Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Saturday, May 30, 2015

Edit foto via online

Funnywow merupakan situs olah foto gratis. Situs ini memiliki fasilitas untuk membuat foto koleksi anda menjadi lebih unik dan lucu dengan langkah yang mudah dipelajari oleh orang awam sekalipun. Praktis Anda hanya tinggal mengupload foto Anda, lalu langsung membaginya dengan teman atau keluarga.

Situs ini mampu menyimpan foto-foto yang telah Anda upload. Funnywow juga memungkinkan Anda untuk menerapkan foto Anda ke efek lainnya tanpa upload foto lagi.
 
Funnywow menyediakan berbagai efek foto lucu dengan tema beragam mulai dari selebriti, film, hari libur dan sebagainya.

Untuk mengedit foto menggunakan Funnywow, Anda cukup melakukan beberapa langkah sederhana seperti di bawah ini :

Pertama Anda silahkan Anda masuk ke alamat situs www.funnywow.com.
Selanjutnya pilih efek yang Anda sukai.



Berikutnya silahkan mengupload gambar, dan tunggu hasil menarik seperti apa yang akan Anda peroleh.

FUNNYWOW_0f288dd9d9d76b3aFUNNYWOW_a7ae7bff3bfb37ae
Hasil editing foto dengan funnywow

Bagaimana? Mudah bukan membuat kreasi foto dengan Funnywow

Monday, May 25, 2015

Kabar duka datang dari John Forbes Nash, Jr, ahli matematika senior di Princeton University New Jersey. Tokoh yang kisah hidupnya ada di film A Beautiful Mind meninggal dalam sebuah kecelakaan. Menurut info dari The Guardian Pemenang hadiah Nobel matematika meninggal bersama istrinya, Alicia, dalam kecelakaan taksi di New Jersey Sabtu malam (24/05/15) waktu setempat.

Menurut Sersan Gregory William, seorang polisi dari New jersey, Nash, 86 dan Alicia, 82, bepergian ke New Jersey dan sopir taksi yang mereka tumpangi kehilangan kendali. Taksi tersebut menghantam pagar pembatas dan pasangan itu terlempar dari kendaraan sedangkan pengemudi Taksi dan penumpang dalam kendaraan kedua dirawat karena cedera ringan.

Mendengar kabar mengejutkan tersebut Russell Crowe, pemeran sosok sebagai Nash dalam film 2001, memenangkan empat Academy Awards termasuk gambar terbaik, melalui tweeter mengucapkan belasungkawa.

"Sedih ... hati saya untuk John, Alicia & keluarga," tulis Crowe.

John Nash lahir pada 13 Juni 1928, di Bluefield, Virginia Barat, ayahnya adalah seorang insinyur listrik dan ibunya guru sekolah. Dalam sebuah esai otobiografi disampaikan kepada komite Nobel, Nash menggambarkan awal mula keingintahuannya pada permasalahan matematis.

"Bermula saat saya masih jadi mahasiswa di sekolah tinggi, waktu itu saya membaca Men of Mathematics karya ET Bell. Saya ingat berhasil dalam membuktikan teorema Fermat klasik," tulis Nash.

Harvard mengundang Nash bergabung departemen matematika sebagai mahasiswa doktoral, namun Princeton menawarkan istilah superior, dan Nash diterima sebagai mahasiswa di tahun 1948. Hanya dalam dua tahun ia telah menyelesaikan makalah non cooperativ game yang akan diakui dengan hadiah Nobel di bidang ekonomi 40 tahun kemudian.

"Makalah ini memperkenalkan konsep permainan tidak kooperatif dan mengembangkan metode untuk analisis matematis dari game tersebut," Nash memulai karyanya. "Hasil matematika utamanya adalah bukti eksistensi dalam permainan setidaknya satu titik ekuilibrium."


Prestasi Nash yang mengagumkan hancur, 10 tahun berikutnya setelah ia mengidap penyakit mental yang didiagnosis pada tahun 1959 sebagai skizofrenia paranoid.

"Gangguan jiwa dimulai awal bulan tahun 1959 pada saat Alicia kebetulan hamil," tulis Nash dalam esai Nobel. "Dan sebagai konsekuensinya saya mengundurkan diri posisi saya sebagai anggota fakultas di MIT dan, pada akhirnya, setelah menghabiskan 50 hari di bawah 'pengamatan' Rumah Sakit McLean."

Dalam sebuah liputan berita dari Nobel, wartawan Sylvia Nasar, yang akan melanjutkan untuk menulis A Beautiful Mind, buku yang menjadi dasar film karya Ron Howard menggambarkan perjuangan Nash.

"Dia tidak mati, tapi hidupnya, setelah awalnya nampak bakal memiliki masa depan menjanjikan, menjadi neraka," tulis Nasar.

Dalam esai, Nash menggambarkan perjuangannya dirinya keluar dari penyakitnya.

"Setelah saya kembali ke hipotesis delusi mimpi seperti di tahun 60-an kemudian saya menjadi orang yang berpikir delusi," tulis Nash.

"Waktupun berlalu. Kemudian secara bertahap saya mulai menolak beberapa garis delusi yang mempengaruhi pemikiran dan orientasi saya "

Alicia Nash, seorang seorang mahasiswa fisika MIT keduanya bertemu, menceraikan ahli matematika pada tahun 1963 namun terus merawatnya selama sakit, yang menghalangi karir John Nash selama beberapa dekade. Dia melanjutkan kontak profesional di tahun 1980-an; pasangan ini menikah lagi pada tahun 2001.

Di antara penghormatan yang mengalir untuk Nash datang satu dari NSA, penerima surat yang tidak diminta dari Nash pada tahun 1950 tentang teknik enkripsi. Surat-surat tersebut telah menjadi koleksi museum di NSA.

"NSA turut bersedih karena kehilangan ahli matematika terkenal John Nash," kata lembaga itu di akun resmi Twitter.

Pekan lalu, Nash menerima penghargaan Abel $ 500.000, salah satu dari penghargaan prestasi seumur hidup dalam matematika, dengan matematikawan New York University Louis Nirenberg. Hadiah itu diberikan atas riset keduanya dalam persamaan diferensial parsial, yang digunakan untuk menggambarkan perubahan, gerakan dan kecepatan. Nirenberg mengatakan Nash adalah seorang ahli matematika yang benar-benar hebat dan "jenis jenius".

Sumber : The Guardian

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Saturday, May 23, 2015

Memilih Produk Life Insurance
Kesadaran masyarakat untuk memiliki produk life insurance (asuransi jiwa) tahun demi tahun naik. Mereka menyadari pentingnya memiliki proteksi diri jika sewaktu-waktu mengalami hal yang tidak diinginkan. Mereka paham memiliki life insurance penting, apalagi bagi pekerja lepas dan wiraswastawan seperti saya ini, yang harus memberi jaminan bagi dirinya sendiri dalam menjalani profesi seperti.

Mengenai life insurance, sekarang ini ada berbagai macam produk asuransi jiwa yang ditawarkan oleh perusahaan, mulai dari life insurance murni, hingga memadukan antara investasi dan perlindungan. Beredarnya berbagai macam produk tersebut membuat masyarakat harus jeli kira-kira produk seperti apakah yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sebelum membeli suatu produk masyarakat perlu mengidentifikasi apakah yang mereka butuhkan jaminan yang maksimal atau dengan program investasi. Selain itu mereka harus paham, jika ternyata memilih asuransi murni, bahwa memiliki asuransi jiwa tidak sama dengan tabungan. Membeli produk asuransi jiwa artinya, perusahaan penyedia bakal  menjamin untuk membayar sejumlah uang pertanggungan, jika terjadi risiko kematian pada pembeli produk selama kontrak asuransi berlangsung. Jika ternyata tidak terjadi risiko kematian selama masa asuransi berlangsung, maka tidak ada uang pertanggungan yang dibayar.

Setelah mampu mengidentifikasi kebutuhan perlindungan seperti apa yang mereka butuhkan selanjutnya memilih produk dengan cicilan perbulan tidak memberatkan, namun nilai uang pertanggungan sesuai dengan harapan. Walaupun itu tidaklah mudah, karena kenyataanya banyak produk asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan besar, namun cicilan premi yang harus dibayar tiap bulan juga lumayan menguras kantong.
Fathoni Arief


Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Wednesday, May 20, 2015

Perjalanan kembali kami lanjutkan. Kali ini tujuan kami adalah karang Taraje. Kami menanti angkutan menuju daerah itu namun dari beberapa yang lewat ternyata semuanya penuh. Melihat kondisi itu akhirnya kami memutuskan tetap naik bagaimanapun caranya.

Ternyata memang benar semua angkot menuju Karang Taraje penuh. Sebuah angkot akhirnya lewat, di dalam sudah penuh sesak. Di atas juga tak jauh beda, ada tumpukan karung beberapa orang dan tumpukan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya kami sudah membayangkan naik di atas namun si kenek melarang. Tas-tas kami dikumpulkan lalu ditumpuk begitu saja di atas Elf dan nasib kami tak lebih baik dari tas-tas kami. kami dengan posisi yang sangat tak enak bergelantungan di pintu.

Bergelantungan di pintu, membuat lengan saya harus bekerja keras menahan berat badan. utamanya tiap kali kendaraan menikung dan naik. Kami tak boleh mengantuk atau lengah kalau tak ingin jatuh dari kendaraan. Untung saja kondisi itu tak berlangsung lama setelah beberapa kilometer akhirnya ada penumpang yang turun dan saya mendapat posisi berdiri yang lebih enak karena tak harus bergantungan lagi.

Perjalanan menuju Karang taraje jika kondisi normal memakan waktu 2 jam. Menuju sana di kanan kiri yang terlihat adalah hutan. Sepanjang jalan hutan dan sangat jarang terlihat perkampungan penduduk.

Kondisi kami terus membaik. Dari awalnya bergelantungan kemudian berdiri setelah beberapa saat akhirnya dapat tempat duduk juga. Sewaktu berdiri berdesakan dengan penumpang saya sempat amati ekspresi mereka. Beragam cara untuk habiskan waktu di angkot ada yang smsan, ngobrol, diam saja, dan ada yang seolah-olah tak terpengaruh asyik dengan buku bacaan.

Dengan kondisi tubuh yang melemah, letih, dan penat saya terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan. untung saja akhirnya saya mendapat tempat duduk sehingga meski sempat terlelap tak membahayakan bagi saya. Memang asyik melintasi jalanan yang masih hijau diterpa angin..rasanya nikmat sekali sebuah perjalanan.

jam 3 akhirnya kami sampai juga di pantai karang Taraje..Kami mengambil tas-tas yang ditumpuk di atas mobil dan sempurna...karena berdekatan dengan karung-karung berisi ikan tas-tas kami jadi bau ikan...

Dari jauh ada seseorang yang memanggil Opik..wanita berusia 40an dengan membawa monyet kecil di bahunya yang sedang menunggu angkot. Ia sempat ngobrol dengan Opi nampaknya mereka sudah saling kenal. Kata si opi dia namanya mami Kunti. mami kunti pengelola sebuah penginapan tak jauh dari tempat kami berhenti. Dulu si Opi pernah bermalam di tempat itu..

Suasana pantai tersebut nampak lengang. Warung-warung yang banyak terdapat di pinggir sebagian besar tutup..satu tanda tanya besar tersimpan dalam fikiran saya..

Berikut ini Rute Menuju Pantai Karangtaraje :


16 Agustus 2008

<

Karyawan Tiara Handycraft Surabaya
Umi, gadis manis berusia tujuh belas tahun ini merupakan salah satu diantara banyak karyawan Tiara Handicraft Surabaya. Baru 5 bulan ia bekerja di sini. Awalnya ia belajar di sebuah Panti di daerah Bangil setelah selesai masa pendidikan ia disalurkan kesini.

Suasana di Tiara Handycraft
Ada banyak hal yang ia dapatkan di tempat bekerjanya saat ini, Tiara Handycraft. Selain keluarga baru ia juga mendapat motivasi baru. Ia benar-benar merasakan hal itu. Dulunya ia sempat merasa minder karena memiliki tubuh yang tidak sempurna. Umi hanya memiliki satu tangan dan kaki yang sempurna. Untuk beraktifitas sehari-hari ia dibantu dengan sebuah tongkat. Meski saat ini hanya sebagai seorang karyawan gadis kelahiran Banyuwangi ini berkeinginan suatu saat jika ada modal ia akan membuka usaha sendiri.


Mujiah, gadis berjilbab berusia duapuluh lima tahun ini juga tak kalah luar biasa. Ia memiliki kedua tangan yang tidak sempurna namun semua pasti tak akan percaya jika ternyata ia mahir dalam menyulam. Gadis asli Magetan ini juga lulusan Panti di Bangil. Ia masuk tahun 2006 dan lulus tahun 2007. Meski memiliki kekurangan namun tak sedikitpun rasa minder terpancar di wajahnya.


Umi dan Mujiah hanyalah sebagian kecil dari orang-orang kreatif yang ada di Tiara Handycraft. Mereka mampu menunjukkan bahwa dengan keterbatasan yang ada tetap bisa berharga dan justru tidak menjadi beban bagi masyarakat.

“Bagi saya kurang senang melihat orang-orang cacat yang memanfaatkan kekurangan mereka untuk mengaharap belas kasihan orang. Lebih baik bekerja saja selagi masih mampu daripada minta-minta di jalanan,” kata Mujiah.

Surabaya, 11 Mei 2008

Catatan Fathoni Arief

Sunday, May 10, 2015

Berpuluh-puluh menit menunggu angkot "Elf" tujuan Karang taraje akhirnya lewat juga. Namun angkot itu penuh sesak dengan penumpang bahkan ada yang naik di atap mobil. Oleh kondektur kami disuruh naik ke atas saja. Kamipun naik bergabung dengan tumpukan barang kebutuhan sehari-hari dan beberapa orang penumpang yang lain.

Saya mendapat tempat di pojok depan atas, dengan tumpukan kursi plastik dan hanya berpegangan besi yang kebetulan ada tali di sebelah kanan saya. Saat mobil mulai bergerak adrenalin sayapun terpacu. Gila live show bagaimana mobil dengan terengah-engah mencoba mendaki jalanan yang naik dengan beban yang wow..



Seakan tak mau melepaskan begitu saja momen langka ini saya mencoba mengambil kamera yang ada di ikat pinggang saya sebelah kanan. Cukup sulit juga karena saya harus menjaga keseimbangan dengan posisi pegangan yang sulit. awalnya saya coba mengambil handycam dari tas namun lebuh sulit lagi. Akhirnya kamerapun bisa saya pegangi.

Dengan asal jepret-jepret ya cukup sulit memang karena dengan mobil yang melaju kencang dan bergoyang-goyang. Dengan satu tangan saya ambil suasana saat itu dengan menu video pada kamera digital. Saya lupa memori card di kamera itu hanya 256 MB. Maka hanya beberapa belas menit sudha penuh. Saya masih ada 1 memori 1GB namun mengganti tidak memungkinkan. Tak ingin kehabisan waktu dengan terpaksa akhirnya saya bisa meraih handycam dan saya bisa..momen-momen saat adrenalin terpacu itupun terabadikan meski cukup slit juga.

Melihat kondisi mobil yang penuh dan kondisi medan yang lumayan mengerikan akhirnya rencana berubah lagi. kami tak langsung menuju Karang taraje namun berhenti di sebuah bukit di Cibangbang dimana kami bisa melihat laut dari atas.

Waktu sudah mendekati tengah-tengah hari....cuaca makin panas..Setelah turun dari Elf itu kami tak langsung menuju bukit namun mampir di sebuah warung sekedar cari minuman-minuman dingin. Sambil menghilangkan dahaga kami numpang sholat meski disana air tak ada sehingga harus tayamum. Dari bu haji kami mendapat banyak informasi tentang bukit dan kendaraan terakhir menuju Bayah.

Setelah sholat dan istirahat cukup kami titip tas dan kemudian menuju bukit dimana kami bisa melihat laut dengan lebih jelas. Sesuai dengan anjuran bu Haji kami ijin dulu ke pos jaga. Bukit itu ternyata adalah pos pemantauan tsunami dan stasiun penerima sinyal pesawat yang diuji coba. Penjaga itu mengijinkan kami untuk naik ke bukit itu.

Selain penjaga ada 3 anjing yang tinggal di pos itu. Anjing itu sempat menggonggong dan membuat Opi ketakutan..hehehe..bahkan sewaktu kami jalan anjing itu malah mengejar hingga akhirnya ada seseorang lagi yang mengalihkan perhatian anjing-anjing itu.

Jalanan menuju puncak bukit itu ternyata cukup melelahkan...jalannya miring hingga membuat kami ngos-ngosan... namun rasa capek kami ternyata tak sia-sia. kami tiba di atas dan melihat pemandangan yang luar biasa dari bukit itu. kami melihat pantai...pemandangan yang luar biasa..

Tak lama kami diatas. Kami harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin jika tak ingin kehabisan angkutan menuju Karang Taraje..kamipun kembali turun. Di tengah jalan kami bertemu lelaki yang mengusir anjing-anjing yang mengejar kami. lelaki itu namanya pak tauhid ia merupakan penjaga di pos pemantauan ini. Dia dulunya adalah karyawan PT Dirgantara Indonesia. kami mendapat banyak cerita dari lelaki ini mulai dari tentang kedirgantaraan hingga jalan hidupnya.

Pak tauhid justru mempersilahkan kami jika ingin naik keatas menikmati pemandangan lain waktu..dan menganjurkan untuk menceritakan pada yang lain..Begitulah perjalanan seringkali kami bertemu dengan sosok-sosok yang luar biasa dalam kesederhanaan mereka..

16 Agustus 2008

Bersambung


Thursday, May 07, 2015

Lelah, seharian menempuh perjalanan menuju Sawarna. Namun kami lega akhirnya mendapat satu tempat untuk sejenak bersitirahat. Bu hubaya mengantar kami menuju sebuah kamar dengan kasur-kasur yang ditata dibawah. Untung saja masih ada tempat kosong.

Setelah mandi, bersih-bersih, dan sejenak istirahat kami makan malam di tempat pak Hubaya. Indah sekali malam itu. Makan dengan penerangan lampu yang tak begitu terang bisa melihat malam tentunya dengan sepaket bintang dan rembulan, serta hembusan angin malam. Satu komposisi yang sempurna. Lengkap sudah kenikmatan malam itu.

Selesai makan kami turun ke bawah. di bawah sudah ada pak Hubaya. Si Opi sangat tertarik dengan gitar-gitar yang sedang dalam proses pembuatan. Ternyata pak Hubaya ini juga seorang maestro pembuat gitar. Mantan penerima Upakarti di era Suharto ini bahkan sudah sering melayani berbagai pesanan baik dari dalam maupun luar.

Ada banyak pengetahuan yang kami dapat waktu itu. Beragam hal baru mulai dari proses pembuatan gitar, bahan apa yang paling bagus dan hal-hal lain yang kurang saya mengerti maklum saya tak bisa memainkan alat musik ini. Begitulah sosok pak hubaya, yang selama ini hanya saya baca di sebuah artikel di internet.

Selain cerita tentang gitar ada satu hal yang terjawab sudah mengenai keberadaan desa di pelosok namun termasuk maju. Pak Hubaya cerita banyak hal bagaimana dia memimpin desa ini selama bertahun-tahun.

Rasa lelah membuat kantuk makin menjadi. Sayapun segera menuju lantai atas. Perlahan saya rebahkan badan..menyambut matahari terbit di tempat impian Sawarna..

16 Agustus 2008

Bersambung

Tuesday, May 05, 2015

Malam mulai senyap, meski jam baru tunjukkan pukul 20.00. Di sebuah gang di daerah Pogung Lor, Jogjakarta di salah satu kampung, sebuah rumah dengan penerangan seadanya terlihat 3 orang anak muda berusia 20 tahunan. Mereka duduk melingkar dengan gelas kopi, asbak, puntung rokok, bungkus kacang, gorengan yang masih tertinggal beberapa dalam kresek hitam yang berkilauan dalamnya akibat terkena minyak gorang murahan.

Hanya perbincangan yang terdengar di rumah itu. Perbincangan diantara mereka bertiga, sementara sayup-sayup dari ruangan lain di rumah itu terdengar suara siaran radio FM dari salah satu stasiun di Jogjakarta.

Praktis kampung itu memang benar-benar sunyi. Tak seperti kampung lain di sekitarnya yang juga mayoritas dihuni oleh mahasiswa. lalu lalang kendaraan juga jarang terlihat. Mungkin juga karena gerimis hujan yang basahi kota pelajar sejak sore tadi.

Di pos ronda yang biasanya ramai oleh tukang-tukang becak dan warga yang penuh hiruk pikuk dialog tentang sepak bola Indonesia, jatah BLT hingga Pemilu yang sebentar lagi akan berlangsung lagi. yang terlihat hanya seorang tukang ojek dengan jaket tebal yang asyik menghirup rokok kretek. Dia bersandar di dekat plang yang bertuliskan " Jam belajar Masyarakat".

Setelah sore tadi gerimis dan setelah maghrib ditutupi awan tebal, akhirnya awan itu mengumpul. Entah karena lelah atau apa akhirnya kumpulan awan itu pecah jadi titik-titik air yang makin lama-makin besar. Tak lama kemudian hujan kembali turun. kali ini benar-benar deras. Hujan turun ada yang terserap langsung ke tanah ada juga yang mengalir begitu saja hingga mengisi jalan-jalan berlubang dan kubangan-kubangan yang ada. Makin lenganglah kampung itu.

Di tengah kelengangan malam sebuah sepeda motor melintas. Pengendaranya berjacket hitam dengan tas punggung. Nampak ia basah kuyup tergesa-gesa ia masuk ke salah satu rumah di sudut kampung Pogung Lor. Rumah sudah dalam keadaan tertutup, suasananya lengang, berkali-kali ia mengetuk pintu namun tak jua ada yang keluar hingga akhirnya di ketukan yang kesekian kali seorang dengan memakai kaos dan celana pendek keluar. Dengan terbatuk-batuk sambil menahan dingin ia membukakan pintu.
"Darimana Kang?", tanya lelaki yang membukakan pintu.
"Dari Pacitan," jawab lelaki berjaket hitam.









Monday, May 04, 2015

Nelayan Sunda Kelapa
Diantara udara berdebu dan lalu lalang kuli angkut Pak Uding duduk di pinggiran dermaga Pelabuhan Sunda Kelapa. Pria kelahiran Sulawesi keturunan Bugis ini menunggu para pengunjung yang memakai jasanya berkeliling areal perairan pelabuhan dengan perahu kecilnya.

"Pemandangan di sekitar sana bagus mas. Berkeliling pelabuhan. Kalau di sini banyak debu," tawar Uding pada kami. Ia tawarkan harga murah untuk bisa menikmati angin pantai dengan berkeliling areal perairan pelabuhan.

Setelah sepakat dengan harga yang ditawarkan kamipun naik ke perahu kecilnya. Perlahan-lahan kami diajak berkeliling melihat sisi lain dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Sambil mendayung Uding bercerita banyak hal pada kami. Dari ceritanya bisa saya tarik kesimpulan laut telah jadi bagian dari kehidupannya.




Uding sudah sejak tahun 1981 datang ke Jakarta. Saat ini ia tinggal di pemukiman di dekat pelabuhan. Sehari-hari ia menggantungkan hidup dari para pengunjung yang kebetulan menyewa perahunya. " Kalau tak ada yang nyewa ya saya hanya putar-putar sekitar sini," katanya.





Melihat Sunda Kelapa dari sisi lain memang lebih menarik. Namun sangat disayangkan kesan kumuh lebih mengemuka di sini. Belum lagi adanya sampah yang mengapung di sekitar perairan.





Kurang lebih beberapa puluh menit kami diajak berkeliling areal pelabuhan. Satu hal baru bagi saya karena bisa lebih dekat dan tahu kehidupan orang yang tinggal di wilayah pesisir.


Sunda Kelapa, 17 Mei 2008





I see skies of blue..... clouds of white
Bright blessed days....dark sacred nights
And I think to myself .....what a wonderful world...
Tak ada banyak kata-kata keluar untuk menyatakan ketakjuban saya atas indahnya pantai Karang Taraje jelang senja. Di antara karang-karang dan deburan ombak tersimpan sejuta misteri dan satu keindahan. Seperti lagunya Louis Amstrong yang bisa saya katakan And I think to myself..what a wonderful world..


Sampai di Karang Taraje tempat yang langsung kami tuju adalah sebuah warung. Satu warung diantara sedikit yang buka. Saya masih menyimpan tanda tanya besar mengapa sebagian besar warung-warunng tersebut tutup. Perut sudah mulai terasa keroncongan meski seperti tadi pagi mungkin hanya sepiring mie gorang sebagai pengganjal perut. Di Warung itu yang saya lihat penjual dengan busana seronok dan kumuh. Sayapun mulai berkesimpulan apakah ini tempat begituan? Saya masih menyimpan tanda tanya besar itu.

Ada seorang kenalan baru yang kami temui di warung itu. Ia mengaku bernama "Kombet" sungguh nama yang aneh. kombet merupakan tukang ojek dan mungkin keluarga dari pemilik warung atau malahan ini adalah warung milik dia.

Dari mulut Kombet kami banyak mendapat cerita dan tanda tanya besar sayapun terjawab. Tempat ini memang tempat mangkalnya PSK dan warung-warung yang ada di sekitar sini dulunya banyak menyediakan pemuas nafsu lelaki hidung belang dan minuman keras. namun ada satu peristiwa yang membuat warung-warung itu kini tutup. Bahkan sebagian besar PSK kabur dan warung-warung tak lagi berani jual minuman dengan kadar alkohol tinggi.



Waduuh dengar cerita dari Kombet saya was-was juga...hehehe..dan Opi sudah kasih alarm nanti maghrib lekas-lekas cabut dari tempat ini. Opi juga cerita sosok yang tadi kami temui. Orang yang dia panggil sebagai Mami Kunti ternyata seorang "mami-mami" (baca: mucikari). Hohoho...ngeri juga kalau berlama-lama di tempat ini.




Kami ngobrol banyak hal dengan Kombet. Dari Kombet kami juga mendapat info tentang Sawarna. Bahkan kami juga sudah pesan ojek untuk mengantar kami ke Sawarna. Katanya jalur menuju Sawarna sedang dalam perbaikan. jadi agak sulit jika malam-malam menuju kesana.

Setelah menikmati mie goreng kami nitip tas untuk menuju Karang Taraje. Menunggu matahari tenggelam, sunset. Menyusuri pantai karang itu makin membuat saya terkagum-kagum akan keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa. Puas juga menikmati Sunset di Karang taraje selain mendapat obyek yang luar biasa indah dapat model gratisan yang nongol di pinggiran pantai. 2 orang cewek misterius saya menyebutnya. Entah yang jelas tingkah laku mereka aneh. Yang satu teriak-teriak, dan yang satu hanya diam duduk, melamun...

Yah angin yang berhembus kencang..rerumputan yang bergoyang perlahan dan matahari tenggelam menjadi menu sore itu..dan sekali lagi dalam hati saya hanya bisa berkata..I

And I think to myself .....what a wonderful world.




16 Agustus 2008




Bersambung




Friday, May 01, 2015

Tahukah Anda salah satu minuman termahal? Ternyata adalah  Kopi Luwak. Ada berbagai hal yang unik dan menarik tentang kopi luwak mulai dari rasanya, proses pembuatan, dan fakta yang lain.

Kopi Luwak banyak ditemui di Sumatera, Jawa serta Sulawesi. Penamaan kopi Luwak juga disebabkan keterkaitan Luwak dalam proses pembuatan kopi. Proses pembuatan kopi Luwak memang sangat unik. Seperti telah kita ketahui kopi dihasilkan dari bijinya. kualitas sebuah kopi sangat ditentukan oleh pemilihan buah kopi. Proses pemilihan inilah yang perannya diambil oleh Luwak.

Makanan luwak diantaranya adalah buah kopi. Luwak hanya akan makan buah kopi yang benar-benar pilihan. Buah-buah kopi yang telah dimakan oleh luwak itu nantinya akan dicerna dan dibuang lewat kotoran. Diantara kotoran luwak ini biji-biji kopi tersebut diambil.

Tentunya biji tersebut tak bisa dicerna. Biji-biji kopi yang telah dikumpulkan dari kotoran luwak tersebut kemudian dijemur setidaknya selama seminggu. Setelah benar-benar kering ditumbuk agar selaput pembungkus biji kopi bisa lepas. Itu belum proses terakhir masih ada pekerjaan pemilihan biji-biji tersebut secara manual. Bisa dikatakan semua proses mulai dari pemilihan buah kopi hingga berbentuk biji kopi berjalan secara alamiah dan manual.
















Situs terkait tentang kopi luwak :www.buy-kopi-luwak.com, www.animalcoffee.com




Sumber image : gettyimages



Terik matahari yang menyengat tak menyurutkan minat saya menikmati pertunjukan kuda lumping di pelataran Museum Fatahilah. Tak hanya sekilas bahkan hingga beberapa kali pertunjukkan. Walaupun ceritanya sama, orang-orangnya sama hanya penontonnya saja yang mungkin berbeda. 

Waktu sudah beranjak dari tengah hari ketika sekelompok seniman tradisional jalanan menempati sisi Barat halaman museum Fatahilah. Seorang diantara mereka melangkah ketengah dengan membawa cemeti panjang. Pria dengan cambang berkaos lurik merah putih dengan baju luar warna hitam memainkan cemeti. Ia mengibas-kibaskan cemetinya hingga terdengar suara keras ketika terbentur ke lantai. Perlahan orang-orang yang berada di sekitar museum mulai mendekat. Mereka berkerumun tertarik pertunjukan tersebut.

Setelah itu muncul beberapa anggota kelompok yang lain. Mereka melakukan aksi akrobatik. Diantara mereka ada yang berperan sebagai “korban” untuk memancing tawa penonton. Entah apa yang lucu namun yang jelas penonton banyak yang tertawa. Mereka tak hanya dari kalangan dewasa saja. Beberapa pemain nampak berusia belasan tahun bahkan ada yang masih dibawah sepuluh tahun. Kemungkinan bocah-bocah tersebut anak-anak dari pemain yang senior. 

Pertunjukan berikutnya seorang dengan cambang lebat dan berwajah cukup sangar. Dengan cambuk dan keris berada di tengah-tengah. Di dekat sebuah ember plastik warna hitam ia merunduk dan perlahan memasukan mukanya. Sesaat kemudian perlahan mukanya dia angkat seperti tengah membaca mantra-mantra. Di sekelilingnya sudah ada beberapa pemain lain yang membawa kuda lumping. 

Setelah berkomat-kamit ia menyemburkan air. Kemudian memutarkan cemetinya hingga keluar suara keras. Suara cemeti yang membentur disusul dengan pemain kuda lumping yang mulai kemasukan. Dengan kuda lumping menari-nari mulutnya menganga ketika seseorang membawa pecahan kaca. Perlahan ia mengunyahnya. 

Dalam kondisi kerasukan seseorang menuntun pemain kuda lumping itu berkeliling. Mengitari penonton sambil mengulurkan tempat menaruh receh dan lembaran-lembaran uang dari penonton. Hingga pemain kuda lumping itu kembali disadarkan dan pertunjukkan itu selesai. Pertunjukkan yang mereka lakukan tak hanya sekali dalam sehari bisa hingga 5 kali bahkan lebih. 

Ada banyak anggota kelompok kesenian kuda lumping ini. Semua memerankan perannya masing-masing. Mulai dari menjadi korban lucu-lucuan, sebagai pemain akrobat, pemain musik, hingga yang bertugas berkeliling meminta saweran dari para penonton. Mereka semua dengan keterbatasan. Tetap terlihat senyum di wajah mereka. 

Beberapa tahun ini jumlah pengunjung kota tua ini makin bertambah. Saya teringat sekira pertengahan tahun 2008 ketika pertama kali berkunjung. Meskipun waktu itu cukup ramai namun tak sebanyak akhir-akhir ini. 

Mengunjungi kota tua tak mesti identik dengan keluar masuk museum, menyewa sepeda untuk berkeliling kawasan. Ada begitu banyak obyek lain yang bisa dinikmati. Jajanan di sekitar, penjual berbagai macam barang, berbagai macam jasa hingga kelompok kesenian kuda lumping. Kelompok kesenian yang mencoba bertahan mengais rejeki diantara modernisasi kota. 

Kota tua Jakarta, 17 April 2010

Fathoni Arief

What A Wonderful World (Luis Amstrong)

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.