Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Monday, December 20, 2010

Suasana Merapi Setahun Pasca Erupsi

“Pedih mas rasanya,” Fuad, seorang penduduk dusun Jambon, desa Kepuharjo, mencoba menggambarkanbagaimana  isi hatinya kepada saya. Matanya menerawang, memerah dan tampak berkaca-kaca lalu ia melanjutkan ceritanya. 

“Rumah saya sudah rata dengan tanah. Lokasinya di sana dekat yang ada putih-putihnya,” ujarnya, dengan menunjuk ke salah satu bagian di hamparan pasir yang kini nampak kosong dan susah dikenali. Pengunjung yang baru pertama kali melihat daerah ini mungkin saja tak menduga, dulunya tempat ini adalah perkampungan penduduk. Menurut Fuad di sekitar sini dulu berdiri rumah-rumah penduduk yang sudah bagus dan  sudah dilengkapi dengan infrastruktur mulai dari jalan yang sudah diaspal dan air. Ketika saya menyusuri lokasi ini memang saya jumpai jalan aspal yang tertimbun pasir dan batu-batu.
Kini Fuad harus memulai semuanya dari nol. Tak ada lagi rumah beserta isinya, bahkan 3 ekor lembu yang dulu menjadi harta teramat bernilai juga sudah tewas tersapu awan panas. 3 ekor lembu milik Fuad sebenarnya sudah di tempatkan di lokasi yang menurut perkiraanya aman. Ada ratusan lembu milik kelompok dijadikan satu di kandang yang lokasinya di sebelah Barat jalan. Ratusan ternak tersebut semuanya tak bisa diselamatkan. Sisa-sisa penampungan ternak tersebut masih bisa dilihat dan hingga kini masih menyisakan bau yang tidak sedap.
Meskipun tempat tinggalnya sudah hilang tak berbebekas ia masih enggan meninggalkan tanah tempat tinggalnya. Ia menolak opsi untuk bertransimigrasi. Sehari-hari Fuad bersama warga dusun Jambon lainya tinggal di stadion Maguwoharjo. Hari ini sebenarnya ia sudah berniat untuk membersihkan lokasi bekas rumahnya. Ia sudah membawa cangkul dan sabit. Bahkan ia sempat menyambangi bekas tanah ladangnya dan mencabut jahe, hanya sebagai bukti kepada istrinya. Dengan menggunakan sepeda ia kembali. Namun ketika sampai disini timbul rasa malas entah kenapa.
Berkunjung ke Obyek Wisata Bencana
Sejak status Merapi sudah diturunkan, memang banyak masyarakat datang ke lokasi yang porak-poranda akibat erupsi. Tak hanya penduduk asli sana saja, namun juga masyarakat umum yang rasal dari Yogya atau luar daerah. Bekas lokasi bencana ini telah berubah menjadi lokasi wisata bencana. Masyarakat yang berkunjung bahkan jumlahnya mencapai ribuan terutama di akhir pekan dan liburan.  Mereka dengan menggunakan sepeda motor, mobil dan bahkan bis datang bersama keluarga untuk sekedar melihat dan ada pula yang mengambil gambar dengan kamera mereka.
Bahkan kedatangan masyarakat umum tersebut kini menjadi rezeki tersendiri bagi penduduk. Dengan dikordinir oleh Pemerintah desa pengunjung membayar tiket masuk per orang Rp.5000,- dan parkir Rp.2000,- untuk kendaraan bermotor. Hasil pendapatan tersebut nantinya bakal dikembalikan ke desa dan disalurkan ke masyarakat setempat dengan mekanisme tertentu. Tak hanya itu saja nampak beberapa orang yang menggelar dagangan mulai dari minuman, makanan ringan, film erupsi merapi, foto hingga kaos sebagai kenang-kenangan bergambar Mbah Maridjan sang juru Kunci Merapi yang turut menjadi korban ketika erupsi 24 Oktober 2010.
Ada banyak hal yang bisa disaksikan di lokasi bekas erupsi Merapi. Pengunjung bisa melihat dengan jelas puncak Merapi jika cuaca tengah cerah, saksi bisu korban merapi berupa reruntuhan bangunan, jurang puluhan meter yang kini sudah dipenuhi oleh materia vulkanis dan kendaraan bermotor yang hanya tinggal kerangka.
Bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke lokasi bencana bisa menuju desa Kepuharjo melalui jalur Jalan Kaliurang lewat rumah Makan Morolejar atau lewat Cangkringan. Jika ingin melihat dengan nyaman dan menghindari macet sebaiknya berkunjung sepagi mungkin dan menghindari saat-saat hujan karena sewaktu-waktu bencana banjir lahar dingin masih mengancam.

Cerita dari Lereng Merapi, 18 Desember 2010

Fathoni Arief

What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Friday, December 17, 2010



Bola salju persoalan keistimeewaan DIY ternyata masih menggelinding dan belum juga padam. Seperti yang saya lihat pagi hari ini. di pagar kampus UPN Veteran sisi Timur nampak poster-poster dari kertas HVS hanya berisi tulisan ketikan di tempel di sepanjang pagar. Isi tulisan dalam poster tersebut kurang lebih menentang rencana pemilihan Gubernur secara langsung dan mendukung Sri Sultan serta Pakualam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur seumur hidup.

Meski tidak semua namun sebagian besar warga Yogya bersuara sama terkait dengan rencana tersebut. Lihat saja bagaimana ribuan warga Yogya memadati seputaran Malioboro ketika diadakan sidang terbuka oleh DPRD. Sesuatu yang saya tak habis fikir jika ada beberapa orang menganggapnya seperti simpatisan PKI di tahun 65 yang tengah unjuk kekuatan. Saya juga tidak habis fikir ketika sikap Yogya yang mendapat dukungan dari banyak fihak membuat satu daerah ikut-ikutan minta dijadikan istimewa.

Thursday, December 16, 2010

Sesaat setelah terjadinya kecelakaan KA api Logawa yang terguling di Dusun Petung, Desa Pajaran, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur saya sempat berfikir membuat tulisan untuk mengkomentari kejadian tersebut. Saya tergelitik dengan analisa sebab tergulingnya kereta yaitu Kereta Api melaju diatas kecepatan yang diijinkan ketika menikung(kecepatan normal kereta saat melintas di tikungan maksimal sekitar 70 kilometer per jam. Namun berdasarkan rekaman perjalanan yang diakses KNKT melalui internet, kecepatan kereta saat itu antara 83-89 kilometer per jam).

Belum sempat menulis komentar saya dan beberapa bulan berlalu, berita tentang kereta api kembali menarik perhatian masyarakat. Rentetan tragedi tengah perkeratapian Indonesia. Mulai dari Kecelakaan kereta Argo Bromo dengan Kereta Senja Utama Semarang di Parakan, kereta Bima dengan kereta Gayabaru Malam Selatan dan yang terbaru terbakarnya Kereta Api yang tengah diparkir di stasiun Rangkasbitung Banten. Seperti biasanya kembali masinis kereta yang disalahkan. Masinis kereta Argo Bromo disalahkan karena dianggap lalai, mengantuk saat mengemudikan kereta api. Berita terbaru adalah rusaknya puluhan KRL Jabotadebek kelas ekonomi yang menyebabkan terbengkalainya puluhan ribu penumpang.

Memulai hari dengan udara segar di depan netbook. Tak terasa kini sudah memasuki pertengahan Desember. Rasanya baru kemarin setahun lalu. Namun begitulah sang waktu terkadang melaju dengan kencangnya.

Tanggal 19 September 2010, menjadi saat penting dalam kehidupan saya. Di hadapan penghulu pernikahan dan saksi saya menikah dengan seorang yang kini menjadi pendamping hidup saya. Dengan niat ibadah kami menikah untuk bersama-sama menjelajahi pengalaman baru,rumah tangga.

Alhamdulillah, acara Ijab waktu itu berlangsung dengan lancar. Jauh hari sebelum Ijab saya sudah menghafal bacaan dengan menggunakan bahasa Arab karena menurut saya lebih singkat dan aman.

Wednesday, December 15, 2010

Sehari jelang Semifinal piala AFF antara tim nasional Indonesia dengan Filipina, masyarakat sudah menanti-nanti penampilan Bambang Pamungkas dkk. Lihat saja sejak kemarin loket-loket penjualan tiket sudah mulai diserbu. Mereka yang berkesempatan menonton langsung tak mau kehilangan momen dan rela antre mendapat selembar tiket.

Masyarakat tentunya berharap hasil yang ditunjukkan timnas saat bertanding di babak penyisihan berlanjut hingga final dan tentu saja menjadi nomor satu. Sudah saatnya prestasi sepak bola Indonesia bangkit. Tak perlu muluk-muluk hingga ke tingkat dunia, langkah awal raih dulu mahkota juara ASEAN. Sesuatu yang belum pernah diraih oleh tim merah putih meskipun 3 kali dalam sejarah penyelanggaraan piala AFF timnas nyaris juara namun takluk di pertandingan akhir.

Monday, December 06, 2010

Sambil duduk di depan netbook, saya menikmati segelas kopi hitam pahit, udara sejuk dan kicauan burung bebas dari pepohoinan di sekitar rumah.Tiada kata yang tepat untuk saya ucap selain bersyukur. Kondisi yang beberapa waktu lalu mungkin tak pernah saya jumpai di ibukota. 

Kini, setelah mengundurkan diri dari tempat kerja di Jakarta pertengahan Oktober lalu, saya mencoba mencari peluang baru di provinsi yang baru saja diterjang bencana meletusnya gunung Merapi. Puji syukur saya panjatkan kepada pemilik segala tak hanya karena keluarga semuanya sehat dan selamat namun karena saya bisa sekali lagi mengalami peristiwa yang bagi saya begitu luar biasa. Perasaan mencekam, ketakutan akan dahsyatnya letusan gunung Merapi yang merenggut korban jiwa lebih dari 200 dan harta benda yang tak sedikit.

Merapi saat ini sudah mulai mereda, pengungsi mulai menata lagi kehidupanya, begitupula saya, perlahan mencoba kembali aktif berkarya. Setelah beberapa lama berhenti berkreasi, tak pernah lagi menghasilkan tulisan-tulisan yang biasanya selalu mengisi halaman blog dan akun jaring sosial saya.

Selamat pagi, selamat berkarya

Jalan Kaliurang, jelang awal bulan Muharam

What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.