunjungi berbagai museum terkenal diantaranya museum Van Gogh dan melihat secara langsung ratusan hasil karya sang maestro seni lukis itu.

"Saya sangat bersyukur. Diantara mantan pejuang nasib saya paling baik", ujarnya

Dia kembali bercerita kini tentang rekan-rekan seperjuangannya. Diantara mereka ada yang nasibnya baik seperti apa yang dia alami tapi banyak juga yang hidupnya sangat terlunta-lunta hingga hari-hari terakhir hidupnya. Ada rekan seperjuangannya yang hidup di daerah kumuh di bagian kota ini yang sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal karena tidak punya ongkos untuk berobat dan telah lama ditinggalkan keluarganya. Ada pula yang sampai saat ini harus bersusah payah menajdi seorang pengayuh becak. Bapak itu sesaat terdiam dan meneteskan air mata.


"Sebenarnya anak-anak dan cucu saya memaksa untuk berhenti. Mereka begitu perhatian dan bahkan tidak menelantarkan saya namun dengan kondisi badan yang masih sehat seperti ini rasanya saya tak sanggup untuk hanya sekedar berpangku tangan dari pemberian orang lain meskipun itu anak-anak saya. Terlebih jika melihat kondisi rekan-rekan seperjuangan yang hingga kini masih berjuang untuk menyambung hidup mereka. Saya ingin meninggalkan dunia juga sebagai seorang pejuang", kata bapak itu.

Pembicaraan yang tak terasa telah berlangsung hampir dua jam itu berhenti dengan adanya seorang asing yang melihat-lihat lukisan bapak tua itu. Satu hal yang membuatku kaget beliau ternyata sangat fasih berbicara dalam bahasa Belanda.

Waktu terus berjalan aku teringat tentang keraguanku dalam memilih jalan hidup yang akan kutempuh selama ini yang ada difikiranku adalah materi dan penghargaan. Aku bimbang memilih antara mengambil beasiswa sekolah lanjutku ke luar negeri atau menerima tawaran bekerja di sebuah perusahaan terkenal.

Kulangkahkan kaki menuju sebuah halte bis yang terdapat tak jauh dari tempatku berada. Sebuah bis kota warna oranye berhenti di depanku. Melihatku yang masih berdiri awak bus itu teriak dan menarik badanku. Aku segera melompat masuk kedalam bis itu. Bis dalam kota inipun segera melaju dengan begitu kencang seperti tengah beradu balap di sirkuit balap. Sesuatu yang seringkali membuatku sumpah-sumpah tak akan menggunakannya lagi tapi nyatanya kini aku tetap menggunakannya. Aku menyadari apa yang mereka lakukan adalah sebagai bentuk perjuangan mereka demi mencari sesuap nasi buat keluarga mereka.


*****


Lima tahun sudah aku meninggalkan kota budaya ini. Sebuah pilihan yang kuambil menjadi seorang pendidik; aku kini dosen di Universitas ini. Keputusan yang bulat tak lagi sebuah keterpaksaan. Sebuah pengabdian, benar-benar ingin memberi hal yang terbaik. Berjuang lewat ilmu pengetahuan membantu melahirkan putra-putra terbaik bangsa yang lain.

Memang perpisahan yang cukup lama membuatku kangen dengan suasana kota ini. Saat pertama kali datang dari bandara hal yang teringat olehku adalah bapak penjual lukisan tersebut. Semua cerita yang dulu diberikan bapak tua pelukis tentang eropa ternyata benar. Aku membuktikan sendiri tentang kunjungannya ke museum Van Goh dan semua paparannya tepat.

Tujuan pertama adalah sebuah bundaran di kampus tertua di negeri ini. Bundaran kini telah banyak berubah.walaupun masih ada yang tetap sama. Tukang becak yang biasa mangkal disini masih saja di posisinya yang dulu. Cuma kini tak lagi terlihat bis-bis kota yang berjalan bagaikan disirkuit balap dengan asapnya yang mirip kompor berjalan itu. Aku tak mendapati bapak tua penjual lukisan itu. Mungkin saja beliau memang tak jualan hari ini.

Taksi yang membawaku terus saja melaju menuju tempat tinggalku. Di sebuah jalan yang dulu katanya tempat tinggal bapak tua penjual lukisan kulihat iring-iringan kendaraan dan nampaknya banyak terdapat orang-orang berseragam. Sebuah pemakaman militer.

Dari beberapa sumber yang kudapat setelah beberapa hari kedatanganku ternyata bapak tua itu telah meninggal dunia. Beliau terserempet sebuah mobil pick up saat menyeberang di sebuah jalan kecil didekat rumahnya. Beliau mungkin kini bisa tersenyum dia meninggal dengan cara yang lebih terhormat sebagai kisah perjuangan sampai akhir hayat. Bapak tua itu mungkin masih saja bersyukur jika melihat rekan-rekannya sesama pejuang yang meninggal dengan cara tak terhormat dan penuh dengan kesia-siaan. Mungkin saja beliau kini sudah bisa tersenyum mampu memberikan persembahan terbaik hingga akhir hayat buat ibu pertiwi tercinta. Menjadi tanggung jawab buatku meneruskan perjuangan mereka ,-walaupun tak lagi harus dengan memikul senjata-, hingga darah yang mereka tumpahkan tak sia-sia.

"Selamat Jalan Pahlawan!".

Eko (bukan nama sebenarnya) mulai mencari posisi yang pas untuk bisa beraksi di tengah-tengah penumpang bus AKAP (bus antar kota antar provinsi) jurusan Yogyakarta-Surabaya. Sesaat kemudian lelaki dengan rambut agak gondrong, perawakan kurus dan tinggi kira-kira seratus enam puluhan itu mulai menyapa para penumpang. Dengan gaya bicara yang ceplas-ceplos, penuh dengan canda dan sangat cuek ia mulai memperkenalkan dirinya.


Pengamen yang satu ini memang tak seperti kebanyakan rekan-rekan seprofesinya yang lain. Biasanya yang namanya pengamen hampir semuanya membawa alat musik. Eko tak memainkan musik atau menyanyikan lagu. Ia memainkan kata-kata yang ditampilkannya dalam puisi. Eko memang seorang pembaca puisi jalanan dan selalu sendiri dalam melakukan aksi pertunjukkannya.


"Pengamen lagi pengamen lagi. Lagi-lagi datang pengamen datang pedagang. Mungkin itulah yang saat ini sedang anda katakan dalam hati. Anda tidak bisa mengelak ini adalah sebuah resiko jika anda naik kendaraan umum kelas ekonomi. Mau tak mau anda harus terima keberadaan kami para seniman jalanan", kata-kata pembuka yang ia sampaikan sebelum ia memulai aksi solonya.


Lelaki berusia kira-kira dua puluh tahunan itu segera mengeluarkan selembar kertas dari kantong celananya. Dibukanya lipatan kertas yang sudah mulai lusuh itu dan mulailah ia membaca puisi-pusinya

"Puisi yang saya bacakan ini semoga mampu menemani perjalanan anda menuju kota pahlawan Surabaya", seniman jalanan itupun mulai terbawa dalam suasana pusi-puisinya.


Saat sang seniman membacakan puisinya nampak respon yang berbeda ditampilkan oleh para penumpang. Ada yang terdiam, ada yang tersenyum, ada yang biasa-biasa saja seakan tak mendengar apa yang sedang dibaca. Entah apa yang sebenarnya dirasakan dalam hati para penumpang tapi yang jelas puisi yang ditampilkannya cukup memikat.


Mengakhiri aksinya ia menutup dengan sepatah dua patah kata yang isinya tentang puisi karyanya. Sebuah kantong plastik ia keluarkan dari kantong celananya dan ia mulai berjalan mengedarkannya ke penumpang. Nampaknya banyak juga para penumpang yang memberi sekedar recehan uang logam mereka. Di sebuah perempatan yang terletak di daerah Ngawi seniman jalanan itu turun dan kembali mencari bis yang lain untuk memulai aksinya kembali.


Lain Eko lain pula dengan Wawan (bukan nama sebenarnya). Wawan adalah seorang pengamen yang sering beraksi didalam gerbong kereta api. Bersama rekan-rekannya ia sering dijumpai di dalam kereta api yang lewat daerah Kertosono menuju Kediri.Dalam setiap aktivitas mengamen ia sama dengan rekan-rekannya yang lain. Dengan alat musik gitar dan ditambah dengan irama yang dihasilkan galon air mineral ia dan rekan-rekannya beraksi. Hal yang membedakan yang cukup unik adalah mereka menganggap penumpang tak hanya sasaran untuk mendapatkan receh demi receh. Mereka mencoba memposisikan sebagai sahabat yang menghibur dalam perjalanan menuju temjpat tujuan.

Kelompok Wawan dan rekan-rekannya itu sudah sangat dikenal oleh para penumpang terutama di kalangan para mahasiswa yang sering menggunakan fasilitas transportasi umum super murah itu. Tak heran karena keakraban tersebut sering terjadi interaksi yang penuh dengan suasana kekeluargaan bahkan katanya lagi ada penumpang yang memberi oleh-oleh buat mereka tiap kali balik dari kampung halaman mereka.

"Pernah ada penumpang yang aslinya Blitar membawakan kami beberapa kilogram. Sayangnya waktu itu saya pas nggak ada", ujar Wawan.


Mengamen di kereta menurut Wawan sudah lumayan apalagi saat sedang ramai-ramainya.Dari hasil yang ia dapat ia gunakan untuk keperluan sehari-hari dan membiayai sekolah adiknya. Menurut penuturan sebelum memutuskan untuk menjadi pengamen ia pernah bekerja di sebuah pabrik di sebuah kota. Bukannya mendapat uang banyak malah ia sering hambur-hamburkan buat senang-senang. Setelah bertemu seorang rekan ia diajak untuk mengamen di kereta dan hingga kini itu menjadi profesinya.

"Sekarang saya malah bisa nabung buat bantu emak saya", ujar Wawan.


Ada banyak pahit getir, suka duka yang ia alami selama menjadi pengamen jalanan. Sukanya saat mendapat hasil yang lumayan dan dukanya saat ada penumpang yang acuh tak acuh saat ia mengamen, padahal jika mereka menolak dengan baik-baik mereka juga tidak memaksa.

"Hal yang paling kami benci jika ada penumapng yang acuh tak acuh seperti pura-pura nggak lihat sambil main-mainin hp padahal kami tak pernah memaksa diberi syukur ga diberi ya ngga apa-apa", begitu tambah Wawan.


Eko dan Wawan merupakan sebagian kecil dari seniman jalanan yang seringkali dianggap meresahkan. Mereka dianggap sering mengganggu ketenangan perjalanan para pernumpang kendaraan umum. Masyarakat terlanjur mencap para seniman jalanan ini sebagai musuh terselubung yang seakan-akan menakutkan. Dengan cara unik Eko mencoba menepis kesan tersebut, begitu juga dengan Wawan. Bahkan sampai-sampai mereka menganggap penumpang sebagai pahlawan ekonomi.

"Saya beri penghargaan setinggi-tingginya pada anda semua. Anda telah kami anggap sebagai pahlawan bagi kami seniman jalanan. Anda telah membuka lapangan kerja yang tak perlu pakai surat lamaran apalagi ijazah", jjar Eko tiap kali memulai aksinya.


Pengamen, seniman jalanan atau apapun istilah yang diberikan oleh masyarakat mereka semua adalah bagian dari anak-anak bangsa yang karena keadaan terpaksa untuk melakukan pekerjaan tersebut. Jika bisa memilih dan ada kesempatan tentunya mereka akan melakukan hal lain yang mampu membawa ke taraf hidup yang lebih layak. Hal menarik yang telah di tampilkan oleh segelintir seniman jalanan seperti mereka adalah ingin menghapus cap bahwa semua pengamen adalah musuh. Mereka buktikan keberadaannya tak perlu dikuatirkan. Seniman adalah jalanan sahabat di kala perjalanan dan tak semuanya adalah benalu yang meresahkan masyarakat.

Friday, December 14, 2007

Dra. Damarasih, Pengawas TK/SD Kulon Progo


Ia resah melihat banyak guru tak memiliki kreativitas dalam mengajar. Gayanya kaku, cenderung cuma satu konsep, satu teori atau latihan soal.


Satu ketika, ia menyaksikan seorang guru tengah mengajar. Terkesan kaku dan kurang bisa diterima siswa. Damarasih berpikir keras mencari solusi dan strategi pembelajaran yang pas. Menurutnya cara mengajar seperti itu tidak benar.


Berawal dari hal itu ia pelajari berbagai metode mengajar. Akhirnya ia menarik kesimpulan bahwa strategi pembelajaran guru perlu dibangun dan dibenahi. Salah satunya adalah perlunya kreativitas dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media.


Misalnya, mengajar matematika. Menurut Damarasih, media peraga matematika tak semuanya dijual dan disediakan di toko-toko. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah kejelian, kecermatan dan kreativitas guru. Mereka harus bisa menganalisis kurikulum mana yang membutuhkan alat peraga. Dari hasil analisis, guru bisa membuat alat peraga yang diperlukan berdasar pada rumus-rumus. “Misalnya volume limas sepertiga luas alas dikalikan tinggi. Darimana kok bisa ketemu sepertiga,” kata Damarasih.


Dengan bimbingan tambahan, guru bisa memahami konsep rumus matematika. Diharapkan secara mandiri bisa membuat alat peraga matematika. Dengan alat peraga, para siswa tak sekadar diberi rumus saja tapi juga diajak bermain sambil belajar. Damarasih memberi contoh kegiatan menakar volume kubus dan volume limas.


“Tahapan pembelajaran matematika harus utuh dari penanaman diikuti pemahaman. Memang sesuai dengan pemahaman konsep dan ketrampilan proses jangan sampai ini diberikan saja lewat teori satu ceramah. Tapi tidak diikuti dengan pemahaman. Faham belum anak saya. Itu yang ingin saya benahi disisi itu. Sehingga nanti kalau guru sudah dibangun kompetensi Insya Allah kualitas akan baik,” kata Damarasih.


Penggunaan media dalam pembelajaran, itulah base practice yang Damarasih angkat dalam makalahnya pada saat pemilihan pengawas TK/SD berprestasi bulan Agustus lalu. Dalam proses pemilihan yang diselenggarakan di Jakarta ia akhirnya terpilih sebagai juara ketiga pengawas TK/SD berprestasi tingkat nasional.


Putri Asli Kulon Progo


Damarasih terlahir di Kulon progo, pada Oktober 1959 dari sebuah keluarga besar. Ia merupakan putra ke enam dari 8 bersaudara. Sejak kecil Ayahnya mendidiknya dengan disiplin. Maklum orang tuanya adalah pedagang.


Pendidikan Sekolah Dasar dia tempuh di SD Bekelan Lendah Kulon Progo dan lulus tahun 1971. Selepas SD ia melanjutkan ke SMPN Bumirejo Lendah dan lulus tahun 1974. Selepas lulus SMP Ayahnya mengarahkan untuk masuk SPG meskipun sebenarnya ia tidak berminat. Ia Melanjutkan ke SPGN Bantul lulus tahun 1977.


Kemudian pada waktu lulus SPG itu orang tua Damarasih melarangnya untuk melanjutkan kuliah. Ia memberontak dan sempat mau pergi dari rumah kalau tidak diijinkan untuk melanjutkan kuliah.


“Saya waktu itu bilang kalau saya tidak boleh kuliah saya lebih baik pergi saja,” Kata Damarasih.


Tekad Damarasih yang begitu kuat untuk melanjutkan kuliah akhirnya membuat orang tua luluh. Orang tua mempersilahkan dia daftar kuliah. Akhirnya saya daftar kuliah. Namun ia menunda kuliah selama setahun. Damarasih akhirnya mendaftar untuk kuliah di IKIP Jogja pada tahun 1981 lulus tahun 1986.


Kembali Ke Tempat Asal


Saat baru diangkat menjadi guru negeri Damarasih ditempatkan di SD Kasihan Lendah Kulon Progo. 2 bulan setelah lulus diangkat dan langsung kuliah waktu itu ia masuk SPG di Bantul.

“Saya lulus SPG sudah lama yaitu sejak tahun 1977 akhir. Kemudian tahun 1978, hanya selang waktu 2 bulan setelah lulus diangkat sebagai guru,” kenang Damarasih.


Di SD Kasihan Lendah ia menjadi guru sampai tahun 1995. Setelah itu ia menjadi kepala sekolah selama 7 tahun di SD Nomporejo. Pada tahun 2002 ia dipromosikan menjadi pengawas sekolah di daerah yang sama. Kebetulan sebagai pengawas sekolah tugas dinasnya di kecamatan Lendah. Penempatanya di daerah Lendah tersebut ternyata sangat disayangkan oleh rekan-rekanya yang ada di galur mereka meminta Damarsih untuk tetap disana saja. Akhirnya dengan seijin kepala dinas ia ditempatkan di Galur.


“Akhirnya saya diperintah untuk mengkondisikan di Galur karena rumah saya dekat,” kata Damarsih.


Setelah ditempatkan di Galur akhirnya Damarasih punya komitmen untuk bagaimana memajukan pendidikan di sana. Terlebih setelah ia pernah ditugaskan di wilayah Kokap dimana harus berjalan kaki selama satu setengah jam. Setelah tugas dari Kokap tersebut akhirnya ia lebih bersyukur dan makin menguatkan tekadnya untuk terus mengabdi.


“Melihat kondisi-kondisi lain yang sukar dijangkau saya itu sudah diberi kemurahan oleh Allah,” kata Damarasih.

Buah jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya


Damarasih menikah dengan Suharjono. Mereka bertemu dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata. Kebetulan mereka di kecamatan yang sama. Dari pertemuan itu akhirnya tumbuh benih-benih asmara yang berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Saat ini sang suami membuka usaha mebel dan persewaan di daerah Brosot, Kecamatan Galur, Kulon Progo. Dari tahun ketahun usaha suaminya tersebut kian maju bahkan sudah berencana membuka cabang lagi.

Dari hasil pernikahannya tersebut ia dikaruniai 2 orang anak namun yang pertama sudah meninggal dunia. Anak yang kedua sekarang masih sekolah di SMPN 1 galur dan duduk di kelas 2. Namanya Darmastuti mirip dengan sang ibu Damarasih.

Sang putri ternyata memiliki kegemaran yang tak jauh beda dari ibunya. Darmastuti tertarik di bidang Matematika. Sejak duduk di SD ia sudah sering juara di tingkat kabupaten. Bahkan ia pernah masuk pembinaan UGM. Waktu itu yang ikut ada dari Purwokerto Jogja dan sekitarnya.


“Dari hasil perlombaan tersebut Alhamdulillah ia ikut dibina di PPPG Matematika juga UGM meski akhirnya tidak lolos seleksi,” kata Damarasih.


Terus Berkomitmen Berjuang


Saat ini Damarasih bertugas sebagai pengawas TK/SD di kecamatan Galur, Kulon Progo. Ia mulai diangkat disana tahun 2002. Menjadi pengawas menuntut satu sikap komitmen penuh. Meskipun masih saja ada pendapat negatif dari masyarakat mengenai profesi dunia.


“Pendapat negatif itu sebenarnya disebabkan karena pengawas itu punya tugas mengadakan pengalaman mutu di lapangan. Tapi orang biasanya inginnya enak kepenak. Kalau guru itu inginnya kerja sedikit gajinya besar. Tapi dengan kehadiran pengawas mereka mungkin ada persepsi yang lain. Tapi di sisi lain sebenarnya kita itu punya tugas mulia bagi saya,” kata Damarasih meski tak menampik ada juga pengawas yang nakal di lapangan.


Hal lain yang membuatnya resah adalah setiap kali diumumkan pendidikan Indonesia ada di peringkat yang mengkuatirkan. Menurut Damarasih seharusnya semua pihak menyadari bahwa guru, pengawas, dan kepala sekolah sebagai pelaku pendidikan menyadari bahwa mutu pendidikan nasional ini merupakan akumulasi dari proses dalam kelas itu yang tidak disadari.

Dalam pengamatan Damarasih selama ini Kepala sekolah jarang mengikuti kunjungan kelas hal tersebut terjadi khususnya di Sekolah Dasar. Selama ini kegiatan kepala sekolah terjebak pada kegiatan administrator karena tidak punya Tata Usaha sehingga mereka mengesampingkan dan mengecilkan arti pentingnya proses.

“Padahal kalau itu ibarat pabrik kelas itu ruang produksi. Seperti apa kualitas yang akan dilahirkan itu tugas kepala sekolah,”kata Damarasih.

Melihat kondisi yang ada Damarasih bersama rekan-rekan pengawas terjun ke wilayah itu untuk membenahi kekurangan yang ada. Proses yang selama ini dilaksanakan guru secara konvensional dengan hanya ceramah melulu menurutnya akan dirombak.


Berbekal hasil yang dicapai Damarasih pada saat pemilihan pengawas berprestasi ia merasa punya kewajiban moril yang lebih besar. Menurutnya itu sebagai wujud dari rasa syukur yang nantinya akan ia imbangi dengan langkah konkret di lapangan.


“Antara lain saya menginginkan agar sekolah-sekolah binaan saya baik artinya itu dalam dekade beberapa tahun yang akan datang harus semua sudah standar nasional. Kemudian dari sisi guru saya menginginkan bahwa guru-guru saya itu kompetitif,” kata Damarsih.


MF. ARIEF

Thursday, December 13, 2007

Apa kabar pagi..!

Pagi datang dengan Sang Surya Yang Membawa Kehangatan
Pagi Datang diawali dengan Fajar
Mungkin Seperti Hari Kemarin Dan Kemarinnya Lagi
Kehangatan Semu Masih Saja Memukau..
Kehangatan Membawa Pada Kesadaran..
Kembali Teringat..Ah Semalam Hanya Mimpi
Saat Semuanya Begitu Indah..
Cerita-cerita Yang Meninabobokan dari Batuk, Meriang Dan Kenyataan
Pagi Datang Menjelang Masih membawa Cerita Kemarin
Masih Tersisa Satu Bongkahan Besar Yang Harus Disingkirkan
Diiringi Beban-beban dan Cerita Kehidupan yang Makin Tak Bisa Kukendalikan
Pagi Datang Sisakan Satu Omong Kosong, Satu Kebisuan
Pagi Yang Mau Tak Mau Harus Tetap Dihadapi
Sambil habiskan Waktu menatap Senja
yang Mungkin Saja lebih Menakutkan Dari Malam

Pojok Pancoran, 13 Desember 2007

(Sayup- sayup mengiringi lagu You Will Never Walk Alone.........)

"Tak Ada Yang Lebih Menyakitkan Dibanding Ketidakterusterangan"

Waktu Yang Terhenti Di Ngrawa

Perlahan Malam Datang,

Ngrawa Tak Lagi Senja

Menghapus Warna Kemerahan Di Ufuk Barat..
Gelap..

Kepastian itu datang Ngrawa Yang Gelap
Ngrawa Yang Beku, Dingin Akan Dua Pemahaman
Ngrawa Yang Tiba-tiba saja Terbelah Oleh Rasa..
Ngrawa Tak Lagi Bisa Tutupi Dirinya


Pelan-pelan cerita demi Cerita Tentang Apa yang Terjadi
Sebenarnya Terungkap
Ini Bukan Senja Sayang! Jawabnya
Ini Gelap buatmu dan Purnama Buatku
Semuanya Yang Jelas Hanya Karena
Kau yang Terlalu Asyik Dengan Halusinasi Keindahan Senjamu

Aku bukanlah bagian dari Senjamu ...

Ngrawa Semakin Gelap Sementara Di Lain Tempat Begitu
Terang Benderang...

Semuanya Hanya fatamorgana

Tak Ada lagi Senja Di ngrawa..

Kalibata, 12 Desember 2007

Tuesday, December 11, 2007


Kesetiakawanan sosial ternyata memiliki cakupan yang cukup luas. Ada banyak hal yang ternyata berhubungan erat dan memiliki peran yang cukup penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesetiakawanan tak hanya dalam hal bantu dan membantu saja tetapi terkait erat dengan masalah seperti nasionalisme, pemeretaan ekonomi dan masih banyak lagi.

Lewat sebuah wawancara Saya mewawancarai Yudi Latif, Ph.d direktur reform Institute yang juga merupakan dosen di Universitas Paramadina. Lewat wawancara yang berlangsung di kantor reform institute doktor lulusan Australian National University ini memaparkan berbagai hal yang terkait dengan masalah kesetiakawanan sosial. Lebih jelasnya dipaparkan seperti di bawah ini:

FAJAR

Matahari Tersenyum..

Kau Datang Lontarkan Satu Senyuman

Satu Tanda Tanya Datang Padaku

Tentang Apa Arti Senyuman Itu

Yang Kutahu Kau Sang Fajar

Berikan Senyuman Hangatkanku dari Dinginnya Cerita Kemarin

Aku Yang Beku Terluluhkan Oleh Sang Fajar

Tapi Waktu Terus Saja Berputar

Dan Tak Selamanya Hari Adalah Fajar

SENJA

Mataharipun tenggelam

Remang-remang senjapun menyambut..

Senja dan senja

Antara terang dan gelap

Hanya bisa menerka semuanya remang remang

Dan sengaja menyimpan jawabanku dalam hati

Namun kaupun tetap datang menyapa hanya sisakan seutas cahaya senja

Akupun bertanya apa arti sapaan dikala senja?

Kau tak pernah menjawab hingga kujawab sendiri

Cahaya..Jawaban itupun hanya berani kusimpan dalam hatiku

yang harus kusambut dengan uluran tanganku

MALAM

Kau kembali datang

Akupun Menerka Dengan lantang

Kau Membawa Cahaya

Kau tak Pernah Menjawab dan Kemudian Menghilang

Dari Jauh Berhembus Kabut Tutupi Rembulan

Hitam, Kelam, gelap gulita

Dalam tiupan angin malam kau sampaikan pesan

Aku Bersama Rembulan

Dan Sesaat Kemudian Kaupun Menampar Wajahku Dengan Hembusanmu

Dan Akupun Terpental

Dalam Sesak Nafasku Aku Hanya Bisa Ulurkan Tangan

Lambaikan Tangan Namun Kau Tak Pernah Merengkuhnya Hingga Kemudian Menghilang Terbang Jauh Bersama Rembulan

Pojok Pancoran Desember 2007

Thursday, December 06, 2007

Elvis Aaron Presley (8 Januari 193516 Agustus 1977) adalah seorang penyanyi rock 'n' roll legendaris Amerika Serikat. Ia juga adalah seorang produser musik dan aktor. Julukannya adalah "Raja Rock 'n' Roll". Berkat lagu-lagunya yang memadukan irama rock 'n' roll dengan lagu-lagu ballad, dunia rock 'n' roll memperoleh fondasi komersial yang selanjutnya dapat dikembangkan musisi rock 'n' roll penerusnya. Pada masa kejayaannya, konser-konser Elvis dihadiri massa (kebanyakan remaja) dalam jumlah yang sangat besar. Gaya, sifat, serta cara berpakaiannya menjadi simbol bagi musik rock 'n' roll dan banyak ditiru penggemarnya.

Awal hidup dan karir

Lahir di East Tupelo, Mississippi, dari pasangan Vernon Elvis Presley dan Gladys Love Smith, Elvis tumbuh besar di Memphis, Tennessee. Ia mulai bermain gitar dan bermain di beberapa acara di pusat-pusat perbelanjaan. Saat duduk di bangku sekolah menengah, ia bekerja menjadi supir truk bagi sebuah perusahaan listrik.

Pada musim panas pada tahun 1953, Elvis membayar $4 untuk merekam dua buah lagu di perusahaan rekaman Sun Studios sebagai hadiah ulang tahun bagi ibunya. Pendiri Sun, Sam Phillips, tertarik pada suaranya dan memanggilnya pada Juni 1954 untuk mengisi posisi penyanyi ballad yang sedang kosong. Sesi rekaman tersebut, yang dilakukan bersama dua musisi setempat, Scotty Moore dan Bill Black, awalnya tidak produktif, namun saat sedang istirahat dalam sebuah sesi rekaman pada 5 Juli 1954, Elvis mulai menyanyikan lagu blues karya Arthur Crudup berjudul That's All Right. Versi Elvis disukai Phillips dan diputarkan di radio di Memphis dan segera menjadi hit di daerah tersebut. Sejak itu ia mulai melakukan tur ke berbagai tempat, termasuk ke luar Tennessee.

Manajemen baru

Pada 16 Oktober 1954, ia tampil dalam siaran radio Louisiana Hayride dan menjadi hit bagi pendengar dalam jumlah yang besar. Ia kemudian menandatangani sebuah kontrak satu tahun dan bertemu dengan Tom Parker, yang kelak menjadi manajernya. Hampir setahun kemudian, Tom Parker mengambil alih seluruh tugas sebagai manajer Elvis dan tak lama kemudian, berhasil mendapatkan persetujuan kontrak dengan RCA Records bagi Elvis. Elvis juga menandatangani kontrak Hollywood. Melalui syarat-syarat dalam kontrak, Parker membangun nilai komersial serta citra Elvis yang menguntungkan, contohnya melalui lisensi penggunaan citra Elvis dalam segala macam produk, dari peralatan dapur hingga gitar.

Pada Desember 1957, Elvis dipanggil untuk ikut tugas militer dengan Angkatan Bersenjata AS. Ia resmi masuk Angkatan Bersenjata pada 24 Maret 1958, kemudian ditugaskan di Jerman, dan dilepas tugaskan dengan hormat dua tahun kemudian. Sekembalinya dari wajib militer, karya Elvis mengalami penurunan dari segi kesuksesan, di mana salah satu penyebabnya adalah bangkitnya musik Britania/Inggris (British Invasion; The Beatles, The Rolling Stones, dan lain-lain).

Comeback dan kematian

Tempat tinggal Elvis, Graceland.

Tempat tinggal Elvis, Graceland.

Ia melakukan comeback yang sukses melalui penampilan televisi pada 3 Desember 1968 berjudul '68 Comeback Special. Karir musiknya yang sempat meredup akibat "diganggu" profesi lainnya sebagai aktor dan juga hilangnya peranan dia dalam memilih jenis lagu yang ia mainkan, kembali bersinar setelah ia mendapatkan kesempatan dalam acara tersebut untuk bermain dalam jalur yang paling ia sukai, rock 'n' roll. Pada tahun berikutnya, ia memulai penampilan live yang laris di berbagai tempat, diawali dari Las Vegas dan kemudian berlanjut ke sepanjang negara. Antara tahun 1969 dan 1977, ia tampil dalam 1.000 acara yang tiketnya terjual habis.

Akibat kecanduan obat-obat dokter seperti obat tidur, kesehatannya dan penampilannya mengalami penurunan pada sekitar pertengahan 1970-an. Ia tampil untuk terakhir kalinya dalam sebuah konser di Market Square Arena di Indianapolis, Indiana pada 26 Juni 1977.

Pada 16 Agustus 1977, Elvis ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Graceland di Memphis akibat serangan jantung. Saat itu ia berusia 42 tahun.

[sunting] Kekasih dan istri

Elvis pernah menjalani hubungan cinta dengan beberapa wanita. Salah satunya, Priscilla, kemudian menjadi istrinya (menikah pada 1967 dan cerai pada 1972). Beberapa wanita lainnya dalam hidupnya:

  • Dixie Locke, salah satu pacar terawalnya
  • Anita Wood, pacar Elvis sebelum ia wajib militer di Jerman
  • Ann-Margret, aktris
  • Linda Thompson, putri kecantikan
  • Ginger Alden, pacar terakhirnya

Film

Elvis tampil dalam 31 buah film yang diawali dengan Love Me Tender pada tahun 1956. Umumnya film-film tersebut adalah film musikal yang dibuat berdasarkan lagu-lagu Elvis. Penampilannya dalam dunia film juga menandai transisi dari penyanyi rock 'n' roll menjadi penghibur bercitra baik yang dapat diterima penonton dari semua usia.

Film-filmnya yang dianggap terbaik oleh para kritikus termasuk Jailhouse Rock (1957), King Creole (1958), dan Flaming Star (1960).

Sumber : Wikipedia

Wednesday, December 05, 2007

SAPARDI JOKO DAMONO

Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu

waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,

adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh,

adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata :
"Ini matahari! Ini matahari!"

Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.