Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Friday, November 30, 2007

Oleh: A. Mustofa Bisri

Takwa, seperti galibnya istilah popular yang lain, sudah dianggap maklum; karenanya jarang orang yang merasa perlu membicarakannya lebih jauh. Secara sederhana, takwa dapat diartikan sebagai sikap waspada dan hati-hati. Hati-hati menjaga agar tidak ada perintah Allah yang kita abaikan. Hati-hati menjaga agar tidak ada larangan-Nya yang kita langgar. Hati-hati menjaga agar dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya tidak justru menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang telah Ia gariskan.

Dan tidak kalah penting dari itu semua adalah kehati-hatian menjaga keikhlasan kita. Kita perlu waspada dan hati-hati menjaga agar pelaksanaan perintah Allah maupun penghindaran dari larangan-Nya, semata-mata karena Allah. Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya adalah demi dan karena Allah; bukan demi nafsu dan keinginan diri kita atau karena dorongan pamrih-pamrih yang lain.

Kita hidup untuk beribadah, dan kita beribadah semata mengharap ridha Allah dan bukan mencari ridha dan kepuasan diri sendiri. Dalam ibadah mahdhah atau yang bersifat ritual, seperti sembahyang, berpuasa, dan sebagainya, ketulusan mencari ridha Allah ini mungkin relatif lebih mudah dibanding dengan ibadah yang bersifat sosial, seperti berbuat baik kepada sesama misalnya. Oleh karenanya, sudah sewajarnyalah apabila kita lebih berhati-hati dan terus mewaspadai ketulusan batin kita dalam hal melakukan ibadah-ibadah yang bersifat sosial itu.

Misalnya dalam melaksanakan ibadah sosial ingin memperbaiki keadaan dan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Tanah Air, untuk menciptakan Indonesia baru yang lebih baik, kita perlu pula terus mewaspadai niat batin kita. Kita perlu selalu bertanya kepada diri-diri kita sendiri, untuk apa sebenarnya kita berjuang. Kita berjuang untuk Tanah Air demi mendapatkan ridha Allah, ataukah sekedar untuk memuaskan nafsu dan kepentingan kita atau kelompok kita sendiri?

Getir rasanya dan sekaligus geli kita mendengar banyak orang yang meneriakkan slogan-slogan mulia, seperti akhlakul karimah; ukhuwwah islamiyah; membangun masyarakat yang beradab, dan lain sebagainya, namun dalam pada itu mereka sekaligus bersikap dan berperilaku yang tidak berakhlak, menebarkan permusuhan di antara sesama saudara.

Alangkah tertipunya mereka yang merasa diri dan bahkan mengaku-aku berjuang demi hal-hal yang mulia, seperti demi agama dan demi negara, tapi tindak-tanduknya justru menodai kemulian itu sendiri. Bahkan ada yang-na’udzubillah-meneriakkan asma Allah sambil memperlihatkan keganasannya kepada sesama hamba Allah.

Mereka itu umumnya tertipu oleh semangat mereka sendiri. Setan paling suka dan paling lihai menunggangi semangat orang yang bodoh atau kurang pikir, untuk dibelokkan dari tujuan mulia semula. Mereka yang katanya berjuang ingin menegakkan demokrasi, misalnya, karena terlalu bersemangat, tiba-tiba justru menjadi orang-orang yang sangat tidak demokratis; tidak menghormati perbedaan dan bahkan menganggap musuh setiap pihak yang berbeda. Demikian pula, mereka yang katanya ingin berjuang untuk agama, menegakkan syariat Tuhan, karena terlalu bersemangat, sering kali justru dibelokkan oleh setan dan tanpa sadar melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan oleh orang yang ber-Tuhan dan beragama, seperti sudah dicontohkan di muka.

Lebih konyol lagi, apabila yang tergoda melakukan hal-hal bodoh semacam itu adalah mereka yang sudah terlanjur dijadikan atau dianggap imam dan panutan. Karena, para pengikut biasanya akan bertindak lebih bodoh lagi. Seorang panutan cukup memaki untuk membuat para pengikutnya membenci, seperti halnya guru cukup kencing berdiri untuk membuat murid-muridnya kencing berlari.

Biasanya, kekonyolan terjadi lantaran sikap yang berlebihan. Sikap berlebihan tidak hanya dapat membuat orang sulit berlaku adil dan istiqamah, tapi sering kali dapat menjerumuskan orang kepada tindakan yang bodoh. Berlebihan dalam menyintai atau sebaliknya membenci, acap kali membuat orang bersikap konyol. Bahkan, orang yang berlebihan dalam mencintai diri sendiri, dapat kehilangan penalaran warasnya, sebagaimana terjadi pada mereka yang mengangkat diri sebagai imam, nabi, bahkan titisan malaikat Jibril. Mereka yang berlebihan menyintai imamnya pun pada gilirannya juga kehilangan penalaran sehatnya.

Rasanya kita perlu membiasakan kembali sikap hidup sederhana, sebagaimana diajarkan dan dicontohkan kanjeng Nabi Muhammad SAW. Maka, kita dapat dengan lebih mudah berlaku adil dan istiqamah, dapat memandang sesuatu tanpa kehilangan penalaran sehat.

Semoga. ..Gusmus.net

Thursday, November 29, 2007

"Whether we like it or not, each of us is constrained by limits on what we can do and feel. To ignore these limits leads to denial and eventually to failure. To achieve excellence, we must first understand the reality of the everyday, with all its demands and potential frustrations."

Mihaly Csikszentmihalyi

Wednesday, November 28, 2007

"Remember that nobody will ever get ahead of you as long as he is kicking you in the seat of the pants."

Walter Winchell

Varietas kopi arabica

Kopi dari spesies Coffea arabica memiliki rasa yang kaya daripada Coffea robusta. C. arabica memiliki banyak varietas. Tiap varietas memiliki ciri yang unik. Beberapa varietas yang terkenal meliputi:

  • Kopi Kolombia (Colombian coffee) - pertama kali diperkenalkan di Kolombia pada awal tahun 1800. Saat ini kultivar Maragogype, Caturra, Typica dan Bourbon ditanam di negeri ini. Jika langsung digoreng, kopi Kolombia memiliki rasa dan aroma yang kuat. Kolombia adalah penghasil kopi kedua terbesar di dunia setelah Brasilia. Sekitar 12% kopi di dunia dihasilkan di negara ini
  • Colombian Milds — Varietas ini termasuk kopi dari Kolombia, Kenya dan Tanzania. Semuanya adalah jenis kopi arabica yang telah dicuci.
    Biji kopi yang belum digoreng dari varietas C. arabica
    Biji kopi yang belum digoreng dari varietas C. arabica
  • Costa Rican Tarrazu — dari (en)"San Marcos de Tarrazu valley" di pegunungan di luar San José, Costa Rica.
  • Guatemala Huehuetenango — Ditanam di ketinggian 5000 kaki di bagian utara Guatemala.
  • Ethiopian Harrar — dari Harar, Ethiopia
  • Ethiopian Yirgacheffe — dari daerah di kota Yirga Cheffe di provinsi Sidamo (Oromia) di Ethiopia.
  • Hawaiian Kona coffee — ditanam di kaki pegunungan Hualalai di distrik Kona di Hawaii. Kopi diperkenalkan pertama kali di kepulauan ini oleh Chief Boki. Ia adalah gubernur Oahu pada tahun 1825.
  • Jamaican Blue Mountain Coffee — dari Blue Mountains di Jamaika. Kopi ini memiliki harga yang mahal karena kepopulerannnya.
  • Kopi Jawa (Java coffee) — dari pulau Jawa di Indonesia. Kopi ini sangatlah terkenal sehingga nama Jawa menjadi nama identitas untuk kopi.
  • Kenyan — terkenal karena tingkat keasamannya dan rasanya.
  • Mexico - memproduksi biji kopi yang keras.
  • Mocha — Kopi dari Yemen dahulunya diperdagangkan di pelabuhan Mocha di Yemen.Yemeni coffee traded through the once major port of Mocha. Jangan disalahartikan dengan cara penyajian kopi dengan coklat.
  • Santos - dari Brasilia. Memiliki tingkat keasaman yang rendah. (en) [1]
  • Sumatra Mandheling dan Sumatra Lintong — Mandheling dinamakan menurut suku Batak Mandailing di Sumatra utara di Indonesia. Lintong dinamakan menurut nama tempat Lintong di Sumatra utara. Sedangkan Kopi Gayo berasal dari Dataran Tinggi Gayo — Gayo adalah nama Suku Asli di Aceh — yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Kopi Gayo disebut-sebut sebagai kopi organic terbaik di dunia.
  • Sulawesi Toraja Kalosi — Ditanam di daerah pegunungan tinggi di Sulawesi. Kalosi adalah nama kota kecil di Sulawesi, yang merupakan tempat pengumpulan kopi dari daerah sekitarnya. Toraja adalah daerah pegunungan di Sulawesi tempat tumbuhnya kopi ini. Kopi dari Sulawesi ini memiliki aroma yang kaya, tingkat keasaman yang seimbang (agak sedikit lebih kuat dari kopi Sumatra) dan memiliki ciri yang multidimensional. Warnanya coklat tua. Kopi ini cocok untuk digoreng hingga warnanya gelap. Karena proses produksinya, kopi ini dapat mengering secara tidak teratur. Walau demikian biji yang bentuknya tidak teratur ini dapat memperkaya rasanya.
  • Tanzania Peaberry — di tanam di Gunung Kilimanjaro di Tanzania. "Peaberry" artinya biji kopi ini hanya satu dalam setiap buah. Tidak seperti layaknya dua dalam satu buah. Ini biasanya tumbuh secara alami pada 10% dari hasil panen kopi.
  • Uganda - Meskipun sebagian besar penghasil kopi robusta. Ada juga kopi arabica berkualitas yang dikenal sebagai Bugishu. (

Campuran

Biji kopi biasanya dicampur untuk keseimbangan rasa dan kompleksitas aromanya. Salah satu campuran tradisional yang tertua adalah Mocha-Java, terdiri dari biji kopi yang sama namanya. Rasa coklat yang khas sangatlah cocok dengan Cafe mocha, yang merupakan minuman kopi yang dicampur dengan coklat. Saat ini campuran Mocha-Java biasa dicampur dengan varietas lainnya untuk menciptakan ciri khas yang unik. Banyak perusahaan kopi yang memiliki campurannya tersendiri.

Beberapa biji kopi sangatlah terkenal dan oleh sebab itu memiliki harga yang lebih mahal dari biji kopi lainnya. Jamaican Blue Mountain dan Hawaiian Kona mungkin adalah contoh yang baik. Biji kopi ini sering dicampur dengan biji kopi lainnya yang tidak seberapa mahal dan dengan itu nama campuran ini disebut blend (seperti "Blue Mountain blend" atau "Kona blend"), walau hanya sedikit biji kopi dari jenis itu yang digunakan.

Sumber : Wikipedia

Tuesday, November 27, 2007

"The greats often became great because they continued to believe in themselves despite apparent failures."

(Tony Buzan and Michael Gelb)

Monday, November 26, 2007

Sapa buat anda semua!

Awali Aktivitas di Senin yang semoga penuh dengan semangat, motivasi dan optimisme tinggi. Semangat tak ada waktu buat bermalas-malas karena tiap detik waktu begitu berharga.

Everyday is Sunday, Everynight is Saturday Night

Salam

CARA MEMBUNUH BURUNG

Oleh :
Sapardi Djoko Damono



bagaimanakah cara membunuh burung yang suka berkukuk bersama teng-teng jam dinding yang tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?
soalnya ia bukan seperti burung-burung yang suka berkicau setiap pagi meloncat dari cahaya ke cahaya di sela-sela ranting pohon jambu (ah dunia di antara bingkai jendela!)
soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku sering ingin sendirian
soalnya ia baka



Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


"Many people seem to think that success in one area can compensate for failure in other areas. But can it really?...True effectiveness requires balance."

(Stephen Covey)

Rentetan Peristiwa Yang Pernah Terjadi Di Tanggal 25 November :

Sunday, November 25, 2007

"Truth alone was the daughter of time. [Leonardo: Discovering the Life of Leornardo da Vinci: A Biography by Serge Bramley] "

Ada banyak peristiwa yang terjadi pada tanggal 24 November diantaranya :

Sumber : Wikipedia Indonesia

Saturday, November 24, 2007

Dari Agam, Sumatera Barat kariernya sebagai guru dirintis. Semata karena kecintaannya mengajar. Seabreg penghargaan sebagai guru berprestasi.


SAAT diberitahu mendapat penghargaan Satya Lencana Pendidikan dari Presiden, Delviati sedang sibuk dalam kegiatan penilaian guru berprestasi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Sebagai pendidik, kegiatan Delvi tidak semata mengajar di SD Negeri 07, Tangah Koto, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam. Belakangan ini ia terlibat sejumlah kegiatan-kegiatan pendidikan di kecamatan hingga kabupaten. Satu di antaranya, menjadi tim penilai guru berprestasi tingkat kabupaten.

Prestasi Delviati memang bisa dibanggakan. Pantaslah bila ia mendapat anugerah dari pemerintah. Lihat saja sederet penghargaan yang ia sabet selama 19 tahun menjadi guru. Ia Juara II Penilaian Kinerja Guru 2003 tingkat Kecamatan Sungai Pua, Juara II Penilaian Kinerja Guru Kabupaten Agam (2003), Juara II Pemilihan Guru Berprestasi Kecamatan Sungai Pua (2004), dan Juara I Pemilihan Guru Berprestasi Kecamatan Sungai Pua (2005).

Selain itu, Delviati juga pemenang I Pemilihan Guru Berprestasi Kabupaten Agam (2005), Pemenang I Guru Berprestasi Sumatera Barat (2005), dan Pemenang I Pemilihan Guru Berprestasi SD Nasional (2005). Pada 2005 itu, seakan menjadi tahun penuh prestasi. Ia meraih penghargaan dari PGRI sebagai Guru Berprestasi. Delviati juga menjadi finalis forum ilmiah guru tingkat nasional yang diselenggarakan di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Tengah di Semarang pada 2005. Tahun lalu dialah Pemenang I Teacher of The Year Provinsi Sumatera Barat 2006.

Delviati memang dikenal sebagai sosok guru yang amat mencintai pekerjaannya. Semenjak kecil ia sudah menyenangi dengan dunia mengajar. Delviati kecil sering melakonkan peran sebagai guru ketika bermain bersama teman-temannya. Delviati bisa mengajar teman-temannya bak guru sungguhan.

Bakatnya mengajar tumbuh dari sang ibu yang memang guru sungguhan. Namun selepas SMP, ia tidak 100% ingin melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru. Namun keluarga memintanya masuk ke sana.

Jalan sebagai guru beneran dimulai Delviati setamat SPG pada 1988. Ia mengawalinya dengan guru honorer. Selang dua tahun, pada 1990, Delviati diangkat sebagai guru PNS. Ia mengajar di SD Tangah Koto, yang kemudian berganti nama menjadi SDN 16 Tangah Koto dan sekarang bersalin nama lagi menjadi SD Negeri 07 Tangah Koto.

Di matanya, menjadi guru memegang tugas dan tanggung jawab mulia. Beban yang dipikul pun berat karena guru di tingkat pendidikan dasar harus mampu memberikan dasar pengetahuan bagi siswa. Apalagi, guru SD biasanya mengampu banyak mata pelajaran, yang jelas bukan berdasar disiplin ilmu yang dikuasai sang guru. Belum lagi soal kelengkapan fasilitas sekolah dasar yang kerap jadi kendala di daerah.

Ia juga prihatin anak-anak berkebutuhan khusus di daerahnya hingga kini belum punya Sekolah Luar Biasa. Sekolahnya juga menerima anak berkebutuhan khusus, jauh sebelum konsep inklusi didengungkan Depdiknas.

Kendala lain di daerahnya, menyangkut soal rendahnya partisipasi masyarakat pada pendidikan. Akibatnya, sumber daya yang bisa menunjang kemajuan sekolah belum bisa dimanfaatkan secara maksimal. Dari sisi ekonomi, masyarakat di sana rata-rata golongan menengah ke bawah. Dana pendidikan dari masyarakat pun belum bisa diharapkan.

Hal lain yang juga menjadi perhatian Delviati adalah nasib para guru bantu. Tak jarang yang menjalani status itu hingga belasan hingga puluhan tahun. “Keberadaan mereka penting karena guru bantu melengkapi kekurangan pendidik di daerah terisolir untuk menyeimbangkan kebutuhan pendidikan kota dan desa,” katanya.


M FATHONI ARIEF

Selamat Pagi!

"No pessimist ever discovered the secrets of the stars, or sailed to an uncharted land, or opened a new heaven to the human spirit."
Helen Keller


Ketika si Nanang (bukan nama sebenarnya) masih duduk di bangku SD, ia mendapat tugas kliping dari guru PMP-nya (PMP, Pendidikan Moral Pancasila. Sekarang menjadi pelajaran Kewarganegaraan).
“Coba kalian kliping gambar atau foto orang yang sedang menjalankan ibadah sesuai agamanya masing-masing. Kumpulkan minggu depannya”, perintah Ibu Guru kepada Nanang dan kawan-kawannya.

Seminggu berlalu, rupanya si Nanang lupa akan tugasnya. Hari itu, Ibu guru PMP pun menyuruh Nanang dan kawan-kawannya mengumpulkan tugas kliping.

Si Nanang pun kelabakan. Segera ia mengambil pas foto dirinya dari tasnya, dan menempelkannya di selembar kertas dan memberikannya judul ”Tugas Kliping Gambar Orang Beribadah”.

Ibu guru PMP pun memeriksa tugas murid-muridnya. Ketika sampai di meja si Nanang, Ibu guru tersebut pun marah. “Apa maksudnya kamu menempel foto kamu sendiri di lembar tugas kliping ini?, tanya Ibu guru gusar.

Nanang pun dengan tenang menjawab, ”Ini gambar orang beribadah Bu, ibadah puasa”, tandas si Nanang. (Alf)

Gus Mus berambut gondrong

Waktu muda, Mustofa Bisri (Gus Mus) berguru mengaji di Pesantren Lirboyo, Kediri. Satu kali, ia pulang kampung ke Rembang dengan rambut gondrong. Rupanya, tak ada gunting yang sanggup memotong rambutnya.
Ayahnya, Kyai Bisri Mustofa (alm.) gusar dengan anaknya yang tidak berkonsentrasi pada belajar mengaji, tetapi malah mempelajari "kesaktian" macam itu. Alih-alih naik darah, Kyai Bisri hanya mengambil gunting, lalu kres, kres, kres, "kesaktian" Mustofa pun berhasil ditaklukkan. Sambil memotong rambut anaknya, Kyai Bisri bilang, “Bapak yang sudah lama ngaji saja, baru jadi kyai. Masak kamu baru ngaji sebentar sudah jadi wali".
Kaki Yang Kiri Tidak Berwudhu Suatu hari Joha berwudhu, dan ternyata air yang dipergunakannya untuk wudhu kurang, sehingga kaki kirinya tidak kebagian air dan tidak dibasuh. Maka Joha pun bersembahyang dengan mengangkat kaki kirinya.

Ketika kemudian orang-orang bertanya, dia menjawab “Kakiku yang kiri tidak berwudhu!”.

Selengkapnya : GusMus.Net

Oleh: A. Mustofa Bisri

langit memimpin
Dzikir malam

Membaca wirid hening
Dalam hitungan
Renyai hujan
Dan manik-manik
Keringat dinginku

Angin mendesirkan
Tasbih bersama
Pucuk-pucuk pohon
Di mulut poriporiku

Sesekali kilat
Memucatkan rumput-rumput
Mencuatkan lidah-lidah laut
Dalam gemuruh

Tahmid bersama
Khaufrajaku

Sementara petir
Dan guruh bergantian
Meneriakkan takbir
Dari puncak diamku

Langit memimpin
Dzikir malam
Di bumi kelam

Gelisahku

1415

Friday, November 23, 2007

Shalat Jum'at Yuk! (sampaikan walau hanya satu ayat)

Shalat jum’at
adalah aktivitas ibadah shalat pemeluk agama Islam yang dilakukan setiap hari jumat secara berjama'ah pada waktu dzhuhur.

Shalat jumat dilakukan secara berjama'ah
Shalat jumat dilakukan secara berjama'ah

Hukum Shalat Jumat

Shalat Jumat merupakan kewajiban setiap muslim laki-laki. Hal ini tercantum dalam Al Qur'an dan Hadits berikut ini:

  • Al Qur'an Al Jumu'ah ayat 9 yang artinya:"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui." (QS 62: 9)
  • "Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai." (HR. Muslim)
  • "Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) shalat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat Jum’at.” (HR. Muslim)
  • "Shalat Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit." (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Keutamaan Hari Jum’at

Dalam islam jum'at adalah hari yang utama dibandingkan hari-hari lain. Sumber dari hadits Rasulullah SAW menyebutkan “Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, pada hari itulah diciptakan Nabi Adam, dan pada hari itu dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula diterima taubatnya, pada hari itu pula beliau diwafatkan, dan pada hari itu pula terjadi Kiamat ... Pada hari itu ada saat yang kalau seorang muslim menemuinya kemudian shalat dan memohon segala keperluannya kepada Allah, niscaya akan dikabulkan.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan lainnya, hadits shahih)

Tata Cara Shalat Jum’at

Muslim mendengarkan khutbah jum'at
Muslim mendengarkan khutbah jum'at

Adapun tata cara pelaksanaan shalat Jum’at, yaitu :

  1. Khatib naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari (waktu dzuhur), kemudian memberi salam dan duduk.
  2. Muadzin mengumandangkan adzan sebagaimana halnya adzan dzuhur.
  3. Khutbah pertama: Khatib berdiri untuk melaksanakan khutbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah SWT serta membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Kemudian memberikan nasehat kepada para jama’ah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah SWT dan RasulNya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan serta ancaman-ancaman Allah Subhannahu wa Ta'ala. Kemudian duduk sebentar
  4. Khutbah kedua : Khatib memulai khutbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepadaNya. Kemudian melanjutkan khutbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khutbah pertama sampai selesai
  5. Khatib kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya muadzin melaksanakan iqamat untuk melaksanakan shalat. Kemudian memimpin shalat berjama'ah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan

Hal-hal yang dianjurkan

Pada shalat jum'at setiap muslim dianjurkan untuk memperhatikan hal-hal berikut:

  • Mandi, berpakaian rapi, memakai wewangian dan bersiwak (menggosok gigi).
  • Meninggalkan transaksi jual beli ketika adzan sudah mulai berkumandang.
  • Menyegerakan pergi ke masjid.
  • Melakukan shalat-shalat sunnah di masjid sebelum shalat Jum’at selama Imam belum datang.
  • Tidak melangkahi pundak-pundak orang yang sedang duduk dan memisahkan/menggeser mereka.
  • Berhenti dari segala pembicaraan dan perbuatan sia-sia apabila imam telah datang.
  • Hendaklah memperbanyak membaca shalawat serta salam kepada Rasulullah SAW pada malam Jum’at dan siang harinya
  • Memanfaatkannya untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa karena hari jum'at adalah waktu yang mustajab untuk dikabulkannya doa.

Sumber hadits terkait

Berikut adalah sumber dalam Hadits berkenaan dengan shalat jum'at dan hari jum'at :

  • "Mandi, memotong kuku, mencabut bulu-bulu tak perlu, memakai siwak, mengusapkan parfum sebisanya pada hari Jum'at dianjurkan pada setiap laki-laki yang telah baligh." (Muttafaq 'alaih)
  • "Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi jinabat, kemudian dia pergi ke masjid pada saat pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khutbah." (Muttafaq ‘alaih)
  • "Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci sebisa mungkin, kemudian dia memakai wangi-wangian atau memakai minyak wangi, lalu pergi ke masjid dan (di sana) tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk berjajar), kemudian dia shalat yang disunnahkan baginya, dan dia diam apabila imam telah berkhutbah, terkecuali akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at (itu) dan Jum’at berikutnya selama dia tidak berbuat dosa besar." (HR. Al-Bukhari)
  • "Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at, sesungguhnya tidak seorang pun yang membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at kecuali diperlihatkan kepadaku shalawatnya itu." (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
  • "Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka dia akan mendapat cahaya yang terang di antara kedua Jum’at itu." (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi, hadits shahih)
  • "Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat yang apabila seorang hamba muslim mendapatinya sedang dia dalam keadaan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkannya." (HR. Muslim)
Sumber : Wikipedia

"When inspiration does not come to me, I go halfway to meet it."

(Sigmund Freud)

Selamat Pagi selamat menikmati hari baru! Semoga rahmat Allah selalu menyertai!



23 November adalah hari ke-327 (hari ke-328 dalam tahun kabisat) dalam kalender Gregorian.


Peristiwa

Sumber : Wikipedia

MF. Arief


"Selamat ya!",

kata-kata sama diucapkan oleh banyak wajah yang menyalamiku.

Satu demi satu tangan-tangan itu merenggut jari-jariku, meraih dan menariknya, dan selalu saja diringi kata yang sama dengan sedikit variasi senyuman. Ada yang tersenyum lebar dan banyak juga dengan ekspresi keterpaksaan berusaha menutupinya dengan topeng kepura-puraan.

Ada-ada saja yang mendatangiku mulai dari mereka yang telah kukenal, orang-orang dekat, teman dari teman hingga mereka yang pernah jumpapun tidak.


Dan akupun tak bisa melanjutkan kata-kata lagi. Diriku akhirnya terbawa oleh suasana itu. Tak sengaja dari mataku menetes butiran-butiran air mata makin lama tak bisa kubendung lagi. Air mata itupun mengucur, begitu deras hingga kusadari tubuhkuku basah kuyup dan tenggelam oleh air mataku sendiri. Aku tenggelam dalam suasana haru ini.

Orang-orang masih saja terus berdatangan. Mereka terus datang. Pulang satu datang yang lain tak habis-habisnya. Semua menyerbu tempatku berdiri saat ini. Semuanya berebut memegang tangan dan menyalamiku. Akupun terapung-apung dalam lautan manusia yang sekali lagi tak tahu asal muasal dari mereka.


"Bagaimana mereka bisa tahu keberadaanku?", sebuah pertanyaan yang bertubi-tubi dilontarkan hati kecilku.

Suasana yang semula tenang-tenang saja kini menjadi sangat ramai dan mulai tak bisa dikendalikan. Aku seperti sepotong daun yang terombang-ambing di lautan manusia.

Akupun bagaikan mainan atau barang-barang yang dilempar oleh seorang artis dari panggung yang jadi rebutan penonton setianya. Pasrah, tak bisa berbuat apa-apa diantara kerumunan manusia yang mulai menyemut itu.

Berawal hanya ingin berjabat tangan semut-semut manusia itu jadi makin brutal, histeris tak bisa dikendalikan lagi. Baju, jam, kaca mata, HP, celana satu demi satu mereka lucuti dan terrnyata tak berhenti sampai begitu saja. Aku yang setengah telanjang ini masih saja menjadi rebutan manusia-manusia itu. Tangan, badan, kaki kinipun hilang satu demi satu bercerai berai hingga akhirnya jiwa inipun terpisah dari raga.

Orang-orang menjadi menangis mereka sedih.


"He dia sudah mati!"

"Tak mungkin dia tak bisa mati!" Mereka semua saling perang mulut,saling menyalahkan. Setelah semua lelah satu demi satu manusia itu pergi.

"Dia telah mati tak bisa berguna lagi!",

"Benar dia tak berguna lagi sia-sia kedatangan kita",

Semut-semut manusia itupun pergi saat tahu aku sudah mati tak berguna. Satu-satu mereka meninggalkan tempat ini. Ada sebagian kecil dari mereka yang menangis dan terus menaris. Air matanya mengalir hingga membuat daerah ini jadi genagan luas, genangan air mata.

"Suasana kinipun jadi sunyi kembali", kerumunan manusia hilang semua…

Aku telah mati…"Lalu kenapa?"

Apa yang sebenarnya terjadi?

Kulihat sesosok yang menari-nari tertawa melihatku yang sedang terkapar meregang nyawa.


Pondok perenungan Gus Fath 11 Juni 2006


(A bukan berarti A, B bukan berarti B di sini memang sulit menentukan sesuatu nyata atau tidak. Jika suatu saat kematian itu datang aku tak ingin menerima air mata semu yang kuinginkan adalah suara tawa dari manusia yang bergembira atas perjalananku menuju surga)

Tak tahu darimana asalnya rasa. Rasa sebuah sensasi yang terkadang nyelonong begitu saja hingga dan tiba-tiba saja berubah dengan cepatnya menjadi pengalaman duka atau bahagia. Rasa seperti bintang-bintang yang terletak di antara langit yang luas. Adakalanya sangat indah mengingat rasa dan sering juga menyiksa bagi yang pernah terluka karena rasa. Tragis benar, sungguh malang. Apakah ini yang dinamakan dengan sebuah realitas?


Sebuah kenyataan yang terjadi dan benar-benar terjadi. Inikah yang dinamakan dengan takdir? Satu-satu sahabatpun pergi, dan mungkin saja mereka tak akan pernah kembali. Kehilangan sahabat, teman, orang tercinta yakinlah itu adalah sebuah kenyataan yang terkadang harus kita alami. Yang bisa kita lakukan adalah menelan pil pahit kenyataan tersebut.

Senja mulai menampakkan dirinya dari ufuk Barat. Terlihat rombongan burung-burung yang menuju tempat persinggahannya. Perlahan tapi pasti langit mulai gelap dan dari corong-corong musholla, surau, langgar atau masjid telah berkumandang bunyi adzan tanda tibanya waktu menjalankan sholat Maghrib. Di rumah-rumah telah diterangi lampu-lampu neon yang menggantikan cahaya sang surya.

Takjub, benar-benar maha kuasa yang mengatur semua itu! Sang penguasa alam yang maha segala-galanya sebagai pencipta dan pemusnah alam ini. Semuanya kejadian dan peristiwa yang terlalu berat dan sangatlah rumit untuk difikirkan dengan akal manusia.

Aku masih berdiri di sini; teras depan rumahku. Mata ini masih tertuju pada pohon itu. Sebuah pohon yang tumbuh di pojok samping kanan depan rumahku. Batang pohon yang sudah termakan usia dan menjadi rebutan para rayap-rayap. Pohon itu benar-benar kering, tak berdaun lagi dan mungkin saja sebentar lagi akan menjadi potongan-potongan kecil untuk dijadikan kayu bakar.

Pohon jambu gelas entah apa nama latin bagi tanaman ini. Tanaman yang dulunya sempat berjaya dengan hasil buahnya yang melimpah, begitu banyak hingga seringkali berjatuhan dan terbuang begitu saja di tempat sampah. Kini lihatlah dengan pohon ini, mati dan tak ada kehidupan selain mahluk-mahluk yang berada di dalamnya; dunia rayap. Di sebuah batangnya yang besar dulunya tempat anak-anak kecil bermain dan melepas lelah sepulang dari kegiatannya di sekolah. Pohon yang selalu di panjat dan sambil makan buah yang ada saat itu begitu kuat dan kokohnya pohon ini. Angin yang bertiup ditambah dengan kesegaran buah-buahan yang dipetik langsung dari pohonnya sungguh mampu memberikan cita rasa yang sangat luar biasa. Lelah, penat seharian beraktivitas hilang begitu saja seiringdengan bertiupnya angin.

Di sini, pohon ini, terukir sebuah kisah. Sebuah kisah tentang anak manusia, dengan suka dan duka yang pernah dialaminya saaat pohon ini masih menjulang dengan daun-daun yang menghijau dan buah-buahan lebatnya.

Pohon jambu gelas, yang dulunya pernah berbuah begitu lebatnya. Kini sudah mati dan layu. Dipohon itu dulu tempatku melepas lelah sepulang sekolah. Pohon itu kupanjat sambil makan aku duduk didahan yang kuat. Angin yang bertiup ditambah segarnya buah jambu seakan mampu menghilangkan rasa penat dan capek selepas seharian penuh berputar dengan pelajaran disekolah.

Pohon yang penuh dengan cerita. Ada duka, suka, sedih banyak hal yang dulu pernah terjadi. Pohon jambu inilah saksi dari semuanya.

Sebuah bibit pohon jambu telah tertanam dihalaman rumahku. Tak tahu siapa yang membawanya, hanya ada sebuah pesan yang mengatakan aku harus merawatnya. Disini kau kan temukan arti kedewasaan diri. Aku tak mengerti apa maksud semuanya maklum aku baru berumur enam tahun benar-benar hanya seorang yang masih ingusan.

Hari demi-hari, bulan-demi bulan aku merawat dan menunggu pohon itu. Aku terus saja mendapat bisikan untuk terus merawat pohon itu. Sabar-sabar dan sabar, rutinitas tentang pohon jambu yang makin lama membuat bosan dan menjengkelkan.

Hal-hal yang menjengkelkan hilang begitu saja sampai saatnya datang sosok itu. Sosok cantik yang selalu lewat saat diriku menghilangkan daun-daun itu. Sosok itu lewat begitu saja.

Bertahun-tahun aku tiap pagi dan sore sengaja aku tunggu sosok itu. Tiap kali dirinya lewat aku coba tersenyum padanya, ia tak membalas hingga hatikupun jatuh seperti jatuhnya daun-daun jambu yang aku bersihkan.

Saat itupun tiba. Kesempatan yang datang padaku. Sosok itu berhenti, menoleh padaku dan melihat rimbunan buah-buahan yang mulai memerah.

"Ada apa, kesini nanti kuambilkan buah-buahan masak yang paling enak buatmu",

Dia pun datang padaku. Dirinya hanya mengganggukkan kepalanya. Segera kutaruh sapu lidi yang sedari tadi kupegang. Dengan cekatan segera kupanjat pohon itu.

Begitulah dirinya selalu saja lewat dan hanya berhenti tatkala pohon jambu itu mulai berbuah. Bertahun tahun hal tersebut terjadi. Selama itu pula aku begitu mengaguminya, walaupun aku juga tak pernah mengenal siapa sebenarnya sosok itu.

Gadis jambu begitu selanjutnya aku memanggilanya. Sosoknya selalu berbunga dan berbuah beriringan dengan berbuahnya pohon jambu itu. Saat itu pula hatiku berbunga-bunga karena tahu gadis jambu akan datang.

"Gadis jambu kau begitu cantik dimana sebenarnya rumahmu?’ Tanyaku padanya. Dia hanya terdiam tak bernah berkata selain perubahan pada pandangannya.

"Jangan kuatir gadis jambu. Aku akan merawat pohon ini, sampai saat kau mau membuka mulut dan bicara padaku".

Begitulah gadis jambu ia hanya terdiam dan lagi-lagi dirinya pergi meninggalkanku. Aku rasakan sesuatu yang berbeda ketika melihat gadis jambu.

Perasaan yang terjadi selama proses tumbuhnya pohon dan gadis jambu. Saat gadis jambu masih berpakaian merah putih, putih biru hingga kini saat aku dan dia punya kostum yang sama, putih abu-abu.

Sudah dua tahun Gadis Jambu tak datang di halamanku. Selama itu pula aku menunggunya. Saat ini pohon jambu yang ada dihalamanku mulai berbunga, harapanku gadis jambu mau mampir barang sebentar kerumahku.

Pohon itu kutunggu sampai dia berbuah. Tiap hari diriku ada dibawahnya. Sore dan pagi hariselalu siap dibawahnya bersihkan dedaunan yang ada. Habis Ashar sampai Maghrib aku menunggu dibawah pohon jambu itu, menunggu gadis jambu.

Hari ketiga semenjak pohon itu berbunga, apa yang kuharapkan datang juga. Gadis jambu datang kembali, kini dirinya tak hanya berdiri dia mendatangiku duduk dismpingku sambil melihat pohon jambu itu.

Hari berikutnya hal demikian yang terjadi. Gadis jambu terasa sangat dekat denganku. Kita selalu duduk dibawahnya menanti saat jambu itu berbuah dan menikmatinya bersama. Mungkin itu yang ada difikirannya dia masih saja terdiam walaupun kini sudah dekat.

Saat yang kami tunggu tiba. Saat pepohonan itu buah-buahnya telah membesar. Dia tersenyum padaku. Kupanjat pohon itu meraih buah-buah terbaik. Kuberikan buah itu padanya. Dia buka buah itu buah yang kubawa ternyata rusak, semuanya ruasak tak dapat diamakan lagi.

Gadis jambu melempar buah-buah itu. Sesaat dia memandangku hingga kemudian dia meninggalkanku. Dia pergi jauh dan selama rentang waktu tak pernah kujumpai.

Hari demi hari gadis jambu tak muncul lagi. Setahun dua tahun, tiga tahun, tiga tahun, dan saat ini sudah lima tahun sejak menghilangnya gadis jambu.

Halaman yang ada didepan rumah kini sudah nampak bersih. Pohon jambu yang meninggalkan batangnya itu sudah ditebang, buat kayu bakar.

Kenanganku kembali teringat pada gadis jambu. Dimana sekarang dirinya? Bagaimana sekarang parasnya apakah dia menjadi semakin cantik? Sudah lima tahun lebih dirinya menghilang, bersama dengan matinya pohon jambu ini.

"Gadis Jambu!" Ah ternyata aku tertidur.

Kulangkahkan kaki keluar pintu depan rumahku. Dikejauhan nampak seorang melewati jalan depan rumahku. Kuamati pekarangan disekitar tempat rumahku. Didekatu kulihat seorang gadis yang sosoknya pernah kukenal dia duduk didekat pohon mangga yang tumbuh dipekarangan tetanggaku.

Gadis itu berkerudung biru. Dia sedikit lebih kurus. Apakah dia gadis jambu?

"Gadis Jambu!" Aku mendekatinya dan memandangnya kuamati dirinya.

"Gadis berkerudung biru, apakah kita pernah bertemu?"

" Ada apa saudara?"Jawabnya. Aneh sedari dulu baru sekarang aku mendengar suaranya.

"Apakah kau gadis yang dulu sering ketempatku. Kaukah gadis jambu?"

Dia hanya menggelengkan kepalanya. Dirinya mengajakku masuk kedalam rumah yang kukira adalah rumahnya. Dia menunjukkan sebuah lemari besar yang nampaknya adalah lemari es.

"Maukah kau lihat isinya?"

Dibukakannya lemari besar itu. Saat dibuka kulihat kumpulan buah-buah jambu yang menggiurkan.

"Saudara kini aku bukanlah gadis jambu. Kukembalikan semua jambu yang dulu pernah kau berikan."

"Apa maksud semua ini?"

"Aku tidak pernah memakan jambu-jambumu. Aku datang ketempatmu karena iba melihatmu, aku membawa jambumu untuk memastikan dirimu membersihkan dedaunan yang ada dihalamanmu."

"lalu?"

"Aku sebenarnya sangat membenci jambu dan hanya menyukai buah mangga."

Aku terdiam, menyesal mungkin terlalu lama waktu yang kuhabiskan untuk membesarkan pohon jambu yang ternyata begitu ia benci. Diriku pergi begitu saja, aku lari dan berteriak melampiaskan sebagian kemarahan yang ada.

Kudatangi batang pohon jambu yang telah ditebang tadi. Kuambil minyak tanah dan kubakar, asap mengepul kayu mulai jadi arang dan akhirnya jadi abu. Mungkin saja dengan membakar batang pohon ini mampu menghilangkan kenanganku atas gadis jambu. Di kejauhan Gadis jambu hanya tersenyum kecil melihatku didekatnya seorang pangeran gagah memegang erat tangannya memandangiku dan sesaat tertawa lepas seakan mengiyakan kekalahanku.

Dari catatan setahun lalu...bicara tentang sepi dan rindu

Beberapa minggu lalu pernah aku baca sebuah cerpen dari Jawa Pos. Sebuah cerpen kalau ngga salah penulisnya bernama Lan Fang. Ada hal yang membuatku turut berfikir dan ikut dalam pergulatan untuk mengambil sebuah pilihan.

Pilih Mana sepi atau rindu? Tak tahu anda, kamu pilih mana. Aku sendiri memilih rindu. Kenapa tidak memilih sepi? bukankah rindu berarti tersiksa dengan sebuah kondisi penantian. Ya itu lebih baik daripada sepi. Sepi itu sudah benar-benar sendiri tak ada lagi yang bisa diharapkan kosong sedangkan rindu walaupun harus menunggu, menanti sesuatu yang terkadang belum pasti minimal ada sebuah harapan tersimpan disini. Aku memilih rindu.

Aku memilih rindu.....Kau pilih mana?

Pilih rindu atau sepi kuyakin semua ada alasan yang bisa membenarkannya. Skali lagi aku memilih rindu.

(Sambil mengikuti jalannya waktu kutungu waktu itu. Saat yang tepat untuk mengakhiri rinduku ini)

Sambil menikmati rinduku aku akan membangunkan singa yang tertidur dalam diriku...kau tunggu saja aku masih disini...kutahu kau juga menikmati rindumu

inilah rahasiaku...aku memilih rindu...Rindu akan keberadaan lembaran baru yang baru saja kutata...baru bukan lagi tentang masa lalu..

Aku memilih rindu

2006.07.10

By Leo Tolstoy


It was in the time of serfdom--many years before Alexander II.'s
liberation of the sixty million serfs in 1862. In those days the people
were ruled by different kinds of lords. There were not a few who,
remembering God, treated their slaves in a humane manner, and not as
beasts of burden, while there were others who were seldom known to
perform a kind or generous action; but the most barbarous and tyrannical
of all were those former serfs who arose from the dirt and became
princes.

It was this latter class who made life literally a burden to those
who were unfortunate enough to come under their rule. Many of them had
arisen from the ranks of the peasantry to become superintendents of
noblemen's estates.

The peasants were obliged to work for their master a certain number of
days each week. There was plenty of land and water and the soil was rich
and fertile, while the meadows and forests were sufficient to supply the
needs of both the peasants and their lord.

There was a certain nobleman who had chosen a superintendent from the
peasantry on one of his other estates. No sooner had the power to govern
been vested in this newly-made official than he began to practice the
most outrageous cruelties upon the poor serfs who had been placed under
his control. Although this man had a wife and two married daughters,
and was making so much money that he could have lived happily without
transgressing in any way against either God or man, yet he was filled
with envy and jealousy and deeply sunk in sin.

Michael Simeonovitch began his persecutions by compelling the peasants
to perform more days of service on the estate every week than the laws
obliged them to work. He established a brick-yard, in which he forced
the men and women to do excessive labor, selling the bricks for his own
profit.

On one occasion the overworked serfs sent a delegation to Moscow
to complain of their treatment to their lord, but they obtained no
satisfaction. When the poor peasants returned disconsolate from the
nobleman their superintendent determined to have revenge for their
boldness in going above him for redress, and their life and that of
their fellow-victims became worse than before.

It happened that among the serfs there were some very treacherous people
who would falsely accuse their fellows of wrong-doing and sow seeds
of discord among the peasantry, whereupon Michael would become greatly
enraged, while his poor subjects began to live in fear of their lives.
When the superintendent passed through the village the people would run
and hide themselves as from a wild beast. Seeing thus the terror which
he had struck to the hearts of the moujiks, Michael's treatment of them
became still more vindictive, so that from over-work and ill-usage the
lot of the poor serfs was indeed a hard one.

There was a time when it was possible for the peasants, when driven to
despair, to devise means whereby they could rid themselves of an inhuman
monster such as Simeonovitch, and so these unfortunate people began to
consider whether something could not be done to relieve THEM of their
intolerable yoke. They would hold little meetings in secret places to
bewail their misery and to confer with one another as to which would
be the best way to act. Now and then the boldest of the gathering would
rise and address his companions in this strain: "How much longer can
we tolerate such a villain to rule over us? Let us make an end of it at
once, for it were better for us to perish than to suffer. It is surely
not a sin to kill such a devil in human form."

It happened once, before the Easter holidays, that one of these meetings
was held in the woods, where Michael had sent the serfs to make a
clearance for their master. At noon they assembled to eat their dinner
and to hold a consultation. "Why can't we leave now?" said one. "Very
soon we shall be reduced to nothing. Already we are almost worked to
death--there being no rest, night or day, either for us or our poor
women. If anything should be done in a way not exactly to please him he
will find fault and perhaps flog some of us to death--as was the case
with poor Simeon, whom he killed not long ago. Only recently Anisim
was tortured in irons till he died. We certainly cannot stand this much
longer." "Yes," said another, "what is the use of waiting? Let us act at
once. Michael will be here this evening, and will be certain to abuse us
shamefully. Let us, then, thrust him from his horse and with one blow of
an axe give him what he deserves, and thus end our misery. We can then
dig a big hole and bury him like a dog, and no one will know what became
of him. Now let us come to an agreement--to stand together as one man
and not to betray one another."

The last speaker was Vasili Minayeff, who, if possible, had more cause
to complain of Michael's cruelty than any of his fellow-serfs. The
superintendent was in the habit of flogging him severely every week, and
he took also Vasili's wife to serve him as cook.

Accordingly, during the evening that followed this meeting in the woods
Michael arrived on the scene on horseback. He began at once to find
fault with the manner in which the work had been done, and to complain
because some lime-trees had been cut down.

"I told you not to cut down any lime-trees!" shouted the enraged
superintendent. "Who did this thing? Tell me at once, or I shall flog
every one of you!"

On investigation, a peasant named Sidor was pointed out as the guilty
one, and his face was roundly slapped. Michael also severely punished
Vasili, because he had not done sufficient work, after which the master
rode safely home.

In the evening the serfs again assembled, and poor Vasili said: "Oh,
what kind of people ARE we, anyway? We are only sparrows, and not men at
all! We agree to stand by each other, but as soon as the time for action
comes we all run and hide. Once a lot of sparrows conspired against a
hawk, but no sooner did the bird of prey appear than they sneaked off in
the grass. Selecting one of the choicest sparrows, the hawk took it away
to eat, after which the others came out crying, 'Twee-twee!' and found
that one was missing. 'Who is killed?' they asked. 'Vanka! Well, he
deserved it.' You, my friends, are acting in just the same manner. When
Michael attacked Sidor you should have stood by your promise. Why didn't
you arise, and with one stroke put an end to him and to our misery?"

The effect of this speech was to make the peasants more firm in their
determination to kill their superintendent. The latter had already given
orders that they should be ready to plough during the Easter holidays,
and to sow the field with oats, whereupon the serfs became stricken
with grief, and gathered in Vasili's house to hold another indignation
meeting. "If he has really forgotten God," they said, "and shall
continue to commit such crimes against us, it is truly necessary that we
should kill him. If not, let us perish, for it can make no difference to
us now."

This despairing programme, however, met with considerable opposition
from a peaceably-inclined man named Peter Mikhayeff. "Brethren," said
he, "you are contemplating a grievous sin. The taking of human life is a
very serious matter. Of course it is easy to end the mortal existence of
a man, but what will become of the souls of those who commit the deed?
If Michael continues to act toward us unjustly God will surely punish
him. But, my friends, we must have patience."

This pacific utterance only served to intensify the anger of Vasili.
Said he: "Peter is forever repeating the same old story, 'It is a sin to
kill any one.' Certainly it is sinful to murder; but we should consider
the kind of man we are dealing with. We all know it is wrong to kill a
good man, but even God would take away the life of such a dog as he is.
It is our duty, if we have any love for mankind, to shoot a dog that
is mad. It is a sin to let him live. If, therefore, we are to suffer at
all, let it be in the interests of the people--and they will thank
us for it. If we remain quiet any longer a flogging will be our only
reward. You are talking nonsense, Mikhayeff. Why don't you think of the
sin we shall be committing if we work during the Easter holidays--for
you will refuse to work then yourself?"

"Well, then," replied Peter, "if they shall send me to plough, I will
go. But I shall not be going of my own free will, and God will know
whose sin it is, and shall punish the offender accordingly. Yet we must
not forget him. Brethren, I am not giving you my own views only. The law
of God is not to return evil for evil; indeed, if you try in this way to
stamp out wickedness it will come upon you all the stronger. It is not
difficult for you to kill the man, but his blood will surely stain your
own soul. You may think you have killed a bad man--that you have gotten
rid of evil--but you will soon find out that the seeds of still greater
wickedness have been planted within you. If you yield to misfortune it
will surely come to you."

As Peter was not without sympathizers among the peasants, the poor serfs
were consequently divided into two groups: the followers of Vasili and
those who held the views of Mikhayeff.

On Easter Sunday no work was done. Toward the evening an elder came to
the peasants from the nobleman's court and said: "Our superintendent,
Michael Simeonovitch, orders you to go to-morrow to plough the field for
the oats." Thus the official went through the village and directed the
men to prepare for work the next day--some by the river and others by
the roadway. The poor people were almost overcome with grief, many
of them shedding tears, but none dared to disobey the orders of their
master.

On the morning of Easter Monday, while the church bells were calling the
inhabitants to religious services, and while every one else was about to
enjoy a holiday, the unfortunate serfs started for the field to plough.
Michael arose rather late and took a walk about the farm. The domestic
servants were through with their work and had dressed themselves for the
day, while Michael's wife and their widowed daughter (who was visiting
them, as was her custom on holidays) had been to church and returned. A
steaming samovar awaited them, and they began to drink tea with Michael,
who, after lighting his pipe, called the elder to him.

"Well," said the superintendent, "have you ordered the moujiks to plough
to-day?"

"Yes, sir, I did," was the reply.

"Have they all gone to the field?"

"Yes, sir; all of them. I directed them myself where to begin."

"That is all very well. You gave the orders, but are they ploughing?
Go at once and see, and you may tell them that I shall be there after
dinner. I shall expect to find one and a half acres done for every
two ploughs, and the work must be well done; otherwise they shall be
severely punished, notwithstanding the holiday."

"I hear, sir, and obey."

The elder started to go, but Michael called him back. After hesitating
for some time, as if he felt very uneasy, he said:

"By the way, listen to what those scoundrels say about me. Doubtless
some of them will curse me, and I want you to report the exact words. I
know what villains they are. They don't find work at all pleasant. They
would rather lie down all day and do nothing. They would like to eat and
drink and make merry on holidays, but they forget that if the ploughing
is not done it will soon be too late. So you go and listen to what is
said, and tell it to me in detail. Go at once."

"I hear, sir, and obey."

Turning his back and mounting his horse, the elder was soon at the field
where the serfs were hard at work.

It happened that Michael's wife, a very good-hearted woman, overheard
the conversation which her husband had just been holding with the elder.
Approaching him, she said:

"My good friend, Mishinka [diminutive of Michael], I beg of you to
consider the importance and solemnity of this holy-day. Do not sin, for
Christ's sake. Let the poor moujiks go home."

Michael laughed, but made no reply to his wife's humane request. Finally
he said to her:

"You've not been whipped for a very long time, and now you have become
bold enough to interfere in affairs that are not your own."

"Mishinka," she persisted, "I have had a frightful dream concerning you.
You had better let the moujiks go."

"Yes," said he; "I perceive that you have gained so much flesh of late
that you think you would not feel the whip. Lookout!"

Rudely thrusting his hot pipe against her cheek, Michael chased his wife
from the room, after which he ordered his dinner. After eating a hearty
meal consisting of cabbage-soup, roast pig, meat-cake, pastry with
milk, jelly, sweet cakes, and vodki, he called his woman cook to him and
ordered her to be seated and sing songs, Simeonovitch accompanying her
on the guitar.

While the superintendent was thus enjoying himself to the fullest
satisfaction in the musical society of his cook the elder returned,
and, making a low bow to his superior, proceeded to give the desired
information concerning the serfs.

"Well," asked Michael, "did they plough?"

"Yes," replied the elder; "they have accomplished about half the field."

"Is there no fault to be found?"

"Not that I could discover. The work seems to be well done. They are
evidently afraid of you."

"How is the soil?"

"Very good. It appears to be quite soft."

"Well," said Simeonovitch, after a pause, "what did they say about me?
Cursed me, I suppose?"

As the elder hesitated somewhat, Michael commanded him to speak and tell
him the whole truth. "Tell me all," said he; "I want to know their exact
words. If you tell me the truth I shall reward you; but if you conceal
anything from me you will be punished. See here, Catherine, pour out a
glass of vodki to give him courage!"

After drinking to the health of his superior, the elder said to himself:
"It is not my fault if they do not praise him. I shall tell him the
truth." Then turning suddenly to the superintendent he said:

"They complain, Michael Simeonovitch! They complain bitterly."

"But what did they say?" demanded Michael. "Tell me!"

"Well, one thing they said was, 'He does not believe in God.'"

Michael laughed. "Who said that?" he asked.

"It seemed to be their unanimous opinion. 'He has been overcome by the
Evil One,' they said."

"Very good," laughed the superintendent; "but tell me what each of them
said. What did Vasili say?"

The elder did not wish to betray his people, but he had a certain grudge
against Vasili, and he said:

"He cursed you more than did any of the others."

"But what did he say?"

"It is awful to repeat it, sir. Vasili said, 'He shall die like a dog,
having no chance to repent!'"

"Oh, the villain!" exclaimed Michael. "He would kill me if he were not
afraid. All right, Vasili; we shall have an accounting with you. And
Tishka--he called me a dog, I suppose?"

"Well," said the elder, "they all spoke of you in anything but
complimentary terms; but it is mean in me to repeat what they said."

"Mean or not you must tell me, I say!"

"Some of them declared that your back should be broken."

Simeonovitch appeared to enjoy this immensely, for he laughed outright.
"We shall see whose back will be the first to be broken," said he. "Was
that Tishka's opinion? While I did not suppose they would say anything
good about me, I did not expect such curses and threats. And Peter
Mikhayeff--was that fool cursing me too?"

"No; he did not curse you at all. He appeared to be the only silent one
among them. Mikhayeff is a very wise moujik, and he surprises me very
much. At his actions all the other peasants seemed amazed."

"What did he do?"

"He did something remarkable. He was diligently ploughing, and as I
approached him I heard some one singing very sweetly. Looking between
the ploughshares, I observed a bright object shining."

"Well, what was it? Hurry up!"

"It was a small, five-kopeck wax candle, burning brightly, and the wind
was unable to blow it out. Peter, wearing a new shirt, sang beautiful
hymns as he ploughed, and no matter how he handled the implement the
candle continued to burn. In my presence he fixed the plough, shaking
it violently, but the bright little object between the colters remained
undisturbed."

"And what did Mikhayeff say?"

"He said nothing--except when, on seeing me, he gave me the holy-day
salutation, after which he went on his way singing and ploughing as
before. I did not say anything to him, but, on approaching the other
moujiks, I found that they were laughing and making sport of their
silent companion. 'It is a great sin to plough on Easter Monday,' they
said. 'You could not get absolution from your sin if you were to pray
all your life.'"

"And did Mikhayeff make no reply?"

"He stood long enough to say: 'There should be peace on earth and
good-will to men,' after which he resumed his ploughing and singing, the
candle burning even more brightly than before."

Simeonovitch had now ceased to ridicule, and, putting aside his guitar,
his head dropped on his breast and he became lost in thought. Presently
he ordered the elder and cook to depart, after which Michael went behind
a screen and threw himself upon the bed. He was sighing and moaning, as
if in great distress, when his wife came in and spoke kindly to him. He
refused to listen to her, exclaiming:

"He has conquered me, and my end is near!"

"Mishinka," said the woman, "arise and go to the moujiks in the field.
Let them go home, and everything will be all right. Heretofore you have
run far greater risks without any fear, but now you appear to be very
much alarmed."

"He has conquered me!" he repeated. "I am lost!"

"What do you mean?" demanded his wife, angrily. "If you will go and
do as I tell you there will be no danger. Come, Mishinka," she added,
tenderly; "I shall have the saddle-horse brought for you at once."

When the horse arrived the woman persuaded her husband to mount the
animal, and to fulfil her request concerning the serfs. When he reached
the village a woman opened the gate for him to enter, and as he did so
the inhabitants, seeing the brutal superintendent whom everybody feared,
ran to hide themselves in their houses, gardens, and other secluded
places.

At length Michael reached the other gate, which he found closed also,
and, being unable to open it himself while seated on his horse, he
called loudly for assistance. As no one responded to his shouts he
dismounted and opened the gate, but as he was about to remount, and had
one foot in the stirrup, the horse became frightened at some pigs and
sprang suddenly to one side. The superintendent fell across the
fence and a very sharp picket pierced his stomach, when Michael fell
unconscious to the ground.

Toward the evening, when the serfs arrived at the village gate, their
horses refused to enter. On looking around, the peasants discovered
the dead body of their superintendent lying face downward in a pool of
blood, where he had fallen from the fence. Peter Mikhayeff alone had
sufficient courage to dismount and approach the prostrate form, his
companions riding around the village and entering by way of the back
yards. Peter closed the dead man's eyes, after which he put the body in
a wagon and took it home.

When the nobleman learned of the fatal accident which had befallen his
superintendent, and of the brutal treatment which he had meted out to
those under him, he freed the serfs, exacting a small rent for the use
of his land and the other agricultural opportunities.

And thus the peasants clearly understood that the power of God is
manifested not in evil, but in goodness.

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.