Istana Jamur Pak Kaiman

Thursday, December 03, 2009




Panas Sang Surya sudah tak terlalu terik ketika mobil yang kami tumpangi memasuki jalanan kecil di desa Bulukandang, kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Mobil kami terus menyusuri jalan perkampungan hingga di depan sebuah poskamling mobil kami berhenti, mengikuti mobil depan milik yayasan sebuah perusahaan rokok ternama.

Kami menyebrang di rumah sederhana yang terletak tak jauh dari tempat mobil berhenti. Rumah itu cukup bersih di depan rumah itu ada 2 buah mobil angkot yang diparkir, di teras rumah nampak rak dari kayu yang telah dipenuhi plastik-plastik yang terisi penuh dengan serbuk gergaji.

Setelah mengucap salam tak lama kemudian muncul seorang lelaki berusia sekira 40 tahunan. Lelaki yang nampak rapi dengan pakaian yang sederhana begitu ramah menyapa dan mempersilahkan kami masuk. Setelah duduk menyimak dari pemandu saya ketahui lelaki itu namanya Pak Kaiman.

Pak Kaiman, ternyata merupakan pengusaha budidaya jamur tiram. Tak mengherankan jika di lingkungan rumah baik di dalam maupun diluar bisa dijumpai bibit jamur yang bakal dipasarkan.Bapak dua anak itu belum lama merintis usaha budidaya jamur. Ia baru merintis usaha ini di 2005.


Saat ini menurut Kaiman setiap hari ia telah memasok jamur tiram ke pelanggan rata-rata 100 kg/hari dengan harga jual Rp10.000/kg serta 1.000 unit baglog/media tanam dengan harga jual Rp2.500 per unit. Kaiman mengaku sebenarnya permintaan akan jamur tiram saat ini masih jauh dari kebutuhan meskipun banyak yang sudah mengembangkannya.

Sempat Menjadi Sopir Truk

Sebelum menggeluti usaha jamur tiram, Pak Kaiman sempat menjadi sopir truk. Ia menjalani profesi tersebut selama 14 tahun, sejak 1995. Hingga suatu saat ia merasa lelah dan bosan sehingga menghentikan profesinya dan membeli kendaraan bermotor roda empat sistem kredit untuk dioperasikan sebagai angkutan kota di wilayah Kab. Pasuruan.

Namun ternyata semua tak selalu seperti yang diharapkan. Ternyata ia harus berhadapan dengan sepinya volume penumpang kondisi yang membuat Kaiman tak mendapatkan penghasilan cukup guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam rumahtangga. Sehingga iapun tidak melanjutkan usaha angkutan kota.

“Peluang kerja sangat sempit bagi saya sebab saya tidak punya ijazah, mengingat tidak tamat Sekolah Dasar (SD). Dalam keadaan seperti ini, pada 2005 ada tawaran untuk mengikuti pelatihan kewirausahaan di bidang budidaya jamur dari HM Sampoerna, maka saya mengikutinya,” kata Kaiman.

Pak Kaiman akhirnya mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pabrik rokok tersebut. Waktu itu ada 20 peserta dari Desa Bulu Kandang yang turut dalam pelatihan budidaya jamur tiram, dan secara bersama-sama memulai usaha tersebut. Namun tak semuanya melanjutkan usaha ini.

Saat memulai usahanya Kaiman bermodalkan 1.000 unit baglog. Karena taklagi punya mata pencaharian Kaiman memulai usaha ini dengan penuh keseriusan. Waktu itu ia sudah memiliki tempat budidaya yakni bangunan berdinding bambu.


Berdasarkan ilmu yang diperoleh dari pelatihan, media tanam terdiri dari serbuk kayu gergajian, dedak/katul, tepung jagung dan kalsium yang dibungkus plastik dengan bobot 1,1 kg per unit baglog. Kumbung seluas 50 m2 (lebar 5 meter x panjang 10 meter) dapat dimanfaatkan untuk pembudidayaan 5.000 unit baglog. “Jamur tiram tergolong tanaman yang cepat tumbuh dan setiap unit baglog dapat menghasilkan panenan hingga 1 kg selama 5 bulan, lalu diganti media tanam baru. Tetapi saat panen perdana saya kesulitan mencari pasar,” kenangnya.

Memasarkan Dari Swalayan Hingga Restoran

Pak Kaiman tak mau menyerah begitu saja. Mencari pangsa pasar akhirnya dia berkeliling menawarkan jamur tiram ke restoran dan swalayan. Ia belum membidik pasar tradisional karena memang masyarakat luas belum terbiasa mengkonsumsi jamur tiram.

Ia juga terbantu dengan adanya PPK Sampoerna yang turut mempromosikan jamurnya. Mereka memajang produk Kaiman di etalase sekaligus diikutkan pameran bersama pengusaha kecil lainnya yang mereka bina.


Berkat ketekunan dalam memperluas pasar, Pak Kaiman berhasil mendapatkan order dari para pengepul maupun restoran di berbagai kota tak hanya dari wilayah Kab. Pasuruan saja. Saat ini karena permintaan yang terus meningkat iapun terus berupaya meningkatkan volume usahanya. Kini dia memiliki beberapa kumbung yang digunakan membudidayakan puluhan ribu unit baglog. Selain itu, juga memenuhi permintaan baglog dari petani dan mampu memunculkan petani-petani jamur di beberapa daerah.

Catatan Perjalanan Fathoni Arief

Pasuruan, 14 November 2009

Segelas Kopi dan Cerita Malam Ini...

Monday, November 30, 2009

Jika suatu saat kau lelah, berhentilah sejenak. Tak ada salahnya sekedar menarik nafas, duduk melihat jauh kedepan membayangkan banyak hal yang kan terlewatkan begitu saja jika berhenti.


Jam di netbook sudah menunjukkan pukul 22.33. Jalan kecil di depan rumah yang biasanya tak pernah berhenti terisi oleh suara mesin dan klakson kini hanya terdengar sekali dua kali. Penghuni rumah yang lain juga sudah terlelap dalam istirahatnya masing-masing. Yang terdengar hanyalah suara dengkur yang tak begitu keras dan siaran televisi yang suaranya kalah oleh lantunan musik dari netbookku.

Sambil menahan kantuk, jariku masih mengetuk keyboard menulis satu tanggungan yang lama tertunda. Seperti biasanya, berteman dengan segelas kopi. Tentunya kopi hitam bukan kopi instant sachetan yang menurutku rasanya sangat aneh dan terkadang membuat perut mulas. Berbeda dengan kopi hitam, panas, yang menyebarkan aroma harum tiap kali gula dan kopi diaduk.

Tentang kopi, Minggu kemarin ada satu cerita yang menurutku menarik...

Sore itu hujan membasahi Jakarta. Titik-titk air yang seakan tak habis-habis jatuh dari langit itu membuat saya dan dua orang rekan memutuskan berteduh selepas berjalan menelusuri Jakarta. Selepas melaksanakan sholat Maghrib di sebuah masjid tak jauh dari Sarinah kami duduk santai menunggu hujan reda.

Seorang teman perhatiannya tertuju pada seorang penjual kopi yang seringkali keliling menggunakan sepeda. Ada dua orang penjual kopi di emperan masjid. Tak lama kemudian salah satu dari penjual kopi itu mengambil sepeda yang sudah terisi dengan sachet2 kopi yang digantungkan. Meskipun hujan masih cukup kalau hanya untuk membasahi pakaian dan membuat masuk angin.

"Kau lihat penjual kopi itu?" kata seorang teman,
"Iya," jawabku,
"Penjual itu kalau bisa memilih tak akan nekad menembus hujan menjajakan dagangannya, tapi ia tak punya pilihan,"
"Penjual tadi harus tetap jalan meskipun hujan, karena jika tidak berarti dia membuang kesempatan mendapat rejeki jika ternyata di jalan ada orang yang membeli dagangnya,"

Benar, dalam hati saya menyetejui kata-kata temen saya itu. Jika bisa memilih si penjual mungkin seperti kami menunggu hujan reda. Namun ia tak bisa memilih kalaupun tetap di masjid ia pasti tahu sudah ada rekannya yang menjajakan barang yang sama.

Penjual kopi itu, hanya sebentar istirahat. Menjalankan Sholat Maghrib. Ia terus melanjutkan perjalanannya karena ia tahu di depan ada hal indah (kemungkinan dagangan laku) yang tak terwujud jika ia berhenti bermalas-malasan di teras masjid saja.

Jika suatu saat kau lelah, berhentilah sejenak. Tak ada salahnya sekedar menarik nafas, duduk melihat jauh kedepan membayangkan banyak hal yang kan terlewatkan begitu saja jika berhenti.

Jakarta, 30 November 2009

Memelihara Luwak untuk Hasilkan Kopi Enak

Friday, November 20, 2009


Memelihara Luwak untuk Hasilkan Kopi Enak


Pawang Luwak mungkin sebuah pekerjaan yang tak terbayangkan oleh kebanyakan dari kita. Namun pekerjaan ini muncul karena adanya pasar kopi yang prima. Pawang Luwak ini yang bertugas menangkap sekaligus memelihara Luwak, hewan yang memakan buah kopi terbaik.


Luwak kerap disandingkan dengan kopi. Ya, binatang ini memang dikenal karena kesukaannya mengonsumsi buah kopi. Kegemaran ini menyebabkan Luwak berperan sebagai pengolah biji kopi alamiah di dunia.

Buah kopi yang ditelan Luwak akan mengalami proses fermentasi selama berada di perut hewan tersebut. Setelah dicerna sang Luwak, buah kopi itu berubah menjadi biji yang dikeluarkan bersama kotoran sang hewan.

Jangan cemas kalau biji kopi itu tercemar kotoran Luwak. Biji kopi yang dikeluarkan Luwak ini masih berbentuk utuh. Tentu saja, sebelum diproses menjadi bubuk, bpi kopi akan dibersihkan dulu.

Dalam proses pencernaan Luwak inilah, akan diperoleh biji kopi dengan rasa spesial. Adanya proses inilah yang mengakibatkan harga biji kopi Luwak sangat tinggi.

Minum susu

Selama ini, bpi kopi Luwak hanya diperoleh secara tradisional. Pasalnya, Luwak pemakan kopi merupakan binatang liar yang hidup di alam bebas. Alhasil, pemungut kopi Luwak hanya mengumpulkan kotoran Luwak yang berserakan di perkebunan kopi.

Namun, sejak tahun 2006, PTPN XII berupaya memelihara Luwak demi menghasilkan biji kopi Luwak. Nah, untuk menangkarkan luwak-luwak liar ini, PTPN mengerahkan tenaga Pawang Luwak.

Tak mudah menangkap dan merawat Luwak yang pada dasarnya merupakan binatang liar. Itu sebabnya, menjadi Pawang Luwak bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah.

Apalagi, selama ini tak ada buku-buku referensi tentang perhwatan Luwak. Tak heran, Pawang Luwak banyak belajar dari pengalamannya sendiri. Salah satu modal utama yang harus dimiliki Pawang Luwak adalah menguasai seluk beluk tentang Luwak. "Luwak itu rentan mati," kata Wuryanto, seorang Pawang Luwak dari PTPN XII.

Asal tahu saja, setelah ditangkap dari alam bebas untuk dikandangkan, Luwak seringkali stres. Itulah sebabnya, pada awal penangkaran PTPN XII, banyak Luwak yang telah ditangkap mati.

Menjaga agar sang Luwak tetap hidup di dalam kurungan merupakan tantangan terberat seorang Pawang Luwak. Wuryanto menuturkan, setelah penangkapan, Luwak memiliki masa kritis beradaptasi dengan lingkungannya yang baru.

Masa kritis itu biasanya berlangsung selama satu hingga dua minggu. "Jika tak bisa lolos dari masa itu, Luwak bisa mati," ujarnya.

Dalam masa kritis itulah, Luwak butuh perhatian khusus. Untuk menghindarkan Luwak dari stres, biasanya Pawang teratur memberi makanan kegemaran Luwak. Dari hasil pengamatan Wuryanto, selain kopi, Luwak ternyata gemar makan pepaya dan pisang.

Bila Luwak yang ditangkap masih kecil, Pawang harus memperlakukannya seperti merawat bayi. "Luwak kecil harus teratur minum susu," ujar Wuryanto.

Setiap musim kopi, Luwak hanya diberi buah kopi sebagai menu utama di malam hari. Alhasil, Pawang atau pemelihara Luwak setiap sore harus menempatkan buah kopi di kandang Luwak.

Baru pada pagi harinya, para Pawang itu mengambil kotoran Luwak. Dalam satu malam, Luwak mampu melahap sekitar 3 kilogram buah kopi.

Perhatian pada Luwak tak sebatas pada masa setelah penangkapan atau soal makanannya. Dalam pemeliharaannya, Pawang harus menjaga kebersihan kandang setiap hari. Maklum, Luwak termasuk binatang yang suka tinggal di tempat yang bersih. Bahkan, ketika membuang kotoran pun, Luwak akan memilih tempat yang bersih. Seperti di tanah kering, di atas bebatuan atau di atas dahan yang tumbang.

Fathoni Arief

Pagi Di Penampihan



Bagian pertama.....

Matahari belum setinggi tombak, ketika rombongan kami menuju lereng Gunung Wilis. Kami berlima mengendara 3 sepeda motor menikmati saat-saat yang mendebarkan dan penuh kesan hari itu.


Candi Penampihan, meskipun lahir di kota Tulungagung sebelumnya saya hanya pernah mendengar namanya saja. Pengetahuan saya akan peninggalan arkeologi itu hanya sebatas informasi yang bisa didapatkan melalui situs-situ internet. Itupun informasi yang diberikan masih terbatas. Semua itu membangkitkan rasa keingintahuan mengenai seluk beluk candi. Keingintahuan itulah yang membuat saya berinisiatif mengajak beberapa orang teman menuju kesana.


Jam 8 pagi kami berangkat berlima dari titik pertemuan di Utara perempatan Cuwiri. Saya, Dimas, Sari, Feri dan Frida. Dengan mengendarai sepeda motor perlahan kami mulai menyusuri jalan yang makin menanjak menuju Gunung Wilis. Rute yang kami tempuh dari perempatan menuju ke arah Utara hingga pertigaan di daerah Karangrejo. Dari pertigaan tersebut kami langsung mengambil belok kiri menuju Kecamatan Sendang.

Waktu itu cuaca tak begitu cerah ada sedikit mendung yang menghalangi pancaran sinar Sang Surya. Namun tak mengurangi kenikmatan berkendara di jalanan yang relatif sepi dan sepanjang perjalanan di kanan dan kiri masih dijumpai areal persawahan.

Secara umum kondisi jalan menuju candi Penampihan cukup bagus. Maklum saja dulu di dekat lokasi candi pernah dikenal sebagai penghasil teh dan ada pabrik teh peninggalan Belanda. Kondisi jalan yang bagus ini terputus hingga sampai jalan masuk menuju lokasi Candi.

Mengendarai sepeda motor kami harus ekstra hati-hati. Jalan yang kami lewati sebagian besar jalanan batu. Belum lagi ditambah beberapa ruas yang kondisinya agak menanjak. Perjalanan memakai sepeda motor ini hanya sampai daerah di dekat lokasi pabrik teh. Di sini kami menitipkan motor di rumah salah seorang warga dan berjalan kaki menyusuri jalan yang makin menanjak.

Sepanjang perjalanan kami disambut dengan udara dingin dan lahan yang masih kosong di kanan dan kiri. Sempat terlontar pertanyaan dimanakah kebun-kebun teh yang dulu sempat terhampar di sekitar sini.

Kami terus berjalan sambil sesekali mengambil gambar daerah yang masih asri. Dari jauh saya bisa melihat Gunung Wilis yang masih diselumuti kabut.

Lahan Bekas Kebun Teh Kini Menjadi Milik Warga


Di tengah perjalanan kami melihat sepasang suami istri berusia 50 tahunan. Sang istri tengah asyik memetik sayur-sayuran dan suaminya tengah membawa keranjang bambu sambil memilah-milah sesuatu. Kami mendekati bapak ibu itu. Ternyata kali ini adalah panen perdana kacang kapri mereka. Dari mereka kami mendapat cerita tentang kebun teh, pabrik dan candi yang kami tuju.

Sejak jaman kolonial Belanda wilayah sekitar.lereng Gunung Wilis terkenal sebagai penghasil teh. Ada sisa-sisa puing bangunan peninggalan Belanda yang dulu menjadi saksi. Namun semenjak awal tahun 2000an karena harga teh yang tak stabil dan terus merugi perusahaan yang pengelolaannya dibawah Puskopad tersebut gulung tikar.

Lahan-lahan yang dulu menjadi kebun teh kini dialih fungsikan untuk menanam tenaman lain. Ada sayur-mayur. Lahan-lahan tersebut kini sudah menjadi milik warga dengan status hak milik. Saat ini masih disisakan lahan sekitar 1 hektar di sekitar situs candi Penampihan.


Penampihan, 25 September 2009

Bersambung..