Ekspedisi Sawarna 1

Thursday, August 21, 2008


Setelah sekian lama hanya jadi wacana, ingin..ingin dan ingin...akhirnya saatnya datang juga. Satu petualangan baru, perjalanan baru dimulai..Perjalanan menuju Sawarna, Banten. Tempat yang oleh banyak media, kata teman disebut-sebut memiliki sejuta keindahan.

Kami akan ke Sawarna bertiga. Anggota tim kecil ini adalah saya, Opi, dan satu temen dari Cirebon, Si Iqbal. Rencana awal kami akan berangkat bersama dari Stasiun Gambir kira-kira jam Setengah Tujuh malam namun ternyata ada beberapa perubahan.

Jam lima sore setelah kerjaan liputan acara di Hotel Millenium selesai saya menuju Sarinah. Perubahan rencana saya menunggu di Sarinah, kebetulan tempat kerja Opi tak jauh dari pusat perbelanjaan yang sudah melegenda itu, Wisma Thamrin.

Menunggu di depan Sarinah secara kebetulan bertemu teman SMA dulu. Wow..tak sengaja setelah beberapa tahun saya ketemu Mudjiono, temen yang sekarang kerja di Bank Eksekutif. Ada banyak perbincangan yang kami lakukan. Untung saja ada teman yang menemani menunggu Opi. Info terakhir si Opi mendapat kerjaan mendadak dan menyelesaikan tanggungannya dulu sementara katanya si Iqbal sudah ada di Sarinah juga. Karena belum tahu Iqbal itu seperti apa ciri-cirinya saya menunggu saja di depan Sarinah.

Kira-kira jam enam si Opi nongol juga. Masih dengan pakaian batik, baju resmi hari jumat di kantor-kantor. Kamipun masuk Sarinah dan menuju lantai bawah. ternyata Iqbal sudah menunggu di sana. Tim kecil inipun sudah lengkap Saya, Opi dan Iqbal.

Sebelum berangkat menuju lokasi kami mampir kerumah Opi dulu. Dengan bajaj kami menuju kontrakan Opi yang ternyata tak jauh dari Sarinah. Disana mbak Windri, istri Opi sudah menunggu, mengingat Opi ada kerjaan yang harus selesai tas yang awalnya sudah dipacking dibongkar lagi dan berganti tas yang lebih besar mengingat ia harus bawa laptop.

Berempat kami berangkat namun yang ke Sawarna cuma bertiga. Mbak Windri kata si Opi pulang ke rumahnya, di daerah kampung rambutan. Dengan taksi kami berempat meluncur. Sebelumnya taksi ini akan mengantar kami bertiga ke stasiun Sudirman sebelum menuju Kampung rambutan.

Kami harus menunggu beberapa puluh menit, Kereta Bogor Ekspres. Sementara bisa kulihat disekitar kami wajah-wajah lelah dari para pekerja kantoran Jakarta menunggu kereta, terbayang rumah masing-masing.

Sumber Image : www.pbase.com

bersambung..



Semalam Di Qoryah Thayyibah 5

Wednesday, August 20, 2008

Untung saja saya menginap di Qoryah Thayyibah, ada banyak hal yang saya dapatkan. Ada banyak sosok-sosok sederhana yang saya kenal mulai dari Mas Toha pendamping, Ulum salah seorang siswa, Mbah Lam penjual nasi yang ada di dekat sekolah, Pak Ridwan orang tua Fina, Pak Wahab, Pak Jono, Puji siswi kelas 1 SMA, Fajar dan masih banyak lagi.

Hari kedua di Q-Tha saya juga berkenalan dengan 2 orang Mahasiswa Pasca Sarjana Sosiologi dari UGM, Hendra da
n temannya. Mereka sedang mencari bahan untuk proyek tesisnya. Bersama kedua orang itu saya mendengar banyak hal dari Pak Din. Tak hanya mengenai pendidikan namun juga masalah sosial dan keadilan. Satu hal yang menarik adalah konsep lumbung dan learning society.

Salah satu pemikiran dari Pak Din diantaranya :

Kami mencita-cita hidup bersama ada keadilan. Tidak saling mengeksploitasi. Kalau mengatakan saya ingin jadi majikan itu kan ada benih2 kejahatan. Seperti itu khas kapitalistik. Tetep harus ada korban. Biar sukses di usaha bakso misalnya tetap ada karyawan yang dieksploitasi. Kalau ada keadilan orang akan tidak serakah.

Kalau anak kita sudah dijamin kita tak perlu berfikir bagaimana 7 turunan. Kalau masa tua kita sudah dijamin ada keadilan kita tak perlu numpuk-numpuk harta untuk bekal masa tua. Keserakahan itu sebenarnya bisa diminimalisir dengan keadilan.

D
iskusi, ngobrol, melihat, mendengarkan seputar itu saja yang saya lakukan di hari kedua. Sempat juga ngobrol dengan Fajar dan Puji Astuti siswa-siswi dari Sekolah alternatif. Ada banyak hal yang saya kagumi terutama semangat dan keberanian itu yang ingin lebih saya tingkatkan dari diri saya.

Awalnya hari itu saya ingin mampir ke Jogja dulu sebelum nantinya ke Jakarta namun menurut saran dari pak Ridwan akhirnya saya memutuskan langsung ke Jakarta Via Bis. Saya diantar mas Toha ke terminal Jaka Tingkir memesan tiket.

Mendapat sambutan hangat, pengalaman hidup, metode pembelajaran yang unik,..jadi kumpulan hal baru yang saya dapat di Qoryah thayyibah..

Malam itu jam 20.00 dengan bus malam saya harus berpisah dengan Salatiga kembali menuju Jakarta..


Semalam Di Qoryah Thayyibah 4

Sang Surya belum sepenuhnya tampakkan diri, saat sekelompok anak, sebagian besar memakai seragam biru putih, dari desa Kalibening menuju sebuah bangunan berlantai 3 yang masih dalam tahap pembangunan.

Mereka menuju lantai dasar bangunan tersebut menuju sebuah ruangan mirip aula berukuran kurang lebih lima kali sepuluh meter yang di pinggirnya tertata beberapa unit komputer. Di ruangan itu ada juga satu set drum, buku yang dipajang dan peralatan lainnya.

Nampaknya mereka bukanlah yang pertama kali datang. Di ruangan tersebut sudah ada beberapa orang anak ada yang memakai seragam ada yang tidak. Lukman, 14 tahun salah satu dari anak yang berada di ruangan itu. Dengan memakai sarung dan peci khas pesantren ia asyik menjelajah dunia maya. Tampak ia sedang mengutak-atik friendster, sebuah situs pertemanan di dunia maya. Sementara anak-anak yang lain juga asyik dengan komputernya masing-masing. Karena jumlah unit komputernya masih terbatas yang tidak kebagian berdiri dan ada yang duduk di samping rekan mereka menikmati bersama-sama.

Mereka adalah siswa siswi Q-Tha. Rasa penasaran akan gambaran kegiatan di sekolah komunitas ini akhirnya terjawab. Tak rugi rasanya saya bela-belain menginap meski hanya beralaskan tikar. Kegiatan di Q-Tha sudah dimulai pagi hari jam 6.30. Jam segitu biasanya ada yang namanya English Morning.

Saya sempat melihat suasana yang mereka namakan sebagai sharing. Mbak Nurul salah seorang pendamping memandu siswa-siswi kelas satu bertanya tentang apa saja yang sudah dipelajari selama seminggu, kesepakatan terlambat, seragam dan banyak hal lain.

Bersambung


Semalam Di Qoryah Thayyibah 3

Tuesday, August 19, 2008

"Q-tha itu lebih pada komunitas belajar sehingga bukan sekolah. Kami lebih suka memaknai pendidikan itu sebagai belajar. ”Belajar”nya itu sebenarnya sehingga anak-anak itu benar-benar menjadi subyek belajar bukan obyek pengajaran. Salah satunya memang melalui lembaga persekolahan," Ahmad Bahrudin.

Ternyata banyak hal menarik yang kudapat dari wawancara awal dengan Pak Din. Ada banyak hal yang selama ini belum pernah saya jumpai. di Q-tha saya banyak temukan hal baru diantaranya tentang sekumpulan anak-anak luar biasa yang bertumbuh kembang jadi manusia-manusia terpelajar meski tak menempuh jenjang pendidikan resmi.

Hampir sejaman saya mendengar banyak hal dari Pak Din bersamaan dengan 3 orang tamu dari Jakarta.Ada rombongan dari Jakarta yang katanya sedang studi banding. Katanya mereka ingin mendirikan home schooling.

Pak Din menunjukkan saya hasil karya anak-anak Q-Tha. Ada banyak judul buku, Video, dan film yang telah dihasilkan oleh mereka. Saya sempat dikenalkan dengan salah seorang siswa yaitu Emi. Sosok Emi ternyata unik juga. Dia sempat mengajukan protes dengan berkirim surat ke presiden gara-gara hasil ujiannya tak sesuai dengan yang dia harapkan. Nilai Matematika dia mendapat 8 menurut dia harusnya dapat 10. Ia bahkan meminta soalnya dikembalikan untuk membuktikan ia bisa.

Sebenarnya rencananya saya mau langsung balik, namun Pak Din menyuruh saya tinggal saja semalam disana..Setelah menimbang-nimbang dan ingin tahu lebih banyak akhirnya saya memutuskan untuk menginap.