Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Tuesday, June 09, 2015

Gambar Kutang

Anda pasti tahu apa itu kutang? Namun tahukah Anda seperti apa asal-usul pakain dalam kaum hawa ini. Penyebutan nama pakaian dalam wanita ini ternyata memiliki asal usul yang menarik.

Pada saat awal abad 19 ketika dimulainya pembangunan proyek jalan Deandels dari Anyer sampai Panarukan tersebutlah seorang pembantu setia Gubernur Jenderal yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan proyek tersebut. Dialah Don Lopez comte de Paris, keturunan Spanyol yang secara penampakan berbadan kekar.

Hingga awal abad 19 di daerah Jawa masih banyak penduduk (wanita) yang bertelanjang dada. Mereka hanya memakai penutup di bagian bawah. Bahasa Jawanya ngligo, dan ini sebetulnya hal yang biasa di desa-desa dan kota. Adalah Don Lopez yang pertama kali menyuruh para pekerja paksa proyek jalan Anyer Panarukan itu untuk menutup bagian payudaranya.

Kepada budak-budak dari Semarang yang mengerjakan jalan pos di kota tersebut Don Lopez memotong kain putih dan memberi kepada salah satu budak perempuan yang tergolong cantik dan belia. Sambil memberikan potongan dia berkata “tutup bagian berharga itu” dalam bahasa Prancis kata berharga “ coutant”.

Ternyata budak perempaun itu bertanya-tanya untuk apa kain itu. Don Lopez terus menunjuk-nunjuk payudara perempuan itu dan berkata,” Coutant! Coutant”.

Budak itu tetap tak mengerti juga. Ia hanya melihat bagian payudaranya apakah ada yang salah.

Orang yang melihat adegan tersebut serta merta mengira bahwa kain putih yang ditunjuk-tunjuk ke payudara untuk dipakai sebagai penutup adalah namanya coutant. Salah seorang budak yang ada di dekat perempuan itu lantas berkata “ o, kuwi jenenge kutang”.


Sejak itu lahirlah istilah baru yang sebenarnya salah kaprah, bahwa “kutang” adalah kain penutup payudara.


Sumber : Novel Pangeran Diponegoro, Remy Sylado

Monday, June 08, 2015

Bapak Penjual AngkringanLelaki setengah tua masih sibuk melayani para pembelinya. Dia dengan sangat cekatannya meracik segelas teh dan wedhang jahe panas pesanan langganannya. Sekali-sekali ia tersenyum dan mengobrol dengan orang-orang yang menunggu pesanannya. Malam ini memang bangku-bangku di angkringan ini telah dipenuhi oleh para pembeli setianya. Ramah dan murah senyum barangakali itu yang menjadi kunci suksesnya selama ini berdagang angkringan.

Remang-remang lampu minyak menerangi angkringan, salah satu ciri khasnya selain penutup yang sebagian besar berwarna oranye. Jika dirasakan lampu seperti itu tak cukup untuk menerangi seluruh sisi warung akan tetapi justru ini yang menambah cita rasa, suasana tersendiri yang membuat orang berjam-jam kerasan untuk nongkrong di warung itu. Suasana yang justru akan kehilangan sesuatu jika menggunakan lampu yang lebih terang.

Suasana remang-remang dan sedikit gelap ternyata hanya diluarnya saja. Tak begitu dengan hati mereka yang ada di sana justru kebanyakan akan merasakan lega, bisa terbebas dari stress dan nikmat yang luar biasa. Suasana seperti itu akan lebih terasa jika ditunjang oleh segelas teh nasgitel (panas, legi, kental/panas, manis, kental), gorengan dan sebungkus nasi yang sering disebut dengan nasi kucing. Semua itu seperti piranti-piranti penting dalam memualai sebuah diskusi yang tanpa ada tekanan, bebas dan satu hal yang perlu dicatat topik pembicaraannya selalu up to date.

Hal yang dibicarakan oleh para pembeli angkringan yang sering berkumpul selalu bergonta-ganti topik dengan berbagai aneka cita rasa. Terkadang ada topik yang berbau saru, klenik dan mistis, tentang perkembangan politik, liga Indonesia, tinju hingga berapa prediksi nomor togel yang akan keluar. Wajah-wajah ceria ngobrol dengan lepas tanpa tekanan dan penuh dengan suasana kekeluargaan.

Tak tahu secara pasti kapan pertama kali angkringan-angkringan ini datang ke kota ini. Ada yang bilang kedatangannya sekitar tahun 1980an. Diantara pedagang angkringan tersebut sebagian besar adalah orang dari Klaten. Hal yang perlu dicatat ternyata Yogya bukanlah asal dari angkringan meskipun saat ini di tiap sudut kota dan gang-gang bertebaran ribuan pedagang angkringan.

Di Yogya ada banyak warung angkringan yang cukup melegenda. Angkringan yang terletak di jalan Gejayan, dengan antrean panjangnya, angkringan di Utara stasiun tugu dengan menu kopi josnya (kopi yang dimasuki dengan arang yang membara), dan masih banyak lagi dengan ciri khas masing-masing.

Warung angkringan tempat makan di mana para pembeli sering menggunakannya sebagai tempat pelepas lelah dari segala aktivitas seharian. Di sini suntikan darah segar dan semangat baru bisa didapatkan. Hanya dengan berbekal uang ribuan segala penat bis hilang dan keesokan hari mampu melewati segala aktivitas dengan semangat baru.
Sebenarnya aku baru mengenal warung angkringan sekitar lima tahun yang lalu, ketika untuk pertama kali menginjak kaki di kota ini. Saat itu sempat juga terkaget kaget dengan harga saat itu. Makan dua bungkus nasi dan segelas teh panas tak lebih dari seribu lima ratus yang kubayarkan. Coba di bagian mana di negeri ini ada harga yang semurah itu.

Sering juga aku mengikuti pembicaraan mereka. Ada yang lucu serius semuanya bisa bergabung di forum tersebut.
" Kang katanya harga BBM yang sempat dinaikkan mau di turunkan lagi ya?"Seseorang dengan usia paruh baya pada rekannya yang kebetulan duduk di sebelahku.

"Ah ngga tahu yang begituan, seperti itu urusan orang diatas sana. Mereka yang dulunya kita pilih sebagai wakil kita di Senayan sana". Jawab lelaki tua yang duduk di sebelahku.
" Iya kang sebagai rakyat kecil bisanya apa! Kalau diturunkan lagi ya syukur kalau nggak mau gimana lagi. Mau apa demonstrasi apa suara kita akan didengar?"
Melihat dan mendengar perbincangan mereka seakan tak mau ketinggalan sang penjual angkringan langsung saja menanggapi.
"Setuju, saya setuju dengan yang tadi. Kalau sampe harus demo-demoan segala nanti kapan waktu jualannya. Mending jualan saja."

Mendengar jawaban pak tua pedagang angkringan semuanya tertawa lepas. Aku sendiri secara tak sadar menikmati pembicaraan itu dan ikut tertawa. Ekspresi mereka, kepolosan, dan sekaligus terharu dengan perjuangan mereka dalam menjalani perjuangan dalam kehidupan ini sesuai dengan cara yang meraka fahami.

Malam semakin larut. Pembicaraan mereka rasanya tak pernah kehabisan topik. Aku lihat jam tanganku memang sudah hampir tengah malam. Segera saja aku bangkit mendatangi penjual itu dan membayar semua yang kumakan dan minum .
"Sudah pak ! Aku makan nasi tiga bungkus, the panas dan gorengan dua". Dengan cepat pak tua itu menghitung. Tanpa menggunakan kalkulator canggih dia segera menyebut berapa yang harus kubayar. Begitu saja dia menyebut dengan berbekal sebuah kepercayaan yang ia berikan pada para pembelinya.

Segera kusodorkan uang yang ia sebutkan dan segera undur diri dari ajang diskusi angkringan itu. Rasanya lega dengan hanya beberapa ribu saja bisa kita dapatka semuanya. Selain perut kenyang disini juga di akjarkan pentingnya menjaga kepercayaan dari penjual, piawai dalam berdiskusi dan mampu mendengarkan pendapat orang lain. Satu yang membuatku kagum ternyata rakyat tak sebodoh dan ilmu pengetahuannya tak sedangkal seperti yang kita kira meskipun terkadang mereka hanya belajar disini, Universitas Angkringan.

Fathoni Arief

Friday, June 05, 2015

Lampion di Acara Imlek
Pagi hari yah mungkin agak siang jam setengah sembilan saya berangkat rencananya hunting foto peringatan Imlek. Setelah sempat nyasar tanpa tujuan akhirnya saya menuju ke Glodok. Menurut cerita dari teman-teman saya dan berita di daerah tersebut biasanya ramai sekali tatkala tahun baru imlek tiba. Saya baru pertama kali melihat seperti apa peringatan Imlek sehingga tak tahu lokasi acara tersebut berlangsung.

Dari halte busway Glodok saya menyeberang jalan. Menyusuri pertokoan yang di pinggirannya banyak pedagang asongan dengan beragam dagangan. Yang nampak oleh saya kebanyakan adalah penjual CD, VCD bajakan. Sempat juga seorang pedagang memanggil saya dan menawari sebuah CD ternyata di tempat yang lain masih dideretan tersebut saya baru tahu yang ditawarkan adalah CD film dewasa..hehehe.

Saya terus berjalan dan di depan pasar Glodok saya menyeberang. Saya kira di tempat itulah lokasi peringatan Imlek namun ternyata di pasar tersebut kosong. hanya ada beberapa toko saja yang buka sebagian tutup.

Di luar pasar saya sempat bertanya pada seorang bapak-bapak. Dari orang tersebut saya baru tahu lokasi peringatan Imlek. Saya berjalan ke sebuah gang yang katanya biasanya ramai. Gang yang menuju ke sebuah pasar. Ada satu hal yang lucu. Ada sesorang yang saya kira buta dengan berkaca mata hitam dan dengan tongkat dan payung namun saat saya motret dia nanya saya tadi dipoto nggak..hehehe.

Sambil basah-basahan oleh gerimis hujan saya berjalan. Dan kira-kira seratus meter kemudian baru saya tahu lokasi peringatan Imlek. Di sebuah Vihara nampak orang-orang berkumpul. Di luar banyak kerumunan orang-orang yang nampaknya sedang menunggu pembagian angpao.

Sayapun masuk ke dalam Klenteng Hian Tan Keng. Wah banyak sekali keturunan Tionghwa yang sedang memanjatkan doa. Di sekitaran Klenteng dibakar hio dan menimbulkan asap yang membuat mata pedih. Saya lihat beragam upacara yang saya tak mengerti maksudnya.


Banyak sekali peminat Fotografi yang datang di klenteng ini.hehe. Yah mungkin saja sepertiga dari pengunjung adalah fotografer termasuk saya. Cukup banya foto yang saya dapatkan dan yah cukup puas dengan bagaimana proses perjalanan sebelum menemukan lokasi acara Imlek ini.

Jakarta, 26 Jan 2009


Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.