Mantra Pemanggil Hujan


Butuh empat jam perjalanan untuk mencapai desa ini. Itu pun dengan catatan saya menaiki sepeda motor, bukan berjalan kaki. Kondisi jalannya adalah ujian tersendiri bagi setiap pengendara: bergelombang, penuh batu lepas, membuat siapa pun yang melintas berguncang hebat seolah sedang menunggang kuda yang liar.

Saya menepikan motor di bawah pohon randu yang tampak meranggas, tanah di bawahnya sudah merekah membentuk pola-pola geometris seperti kerajinan keramik yang retak dibakar terik. Desa ini, dusun tempat saya dilahirkan, tengah menghadapi kemarau panjang.

Sudah lima belas tahun saya pergi dari sini. Saya meninggalkan tempat ini saat masih ingusan, dibawa Paman ke kota setelah tanah longsor menyapu rumah kami dan orang tua saya. Sekarang, saya bukan lagi anak desa yang biasa. Saya Sutardji, ST, Sarjana Teknik lulusan universitas tertua di negeri ini. Namun, jika saya menilik kembali latar belakang nama pemberian orang tua, saya sering tersenyum kecut. Mereka mengidolakan sahabat karib mereka, seorang pria gagah pejuang Trikora yang gugur sebagai kusuma bangsa. Karena kekaguman dan penghormatan itulah, saya dinamai Sutardji, sama persis seperti nama sahabat mereka. Nama yang terdengar kuno bagi pemuda masa kini, tetapi setidaknya gelar ST di belakangnya memberikan bobot saat dibawa kembali ke tanah kelahiran.

Kini saya kembali, bukan sebagai arsitek yang membangun gedung pencakar langit di kota, melainkan sebagai pelaksana lapangan untuk sebuah proyek penting: pembangunan check dam, sebuah bendungan pengendali erosi dan konservasi air. Dana pembangunannya murni dari kas daerah, jawaban atas doa-doa warga yang lelah dengan bencana tahunan ini. Air menjadi komoditas mewah. Untuk masak dan mandi saja sulit, apalagi untuk menggarap lahan. Untuk mendapatkan air layak minum, warga harus berjalan sejauh empat kilometer. Medan yang berat membuat setiap orang hanya mampu membawa pulang satu jeriken besar, sebuah perjuangan yang dilakukan setiap pagi.

"Sore, Mas Tardji!" sapa beberapa warga saat saya berjalan menuju rumah Kepala Desa.

"Itu Mas Tardji, orang pinter yang dulu berasal dari sini," bisik Lik Man kepada tetangganya, Sugiono. Lik Man adalah saksi sejarah masa kecil saya, dan tatapannya mengandung campuran rasa hormat dan takzim.

"Kabarnya dia itu sakti dan pemberani," lanjut Lik Man. "Kemarin aku lihat dia sendirian malam-malam di dekat sungai pinggiran desa yang terkenal angker itu."

Dari belakang pohon kelapa, Yu Sunarti muncul, ikut nimbrung. "Ya lho, Lik, kemarin aku juga lihat di depan rumah pondokannya. Dia sedang mengajari anak Pak Kades bacaan-bacaan, katanya agar segera turun hujan."

Saya menyadari beban yang kini dipikul di pundak saya. Warga menaruh harapan besar pada saya, sang sarjana kota, seolah saya memiliki tongkat ajaib untuk mengakhiri derita ini. Sebuah ekspektasi berat bagi seseorang yang baru saja menerima ijazahnya.

Di beranda rumah Kepala Desa, Pak Kades tersenyum menyambut kedatangan saya.

"Pak Kades, saya perlu bicara empat mata. Ada kegelisahan yang mengusik saya akhir-akhir ini."

Beliau menunjuk kursi panjang di hadapannya. "Ada apa, Nak Tardji?"

Saya duduk, menatap Pak Kades dengan serius. "Tentang anggapan warga. Mereka menganggap saya orang yang memiliki kelebihan, bahkan ada yang percaya saya bisa menurunkan hujan. Padahal saya sarjana teknik, bukan dukun. Hal itu membuat saya tidak nyaman, Pak."

Pak Kades menghela napas panjang. Matanya menerawang, seolah tengah mengumpulkan kenangan masa lalu yang panjang dan sulit. Beliau kemudian meraih rokok kreteknya dan menghisapnya dalam-dalam. "Saya mengerti kegelisahanmu, Nak. Sangat sulit meluruskan anggapan yang sudah mengakar puluhan tahun. Itu adalah bentuk keputusasaan warga yang sudah lelah dengan keadaan."

Beliau berdecak pelan, menambahkan beban lain yang dipikulnya. "Belum lagi masalah baru-baru ini. Beberapa hari sebelum kamu datang, listrik sempat diputus karena banyak warga yang menunggak. Saya harus turun tangan sendiri menagih iuran."

"Namun, setidaknya ada satu hal yang bisa saya minta, Pak," tegas saya. "Warga jangan mengkultuskan saya. Saya hanya manusia biasa seperti mereka. Tidak ada ilmu linuwih pada diri saya."

Tiba-tiba, Bu Kades muncul dari balik pintu, memecah keheningan dengan membawa nampan kayu. Di atasnya ada sepiring singkong goreng yang masih mengepul dan tiga gelas teh panas. "Nak Tardji, silakan dinikmati dulu. Maaf, orang desa bisanya cuma menyuguhkan seperti ini."

Singkong adalah salah satu hasil utama desa ini. Tanaman ini mampu bertahan di ladang yang tandus dan kekurangan air. Daerah ini, yang sekarang gersang dan hanya ditanami singkong, dulunya adalah hutan pinus rimbun. Namun, penebangan liar mengubah segalanya menjadi bukit tandus yang menyumbang bencana banjir bandang dan tanah longsor lima belas tahun lalu. Keluarganya Sutardji adalah salah satu korban yang tewas dalam bencana itu.

"Rencananya, Nak Tardji akan tinggal berapa lama di desa ini?" tanya Pak Kades.

"Sampai proyek check dam ini selesai, Pak. Kira-kira tiga bulan ke depan."

"Kalau begitu saya dukung penuh. Jika ada masalah dan butuh bantuan, jangan segan-segan datang ke saya."

Saya pun berpamitan. Saat melangkah menjauh dari rumah Pak Kades, saya menghilang di balik jalanan berbatu yang di kanan kirinya ditumbuhi semak-semak kering. Di kejauhan, Pak Kades menatap kepergian saya, matanya menyiratkan kebanggaan, sementara di dalam hatinya tumbuh angan-angan, seandainya saja masih punya anak gadis, tentunya ingin punya menantu seperti dia.

Saya duduk termenung di bawah pohon randu, memandangi aliran sungai yang sudah lama kering. Esok, jadwal resmi dimulainya pembangunan check dam.

Seorang pria mendekat dari arah barat. Itu Mas Katijo.

"Rencananya mau dibangun apa, Mas?" tanya Mas Katijo dengan nada ragu.

Saya mendongak. "Ini akan dibangun yang namanya check dam. Tujuannya untuk mengendalikan erosi dan konservasi air, agar kekeringan ini tidak terulang lagi. Mas Katijo dan warga lainnya sangat diharapkan partisipasinya."

Mas Katijo mengangguk perlahan. "Orang-orang bodoh seperti saya ini cuma menurut saja, Mas. Kalau itu masuk akal dan benar tujuannya, saya ikuti."

Saya mengeluarkan sebungkus rokok kretek dari saku celana dan menawarkannya. "Mau, Mas? Silakan ambil."

"Suwun, Mas." Dengan sedikit malu-malu, Mas Katijo mengambil sebatang rokok. Keduanya kemudian terdiam, sibuk menghisap rokok kretek mereka, menciptakan lingkaran-lingkaran kecil asap yang menari-nari di udara kering.

Mas Katijo lalu memberanikan diri bertanya, "Mas Tardji, ada yang mau saya tanyakan. Apa benar yang selama ini dikatakan warga?"

Saya menatap Mas Katijo lekat-lekat. "Tentang apa, Mas?"

"Katanya, Mas Tardji punya ilmu yang bisa memanggil hujan dan tahu kapan hujan akan terjadi."

Sebuah tugas yang lebih berat daripada sekadar membangun bendungan kini di pundak saya. Mas Katijo mewakili kepercayaan yang keliru pada warga, dan saya harus meluruskannya tanpa menyinggung perasaan mereka. Caranya harus dilakukan perlahan-lahan, dengan bahasa yang mereka pahami.

"Mas Katijo benar-benar ingin belajar caranya?" tanya saya.

"Ya, Mas! Mbok saya diajari ilmunya!"

"Kalau begitu, Mas siap-siap saja nanti. Waktunya saya kabari." Saya memutuskan untuk menjawabnya dengan tindakan nyata.

Proyek pembangunan dimulai. Di luar dugaan, partisipasi warga sangat luar biasa. Mereka bekerja bahu-membahu, tua muda turun tangan. Semangat gotong royong itu membuat tiga buah bangunan yang awalnya direncanakan selesai dalam dua bulan, kini, hanya dalam satu setengah bulan, sudah mendekati penyelesaian.

Namun, berita tentang "ilmu pemanggil hujan" Sutardji terus saja menyebar. Setiap hari, saat berpapasan dengan saya di lapangan, Mas Katijo selalu menagih janji untuk diajari doa tersebut.

"Mas Katijo sudah dapat kabar dari Mas Tardji belum?" tanya Lik Man.

Mas Katijo menggeleng, matanya mencari sosok Sutardji. "Belum tahu, Lik. Tapi kata Mas Tardji, dua hari lagi pelaksanaannya di lapangan desa ini."

Dari kejauhan, mereka melihat Sutardji datang dengan sepeda motornya. Langsung saja mereka berdua memanggilnya, menagih janji yang telah ditunggu-tunggu.

"Mas Tardji, bagaimana katanya mau mengajari ilmu memanggil hujan?" tanya Mas Katijo, suaranya bergetar karena antusiasme.

"Ya, Mas. Kami sudah tak sabar menunggu datangnya hujan," desak Lik Man.

Saya turun dari motor, mematikan mesinnya. Saya melihat harapan yang menyala di mata mereka, sebuah harapan yang salah kaprah namun murni. Saya menarik napas panjang. "Baik, Lik Man. Nanti Lik Man dan Mas Katijo ajak warga di sini, ya. Nanti kita kumpul di lapangan depan balai desa."

"Bawa apa saja, Mas?" tanya Lik Man.

"Nanti jangan lupa bawa alat salat dan tikar."

"Maaf, Mas, saya belum bisa salat. Bagaimana?" Lik Man bertanya lagi, suaranya terdengar lebih kecil karena malu.

"Pokoknya bawa tikar. Kalau laki-laki pakai celana atau sarung, perempuan bawa mukena. Nanti ikuti saja gerakan saya," jelas saya.

Desa pun heboh. Kepanikan terjadi di setiap rumah. Warga mengobrak-abrik lemari, mengeluarkan mukena yang sudah berwarna kekuning-kuningan, tertidur pulas di bagian terdalam lemari karena sudah lama tak terpakai. Semua bersiap-siap sesuai perintah saya.

Hari yang dijanjikan tiba. Siang itu, di depan balai desa, sebagian besar warga sudah berkumpul. Mereka membawa perlengkapan yang diperintahkan: tikar, mukena, sarung. Sebagian lainnya berdiri di pinggir lapangan, hanya menjadi penonton, ingin melihat apa yang akan dilakukan Sutardji sang insinyur sakti.

Setelah semua orang berkumpul, saya mulai memberi komando. Saya menyusun mereka dalam barisan-barisan rapi seperti hendak menunaikan shalat Jumat. Mereka menurut tanpa banyak tanya.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara-saudara. Kita akan menjalankan shalat Istisqa. Nanti bagi yang belum pernah, ikuti saja gerakan saya."

Shalat Istisqa pun dimulai, dilanjutkan dengan khutbah dan doa. Di akhir khutbah, saya menyampaikan pesan singkat, "Insya Allah, sebentar lagi akan turun hujan, setidaknya dalam minggu ini."

Benar saja, empat hari setelah melaksanakan shalat Istisqa, musim hujan tiba. Langit mendadak gelap, petir menggelegar, dan air tumpah dari langit, membasahi tanah yang retak. Kejadian ini semakin menguatkan pandangan warga tentang kesaktian Sutardji.

Sesuatu yang menyiksa bagi saya. Usaha saya untuk meluruskan keyakinan warga—bahwa hujan ini adalah fenomena alam yang ilmiah, bukan mistik, semuanya berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika—ternyata sia-sia. Saya sudah menjelaskan dengan gamblang bahwa shalat Istisqa adalah doa, bentuk permohonan kepada Sang Pencipta, bukan mantra sakti yang bisa memerintah awan. Semua orang bisa melakukannya, tidak ada yang spesial dari diri saya. Namun, keyakinan warga sudah terlanjur beku.

Setahun sudah berlalu. Check dam sudah berdiri kokoh, usaha konservasi air berhasil, dan desa tidak lagi mengalami kekeringan. Sekarang, warga menganggap saya sebagai Imam Mahdi, sang penyelamat desa.

Hati saya menangis, terjepit di antara persepsi dan keyakinan warga yang salah kaprah. Namun, di tengah semuanya itu, ada secercah kelegaan. Tiap kali shalat Jumat, kini jamaah yang datang sudah lebih dari lima puluh orang. Jamaah shalat wajib pun tidak lagi terdiri dari satu imam dan satu makmum. Ada kehidupan di masjid itu. Sedikit demi sedikit, keyakinan warga berubah menjadi ketaatan.

Yogyakarta, Januari 2005 

Fathoni Arief

 

Berbagi takkan pernah membuatmu merugi

Post a Comment for "Mantra Pemanggil Hujan"