Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Monday, January 31, 2011


“Le bagaimana kabarmu? Sehat kan. Simbok, Mas dan Mbakyumu semua sehat. Alhamdulillah jika tak ada kendala, sebentar lagi sawah milik Simbok sudah siap dipanen. Oiya sapi dan kambing kangmasmu sudah beranak pinak. Masmu sudah bernadzar Insya Allah beberapa bulan lagi bisa disembelih buat syukuran lulusanmu nanti “.

SMS terakhir dari Simbok melalui Mbak Sri dua bulan masih tersimpan di ponselku.

Setiap kangen rumah, membaca pesan singkat dari keluargaku mampu jadi pengobat rindu dan penyemangatku menyelesaikan studiku. Meskipun tak bisa kupungkiri, sebenarnya aku sudah begitu rindu dengan mereka, ingin pulang, atau setidaknya menghubungi simbok dan saudara-saudaraku lewat telfon. Namun simbok selalu melarang. Kata Simbok jadi lelaki harus kuat, tidak cengeng, selain itu tak ingin konsentrasiku terpecah sehingga mengganggu saat-saat menentukan di akhir studiku. Aku harus kuat sebulan lagi tugasku selesai.

Kerinduan membawa keping-keping kenangan akan kampung halamanku. Semuanya mirip pecahan kaca warna-warni dan menyatu menjadi sebuah mozaik yang indah.” Aku rindu kampung halamanku,”. Kini, Ingatanku kembali pada peristiwa malam itu, di sebuah rumah gebyok, berdinding bata, warna putih kusam dengan halaman seluas lapangan voli, tempat anak-anak kecil setiap sore bermain kelereng. Di rumah itulah, aku dilahirkan dan dibesarkan.

Ada sebagian orang berpendapat jujur ajur (jujur hancur). Mereka menganggap terkadang berkata jujur justru bisa menghancurkan diri sendiri. Apakah benar demikian?

Jujur, dalam kamus besar Bahasa Indonesia memiliki arti : bisa dipercaya, tidak berbohong, berkata apa adanya. Satu kata yang memang begitu mudah diucap, namun ternyata pelaksanaanya tidak semudah mengucapkanya. Coba saja apakah kita sudah benar-benar jujur dalam kehidupan sehari-hari?

Friday, January 28, 2011

Wait For
Awal tahun 2011, noda hitam kembali mewarnai perkeretapian negeri ini. Lagi-lagi, penyebabnya kecelakaan kereta. Kereta Api Mutiara Selatan bertabrakan dengan Kereta Api Kutojaya Selatan di Stasiun Langen Sari, sekitar pukul setengah tiga dini hari tadi. Menurut berita di detik.com data korban terakhir hingga tulisan ini saya buat 3 orang meninggal dan 10 orang luka berat. Angka-angka tersebut masih bisa bertambah karena ternyata di tempat kejadian masih ada penumpang yang terhimpit dan masih dalam proses evakuasi.

Kecelakaan demi kecelakaan yang pernah terjadi di negeri ini ternyata belum mampu menjadi satu pembelajaran kejadian serupa terjadi. Ironisnya peristiwa ini kembali terjadi tak lama setelah rencana kenaikan tiket Kereta kelas Ekonomi dan masyarakat belum sempat melupakan kecelakaan tragis yang menimpa KA Senja Utama Semarang dan KA Argo Anggrek beberapa bulan lalu.

Tuesday, January 18, 2011

Lagi, tindakan yang sebenarnya tak perlu, terjadi di salah satu pertandingan Indonesian Super League (ISL). Octavianus Maniani meradang, merasa dilanggar namun wasit tak memberikan peringatan, dan langsung menanduk sang juru adil pertandingan tersebut. Kontan saja wasit mencabut kartunya, bahklan langsung kartu merah. Okto dalam keadaan emosi harus meninggalkan lapangan.

Di satu sisi, tindakan dari Okto sungguh sangat disayangkan. Apalagi ia sempat digadang-gadang sebagai pemain muda Indonesia yang layak bermain di Eropa. Bahkan ia disebut-sebut sebagai Ryan Giggsnya Asia. Namun jika dilihat secara cermat, bagi yang menyaksikan pertandingan antara Persisam melawan Sriwijaya FC, tentunya akan melihat dari kaca mata berbeda. Wasit kurang cermat dan tegas melihat pelanggaran demi pelanggaran yang sangat membahayakan karir sang pemain. Wajar saja Okto emosi, apalagi dengan posisinya sebagai salah satu pemain yang bakal dibawa Alfred Riedl ke Sea Games dan Pra Olimpiade. Tapi kedepan Okto harus lebih bisa mengontrol emosinya, sadar tak sadar segala tindak-tanduknya di lapangan menjadi sorotan publik.

Sunday, January 16, 2011

Memulai hari dengan segelas teh hangat dan suasana Jogja yang mendung. Tema pemberitaan yang makin menarik, perseteruan antara PSSI dengan LPI ternyata belum juga reda. Terakhir, seperti yang kita ikuti dalam berbagai pemberitaan di media, Otoritas sepak bola tertinggi di tanah air mengklaim mendapat surat dari FIFA yang isinya kurang lebih teguran atas konflik yang tengah terjadi dan segera mengambil tindakan. Jika tidak, menurut PSSI seperti dikatakan sang Sekjen, Nugraha Besoes, FIFA bakal memberi sanksi.

Ternyata menanggapi surat tersebut banyak pihak yang menyangsikan. Bahkan ada yang menduga surat tersebut palsu. Seperti yang saya baca di detik.com ada seorang pembaca yang mengkritisi kacaunya tata bahasa surat tersebut. Saya kira ini akan terus berlanjut, entah sampai kapan. Siapakah yang bakal jadi pemenangnya? 

Thursday, January 13, 2011

Melonjaknya harga cabe, menjadi topik paling hot yang diperbincangkan di tengah masyarakat, khususnya kalangan kaum hawa, akhir-akhir ini. Naiknya tidak tanggung-tanggung di beberapa daerah untuk jenis cabe kriting sempat berada di angka Rp.100.000,-/kg. Bahkan saking luar biasanya ongkos untuk mendapatkan si merah pedas ini di sebuah warung di Yogya mencatumkan harga Rp.3000,- untuk satu sendok sambal.

Naiknya harga cabe tak ayal membuat para pecinta rasa pedas kalang kabut. Mereka bakal kehilangan sesuatu di rumah makan-rumah makan langganan. Sesuatu yang mungkin bagi mereka yang tak begitu hobi dengan sensasi pedas tak menjadi soal. 

Melonjaknya harga berbagai jenis cabe awalnya saya kira karena faktor cuaca yang tidak mendukung. Terlalu banyak hujan membuat panen cabe tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Saya semula menganggap kenaikan berawal dari petani yang berinisiatif membuat harga naik sehingga pedagang mau tak mau juga mengikuti. Ternyata dugaan saya tak sepenuhnya benar. 

Penari Topeng

Tangisan balita tetangga menghentikan tidur nyeyakku. Sambil menguap perlahan kubuka mata dan melirik jam weker yang ada di sebelah kanan tempat tidurku. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Suasana sekitar tempat tinggalku sudah menjadi alarm yang mampu memberikan petunjuk waktu yang akurat.

Seperti biasanya, setiap selesai bangun tidur, langsung saja kubuka komputer jinjingku dan menyalakan akses internet. Sebagai sarapan pagi menu utama yang selalu kusantap foto-foto vulgar, gosip-gosip artis ternama dan iklan lowongan kerja. Jika sudah begini, aku akan betah berlama-lama memandang layar yang ukurannya tak lebih dari 10 inci ini.

Kali ini yang langsung kubuka adalah iklan lowongan kerja. Ada begitu banyak iklan lowongan kerja setiap hari ada saja posisi yang ditawarkan. Namun dari segitu banyak iklan tersebut tak ada satupun yang sesuai dengan kualifikasiku. Akibatnya seperti inilah, aku masih saja menjadi pengangguran. Aku seorang sarjana yang lama menganggur dan ternyata diluar sana ada begitu banyak orang lain sepertiku. Apalagi setelah berdiri begitu banyak Universitas di negeri ini yang bersaing mencari mehasiswa. Aku hanya sarjana diluar sana terdapat begitu banyak master dan doktor yang bersaing mendapat kerja sepertiku.

Tuesday, January 11, 2011

Bertekun dengan proses, inilah salah satu pencerahan yang saya dapatkan dari kopdar Canting di tempat Mas Ouda Teda Ena kemarin. Segala sesuatu dimulai dari tidak ada hingga akhirnya menjadi ada. Tak ada seorang seniman hebat yang langsung dengan mudahnya dikenal, semua melalui proses dari tidak dianggap menjadi diperhitungkan.

Menjadi seorang penulis saya kira juga senada dengan kesimpulan di atas. Seorang penulis harus terus berkarya, berlatih, mencoba menjadi dirinya sendiri secara konsisten. Jika seorang penulis konsisten di jalan yang ditempuhnya,menjalani proses berakit-rakit tanpa pernah menyerah, suatu saat pasti jalan akan dengan sendirinya terbuka.
Bagi seorang penulis baru atau mereka yang ingin menjadi penulis profesional, mampu menerbitkan banyak buku best seller tentunya proses yang dijalani juga akan banyak dipenuhi halangan dan rintangan. Seperti contoh dari Mbak Ary kemarin, penerbit bakal lebih memprioritaskan penulis-penulis yang sudah memiliki nama. Nama beken dari seorang penulis ibarat jaminan suatu buku entah fiksi atau non fiksi bakal diterima pasar. Sedangkan bagi penulis yang baru menerbitkan bukunya mau tak mau harus berjuang merebut itu dengan menghasilkan karya yang luar biasa. Meski ternyata itupun menurut Mbak Ary belumlah cukup, untuk menambah penulis perlu menambah portofolionya dengan jalan menerbitkan buku sendiri bagaimana caranya? Tentu saja secara indie.

Masih terkait dengan proses ada hal sepele yang ternyata penting, seperti dikatakan oleh Mas Ouda, yaitu perlunya bergabung dalam satu komunitas. Di sanalah semangat dan motivasi seorang yang baru memulai untuk menjadi penulis, seniman atau apalah dibentuk dan dijaga. Berdasarkan pengalaman Mas Ouda dengan komunitas SEPInya mereka yang terpisah dari komunitas kebanyakan semangatnya mulai padam dan susah berkembang.

Selamat Pagi Yogyakarta

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Monday, January 10, 2011

Mengikuti pemberitaan sebulan terakhir tentang persepakbolaan Indonesia khususnya mengenai organisasi yang menaunginya memang menarik dan terkadang membuat tensi naik. Apa lagi kalau bukan soal PSSI. Carut marut organisasi, Liga yang ditengarai banyak terjadi penyelewengan, minimnya prestasi dan segudang masalah yang membuat suara-suara untuk menurunkan Nurdin Halid dan kroni-kroninya makin mengemuka.

PSSI nampaknya kini tengah menjadi pemeran antagonis. Segala ucapan, tindakan, atau apapun yang berasal dari Induk organisasi sepakbola di Indonesia ini selalu dianggap hitam. Meskipun rupanya seakan mereka tak mendengar suara-suara desakan, hujatan dari masyarakat. Mereka terus melakukan tindakan yang menuai kritik mulai dari perseteruan dengan LPI, mencoret sejumlah nama pemain yang ikut di ajang LPI dari anggota timnasional, belum lagi ucapan dan komentar dari pengurusnya yang bisa membuat panas mereka yang kontra.

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.