Akhirnya Kami Meninggalkan Sawarna

Tak lama menunggu kendaraan berhenti di depan rumah pak Hubaya. Si Opi segera mendatangi mobil tersebut dan kata kenek tak usah terburu-buru nanti ia akan putar balik jadi kami masih bisa bersantai dulu sambil menunggu sarapan.
Ada pertemuan ada perpisahan..kami pamit dengan keluarga pak Hubaya, perlahan kami masuk ke angkot. Kali ini kami mendapat tempat duduk jadi tak akan kuatir harus berdesakan seperti sewaktu berangkat. Mobil angkot ini langsung menuju Pelabuhan ratu jadi kami tak harus ganti-ganti kendaraan lagi cukup satu kali naik saja.

Setelah menempuh dua jam perjalanan akhirnya Elf ini sampai juga di terminal pelabuhan Ratu. Di terminal ini kami berpisah. Saya dan Opi naik bus tujuan Bogor sedangkan si Iqbal memilih jalur Sukabumi menuju kota tempat dia tinggal, Cirebon.

Perjalanan dengan berbagai kisah dan cerita...
Aku telah berjalan dari negeri yang satu ke negeri yang lain. Dari kota ke kota, dari kampung ke kampung, keluar masuk hutan, mengarungi wilayah dan mendapat pengalaman. Aku selalu melakukan perjalanan sendirian, dan karena itu aku banyak merenung. Sambil melihat pemandangan yang tidak pernah kusaksikan, aku berpikir tentang kehidupan. Membayangkan bumi terbentang yang dulu tidak dihuni manusia, aku merenungkan makna kebudayaan. Melewati padang salju membeku, padang rumput menghijau, dan pantai-pantai membiru, aku memikirkan manusia dan alam. (Matahari Tidak Pernah Terbenam Di Negeri Senja, Seno Gumira)
18 Agustus 2008
Post a Comment for "Akhirnya Kami Meninggalkan Sawarna"
Ingin Memberi komentar