Mantan kuli tinta yang tinggal di dusun

Thursday, May 26, 2016

Tahun 2008 sewaktu masih tinggal di Jakarta, saya mendapatkan satu pengalaman yang cukup unik. Tapi sebelumnya perlu saya ceritakan dulu kisah seorang Michael Scumacher yang ngebut di balik kemudi sebuah taksi. Ya dari beberapa media saya mendapatkan kisah tersebut. Mungkin anda akan bertanya-tanya apa hubungan pengalaman unik ini dengan kisah legenda Formula 1 itu. Ada baiknya anda simpan dulu pertanyaan dan ikuti kisah singkat saya ini.

Diceritakan sang jawara Formula 1 dalam perjalanan menuju bandara. Mungkin karena dikejar oleh waktu dan kuatir tertinggal pesawat insting membalapnyapun muncul. Benar saja sang Michael Schumacer minta ijin berada di balik kemudi dan benar saja si pengendara taksi mengijinkanya. Wah emang dasar mantan jawara balap waktu tempuh menuju bandara jadi lebih singkat.

Yang tertinggal di benak saya dalam kisah Michael Schumacer tersebut adalah bagaimana caranya melewati kendaraan-kendaraan lain. Boleh saja ia mampu melakukan hal itu di sirkuti namun ini jalanan dan kondisinya beda. Ternyata memang benar-benar bisa terjadi.

Titik temu kisah diatas dengan pengalaman saya adalah saat naik sebuah taksi dari daerah Pancoran menuju hotel atlet Century. Waktu itu kira-kira pukul 7 pagi tahu sendiri bagaimana kondisi jalan gatot Subroto menuju ke Sudirman, macet adalah hal yang biasa. Mencari taxi kebetulan sama sekali tak ada yang lewat hingga akhirnya kami memilih sebuah taxi yang tak usah saya sebutkan namanya. Kondisi jalan sedang macet-macetnya. Dengan latar belakang itu asumsi saya perjalanan membutuhkan waktu kira-kira paling cepat satu jam dan itu mungkin cukup sulit juga terjadinya.


Sopir taxi menawarkan kami alternatif lewat tol atau jalan biasa? Menurut kondisi biasanya ya sama saja naik tol tak banyak berpengaruh. Si pengemudi meyakinkan kami kalau lewat tol perjalanan bisa lebih cepat. Akhirnya tol yang kami pilih.


Sopir itu perlahan namun pasti membawa mobilnya merayap diantara kendaraan-kendaraan yang tengah terjebak macet. Sepanjang perjalanan itu ia cerita banyak hal mulai dari katanya menteri kesehatan sering naik taxinya dan akunya ia sudah banyak kenal para aparat.

Mobil itu terus menerobos kemacetan dan menyalip dari kiri kanan. sambil beraksi ia terus saja cerita tentang pengalamannya di beberapa negara katanya ia sempat tinggal di Moskow dan Arab. Yah antara percaya dan tidak kami ikuti saja apa yang dikatakan sopir itu.


Ia terus bercerita dan meyakinkan kami bahwa pasti akan tepat waktu jam 8 sampai. Yah percaya...meski dalam hati juga bertanya-tanya. Satu cerita lagi yang membuat makin tak percaya adalah ceritanya tentang raja Arab saudi yang katanya pernah jadi majikannya.


Ya..ya..ya...


Mobilpun terus melaju dan surprise. benar-benar sesuai yang dia katakan kami datang tepat waktu bahkan intime tak hanya ontime...Melihat caranya mengemudi mengingatkan saya pada kisah michael Scumacer yang memburu waktu menuju bandara..hehehe..tapi ada satu hal yang lebih menarik lagi adalah mungkin saya harus mempercayai kata-katanya tentang Raja Arab, Moskow dan semuanya.


Sumber image : www.yellowcabofsavannah.com

Senja di Karangtaraje

Ada satu tempat di Karang Taraje yang entah kenapa membuat saya terkesima. Bagian yang ada bukitnya, ada rerumputan, semak di pinggir, laut bebas dan matahari tenggelam. Tempat yang membuatku kembali terpesona akan Senja. Kembali merindu Senja, satu misteri yang selalu mempesona.

Karangtaraje BantenHari sudah mulai bergeser menuju senja. Angin berhembus makin kencang sementara dengan kondisi badan yang mulai melemah sudah terasa panas dingin disertai batuk-batuk. Angin laut terus saja menerpa.

Seperti rencana semula setelah selesai membidik senja kami akan langsung ke Sawarna. Di warung tempat kami bertemu kombet ternyata sudah ada beberapa orang diantaranya bapak-bapak dengan logat Jawa. Bapak-bapak itu bercerita banyak tentang keindahan sawarna dan menganjurkan kami kesana. Ya kami memang akan kesana. Kami masih harus menunggu si Kombet. Sambil bersiap dengan barang-barang bawaan kami. Si kombet sedang mencari rekan untuk mengantar kami ke Sawarna.

Tak berapa lama Kombet datang. Dengan hanya membawa seorang rekan ia menawarkan kami bagaimana jika naik ojek satu berdua. Ada yang berboncengan 3. Kami menolak dan meminta tambah orang satu lagi saja karena si tukang ojek tak berani jika harus bolak-balik alasannya takut bertemu dengan harimau entah beneran atau jadi-jadian.


Akhirnya datang lagi seorang rekan kombet. Sebelum berangkat bapak-bapak dengan logat Jawa kental sempat berpesan pada kami untuk tidak tidur di pinggir sungai. Karena konon katanya ada buaya yang berbahaya, entah buaya beneran atau jadi-jadian saya juga tak tahu.

Motorpun melaju dengan kecepatan yang luar biasa. Tukang-tukang ojek yang membawa kami menembus kegelapan malam di jalanan menuju Sawarna. Ternyata benar kami harus melewati hutan dengan jalan yang masih dalam perbaikan. Jalanan tersebut masih berupa tanah keras dan bebatuan. Saya sempat merekam dengan kamera digital perjalanan malam itu.

Tukang ojek itu seakan tak peduli dengan kondisi jalan yang ada terus saja memacu laju kendaraan mereka. Sampai-sampai motor yang membawa saya sempat terperosok dan membuat saya harus turun dan berjalan kaki mengingat kondisi jalan yang lumayan parah.

Setelah melewati hutan dan kegelapan malam akhirnya kami sampai di depan rumah pak Hubaya (kepala desa yang lama). Kami langsung saja permisi sementara anak pak hubaya sudah menyambut dan mempersilahkan kami masuk...Welcome To Sawarna..

16 Agustus 2008

bersambung

Tuesday, May 24, 2016

Malam itu menjadi titik balik kehidupan Susan Magdalane Boyle (48 tahun) menemukan pintu suksesnya. Ia mengikuti sebuah audisi ajang pencarian bakat di Inggris Raya. Ketika pertama kali naik panggung banyak yang menyangsikan  wanita asal Skotlandia tersebut. Apalagi melihat tampilan secara fisik yang kurang sedap dipandang. Dewan juri waktu itu juga terkesan meremehkan.

Salah seorang juri, Simon Cowell, langsung mengajukan pertanyaan kenapa baru kali ini ia ikut ajang. Maklumlah, usianya saat itu sudah menginjak 47 tahun. Bagi mereka yang sering mengikuti acara-acara pencarian bakat menyanyi, nama Simon tentunya tak asing lagi. Ia akrab dengan pertanyaan yang sinis dan menyerang peserta. Namun Susan tetap terlihat santai dalam menjawab pertanyaan Simon. Menurutnya memang baru kali ini ia berkesempatan tampil di ajang seperti ini dan ia akan memperlihatkan sisi lain darinya.

Dalam ajang Britain's Got Talent 11 April 2009 itu wanita asal Blackburn, kota kecil 5 mil dari Edinburg, menyanyikan I dreamed a dream yang menjadi soundtrack fim Les Misérables. Kontan saja, ketika suaranya telah keluar semuanya terpana, termasuk para juri. Nama Susan Boyle pun dikenal di Inggris Raya hingga Amerika. Album pertamanya yang dirilis November 2009 bahkan laku hingga jutaan kopi.

Susan merupakan satu contoh, mereka yang memiliki bakat, karena belum pernah mendapat kesempatan sekian lama bakat hebatnya tak membuatnya menjadi apapun. Hingga setelah ia berusia 47 tahun kesempatan didapatnya dan ketika itu juga kombinasi antara bakat dan kesempatan membawanya meraih sukses besar. Cuplikan kisah tentang Susan Boyle tersebut diceritakan kembali oleh Prof. Rhenald Kasali Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia saat memberikan materi dalam acara Rembuk Nasional Pendidikan 2010 di Sawangan, Bogor.

Rhenald mengulas berbagai hal di antaranya tentang bakat seseorang. Mengenai bakat atau talenta ada banyak studi yang pernah dilakukan. Contoh pertama adalah hasil kajian dari John Maxwell. Hasil studi pemenang nobel sastra di tahun 2003 tersebut ternyata menunjukan jika hanya sekedar mengandalkan kecerdasan saja (IQ) belum cukup. Dalam buku berjudul talent is not enough John beranggapan hal itu hanya sekedar talenta dan baru akan berhasil jika ia bisa menemukan “pintu suksesnya”. Susan Boyle adalah contoh mereka yang akhirnya berhasil menemukan pintunya. “Banyak sekali orang-orang hebat yang tidak berhasil menemukan pintunya,” kata Rhenald.

Penelitian serupa pernah dilakukan oleh seorang sosiolog dan penulis yang begitu popular dan terkenal, Malcolm Gladwell. Ia menulis sebuah buku berjudul Outliers. Malcolm bilang dari hasil penelitiannya ternyata hanya sebagian kecil peraih nobel di bidang fisika, kimia, kedokteran yang berasal dari universitas ternama serta memiliki kecerdasan intelegensi (IQ) di atas rata-rata atau jenius. Ternyata hal tersebut bisa terjadi karena banyak sekali orang dengan kemampuan di atas rata-rata namun tidak menemukan pintu suksesnya.

Tepat setelah berakhirnya perang dunia pertama, seorang profesor muda asal Universitas Stanford, Lewis Terman bertemu seorang anak laki-laki yang luar biasa, Henry Cowell. Terman saat itu memang tengah menggeluti bidang pengujian kecerdasan. Tes pengujian IQ Stanford-Binnet yang kini kita kenal adalah hasil ciptaanya. Terman tergerak untuk menguji Cowell. Ternyata anak lelaki yang hidup di tengah kemiskinan dan kekacauan ini memiliki hasil tes IQ 140. Hasil yang membuat Terman tergerak melakukan penelitian selanjutnya.

Terman kemudian mengumpulkan anak-anak dengan kecerdasan luar biasa yakni mereka yang memiliki IQ diatas 140. Ia melakukan penelitian selama bertahun-tahun. Hasilnya orang-orang yang memiliki IQ 140 keatas setelah 30 tahun sedikit sekali yang berhasil karena tidak menemukan pintu suksesnya. Hal itu bukan karena mereka kurang cerdas tapi tidak menemukan pintunya. “Kesuksesan yang luar biasa bukan disebabkan oleh bakat, namun kesempatan yang dimilikinya”, kata Rhenald menirukan ucapan Malcolm Gladwell.

Peran Lebih Universitas

Lalu bagaimana menyelaraskan antara bakat, potensi dan kesempatan? Rhenald Kasali berpendapat, inilah tugas dari universitas. Institusi pendidikan baik itu universitas ataupun sekolah harus bisa membuat anak didiknya menjadi insan yang aktif mencari pintunya. Menurut Rhenald selama ini orang berpikir itu akan datang sendiri kepada mereka, padahal sebenarnya tidak.

Rhenald mengatakan menjadi tugas universitas untuk menjembatani kedua hal tersebut. Menurutnya di Indonesia ada begitu banyak mahasiswa memiliki talenta, bakat. Disamping itu pasar kerja  membutuhkan dan bisa menyediakan kesempatan serta peluang bagi mereka. Menurut Rhenald itu menjadi tugas pendidik untuk mampu membaca potensi yang ada di mahasiswa. Seniman terkenal Michelangelo memiliki satu ungkapan terkenal: pada setiap batu cadas selalu terlihat batu yang indah. Namun yang menjadi masalah apakah pendidik ini mampu mewujudkan ungkapan Michaelangelo atau bukan. “Kalau kita seperti Michel angelo kita langsung mengerti anak didik kita,” ujarnya.

Rhenald menegaskan sudah menjadi tugas pendidik untuk mengeluarkan potensi keindahan anak didik dan membebaskan belenggu-belenggu yang mengikatnya. Lalu bagaimana caranya serta apakah yang dimaksud dengan belenggu itu? Ia menjelaskan belenggu tersebut sesuatu yang menutupi, menghambat sehingga potensi yang ada tidak muncul. Jika belenggu itu berupa kebodohan, maka pengetahuan menjadi solusinya. Namun ternyata menurutnya itu saja tak cukup, karena masih perlu ada tambahan soft skill. Selain brain memory yang perlu diperhatikan adalah muscle memory. Ini membutuhkan latihan demi latihan. Guru besar UI ini memberi contoh seorang yang hobi bermain golf. Bermain golf membutuhkan latihan terus menerus. Dengan berlatih terus menerus lama kelamaan semua  jadi serba otomatis. Rhenald menyebut tak hanya memperhatikan di brain memory saja, tapi juga pada mielinnya (nama lain dari muscle memory).

Jadi meskipun seseorang hanya berkemampuan biasa-biasa, namun jika tekun dalam mencari “pintu sukses” justru akan berhasil. Begitu juga orang-orang yang memiliki talenta yang terbatas namun dia tekun mencari pintunya dan akhirnya menemukan, dia akan sukses apakah dalam karir atau apa.

Sinergi Antara Teori Dan Praktek

Sebuah film berjudul Something the Lord Made memiliki kisah yang menarik tentang kombinasi antara teori dan praktek.  Jika anda berkunjung ke Universitas John Hopkins, Amerika Serikat di satu ruang terpampang foto-foto orang-orang yang berjasa dalam ilmu kedokteran dari universitas tersebut. Dua orang yang terpampang ada nama Alfred Blalock dan Vivien Thomas. Nama yang disebut awal adalah dokter yang pertama kali berhasil melakukan operasi baby blue. Rupanya Blalock tidaklah sendiri. Pertama kali membedah dia dibantu oleh seseorang yang bernama Vivian Thomas. Vivian bukanlah seseorang yang berlatar belakang di dunia kedokteran meskipun dia akhirnya menjadi dokter kehormatan. Ia adalah seorang tukang bangunan. Lebih celakanya dia kulit hitam dimana waktu itu dianggap rendah.  “ Tapi kombinasi antara keduanya antara seorang mikro scientis dengan tukang bangunan, memperoleh kombinasi antara knowledge dengan practice,” kata Rhenald.

Menurut Rhenald, seringkali kita mengabaikan praktek sehingga akibatnya ketika terjun di dunia kerja orang yang mengabaikan itu akan menjadi lemot dan lambat. Itu juga menurutnya yang membuat mengapa sekarang banyak terjadi plagiasi karya ilmiah. ” Karena kita tidak melatih mereka praktek menulis. Itulah jadi satu persoalan sendiri betapa pentingnya latihan,” katanya. 
Dengan berlatih pencarian pintu sukses bakal lebih mudah.

sumber image : atech.org

Fathoni Arief

Silahkan kunjungi juga, Kumpulan Artikel saya lainnya di sini.

Berbagi itu takkan pernah membuat kita merugi

Porto Folio

Porto Folio
Online Photo Editing adalah buku yang membahas teknik editing foto menggunakan layanan editing foto online. Ada 15 layanan olah foto gratis yang dibahas beserta dengan contohnya.