Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Friday, November 28, 2008


Something in the way she knows
And all I have to do is think of her
Something in the things she shows me
Don't want to leave her now
You know I believe her now

(Something, The Beatles)

Selamat pagi semua! Menyapa, sekedar hilangkan kebekuan. Menyapa, memberi senyuman mencairkan suasana dunia yang makin penat. Bom dimana-mana, kisruh keluarga, demonstrasi, resesi ekonomi global, macet. Ah semuanya membuat kepala pening. Lebih baik tersenyum saja sambil tetap waspada akan semua kemungkinan yang terjadi. Apalagi tahun 2009 makin dekat saja, suhu politik pastinya juga kian memanas. Semuanya dah mulai gerilya obral janji mencari simpati lewat iklan di berbagai media dan berbagai kegiatan yang katanya untuk kepentingan rakyat. Silahkan kita masing-masing punya pilihan termasuk untuk tak memilih juga termasuk pilihan..

"I've lived in fear,
I've been out there,
I've been 'round and
seen my share
of this sad world
And all the hate,
that it's stirred
I only ask,
that what I know,
" (Who can See It, the Beatles)


Selamat Pagi..
!

Thursday, November 27, 2008

Semangat!!!...

Menghirup udara pagi, tinggalkan sejuta beban hidup. Menyorong tujuan jauh di depan. Menghirung kembali rute perjalanan jauh yang sedang kujalani. Perjalanan ini baru kujalani sepenggalan saja jangan sampai berhenti di tengah jalan.

When the night has come And the land is dark And the moon is the only light we see No I won't be afraid No I won't be afraid Just as long as you stand, stand by me

(John Lennon, stand by me)

Jakarta, 27 Desember 2008




Tuesday, November 25, 2008

Sekilas tak ada yang beda dari sosok I Komang Sukrawan, 18 tahun. Di depan layar komputer dia nampak asyik mengetik sesuatu. Namun saat melihat remaja ini dari dekat akan melihat seperti apa sebenarnya dia.

Krawan begitu dia sering dipanggil ternyata adalah seorang penyandang cacat netra. Namun tak mau kalah dengan mereka yang normal ia juga menguasai keterampilan komputer bahkan ia juga mempunyai email. " saya membaca email 2 hari sekali," katanya.

Sudah dua tahun Krawan menghuni Panti Bina Netra Mahatmiya, Bali. Di panti ini ia mendapat berbagai keterampilan seperti komputer khusus tunanetra, memijat, bermain musik, kesenian, olahraga dan masih banyak lagi. Meski memiliki kekurangan ternyata tak mempelajari berbagai keterampilan. " Saya ingin maju makanya saya cepat belajar," katanya dengan penuh semangat.

Masih banyak sosok seperti Karwan, semangat mereka seakan mampu bangkitkan mereka yang punya segala kelebihan untuk tak pantang menyerah dan selalu semangat dalam perjuangan hidup..

Catatan Sang Elang Senja, 25 November 2008

Friday, November 21, 2008


Elang Senja, Aku menyebut diriku. Mungkin kini tak ada yang mengenalku namun suatu saat kuharap orang akan mengenal kisah-kisahku lewati senja demi senja, menyibak misteri demi misteri, teka-teki yang berada dalam dunia senja. Elang Senja, petualang yang penuh dengan misteri.

Berjalan dan terus berjalan, mengembara arungi dunia, menyibak misteri senja, satu keputusan penting dalam kehidupanku sebagai jawaban atas segala keresahan dan kegelisahan. Elang senja bertualang menembus awan tuk mencari siapa tahu apa yang ia cari ada di langit agar ia bisa menyapanya dengan mesra.

Menjelajah dunia, menyibak misteri, mengungkap teka-teki, itulah si Elang Senja. Dunia Ini Panggung Sandiwara kawan ceritanya mudah berubah. Si Elang senja begitu meyakini itu hingga menyingkir dari panggung-panggung sandiwara mulai dari yang kecil hingga yang besar. Mulai dari kelas Rt, RW, Kelurahan, Kecamtan, kabupaten, Provinsi, Nasional. Ah menjauhi semua itu dan memilih berkelana saja sambil menonton parade sandiwara yang terjadi dan menyampaikan kisahnya ke negri dimana ia sempat singgah sambil terus mengungkap semua teka-teki yang ada.

Terkadang lelah juga menjadi Elang Senja, namun begitulah pilihan hidup sang elang..terus mengitari dunia, menyibak cakrawala, menembus awan, dan kalau-kalau bertemu kekasihnya di langit selalu saja ia sempatkan menyapanya dengan mesra. Elang senja terlahir untuk hidup di cakrawala, tuk habiskan hidupnya diantara misteri-misteri senja dan panggung sandiwara.

Saturday, November 15, 2008

Waktu terus berjalan..detik demi detik tinggalkan tengah malam...semenit, dua menit, sejam..yah waktu tepat tunjukkan pukul satu dini hari..

Mata masih enggan untuk terpejam, lamat-lamat mendengar alunan musik lawas apik My Waynya Frank Sinatra...

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught.
To say the things he truly feels;
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows -
And did it my way! (My Way)

My Way..ingatkan akan perjalanan hidup Sang Elang. Selalu mencari pengalaman baru, selalu mencari tantangan baru. Semakin menantang, semakin sulit, semakin bahagia...Apakah seperti itukah?

Tentang jalan hidup..My Way..ternyata baru kusadari ada sesuatu yang tak beres...Dari perbincangan dengan seorang teman ada satu kritikan pedas..Selama ini perjalanan, petualangan, begitu kunikmati sebagai sarana melepas penat, lepas dari segala masalah. Ternyata ada hal yang terlupakan olehku..

"perna kpikiran gk? ada yg kpikiran jika ada apa2 sama mas???"

"mas punya seseorang yang masih sangat sayang sama mas... menunggu mas..yang terbaik bagi mas..doa saja tadak selamanya cukup..maaf sepertinya mas SGT SOMBONG dg diri mas
Nggak sayang sama diri mas ..hanya diliputi nafsu kesombong semakin menantang semakin bahagia........PERMASALAHAN SEMUA ORG PADA DASARNY SAMA-TP HANYA TINGKATANNY YG BEDA...GIMAN BISA MENYAYANGI ORG LAIN KLO MAS AJA GAK BISA NYAYANGI DIRI SENDIRI..."

Hmm masuk akal...aku terlalu egois dengan diriku sendiri...

To think I did all that;
And may I say - not in a shy way,
No, oh no not me,
I did it my way.

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught.
To say the things he truly feels;
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows -
And did it my way!

Ah Menjauhlah darimu egoisme, kesombongan terhadap diri,....meski dirimu masih setia dengan perjalanan Sang Elang...tetaplah terbang, menembus cakrawala, temukan impianmu yang masih jauh di atas awan..

Friday, November 14, 2008

Saat Mc Laren umumkan formasi pembalap yang memegang kemudi jet daratnya pada tahun 2007 lalu saya sempat bertanya-tanya. Di susunan pembalap ada nama Fernando Alonso dan Lewis hamilton. Nama yang pertama tentu saya sudah tahu siapa dia namun yang kedua, siapa Lewis Hamilton?

Berdasar rasa ingin tahu itulah saya sempatkan browsing melacak siapa sebenarnya Lewis Hamilton. Dari hasil itu saya dapatkan satu komentar dari Michael Schumacer., sewaktu Lewis masih beradu di ajang GP 2. Sang maestro jet darat itu punya keyakinan Lewis suatu saat akan jadi pembalap hebat.

Dari berbagai informasi itu saya tak sabar menunggu seperti apa Lewis Hamilton beraksi. Akhirnya saat itupun tiba. Pada debut F1 pertamanya di GP Australia 18 Maret 2007 ia membuktikan suara-suara yang meragukannya. Lewis mampu finish di posisi ketiga. Namun ternyata finish di posisi pertama di debut F1 masih dianggap satu kebtulan saja.

Balapan demi balapan pun berlangsung, kejutan demi kejutan pun terjadi. Lewis mampu memimpin klasemen pembalap tinggalkan para unggulan seperti Fernando Alonso dan Kimi Raikonen. Namun ternyata nasib mujur belum memihaknya. Lewis hanya mampu menjadi runner up di bawah Kimi Raikkonen yang akhirnya mampu jadi juara dunia di tahun 2007.

Tahun 2008 Lewis kembali menebar ancaman. Berkali-kali kesialan sebenarnya juga ia alami. Saling kejar mengejar poin juga berlangsung. kali ini saingan terberatnya adalah Felipe Massa dari Ferrari. Namun ternyata Lewis banyak belajar dari pengalaman kegagalannya di tahun 2007. Kali ini ia lebih matang dalam mengejar gelar juara dunia.

GP terakhir di Brasil menjadi saksi.
Lewis Hamilton menjadi juara dunia termuda dalam sejarah lomba balap Formula 1. ia mematahkan rekor yang pernah ditorehkan Fernando Alonso, meski hanya berada di posisi ke 5.

Selamat Lewis...

Sumber image : bbc.co.uk

Thursday, November 06, 2008

Suasana Pelabuhan di Manokwari
















Naftali menuju tempat tugasnya dengan menggunakan Kapal kayu. ” Dari rumah tinggal di Manokwari ke pelabuhan, saya menggunakan taksi. Jarak dari rumah ke pelabuhan saya perkirakan 10 km,” kenangnya. Sesampainya di pelabuhan ia mengurus untuk pembelian tiket. Menurutnya pada tahun 1991 tiket penumpang seharga 15 ribu rupiah. ”Setelah membeli tiket dan waktunya ditentukan bahwa kami harus berangkat pada malam hari. Kami berangkat sekitar jam 10. Pagi kami sudah menyeberang lautan,” katanya.

Setiap melakukan perjalanan menuju ke Yopmeos ia selalu membawa bekal, baik bekal untuk makan di perjalanan maupun berupa bahan makan selama 3 bulan berada di sana. Tiap 3 bulan sekali ia mengurus gaji dan jatah beras di distrik Windesi sebelum berangkat.

Sepanjang perjalanan kapal melewati pulau-pulau kecil. jika pada waktu itu datang musim gelombang tinggi pulau-pulau tersebut digunakan untuk tempat perlindungan. Dalam perjalanan kenang Naftali tak selamanya kapal berlayar dalam keadaan tenang. Terkadang ketika ada gelombang kapal yang kecil itupun terombang-ambing. Dalam kondisi seperti ini seringkali ia tak sanggup bertahan sehingga mengalami mabuk laut. Bahkan tak jarang ia berteriak-teriak karena rasa panik dan ketakutan minta tolong. ”Karena berdasarkan asal geografis nenek moyang saya yang merupakan orang pegunungan. Saya tak bisa betah dan bertahan di laut jika terjadi goyangan kapal keras. Sering saya muntah akibat goyangan tersebut. Tapi saya tetap berusaha bertahan semenjak malam hingga pagi,” kenangnya.

Menurut Naftali biasanya jika tak ada halangan kapal tersebut sudah sampai di distrik kira-kira jam 11-12 siang. ” Setelah sampai di distrik kalau kami tak bisa berlayar biasanya berlabuh dulu. Karena perahu sudah tak bisa lagi berlayar kesana,” katanya.
Setelah tiba di distrik Naftali masih harus melakukan perjalanan lagi dengan menggunakan perahu dayung. Dari distrik ke tempat tugas biasanya ditempuh dalam 10 jam. Tapi kalau menggunakan pakai perahu boot Johson dari distrik Wasior atau Windesi ke pulau hanya sejam.” Kami menempuhnya dengan mendayung, menyisiri pantai, menyisiri pulau-pulau kecil yang berdekatan dengan pantai, Jika ada gelombang tinggi maka terpaksa kami tidak bisa menyeberang. Kami harus sementara membuat pondok di pinggir pantai dan istirahat di situ. Kami menunggu sampai lautan gelombangnya kecil. Agar kami bisa menyeberang. Sesampainya di pulau ternyata kami disambut dengan baik oleh masyarakat sana,” katanya.

Sekolah Bagi Anak Nelayan

Meski secara geografis termasuk terpencil penduduk di pulau Yobmeos sudah tak asing dengan pendatang. Karena daerah pantai sehingga sering ada pendatangn nelayan dari daerah lain bahkan pernah ada nelayan dari Madura yang singgah. Mereka juga sudah banyak yang menguasai bahasa Indonesia.” Jadi tidak sama dengan daerah seperti di Wamena sana yang masih memakai koteka. Mereka sudah mengenal budaya modern. Jadi masyarakat itu sudah biasa berpakaian walaupun jauh dari perkotaan,” kata Naftali.

Menurut Naftali justru di pulau tersebut kemauan anak untuk belajar ada. Cuma selama ini terkendala dengan tenaga guru dan masalah transportasi. ” Kemauan belajar bagi mereka selalu ada. Nyatanya setelah saya ada di sana anak-anak didik saya sudah ada yang jadi sarjana. Ada yang kuliah perawat, kedokteran dan sebagainya, ” katanya.

Karena letaknya yang terpencil SD Negeri Yopmeos sempat tidak beroperasi selama 6 tahun. Menurut Albert Bisay mantan kepala sekolah waktu itu, hal ini bisa terjadi karena terbatasnya fasilitas pendidikan. Bangunan SD saja waktu itu hanya terbuat dari daun sagu. Bahkan sering juga siswa-siswa belajar di bawah pohon kelapa. ”Pada waktu tahun 1986 saya berupaya pergi ke kota untuk meminta bangunan SD yang baru. SD tersebut dibangun lagi dengan bahan dari papan,” katanya.

Pada tahun 1991 saat Naftali datang di sana SD Yobmeos hanya memiliki 3 tenaga guru. 3 orang guru tersebut adalah seorang kepala sekolah, dirinya dan seorang sahabat karibnya, yang hingga saat ini ketika ia sudah dipindah ke SD Inpres Warmare setia mengikutinya.

Pahit getir juga mengiringi Naftali selama bertugas di SD Yobmeos. Satu kepedihan bagi dirinya diantaranya adalah keterlambatan kenaikan pangkat. ” Kami tidak pernah mengusulkan kenaikan pangkat semenjak tahun 1991 hingga 2002 padahal secara fungsional harusnya kami 2 tahun sekali naik pangkat, Kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Hal itu menurutnya disebabkan oleh masalah transportasi. Sebenarnya bukannya ia tak berusaha mengusulkan tapi seringkali terlambat. Sehingga terpaksa setelah tahun 2002 baru ia mulai mengusulkan kembali kenaikan pangkat.

Di sana yang menjadi kendala juga adalah tiap kali mengambil gaji. Harus berlayar dulu ke distrik dengan menggunakan perahu layar. Seringkali ia mengambil gaji ke distrik Windesi 3 bulan sekali. ”Cuma yang menjadi kendala banyak terutama untuk saya sebagai seorang guru. Pada waktu itu tidak hanya saya ada banyak teman. Kendalanya itu masalah kenaikan pangkat. Kendala utama kita mau ke kota memang ada pimpinan. Namun harus menyeberang ke kota, itu yang sulit, ” kata Karim Saleh.

Meski terpencil menurut Karim siswa di sana taat, Itu tergantung gurunya. Selain itu kesadaran masyarakat bagus. ” Sikap mereka terhadap pendatang juga santun sekali,” katanya.
(bersambung)

Monday, November 03, 2008



Sebatas Kumampu
Aku Kan Berlari Kejar Asaku
Sebatas Ada Waktu….
Aku Kan Terus Mencari Sesuatu Itu
Sebatas Ada Kesempatan
Aku Kan Terus Menunggu Kesempatan Kedua Itu…
Sebatas Mungkin….
Sukmaku terbang mengembara mencari hilangya bayanganmu..

Meski sebatas kutahu..
Bayanganmu hilang masuk kedalam lubang semut..
Sebatas ada harapan..
Aku akan terus bersabar menunggu sebatas kumampu…
Aku Kan Buktikan Keraguan Yang Slama Ini Ada Itu sebatas masih ada waktu dan sebisa kumampu…

Sleman…Feb 2007

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.