Meretas Mimpi Di Panti

Thursday, November 12, 2009


Pagi itu waktu baru menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Seorang lelaki berbadan tegap berseragam tentara dengan atribut lengkap berdiri di sebuah halaman luas berlantai semen.

Solikin nama lelaki itu. Ia merupakan anggota aktif Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat berpangkat Kapten.

Kapten Solikin bersiap di lapangan yang terletak di tengah areal Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Cahaya Bathin Jl. Dewi Sartika 200, Cawang, Jakarta Utara. Beberapa saat kemudian penghuni panti dengan berseragam biru muda dan bawahan biru tua berdatangan satu demi satu. Mereka berkumpul di depan Kapten Solikin.

60 orang penghuni tersebut segera membentuk barisan berbanjar. Kapten Solikin memberi aba-aba. Satu diantara 60 orang tersebut mengambil posisi yang berbeda. Rupanya ia bertindak selaku pemimpin barisan, namanya Zuhroh. Selepas dipandu Kapten Solikin gadis berkerudung berkulit agak hitam ini meneluarkan suara lantang menyiapkan barisannya.

Setelah barisan siap, Kapten Solikin secara acak memanggil nama-nama mereka. Memberi pengarahan dan penugasan secara acak. Tiap nama yang dipanggil diberi tugas menyebutkan hafalan mereka, tentang Pancasila, dan hal-hal lain. Tak kalah dengan mereka yang normal hafalan mereka ternyata cukup bagus. Apel pagi, itulah nama kegiatan yang tiap hari selain hari Senin diselenggarakan di PSBN Cahaya Bathin.

Seperti inilah rutinitas tiap pagi dari 60 penghuni panti sebelumbersiap untuk mengikuti kegiatan sehari penuh. Mengawali hari dengan penekanan disiplin bersama Kapten Solikin, salah seorang pengasuh di PSBN Cahaya Bathin.

Solikin juga merupakan penyandang tunanetra. Selepas menjalani pemulihan akibat kecelakaan saat tugas yang merenggut penglihatannya ia meminta ditugaskan di panti ini. Ia membantu memberi pelatihan di panti ini khususnya mengenai kedisiplinan serta motivasi.Sebenarnya saya dulu berasal dari batalyon Zipur 8, Wirabuana di Makasar. Waktu itu tengah bersiap operasi keamanan di timor Timor. Kebetulan waktu itu ia bertindak sebagai Komandan Kompi Penjinak Bahan Peledak. (Pasukan Jihandak),” ujarnya.

PANTI SOSIAL BINA NETRA CAHAYA BATHIN

Tak susah mencari keberadaan PSBN Cahaya Bathin. Panti ini terletak di Jalan Dewi Sartika No.200 Jakarta Timur, tak jauh dari rumah sakit Budi Asih dan berdekatan dengan pusat lembaga pelatihan kesos milik Departemen Sosial.

Panti ini lokasinya cukup strategis meskipun di pusat kota namun jika sudah masuk ke lingkungan kesan tenang terbawa. Akses dengan kendaraan umum juga relative mudah bagi yang tidak menggunaskan kendaraan pribadi.

PSBN Cahaya Bathin dari usianya tak bias dianggap baru. Panti ini ternyata sudah berdiri sejak tahun 1958. Namun awalnya bernama Panti Karya Asuhan Budi yang kegiatannya menampung hasil razia yang dilakukan oleh Pemda Provinsi DKI Jakarta. Saat itu masih dalam kendali Departemen Sosial.

Panti beralih kepemilikan di tahun 1984. Waktu itu Pemerintah Daerah DKI mengambil alih panti dan mengganti namanya menjadi Panti Penyantunan dan Rehabilitasi Khusus Tuna Netra. Penggunaan nama Cahaya Bathin sendiri baru pada tahun 1986 sesuai dengan SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 736. Selanjutnya muncul SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 163 tahun 2002 digabung Panti di Cengkareng dan Cawang (ex Depsos). “Namun dalam waktu dekat Cengkareng akan dijadikan satu dengan Cawang. Panti di Cengakareng bakal digunakan untuk kepentingan yang lain,” ujar Djaka Kunandjaya, SH, MM Kepala PSBN Cahaya Bathin.

Djaka menambahkan saat ini ada 60 penghuni di panti yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika, Cawang sedangkan di Cengkareng ada 40 orang. Mereka berusia antara 13 hingga 30 tahun.

Namun dalam waktu dekat penghuni panti yang ada di Cengkareng bakal direlokasi ke Cawang. “ Rencananya bakal diperuntukan bagi kepentingan lain,” kata Djaka.

Djaka mengatakan Panti yang di Cengkareng memang tidak didesain untuk menampung tunanetra. Awalnyadigunakan untuk menampung para lansia. Karena untuk lansia tata letak bangunan juga menyesuaikan berupa rumah-rumah kecil yang posisinya terpencar. Kondisi seperti inilah yang menyulitkan ketika digunakan untuk menampung tuna-netra.

Dengan posisi permukiman yang berpencar seperti itu membuat setiap kali ada tamu untuk mengumpulkan ke aula saja membutuhkan waktu cukup lama. Mereka harus dituntun satu demi satu. “ Disini lebih enak. Lokasi kelas ada di atas dan di bawah adalah asrama mereka. Lokasinya terpusat. Sehingga mudah dalam memobilisasi,” ujar Djaka.

TAK HANYA MENAMPUNG WARGA DKI

Karena dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya panti ini diperuntukkan bagi mereka yang berasal dari DKI. “ Karena ini milik Pemprov sehingga yang berhak menjadi penghuni panti adalah orang-orang yang memiliki KTP DKI,” ujar Djaka.

Namun ternyata pelaksanaanya di lapangan berbeda. Karena faktor kemanusiaan mereka juga tak menutup pintu bagi warga lain meskipun tidak memiliki KTP DKI. “ Mereka yang berasal dari luar juga diterima masuk dengan pertimbangan kemanusiaan,” ujar Djaka.

Selain berasal dari masyarakat yang langsung dating untuk mendaftar penghuni panti ada yang berasal dari hasil dari razia yang dilakukan dinas social provinsi DKI Jakarta. Mereka yang diidentifikasi tunanetra dijaring di tampung ini. Tentunya tunanetra yang dijaring yang sehat karena nantinya mereka di tempat ini bakal dibina agar bisa hidup secara mandiri. Meskipun di lapangan ternyata kebanyakan hasil razia ada yang tua dan sakit-sakitan.

Satu diantara penghuni panti adalah Septohadi Nugroho. Remaja asli Jakarta Timur kelahiran 23 tahun lalu ini sempat berkisah awal mulanya tinggal di panti ini.

Septo, begitu dia biasa dipanggil, merasa bersyukur menjadi salah satu bagian dari penghuni panti ini. Dibandingkan dengan saat pertama kali masuk setahun lalu ada banyak hal yang telah ia dapatkan. “Awal saya berada disini tidak bisa apa-apa. Untuk berkomunikasi dengan teman-teman juga tidak bisa,” ujarnya.

Kini sosok Septo telah banyak berubah. Ia semakin termotivasi untuk lebih banyak belajar tentang berbagai hal yang belum ia mengerti dan kuasai. Satu cita-citanya ingin menjadi contoh bagi teman-teman lain yang senasib dengannya. Menurutnya semua sebenarnya bisa jika latihan. Ia mencontohkan dirinya dulu yang juga belajar dari nol.

Sekarang ada banyak hal yang sudah Septo kuasai. Tak hanya kemampuan dan keterampilan dasar saja yang ia kuasai namun hal-hal lain seperti bermain musik. Septo piawai menabuh drum dan bermain gitar. Atas kepiaiwainya dalam bermain musik ia pernah dipercaya oleh Depdiknas untuk tergabung dalam sebuah tim untuk rekaman pembuatan modul pembelajaran kesehatan dan Reproduksi.

Meski sudah menguasai banyak keterampilan ternyata keinginan Septo untuk terus belajar tak berhenti sampai disini saja. Ia bahkan menyimpan mimpi besar untuk melanjutkan studi hingga bangku. “ Apa yang saya dapatkan dari sini hanya berupa batu loncatan, semoga bisa jalan terus,” ujarnya.

Ternyata ada juga raihan prestasi yang pernah diukir oleh para penghuni PSBN Cahaya Bathin. Yang terbaru tahun ini mereka mampu menjadi Juara II tingkat nasional lomba hafalan Undang Undang yang diselenggarakan oleh Mahkamah Konstitusi. Raihan ini lebih baik dari tahun sebelumnya hanya meraih juara III.

Ada juga torehan yang diraih oleh satu siswa lain yaitu Muhamad Hilmi. Berbekal puisi karyanya, Ia menjadi wakil Provinsi DKI dalam ajang lomba puisi tingkat Nasional untuk tuna netra meskipun belum mampu menjadi yang terbaik.

MEMILIKI BERBAGAI KEGIATAN RUTIN

Seperti lazimnya panti-panti tunanetra yang lain, PSBN Cahaya Bathin juga membekali penghuninya dengan beragam keterampilan. Hal yang diberikan mulai dari motivasi, kedisiplinan serta semangat bangkit dan kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. “Pertama-tama yang harus ditangani mental dan sikap dulu. Soal ketrampilan itu nomor kesekian,” kata Kapten Solikin.

Terkait dengan sikap dan mental Djaka menceritakan kisah seorang penghuni panti, namanya Zuhroh. Zuhroh masuk ke panti ini dalam keadaan terbuang. Ia tak memiliki keluarga. Hidupnya berpindah dari satu panti ke panti yang lain. Pertama kali datang ia dalam kondisi stress berat, sehingga sangat mudah marah.

Berkat ketekunan dari para pengasuh akhirnya sosok Zuhroh kini sudah jauh lebih baik. Bahkan kini ia dipercaya sebagai pemimpin barisan tiap kali upacara bendera atau kegiatan apel pagi.

Beberapa pembekalan yang mereka dapat diantaranya Orientasi dan mobilitas (OM). Dalam kegiatan ini penghuni panti diberi materi dan pelatihan seputar pengenalan lingkungan di sekitarnya dan bagaimana cara bisa bepergian. Pelatihan ini dimulai dengan hal-hal yang sederhana seperti cara naik tangga, turun tangga, menyeberang dan sebagainya.

Kegiatan ini tak hanya dilakukan di dalam wilayah panti terkadang dilakukan diluar juga. Misalnya ke pasar, terminal, stasiun dan sebagainya. Pelatihan ini diberikan seminggu sekali.

Pengetahuan lain penting yang diberikan adalah mengenai kesehatan dan reproduksi. Ada seorang dokter yang sengaja diundang untuk memberikan pengetahuan seputar ini. Menggunakan boneka yang digunakan untuk mengenalkan organ-organ reproduksi dan tanda-tanda genital bagi penghuni panti.

Agar bisa menambah ilmu pengetahuan warga panti juga mendapat kemampuan membaca huruf Braille. Tak hanya huruf Braile Latin namun juga Al Quran Braille bagi yang beragama Islam. Di bidang kesenian mereka mendapatkan keterampilan bermain musik. Di panti ini memiliki studi musik sendiri dengan peralatan yang lengkap.

Sebagai bekal untuk bisa mandiri secara ekonomi berbagai keterampilan juga diajarkan. Keterampilan seperti membuat berbagai alat sehari-hari seperti keset, dan kemampuan pijit. Mereka mendapat berbagai teknik pijit mulai dari refleksi, shiatsu dan massage.

Djaka menambahkan meskipun sudah memberi banyak bekal yang saat ini masih mengganjal adalah membantu mereka penyaluran ketempat kerja. Namun hingga saat ini kami masih belum bisa. Seharusnya kami harus dibantu oleh dinas-dinas lain,” ujarnya.

Sebenarnya menurut Djaka PSBN Cahaya Bathin sudah berupaya. Upaya nyata dengan membuka praktek pijat dengan harga yang relatif terjangkau. Sekali pijat masyarakat hanya membayar Rp. 30 ribu saja. Biasanya yang datang dari masyarakat sekitar.

Hasil dari praktek tersebut sepenuhnya menjadi hak penghuni panti. Meskipun ada sebagian yang disisihkan untuk tabungan mereka. Perinciannya dari 30 ribu tersebut, 20 ribu untuk mereka dan 10 ribu disimpan. Sewaktu waktu akan dikembalikan lagi pada mereka misalnya ketika mereka hendak mudik. Ketika hendak lebaran,” kata Djaka.

Selain kegiatan rutin sehari-hari di momen tertentu menurut Djaka ada juga kegiatan seperti pentas seni, perlombaan dan kegiatan lain. “ Misalnya lomba adzan, sari tilawah, ceramah agama. Kegiatan seperti ini biasanya diselenggarakan pada bulan ramadhan,” katanya.

Meskipun mendapat banyak fasilitas dan berbagai pelatihan berharga ternyata semua itu didapatkan penghuni panti dengan Cuma-Cuma tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Menurut Djaka semua hal terkait dengan pembiayaan dan operasional sudah dianggarkan oleh pemerintah DKI. Sumber dana lain menurut Djaka juga ada namun hanya insidentil saja. Ada donatur di saat-saat tertentu misalnya ketika bulan puasa, hari raya dan sebagainya.

Mengenai keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat menurut Djaka yang sering mengadakan kegiatan di panti ini adalah sebuah LSM yang intens menangani penderita Low Vision. Ada beberapa orang dalam pengawasan mereka. Djaka mengatakan kemungkinan kalau mereka nanti bisa dioperasi bakal dioperasi. Mereka biasanya datang sebulan sekali atau dua bulan sekali untuk mengadakan pengawasan. Low vision itu mereka matanya nampak seperti orang normal namun tidak melihat,” kata Djaka.

Djaka menjelaskan rencananya penghuni panti normalnya tinggal disini selama 2 tahun dan nantinya harus bisa mandiri. Untuk bisa disebut mampu mandiri standar yang harus mereka miliki menurut Djaka adalah mereka sudah bisa baca huruf braile, braile Al Quran, punya beragam keterampilan. Jika telah lulus mereka tak dibiarkan begitu saja. Mereka juga diberi bantuan berupa alat-alat untuk kerja seperti alat massage, shiatsu serta refleksi dan tetap dipantau oleh panti.

Selama ini menurut Djaka banyak lulusan dari sini yang sudah mendapatkan kehidupan yang layak. Tapi dalam kemandirian itu juga kami tinjau, evaluasi, apakah benar mereka sudah benar-benar mandiri? Kalau mereka sudah punya tempat itu sudah kita anggap mandiri,” ujar Djaka.

Menjadi Kepala Panti sudah menjadi hal biasa bagi Djaka. Meskipun di tempat ini ia baru menjadi Kepala panti sejak bulan februari tahun 2009. Sebelumnya ia pernah menjadi kepala di beberapa panti lain. Tahun 2007 ia menjadi kepala di panti jompo Cilambar selama 2 tahun setelah itu ditugaskan ke Plumpang mengurusi anak jalanan. Mengenai panti tempat ia bertugas sekarang ada satu misi yang ia perjuangkan. “Saya berharap PSBN ini suatu saat bisa menjadi panti percontohan di DKI Jakarta,” ujarnya.

FATHONI ARIEF

KUMPULAN SEJARAH KECIL TENTANG INDONESIA

JUDUL BUKU : Sejarah Kecil “petite histoire” Indonesia

PENULIS : Rosihan Anwar

Jumlah Halaman : 316 halaman

ISBN : 9789797091415

Kisah-kisah kecil yang pernah terjadi di beberapa daerah Indonesia ternyata menarik untuk diketahui. Ada banyak kisah kecil yang penuh dengan human interest dan justru terkadang lepas dari sejarah besar bangsa Indonesia meski terkadang memiliki kaitan erat dengan sejarah besar bangsa.

“Sudah beberapa waktu lamanya saya berfikir tentang bagaimana caranya membuat sejarah menarik bagi generasi muda. Sejarah yang tidak hanya terdiri dari hanya rangkaian tahun atau jaartallen untuk dihafalkan, tetapi yang dirasakan hidup dan bermakna untuk kehidupan zaman sekarang,” ujar Rosihan Anwar.

Penulis kemudian menyusun sebuah buku dengan mengkombinasikan antara kiat-kiat jurnalistik dengan persyaratan ilmiah. Ternyata ia cukup banyak menulis karangan yang berkaitan dengan sejarah, baik dalam bentuk tulisan feature untuk surat kabar dan majalah maupun dalam bentuk narasi skenario film dokumenter tau reportase untuk televisi.

Tak ingin tulisan-tulisannya hilang begitu saja dan bisa bermanfaat bagi generasi muda akhirnya penulis mengumpulkan semuanya. Ia kemudian menulis ulang dan menyusunya kembali dalam kemasan yang lebih sesuai.

Rosihan memberi bukunya judul “Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia”. Buku ini terdiri dari 12 bagian. Masing-masing bagian bercerita tentang peristiwa dan setting tempat yang berbeda. “ saya buat pembagian menurut daerah kejadian, saya susun kembali urutan waktu dan zaman secara kronologis,” katanya.

MENZIARAHI RENTANG WAKTU DAN TEMPAT

Dalam buku ini, Rosihan Anwar membawa kita untuk melihat “sejarah kecil” Indonesia, seperti Kayu Cendana di Pulau Timor, Kudeta Nazi Jerman di Pulau nias, riwayat Saisuk di sumatera barat, Sahabat-sahabat Prof Snouck Hurgronje, Pulau Karimun yang dipimpin Perwira Jerman, tempat pembuangan Bung Karno dan sebagainya. Pembaca seperti diajak berjalan-jalan berkunjang dari satu tempat ke tempat lain, satu masa ke masa lain.

Ada kisah-kisah yang mungkin selama ini tak banyak orang tahu. Seperti kisah kudeta tentara Nazi di pulau Nias. Kisah tersebut didapat Rosihan dari buku karya Jacob Zwaan berjudul Nederland Indie : 1940-1946 dan karya C. van Heekeren Batavia Seint : Berlin. “ Saya temukan kisah menarik tentang pulau Nias yang sebelumnya tidak saya ketahui,” ujarnya.

Buku tersebut mengisahkan, peristiwa setelah negeri Belanda diserang oleh tentara payung Nazi Jerman pada 10 Mei 1940. Penyerangan yang berimbas pada nasib orang Jerman di Hindia. Polisi Hindia Belanda melakukan penangkapan orang-orang Jerman dan memenjarakan mereka dalam berbagai kamp seperti di Ngawi. Mereka yang ditangkap terdiri dari berbagai macam latar belakang.

Tanggal 8 Desember 1941 tentara Jepang menyerang Pearl Harbour dan berlanjut dengan invasi ke Utara Kalimantan dan Sulawesi. Belanda menyelamatkan diri. Mereka membawa tahanan orang-orang Jerman tersebut ke India dan Inggris. Tanggal 19 Januari 1942 berangkatlah dari pelabuhan Sibolga kapal penumpang “Van Imholf” yang mengangkut 477 orang Jerman menuju India.

Namun di tengah jalan perjalanan mereka terganggu. Sebuah pesawat pengintai milik angkatan laut Jepang (Kaigun) menjatuhkan bom di atas kapal “Van Imhoff”. Kapalpun tenggelam 110 orang Belanda menggunakan sekoci yang ada melarikan diri sementara tahanan Jerman dibiarkan tersekap begitu saja. Sekocipun habis dan yang tertinggal hanya satu kapal kerja dan sejumlah rakit. Hanya 65 tawanan saja yang akhirnya berhasil selamat mendarat di pulau Nias. Di pulau itu Belanda langsung menahan mereka.

Minggu malam 29 Maret 1942 orang-orang Jerman meloloskan diri. Mereka melakukan perlawanan terhadap Belanda dan merebut penguasaan atas pulau itu. Penguasaan ini berakhir tanggal 17 April 1942 ketika tentara Jepang datang. Cerita seputar kronologis pembentukan Tentara Nasional Indonesia juga ditulis Rosihan dalam buku ini.

NALURI SEORANG WARTAWAN

Buku ini juga berisi peristiwa-peristiwa yang secara langsung diikuti oleh Rosihan. Profesinya sebagai seorang wartawan yang hidup di berbagai era membuatnya banyak menjadi saksi peristiwa bersejarah. Seperti saat-saat menjelang 10 November tahun 1945, dimana bakal pecah perang besar-besaran antara tentara Inggris melawan pasukan arek-arek Suroboyo. Rosihan merasakan betapa semangat perjuangan dihembuskan kemana-mana. Ia merasakan secara langsung sambutan rakyat di sepanjang perjalanan menuju Surabaya dengan menggunakan kereta Api yang didalamnya membawa bantuan senjata. Sepanjang perjalanan kereta yang beradu cepat dengan waktu itu disambut dengan pekik perjuangan oleh rakyat.

Selepas mengakhiri karier sebagai wartawan ternyata naluri sebagai wartawan Rosihan Anwar tak hilang meski usia sudah makin renta. Seperti dia kisahkan saat peristiwa penyerangan kantor PDI di jalan Diponegoro atau yang sering disebut peristiwa 27 Juli 1996. Meski saat itu ia sudah berusia 74 tahun namun rasa keingintahuannya tidak berkurang. Cerita tentang pengalaman Rosihan menjadi saksi peristiwa bersejarah itu ada di bagian ke 13. Cerita yang baru disampaikan Rosihan 6 tahun setelah kejadian tersebut.

SIFAT PRESIDEN DARI MASA KE MASA

Rosihan Anwar juga menceritakan dalam bagian terakhir (Bab 13) di buku ini mengenai pemimpin negeri ini dari masa ke masa, mulai dari Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman wahid hingga Megawati. Mengenai Soekarno, Rosihan mengutip cerita dari buku karangan Drs. Barkman mantan dubes Belanda di Jepang. Dari buku berjudul Bestemming Jakarta – Het herstel der Nederlands- Indonesische betrekkingen (Tujuan Jakarta-Pulihnya hubungan Belanda-Indonesia).

Dari buku tersebut ternyata ditemukan fakta menarik. Soekarno sebagai presiden pernah mengadakan kunjungan ke berbagai negara namun justru tak pernah mengadakan kunjungan sebagai kepala negara ke negeri Belanda. Soekarno selalu menunggu undangan resmi dari ratu Juliana namun sampai ia berhenti jadi presiden undangan itu tak pernah sampai.

Cerita lainnya adalah tentang mantan presiden Soeharto. Rosihan menceritakan dalam buku ini saat-saat terakhir menjelang jatuhnya presiden kedua tersebut. Satu lagi yang paling menarik adalah cerita mengenai mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau yang lebih sering dipanggil Gus Dur. Bagi yang suka akan bacaan-bacaan bertema buku bertema sejarah. Buku ini layak menjadi koleksi.

FATHONI ARIEF

TEKNOLOGI MATA BIONIK ASA BARU BAGI SI BUTA

Mata bionik bernama Argus. Membantu si buta bisa melihat kembali. Masih dalam tahap pengembangan.

Seorang wanita berusia 50 tahun asal kota New York yang telah didiagnosa mengalami kebutaan sejak berusia 13 tahun mendapatkan kembali penglihatannya. Wanita tersebut bisa melihat lagi pasca menjalani operasi penanaman perangkat mata bionik dalam sebuah operasi.

Operasi penanaman mata bionik tersebut berlangsung dengan lancar. Pemasangan mata bionik merupakan kasus pertama kali di kota New York. Operasi dilakukan oleh tim medis yang dipimpin oleh ahli mata Dr. Lucian V.
Delpriore dari Rumah Sakit Presbyterian dan Fakultas Kedokteran Universitas Columbia.

Penanaman mata bionik kini menjadi alternatif penanganan bagi mereka yang mengalami kebutaan. Operasi semacam ini khususnya dilakukan untuk pasien yang mengalami kebutaan akibat penyakit yang menyerang retina mereka. Selanjutnya ia akan menjalani fase intensif rehabilitasi membutuhkan waktu sekitar enam bulan. “ Tetapi proses dapat berlanjut selama setahun atau lebih,” kata Delpriore

Sebelumnya pemasangan mata bionik di Inggris Raya juga pernah dilakukan. Di akhir tahun 2008, dilakukan uji coba operasi ini. Salah satu pasien adalah Ron,73, kakek asal Inggris. Setelah 30 tahun kehilangan penglihatannya atau mengalami kebutaan seperti menemukan kehidupan baru kini ia mampu melihat lagi. Ron mampu melihat terangnya cahaya setelah sepasang mata bionik dipasang lewat sebuah operasi.

Kakek ini menjadi obyek uji coba 7 bulan lalu sebagai pasien Rumah Sakit Moorfield yang terletak di kota London. Ron mengatakan saat ini ia mampu mengikuti garis lurus lurus putih di jalan menggunakan teknologi mata bionik yang diberi nama sebagai Argus II.

SISTEM OPERASI MATA BIONIK

Mata bionik yang dinamakan Argus II memiliki 3 komponen penting. Komponen pertama adalah bagian yang ditanamkan (implanted part). Bagian ini terdapat di dalam mata pasien. Bagian kedua adalah kamera mini dan transmitter yang ditempelkan dalam kacamata. Bagian terakhir adalah wireless microprocessor dan batteray.

Kamera bionik ini cara kerjanya tak beda dengan sebuah kamera pemantau. Mata bionik memakai sebuah kamera dan video processor yang ditempelkan pada kaca mata untuk mengirim gambar yang berhasil ditangkap untuk selanjutnya dikirim ke penerima kecil yang lokasinya diluar mata.

Selanjutnya penerima akan menyalurkan data-data tersebut melalui kabel kecil ke sebuah elektroda penyusun yang diletakakan di retina. Lapisan sel ini dalam kondisi normal merespon cahaya yang ditemukan dibalik mata. Ketika elektroda ini distimulasi mereka akan mengirim pesan ke otak. Diharapkan otak mampu membedakan pola dari daerah gelap dan terang seperti pengiriman dari elektroda dan pasien akan belajar untuk menginterpretasikan pola visual yang dihasilkan menjadi gambar yang berarti.

“Dengan sistem ini orang yang mengalami kebutaan akan mampu membedakan cahaya dari kegelapan, mengenali pola-pola visual, melihat makanan dari sebuah piring dan navigasi di suatu lingkungan yang belum ia kenal,” kata Del Priore.

Saat ini mata bionik ini belumlah mampu mengembalikan secara penuh kemampuan melihat. Namun setidaknya sudah mengurangi ketidakmampuan sesoerang. Seperti yang dialami oleh Ron. Meskipun sebatas itu dalam sebuah wawancara yang diadakan oleh BBC, pria lanjut usia ini mengungkapkan rasa kegembiraannya. Ia mengatakan : “Hampir selama 30 tahun saya tak bisa melihat apa-apa, namun sekarang seberkas cahaya muncul kembali. Tiba-tiba mampu melihat cahaya kembali sungguh luar biasa,” ujar Ron.
“ Satu keinginan kuat saya saat ini adalah bisa keluar di satu sore yang cerah dan menikmati keindahan rembulan,” tambahnya.
Apa yang dirasakan oleh Ron menjadi kebahagiaan tersendiri bagi istrinya. Menurut istrinya ada banyak kemajuan yang dicatat oleh Ron. “ Saat ini Ron sudah mampu melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak bisa ia lakukan. Ia bisa mencuci, mampu mebedakan warna putih dari bagian yang berwarna-warni,” katanya.

Istri Ron dengan sabar mengajarinya bagaimana cara mengoperasikan mesin cuci. Kini kerjaan rumahnya menjadi sedikit berkurang ia hanya tinggal menyetrika saja.
Di samping Ron, 17 pasien lainnya di AS, Eropa dan Meksiko menjadi bagian dari uji coba dari Argus II untuk melihat apakah itu aman dan efektif dalam memulihkan setidaknya sebagian visi untuk orang yang menderita retinitis pigmentosa (RP), genetik penyakit mata yang menyebabkan kebutaan.

Retinitis Pigmentosa adalah suatu kemunduran yang progresif pada retina yang mempengaruhi penglihatan pada malam hari dan penglihatan tepi dan pada akhirnya bisa menyebabkan kebutaan. penyakit keturunan yang jarang terjadi. Beberapa bentuk penyakit ini diturunkan secara dominan, hanya memerlukan 1 gen dari salah satu orang tua; bentuk yang lainnya diturunkan melalui kromosom X, hanya memerlukan 1 gen dari ibu.

Penyakit ini terutama menyerang sel batang retina yang berfungsi mengontrol penglihatan pada malam hari. Pada retina bisa ditemukan pigmentasi yang berwarna gelap. Diperkirakan di Inggris raya 20,000 hingga 25,000 orang terjangkit ini.

Hasil awal menunjukkan bahwa tidak ada kegagalan perangkat dan hanya sedikit "serius dampak buruk," yang paling serius yang mengakibatkan penghapusan suatu implan tanpa kesulitan atau kerugian bagi individu, perusahaan dilaporkan pada bulan November.
Dalam satu rilis laporan perusahaan, Robert Greenberg, MD, PhD, President dan CEO dari Second Sight mengatakan sejauh ini hasil tahap uji coba mereka cukup memuaskan. Hasilnya dari 11 pasien yang diteliti memperlihatkan perkembangan yang bagus. Mereka mampu mengetahui lokasi pintu dari jarak 6 meter dan mampu berjalan menyusuri jalan dengan petunjuk garis sejauh 6 meter.

Mata bionik ini merupakan pengembangan dari perusahaan asal USA US Company Second Sight. Argus II dan pendahulunya Argus I telah diimplementasikan untuk membantu mengurangi aspek kehilangan penglihatan terhadap 20 pasien di Amerika Serikat. Saat ini para ahli terus berupaya meningkatkan kemampuan mata bionik ini. Satu tim khusus dipimpin oleh Dr. Mark Humayun, seorang pengajar di University of south Carolina.

ADA PENELITIAN SEJENIS

Dari situs www.scientificamerican.com dikabarkan peneliti lain juga bekerja pada prostesis yang dirancang untuk membantu orang buta melihat lagi. John Pezaris, seorang rekan peneliti di Harvard Medical School, juga tengah mengembangkan salah alat bantu yang akan menggunakan listrik microstimulation di talamus (lobed ganda massa materi kelabu sel-sel di bagian atas batang otak yang menerima indra visual gambar) untuk setidaknya mengembalikan sebagian penglihatan .

Prostesis itu dikenakan seperti sepasang kacamata, dengan kamera digital yang menutupi mata yang terhubung ke array elektroda tertanam dalam otak. Meski demikian Pezaris tidak berjanji untuk memulihkan penglihatan normal, tapi berharap mengembalikan kemampuan untuk menyampaikan informasi yang cukup untuk otak akan memungkinkan orang yang kehilangan penglihatan yang lengkap untuk dapat mengidentifikasi objek sederhana dan bahkan mengenali wajah. "Para implan retina teknologi maju pada tingkat yang mengesankan, tetapi hal yang paling menarik adalah untuk melihat bagaimana subjek relawan yang telah menerima Argus II awal implan akan tarif sebagai berjalannya waktu," kata Pezaris.

FATHONI ARIEF

Sumber : BBC.com, www.scientificamerican.com, www.2-sight.com, www.sciencedaily.com

I Can (not) Hear

Thursday, October 29, 2009


Judul Buku : I Can (Not) Hear

Nama Penulis : Feby Indirani & San C.Wirakusuma

Penerbit : Gagas Media

Tebal Halaman : 352 halaman

Kategori : Non Fiksi-Memoar

ISBN : 9789797803636






Terlepas dari apa pun, saya sangat bersyukur memilikinya. Gwen adalah anugerah terbesar dalam hidup saya. Proses membesarkan Gwen dan melatihnya mendengar dan berbicara telah memberikan saya begitu banyak pelajaran berharga, lebih daripada yang pernah saya bayangkan. (San C. Wirakusuma).

Perjuangan seorang ibu dan orang-orang terdekat demi putri tercintanya dikisahkan dalam buku berjudul “ I Can (Not) Hear. Buku yang ditulis oleh Feby Indirani dan San. C. Wirakusuma ini diambil dari kisah nyata yang dialami oleh San C. Wirakusuma. Kisah yang bermula dari sebuah negara yang kini menjadi bagian China, Hongkong.

Satu kebahagiaan bagi pasangan John dan San. Buah dari pernikahan mereka, lewat sebuah operasi, San melahirkan bayi perempuan, mungil. Beratnya 3 kilogram dengan panjang 49,5 centimeter. Gwendolyne, itulah nama dari putra pertama pasangan John dan San. Nama yang diambil San dari sebuah buku yang pernah ia baca berjudul Malory Towers karya Enid Blyton.

Gwen tumbuh layaknya bayi sehat lainnya. Hari demi hari terus tumbuh tanpa ada satu hal yang beda. Hingga suatu hari pasangan muda ini memeriksakan Gwen ke dokter ahli THT, dr Lizette Chung. Awal mulanya San curiga dengan kebiasaan putrinya yang sering menggeleng-gelengkan kepala, dan ia mencium sesuatu bau kurang sedap dari telinga anaknya.

Dr Lizette Chung mulai memeriksa Gwen. Dia mencoba membunyikan sesutu di dekat telinga bayi kecil ini. Setelah sekian kali ternyata tak ada respon yang berarti. Akhirnya ia merekomendasikan kepada San untuk membawa bayinya menjalani tes, Phonak Hearing Center Hongkong memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Serangkaian tes dilakukan dan hasilnya San dan John mendapati satu kenyataan pahit. Putri pertama mereka Gwen yang waktu itu baru berusia 6 bulan divonis mengalami gangguan pendengaran yang sangat berat. Bahkan diibaratkan seandainya ia berdiri di samping pesawat terbang yang akan lepas landas, ia tak akan mendengar suara apapun.

Vonis yang tak begitu saja diterima oleh mereka dan menyisakan satu pertanyaan besar ‘Mengapa?’. Apa yang menyebabkan putri kecil mereka mengalami tuna rungu padahal di riwayat keluarga mereka tak ada yang pernah mengalami hal itu.

San tak puas dengan sekali hasil tes ia berkunjung dari satu ahli THT ke yang lain, satu dokter ke dokter lain. Ia masih belum puas dengan hasil yang menyatakan putri mereka mengalami gangguan pendengaran yang berat. Ia juga penasaran apa yang menyebabkan kelainan pada putrinya.

Ternyata jawaban dari satu ahli ke ahli lain sama. Hasilnya Gwen memang mengalami gangguan pendengaran yang cukup berat. Terkait dengan penyebab kelainan tersebut San mendapat jawaban setelah memeriksakan sampel darahnya di Klinik Dr. Goh, Quens Mary Hospital. Berdasarkan tes penyebabnya adalah ia pernah terjangkit virus CMV (cyto megalovirus).

Setelah sekian lama tenggelam dalam duka akhirnya San dan John mencoba menerima. Mereka tersadar untuk menolak takdir dan lantas membuat langkah untuk masa depan putri mereka, Gwen.

Setelah mendapat rekomendasi dari beberapa ahli telinga mereka memutuskan untuk menanamkan semacam chip sebagai alat bantu di dalam kepala Gwen. San tak bisa membayangkan saat-saat putri kecilnya yang baru berusia 1,5 tahun digunduli kepalanya. Bayi yang kepalanya sudah tak berambut itu tergeletak di meja operasi, kepalanya dibor dan sebuah chip ditanamkan di dalam rumah siput pada telinga kanannya ( cochlear implant).

Menjalani operasi ternyata belum menjadi solusi bagi Gwen. Meski alat bantu canggih sudah ditanamkan tidak serta merta ia langsung bisa mendengar, mengenali bunyi serta berbicara. Ada begitu banyak proses hingga akhirnya Gwen bisa seperti saat ini.

Selama proses panjang itulah akhirnya San menyadari bahwa proses mendengar dan berbicara anak tuna rungu tidaklah sama dengan mereka yang normal. Anak tuna rungu memerlukan pengulangan saat mendengarkan bunyi-bunyi atau suara yang ada di sekelilingnya. Untuk mampu mengucapkan kata “Mommy” Gwen membutuhkan ratusan bahkan mungkin ribuan kali mendengarkan sampai akhirnya bisa melafalkan dengan benar.

San dengan penuh kesabaran membimbing dan merawat Gwen. Beruntunglah Gwen karena ia didampingi wanita yang begitu sabar serta ayah dan nenek yang selalu mengerti, menjaga, dan mendukung apa pun yang menjadi keinginan dan kebutuhan Gwen.

Demi perkembangan Gwen, San sempat bermukim di Australia. Keputusan ini sempat menjadi perdebatan antara San dengan John. John ingin San dan Gwen tinggal di Australia saja sedangkan San berpendapat lebih baik mereka tinggal di Singapura karena jika terjadi apa-apa dekat dengan Jakarta.

Setelah berfikir rasional dan demi perkembangan putrinya San luluh juga. Ia menerima keputusan John tinggal di Australia. Akhirnya San mereka tinggal di negeri Kanguru tersebut hingga 3,5 tahun.

Hasil kesabaran San ternyata membuahkan hasil. Kini putrinya telah tumbuh besar. Ia memiliki banyak teman yang senasib dan makin lapang dada menerima kekurangannya. Bahkan ia kerap menjadi inspirasi bagi orang tua lain dalam pertemuan rutin Yayasan Indonesia Mendengar yang didirikan oleh San bersama beberapa orang lain. Yayasan yang menjadi wadah informasi bagi orang tua yang memiliki anak gangguan pendengaran yang memakai alat bantu dengar konvensional atau cochlear implant.

MENANGANI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Ada banyak kisah menarik yang bisa menjadi contoh dalam buku ini. Satu pelajaran bagaimana seharusnya orang tua berusaha mengerti apa yang diungkapkan oleh anaknya. Apalagi jika sang anak memiliki kebutuhan khusus seperti Gwen.

Pernah suatu hari Gwen minta sesuatu pada San. San menunjukkan satu demi satu isi kulkas namun ternyata tak ada yang diinginkan putrinya. Gwen hanya menangis merengek sesuatu yang tak dimengerti oleh ibunya. Hingga akhirnya San ingat beberapa hari sebelumnya Gwen pernah minta permen yang terletak diatas lemari namun ia melarangnya. San tak kuasa menahan haru sambil melihat putri kecilnya yang terlelap.

Satu kejadian lagi yang bisa menjadi pelajaran adalah ketika Gwen bersikeras tidak mau memakai stockingnya. Meski sudah dibujuk ia tak mau bahkan ayahnya, John sempat memukul Gwen gara-gara hal itu. Gwen baru bersedia memakai stocking setelah diancam akan ditinggal di rumah sendiri oleh orang tuanya.

Namun pada malam harinya setelah acara berakhir, saat sang ibu membantu Gwen melepaskan stoking, ia baru mengetahui alasan mengapa Gwen menolak memakai stoking. Alasan putri kecilnya tidak mau memakai stocking adalah karena tidak ingin merusak kuteks yang ada di kuku jari-jari kakinya. SanSan dan John akhirnya menyesali apa yang telah mereka lakukan pada Gwen karena tak mengerti apa maksud putrinya.

Dengan beragam kisah dan perjuangan yang mengharukan buku ini cukup menyentuh para pembacanya. Pembaca bakal terkagum oleh sosok ibu hebat seperti San atas perjuangannya dalam menghadapi Gwen dan perjuangannya untuk berbagi pengalaman dengan orangtua anak-anak tuna rungu di Indonesia.

Bagi mereka yang memiliki orang dekat mungkin anak, sahabat, atau keluarga yang kebetulan menderita tunarungu ini juga menjadi inspirasi untuk tabah dan terus maju. Secara umum buku ini sangat bagus dan layak dibaca!

FATHONI ARIEF