Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Thursday, December 31, 2009



Tidak selamanya seseorang yang pernah memiliki masa kelam akan menjalani sisa hidupnya dengan kegelapan. Jika hidayah datang pintu sorgapun bisa terbuka dan mereka meninggalkan masa-masa kelamnya.

Menikmati malam di ibukota yang baru saja diguyur hujan. Kali ini tidak seperti malam-malam sebelumnya. Beberapa hari ini segelas kopi untuk sementara tak bisa menemani. Saya harus merelakan minum bergelas-gelas air putih saja. Memulihkan kondisi tubuh yang kurang fit dalam beberapa hari ini.

Sudah memasuki hari kedua saya kembali berada di Jakarta. Selepas melakukan perjalanan kecil ke daerah Selatan. Ada banyak hal yang saya dapatkan. Ada banyak pelajaran tentang hidup. Belajar dari semua tak hanya orang pintar namun juga dari pelacur, mucikari, penyelundup, tukang bersih-bersih masjid, penambang emas, nelayan, sopir angkot,pemilik warung, tukang foto polaroid dan masih banyak lagi.

Rasanya butuh puluhan ribu karakter jika saya harus menceritakan semuanya. Maka kali ini saya akan cerita pada sosok satu ini. Saya tak akan menyebut nama aslinya. Seperti keinginannya yang ingin menghilang dari masa lalunya menjalani kehidupan barunya dari masjid ke masjid. Seperti permintaannya saya panggil namanya Mang Uban.



*****
Beginilah awal mula pertemuan kami dengan Mang Uban. Siang itu kami singgah di sebuah sebuah Masjid di daerah Bayah kabupaten lebak. Masjid itu berada di depan pom bensin, di pinggir jalan raya arah ke Rangkasbitung. Kebetulan hari itu, Jumat. Kami sholat Jumat di masjid tersebut.

Rasa penat, dan kurang tidur semalam membuat kami (Firdaus Sudarma, Agus Sutikno, Andi, Saya) memutuskan beristirahat sejenak di teras selepas menunaikan Sholat Jumat. Lokasi yang berdekatan dengan pantai membuat angin bertiup sepoi-sepoi tentu saja membuat kami makin terkantuk-kantuk. Sambil berbincang-bincang membahas tujuan perjalanan kami selanjutnya kami rebahan. Tak terasa kamipun tertidur hingga sapaan dari seseorang mengagetkan saya.

“Maaf Nak ini handphonenya diamankan dulu. Setelah itu silahkan istirahat lagi!” ujarnya

Agak terkaget saya melihat sosok paruh baya memakai sarung berbaju gamis dengan kopiah sambil membawa sapu menunjuk sebelah saya. Memang di sebelah saya tergelatk 2 buah handphone milik Agus. Entah dimana teman saya satu ini.

“Oiya Pak. Maaf kami numpang istirahat di Masjid!” kata saya

“Silahkan saja. Itu barang-barang berharga diamankan dulu. Nanti silahkan lanjutkan istirahatnya. Saya juga bukan kaum sini,” kata si bapak.

Segera saya masukkan handphone dari teman saya itu ke tas ranselnya. Sayapun terbangun dan bangkit mencari-cari keberadaan teman saya. Ternyata Agus keluar tak jauh dari Masjid ke sebuah mini market tengah berbelanja sesuatu.


Bersambung…..



FathoniArief

Monday, December 21, 2009

stasiun tulungagung

Kabar gembira bagi warga Tulungagung, Kediri dan sekitarnya. Mulai tangga 5 Desember 2009 PT. KAI meluncurkan kereta baru, Senja Kediri dengan rute Tulungagung-Pasar Senen Jakarta melalui Semarang. Kereta Api kelas bisnis ini di masa promo bisa diniikmati hanya dengan mengeluarkan duit Rp. 130.000,-.

Adanya kereta api baru tersebut menjadikan alternatif warga kota Tulungagung bila hendak bepergian ke Jakarta bertambah. Selama ini sebenarnya sudah ada kereta yang melayani kota tujuan tersebut yaitu Kereta api Eksekutif Gajayana dan kereta kelas Ekonomi Matarmaja. Namun seringkali tempat duduk kedua kereta tersebut ludes di Malang dan Blitar. Selain itu ada juga pilihan yang lebih ekonomis namun tidak mengurangi tingkat kenyamanan.

Bila menggunakan kereta api Gajayana di saat normal masyarakat harus mengeluarkan Rp. 300.000,- untuk sekali perjalanan jumlah yang bagi sebagian masyarakat terasa sangat besar. Jika tak ingin mengeluarkan duit sebanyak itu Matarmaja menjadi pilihan dengan harga yang hanya seperenamnya saja, Rp. 50.000,- sekali perjalanan namun jika ditanya seperti apa tingkat kenyamanannya tentu saja jauh dari kata nyaman. Kini dengan adanya kereta Senja Kediri ada alternatif baru sebagai jalan tengah dari pilihan tersebut. Saat ini harga tiket kereta Senja tujuan akhir Jakarta Pasar Senen dipatok Rp. 130.000,-. Harga tersebut masih merupakan harga promo katakan jika nanti harga normalnya Rp. 150.000,- hingga Rp. 180.000,- masih bisa menjadi pilihan.

Seperti apa rasanya naik kereta api senja Kediri dari Tulungagung hingga Jakarta? Bagaimana tingkat kenyamanan, keamanan dan kurang lebihnya? Untuk bisa menggambarkan hal tersebut kemarin saya mencoba naik kereta ini. Akan saya ceritakan secara untuh semua terkait dengan pelayanan, keamanan, kenyamanan dan ketepatan waktu dari kereta ini.

Menggunakan Gerbong Eks Kereta Bangun Karta

Meskipun namanya baru dan rutenya baru sebenarnya rangkaian kereta Senja Kediri adalah Eks dari Kereta Bangun Karta. Menurut seorang petugas yang saya temui ketika membeli tiket sekarang Kereta Bangun Karta  sudah berganti kelas menjadi kelas Eksekutif sehingga untuk eks gerbong kelas Bisnis dimanfaatkan lagi menjadi bagian kereta Senja Kediri. Bila sesuai jadwal Kereta Senja Kediri berangkat dari stasiun Tulungagung jam 16.00 dan sampai di Stasiun Pasar Senen jam 07.15.

Meskipun baru diluncurkan ternyata peminat kereta ini cukup banyak. Pada hari yang sama ketika saya naik kereta ini seorang rekan menginformasikan tiket kereta ini hingga Minggu pagi untuk tujuan Jakarta sudah ludes terjual.

Rupanya penumpang dari kereta Senja Kediri sebagian besar berasal dari kota-kota sepanjang Kediri hingga Madiun. Pantas saja dalam perjalanan mulai dari Tulungagung hingga kertosono tempat duduk terlihat kosong hanya beberapa yang terisi. Namun setelah Kertosono perlahan tempat-tempat duduk tersebut dipenuhi oleh penumpang.

Mengenai kenyamanan secara umum cukup bagus misalnya jika bicara tentang ketersediaan air di toilet, kebersihan, dan larang para pengamen dan pedagang masuk saat kereta berjalan. Namun yang perlu menjadi perhatian alangkah baiknya jika ada ruang khusus bagi perokok. Maklumlah kereta ini tidak seperti kelas Eksekutif yang dilengkapi dengan AC dan ada larangan merokok sehingga orang bisa bebas mengeluarkan asap yang bagi perokok pasif sangatlah mengganggu apalagi ketika tengah beristirahat. Dengan segala kekurangan dan kelebihan menurut saya kereta Senja Kediri menjadi pilihan yang menarik bagi untuk menempuh perjalanan.

Jakarta, 20 Desember 2009




Thursday, December 03, 2009

Panas Sang Surya sudah tak terlalu terik ketika mobil yang kami tumpangi memasuki jalanan kecil di desa Bulukandang, kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Mobil kami terus menyusuri jalan perkampungan hingga di depan sebuah poskamling mobil kami berhenti, mengikuti mobil depan milik yayasan sebuah perusahaan rokok ternama.

Kami menyebrang di rumah sederhana yang terletak tak jauh dari tempat mobil berhenti. Rumah itu cukup bersih di depan rumah itu ada 2 buah mobil angkot yang diparkir, di teras rumah nampak rak dari kayu yang telah dipenuhi plastik-plastik yang terisi penuh dengan serbuk gergaji.

Setelah mengucap salam tak lama kemudian muncul seorang lelaki berusia sekira 40 tahunan. Lelaki yang nampak rapi dengan pakaian yang sederhana begitu ramah menyapa dan mempersilahkan kami masuk. Setelah duduk menyimak dari pemandu saya ketahui lelaki itu namanya Pak Kaiman.

Pak Kaiman, ternyata merupakan pengusaha budidaya jamur tiram. Tak mengherankan jika di lingkungan rumah baik di dalam maupun diluar bisa dijumpai bibit jamur yang bakal dipasarkan.Bapak dua anak itu belum lama merintis usaha budidaya jamur. Ia baru merintis usaha ini di 2005.

Saat ini menurut Kaiman setiap hari ia telah memasok jamur tiram ke pelanggan rata-rata 100 kg/hari dengan harga jual Rp10.000/kg serta 1.000 unit baglog/media tanam dengan harga jual Rp2.500 per unit. Kaiman mengaku sebenarnya permintaan akan jamur tiram saat ini masih jauh dari kebutuhan meskipun banyak yang sudah mengembangkannya.

Sempat Menjadi Sopir Truk

Sebelum menggeluti usaha jamur tiram, Pak Kaiman sempat menjadi sopir truk. Ia menjalani profesi tersebut selama 14 tahun, sejak 1995. Hingga suatu saat ia merasa lelah dan bosan sehingga menghentikan profesinya dan membeli kendaraan bermotor roda empat sistem kredit untuk dioperasikan sebagai angkutan kota di wilayah Kab. Pasuruan.

Namun ternyata semua tak selalu seperti yang diharapkan. Ternyata ia harus berhadapan dengan sepinya volume penumpang kondisi yang membuat Kaiman tak mendapatkan penghasilan cukup guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam rumahtangga. Sehingga iapun tidak melanjutkan usaha angkutan kota.

“Peluang kerja sangat sempit bagi saya sebab saya tidak punya ijazah, mengingat tidak tamat Sekolah Dasar (SD). Dalam keadaan seperti ini, pada 2005 ada tawaran untuk mengikuti pelatihan kewirausahaan di bidang budidaya jamur dari HM Sampoerna, maka saya mengikutinya,” kata Kaiman.

Pak Kaiman akhirnya mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pabrik rokok tersebut. Waktu itu ada 20 peserta dari Desa Bulu Kandang yang turut dalam pelatihan budidaya jamur tiram, dan secara bersama-sama memulai usaha tersebut. Namun tak semuanya melanjutkan usaha ini.

Saat memulai usahanya Kaiman bermodalkan 1.000 unit baglog. Karena taklagi punya mata pencaharian Kaiman memulai usaha ini dengan penuh keseriusan. Waktu itu ia sudah memiliki tempat budidaya yakni bangunan berdinding bambu.

Berdasarkan ilmu yang diperoleh dari pelatihan, media tanam terdiri dari serbuk kayu gergajian, dedak/katul, tepung jagung dan kalsium yang dibungkus plastik dengan bobot 1,1 kg per unit baglog. Kumbung seluas 50 m2 (lebar 5 meter x panjang 10 meter) dapat dimanfaatkan untuk pembudidayaan 5.000 unit baglog. “Jamur tiram tergolong tanaman yang cepat tumbuh dan setiap unit baglog dapat menghasilkan panenan hingga 1 kg selama 5 bulan, lalu diganti media tanam baru. Tetapi saat panen perdana saya kesulitan mencari pasar,” kenangnya.

Memasarkan Dari Swalayan Hingga Restoran

Pak Kaiman tak mau menyerah begitu saja. Mencari pangsa pasar akhirnya dia berkeliling menawarkan jamur tiram ke restoran dan swalayan. Ia belum membidik pasar tradisional karena memang masyarakat luas belum terbiasa mengkonsumsi jamur tiram.

Ia juga terbantu dengan adanya PPK Sampoerna yang turut mempromosikan jamurnya. Mereka memajang produk Kaiman di etalase sekaligus diikutkan pameran bersama pengusaha kecil lainnya yang mereka bina.

Berkat ketekunan dalam memperluas pasar, Pak Kaiman berhasil mendapatkan order dari para pengepul maupun restoran di berbagai kota tak hanya dari wilayah Kab. Pasuruan saja. Saat ini karena permintaan yang terus meningkat iapun terus berupaya meningkatkan volume usahanya. Kini dia memiliki beberapa kumbung yang digunakan membudidayakan puluhan ribu unit baglog. Selain itu, juga memenuhi permintaan baglog dari petani dan mampu memunculkan petani-petani jamur di beberapa daerah.



Catatan Perjalanan Fathoni Arief

Pasuruan, 14 November 2009

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.